You are on page 1of 5

Distribusi Kunjungan Pasien di Poli Gigi Puskesmas Ambulu,

Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat dengan Diagnosa Kelainan


pada Pulpa dan Jaringan Periapikal (K04)
(Distribution of Patient Visit to Dental Clinic Ambulu Public Health
Center, Tanggul Public Health Center, and Kalisat Hospital with
Diagnosis of Pulp and Periapical Disease (K04))
Fitria Krisnawati, Maharja Jathi P, R. Aj. Mahardhika S.P., dan drg. Hestieyonini Hadnyanawati, M.Kes
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jember
Jalan Kalimantan No. 37, Jember 68121

Abstract
Dental health can affect the quality of life. Dental and oral services are performed to maintain
and improve the dental and oral health status of the community. Governments and local
governments should ensure the availability of staff, facilities, equipment and dental and oral
health medications in order to provide safe and qualified dental and health services by the
community. The purpose of this study is to know distribution of patient visits based on diagnosis,
sex, age, and therapy so that it can be used as a reference for program making and planning of
equipment and materials in dentistry. Time and place of research was conducted on May 15,
2017 - June 24, 2017 at Ambulu Public Health Center, Tanggul Public Health Center, and RSD
Kalisat. The results of patient visit data in dental clinic showed that patients were most
diagnosed with pulp and periapical (K04) disorders (37%) with female patient distribution (66%)
more than men. The 26-35 year age group was the most diagnosed age group K04 (27%),
whereas treatment based on K04 diagnosis was medication (39%).

Keywords: diagnosis, sex, group of age, periapical tissue, therapy, pulp

Abstrak

Kesehatan gigi merupakan bagian kesehatan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin
ketersediaan tenaga, fasilitas pelayanan, alat dan obat kesehatan gigi dan mulut dalam rangka
memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang aman dan bermutu oleh masyarakat.
Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran sebaran kunjungan pasien berdasarkan
diagnosa, jenis kelamin, umur, dan terapi yang dilakukan sehingga diharapkan dapat dijadikan
salah satu acuan untuk pembuatan program maupun perencanaan penyediaan alat dan bahan di
poli gigi. Waktu dan tempat penelitian dilakukan pada tanggal 15 Mei 2017 - 24 Juni 2017 di
Puskesmas Ambulu, Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat. Hasil data kunjungan pasien di poli
gigi menunjukan pasien paling banyak terdiagnosa dengan kelainan pulpa dan periapikal (K04)
(37%) dengan distribusi pasien perempuan (66%) lebih banyak dari pada laki-laki. Kelompok usia
26-35 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yang didiagnosa K04 (27%), sedangkan
perawatan yang dilakukan berdasarkan diagnosa K04 adalah medikasi (39%)

