You are on page 1of 5

Teknik Sampling Non Probabilitas

Teknik sampling nonprobabilitas adalah suatu teknik pengambilan sampel secara tidak
acak/non random sampling. Tidak semua populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa
dipilih menjadi sampel. Pada saat melakukan pemilihan satuan sampling tidak dilibatkan
unsur peluang, sehingga tidak diketahui unsure peluang sesuatu unit sampling terpilih
kedalam sampling. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena
kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.
Sampling tipe ini tidak boleh dipakai untuk menggeneralisasi hasil penelitian terhadap
populasi, karena dalam penarikan sampel sama sekali tidak ada unsur probabilitas.
Sampling nonprobabilitas merupakan pemilihan sampel yang dilakukan dengan
pertimbangan-pertimbangan peneliti, sehingga dengan tipe sampling nonprobability ini
membuat semua anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih
sebagai anggota sampel. Nonprobability sampling dikembangkan untuk menjawab kesulitan
yang timbul dalam menerapkan teknik probability sampling, terutama untuk mengeliminir
biaya dan permasalahan dalam pembuatan sampling frame (kerangka sampel).
Pemilihan nonprobability sampling ini dilakukan dengan pertimbangan, yaitu:
1. Penghematan biaya, waktu dan tenaga; dan
2. Keterandalan subjektivitas peneliti (pengetahuan, kepercayaan dan pengalaman
seseorang seringkali dijadikan pertimbangan untuk menentukan anggota populasi
yang dipilih sebagai sampel).

Macam-macam Sampling Non Probabilitas


1. Convenience Sampling/ Accidental Sampling
Convenience Sampling merupakan teknik dalam memilih sampel, peneliti tidak
mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang
diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia
mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan
istilah accidental sampling tidak disengaja atau juga captive sample (man-on-the-
street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan,
yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak
(random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini, hasilnya
ternyata kurang obyektif.
Pada convenience sampling (sampling kemudahan), sampel diambil berdasarkan
faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan
peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat dijadikan
sampel.
Dengan kata lain sampel diambil/terpilih karena ada ditempat dan waktu yang tepat.
Tanpa kriteria peneliti bebas memilih siapa saja yang ditemuinya untuk dijadikan
sampel. Dengan demikian teknik sampling ini digunakan ketika peneliti berhadapan
dengan kondisi karakteristik elemen populasi tidak dapat diidentifikasikan dengan
jelas, maka teknik penarikan sampel convenience, atau sering juga disebut Sampling
Accidental menjadi salah satu pilihan. Kelemahan utama teknik sampling ini jelas
yaitu kemampuan generalisasi yang amat rendah atau keterhandalan data yang
diperoleh diragukan.
Contoh : misalnya ada seorang peneliti ingin mengetahui tentang kebersihan wilayah
Jakarta Selatan ia menanyakan kepada orang yang ada dijalan atau orang dia jumpai
bukan orang yang mengerti tentang kebersihan wilayah Jakarta Selatan seperti
petugas kebersihan atau mendatangi kantor gubernur atau walikota Jakarta Selatan.

2. Snowball Sampling
Snowball Sampling merupakan teknik sampling yang banyak dipakai ketika peneliti
tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang
yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan
lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain
yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Satuan sampling dipilih atau ditentukan
berdasarkan informasi dari responden sebelumnya.
Contoh : Misalnya seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian
terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan
kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita
lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah
wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa
mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada
pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif
(tertutup).

3. Purposive Sampling
Purposive Sampling merupakan teknik sampling yang Satuan samplingnya dipilih
berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling
yang memiliki karakteristik atau kriteria yang dikehendaki dalam pengambilan
sampel. Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud dan tujuan yang
diinginkan peneliti atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap
bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki atau mengetahui informasi yang
diperlukan bagi penelitian yang dia buat.
Tujuan utama dari purposive sampling adalah menghasilkan sampel yang bisa
dianggap representatif dari populasi. Itu perwakilan jangka panjang memiliki
banyak arti berbeda, sepanjang garis sampel memiliki distribusi populasi yang sama
pada beberapa demografis kunci karakteristik, tapi sepertinya tidak ada makna
statistik yang disepakati. Pemilihan Sampel purposive sering dilakukan dengan
menerapkan pengetahuan ahli tentang populasi untuk memilih dengan cara yang tidak
acak contoh elemen yang mewakili sebuah penampang populasi. Misalnya, satu
mungkin memilih sampel usaha kecil di Amerika Negara bagian yang mewakili
penampang usaha kecil di negara. Dengan pengetahuan ahli tentang populasi,
Orang pertama akan menentukan karakteristik mana yang penting untuk diwakili
dalam sampel. Setelah ini terbentuk, sampel bisnis diidentifikasi yang bertemu
berbagai karakteristik yang dipandang sebagai yang terpenting. Ini mungkin
melibatkan pemilihan besar (1.000+ karyawan), sedang (100-999 karyawan), sedang
dan usaha kecil (<100 karyawan).
Contoh lain dari purposive sampling adalah pemilihan sampel penjara dari tahanan
mana peserta akan dijadikan sampel. Ini disebut sebagai sampling dua tahap, tapi unit
tahap pertama adalah tidak dipilih menggunakan teknik probability sampling.
Sebaliknya, unit tahap pertama dipilih untuk mewakili dimensi tahanan utama
(misalnya usia dan ras), dengan pertimbangan subjek ahli digunakan untuk memilih
penjara khusus yang termasuk dalam penelitian ini. Itu Pendekatan sebaliknya juga
bisa digunakan: Unit tahap pertama dipilih menggunakan probability sampling, dan
kemudian, dalam tahap pertama yang dipilih, penilaian ahli adalah dipekerjakan untuk
memilih elemen dari data mana yang akan digunakan dikumpulkan Studi '' studi atau
studi evaluasi akan dilakukan sering menggunakan salah satu dari dua pendekatan ini.
Umumnya, tidak ada minat untuk menarik kesimpulan beberapa orang populasi yang
lebih besar atau untuk membuat perkiraan nasional, katakanlah, untuk semua tahanan
di penjara A.S. Keterbatasan sampling purposive yang jelas adalah itu Pakar lain
mungkin akan tampil beda sampel saat mengidentifikasi karakteristik penting dan
Memetik elemen khas untuk berada dalam sampel. Diberikan Subyektifitas
mekanisme seleksi, purposive Sampel umumnya dianggap paling tepat untuk
pemilihan sampel kecil seringkali dari yang terbatas wilayah geografis atau dari
definisi populasi yang dibatasi, di mana kesimpulan terhadap populasi bukanlah
prioritas tertinggi. Jelas, pengetahuan dan pengalaman ahli membuat pilihan
merupakan aspek kunci dari Sukses dari sampel yang dihasilkan, namun akan sulit
untuk mengukur karakteristik sampel tersebut.
Syarat-syarat menentukan sampel pada purposive sampling, yaitu:
1. Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi
pendahuluan.
2. Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik
tertentu, yang mengandung ciri-ciri pokok populasi.
3. Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang paling
banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi.

