You are on page 1of 6

Perkembangan Ekonomi, Sosial, dan Budaya Pada Masa Islam (1500-1800 M)

A.PERKEMBANGAN EKONOMI

Pada masa Islam, kegiatan perekonomian terutama menyangkut perdagangan sudah maju
dengan pesat. Berdirinya bandar-bandar atau pelabuhan tempat transaksi biasanya dilakukan
adalah fakta yang menguatkan hal itu. Berbagai bandar itu tidak hanya disingahi oleh
pedagang prbumi, tapi juga oleh pedagang asing/mancanegara. Pedagang dari mancanegara
umumnya berasal dari arab, persia, China, bahkan dari Eropa.

Pedagang dari arab memperjualkan permadani, kain-kain, dyl. Uniknya, pedagang dari arab
seringkali membentuk komunitas Arab yang dikenal dengan nama kampung Arab. Sering
dijumpai kampung ini terletak di daerah pesisir. Namun tak jarang kampung ini juga dibentuk
di daerah yang jauh dari garis pantai, dan cenderung dekat dengan pusat kota yang ramai.

Sama halnya dengan pedagang dari Arab, pedagang dari Persia pun melakukan kegiatan
perdagangan di daerah pelabuhan serta di daerah pedalaman yang jauh dari pantai. Dan untuk
barang-barang yang dijual oleh pedagang dari Persia, hampir sama dengan pedagang asal
Arab. Barang-barang itu meliputi sorban, kain-kain permadani, dyl. Perbedaan dengan
pedagang Arab adalah pedagang Persia tidak mebentuk komunitas tersendiri, yang dapat
menyatukan mereka dalam suatu wadah tersendiri.

Tidak kalah dengan dua bangsa asal Asia Barat, pedagang asal China di Indonesia pun
mampu memberikan perannya dalam memajukan perdagangan di Indonesia. Dari segi etos
kerja, pedagang China pun sangat baik. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pedagang
China yang sukses pada masa itu serta mampu menempati posisi yang tinggi dalam kegiatan
perdagangan. Dan guna menyatukan komunitas mereka serta melancarjan kegiatan
perdagangan mereka, mereka pun membentuk komunitas tersendiri yang dikenal dengan
kampung China atau Pecinan. Untuk barang-barang diperjualkan oleh pedagang China
meliputi guci, keramik, sutera, kertas, dyl.

Berbeda dengan ketiga pedagang Asia di atas, yang datang sejak awal perkembangan Islam,
atau bahkan jauh sebelum itu. Kedatangan pedagang Eropa ke nusantara terjadi pada saat
Islam sudah mulai memasuki masa keemasan di bumi Indonesia, yang dibuktikan dengan
semakin banyaknya kerajaan bercorak Islam. Bangsa Eropa datang jauh-jauh dari Eropa
karena Konstantinopel yang saat itu jatuh ke Turki Usmani, tertutup bagi orang Eropa.
Karena hal inilah, yang kemudian memaksa mereka untuk mencari sendiri kebutuhan pokok
mereka yang salah satunya adalah rempah-rempah. Dan perjalanan mereka untuk mencari
rempah-rempah sendiri ke daerah timur dipelopori oleh Ferdinand de Magelhans (asal
Portugis).

Antara Islam dan perdagangan merupakan suatu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.
Banyak sekali contoh yang menyebutkan bahwa dalam perdagangan, disebarkan pula agama
Islam atau perdagangan di Indonesia dilakukan oleh pedagang Islam. Perkembangan ekonomi
di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan kontribusi pedagang-pedagang Islam. Misalnya
pedagang Islam asal Arab, Gujarat, bahkan China. Perkembangan ini dari mulai ujung barat
Indonesia (Aceh) sampai Indonesia timur, termasuk berhasil masuk dan berkembang di pulau
rempah-rempah (Maluku). Para pedagang Jawa dan Melayu yang beragama Islam menetap di
pesisir Banda, tetapi tidak ada seorang raja pun di sana, dan daerah pedalaman masih non-
muslim. Ternate, Tidore, dan Bacan mempunyai raja-raja Muslim. Penguasa-penguasa Tidore
dan Bacan memakai gelar India raja, tetapi penguasa Ternate telah menggunakan gelar
Sultan, dan raja Tidore telah memakai nama Arab al-Manshur.