Kata Kunci: diagnosa, jenis kelamin, kelompok usia, jaringan periapikal, terapi, pulpa
Pendahuluan Hasil Penelitian
Kesehatan gigi merupakan bagian intergral Data Jumlah Kunjungan Pasien Berdasarkan
dari kesehatan secara keseluruhan yang dapat Diagnosa
mempengaruhi kualitas hidup. Dalam Undang-
Undang No. 36 Tahun 2009 Pasal 93 tentang Tabel berikut merupakan hasil data
Kesehatan disebutkan bahwa pelayanan kunjungan pasien berdasarkan diagnosa di poli
kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk gigi Puskesmas Ambulu, Puskesmas Tanggul,
memelihara dan meningkatkan derajat dan RSD Kalisat pada tanggal 15 Mei 2017 - 24
kesehatan masyarakat dalam bentuk Juni 2017.
peningkatan kesehatan gigi, penyakit gigi,
pengobatan penyakit gigi dan pemulihan Tabel 1. Data Kunjungan Pasien Berdasarkan Diagnosa di
Puskesmas Ambulu, Puskesmas Tanggul, dan
kesehatan gigi oleh pemerintah, pemerintah
RSD Kalisat
daerah, dan/atau masyarakat yang dilakukan
Lokasi Total
secara terpadu, terintegrasi dan Diagnosa
berkesinambungan. Sementara pada pasal 94 RSD
Tanggul Ambulu N %
Kalisat
dijelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah
K.00 112 91 19 222 32%
daerah wajib menjamin ketersediaan tenaga,
fasilitas pelayanan, alat dan obat kesehatan gigi K.01 3 3 4 10 1,47%
dan mulut dalam rangka memberikan pelayanan K.02 26 18 45 89 13,10%
kesehatan gigi dan mulut yang aman, bermutu,
K.03 2 0 1 3 0,44%
dan terjangkau oleh masyarakat [1].
Karies merupakan suatu penyakit jaringan K.04 128 50 74 253 37,10%
keras gigi yang ditandai dengan adanya K.05 39 34 18 91 13,40%
demineralisasi jaringan keras gigi yang
K.06 3 0 3 6 0,88%
kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organik.
Akibatnya terjadi invasi bakteri dan kematian K.07 2 0 2 4 0,58%
pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan K.08 0 0 0 0 0%
periapeks yang dapat menyebabkan nyeri [2]. K.09 0 0 0 0 0%
Karies gigi sering ditemukan pada setiap
strata sosial masyarakat Indonesia, baik laki-laki K.10 0 1 0 1 0,14%
maupun perempuan, serta dewasa dan anak- K.11 0 0 0 0 0%
anak [3]. Hal tersebut dikarenakan masyarakat K.12 0 1 0 1 0,14%
Indonesia cenderung mengabaikan
K.13 1 0 1 2 0,29%
pemeliharaan kesehatan gigi dan mulutnya.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Total 315 198 166 679 100%
Nasional tahun 2007 melaporkan prevalensi
karies di Indonesia mencapai 72,1%. Survey Tabel 1. menunjukkan jumlah pasien yang
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2009 berkunjung ke poli gigi Puskesmas Ambulu,
menunjukkan penduduk Indonesia yang Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat
menderita karies gigi sebesar 73% [4]. kebanyakan mengalami kelainan pulpa dan
Kebanyakan pasien menganggap remeh jaringan periapikal (K04) yaitu sebanyak 253