Kelebihan metode purposive sampling, yaitu:


1. Sampel ini dipilih sedemikian rupa, sehingga relevan dengan desain penelitian
2. Cara ini relatif mudah dan murah untuk dilaksanakan
3. Sampel yang dipilih adalah individu yang menurut pertimbangan penelitian dapat
didekati.

Kekurangan metode purposive sampling, yaitu:


1. Tidak ada jaminan sepenuhnya bahwa sampel ini representatif seperti halnya
dengan sampel acakan atau random.
2. Setiap sampling yang acakan atau random yang tidak memberikan kesempatan
yang sama untuk dipilih kepada semua anggota populasi.
3. Tidak dapat dipakai penggolongan statistik guna mengambil kesimpulan.

Pengambilan sampel ini dapat dibagi dua yaitu judgment sampling dan quota
sampling:
a. Judgment sampling
Judgment sampling ialah teknik pengambilan sampling dimana sampel yang
dipilih berdasarkann penilaian peneliti bahwa dia atau seseorang yang paling baik
jika dijadikan sampel penelitiannya.
Contoh : misalnya dalam suatu perusahaan untuk memperoleh data tentang
bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka
manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan
informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang
menjadi sampel karena mereka mempunyai information rich.
Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang
dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau
karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka
jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik.
b. Quota sampling
Quota sampling ialah teknik pengambilan sampling dalam bentu distratifikasikan
secara proposional, namun tidak dipilih acak melainkan secara kebetulan saja.
Contoh : Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60% dan
perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari
kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki
sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik
pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan
secara kebetulan saja.

4. Haphazard Sampling
Haphazard Sampling merupakan teknik sampling dimna Satuan sampling dipilih
sembarangan atau seadanya, tanpa perhitungan apapun tentang derajat
kerepresentatipannya. Haphazard sampling disebut juga accidental atau convenient
sampling. Pada teknik sampling ini, sampel dipilih oleh peneliti karena pertimbangan
kenyamanan peneliti untuk mendapatkan data dari sampel tersebut.
Contoh: Misalnya ketika kita akan melakukan penelitian mengenai kompetensi dosen
di sebuah Universitas, pertanyaan dapat diajukan kepada siapapun mahasiswa dari
universitas tersebut (sebagai sampel) yang kebetulan datang pada saat kita berada di
sana untuk melakukan penelitian. Contoh lain dari metode ini adalah penyebaran
kuesioner yang dititipkan atau diletakan didepan loket pelayanan SIM. Kuesioner
tersebut ditujukan bagi pelanggan untuk memberikan penilaian tentang kinerja
pelayanan SIM tersebut. Dalam kasus ini, tidak semua pelanggan SIM memiliki akses
terhadap kuesioner tersebut. Sementara mereka yang memiliki akses juga belum tentu
tertarik untuk mengisi kuesioner.
Pada sampel yang mengisi kuesioner tentang kinerja pelayanan SIM pada dasarnya
tidak mewakili populasi manapun. Hasil dari penelitian yang demikian tidak dapat
digeneralisasikan.

DAFTAR PUSTAKA
Khairuna. TT. Macam-Macam Teknik Sampling. [Online] terdapat di
https://www.academia.edu/15707043/MACAMMACAM_TEKNIK_SAMPLING?
auto=download. Diakses pada tanggal 20 September 2017.
Battaglia, Michael P. "Nonprobability Sampling." Encyclopedia of Survey Research
Methods. 2008. SAGE Publications. 8 Nov. 2011.