You are on page 1of 14
REFERAT Gonore Oleh : Nama NIM 1. Dian Nurul Hikmah 112015367 2. Emmanuel Taguh Anak Lala
REFERAT Gonore
REFERAT
Gonore

Oleh :

Nama

NIM

  • 1. Dian Nurul Hikmah

112015367

  • 2. Emmanuel Taguh Anak Lala

112016185

  • 3. Selvina

112015408

  • 4. Yunita Verayanti Siokh

112015264

Dokter Penguji :

dr. Silvi Sutardi, Sp. KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT HUSADA PERIODE 28 AGUSTUS 2017 30 SEPTEMBER 2017 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

Pendahuluan

Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara IMS (Infeksi Menular Seksual). 1 Pada pengobatannya terjadi pula perubahan karena sebagian disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang telah resisten terhadap penisilin dan disebut Penicillinase Producing Neisseria gonorrhoeae (P.P.N.G). 1 Kuman ini meningkat di banyak negeri termasuk Indonesia.

Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital, orogenital dan ano-genital. 1 Tetapi, disamping itu dapat juga terjadi secara manual melalui alat-alat pakaian, handuk, termometer dan sebagainya. 1 Oleh karena itu secara garis besar dikenal gonore genital dan gonore ekstra genital.

Definisi

Gonore merupakan penyakit kelamin yang bersifat akut yang pada permulaan keluar nanah dari

orifisium uretra eksternum sesudah melakukan hubungan kelamin. 1 Gonore juga merupakan infeksi menular seksual tertua yang pernah dilaporkan dalam berbagai literatur.

Gonore disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, bakteri yang dapat tumbuh dan berkembang biak dengan mudah di daerah lembab hangat, dari saluran reproduksi, termasuk serviks (membuka rahim), uterus (rahim), dan tabung fallopi (saluran telur) pada wanita , dan di uretra (saluran urin) pada wanita dan laki-laki. 1, 2 Bakteri juga dapat tumbuh di mulut, tenggorokan, mata, dan anus. 2

Epidemiologi

Gonore adalah STD paling umum di seluruh dunia setidaknya selama abad ke-20. Infeksi

gonokokus masih merupakan penyakit yang paling umum diketahui kedua di Amerika Serikat.

Semua populasi aktif secara seksual berisiko terkena infeksi gonokokus, dan tingkat risiko meningkat dengan jumlah pasangan seksual dan adanya penyakit menular seks (PMS) lain. 3

Meskipun ras tidak memiliki efek intrinsik pada kerentanan terhadap gonore, frekuensi gonore di Amerika Serikat meningkat di kalangan penduduk perkotaan, individu dengan status sosial ekonomi lebih rendah, dan minoritas dari populasi manapun. 3 Hal ini mungkin disebabkan oleh

penurunan akses terhadap diagnosis dan pengobatan; kurangnya perawatan yang memadai (yaitu, pendidikan, diagnosis, dan pengobatan), yang menyebabkan tingkat transmisi meningkat. 3

Rasio laki-laki terhadap perempuan terhadap gonore kira-kira 1: 1.2; Namun, wanita mungkin asimtomatik, sedangkan laki-laki jarang asimtomatik. 3 Wanita yang berusia di bawah 25 tahun memiliki risiko infeksi gonokokus tertinggi. 3 Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki jauh lebih mungkin untuk mendapatkan dan membawa gonore dan memiliki bakteri antibiotik yang jauh lebih tinggi. 3

Infeksi pada anak-anak adalah penanda untuk pelecehan seksual anak dan harus dilaporkan walaupun demikian tinjauan tahun 2007 didapatkan bahwa ada transmisi non-seksual antara anak-anak dan ditularkan dari orang dewasa kepada anak-anak yang terkait dengan kebersihan tangan yang buruk. 3 Gonococcemia tetap merupakan penyakit penting pada populasi remaja dan dewasa muda, dengan kejadian puncak pada pria berusia 20-24 tahun dan pada wanita berusia 15-19 tahun. 3

Etiologi

Neisseria gonorrhoeae adalah bakteri gram negatif, intraseluler, bersifat aerobik, non-motil yang tumbuh berpasangan (diplokokus). 3 N. gonorrhoeae disebarkan melalui kontak seksual atau melalui transmisi vertikal saat melahirkan. Ini terutama mempengaruhi sel epitel kolumnar atau kuboidal yang mensekresi mukus. 3, 4 Hampir setiap selaput lendir dapat terinfeksi oleh mikroorganisme ini.

