You are on page 1of 4

BAB IV

ANALISA KASUS

Telah diperiksa pasien perempuan dengan inisial Ny. NS usia 43 tahun


datang ke IGD Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin dengan keluhan sesak
napas. Sesak dirasakan sejak 5 hari SMRS dan memberat sejak tiba di IGD. Sesak
timbul tiba-tiba, tidak dipengaruhi oleh aktivitas, cuaca maupun makanan dan
tidak disertai suara mengi. Nyeri dada kanan juga dikeluhkan pasien, nyeri dada
memberat saat pasien batuk. Pasien juga mengeluhkan batuk sejak 8 bulan yang
lalu. Batuk berdahak dengan dahak berwarna putih kekuningan dan mudah
dikeluarkan. Riwayat batuk darah 2 bulan yang lalu. Demam juga dikeluhkan oleh
pasien sejak 2 bulan yang lalu, demam hilang timbul dan dirasakan memberat saat
malam hari. Selain demam, pasien mengeluhkan keringat saat malam hari.
Terdapat riwayat penurunan berat badan dan penurunan nafsu makan. BAK dan
BAB pasien normal tidak ada keluhan.
Dari hasil anamnesa pasien dicurigai menderita pneumothorax spontan
sekunder et causa tuberculosis paru. Diagnosis pneumothorax dibuat berdasarkan
adanya sesak napas, nyeri dada, dan batuk yang dimiliki pasien. Dugaan
menderita pneumothorax spontan sekunder et causa TB paru dibuat berdasarkan
keluhan pasien batuk sejak 8 bulan ini, batuk berdarah, keringat malam, demam,
penurunan berat badan yang signifikan serta penurunan nafsu makan. Lebih
kurang 55% kasus pneumothorax disebabkan oleh penyakit dasar seperti
tuberculosis paru aktif(2). Gejala yang ditemukan pada pasien ini sesuai dengan
gejala pada penderita TB paru yaitu demam subfebris yang hilang timbul, adanya
batuk berdarah yang terjadi karena iritasi bronkus. Batuk diperlukan untuk
membuang produk-produk radang. Karena terlibatnya bronkus pada setiap
penyakit tidak sama, maka munculnya batuk maupun sifat batuk bisa
bermacam-macam, gejala lain seperti penurunan nafsu makan, berkeringat malam,
berat badan dan mudah menjadi lelah juga ditemukan(7). Pada pemeriksaan fisik
fremitus taktil melemah, hipersonor, dan suara napas menjauh pada sisi dada yang
sakit serta ditemukan adanya suara napas rhonki pada lapangan tengah dan kanan
paru sinistra. Pada saat diperkusi terdengar suara hipersonor yang disebabkan oleh
udara yang berada pada rongga pleura. Udara yang terperangkap dalam rongga
pleura dapat menyebabkan paru kolaps sehingga ketika diperiksa suara napas
terdengar menjauh dan fremitus taktil melemah(4).
Pasien adalah seorang perempuan berusia 43 tahun. Kebanyakan
pneumothorax lebih sering terjadi pada penderita dewasa yang berumur sekitar 40
tahun(2). Pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan pada pasien ini meliputi
USG thorax, foto thorax, dan laboratorium. USG thorax dilakukan sebagai
guiding tindakan pemasangan WSD untuk mengetahui seberapa banyak udara
yang akan dikeluarkan. Hasil foto thorax didapatkan adanya area hiperlusen pada
hemithorax kanan dan paru kanan kolaps. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan hasil penurunan hemoglobin (10,8), hematokrit (32), peningkatan
trombosit (523), penurunan neutrofil batang (0), limfosit (6), dan peningkatan
neutrofil segmen (90).
Tujuan utama penatalaksanaan pneumothorax adalah untuk mengeluarkan
udara dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.
Tindakan dekompresi sebaiknya dilakukan seawal mungkin pada kasus
pneumothorax yang luasnya >15%. Pada intinya, tindakan ini bertujuan untuk
mengurangi tekanan intrapleura dengan membuat hubungan antara cavum pleura
dengan udara luar(6), (8)
. Penatalaksanaan pada kasus ini sesuai dengan prinsip
penatalaksanaan pneumothorax, pasien dilakukan tindakan dekompresi
menggunakan pipa water seal drainage (WSD).
Terapi oksigen merupakan hal pertama dan utama yang bertujuan untuk
memperbaiki hipoksemia dan mencegah keadaan yang dapat mengancam jiwa.
Diberikan untuk mempertahankan PaO2> 60 mmHg atau Sat O2> 90%. Pada
pasien ini diberikan O2 2 liter/menit. Pemberian antibiotik profilaksis setelah
setelah tindakan bedah dapat dipertimbangkan, untuk mengurangi insidensi
(3)
komplikasi, seperti emfisema dan infeksi . Pada pasien ini diberikan injeksi
ceftriaxon 1 gr/12 jam.
Selain itu, pasien juga diberikan injeksi Ranitidin 1 amp/12 jam yang
merupakan golongan antihistamin (H2-antagonist) untuk mengurangi produksi
asam lambung oleh sel parietal lambung. Curcuma 3x1 diberikan untuk
memperbaiki nafsu makan dan sebagai hepatoprotektor. Vectrin 3x1 merupakan
agen mukolitik yang diberikan untuk mengencerkan dahak pada pasien. Codein
3x1 merupakan antitusif yang berguna untuk menekan respon batuk.
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang, maka pasien Ny. NS usia 43 tahun didiagnosa dengan pneumothorax
spantan sekunder ec. TB paru.
Pneumothoraks adalah keadaan dimana terdapatnya udara bebas dalam
cavum pleura, maka akan menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga
paru-paru tidak mengembang dengan maksimal.
Prinsip penatalaksanaan pneumothorax adalah untuk mengeluarkan udara
dari rongga pleura dan menurunkan kecenderungan untuk kambuh lagi.
Tatalaksana berupa tindakan dekompresi, antibiotik, dan pengobatan penyakit
yang mendasarinya.