Вы находитесь на странице: 1из 4

Laporan Kasus Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)

F.2. Upaya Kesehatan Lingkungan


Penyuluhan Tentang Penyakit Scabies dan Lingkungan Pondok Bebas
Scabies Pada Santri Ponpes Al Aly Desa Mayangrejo Kalitidu Bojonegoro

Oleh :
dr. Veryne Ayu Permata M.

Pembimbing :
dr. Wahyu Widarti

Pusat Kesehatan Masyarakat Kalitidu


Kabupaten Bojonegoro
Tahun 2017
A. Latar Belakang
Infestasi tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis pada kulit yang diikuti
sensitisasi menimbulkan penyakit kulit yang disebut scabies atau kudisa.
Prevalensi scabies dipenharuhi oleh tingkat sosial ekonomi yang rendah,
kebersihan yang kurang baik, dan kepadatan penduduk yang tinggi. Oleh karena
itu, scabies banyak terdapat di barak-barak tentara, pengungsi, asrama, dan
pesantren.

Pesantren adalah institusi pendidikan Islam yang muridnya (santri) tinggal di


asrama. Pada umumnya para santri tinggal dalam lingkungan yang padat yaitu
satu kamar berisi 20-30 orang dengan fasilitas kebersihan yang kurang memadai.
Marufi melaporkan prevalensi scabies di pesantren-pessantren yang kebersihan
dirinya kurang baik mencapai angka 73,7% sedangkan pada kelompok dengan
kebersihan baik hanya mencapai 48,0%.

Scabies menimbulkan gatal terutama pada malam hari, papul, vesikel, dan
pustul di telapak tangan, sela jari tangan, pergelangan tangan dan tempat
predileksi lainnya. Oleh karena itu tingginya prevalensi scabies menyebabkan
kesehatan santri menjadi terganggu karena mereka mengalami gatal sepanjang
hari selama berbulan bulan bahkan bertahun-tahun. Akibat gatal, timbul infeksi
sekunder yang menyebabkan demam, tangan menjadi sulit digerakkan karena
nyeri sehingga mengalami kesulitan menulis.

Berdasarkan uraian di atas, scabies perlu diobati dan pengobatan scabies


harus dilakukan kepada semua santri secara serentak diikuti perilaku hidup bersih
sehat (PHBS) sebagai upaya pencegahan scabies. Reinfeksi scabies mudah terjadi
jika pengobatan tidak diikuti dengan perilaku hidup bersih sehat. Oleh karena itu
santri perlu dibekali dengan pengetahuan yang melingkupi penyakit scabies ini.

Dari fenomena-fenomena diatas membuat penulis tertarik untuk meneliti


permasalahan tersebut dengan judul Penyuluhan Tentang Penyakit Scabies dan
Lingkungan Pondok Bebas Scabies Pada Santri Ponpes Al Aly Desa Mayangrejo
Kalitidu Bojonegoro
B. Permasalahan di Masyarakat
Rendahnya pengetahuan santri pondok mengenai penyakit scabies yang
seringkali terjadi di ponpes.

C. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Dari permasalahan di atas maka penulis merencanakan untuk melakukan
suatu intervensi berupa penyuluhan mengenai penyakit scabies di ponpes Al Aly
Mayangrejo yang menyasar pada santri dan santriwati di ponpes tersebut. Tujuan
penyuluhan ini adalah untuk menambah pengetahuan para santri mengenai
penyakit scabies meliputi gejala, faktor risiko serta perilaku PHBS untuk
pencegahannya. Prioritas masalah yang akan dibahas adalah pengertian penyakit
scabies, faktor risiko, gejala penyakit, dan pencegahan penyakit scabies dengan
PHBS.

D. Pelaksanaan
Proses intervensi dilakukan pada hari Jumat, 28 Juli 2017. Intervensi yang
dilakukan adalah memberikan penyuluhan kepada santri dan santriwati di ponpes
Al Aly Mayangrejo Kalitidu Bojonegoro. Penyuluhan dihadiri oleh 97 orang.
Pemaparan materi berlangsung selama 20 menit. Materi penyuluhan yang
diberikan melingkupi pengertian penyakit scabies, faktor risiko, gejala penyakit,
dan pencegahan penyakit scabies dengan PHBS.
Setelah pemaparan materi dilakukan sesi tanya jawab yang berlangsung
sekitar 20 menit.

E. Monitoring dan Evaluasi


Evaluasi pengetahuan mengenai penyakit scabies dilakukan oleh penulis sejak
awal penyuluhan dimulai dengan melempar pertanyaan kepada audience dengan
hasil evaluasi awal bahwa kebanyakan audience sudah mengerti secara umum
mengenai penyakit scabies. Selanjutnya juga dilakukan evaluasi di akhir dengan
cara membuka sesi tanya jawab dimana penulis mendapatkan respon yang baik
yaitu audience aktif menjawab pertanyaan yang diajukan pembicara.

F. Kesimpulan
Rendahnya pengetahuan para santri dan santriwati mengenai penyakit scabies
dapat menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya pemutusan rantai penyakit ini
di lingkungann ponpes. Dengan diberikannya penyuluhan tentang penyakit
scabies ini, diharapkan mampu mengubah perilaku santri dan santriwati menjadi
perilaku berbasis PHBS sebagai kunci utama pencegahan penyakit scabies.
.

Kalitidu, 28 Juli 2017


Dokter Internsip Dokter Pendamping

dr. Veryne Ayu P.M. dr. Wahyu Widarti

Komentar / Umpan balik


K

DOKUMENTASI