Kemampuan tumbuh secara anaerobik memungkinkan gonokokus, bila bercampur dengan darah menstruasi atau menempel pada sperma, dapat menyerang struktur genital bawah (vagina dan serviks) dan berlanjut ke organ genital atas (endometrium, salpinx, ovarium). 3

Infeksi gonokokus biasanya mengikuti inokulasi mukosa selama kontak seksual; vagina, anal, atau oral atau perinatal (dari ibu ke bayi). Hal ini juga mungkin disebabkan oleh inokulasi mukosa oleh jari-jari terkontaminasi atau benda lainnya. 3 Risiko penularan N. gonorrhoeae dari wanita yang terinfeksi ke uretra pasangan laki-laki sekitar 20% per hubungan seks dan meningkat menjadi 60-80% setelah 4 atau lebih berhubungan seks. 3 Sebaliknya, risiko penularan dari laki-laki ke laki-laki mendekati 50-70% setiap kontak, dengan sedikit bukti peningkatan

risiko dengan eksposur seksual yang lebih banyak. 3 Orang yang melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan baru atau pasangan multipel cukup sering untuk mempertahankan infeksi di masyarakat. 3

Infeksi gonokokus neonatal dapat menyebabkan infeksi konjungtiva pada neonatus, yang didapat melalui jalan lahir. 4 Pada anak-anak, infeksi dapat terjadi akibat pelecehan seksual oleh orang yang terinfeksi atau kemungkinan kontak non-seksual di rumah atau di lingkungan institusi. 3

Faktor risiko gonore adalah sebagai berikut: 3, 4

i.

Eksposur seksual terhadap pasangan yang terinfeksi tanpa kondom

ii.

Pasangan seks multipel

iii.

Homoseksual

iv.

Status sosioekonomi rendah

v.

Status minoritas

vi.

Riwayat penyakit menular seksual sebelumnya

vii.

Pertukaran seks untuk narkoba atau uang

viii.

Aktivitas seksual pada usia muda (anak/remaja)

ix.

Penyakit peradangan panggul (PID) - Penggunaan alat kontrasepsi (IUD)

risiko dengan eksposur seksual yang lebih banyak. Orang yang melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan

Gambar 1 : Tampak Bakteri Diplokokus Gram Negatif Pada Pewarnaan Gram Sekret Uretra Laki-laki 3

Patofisiologi

Banyak faktor yang mempengaruhi virulensi N. gonorrhoea (pili dan Opa) dan dalam 24-48 jam, menembus melalui dan antar sel ke dalam ruang subepitel. 3 Respon host yang khas ditandai dengan invasi neutrofil, diikuti dengan pembengkakan epitel, pembentukan mikrobiologi submukosa, dan discaj purulen. 5 Jika tidak diobati, makrofag dan infiltrasi limfosit menggantikan neutrofil. 5 Beberapa strain gonokokus menyebabkan infeksi asimtomatik, yang menyebabkan keadaan pembawa asimtomatik pada orang-orang dari kedua jenis kelamin. 5

Patofisiologi Banyak faktor yang mempengaruhi virulensi N. gonorrhoea (pili dan Opa) dan dalam 24-48 jam, menembus

