You are on page 1of 5

Aku sakau.rasanya penyakit ini semakin parahaku butuh obat sekarang juga.

Kupandangi obat yang kumaksud tengah diam menatapku sambil membentangkan


kedua tangannya untuk mendekapku. Menawarkan pelipur lara yang begitu manjur.
Menjadi penawar racun yang sudah mendekam dalam urat nadiku selama bertahun-
tahun. Ya Tuhanaku kembali merasakan sakit yang luar biasa.penyakit ini
kronisakankah tersembuhkan?....

Bising.sekelilingku terasa begitu mengganggu. Suara musik dari hp di atas meja


suara orang yang sedang mengobrol di hadapanku.hingga suara angin yang hanya
sekedar menyapa sesaat, sebelum kembali berlalu. Ahhhh..sukmaku memberontak.
Teriakan ini hanya bergema di dalam ruang jiwaku. Tak mampu meledak keluar
laksana bom waktu. Aku ingin menangis.tapi mataku sudah lupa bagaimana wajah
tetesan air sejuk itu. Hatiku sudah membeku laksana es abadi di kutub utara sana.
Yang tak pernah kunjung mencair bahkan oleh panasnya udara di kotaku ini.

Obat
Sebenarnya aku menyadari kapan awal mula mengidap penyakit ini. Aku tahu betul
apa yang menjadi penyebabnya. Tapi tetap saja kubiarkan. Pura-pura acuh tak acuh
dengannya. Terus menikmati hari dengan sombong bahwa aku akan tetap baik-baik
saja. Dan tanpa terasa waktu telah menghancurkan keangkuhanku. Di balik
cengkeramannya, aku terombang ambing tanpa arah. Meniti detik demi detik dalam
kesia-siaan. Mengukir hari hari dengan pena dusta, amarah, ego, dendam, dan begitu
banyak hal nista lainnya. Dan disinilah aku akhirnya.terpuruk.

Kupandangi lagi obat yang tetap tersenyum menanti uluran tanganku untuk
menjangkaunya. Seakan tak pernah lelah untuk membujukku dalam diamnya.
Memberi harapan akan kesembuhan. Memberi obor cahaya akan penunjuk jalan di
hadapanku.

Tiba-tiba obat itu membiaskan rentetan masa laluku. Memantulkan semua adegan
satu persatu pada dinding memoriku. Kubiarkan dan kunikmati saja dengan perlahan.
Karena tubuhku memang sudah tak punya daya untuk menepisnya.
nak.bapak bersyukur kau sudah mulai membaca sambil memahami maknanya
wajah almarhum bapak yang sumringah memberi pujian untukku yang saat itu masih
duduk di bangku smu. Sambil menahan senyum, rasa senangpun memenuhi dadaku.
Menyusul adegan berikutnya telah siap menayangkan diri di hadapan penonton
tunggal ini. Yang perlahan menenggelamkan sadarnya dalam buaian tidur yang lelap
malam itu.

Rutinitas kumulai lagi. Menyiapkan sarapan untuk suami, memandikan kedua


malaikat kecilku, mencuci tumpukan pakaian kotor yang sudah menumpuk dalam
ember besar. Hingga tepat pukul sembilan, suamiku pamit untuk bekerja. Aku
mengurusi kedua anakku sambil merampungkan sisa pekerjaan rumah. Dan sekitar
pukul lima sore, suamiku kembali. Di malam hari, setelah makan bersama, biasanya
aku dan anak-anak sudah tertidur. Sementara terkadang suamiku melanjutkan sisa
pekerjaannya. Terus berulang seperti itu. Hingga seringkali tubuhku turut
memberontak saking jenuhnya. Mengikis sedikit demi sedikit indera perasaku. Rasa
akan kasih sayang dan ketulusan. Bahkan untuk mencoba merenungpun sampai tak
sempat dilakoni.

