You are on page 1of 15

LAPORAN KASUS

TINEA KORPORIS

OLEH :
Dian Nurul Hikmah
11.2015.367

PEMBIMBING :
dr. Hendrik Kunta Adjie , Sp.KK

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT HUSADA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

Nama : Ny. I
Umur : 46 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Japat
Agama : Islam

1
Waktu Pemeriksaan : 06 September 2017

Anamnesis

Keluhan Utama :
Gatal di Tangan kanan dan kiri

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poli Kulit RS Husada pada tanggal 06 Sept ember 2017 dengan
keluhan gatal di tangan kanan dan kiri sejak 2 minggu. Pertama kali gatal muncul di
bagian perut dan selangkangan sekitar 1 tahun yang lalu yang kemudian menyebar
sampai ke kedua lengan kanan kiri wajah dan leher. Awalnya hanya berupa bintik-bintik
kemerahan yang kemudian semakin meluas. Keluhan gatal dirasakan semakin memberat
terutama setelah berkeringat.Pasien pernah mengobati keluhannya ini dengan
menggunakan salep (lupa nama salep) dan obat-obatan cina namun keluhan tidak
berkurang.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Pasien menyangkal
adanya riwayat alergi baik pada makanan ataupun obat-obatan. Riwayat asma ataupun
sering bersin di pagi hari tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat keluarga dengan keluhan serupa disangkal oleh pasien. Riwayat asma
(-), sering bersin dipagi hari (-), alergi makanan dan obat-obatan (-)

Pemeriksaan Fisik

Status Generalis
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : compos mentis
GCS : E4V5M6

Status Dermatologis

Regio antebrachii dextra et sinistra, wajah dan leher : tampak plak eritema
berbatas tegas dengan tepi polisklik dikelilingi papul eritema multiple (tepi aktif) dan
tertutup skuama tipis di atasnya.

2
Diagnosis Banding

1. Tinea korporis
2. Dermatitis Kontak Alergi e.c deodoran
3. Pitiriasis Rosea

Pemeriksaan Penunjang

1. Kerokan kulit dengan KO H 10%

2. Biakan pada Sabouroud Dekstrose Agar

Diagnosis Kerja

Tinea korporis

Tatalaksana

~ Antihistamin: cetirizine 10 mg 1x/hari


~ Griseovulfin 500 mg PO 1x/hari selama minimal 3 minggu
~ Ketokonazole krim dioleskan 2x/hari selama minimal 2 minggu

Edukasi

~ Menyarankan kepada pasien untuk menggunakan obat secara teratur dan tidak
menghentikan pengobatan tanpa seizin dokter
~ Memeliharan dan menjaga kebersihan
~ Menggunakan pakaian yang menyerap keringat, tidak ketat, dan menghindari kulit
lembab
~ Tidak menggunakan pakaian atau handuk secara bergantian atau bersama-sama
dengan anggota keluarga lain.
Prognosis

~ Qua ad Vitam : bonam


~ Qua ad Sanationam : bonam
~ Qua ad Kosmetikam : bonam

3
PEMBAHASAN

PENDAHULUAN
Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit kepala,
wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha.(1,2,3) Manifestasinya akibat
infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan
yang hidup.(1,4) Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon
alergi. Tinea korporis umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak di
daerah tropis. (1)
Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada iklim
yang panas (tropis dan subtropis).(5,6) Ada beberapa macam variasi klinis dengan lesi yang
bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya. Variasi ini akibat perbedaan
imunitas hospes dan spesies dari jamur.(5)

EPIDEMIOLOGI
Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai didaerah yang
panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh dunia dan
sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis. Tricophyton tonsuran merupakan dermatofit
yang lebih umum menyebabkan tinea kapitis, dan orang dengan infeksi tinea kapitis
antropofilik akan berkembang menjadi tinea korporis.. Walaupun prevalensi tinea
korporis dapat disebabkan oleh peningkatan Tricophyton tonsuran, Microsporum canis
merupakan organisme ketiga sekitar 14 % menyebabkan tinea korporis.(7)
Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari infeksi manusia atau
hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasi T.rubrum di kaki. Anak-
anak lebih sering kontak pada zoofilik patogen seperti M.canis pada kucing atau anjing.
Pakaian ketat dan cuaca panas dihubungkan dengan banyaknya frekuensi dan beratnya
erupsi. (2)
Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi mereka
bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis prevalensinya sama antara

4
pria dan wanita. Tinea korporis mengenai semua orang dari semua tingkatan usia tapi
prevalensinya lebih tinggi pada preadolescen. Tinea korporis yang berasal dari binatang
umumnya lebih sering terjadi pada anak-anak. 7 Secara geografi lebih sering pada daerah
tropis daripada subtropis.
Berdasarkan habitatnya dermatofit digolongkan sebagai antropofilik (manusia),
zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah). Dermatofit yang antropofilik paling sering sebagai
sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang zoofilik di identifikasi (jika mungkin) untuk
mencegah reinfeksi manusia.