Gambar 2 : Patofisiologi Gonore

Sumber : http://www.textbookofbacteriology.net/gonopatho.jpeg

Bakteri N. gonorrhoeae menyebar dari tempat utama, seperti endoserviks, uretra, faring, atau rektum, dan disebarkan ke darah untuk menginfeksi organ lainnya. 5 Biasanya, beberapa situs, seperti kulit dan persendian dapat juga terinfeksi. 5 Bakteremia terjadi karena berbagai faktor predisposisi, seperti perubahan fisiologis host, faktor virulensi organisme itu sendiri, dan kegagalan pertahanan kekebalan hos. 5

Manifestasi Klinis

Gonore pada genital pria : 1, 4 Uretritis : masa inkubasi 3 4 hari. 70 85% terdapat disuria dan nanah. 15 30% asimtomatik. Tanpa pengobatan, resolusi dalam hari sampai minggu. Komplikasi Regional: epididimitis akut, prostatitis kronis. Gonore pada genital wanita : 1, 4

Uretritis : masa inkubasi 5 8 hari. Kadang terjadi kesalahan diagnosis sebagai

Sistitis, 80% kasus bersifat asimtomatik. Servisitis : biasanya asimtomatik, sekret ringan warna putih-keruh dan ostium yang

eritem. Komplikasi regional :

  • i. Salpingitis : bakteri gonokok menempel pada sperma dan dapat menginfeksi tuba fallopi, lebih umum pada saat menstruasi. Vulvovaginitis pada anak perempuan : vagina lebih sensitif dan lebih mudah terinfeksi pada perempuan yang dalam masa pubertas.

ii.

Infeksi Lokal lainnya : 1, 4 Rectal gonorrhoea terjadi setelah koitus melalui anus atau, pada wanita, terkontaminasi dengan sekret vagina yang terinfeksi. Kondisi ini sering asimtomatik tetapi dapat menyebabkan tenesmus, pengeluaran sekret dan perdarahan pada rektum. Terdapat dalam 40-50% wanita yang menderita gonore pada serviks atau uretra, dan persentase yang lebih tinggi terdapat pada pria homoseksual. 5 Pharyngeal gonorrhoea ditularkan melalui hubungan seksual oral-genital, yang juga sering asimtomatis. 4 Nyeri tenggorokan dan adenitis servikal dapat terjadi. 4

Penyebaran gonokok pada konjungtiva menyebabkan konjungtivitis yang berat, akut dan purulen. 2, 4 Meskipun infeksi ini dapat terjadi pada semua usia, namun bentuk yang paling parah adalah Blennorrhoea, suatu penyakit pada bayi yang diperoleh dari ibu yang terinfeksi. 4

Pelvic Inflammatory Disease (PID) :

Pada PID ditemukan demam, nyeri perut bagian bawah (biasanya bilateral) dan leukositosis dengan atau tanpa tanda-tanda infeksi lokal. 2, 4, 7 Keadaan-keadaan ini disebabkan oleh

penyebaran organisme di sepanjang tuba fallopi untuk menimbulkan salpingitis dan masuk ke dalam kavum pelvis menyebabkan pelvic peritonitis dan abses. 4 Komplikasi yang paling serius pada PID adalah infertilitas dan kehamilan ektopik. 4

A
A
B
B
C
C

Gambar 3 : Manifestasi Klinis Gonore. A. Servisitis; B. Uretritis; C. Conjungitivitis.

Diagnosis

Diagnosis gonore dapat ditegakkan dengan penemuan tanda dan gejala klinis, dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium berdasarkan identifikasi diplokokus intraseluler yang bersifat gram-negatif pada pewarnaan gram, serta dikonfirmasi dengan kultur

  • A. Sediaan Langsung Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram ditemukan gonokok Gram-negatif, intraselular dan ekstraseluler. 1 Bahan duh tubuh pada laki-laki diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada perempuan diambil dari uretra, muara kelenjar Bartholin, serviks, untuk pasien dengan anamnesis beresiko melakukan kontak seksual anogenital dan orogenital, maka pengambilan bahan duh dilakukan pada faring dan rektum. 1 Sensitivitas pemeriksaan langsung ini bervariasi, pada spesimen duh uretra laki-laki sensitivitas berkisar 90-95%, sedangkan dari spesimen endoserviks sensitivitasnya hanya berkisar antara 45- 65%, dengan spesifitas yang tinggi yaitu 90-99% .

