You are on page 1of 5

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan

menggunakan metode eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui segala gejala atau
pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu (Nursalam, 2011). Populasi
penelitian ini adalah seluruh lansia di PSTW sabai nan aluih sicincin yaitu sebanyak 110 lansia.
Sampel dalam penelitian ini sebanyak 32 orang dengan teknik pengambilan sampel purposive
sampling.
Diketahui bahwa dari 16 responden terdapat 11 responden (68.8%) yang memiliki dimensia
sedang sedangkan tabel 2 diketahui bahwa dari 16 responden terdapat 14 responden (87.5%) yang
memiliki dimensia sedang, dan dari 16 responden terdapat 15 responden (93.8%) yang memiliki
dimensia ringan. Hasil yang didapatkan dari terapi senam otak pada lansia yaitu dari 12 orang
responden lebih dari separoh (75%) responden pada kelompok intervensi mengalami peningkatan
fungsi kognitif menjadi normal (tidak ada gangguan fungsi kognitif) pada lansia dengan dimensia.
Hasil dari terapi pemberian warna merah didapatkan pada lanisa dengan dimensia ringan bahwa dari
16 responden terdapat 15 responden (93.8%) .Sedangkan, perbedaan efektivitas pemberian terapi
warna merah dan senam otak pada lansia menunjukkan rata- rata (Mean) post akhir terapi warna-
post senam otak sebesar .137 dan Confidence Interval (-1.897)-(.272). Hasil uji statistik
menggunakan uji independent t-test diporeh p value = 0.056 (=0.05), yang bearti p > secara
statistik adalah Ho diterima Ha ditolak dimana tidak ada perbedaan rata-rata (Mean) yang bermakna
pada memori jangka pendek pada lansia demensia sesudah (Postest) dilakukan terapi warna merah
dan sesudah (Postest) dilakukan senam otak.
Menurut analisa peneliti pemberian terapi warna merah dan senam otak dapat menstimulasi
peningkatan memori jangka pendek pada lansia karena warna merah juga berfungsi untuk memberi
energi menambah keberanian, ketegasan, menstimulasi meningkatkan kemampuan otak,
membangkitkan ketajaman mental, konsentrasi, daya ingat. Mata sebagai indra penglihatan yang
menerima rangsangan berkas-berkas cahayapada retina denga parentera serabut optikus dimana
serabut-serabutnya memiliki tangkai otak dan membentuk saluran optik dan bertemu ditangkai
hipofise. Reseptor penglihatan dimata berkaitan langsung ke area limbik melalui nervus optikus
yang berada didekat otak bagian depan. Alfa dan magda, area limbik tersebut memiliki
kaitan khusus pada wilayah otak yang langsung mempengaruhi lebih dari proses utama pada tubuh
seseorang seperti mengatur detak jantung, tekanan darah, ketegangan otot, dan temperatur kulit,
sehingga meningkatkan perfoma kognitif. Disamping itu warna merah juga merangsang
hipotalamus sehingga meningkatkan kemampuan belajar dan memori (Guyton, 2006). Sedangkan
senam otak adalah serangkaian latihan gerak sederhana yang digunakan untk memudahkan kegiatan
belajar dan penyesuaian dengan tuntutan sehari-hari (Dennison, 2008). Otak manusia memiliki
tugas yang spesifik, dimana dalam aplikasi senam otak diapakai istilah dimensi lateralitas, dimensi
pemokusan, dan dimensi pemusatan. Dengan senam otak maka ketiga dimensi otak ini akan
diaktifkan secara keseluruhan, dan dilihat perkembangannya dengan menggunakan format MMSE,
Selama 2 minggu penelitian sampel yang didapatkan 16 orang 1 kelompok, setiap kelompok diberi
perlakuan sebanyak 4 kali dalam 2 minggu didapatkan ada peningkatan pada memori jangka pendek
lansia. Dengan kata lain pemberian terapi warna merah dan senam otak sama-sama efektif terhadap
peningkatan memori jangka pendek pada lansia dengan demensia.

1. Rata-rata memori jangka pendek lansia sebelum (Pretest) dilakukan intervensi terapi warna
merah pada lansia dengan dimensia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih di Sicincin
tahun 2015 adalah (18.50)-(2.708), dan Rata-rata rata-rata memori jangka pendek lansia
sebelum (Pretest) dilakukan intervensi senam otak pada lansia dengan dimensia di Panti Sosial
Tresna Werdha Sabai Nan Aluih di Sicincin tahun 2015 adalah (18.25)-(2.569)
2. Rata-rata memori jangka pendek lansia Sesudah (Postest) dilakukan intervensi terapi warna
merah pada lansia dengan dimensia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih di Sicincin
tahun 2015 adalah (22.62)-(1.408)
3. Rata-rata memori jangka pendek lansia Sesudah (Postest) dilakukan intervensi senam otak pada
lansia dengan dimensia di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih di Sicincin tahun 2015
adalah (23.44)-(1.590)
4. Tidak ada perbedaan rata-rata (Mean) yang bermakna pada memori jangka pendek pada lansia
demensia sesudah (Postest) dilakukan terapi warna merah dan sesudah (Postest) dilakukan
senam otak. Dengan kata lain pemberian terapi warna merah dan senam otak sama-sama efektif
terhadap peningkatan memori jangka pendek pada lansia dengan demensia.

Lanjut usia merupakan suatu anugerah menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya, pasti
akan dialami oleh seseorang bila ia panjang umur. Di Indonesia, istilah untuk kelompok usia ini
belum baku, orang memiliki sebutan yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan istilah usia lanjut
ada pula lanjut usia (S. Tamher, 2011), Selain itu, pada lansia juga terjadi penuaan. Penuaan adalah
suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus-menerus, dan berkesinambungan.
Selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga
akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. Menjadi tua ditandai dengan
adanya kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain kulit
mulai mengendur, timbul keriput, rambut beruban, gigi mulai ompong, pendengaran dan penglihatan
berkurang, mudah lelah, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah, serta terjadi penimbunan lemak
terutama di perut dan panggul. Kemunduran lain yang terjadi adalah kemampuan-kemampuan
kognitif seperti suka lupa, kemunduran orientasi terhadap waktu, ruang, tempat, serta tidak mudah
menerima hal atau ide baru (Maryam dkk, 2008. Semua itu dikoordinasikan oleh otak sebagai pusat
koordinasi di kehidupan sesorang manusia. Begitu pentingnya sehingga seseorang belum dapat
dikatakan meninggal dunia sebelum otak berhenti berfungsi.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 14 april 2015 dengan
jumlah lansia 110 orang, dari 110 orang lansia 6 yang diwawancarai dengan memakai format
MMSE. Hasil dari wawancara didapatkan 5 orang (83,33%), dari 6 lansia mengalami Dimensia di
PSTW Sabai Nan Aluih di Sicincin dan untuk meningkatkan daya ingat lansia di PSTW Sabai Nan
Aluih di Sicincin sering dilakukan latihan senam otak minimal 2x seminggu. Sedangkan di PSTW
Kasih Sayang Ibu Batusangkar dengan jumlah 70 orang, didapatkan data dari petugas bahwa pada
lansia ada latihan senam otak 1x seminggu untuk meningkatkan daya ingat.
Hal ini menandakan kejadian penurunan daya ingat di PSTW Sabai Nan Aluih di Sicincin
terus meningkat dari tahun ke tahun. Usaha pencegahan terjadinya penurunan daya ingat harus
dilakukan di PSTW Sabai Nan Aluih di Sicincin agar angka kejadian penurunan daya ingat tidak
terus meningkat di tempat tersebut.