keadaan karies gigi ini, penyakit tersebut pasien atau 37,10%.
berlanjut hingga menjadi pulpitis bahkan
gangren pulpa. Pasien akan berkunjung ke Data Jumlah Kunjungan Pasien dengan
dokter gigi apabila sudah dalam tahap pulpitis Diagnosa Kelainan pada Pulpa dan Jaringan
atau adanya kelainan periapikal, karena Periapikal dan Berdasarkan Jenis Kelamin
menimbulkan rasa nyeri yang tidak nyaman.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis Tabel berikut merupakan hasil data
ingin mengetahui distribusi kunjungan pasien kunjungan pasien dengan diagnosa kelainan
berdasarkan diagnosa terbanyak yaitu kelainan pada pulpa dan jaringan periapikal berdasarkan
pada pulpa dan jaringan periapikal (K04) yang jenis kelamin di poli gigi Puskesmas Ambulu,
dihubungkan dengan jenis kelamin, usia dan Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat pada
terapi yang diberikan pada pasien poli gigi di tanggal 15 Mei 2017 - 24 Juni 2017.
wilayah kerja Puskesmas Ambulu, Puskesmas
Tanggul, dan RSD Kalisat.
Tabel 2. Data Kunjungan Pasien dengan Diagnosa diagnosa kelainan pada pulpa dan jaringan
Kelainan pada Pulpa dan Jaringan Periapikal
(K04) di Puskesmas Ambulu, Puskesmas
periapikal (K04) kebanyakan usia 26-35 tahun
Tanggul, dan RSD Kalisat Berdasarkan Jenis dengan total sebanyak 68 pasien atau 27%.
Kelamin
Lokasi Total Data Jumlah Kunjungan Pasien dengan
JK RSD Diagnosa Kelainan pada Pulpa dan Jaringan
N
Ambulu Tanggul Kalisat % Periapikal dan Berdasarkan Terapi
L 16 47 22 85 34%
Tabel berikut merupakan hasil data
P 34 81 53 168 66% kunjungan pasien dengan diagnosa kelainan
Jumlah 50 128 75 253 100% pada pulpa dan jaringan periapikal (K04)
berdasarkan terapi di poli gigi Puskesmas
Tabel 2. menunjukkan pasien yang Ambulu, Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat
berkunjung ke poli gigi Puskesmas Ambulu, pada tanggal 15 Mei 2017 - 24 Juni 2017.
Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat dengan
diagnosa kelainan pada pulpa dan jaringan Tabel 4. Data Kunjungan Pasien dengan Diagnosa
Kelainan pada Pulpa dan Jaringan Periapikal
periapikal (K04) paling banyak pasien dengan (K04) di Puskesmas Ambulu, Puskesmas
jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 168 Tanggul, dan RSD Kalisat Berdasarkan Terapi
pasien atau 66%. Jumlah
Lokasi
Terapi RSD
Data Jumlah Kunjungan Pasien dengan N %
Ambulu Tanggul Kalisat
Diagnosa Kelainan pada Pulpa dan Jaringan
Ekstraksi 1 53 12 66 26%
Periapikal dan Berdasarkan Usia Tumpat
Tetap 9 1 21 31 12%
Tabel berikut merupakan hasil data 18%
PSA 7 15 24 46
kunjungan pasien dengan diagnosa kelainan
pada pulpa dan jaringan periapikal berdasarkan Medikasi 27 54 17 98 39%
usia di poli gigi Puskesmas Ambulu, Puskesmas Konsultasi 6 5 1 12 5%
Tanggul, dan RSD Kalisat pada tanggal 15 Mei Jumlah 50 128 75 253 100%
2017 - 24 Juni 2017.

