You are on page 1of 16

POLITIK DALAM ISLAM

dosen pembimbing:
Ir. Abdul Majid, M.P

disusun oleh kelompok 5:

Abi Khafsh Alghiffari 161710301023


Lintang Bagus Rahmatulloh 161710301047
Brilyan Raditia Pratamayuda 161710101040
Vidita Imroatus Sholeha 161710101105

MKU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


UNIVERSITAS JEMBER
2016/2017
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah Swt atas segala rahmat-NYA sehingga


makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari bapak Ir. Abdul Majid, M.P yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Islam merupakan agama Allah SWT sekaligus agama yang terakhir
yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril dengan
tujuan untuk mengubah akhlak manusia ke arah yang lebih baik di sisi Allah
SWT. Banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai ketakwaan di
sisi-Nya atau yang disebut juga dengan kata Politik. Karena politik dapat
dikatakan sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu. Tidak sedikit
masyarakat menganggap bahwa politik adalah sesuatu yang negatif yang harus
dijauhi. Padahal tidak semestinya selalu begitu, bahkan politik sangat dibutuhkan
dalam hidup beragama. Andai saja kita tidak mempunyai cara untuk melakukan
pendekatan kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan kita sebagai manusia biasa
juga tidak akan pernah mencapai kata beriman dan takwa disisi-Nya, dikarenakan
tidak akan pernah tercapai suatu tujuan jika tidak ada usaha atau cara yang
dilakukannya untuk mencapai tujuan tersebut. Realita inilah yang harus kita ubah
dikalangan masyarakat setempat, setidaknya dimulai dari lingkungan keluarga,
masyarakat, kemudian untuk bangsa dan negara kita.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari dari politik islam?
2. Apa prinsip prinsip politik luar negeri dalam islam?
1.3. TUJUAN
1. Mengetahui definisi dari politik islam.
2. Mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan politik islam.
3. Mengetahui prinsip-prinsip politik luar negeri di dalam islam.
4. Dapat membandingkan politik yang terjadi pada saat sekarang dengan
politik menurut pandangan Islam.
5. Agar dapat mengetahui dan memahami tentang politik secara Islam.
BAB 2
Pembahasan

1. Pengertian Poltik Islam


Pengaturan urusan urusan (kepentingan) umat baik dalam negeri maupun
luar negeri berdasarkan hukum hukum islam. Pelakunya bisa negara maupun
kelompok atau individu (Khalifah).
Rasulullah saw bersabda Adalah bani israil, para nabi selalu mengatur
urusan mereka. Setiap seorang nabi meninggal, diganti nabi berikutnya. Dan
sungguh tidak ada lagi nabi selainku. Akan ada para khalifah yang banyak (HR
Muslim dari Abu Hurairah). Hadist ini dengan tegas menjelaskan bahwa
khalifahlah yang mengatur dan mengurus rakyatnya (kaum Muslim) setelah Nabi
Muhammad saw.
Nabi Muhammad saw adalah seorang politikus yang bijaksana. Di
Madinah beliau membangun Negara Islam yang pertama dan meletakkan prinsip-
prinsip utama undang-undang Islam. Nabi Muhammad pada waktu yang sama
menjadi kepala agama dan kepala Negara.
Politik itu identik dengan siyasah, yang secara pembahasannya artinya
mengatur. Dalam fikih, siasah meliputi :
1. Siyasah Dusturiyyah
Dusturiyah adalah undang-undang atau peraturan. Secara pengertian
umum Siyasah Dusturiyah adalah keputusan kepala negara dalam
mengambil keputusan atau undang-undang bagi kemaslahatan umat.
Sedangkan menurut ahli, Siyasah Dusturiyah adalah hal yang mengatur
atau kebijakan yang diambil oleh kepala negara atau pemerintah dalam
mengatur warga negaranya. Hal ini berarti Siyasah Dusturiyah adalah
kajian terpenting dlam suatu negara, karena hal ini menyangkut hal-hal
yang mendasar dari suatu negara. Yaitu keharmonisan antara warga negara
dengan kepala negaranya.
2. Siasah Dauliyyah
Dauliyah bermakna tentang daulat, kerajaan, kekuasaan, wewenang, serta
kekuasaan. Sedangkan Siyasah Dauliyah bermakna sebagai kekuasaan
kepala negara untuk mengatur negara dalam hal hubungan internasional,
masalh territorial, nasionalitas, ekstradisi tahanan, pengasingan tawanan
politik, pengusiran warga negara asing. Selain itu juga mengurusi masalah
kaum Dzimi, perbedaan agama, akad timbal balik dan sepihak dengan
kaum Dzimi, hudud, dan qishash . Dari pengertian diatas dapat dilihat
bahwa Siyasah Dauliyah lebih mengarah pada pengaturan masalah
kenegaraan yang bersifat luar negeri, serta kedaulatan negara. Hal ini
sangat penting guna kedaulatan negara untuk pengakuan dari negara lain.
3. Siasah Maaliyah
rti kata Maliyah bermakna harta benda, kekayaan, dan harta. Oleh karena
itu Siyasah Maliyah secara umum yaitu pemerintahan yang mengatur
mengenai keuangan negara. Mengatakan bahwa Siyasah Maliyah adalah
hak dan kewajiban kepala negara untuk mengatur dan mengurus keungan
negara guna kepentingan warga negaranya serta kemaslahatan umat. Lain
halnya dengan yang mengatak bahwa Siyasah Maliyah meliputi hal-hal
yang menyangkut harta benda negara (kas negara), pajak, serta Baitul Mal.
Dari pembahsan diatas dapat kita lihat bahwa siyasah maliyah adalah hal-
hal yang menyangkut kas negara serta keuangan negara yang berasal dari
pajak, zakat baitul mal serta pendapatan negara yang tidak bertentangan
dengan syariat Islam.

Kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi yang dapat mempersatukan


kekuatan-kekuatan dan aliran-aliran yang berbeda-beda di masyarakat. Dalam
konsep Islam, kekuasaan tertinggi adalah Allah SWT. Kekuasaan dan kehendak
Allah tertuang dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul. Oleh karena itu penguasa
tidaklah memiliki kekuasaan mutlak, ia hanyalah wakil (khalifah) Allah di muka
bumi yang berfungsi untuk membumikan sifat-sifat Allah dalam kehidupan nyata.
Di samping itu, kekuasaan adalah amanah Allah yang diberikan kepada orang-
orang yang berhak memilikinya. Pemegang amanah haruslah menggunakan
kekuasaan itu dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan prinsip-prinsip dasar yang
telah ditetapkan Al-Quran dan Sunnah Rasul.

2. Norma Politik dalam Islam


Dalam pelaksanaan politik, Islam juga memiliki norma-norma yang harus
diperhatikan. Norma-norma ini merupakan karakteristik pembeda politik Islam
dari system poltik lainnya. Diantara norma-norma itu ialah :
1. Poltik merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan, bukan dijadikan
sebagai tujuan akhir atau satu-satunya.
2. Politik Islam berhubungan dengan kemashlahatan umat.
3. Kekuasaan mutlak adalah milik Allah.
4. Manusia diberi amanah sebagai khalifah untuk mengatur ala mini secara baik.
5. Pengangkatan pemimpin didasari atas prinsip musyawarah.
6. Ketaatan kepada pemimpin wajib hukumnya setelah taat kepada Allah dan
Rasul .