Keseluruhan bukti di atas memberi suatu gambaran umum mengenai perkembangan ekonomi
pada abad XIII hingga awal abad XVI. Derah-daerah yang paling penting atau menjadi jalur
perdagangan Intenasional meliputi pesisir-pesisir Sumatera di selat Malaka, semenanjung
Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu, dan Maluku. Menurut Tome Pires, tidak semua
daerah perdagangan yang penting telah memeluk Islam, misalnya Timor dan Sumba yang
menghasilkan kayu cendana tetapi masih tetap non-Islam. Adanya perdagangan internasional
hanya memberi sedikit penjelasan mengapa sudah ada bangsawan-bangsawan yang beragama
Islam di Istana Majapahit pada abad XIV, atau mengapa Trengganu merupakan daerah
Malaya pertama tempat Islamisasi berlangsung. Meskipun demikian, tampaknya memang ada
kaitannya antara perdagangan dengan Islam.

B.PERKEMBANGAN SOSIAL

Syiar agama Islam, serta penyebarannya di Indonesia begitu cepat dan cepat. Salah satu
faktor pendukungnya adalah adanya beberapa aspek sosial dalam ajaran Islam yang tidak
memberatkan serta cocok dengan masyarakat Indonesia. Aspek-aspek itu meliputi1).
ajarannya sederhana, 2.) syaratnya mudah, 3.) tidak mengenal kasta, 4.) upacara-upacara
keagamaan sangat sederhana, serta 5.) Disebarkan melalui jalan damai.

Kesederhanaan ajaran agama Islam menjadikan agama Islam sebagai agama yang sangat
mudah dimengerti sehingga dapat diterima oleh setiap orang yang sedang mempelajarinya.
Salah satu buktinya adalah Islam mengatur setiap aktivitas manusia, bahkan dari yang
terkecil misalnya berdoa sebelum masuk kamar mandi. Selain itu, dalam perwujudan Tuhan
Allah yang jelas-jelas tidak dapat diserupakan dengan makhluk apapun di dunia ini sangat
masuk akal, karena Tuhan tidak sama dengan yang diciptakan-Nya. Ajaran islam pun tidak
memberatkan. Misalnya ada seorang umatnya yang dalam perjalanan jauh (lebih dari 80
KM), maka shalat atau ibadahnya bisa diringkas, atau dalam ustilah lain diqodo.

Syarat pokok untuk menjadi seorang muslim adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Isi
dari kedua kalimat syahadat itu adalah pengakuan atau kesaksian bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah, serta kesaksian bahwa Muhammad utusan Allah. Tidak diperlukan upacara
khusus, misal penyediaan benda-benda upacara, tidak memerlukan biaya mahal, cukup lewat
lisan dan dimantabkan dalam hati. Hal inilah yang membuat banyak orang yang berduyun-
duyun masuk agama Islam dikarenakan syaratnya yang mudah dalam memeluknya.

Dalam ajaran Islam, tidak mengenal kasta, yaitu penggolongan pemeluk agama berdasarkan
derajat atau status sosial. Semua orang, semua pemeluk dalam agama ini dipandang sama
status derajatnya. Yang membedakan adalah tingkat ketaqwaaan dan amal ibadah mereka di
hadapan Allah SWT. Oleh sebab itu, ajaran agama Islam lebih menarik bagi rakyat biasa,
yang justru lebih besar jumlahnya.

Upacara-upacara keagamaan (ritual) dalam ajaran Islam sangat sederhana. Dalam


melaksanakan ritual keagamaan, pemeluk agama Islam tidak pernah melakukan hal-hal yang
rumit misalnya sesaji. Tidak ada korban yang harus dipersembahkan pada Sang Pencipta.
Karena pada dasarnya agama ini hanya memberikan yang mudah saja pada pemeluknya.
Ibadah shalat lima (5) waktu dalam sehari tidaklah terlalu sulit karena syarat melakukannya
pun mudah (suci tempat, baju yang dikenakan, dan suci diri setelah melakukan wudlu.)