ETIOLOGI
Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit seperti
Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Variasi penyebabnya dapat ditemukan
berdasarkan spesies yang terdapat di daerah tertentu.(1,6) Namun demikian yang lebih
umum menyebabkan tinea korporis adalah T.rubrum, T.mentagrophytes, dan M.canis.(1)

PATOGENESIS
Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofit kemanusia dapat
melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal. Karena dermatofit tidak
memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya menginvasi bagian luar stratum
korneum dari kulit.(3)
Types Of Dermatophytes Based On Mode Of Transmission
Category Mode of transmission Typical clinical features
Antropofilik Manusia ke manusia Hewan ke Ringan, tanpa inflamasi, kronik
Zoofilik manusia Tanah ke manusia Inflamasi hebat (mungkin pustula dan
Geofilik atau hewan vesikel), akut. Inflamasi sedang

Lingkungan kulit yang sesuai merupakan faktor penting dalam perkembangan


klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi langsung spora atau hifa
pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan umumnya tinggal di stratum korneum,
dengan bantuan panas, kelembaban dan kondisi lain yang mendukung seperti trauma,
keringat yang berlebih dan maserasi juga berpengaruh.4,7

Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan keringat
sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat ditularkan melalui

5
kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi, benda-benda seperti
pakaian, alat-alat dan lain-lain. Infeksi dimulai dengan terjadinya kolonisasi hifa atau
cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini memproduksi enzim
keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam jaringan epidermis dan merusak
keratinosit.7
Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon jaringan
terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm, yang menginvasi
bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian aktif akan meningkatkan
proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan skuama. Kondisi ini akan menciptakan
bagian tepi aktif untuk berkembang dan bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit
dilakukan oleh sistem pertahanan tubuh (imunitas) seluler.7
Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum korneum, kadang-kadang
disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier, dermatofit pada kulit yang normal dapat
diketahui dengan pemeriksaan KOH atau kultur.

GAMBARAN KLINIK
Tinea korporis bisa mengenai bagian tubuh manapun meskipun lebih sering
terjadi pada bagian yang terpapar. Pada penyebab antropofilik biasanya terdapat di daerah
yang tertutup atau oklusif atau daerah trauma.(6)
Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal didapatkan lesi bulla yang
berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan bagian tengah
cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat membentuk pola gyrate atau
polisiklik. Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi dari eritema sampai pustula,
bergantung pada spesies penyebab dan status imun pasien. Pada penyebab zoofilik
umumnya didapatkan tanda inflamasi akut. Pada keadaan imunosupresif, lesi sering
menjadi lebih luas.(6)
Tinea korporis dapat bermanifestasi sebagai gambaran tipikal, dimulai sebagai
lesi eritematosa, plak yang bersisik yang memburuk dan membesar, selanjutnya bagian
tengah dari lesi akan menjadi bentuk yang anular akan mengalami resolusi, dan bentuk
lesi menjadi anular.1,5,7 berupa skuama, krusta, vesikel, dan papul sering berkembang,
khususnya pada bagian tepinya. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan.

6
Lesi pada umumnya merupakan bercak terpisah satu dengan yang lainnya.
Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat lagi.
Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan
pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea korporis dan kruris.
Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton concentricum
disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat,
yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian tengah ini terlepas dari
dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah,
sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. (7)
Infeksi dermatofit secara zoofilik atau geofilik lebih sering menyebabkan respon
inflamasi daripada yang disebabkan oleh mikroba antropofilik. Umumnya, pasien HIV-
positif atau imunokompromise bisa terlihat dengan abses yang dalam dan meluas. (7)
Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal ringan.
Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau papul yang
menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas, skuama atau vesikel,
tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis lebih sering pada permukaan
tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan bahu.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada kulit
sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis. Akan tetapi
kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak jelas, sehingga diperlukan pemeriksaan
penunjang. Sehingga diagnosis menjadi lebih tepat.
Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan merupakan
pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk mendiagnosis infeksi jamur. (6)
Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting untuk
mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop dimana terlihat hifa
diantara material keratin.(5)
Gambaran effloresensinya sebagai berikut (6)
Penyakit jamur Floresensi
Tinea kapitis Pitiriasis Hijau, biru kehijauan Kuning keemasan
versikolor
Bukan Penyakit jamur Effloresensi

7
Eritasma Obat tetrasiklin Merah bata kuning

DIAGNOSIS
Diagnosis ditetapkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya atau
pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan larutan KOH 20%, untuk melihat
elemen jamur dermatofit. Biakan jamur diperlukan untuk identifikasi spesies jamur
penyebab yang lebih akurat.
Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan
mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora untuk mengetahui infeksi
dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau beberapa dari keadaan ini diidentifikasi dari
hasil positif kerokan oleh kultur jamur.