3. Kedudukan Politik Dalam Islam


Terdapat tiga pendapat di kalangan pemikir muslim tentang kedudukan
politik dalam syariat islam, yaitu :
Pertama, kelompok yang menyatakan bahwa islam adalah suatu agama
yang serba lengkap didalamnya terdapat pula antara lain system ketatanegaraan
atau politik. Kemudian lahir sebuah istilah yang disebutdengan fikih siasah
(system ketatanegaraan dalam islam) merupakan bagianintegral dari ajaran islam.
Lebih jauhkelompok ini berpendapat bahwa system ketatanegaraan yang harus
diteladani adalah system yang telah dilaksanakan oleh nabi Muhammad SAW dan
oleh al-qulafah al-rasyidin yaitu sitem khilafah.
Kedua, kelompok yang berpendirian bahwa islam adalah agama dalam
pengertian barat. Artinya agama tidak ada hubungannya dengan kenegaraan.
Menurut aliran ini nabi Muhammad saw hanyalah seorang rasul, seperti rasul-
rasul yang lain bertugas menyampaikan risalah tuhan kepada segenap alam. Nabi
tidak bertugas untuk mendirikan dan memimpin suatu Negara.
Ketiga, menolak bahwa islam adalah agama yang serba lengkap yang
terdapat didalamnya segala sistem ketatanegaraan, tetapi juga menolak pendapat
bahwa islam sebagaimana pandanagan barat yang hanya mengatur hubungan
manusia dengan tuhan. Aliran ini berpendirian bahwa dalam islam tidak teredapat
sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan
bernegara.

4. Demokrasi Dalam Islam


Kedaulatan mutlak dan keesaan Tuhan yang terkandung dalam konsep
tauhid dan peranan manusia dalam konsep khalifah . Dengan ini para cendikiawan
mengembangkan teori politik tertentu yang dianggap demokratis. Didalamnya
mencakup definisi khusus dan pengakuan terhadap kedaulatan rakyat, tekanan
pada kesamaan derajat, manusia, dan kewajiban rakyat sebagai pengemban
pemerintahan.
Musyawarah, konsensus, dan ijtihad merupakan konsep-konsep yang
sangat penting bagi demokrasi islam dalam kerangka keesaan tuhan dan
kewajiban-kewajiban manusia sebagai khalifah-nya. Meskipun istilah-istilah ini
banyak diperdebatkan maknanya, namun istilah-istilah ini memberi landasan yang
efektif untuk memahami hubungan antara islam dan demokrasi di dunia.
Hal ini ditunjukkan dalam surah Ali Imron ayat 159:








































Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya (QS Ali-Imron 159).

5. Prinsip-prinsip dasar politik Islam


a) Hakimiyyah Ilahiyyah
Hakimiyyah atau memberikan kuasa pengadilandan kedaulatan hukum tertinggi
dalam sistem politik Islam hanyalah hak mutlakAllah.

Artinya: Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhakdisembah) melainkan
Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, danbagi-Nyalah segala
penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Al-Qasas: 70)
Hakimiyyah Ilahiyyah membawa pengertian-pengertian berikut:
1. Bahawasanya Allah Pemelihara alam semesta yang pada hakikatnya
adalahTuhan yang menjadi pemelihara manusia, dan tidak ada jalan lain
bagi manusia kecuali patuh dan tunduk kepada sifat IlahiyagNya Yang
Maha Esa.
2. Bahawasanya hak untuk menghakimi dan meng adili tidak dimiliki
olehsesiap kecuali Allah. Bahawasanya hanya Allah sahajalah yang
memiliki hak mengeluarkan hukumsebab Dialah satu-satuNya Pencipta.
3. Bahawasanya hanya Allah sahaja yang memiliki hakmengeluarkan
peraturan-peraturan sebab Dialah satu-satuNya Pemilik.
4. Bahawasanya hukum Allah adalah suatu yang benar sebabhanya Dia
sahaja yang Mengetahui hakikat segala sesuatu dan di tanganNyalahsahaja
penentuan hidayah dan penentuan jalan yang selamat dan lurus.