Ajaran Islam disebarkan melalui jalan damai/Penetration Pacific, antara lain melalui
akulturasi dan asimilasi kebudayaan, melalui kesenian daerah setempat, tidak dilakukan
dengan peperangan. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukan bukti-bukti arkeologis dan
Etografis, yang menunjukkan bahwa Islam telah dianut oleh anggota kerajaan (dari batu nisan
Islam yang berlambang kerajaan). Bukti lain adalah pada tahun 1357 M, tatkala terjadi
peristiwa Bubat (dalam Kidung Sundayana) dinyatakan bahwa prajurit sunda di ibukota
Majapahit melewati sebuah masjid. Selain itu, menurut berita Cina dari Ma Huan,
menyatakan bahwa pada tahun 1416 M penduduk Majapahit terbagi atas 3 kelompok yakni :

1.Orang Islam

2.China (Mahzab Hanafi)

3.Penduduk asli (penyembah berhala)

Dalam bukunya Suma Oriental, Tome Pires yang merupakan ahli obat-obatan dari Lisbon,
menyebutkan bahwa pada waktu itu (abad XV), sebagian besar raja-raja Sumatera beragama
Islam, tetapi masih tetap ada negeri-negeri yang belim menganut Islam. Contoh daerah yang
telah memeluk Islam adalah Aceh di sebelah utara terus menusur daerah pesisir timur sampai
Palembang. Sedangkan contoh daerah yang belum memeluk Islam adalah daerah Jawa Barat
yang berbahasa Sunda, dan malah cenderung memusuhi Islam. Daerah yang dimaksud Pires
adalah wilayah yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran.

Bukti lain yang tak terbantahkan adalah ditemukannya batu-batu nisan dari abad XIV yang
berasal dari Trowulan (makam putri Campa, permaisuri dari raja Kertawardhana) dan
Troloyo memberi kesan bahwa istana Hindu-Budha dapat atau paling tidak kadang-kadang
bersikap toleran terhadap adanya orang-orang muslim di lingkungannya. Tidak hanya di
lingkunagan kerajaan. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang
berangka tahun 1419 M, menunjukkan bahwa agama Islam juga menyebar melaui pelabuhan.
Dan untuk memudahkan dalam penyebarannya, maka dilakukanlah Asimilasi, akomodasi,
maupun akulturasi. Proses asimilasi, akulturasi, dan akomodasi itu terus berlangsung sampai
lama sesudah sebagian penduduk Jawa memeluk agama Islam secara nominal, dan telah
menyebabkan agak berbedanya corak Islam Jawa dan Islam Malaya atau Sumatera.

C.PERKEMBANGAN BUDAYA

Pada masa perkembangan Islam di nusatara, juga terjadi kemajuan dari segi budayanya.
Ditemukannya naskah-naskah Islam ataupun sastra-sastra Islam yang bisa menjadi salah satu
sumber sejarah perkembangan Islam di Indonesia serta menambah khazanah budaya Islam
pada masa itu adalah fakta pendukungnya. Mulai dari Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah
Melayu, Babad Tanah Jawi, Sejarah Banten, Primbon, Suluk, Tajusalatin, dyl. Karya-karya
sastra ini semakin menyebar setelah masa Majapahit, karena pusat kebudayaan tersebar ke
seluruh nusantara yang merupakan perpaduan budaya Indonesia asli, Hindu-Budha, dan
Islam.

Hikayat Raja-Raja Pasai merupakan salah satu sumber yang berisi cerita-cerita kuno, namun
sebagian besar isinya hanya dikenal dalam versi-versi dari abad XVIII dan XIX. Naskahnya
berbahasa Melayu, tetapi disalin di Demak pada tahun 1814. Buku ini menceritakan
bagaimana Islam masuk ke Samudra, daerah pertama yang menjadi tempat berdirinya sebuah
kerajaan Islam (Samudera Pasai).