1

  • B. Kultur Untuk identifikasi spesies perlu dilakukan pemeriksaan biakan (kultur). Dua macam media yang dapat digunakan : 1

2.

Media pertumbuhan

Contoh media transpor

  • - Media Stuart Merupakan media transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media pertumbuhan 1

  • - Media Transgrow Media ini selektif dan nutritif untuk N. Gonorrhoeae dan N.meningitidis; dapat bertaham hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transpor dan media pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan lagi. 1 Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.

Contoh Media pertumbuhan :

  • - Mc Leod’s chocolate agar Merupakan media nonselektif. Berisi agar coklat, agar serum. Selain kuman N.gonorrhoeae, kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh.

  • - Media Thayer Martin Media ini selektif untuk isolasi N. Gonorrhoeae. Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman Gram-positif, kolestrimetat untuk menekan pertumbuhan bakteri Gram-negatif, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. 1

  • - Modified Thayer Martin agar Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman Proteus spp.

  • C. Tes identifikasi presumtif dan konfirmasi (definitif )

    • 1. Tes Oksidase 1 Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung.

Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa, maltosa, dan sukrosa. 1 N.gonotthoeae hanya meragikan glukosa. 1

  • D. Tes beta-laktamase Pemeriksaan beta-laktamase dengan menggunakan cefinase TM dis. BBL 961192 yang mengandung chromogenic cephalosporin, akan menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta-laktamase. 1

  • E. Tes Thomson Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai di mana infeksi sudah berlangsung. 1 Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat. Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan : 1

    • - Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi

    • - Urin dibagi dalam dua gelas

    • - Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II

Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-100ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra anterior. 1

Hasil Pembacaan :

Gelas I

 

Gelas II

 

Arti

Jernih

 

Jernih

 

Tidak ada infeksi

 

Keruh

 

Jernih

Infeksi uretritis anterior

 

Keruh

 

Keruh

 

Panuretritis

 

Jernih

 

Keruh

 

Tidak mungkin

 

Tentang rekomendasi pemeriksaan laboratorium dapat dilihat pada tabel di bawah ini 1

 

Jenis Pemeriksaan

Sensitivitas

Spesifitas

A

B

C

Gram :

Uretra

Endoserviks

- 95

- 65

  • 90 +

99

  • 95 +

  • 45 +

99

  • 90 +

   

+

+

Kultur :

         

Uretra

94 - 98

>99

+/-

+

+

Endoserviks

85 - 95

>99

+/-

+

+

Keterangan :

A : Klinik luar rumah sakit / praktek pribadi B : Klinik rumah sakit dengan fasilitas laboratorium terbatas C : Riset laboratorium lengkap

Pemeriksaan lain yang dikembangkan untuk deteksi diantaranya adalah pemeriksaan antibodi terhadap antibodi terhadap N. Gonorrhoeae seperti fiksasi komplemen, imunopresipitasi, imunofloresensi, ELISA, dan lain-lain. 1 Namun uji serologis tersebut hanya mempunyai sensitivitas sebesar 70% sehingga tidak digunakan sebagai pemeriksaan penapisan. 1

Deteksi asam nukleat terhadap N. Gonorrhoeae, terdiri atas : DNA probe system (Accu Probe, Gen Probe, USA); deteksi asam nukleat tanpa amplifikasi (PACE 2NG dan PACE 2C); serta amplifikasi asam nukleat dengan amplifikasi (NAAT) berupa PCR, LCR, TMA dan lain-lain. 1

Diagnosis Banding

I.

II.

Uretritis : herpes genital dengan uretritis, C. trachomatis uretritis, Ureaplasma urealyticum uretritis, Trichomonas vaginalis uretritis, Reiter’s Syndrome. 1, 3, 5 Servisitis : Chlamydia trachomatis atau HSV servisitis. 1, 4, 5

Penatalaksanaan Hal yang perlu diperhatikan untuk mengobati infeksi gonore adalah: 6

Melakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan penderita.

Menganjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh secara laboratoris, bila tidak mungkin menganjurkan penggunaan kondom. Kunjung ulang untuk tindak lanjut di hari ke-3 dan hari ke-7.

Kaunseling mengenai infeksi, komplikasi, dan pentingnya keteraturan berobat.

Skrining terhadap infeksi menular seks lainnya

Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga dan ketersediaan obat dan sedikit mungkin efek toksiknya. 1 Saat ini secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat peroral dengan dosis tunggal. Obat pilihan utama adalah Sefiksim dosis tunggal, peroral dan beberapa pilihan obat lainnya.

Sefiksim merupakan sefalosporin generasi ke-3 dipakai sebagai dosis tunggal 400 mg. Efektivitas dan sensitivitas sampai saat ini paling baik yaitu 95%. 1 Levofloksasin dosis tunggal 500 mg dari golongan kuinolon sering digunakan sebagai alternatif dari Sefiksim. 1 Ciprofliksasin dan Ofloksasin sudah jarang digunakan karena banyak terjadi resistensi gonore. 1, 6 Beberapa obat lain dapat juga digunakan berdasar bukti efektivitasnya terhadap kuman gonore antaranya adalah kanamisin, tiamfenikol dan seftriakson. 1, 6

Berdasarkan Pedoman Nasional Penangan Infeksi Menular Seksual 2011, tatalaksana untuk pengobatan urethritis pada laki-laki, proktitis, radang epididimis, pembengkakan skrotum, servisitis pada wanita dan pengobatan ibu dengan bayi yang menderita konjungtivitis neonatorum adalah seperti berikut:

 Kaunseling mengenai infeksi, komplikasi, dan pentingnya keteraturan berobat.  Skrining terhadap infeksi menular seks lainnya

Gambar 4: Pengobatan Umum Gonore 6

Untuk pengobatan pada pasien dengan penyakit radang panggul karena Gonore adalah seperti berikut dan tatalaksana ini berlaku untuk rawat inap dan rawat jalan:

Gambar 5 : Pengobatan Penyakit Radang Panggul Karena Gonore Dan pengobatan untuk konjungtivitis neonatorum adalah: Gambar

Gambar 5 : Pengobatan Penyakit Radang Panggul Karena Gonore 6

Dan pengobatan untuk konjungtivitis neonatorum adalah:

Gambar 5 : Pengobatan Penyakit Radang Panggul Karena Gonore Dan pengobatan untuk konjungtivitis neonatorum adalah: Gambar

Gambar 6 : Pengobatan Kunjungtivitis Gonore Pada Neonatus 6

Pencegahan

Cara-cara pencegahan infeksi gonorrhea adalah dengan mempromosikan metode seks yang lebih aman seperti penggunaan kondom yang benar dapat mengurangi risiko tertular gonorrhea dan infeksi menular seks lainnya. 3, 6 Selain itu, rujukan kepada spesialis dan pengobatan pasangan yang terkena infeksi dapat mengurangi kejadian re-infeksi. 3 Pasien laki-laki dengan infeksi uretra simtomatik harus menghindar atau abstinensi daripada melakukan hubungan seks sampai pengobatan tuntas dan bebas daripada infeksi gonorrhea. 3, 6

Semua bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi gonokokal yang tidak diobati harus diobati secara profilaksis dengan dosis tunggal ceftriaxone (25-50 mg / kg IV / IM, tidak melebihi 125 mg). 3, 4 Semua neonatus harus menjalani profilaksis untuk ophthalmia neonatorum dengan larutan perak nitrat (1%) di kedua mata sekali atau eritromisin (0,5%) salep mata mata pada kedua mata satu kali. 4 .