Andai boleh mencari alasan, rutinitas inilah yang mencetus rasa sakitku.
Hhhh.padahal jauh di lubuk hati ini, aku sadar betul kalau aku sendirilah yang
menyebabkan kehancuran diri. Namun tetap saja ego mengalahkan kejujuran. Mereka
berdua bergelut hingga menghempaskan satu sisi lainnya. Kupandangi lagi obat
penawar sakitku tengah tergolek tak terurus di atas meja usang. Apakah dia sudah
menyerah menawarkan khasiatnya?.....saat aku perlahan mengulurkan jemari ingin
menyentuhnya, tiba-tiba urung karena mendengar suara tangis si kecil. Segera aku
berlalu diiringi raut kecewanya. Kembali dia sendiri dalam diam.
***

Dadaku sesak.pandanganku kosong.seakan ada lubang besar di dinding


sukmaku. Aku baru saja bertengkar dengan kakak sulungku. Ingin rasanya
mengeluarkan kata-kata pedas yang kujamin akan membuatnya malu. Tapi
kutelan.mengingat aku sudah bukan anak kecil yang senang menghamburkan
amarahnya tanpa kontrol. Kutenangkan gemuruh napas yang turun naik saking
marahnya.

Otakku mereview kembali memori masa lalu. Masa dimana aku belum menderita
sakit. Masa dimana raga jiwaku masih hijau. Belum tersentuh tangan tangan ego dan
dendam. Polos seumpama anak yang memandang semuanya bukan sebagai beban.
Lugu membenarkan semua yang dilihat, didengar dan dirasakan. Membangun
kepercayaan di semua lahan kosong yang meminta. Ya Tuhan.apakah hidup
sedemikian kerasnya menempaku hingga sanggup menghempaskan semua itu?. Atau
karena aku telah kehilangan pegangan?...kulirik kembali obat yang sekarang hampir
memalingkan wajahnya. Ahhhh.aku tahu kalau aku pasti akan sembuh dengan
mereguk nikmatnya. Rasa sakit ini pasti hilang. Tapi.kembali aku berlalu.
***

Kakakku kritis.kudekap dengan erat tubuhnya yang lemah tak berdaya. Pendarahan
hebat menghabiskan kekuatannya. Terus berdoa di dalam hati, aku mencengkeram
pundaknya dengan kuat saat menuju rumah sakit. Semua pikiran bercampur aduk
menjadi satu. Kueratkan pelukanku untuk mencegah pendarahan lagi dari hidung dan
mulutnya. Karena sedikit saja tubuhnya terguncang akibat jalanan yang tak
bersahabat, darah akan segera mengalir keluar. Tak kurasakan lagi dinginnya
bongkahan es yang kutempelkan ke dadanya. Sekedar untuk membantu mencegah
pendarahan. Ibupun membantu menempelkan bongkah es pada ubun-ubunnya sambil
terdiam dalam doa yang tak putus. Ya Tuhan.selamatkanlah dia.

Hilanglah semua amarah kemarin.yang memenuhi rongga dadaku saat ini hanyalah
rasa iba saat melihat betapa ketabahan telah menjadi karakter kakakku itu. Tanpa
keluhan, dirinya hanya duduk diam sambil mendengarkan kami mengobrol dengan
para kerabat maupun tetangga yang datang menjenguk. Yang akhirnya kusadari kalau
lidahnya saat itu terus dihiasi dzikir. Sesekali tersenyum mendengarkan gurauan
kami. Kudekati dengan perlahan dan menanyakan apa yang dirasakannya.
Jawabannya begitu lirih hampir tak terdengar, kalau dia hanya sedikit pusing karena
ngantuk. Akupun akhirnya meninggalkannya dalam keadaan sudah terlelap, untuk
kembali ke rumah.

Aku gelisah dalam tidurku malam itu. Namun tak juga mampu meraba hijab yang
menutupi kalbu. Sehingga aku tak bisa memaknai rasa yang mengalir. Kembali
memoriku diusik adegan masa lalu.
dek, jujur sebenarnya kakak begitu sedih saat harus menitipkan dirimu akhirnya
pada suami yang telah menjadi imam untuk hidupmu selanjutnya. Rasanya ingin
menangis saat berpisah untuk membiarkan dirimu dibawa oleh pelukan suamimu.
Adik kecilku, yang sejak dulu amat kusayangi. Sekarang sudah dewasa
melangkahkan kakinya. Semoga Allah senantiasa menjagamu. Sms itu sontak
membuatku terenyuh dan cukup terkejut. Karena kakak sulungku adalah seorang
yang teramat pendiam dan tegas. Kata-kata itu pastilah begitu tulus karena bisa
terucap darinya.
***