Hakimiyyah Ilahiyyah membawa arti bahwa terasutama kepada sistem


politik Islam ialah tauhid kepada Allah di segi Rububiyyahdan Uluhiyyah.
b) Risalah
Risalah berarti bahawa kerasulan beberapa orang lelaki di kalangan
manusia sejak Nabi Adam hingga kepada Nabi Muhammad saw. Risalah adalah
suatu asas yang penting dalam sistem politik Islam. Melalui landasan risalah
inilah maka para rasul mewakili kekuasaan tertinggi Allah dalam bidang
perundangan dalam kehidupan manusia.
Dalam sistem politik Islam, Allah telah memerintahkan agar manusia
menerima segala perintah dan larangan Rasulullah saw. Manusia diwajibkan
tunduk kepada perintah-perintah Rasulullah saw.
c) Khalifah
Khalifah bererti perwakilan. Kedudukan manusia di atas muka bumi ini
adalah sebagai wakil Allah. Oleh itu, dengan kekuasaan yang telah diamanahkan
ini, maka manusia hendaklah melaksanakan undang-undang Allah dalam batas
yangditetapkan. Di atas landasan ini, maka manusia bukanlah penguasa atau
pemilik tetapi hanyalah khalifah atau wakil Allah yang menjadi pemilik yang
sebenarnya.
Seseorang khalifah hanya menjadi khalifah yang sah selama ia benar-benar
mengikuti hukum-hukum Allah. Allah Swt menuntun agar tugas khalifah
dipegang oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Terdiri dari orang-orang yang benar-benar boleh menerima dan mendukung
prinsip-prinsip tanggung jawab yang terangkum dalam pengertian khalifah.
2.Tidak terdiri dari orang-orang zalim, fasiq, fajir dan lalai terhadap Allah serta
bertindak melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh-Nya.
3. Terdiri dari orang-orang yang berilmu, berakal sehat, memiliki kecerdasan,
kearifan serta kemampuan intelek dan fizikal.
4.Terdiri dari orang-orang yang amanah sehingga dapat dipikulkan
tanggungjawab kepada mereka dengan yakin dan tanpa keraguan.

Artinya:hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang


yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-peminpin(mu);sebagiannya mereka
adalah pemimpin bagi sebagiannya yang lain. Barangsiapa diantara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesunguhnya Allah tidak memberikan petunujuk bagi orang-
orang yang zalim (QS Al-Maidah 51).

Syarat Kepemimpinan Politik dalam Islam


Kepemimpinan politik dalam Islam harus memenuhi syarat-syarat yang
telah digariskan oleh ajaran agama. Penjelasan itu terdapat dalam surat An-
Nisa;(4):58-59

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada


yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat(58). Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya(59).
Pada ayat tersebut disimpulkan bahwa terdapat beberapa syarat
kepemimpinan politik dalam Islam antara lain;
1. Amanah yaitu bertanggung jawab dengan tugas dan kewenangan yang
diemban.
2. Adil yaitu mampu menempatkan segala sesuatu secara tepat dan
proporsional.
3. Taat kepada Allah dan Rasul.
4. Menjadikan quran dan sunnah sebagai referensi utama.

