You are on page 1of 4

Jurnal Ilmu Hukum dan Sosial

Home > Vol 1, No 1 (2016) > Septiani


KEDUDUKAN ANAK YANG DILAHIRKAN OLEH IBU PENGGANTI
(SURROGATE MOTHER) MENURUT UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN
1974
Maulidya Dwie Septiani

Abstract

ABSTRACT

Memiliki anak adalah dambaan bagi setiap pasangan suami isteri, tetapi tidak dapat
dipungkiri bahwa ada keadaan dimana seorang isteri tidak dapat mengandung karena adanya
kelainan pada rahim sang isteri. Teknologi kedokteran telah menemukan program bayi
tabung yang dalam perkembangannya dapat dilakukan dengan menggunakan surrogate
mother.

Surrogate Mother adalah seorang wanita yang mengadakan perjanjian (Gestational


Agreement) dengan pasangan suami isteri yang mana dalam perjanjian tersebut si wanita
bersedia mengandung benih dari pasangan suami isteri infertil tersebut dengan suatu imbalan
tertentu.

Ditinjau dari aspek teknologi dan ekonomi, proses surrogate mother ini cukup menjanjikan
terhadap penanggulangan beberapa kasus infertilitasi, tetapi ternyata proses ini terkendala
oleh aturan perundang-undangan yang berlaku serta pertimbangan etika, norma-norma yang
berlaku di Indonesia. Begitu juga dengan perjanjian yang dibuat, apakah bisa berlaku
berdasarkan hukum perikatan nasional, terlebih objek yang dijanjikan sangatlah tidak lazim,
yaitu rahim, baik sebagi benda maupun difungsikan sebagai jasa.

Secara hukum, penyewaan rahim dilarang di Indonesia. Larangan ini termuat dalam Undang
Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan nomor
73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan PelayananTeknologi Reproduksi Buatan.
References

DAFTAR PUSTAKA

Astuti Dwi Veronica, loc. Cit

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka 1997

Dahlan Aziz Abdul, et al. Ensiklopedia Hukum Perkawinan. Cet. 1. Jil. 1. Jakarta : Ichtiar
Baru Van Hoeve 1997

Darrudi, Muhammad, Reproduksi Bayi Tabung di tinjau dari Hukum Kedokteran, Hukum
Perdata.Cet. 1, Jakarta: KAlam Mulia 1997

Hazairin, Hukum Perkawinan Cet. 5. Jakarta : PT. Tintamas Indonesia, 1981

Indonesia. Undang Undang Tentang Perkawinan. Undang - Undang No. 1 Tahun 1974 , LN
No. 1 Tahun 1974

Refbacks

There are currently no refbacks.

Surrogate Motherhood merupakan seorang wanita yang mengadakan perjanjian dengan


pasangan suami istri infertil yang mana dalam perjanjian tersebut si wanita bersedia
mengandung benih dari pasangan suami istri infertil tersebut dengan suatu imbalan tertentu.

Autonomy : adalah klien bebas untuk memilih tindakan keperawatan yang dianjurkan oleh
tenaga medis.

Pasangan suami istri infertil dari dokter dianjurkan untuk mengikuti program
surrogate matherhood. Untuk mengikuti sarannya dokter terlebih dahulu harus
meminta izin pada pasangan tersebut apakah mereka mau mengikutinnya atau tidak.
Karena ini merupakan otonomy dari pasien yaitu hak pasien untuk memilih apakah
mau mengikuti atau tidak. Apabila pasien menyetujuinya, pasien berhak untuk
memilih si ibu pengganti yang bersedia mengandung benih dari pasangan suami istri
infertil tersebut dengan suatu imbalan tertentu.

Beneficience merupakan tindakan untuk selalu berbuat baik yang dilakukan oleh tenaga
medis agar tidak terjadi kesalahan.

Dalam menjalankan program surrogate matherhood ini perawat harus memegang


teguh prinsip beneficience yaitu selalu berbuat baik agar tidak terjadi kesalahan pada
program tersebut. Jadi pada kasus ini perawat tidak boleh seenaknya sendiri dalam
melakukan tindakan keperawatan dan selalu memberikan yang terbaik guna
kelancaran program ini ( surrogate matherhood )

Non malficience : Prinsip ini berarti segala tindakan yang dilakukan pada klien tidak
menimbulkan bahaya / cedera secara fisik dan psikologik.

Perawat dan dokter sebelum memberikan saran pada pasangan infertil untuk
mengikuti program surrogate matherhood harus bisa mempertimbangkan baik
burunya program tersebut agar tidak merugikan pasien ataupun tenaga medis.

Justice : Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terapi yang sama dan adil terhadap orang lain
yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan . Nilai ini direfleksikan dalam
praktek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar
praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan .

Saat perawat dan dokter memberikan pelayanan kesehatan harus memegang prinsip
justice yaitu keadilan. Dan prinsip ini harus diterapkan pada saat perawat dan dokter
menjalankan progaram surrogate matherhood, jadi layanan kesehatan atau tindakan
keperawatan yang akan diberikan haruslah sama antara ibu sesunggunya dengan ibu
pengganti dan tidak membeda bedakan.

Veracity : Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi
layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap pasien dan untuk meyakinkan
bahwa pasien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang
untuk mengatakan kebenaran.
Dalam kasus program surrogate matherhood sebagai tenaga medis harus memegang
prinsip veracity yaitu kejujuran, jadi tenaga medis harus jujur pada pasangan infertil
apakah program tersebut berjalan lancar atau tidak pada yang bersangkutan dan tidak
menyembunyikannya.

Fidelity : Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan
rahasia pasien. Ketaatan, kesetiaan adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan
komitmen yang dibuatnya.

Dalam prinsip fidelity dokter dan perawat senantiasa setia dalam mendampingi pasien
dari awal program surrogate matherhood sampai bayi lahir dan tidak melepas begitu
saja karena itu masih tanggung jawab dokter dan perawat.