You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia dewasa ini dihadapkan dengan persoalan dan ancaman radikalisme, terorisme dan
separatisme yang kesemuanya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945. Radikalisme
merupakan ancaman terhadap ketahanan ideologi. Apabila Ideologi negara sudah tidak kokoh maka akan
berdampak terhadap ketahanan nasional.

Radikalisme dapat diartikan sebagai sikap atau paham yang secara ekstrim, revolusioner dan militan
untuk memperjuangkan perubahan dari arus utama yang dianut masyarakat. Radikalisme tidak harus
muncul dalam wujud yang berbau kekerasan fisik. Ideologi pemikiran, kampanye yang masif dan
demonstrasi sikap yang berlawanan dan ingin mengubah mainstream dapat digolongkan sebagai sikap
radikal.

Radikalisme yang terjadi di Indonesia sebagai indikasi bahwa sudah menipisnya rasa toleransi
masyarakat akan suatu perbedaan yang terjadi, sehingga makna Bhineka Tunggal Ika yang didengung-
dengungkan sejak lahirnya Negara Indonesia lambat laun akan menjadi bias lalu hilang tak berarti bila
tidak segera diantisipasi oleh masyarakat dan pemerintah, bahkan sikap intoleran ini perlahan tapi pasti
akan menjadi penyebab hancurnya persatuan dan kesatuan bangsa, pengimplementasian falsafah
Pancasila secara kaffah dalam sendi kehidupan sosial dan kemasyarakatan adalah formula yang tepat
untuk menangkal radikalisme dan terrorisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daya serap yang baik dari penduduk Indonesia, menjadikan masyarakat dengan mudah menerima
Input pemahaman ataupun pemikiran dan terimplementasikan pada pola kehidupan sosial
kemasyarakatan sedikit demi sedikit terjadi mixing kebudayaan. Namun, sangat disayangkan, toleransi
dan daya serap yang baik tidak diimbangi dengan proteksi pemikiran dan pemahaman, sehingga hal
negatif pun tidak tersaring dan mengakibatkan munculnya suatu paham yang menjurus pada radikalisme
dan menjadi cikal bakal menjamurnya terrorisme di Indonesia.

Adanya suatu kepentingan dan keinginan serta strategi dari kelompok kelompok yang mencoba
dan berupaya untuk mengganti falsafah Pancasila dengan menyebarkan isu bahwa Pancasila sudah tidak
relevan digunakan di NKRI itu disinyalir karena mereka berpedoman pada salah satu paham dan ajaran
tertentu yang dianutnya, kepentingan penyebarluasan paham, keinginan untuk berkuasa dan dorongan
ego kelompok lah menjadi kekuatan dan motivasi mereka menjalankan dan menyebarkan paham
radikalisme sehingga melahirkan aksi aksi terror yang bisa menjadi trigger pecahnya persatuan dan
kesatuan bangsa, dampak lebih besarnya lagi radikalisme dapat menjadi penyebab hancurnya Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Fenomena tindak radikalisme dalam agama memang bisa dipahami secara beragam, namun secara
esensial, radikalisme agama umumnya memang selalu dikaitkan dengan pertentangan secara tajam
antara nilai-nilai yang diperjuangkan kelompok agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau
dipandang mapan pada saat itu. Dengan demikian, adanya pertentangan, pergesekan ataupun
ketegangan, pada akhirnya menyebabkan konsep dari radikalisme selalu saja dikonotasikan dengan
kekerasan fisik. Apalagi realitas yang saat ini telah terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia
sangatmendukung dan semakin memperkuat munculnya pemahaman seperti itu.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 1 of 16


Melalui peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang kini tengah dihadapi oleh seluruh lapisan masyarakat
Indonesia. Meningkatnya radikalisme dalam agama di Indonesia menjadi fenomena sekaligus bukti nyata
yang tidak bisa begitu saja diabaikan ataupun dihilangkan. Radikalisme keagamaan yang semakin
meningkat di Indonesia ini ditandai dengan berbagai aksi kekerasan dan teror. Aksi tersebut telah
menyedot banyak potensi dan energi kemanusiaan serta telah merenggut hak hidup orang banyak
termasuk orang yang sama sekali tidak mengerti mengenai permasalahan ini. Meski berbagai seminar
dan dialog telah digelar untuk mengupas persoalan ini yaitu mulai dari pencarian sebab hingga sampai
pada penawaran solusi, namun tidak juga kunjung memperlihatkan adanya suatu titik terang.