DIAGNOSIS BANDING
Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit dibedakan dengan
beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain dermatitis kontak, dermatitis numularis,
dermatitis seboroik, ptiriasis rosea,6 dan psoriasis.6,7 Untuk alasan ini, tes laboraturium
sebaiknya dilakukan pada kasus dengan lesi kulit yang tidak jelas penyebabnya. (6)
Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea korporis,
biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya dikulit kepala, lipatan-
lipatan kulit, misanya belakang telinga, daerah nasolabial dan sebagainya. Psoriasis dapat
dikenal dari kelainan kulit dari tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut,
siku dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya
lekukan lekukan pada kuku dapat pula menolong untuk menentukan diagnosis.
Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas, tubuh dan
bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis tanpa heral
patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis. Pemeriksaan
laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya.

PENATALAKSANAAN
Menghilangkan faktor predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi
selalu kering dan memakai baju yang menyerap keringat.
A. Terapi topikal

8
Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya
hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan alilamin tersedia
dalam berbagai formulasi. Dan semuanya memberikan keberhasilan terapi (70-
100%). Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung
agen yang digunakan. Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan
perbaikan klinik yang tinggi.(7)
Berikut obat yang sering digunakan :
1. Topical azol terdiri atas :
a. Econazol 1 %
b. Ketoconazol 2 %
c. Clotrinazol 1%
d. Miconazol 2% dll.
Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfa-
dimetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur. 7
2. Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3
epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses pembentukan
ergosterol membran sel jamur.(10) yaitu aftifine 1 %, butenafin 1% Terbinafin
1% (fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang mampu bertahan hingga 7 hari
sesudah pemakaian selama 7 hari berturut-turut.7
3. Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja menghambat
masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi tinggi merubah
permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang bersifat fungisidal dan
fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta berspektrum luas.(7)
4. Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa ditambahkan pada
regimen anti jamur topikal untuk menurunkan gejala. Tetapi steroid hanya
diberikan pada beberapa hari pertama dari terapi. (5,7)

B. Terapi sistemik
Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of Dermatology
menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus
hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi yang luas, infeksi
kronis, pasien imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran

9
terhadap OAJ topikal.
1. Griseofulvin 7
Obat ini berasal dari penicillium griceofulvum dan masih dianggap baku emas
pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton, Microsporum,
Epidermophyton. Berkerja pada inti sel, menghambat mitosis pada stadium
metafase.
2. Ketokonazol
Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik,
termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam.
3. Flukonazol
Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol, namun
absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam lambung.
4) Itrakonazol
Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas, bersifat
fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik maupun jamur
dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat diminum bersama dengan
makanan.
5. Amfosterin B
Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh Streptomyces
nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah akan menghambat
pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan sebagai obat pilihan pada
pasien dengan infeksi jamur yang membahayakan jiwa dan tidak sembuh
dengan preparat azol.

PROGNOSIS
Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan tingkat
kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau allilamin atau dengan
menggunakan anti jamur sistemik. (7)

10
KESIMPULAN

Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit kepala,
wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha. Manifestasinya akibat
infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan
yang hidup. Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon

11
alergi. Tinea korporis umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak pada
didaerah tropis.
Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal ringan.
Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau papul yang
menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas, skuama atau vesikel,
tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis lebih sering pada permukaan
tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan bahu.
Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan tingkat
kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau allilamin atau dengan
menggunakan anti jamur sistemik

DAFTAR PUSTAKA
1. Budimulja U. Mikosis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi Keenam, Cetakan Kedua. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia : Jakarta; 2011. Hal.89-106.

2. Verma S, Heffernan MP. Superficial Fungal Infection: Dermatophytosis,


Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. In: Wolff K, et al. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine. Seventh Edition. McGraw-Hill : New York; 2008.p.1807-1822
12
3. Ermawati Y. Penggunaan Ketokonazol pada Pasien Tinea Corporis. Fakultas
kedokteran Universitas Lampung. Medula Unila.2013;1(3):82-91
4. Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keenam, Cetakan Kedua. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta; 2011.hal.129-153

5. Djuanda A. Dermatosis Eritroskuamosa. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S.


Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keenam, Cetakan Kedua. Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta; 2011. Hal.189-203.

6. Kuswadji, Widaty KS. Obat anti jamur. In : Budimulja U, Kuswadji, Bramono K,


Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis superfisialis. Jakarta:
Balai penerbit FKUI, 2004.p.108-16

7. Goedadi MH, Suwito PS. Tinea korporis dan tinea kruris. In : Budimulja U, Kuswadji,
Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors. Dermatomikosis
superfisialis. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2004.p.31-4

LAMPIRAN

13
14
15