You are on page 1of 6

EWK

EWK

Ekonomi wilayah kota merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang


pengaruh aspek ruang kedalam analisis ekonomi dengan focus pembahasan pada tingkat
wilayah (provinsi dan kabupaten).

Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Regional


Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan
masyarakatnya mengelola sumber daya sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola
kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja
baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam
wilayah tersebut (Arsyad, 1999 : 108).
Ekonomi wilayah itu sendiri diteliti dengan tujuan untuk membuka lapangan kerja
baru, peningkatan ekonomi, menstabilkan harga, menjaga kelestarian lingkungan hidup,
meratakan pembangunan wilayah, menentukan sektor unggulan, mensinergikan antar sektor,
dan untuk memenuhi kebutuhan pangan. (Marisya, 2012) Pada intinya ekonomi wilayah ini
diteliti untuk membantu dalam pengembangan wilayah.

PERKEMBANGAN EKONOMI WILAYAH di INDONESIA


Krisis nilai tukar telah menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai tukar
rupiah yang merosot tajam sejak bulan Juli 1997 menyebabkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia dalam triwulan ketiga dan triwulan keempat menurun menjadi 2,45 persen dan 1,37
persen. Pada triwulan pertama dan triwulan kedua tahun 1997 tercatat pertumbuhan ekonomi
Indonesia sebesar 8,46 persen dan 6,77 persen. Pada triwulan I tahun 1998 tercatat
pertumbuhan negatif sebesar -6,21 persen.

Pembangunan ekonomi daerah merupakan bagian dari pembangunan daerah secara


menyeluruh. Dua prinsip dasar pengembangan ekonomi daerah yang perlu diperhatikan
adalah:

1. Mengenali ekonomi wilayah, Isu-isu utama dalam perkembangan ekonomi daerah yang
perlu dikenali adalah antara lain sebagai berikut: Perkembangan Penduduk dan Urbanisasi,
Sektor Pertanian, Sektor Pariwisata, Kualitas Lingkungan, Keterkaitan Wilayah dan
Aglomerasi.

2. Merumuskan manajemen pembangunan daerah yang pro-bisnis, Pemerintah daerah dan


pengusaha adalah dua kelompok yang paling berpengaruh dalam menentukan corak pada
pertumbuhan ekonomi daerah. Antara lain sebagai berikut : Teori Pertumbuhan dan
Pembangunan Ekonomi Daerah, Teori Ekonomi Neo Klasik, Teori Basis Ekonomi, Teori
Lokasi, Teori Tempat Sentral, dan Model Daya Tarik.
Dengan demikian pengembangan ekonomi tiap daerah memiliki kesempatan yang
sama untuk bersaing. Dengan demikian diperlukan adanya penelitian mengenai sektor
unggulan yang dimiliki suatu wilayah untuk membantu memudahkan dalam
pengembangan wilayah.

Analisis Location Quotient


Analisis yang digunakan adalah analisis location quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat spesialisasi sektor-sektor ekonomi di suatu daerah atau sektor-sektor apa
saja yang merupakan sektor basis atau leading sektor. Pada dasarnya teknik ini menyajikan
perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan
kemampuan sektor yang sama pada daerah yang menjadi acuan. Satuan yang digunakan
sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien LQ tersebut nantinya dapat berupa jumlah
tenaga kerja per-sektor ekonomi, jumlah produksi atau satuan lain yang dapat digunakan
sebagai kriteria. Rumus LQ yang digunakan untuk membandingkan kemampuan sektor-
sektor dari daerah tersebut adalah (Warpani,1984:68) :
DISPARITAS (Ketimpangan Pembangunan)

Disparitas merupakan ketimpangan pembangunan wilayah pada dasarnya disebabkan adanya


perbedaan kandungan sumber daya alam dan perbedaaan kondisi demografi yang terdapat
pada masing-masing wilayah. Akibat dari perbedaan ini kemampuan suatu daerah dalam
proses pembangunan juga menjadi berbeda, oleh karena itu tidaklah mengherankan bilamana
pada suatu daerah biasanya terdapat wilayah maju (developed region) dan wilayah
terbelakang (underdeveloped region), Sjafrizal, 2008.
Berdasarkan hipotesa ini kurva ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah
berbentuk huruf U terbalik.