Komplikasi

Komplikasi pada GO terbagi menjadi dua, yaitu komplikasi lokal dan sistemik. Komplikasi lokal pada pria dapat berupa tysonitis, parauretritis, litritis dan cowperiti. 5 Selain itu infeksi juga dapat menjalar ke atas (asenden), sehingga terjai prostatitis, vesikulitis, fenikulitis, epididimitis yang dapat menumbulkan infertilitas. 1, 5 Infeksi dari uretra pars posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria menimbulkan trigonitis dengan gejala poliuria, disuria terminal dan terminal hematuria. 5

Pada wanita, infeksi pada cerviks (cervicitis gonorrhoea) dapat menimbulkan komplikasi shalpingitis ataupun penyakit radang panggul (PID). 1 Selain itu bila infeksi mengenai uretra dapat terjadi parauretritis, sedangkan pada kelenjar bartholin dapat menyebabkan bartolinitis. 4

Infeksi yang berlangsung lama dan tetap tidak diobati akan dapat menyebabkan infeksi sistemik lewat sirkulasi (terjadi bakteriuria) mengakibatkan komplikasi diseminata. 4, 5

Penderita dengan infeksi gonokokus akut dapat terjadi koinfeks dengan kuman lain penyebab PMS. 4 Yang paling sering adalah Chlamydia trachomatis. 4, 6 Sementara pada wanita dapat juga mengalami koinfeksi dengan Trichomonas vaginalis. 6

Prognosis

Sebagian besar infeksi gonore memberikan respons yang cepat terhadap pengobatan dengan antibiotik. 3 Prognosis baik jika diobati dengan cepat dan lengkap. Gejala yang terus berlanjut lebih mungkin terjadi karena infeksi ulang daripada persistensi infeksi asli. Namun, munculnya strain baru yang resisten terhadap multidrug ('superbug') menjadi perhatian kesehatan global. 3 Risiko infertilitas meningkat dengan episode yang berulang. 3

Kesimpulan

Uretritis gonore (gonorrheae) merupakan penyakit hubungan seksual yang disebabkan oleh kuman Neiserria gonorrheae yang menyerang uretra pada laki-laki dan endocervix pada wanita. Infeksi ini paling sering ditemukan dan mempunyai insiden yang cukup tinggi. Masa tunas gonore sangat singkat, pada waktu masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya bersifat asimtomatis. Umumnya penyulit akan timbul jika uretritis tidak cepat diobati atau mendapat pengobatan yang kurang adekuat. Di samping penyulit, uretritis gonore pada umumnya bersifat lokal sehingga penjalarannya sangat erat dengan susunan anatomi dan faal alat kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pada laki-laki jauh lebih mudah daripada wanita, baik secara klinis maupun laboratorium, karena pada wanita seringkali asimtomatis. Pada dasarnya pengobatan uretritis baru diberikan setelah diagnosis ditegakkan. Antibiotik canggih dan mahal tanpa didasari diagnosis, dosis dan cara pemakaian yang tepat tidak akan menjamin kesembuhan dan bahkan dapat memberi dampak berbahaya dalam penggunaannya, misalnya resistensi kuman penyebab. Pengobatan yang benar meliputi pemilihan obat yang tepat serta dosis yang adekuat untuk menghindari resistensi kuman dan melakukan tindak lanjut secara teratur sampai penyakitnya dinyatakan sembuh.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Daili SF, Nilasari H. Gonore. Dalam: Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 7. Indonesia: BPFKUI; 2015. H. 443-449.

  • 2. Centers for disease control and prevention. Sexually transmitted disease treatment guidelines. MMWR; USA. 2015: 64 (3) Pg. 60-68.

  • 3. Mayor MT, Roett MA, Uduhiri KA. Diagnosis and management of gonococcal infections. AAFP; USA. 2012: 86 (10). Pg 931-937.

  • 4. Ram S., Rice PA. Chapter 45 : Gonococcal infections. In Harrison’s infectious disease. The McGraw-Hill Companies, Inc; USA. 2010: Pg. 459-468.

  • 5. Wong B. Gonorrhoea. Retrieved from http://emedicine.medscape.com/article/218059- overview#a3. Accessed on 7 September 2017.

  • 6. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman nasional penangan infeksi menular seksual 2011. H. 23-54.