Tabel 3. Data Kunjungan Pasien dengan Diagnosa


Tabel 4. menunjukkan pasien yang
Kelainan pada Pulpa dan Jaringan Periapikal berkunjung ke poli gigi Puskesmas Ambulu,
(K04) di poli gigi Puskesmas Ambulu, Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat dengan
Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat diagnosa penyakit pulpa dan jaringan periapikal
Berdasarkan Usia
(K04) paling banyak pasien dengan terapi
Lokasi Jumlah medikasi yaitu sebanyak 98 pasien atau 39%.
Usia RSD
Ambulu Tanggul N %
Kalisat
Pembahasan
0-5th 4 1 2 7 3% Berdasarkan data yang didapatkan pada
6-11th 4 15 9 28 11% Tabel 1, diagnosa terbanyak di poli gigi
12-16th Puskesmas Ambulu, Puskesmas Tanggul, dan
0 18 6 24 9%
RSD Kalisat adalah kelainan pada pulpa dan
17-25th 4 14 16 34 13% jaringan periapikal (K04) yaitu 253 pasien dari
26-35th 13 37 18 68 27% total 700 kasus. K04 merupakan kode untuk
36-45th kelainan pada pulpa dan jaringan periapikal gigi
10 24 9 43 17%
yang meliputi pulpitis, nekrosis pulpa, dan abses
46-55th 11 11 5 27 11% periapikal [5]. Kelainan pada pulpa diawali oleh
56-65th 3 4 8 15 6% adanya karies gigi. Karies gigi merupakan
> 65 th penyakit infeksi yang bersifat progresif serta
1 4 2 7 3%
akumulatif pada jaringan keras gigi yang
Jumlah 50 128 75 253 100% ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari
permukaan gigi (pit, fisur, dan daerah
Tabel 3. menunjukkan jumlah pasien yang interproksimal) hingga meluas ke arah pulpa [5]
berkunjung ke poli gigi Puskesmas Ambulu, [6]. Menurut Profil Data Kesehatan Indonesia
Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat dengan tahun 2011, penyakit pulpa dan jaringan
periapikal termasuk sepuluh penyakit terbanyak edentulous [11].
Masalah terbesar yang dihadapi penduduk Berdasarkan data yang didapatkan pada
Indonesia seperti juga di negara-negara Tabel 4, terapi yang paling banyak dilakukan
berkembang lainnya di bidang kesehatan gigi pada kasus K04 adalah medikasi yaitu
dan mulut adalah penyakit jaringan keras gigi sebanyak 98 tindakan (39%). Perawatan
yang bisa berlanjut menjadi kelainan pada pulpa medikasi termasuk pemberian obat tablet,
dan jaringan periapikal [1]. Hal ini didukung oleh berupa anti nyeri dan antibiotik. Banyaknya
Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 terapi anti nyeri yang dilakukan pada pasien
bahwa kelainan pada pulpa dan jaringan dengan diagnosa K04 dikarenakan banyaknya
periapikal termasuk sepuluh penyakit terbanyak pasien yang datang ke poli gigi dengan keluhan
[7]. gigi yang sakit sehingga tidak bisa langsung
Berdasarkan data yang didapatkan pada dilakukan perawatan. Selain itu pemberian
Tabel 2, kelainan pada pulpa dan jaringan terapi antibiotik bertujuan meminimalisir
periapikal banyak terjadi pada pasien wanita penyebab utama dari keluhan pasien yaitu
dengan jumlah 168 pasien dari total 253 kasus. bakteri. Hal ini sejalan dengan pedoman praktik
Hal ini didukung dengan pernyataan dari dasar dokter gigi dimana pelayanan kesehatan
Ambarwati (2012), bahwa perempuan lebih dalam menghilangkan nyeri gigi dan mulut serta
mengutamakan estetik dibanding laki-laki, penatalaksanaan infeksi gigi-mulut dan trauma
sehingga perempuan sangat memperhatikan gigi dilakukan dalam penanganan
kesehatan giginya [8]. Tingginya jumlah pasien kegawatdaruratan medik Gigi (Oral Urgent
perempuan dengan diagnosa kelainan pulpa Treatment/OUT) yang salah satunya adalah
dan jaringan periapikal disebabkan oleh waktu tindakan mengurangi rasa sakit melalui tindakan
erupsi gigi pada perempuan lebih cepat 1-6 pemberian obat-obatan dan perawatan
bulan dibandingkan pada laki-laki karena penambalan gigi [12]. Sedangkan terapi yang
disebabkan oleh faktor hormonal yakni paling sedikit yang dilakukan pada kasus K04
pengaruh hormon estrogen yang memainkan adalah konsultasi. Rata-rata pasien yang
peranan dalam pertumbuhan dan melakukan konsultasi adalah pasien yang
perkembangan sewaktu anak perempuan memerlukan tindakan perawatan saluran akar
mencapai pubertas. Erupsi gigi yang lebih cepat yang harus melakukan kunjungan berulang
akan mengakibatkan gigi lebih lama terpapar dalam perawatannya dimana banyak pasien
oleh makanan kariogenik, sehingga gigi akan yang merasa keberatan untuk melakukan
