You are on page 1of 2

Sebagai Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity) yang tinggi,

Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang berlimpah, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-
pulau kecil. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia memiliki ekosistem lengkap yang berperan
sebagai habitat bagi ikan dan organisme lainnya mencari makan (feeding ground), bertelur (nesting ground)
dan berpijah (Spawning ground).
Sekitar 55% dari seluruh produksi perikanan yang ada berasal dari wilayah pesisir, khususnya dari
ekosistem padang lamun, mangrove, terumbu karang, laguna dan estuaria. Lebih dari 2000 jenis ikan dan
500 jenis terumbu karang menjadikan Negara Indonesia terkenal sebagai kawasan pusat segitiga terumbu
karang (The Coral Triangle Center ). Ekosistem terumbu karang selain memiliki fungsi bagi biota laut, juga
memiliki fungsi sebagai penyerap karbon, pemecah gelombang laut, penghasil ikan yang sangat berguna
bagi kesejahteraan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil secara khusus dan bagi seluruh rakyat
Indonesia secara umum.

Dilihat dari letak geografis, Indonesia juga merupakan Negara tropis dengan ekosistem yang lengkap dan
biodiversitas yang sangat tinggi. Namun sangat disayangkan, akibat penangkapan ikan yang tidak ramah
lingkungan dan berlebih (overfishing), pembuangan limbah dan penambangan pasir laut serta aktifitas
manusia yang merusak lainnya telah mengancam keberlanjutan sumberdaya ekosistem, khususnya
ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil. Disamping itu, tingkat pola penangkapan subsisten, sistem rantai
penjualan hasil tangkapan yang kurang berpihak pada nelayan dan pendidikan yang rendah membuat
kehidupan masyarakat pesisir masih belum menggembirakan. Jumlah nelayan miskin di Indonesia pada
tahun 2011 mencapai 7,87 juta orang yang berasal dari sekitar 10.600 desa nelayan yang terdapat di
kawasan pesisir pada berbagai daerah di tanah air atau 25,14 persen dari total penduduk miskin nasional
yang mencapai 31,02 juta orang.
Tidak berlebihan rasanya apabila wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diumpamakan sebagai salah satu
jantung perekonomian sebagian masyarakat Indonesia. Di wilayah inilah sebagian masyarakat kita
bermukim sekaligus bermata pencaharian sehingga denyut kehidupan Indonesia sesungguhnya bisa kita
rasakan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Menjawab berbagai tantangan tersebut, salah satu
program pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dilakukan melalui
konservasi yang bertujuan melindungi, melestarikan dan mengelola secara berkelanjutan sumberdaya
ikan, meliputi ekosistem, jenis dan genetik ikan secara lestari dan berkelanjutan. Salah satu upaya
konservasi ekosistem adalah dengan mengembangkan dan menetapkan kawasan konservasi perairan,
pesisir dan pulau-pulau kecil yang dikelola dengan sistem zonasi, diantaranya zona perikanan
berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya dan penangkapan ikan ramah
lingkungan serta zona pemanfaatan untuk kegiatan wisata bahari. Program ini tentunya sejalan dengan
penerapan prinsip Blue Economy untuk mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan.
Kita menyadari bahwa pengelolaan potensi sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil tersebut juga harus
sejalan dengan upaya perlindungan dan pelestarian. Oleh karena itu, ketersediaan sumberdaya ikan wajib
kita jaga demi kesejahteraan masyarakat saat ini dan di kemudian hari. Undang-Undang No. 27 Tahun
2007 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.Per.17/MEN/2008 telah mengamanatkan dan
mengatur bagaimana semestinya konservasi dijalankan untuk menjamin ketersediaan sumberdaya ikan,
khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya
pada event World Ocean Conference (WOC) di Manado tahun 2009 telah menyampaikan komitmen
pencapaian luas 20 juta hektar kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil kepada
masyarakat dunia pada tahun 2020. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan terus bekerja keras
mewujudkan target tersebut demi menjaga keberlangsungan potensi sumberdaya ikan di Indonesia.
Isu konservasi dewasa ini telah menjadi perhatian global sekaligus menjadi isu strategis di berbagai negara
tidak terkecuali di Indonesia. Dengan potensi sumberdaya yang berlimpah, Indonesia dituntut mampu
mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan secara efektif dan berkelanjutan untuk kesejahteraan
masyarakat.

Konservasi sumberdaya ikan dapat didefinisikan


sebagai upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumberdaya ikan, termasuk ekosistem, jenis,
dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara
dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan. Penerapan paradigma lama yang
membingkai pengelolaan kawasan konservasi bersifat sentralistik dan tertutup (larangan) bagi semua pihak
dalam konteks pemanfaatannya, harus jujur diakui telah berdampak kurangnya manfaat sosial ekonomi
kawasan konservasi perairan bagi masyarakat. Pun pada akhirnya kurang mendapat respon positif dari
masyarakat. Kini paradigma lama tersebut telah berubah sehingga upaya konservasi dapat sejalan dengan
upaya pemanfaatan sumberdaya yang dilakukan secara bertanggung jawab. Kementerian Kelautan dan
Perikanan melalui Direktorat konservasi Sumberdaya Ikan hadir menjawab tantangan perubahan
paradigma konservasi ini.
Berkat kolaborasi pemerintah pusat dan daerah bersama masyarakat dalam kegiatan konservasi
sumberdaya ikan, hingga saat ini kita telah melahirkan sekitar 15,78 juta hektar luasan kawasan konservasi
perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil pada tahun 2012. Pemerintah Indonesia berkomitmen
menggenapkan luasan ini menjadi 20 juta hektar pada Tahun 2020. Komitmen tersebut tentunya selaras
dengan komitmen bagaimana meningkatkan status pengelolaan efektif terhadap kawasan-kawasan
tersebut. Sesuai judulnya, buku Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia:
Paradigma, Perkembangan dan Pengelolaannya ini menuturkan paradigma baru konservasi dari aspek
desentralisasi kebijakan dan sistem zonasi dalam pengelolaannya, perkembangan capaian dan upaya-
upaya pengelolaan efektif kawasan konservasi, dilengkapi dengan profil dan data informasi kawasan
konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Kehadiran buku ini diharapkan dapat
memberikan informasi yang utuh dalam menyajikan kekayaan sumberdaya hayati di wilayah perairan,
pesisir dan pulau-pulau kecil sekaligus menjadi pembelajaran dalam pengembangan kawasan konservasi
di masa yang akan datang.