6. Prinsip-Prinsip Utama Sistem Politik Islam


1. Musyawarah
Asas musyawarah yang paling utamaadldah berkenaan dengan pemilihan
ketua negara dan oarang-oarang yang akanmenjawat tugas-tugas utama dalam
pentadbiran ummah. Asas musyawarah yang keduaadalah berkenaan dengan
penentuan jalan dan cara pelaksanaan undang-undang yangtelah dimaktubkan di
dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Asas musyawarah yangseterusnya ialah
berkenaan dengan jalan-jalan bagi menetukan perkara-perkarabaru yang timbul di
dalangan ummah melalui proses ijtihad.
2. Keadilan
Prinsip ini adalah berkaitan dengankeadilan sosial yang dijamin oleh
sistem sosial dan sistem ekonomi Islam. Dalampelaksanaannya yang luas, prinsip
keadilan yang terkandung dalam sistem politikIslam meliputi dan merangkumi
segala jenis perhubungan yang berlaku dalamkehidupan manusia, termasuk
keadilan di antara rakyat dan pemerintah, di antaradua pihak yang bersebgketa di
hadapan pihak pengadilan, di antara pasangansuami isteri dan di antara ibu bapa
dan anak-anaknya.kewajipan berlaku adil danmenjauhi perbuatan zalim adalah di
antara asas utama dalam sistem sosial Islam,maka menjadi peranan utama sistem
politik Islam untuk memelihara asas tersebut.Pemeliharaan terhadap keadilan
merupakan prinsip nilai-nilai sosial yang utamakerana dengannya dapat
dikukuhkan kehidupan manusia dalam segala aspeknya.
3. Kebebasan
Kebebasan yang diipelihara olehsistem politik Islam ialah kebebasan yang
berterskan kepada makruf dankebajikan. Menegakkan prinsip kebebasan yang
sebenaradalah tujuan terpentingbagi sistem politik dan pemerintahan Islam serta
menjadi asas-asas utama bagiundang-undang perlembagaan negara Islam.
4. Persamaan
Persamaan di sini terdiri daripadapersamaan dalam mendapatkan dan
menuntut hak, persamaan dalam memikultanggungjawab menurut peringkat-
peringkat yang ditetapkan oleh undang-undangperlembagaan dan persamaan
berada di bawah kuatkuasa undang-undang.
5. Hak menghisab pihak pemerintah
Hak rakyat untuk menghisab pih pemerintah dan hak mendapat penjelasan
terhadap tindak tanduknya. Prinsip ini berdasarkan kepada kewajiban pihak
pemerintah untuk melakukan musyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan
urusan dan pentadbiran negara dan ummah. Hak rakyat untuk disyurakan berarti
kewajiban setiap anggota dalam masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan
menghapuskan kemungkaran. Dalam pengertian yang luas, ini juga berarti bahwa
rakyat berhak untuk mengawasi dan menghisab tindak tanduk dan keputusan-
keputusan pihak pemerintah.
7. Tujuan Politik Menurut Islam
Tujuan sistem politik Islam adalah untuk membangunkan sebuah sistem
pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan
seluruh hukum syariat Islam. Tujuan utamanya ialah menegakkan sebuah negara
Islam atau Darul Islam. Dengan adanya pemerintahan yang mendukung syariat,
maka akan tertegaklah Ad-Din dan berterusanlah segala urusan manusia menurut
tuntutan-tuntutan Ad-Din tersebut. Para fuqahak Islam telah menggariskan 10
perkara penting sebagai tujuankepada sistem politik dan pemerintahan Islam:
1) Memelihara keimanan menurut prinsip-prinsip yang telah disepakati oleh
ulamak salaf dari pada kalangan umat Islam.
2) Melaksanakanproses pengadilan dikalangan rakyat dan menyelesaikan
masalah dikalangan orang-orang yang berselisih.
3) Menjaga keamanan daerah-daerah Islam agar manusia dapat hidup dalam
keadaan aman dand amai.
4) Melaksanakanhukuman-hukuman yang telah ditetapkan syarak demi
melindungi hak-hak manusia.
5) Menjaga perbatasan negara dengan berbagai persenjataan untuk menghadapi
kemungkinan serangan daripada pihak luar.
6) Melancarkan jihad terhadap golongan yang menentang Islam.
7) Mengendalikan urusan pengutipan cukai, zakat, dan sedekahsebagaimana
yang ditetapkan syarak.
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia diciptakan Allah dengan sifat bawaan ketergantungan kepada-
Nya di samping sifat-sifat keutamaan, kemampuan jasmani dan rohani yang
memungkinkan ia melaksanakan fungsinya sebagai khalifah untuk memakmuran
bumi. Namun demikian, perlu dikemukakan bahwa dalam keutamaan manusia itu
terdapat pula keterbatasan atau kelemahannya. Karena kelemahanya itu, manusia
tidak mampu mempertahankan dirinya kecuali dengan bantuan Allah.
Bentuk bantuan Allah itu terutama berupa agama sebagai pedoman hidup
di dunia dalam rangka mencapai kebahagiaan di akhirat nanti. Dengan bantuan-
Nya Allah menunjukkan jalan yang harus di tempuh manusia untuk mencapai
tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia hanya dapat terwujud jika manusia
mampu mengaktualisasikan hakikat keberadaannya sebagai makhluk utama yang
bertanggung jawab atas tegaknya hukum Tuhan dalam pembangunan
kemakmuran di bumi untuk itu Al-Qur'an yang memuat wahyu Allah. Untuk itu di
perlukan sebuah system politik sebagai sarana dan wahana (alat untuk mencapai
tujuan) yaitu Politik Islam.
Daftar Pustaka
Al Quran
Nasution, Harun,Islam rasional, gagasan dan pemikiran, 1996:227
Sadzali, Munawir, Islam dan tata negara, 1993:2
Iqbal, Muhammad. Fiqh Siyasah, Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam,
Jakarta : Gaya Media Pratama, 2007