You are on page 1of 9

CLINICAL SCIENCE SESSION

BELLS PALSY

Diajukan untuk memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D)


SMF Rehabilitasi Medik

Erik Reza Parwidi

Nur lia Fitriyani

Preseptor:
dr. H. Satryo Waspodo., Sp.KFR

SMF REHABILITASI MEDIK


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH
2016
BELLS PALSY

Definisi

Bells palsy adalah paralisis nervus fasialis yang bersifat akut, unilateral,

perifer dan mempengaruhi lower motor neuron yang dikenal juga sebagai

idiophatic facial paralysis.

Etiologi

Etiologi dari penyakit ini masih belum diketahui, kelainan ini tampak

seperti neuritis dengan kemungkinan etiologi virus, inflamasi, autoimun, dan

iskemik. Bukti terbaru mengindikasikan bels palsy dengan reaktivasi virus herpes

simpleks tipe 1 dan herpes zoster pada ganglia nervus kranial.

Nervus Fasialis (Saraf Kranial VII)

Nervus fasialis merupakan saraf kranial yang memiliki fungsi sensorik dan

motorik serta parasimpatetik. Fungsi motoriknya antara lain untuk menggerakan

otot-otot ekspresi wajah, fungsi sensoris sebagai saraf bagi pengecapan pada 2/3
anterior lidah, sedangkan fungsi parasimpatetiknya yaitu mensekresikan kelenjar

saliva dan lakrimal. Selain sebagai sensor pengecapan, sensory neuron ini juga

berfungsi dalam merasakan sensasi getaran, sentuhan, rasa sakit, dan suhu pada

telinga external.

Facial nerve berasal dari batas antara pons dan medulla, dan terdiri dari dua

bagian yaitu large motor root yang menginervasi otot-otot untuk ekspresi wajah,

dan intermediate nerve yang membawa saraf pengecapan, parasismpatetik, dan

saraf sensor somatis. Selama perjalanannya, nervus fasialis melawati posterior

cranial fossa, internal acoustic meatus, facial canal, stylomastoid foramen dari

temporal bone dan kelenjar parotid. Setelah melewati internal acoustic meatus,

fiber saraf akan memanjang ke anterior temporal bone setelah itu akan membelok

ke posterior dari medial tympanic cavity membentuk facial nerve geniculum ,

yang merupakan tempat dari geniculate ganglion. Setelah melewati temporal

bone, fiber saraf akan melewati facial canal, dan terbagi menjadi 3 cabang yaitu :

Greater petrosal nerve, yang akan memberi cabang pada pterigopalitine

ganglion ( fiber saraf parasimpatetik ) yang mempersarafi kelenjar

lacrimal
Nerve to Stapedius, yang akan berganbung dengan CN VIII dan berfungsi

sebagai sensor untuk getaran suara di telinga


Chorda tympani nerve, yang akan memberi cabang pada sublingual gland

yang berfungsi dalam sensor pengecapan, dan submandibular ganglion

yang akan mengatur sekresi kelenjar saliva.

Selain melewati dari temporal bone dan facial canal, cabang dari CN VII

juga ada yang melewati stylomastoid foramen, dan akan membentuk posterior

auricular branch yang akan melewati kelenjar parotid dan membentuk parotid

plexus. Parotid plexus ini akan bercabang membentuk lima terminal motor yaitu
temporal, zygomatic, buccal, marginal mandibular, dan cervical. Kelima cabang

saraf ini lah yang nantinya akan mempersyarafi otot-otot ketika wajah kita

berekspresi.

Epidemiologi

Bells palsy merupakan bagian tersering dari kasus paralisis fasial akut

(60-75%). Penyakit ini lebih sering menyerang orang dewasa, pasien diabetes

melitus, wanita hamil, pasien immunocompromised dan wanita dengan pre-

eklampsi.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari bells palsy yaitu :

1. Terjadi paralisis wajah unilateral yang onsetnya tiba-tiba


2. Sakit di bagian auricular posterior
3. Pengeluaran air mata menurun
4. Hiperakusis
5. Gangguan indra pengecap
6. Otalgia

Selain itu, terdapat beberapa gejala awal dari penyakit bells palsy, yaitu :

1. Lemah pada otot wajah


2. Gangguan untuk menutup mata
3. Sakit di telinga atau mastoid
4. Perubahan sensasi kecap
5. Hiperakusis
6. Numbness pada pipi atau mulut
7. Epiphora
8. Sakit di bagian auricular
9. Penglihatan kabur
Diagnosis

1. Anamnesa
Saat anamnesa, biasanya pasien mengeluhkan keluhannya dengan onset

yang mendadak dan biasanya pasien memiliki riwayat terpapar cuaca yang

dingin
2. Inspeksi
Saat inspeksi di daerah wajah, bisa ditemukan paralisis wajah yang

unilateral. Selain itu, minta pasien untuk mengangkat alisnya, dibagian

yang sakit alis tidak bisa diangkat dan saat pasien diminta untuk

menyeringai maka akan lateralisasi ke sisi yang berlawanan dengan sisi

yang sakit. Bisa juga dengan cara memeriksa bagian mata dengan cara

minta pasien untuk menutup matanya, maka ditemukan mata pasien tidak

bisa menutup sempurna.


