You are on page 1of 2

Baiklah, aku memiliki kisah yang akan kuceritakan, semua orang pasti pernah merasakan

yang namanya SMP atau sekolah menengah pertama, singkatnya, sebelum diriku lulus dari
SMP, ada satu hal yang selalu berkeliling disekitar kepalaku, bukan burung, bukan juga
nyamuk atau lalat, melainkan sebuah pertanyaan, tentang kemana aku akan melanjutkan
pendidikan setelah SMP Ini.
Baiklah, selalu ada 3 solusi bagi mereka yang bingung mau kemana setelah SMP, yaitu:
masuk SMA, SMK, atau ke KUA atau kantor urusan ayam, ehh, maksudku, kantor urusan
agama. Aku terus berpikir, berpikir, berpikir, sampai si pikir pun muak karna terus kupakai
untuk berpikir, hingga akhirnya setelah 1 hari 23 Jam 59 Menit dan 59 detik, bola lampu pun
keluar dari kepalaku ,aku telah menemukan pilihan terbaikku.
Ma, Arya milih masuk SMK aja ya, begitu yang kukatakan kepada mamiku, dia tengah
menenangkan si pikir yang mengamuk karena kelamaan kupakai untuk berpikir, Emang,
kamu punya skill apa, mau ngambil jurusan apa?, waduh, benar juga ya, lagi-lagi
pertanyaan dari mamiku memaksaku untuk kembali memakai si pikir untuk berpikir, alhasil,
si pikir yang tadinya sudah tenang kembali mengamuk dan minggat dari rumah.
Akupun ketakutan, kalau si pikir pergi, gimana caranya aku berpikir, sudahlah, besok dia
balik nya tu, begitu kata mamiku kepadaku, memang biasanya sih begitu, si pikir
gamungkin minggat untuk selamanya, paling paling, pas aku nanti udah mati suri di tempat
tidur, dia bakal balik dengan sendirinya.
Ternyata benar, keesokan paginya, aku merasakan si pikir sudah kembali ke dalam
kepalaku, di tempat tidurku tertulis sebuah surat yang ditulis oleh si pikir, kira kira beginilah
isi surat darinya itu :
Kepada yang terhormat....
Arya
Gue minta maaf kemaren pigi ga bilang bilang ya, gue belanja sama si tawa, maklum lah,
kami dua sama sama stress, elu sering pake gue buat mikir dan si tawa sudah bosan
dengan pemiliknya yang gila, kerjaannya ketawa aja tiap hari, tapi gue udah balik kok,
semalam udah pigi ke spa, skalian meni pedi, elu bisa pakai gue lagi.
Salam Biji Matahari,

Pikir.
Alamak, ngeri juga si pikir ini ya, tapi sudahlah gausah terlalu bahas si pikir, nanti kegeeran
dia, akhirnya aku pun kembali berpikir mengenai jurusan apa yang akan kuambil di SMK,
tapi, tampaknya aku belum bisa mendapat jawaban, tiba-tiba Aryaaaa, mandi sana,
sekolaah, suara teriakkan maut dari mamiku pun mulai memenuhi rumah, sampai sampai
semut yang tadinya merayap lancar di dinding terjatuh akibat suara mamiku, tampaknya,
teriakan tersebut telah menyebabkan gempa bumi disana.
Kalau dipikir-pikir mengenai suara jeritan maut mamiku, sudah menyebabkan beberapa
bencana alam di desa kami, contohnya kemarin, tangannya tidak sengaja terkena pisau
rumah saat memotong cabe, mungkin si pisau udah lelah juga karna keseringan dipakai
mamiku, lukanya tak seberapa, hanya goresan kecil saja, namun teriakkannya berhasil
menumbangkan pohon beringin yang berada di sebelah kantor Kepala Desa. Beruntunglah,
Kepala Desa pada saat itu berpikir pohon itu jatuh karena usianya yang sudah tua bangka,
akhirnya, semua warga desa pun mendatangi pohon yang sudah terbaring lemah itu.
Panggil Kang Arif, begitu kata Kepala Desa melihat Pohon Beringin yang sudah terbaring
lemah, Cepat, udah mau sakaratul maut dianya, Kepala Desa menyuruh Kang Maman,
Hansip Desa Beringin Runtuh, untuk memanggil Kang Arif. Singkat cerita, Kang Arif pun
datang dan akhirnya membantu sang Pohon Beringin untuk kembali ke pangkuan sang ilahi,
terdengar pohon pohon lain menangis atas kematian Pohon Beringin itu, dan herannya,
suara tangisan paling keras terdengar dari si Pohon Toge, namun tangisannya berhenti
setelah seorang warga tidak sengaja menginjaknya, akhirnya, Pohon Beringin dan Pohon
Toge pun dimakamkan hari itu juga.
Ya begitulah, kejadian terburuk yang terjadi akibat jeritan maut Mamiku, yang benar benar
menjadi hal paling memalukan dan memilukan, sudahlah, balik ke topik, singkat cerita aku
pun mandi dan bergegas untuk pergi ke sekolah, ya, tak terasa tinggal H-3 sebelum ujian
nasional,