Disparitas pembangunan merupakan masalah regional yang tidak merata. Disparitas ini pada
akhirnya menimbulkan permasalahan yang dalam konteks makro sangat merugikan proses
pembangunan yang ingin dicapai setiap bangsa. Ketidakseimbangan pembangunan
menghasilkan struktur hubungan antar wilayah yang membentuk suatu interaksi yang saling
memperlemah.
Ada beberapa faktor utama penyebab disparitas antar wilayah. Faktor - faktor ini terkait
dengan variabel - variabel fisik dan sosial ekonomi wilayah, antara lain :

1. Geografi

2. Sejarah

3. Politik

4. Kebijakan pemerintah

5. Administrasi

6. Sosial budaya

7. Ekonomi
Penyebab Disparitas wilayah, antara lain :

- Kegiatan ekonomi terpusat di perkotaan (khususnya wilayah jawa)


- Industri dengan potensi pertumbuhan yang meningkat tergabung dalam aglomerasi
- Perbaikan infrastuktur transportasi dapa memperbaiki akses perusahaan kepada pusat
pengelolaan dan pasar

Disparitas antar wilayah juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang menekankan
pertumbuhan ekonomi dengan membangun pusat - pusat pertumbuhan sehingga
menimbulkan kesenjangan antar wilayah yang ekstrim. Ketidakefisienan bidang administrasi
juga menjadi penyebab disparitas antar wilayah.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan
perilaku kondusif bagi perkembangan ekonomi. Masyarakat yang masih primitif,
kepercayaan tradisional dan nilai sosial yang konservatif dan menghambat perkembangan
ekonomi menjadi salah satu faktor penyebab disparitas wilayah terjadi.

Faktor ekonomi yang menyebabkan terjadinya disparitas wilayah dapat diklasifikasikan


sebagai berikut :

Perbedaan kuantitas dan kualitas faktor produksi seperti lahan, infrastruktur, tenaga
kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.

Akumulasi berbagai faktor seperti lingkaran kemiskinan, baik karena sumberdaya


yang terbatas dan ketertinggalan masyarakat yang menyebabkan kemiskinan, maupun
kondisi masyarakat yang tertinggal, produktivitas rendah, efisiensi rendah, investasi
rendah, pendapatan rendah, konsumsi rendah, standar hidup rendah, pengangguran
meningkat yang mengakibatkan wilayah tersebut semakin tertinggal.

Pasar bebas dan pengaruh spread effect dan backwash effect. Kekuatan pasar bebas
telah mengakibatkan faktor - faktor ekonomi seperti tenaga kerja, modal, perusahaan
dan ektivitas ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah - wilayah berkembang
atau maju. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumberdaya dari
wilayah sekitar (backwash effect), sedangkan spread effect terjadi lebih lemah
dibanding backwash effect sehingga wilayah yang beruntung akan semakin
berkembang dan kawasan yang kurang beruntung akan semakin tertinggal.

Distorsi pasar seperti immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi,


keterbatasan keterampilan, tenaga kerja, dll.

Teori Ketimpangan, Model neoklasik beranggapan bahwa proses pembangunan cenderung


terkonsentrasi di daerah yang lebih maju sehingga ketimpangan pembangunan cenderung
melebar. Akan tetapi bila proses pembangunan terus berlanjut, dengan semakin baiknya
prasarana dan fasilitas komunikasi, maka mobilitas modal dan tenaga kerja
tersebut akan semakin lancar. Dengan demikian, nantinya setelah negara yang
bersangkutan telah maju, maka ketimpangan pembangunan regional akan
berkurang.

Posisi penelitian dalam ilmu perencanaan wilayah dan kota adalah merupakan studi dari
perencanaan wilayah yang lingkup materinya didasarkan pada dua paradigma pengembangan
wilayah yaitu pembangunan harus merata dan pembangunan tidak harus merata. Posisi
penelitian dapat dilihat pada

Kerangka Konseptual, Adapun kerangka teoritis yang dapat penulis paparkan


mengenai pengaruh desentralisasi fiskal terhadap ketimpangan pembangunan yaitu dapat
dilihat pada
gambar 2.1 dibawah ini :