Sejarah Melayu merupakan naskah lainnya yang berbahasa Melayu, yang dikenal dalam
beberapa versi, dan salah salah satunya ditulis oleh Abdul Kadir Munsi pada tahun 1612. Satu
naskah memuat angka tahun 1021 H (1612 M), tetapi naskah ini hanya ada dalam salinan dari
awal abad XIX. Seperti halnya cerita tentang masuknya Samudra ke dalam agama Islam yang
diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai, naskah ini berisi suatu kisah mengenai masuknya
raja Malaka ke dalam agama Islam.

Babad Tanah Jawi merupakan judul umum yang mencakup sejumlah besar naskah berbahasa
Jawa yang beraneka ragam susunan dan uraiannya, dan tak satu pun naskah terdapat dalam
salinan dari masa sebelum abad XVIII. Naskah ini bersifat makro, yang menceritakan sejarah
zaman tertua sampai abad XVIII, yang terdiri atas dua puluh (20) versi. Babad tanah Jai yang
asli ditulis oleh Tumenggung Tirta Wiguna yang saat itu bernama Carik Bajra (1719), yang
merupakan bagian hikayat dunia. Bersamaan dengan itu terjadi suksesi Jawa pada 1719-1723
antara putra Pakubuwono I. Karena pada kasus ini, legitimasi Mataram adalah Babad (oleh
Pakubuwono IV, putra Pakubuwono I). Naskah-naskah ini mengacu pengislaman yang
pertama di antara orang-orang Jawa pada pekerjaan sembilan orang suci (wali songo), namun
nama-nama dan hubungan-hubungan di antara kesembilan orang itu berbeda-beda dalam
berbagai kisah.

Sejarah Banten merupakan naskah berbahasa Jawa lainnya yang berisi cerita-cerita tentang
pengislaman. Sebagian besar naskah kronik ini berangka tahun akhir abad XIX, tetapi dua
buah naskah merupakan salinan dari yang asli yang ditulis dalam tahun 1730-an dan 1740-an.
Seperti halnya dongeng-dongeng di dalam babad tanah Jawi, termuat banyak peristiwa
ghaibdi dalamnya, namun karya tulis ini tidak menggambarkan pengislamannya secara jelas,
dan tidak ada penekanan pada pengucapan dua kalimat syahadat, pengkhitanan, dyl.

Primbon (buku penuntun) berisi catatan-catatan yang dibuat oleh seorang murid atau lebih
dari seorang ulama. Pada masa-masa selanjutnya, primbon identik dengan ramalan-ramalan
mengenai nasib seseorang berdasarkan tanggal kelahirannya, dyl. Salah satu pembuat
primbon tersohor adalah Sultan Agung, raja besar dari kerajaan Mataram Islam.

Selain beberapa sastra di atas, terdapat pula sastra-sastra lainnya. Sastra-satra tersebut adalah
Tajusalatin oleh Nurudin Ar-Raniri, Kidung, Shraf al-Asiqin (minuman yang memabukkan)
oleh Hamzah Fansuri , dan Asrar al-Aliqi (cermin bagi orang arif) oleh Syamsudin As-
Sumatrani, serta sastra yang digunakan sebagai sumber sejarah yakni Puja Sastra dan Pura
Sastra. Puja sastra adalah karya sastra yang dipakai untuk memuja raja saat itu (kultus Dewa
Raja). Sedangakan Pura Hita adalah pendeta istana yang bertugas menjaga, merawat, dari
para Raja. Dalam kerajaan Astina pura, Hita adalah Durna dan Bisma.