Sakiiiiiiiit..hatiku makin membatu. Bahkan air mata ibu saat melepas kepergianku
untuk kembali ke kampung halaman suamiku, tak mampu mengobatinya. Kakak
sulungku sudah membaik dan kembali ke rumah. Akupun bisa pergi dengan tenang.
Karena jauh sebelumnya memang sudah berniat untuk pulang. Tapi sakit ini ternyata
makin memburuk. Tak ada seorangpun yang menyadarinya. Dan akhirnya gemuruh
mesin pesawatpun menenggelamkan sejenak rasa sakit ini.
***

Tuhan.aku takut.aku sudah kebal dengan sakit ini. Sakit yang sudah lama
menggerogoti jiwaku. Melumpuhkan semua inderaku. Memenjarakan diri dalam
kefanaan duniawi. Kualihkan pandangan kepada obat yang ternyata masih setia
mengikutiku hingga ke tempat ini. Apakah tak terlambat jika kureguk
sekarang?....tiba-tiba sebuah suara yang lembut terdengar .yang tak lain berasal
dari obat itu.
sudah cukup.semua rasa sakitmu hanya akan terus menyiksamu. Karena
nuranimu tak mampu berdusta bahwa kau membutuhkanku, wahai hamba Allah yang
dhaif.
Perlahan kutenangkan diri agar bisa mendengarnya lebih jelas,
bukankah fitrahmu merindu pada masa lalu..masa dimana kau selalu mereguk
nikmatku dengan mengajakku membicarakan semuanya. Bertanya saat kau
ragu.meminta peneguh jiwa saat kau bingung.memohon cahaya saat terjebak di
kelamnya malam.

Kuhampiri meja di hadapanku. Dengan hati-hati kusentuh dirinya dengan jemari


kotorku. Mengusap debu yang sudah menyelimutinya
sakitmu tak lain adalah siksa akan kehampaan hidup.jiwamu sakit.sakitmu
adalah mati rasa akan semua hal.bukankah jiwamu hampir menumpul?....karena
tak kau hiraukan lagi diriku. Kawanmu yang selalu menerangi jalanan di
depanmu.
Aku menyerah..kulangkahkan kaki dengan pasti. Begitu sejuk saat tetesan air
membasahi kedua tanganku, mulut, hidung, wajah, dan bagian lainnya hingga ke
telapak kaki. Jiwaku meneduh dengan khusyuknya doa dalam wudhuku.
Perlahan kusentuh dengan lembut kulit berwarna putih yang menyelubungi obat itu.
Kuciumi dengan membiarkan harumnya menggilas kepenatan hidup di dahiku.
Kubuka dengan hati-hati lembarannya.
Bismillah.ya Allah, aku mohon keteguhan iman.hidayah..dan pemahaman
akan kitab suci berisikan ayat-ayatMu..
Terbata-bata kubaca dengan suara lirih untaian kalimat nan indah di
hadapanku.kureguk sepuas-puasnya nikmatnya..obatku yang hampir
kulupakan.obor penerang yang hampir kupadamkanTuhan.kumohon
kelembutan hati atasnya. Sembuhkan sakitku ini.
***

Malam itu menyelimuti semua insan dalam lelapnya. Itulah karunia Tuhan yang
merupakan sunnatullah. Dimana ada siang untuk menyebar di muka bumi mencari
rezekiNya dan ada sang malam untuk mengistirahatkan raga. Jam menunjukkan pukul
04.30 pagi waktu Jogjakarta. Tiba-tiba aku terbangun dan seakan diperintahkan
mengambil hp di sebelahku untuk memastikan apakah waktu subuh sudah tiba.
Kudapati lima panggilan tak terjawab disana dan sebuah sms. Sambil mengernyitkan
dahi, kubuka sms itu..
dek, kakakmu sudah berpulang ke rahmatullahjam 4 subuh tadi
Sontak tangisku tumpah.bagai air bah yang mengaliri gurun yang sudah lama
mengering. Sederas hujan membanjiri tanah yang lama diselimuti kemarau.
Ya Allah.ampunilah semua dosa-dosanyaterimalah semua amal
kebaikannya.tinggikan derajatnya di sisiMU.selamat jalan kakakku tersayang.
Kutumpahkan tangis dan doa dalam sujudku subuh itu.