lebih berresiko karies [9]. Selain itu, faktor kunjungan berulang karena alasan waktu.
biologis seperti hormon estrogen pada wanita Biasanya pada konsultasi dokter gigi melakukan
menyebabkan meningkatnya resiko karies gigi. KIE tentang perlunya perawatan tersebut dan
Hormon estrogen mempengaruhi aktivitas tiroid menyarankan tindakan alternatif yang dapat
yang menurunkan laju saliva sehingga dilakukan serta melakukan DHE agar penyakit
meningkatkan resiko karies [10]. tidak bertambah parah.
Pada Tabel 3 diketahui jumlah pasien
dengan diagnosa K04 paling tinggi terdapat Simpulan dan Saran
pada kelompok usia 26-35 tahun yaitu 68 pasien Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat
(27%) dan paling rendah pada kelompok usia 0- disimpulkan bahwa distribusi kunjungan pasien
5 tahun dan >60 tahun yaitu sebanyak 7 pasien poli gigi di wilayah kerja Puskesmas Ambulu,
(3%). Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu Puskesmas Tanggul, dan RSD Kalisat
oleh Sagita, et al., (2014) yang menunjukkan berdasarkan diagnosa terbanyak adalah
bahwa paling banyak melakukan perawatan kelainan pada pulpa dan jaringan periapikal
saluran akar karena sakit gigi (pulpitis) adalah (K04). berdasarkan jenis kelamin terjadi pada
kelompok umur 20-40 tahun (67%), pada perempuan, berdasarkan usia paling banyak
kelompok umur 0-5 tahun merupakan tahap terjadi pada usia 26-35 tahun, dan berdasarkan
awal erupsi gigi sulung sehingga kondisi gigi terapi yang paling banyak diberikan pada kasus
secara umum masih dalam keadaan baik dan ini adalah medikasi.
pada kelompok umur 65 tahun keatas rata-rata Saran yang dapat diberikan adalah perlu
memiliki kehilangan 22,73 % gigi, sehingga dilakukan usaha promotif dan preventif untuk
dapat disimpulkan bahwa semakin bertambah mencegah terjadinya karies gigi sehingga tidak
umur semakin banyak gigi yang telah dicabut berlanjut menjadi kelainan pada pulpa dan
sehingga diagnosa yang banyak terdapat pada jaringan periapikal.
kelompok umur 65 tahun keatas menjadi
Daftar Pustaka [12] Kementerian Kesehatan RI. 2012.
Pedoman paket dasar pelayanan
[1] Kementerian Kesehatan RI. 2012. kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas.
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Jakarta. Kementrian Kesehatan RI.
Rencana program pelayanan kesehatan
gigi dan mulut. Jakarta : Katalog Dalam
Terbitan. Kementerian Kesehatan RI.
[2] Rahim, R. 2015. Hubungan Kebiasaan
Menggosok Gigi Malam Hari dan Kejadian
Karies Gigi pada Anak Sekolah Dasar
Negeri Karang Tengah 07 Tangerang.
Forum Ilmiah. Vol. 12 (1).
[3] Suwargini, A,. A. 2008. Indeks def-t dan
DMF-T Masyarakat Desa Cipondohdan
Desa Mekarsari Kecamatan Tirtamulya
Kabupaten Karawang. p(7-9).
[4] Wala, C.C., Wicaksono, D.A., Tambunan E.
2014. Gambaran Status Karies Gigi Anak
Usia 11-12 Tahun Pada Keluarga
Pemegang Jamkesmas Di Kelurahan
Tumatangtang I Kecamatan Tomohon
Selatan. Skripsi. Manado: FKG Universitas
Sam Ratulangi.
[5] Kementerian Kesehatan RI. 2015. Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
2015-2019. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
[6] Ashfaq A, Nabishah B, Dalia A, and Noor H
, 2013. Trends of Final Year Dental
Students on Medication for Pulpitis & Apical
Periodontitis. Journal of Dental and Medical
Sciences. ISSN:2279-0853. Vol. 5(3): 66-
69.
[7] Kementerian Kesehatan RI. 2012. Rencana
Program Pelayanan Kesehatan Gigi dan
Mulut. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
[8] Ambarwati, A. W. 2012. Persepsi
Mengenai Tampilan Susunan Gigi Anterior
dan Kebutuhan Perawatan Ortodonti (Pada
anak usia 9-12 tahun). Skripsi. Makassar:
FK UNHAS.
[9] Rizka P. Y. dan Muhlisin, A. 2012.
Hubungan Antara Pengetahuan Orang Tua
Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan
Kejadian Karies Gigi pada Anak di SDN
Jateng Kerangayar. Keperawatan FIK
UMS.
[10] Roberson, T.M, Heymann, H.O., & Swift,
E.J. 2006. Sturdevants Art & Science of
Operative Dentistry/ Senior. 5th Edition.
United States of America: Mosby-Elsevier.
p.67.
[11] Sagita, M., Cholil, Kania D. dan Putri, T.
2014. Gambaran Perawatan Saluran Akar
Gigi Di Poli Gigi RSUD Ulin Banjarmasin.
Dentino. Vol. 2 (2):174-178.