3. Pemeriksaan otologik
Biasanya pada pasien bells palsy pemeriksaan otolgik akan normal. Jika

ditemukan ada keluhan pendengaran, biasanya bells palsy disebabkan oleh

otitis media.
4. Pemeriksaan mata
Selain pasien tidak bisa menutup mata secara sempurna, bisa ditemukan

reflex kornea yang menurun pada sisi yang sakit.


5. Pemeriksaan oral
Pemeriksaan oral menunjukkan adanya gangguan pengecapan pada sisi

yang sakit.
6. Pemeriksaan penunjang
Bisa dilakukan MRI otak dan elektromiograp jika dibutuhkan.
Grading
Grading pada bells palsy adalah skala 1 sampai dengan 6 yang terdiri

dari:
1. Grade 1
Fungsi fasial masih normal

2. Grade 2
Disfungsi yang ringan. Kelemahan yang ringan yang ditemukan saat

inspeksi. Tonus otot normal dan simetris, pergerakkan dahi normal, mata

dapat menutup secara sempurna, mulut sedikit asimetris dengan usaha

yang maksimal.
3. Grade 3
Disfungsi sedang. Terjadi gangguan pergerakan dahi, ada kontraktur, mata

dapat menutup dengan usaha maksimal, pergerakkan mulut sedikit

melemah, tonus otot normal.


4. Grade 4
Disfungsi sedang yang berat. Kelemahan yang nyata terjadi pada grade ini

dimana tidak ada pergerakkan dahi sama sekali, mata tidak menutup secara

sempurna, mulut asimetris


5. Grade 5
Disfungsi yang parah. Terjadi paresis unilateral, tidak ada pergerakkan

dahi, mata tidak dapat menutup sama sekali, pergerakkan mulut sedikit.
6. Grade 6
Paresis total. Tidak ada pergerakkan sama sekali.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding bells palsy adalah stroke, neoplasma yang mengenai

saraf kranial ke-7, aneurisma serebral , meningioma dan meningococcal

meningitis.

Manajemen dan Terapi

1. Kortikosteroid

Bisa menggunakan prednisone dengan dosis 1 mg/kg atau 60 mg/hari

untuk 6 hari, diikuti dengan penurunan dosis secara bertahap sampai total

pengobatan 10 hari.

2. Antivirus

Contohnya menggunakan acyclovir 400 mg secara oral, 5 kali sehari,

untuk 10 hari. Bisa juga menggunakan valacyclovir 500 mg secara oral, 2

kali sehari untuk 5 hari.


3. Terapi lokal

Mata pasien harus dijaga karena rentan untuk mengalami

pengeringan, abrasi kornea dan corneal ulcer. Gunakan lubrikan

okular topical

Gunakan pemberat eksternal di daerah kelopak mata yang dapat

memperbaiki logopthalmus.

Botulinum toksin bisa diinjeksikan secara transkutaneous yang

dapat merelaksasi otot fasialis.

4. Operasi

Pembedahan yang dilakukan adalah dekompresi nervus fasialis dan

diindikasikan apabila tidak berespon terhadap terapi yang lain.

5. Fisioterapi

Tujuan fisioterapi adalah untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh.

Macam-macam latihan yang dilakukan yaitu :

Latihan wajah

Latihan ini dilakukan minimal 2-3 kali sehari. Latihan ini bisa

dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah,

kemudian dilakukan gerakan-gerakan wajah tertentu, seperti :

Tersenyum

Mencucurkan mulut

Mangatupkan bibir

Mengerutkan hidung dan dahi


Mengangkat alis secara menual dengan keempat jari

Prognosis

Prognosis pada umumnya baik, kondisi terkendali dengan pengobatan

pemeliharaan. Kesembuhan terjadi dalam waktu 3 minggu pada 85% pasien

DAFTAR PUSTAKA

1. Taylor DC, Khoromi S, Monnell K. Bell palsy. Medscape. 2012. Diakses

dari http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview

2. Dimanti A, Hartanto H. Neuroanatomi klinik. EGC. 2007. 382-383.

3. Rowland LP. Merrits neurology. Lippincot Williams & wilkins. 2005.

530.