Selain adanya bukti kemajuan sastra-sastra Islam di atas, hal yang yang menyangkut dengan
budaya Islam pada masa itu adalah bukti yang jelas mengenai kecenderungan mistis dalam
Islam di Indonesia, yang diwujudkan dengan adanya ajaran Tasawuf. Kaum sufilah yang
menjadi alat utama dalam islamisasi. Pendukung utama argumen ini adalah A.H. Johns. Dia
menjelaskan bahwa pengislaman di Indonesia bersamaan dengan kurun waktu ketika paham
sufi telah mulai mendominasi dunia Islam (setelah kejatuhan Baghdad ke tangan Mongol
pada tahun 1258). Ajaran tasawuf ini salah satunya diajarkan oleh Sunan Bonang, yang juga
telah menulis Suluk yang menghasilkan buku karya Sunan Bonang atau Hade Book van
Bonang.

Pada zaman Islam, karya-karya sastra itu mengandung unsur fiktif yang menjadi kepercayaan
pada masa itu (selain sejarah sebagai isinya). Fiktif ini dibatasi dalam lingkup budaya. Unsur-
unsur fiktif ini meliputi mitos, legenda, simbolisme, tafsir mimpi, genealogo/keturunan,
pamali/larangan, dan kutukan. Pada akhirnya aspek-aspek imajinatif ini fungsinya adalah
sebagai alat legitimasi.

Walaupun Islam hanya mempunyai dampak yang sangat terbatas terjadap falsafah Jawa,
tetapi agama ini telah menyebabkan terjadinya pergeseran budaya dalam kehidupan
masyarakat Jawa, misalnya semua orang Jawa yang memeluk agama Islam akhirnya
melakukan khitanan dan penguburang sebagai pengganti uapacara-upacara keagamaan
Hindu-Budha, seperti pembakaran mayat. Dengan demikian, masuknya seseorang ke dalam
komunitas kegamaan yang baru ini ditandai secara jelas. Di Bali, karena sebab-sebab yang
tidak jelas, kendala-kendala budaya tidak dapat diataso dan Bali tetap Hindu sampai kini. Di
semua daerah Indonesia, Islamisasi adalah awal, bukan akhir dari suatu proses perubahan
yang penting. Tujuh abad kemudian, proses ini tetap berlangsung.
D.ANALISIS KESIMPULAN

Dalam awal perkembangan Islam, berbagai perubahan dan kemajuan telah dicapai di
Indonesia. Dari kemajuan dalam bidang Ekonomi, sosial, dan budaya. Masing-masing ketiga
aspek ini sangat mempengaruhi kemajuan peradaban di Indonesia. Tidak hanya di daaerah
pesisir, kemajuan juga terjadi di daerah pedalaman, yang biasanya menjadi pusat
pemerintahan kerajaan.

Pada masa Islam, kegiatan perekonomian terutama menyangkut perdagangan sudah maju
dengan pesat. Berdirinya bandar-bandar atau pelabuhan tempat transaksi biasanya dilakukan
adalah fakta yang menguatkan hal itu. Gresik, Tuban, Surabaya, Makasar, Pasai, adalah salah
satu sedikit contoh pelabuhan internasional yang maju pada masa itu.

Syiar agama Islam, serta penyebarannya di Indonesia begitu cepat dan cepat. Salah satu
faktor pendukungnya adalah adanya beberapa aspek sosial dalam ajaran Islam yang tidak
memberatkan serta cocok dengan masyarakat Indonesia. Aspek-aspek itu meliputi1).
ajarannya sederhana, 2.) syaratnya mudah, 3.) tidak mengenal kasta, 4.) upacara-upacara
keagamaan sangat sederhana, serta 5.) Disebarkan melalui jalan damai.

Pada masa perkembangan Islam di nusatara, juga terjadi kemajuan dari segi budayanya.
Ditemukannya naskah-naskah Islam ataupun sastra-sastra Islam yang bisa menjadi salah satu
sumber sejarah perkembangan Islam di Indonesia serta menambah khazanah budaya Islam
pada masa itu adalah fakta pendukungnya.

Pada akhirnya ketiga aspek di ataslah yang mendukung penyebaran dan perkembangan Islam
di Indonesia, sehingga mengalami peningkatan yang cukup pesat, dan sekarang telah dianut
oleh sebgaian besar masyarakat Indonesia.