1.2 Rumusan Masalah

Dari sekian banyak materi yang ada, dalam Makalah ini penyusun mencoba menguraikan mengenai :
Sejarah radikalisme, Implementasi nilai-nilai pancasila dalam menghadapi radikalisme, dan Hubungan
Islam dengan Pancasila

1.3 Tujuan Penulisan

Di samping untuk memenuhi tugas perkuliahan, makalah ini juga bertujuan sebagai sarana untuk
belajar dalam menuangkan pemikiran penulis, dengan ditunjang dengan beberapa referensi referensi
yang relevan dengan permasalahan radikalisme. Penulis berharap makalah ini dapat dijadikan sebagai
referensi dan tambahan wawasan/ pengetahuan bagi pembaca mengenai hal-hal yang berkenaan dengan
upaya meminimalisir aksi radikalisme dengan melalui Pancasila.

1.4 Manfaat Penulisan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk kepentingan akademik maupun kepentingan
praktis. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Hasil penelitian ini
secara akademis diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan ilmu
pengetahuan pada umumnya, dan hukum tata negara, khususnya dalam sistem negara hukum Pancasila,
serta bermanfaat bagi penelitian-penelitian ilmu hukum selanjutnya. b) Sebagai bahan informasi ilmiah
bagi peneliti-peneliti yang ingin mengetahui konsistensi Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia serta
perbadaannya dengan ideologi lain. c) Menjawab fenomena gerakan kelompok radikalisme di Indonesia
dalam menetang Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. d) Sebagai usaha pengembangan ilmu
pengetahuan ketatanegaraan khususnya yang berhubungan dengan ideologi Pancasila yang dianut
negara Indonesia sesuai dengan konstitusi. e) Diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi bagi
penelitian berikutnya yang mengkaji permasalahan yang sama.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 2 of 16


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Ideologi Pancasila merupakan tatanan nilai yang digali (kristalisasi) dari nilai-nilai dasar budaya
bangsa Indonesia. Kelima sila merupakan kesatuan yang bulat dan utuh sehingga pemahaman dan
pengamalannya harus mencakup semua nilai yang terkandung didalamnya. Ketahanan ideologi diartikan
sebagai kondisi dinamik kehidupan ideologi bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan,
ancaman, hambatan serta gangguan yang dari luar/dalam, langsung/tidak langsung dalam rangka
menjamin kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara Indonesia.

Pluralisme berasal dari kata plural yang berarti kemajemukan atau keanekaragaman dan isme
yang berarti paham, jadi pluralism adalah paham kemajemukan. Dalam rangka membentuk masyarakat
beragama yang rukun dan damai, para ahli banyak menekankan tentang pluralisme.Paham ini menitik
beratkan pada aspek persamaan, dimana semua agama itu sama.dalam artian banyak jalan menuju
surge. Sebenarnya paham pluralism merupakan paham yang sudah cukup lama. Paham ini muncul
bersamaan dengan modernisasi Negara-negara barat. Dengan kata lain paham ini pada awalnya muncul
dari belahan dunia barat,yakni Eropa. Dalam paham pluralisme agama yang berkembang di Barat sendiri
terdapat sekurang-kurangnya dua aliran yang berbeda: yaitu paham yang dikenal dengan program teologi
global (global theology) dan paham kesatuan transenden agama-agama (Transcendent Unity of
Religions). Kedua aliran ini telah membangun gagasan, konsep dan prinsip masing-masing yang akhirnya
menjadi paham yang sistemik. Karena itu yang satu menyalahkan yang lain.

Secara semantik, radikalisme ialah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau
pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi
Kedua, cet. th. 1995, Balai Pustaka). Dalam Ensiklopedi Indonesia (Ikhtiar Baru Van Hoeve, cet. 1984)
diterangkan bahwa radikalisme adalah semua aliran politik, yang para pengikutnya menghendaki
konsekuensi yang ekstrim, setidak-tidaknya konsekuensi yang paling jauh dari pengejawantahan ideologi
yang mereka anut. Dalam dua definisi ini radikalisme adalah upaya perubahan dengan cara kekerasan,
drastis dan ekstrim. Adapun dalam Kamus Ilmiyah Populer karya Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry
(penerbit Arkola Surabaya, cet. th. 1994) diterangkan bahwa radikalisme ialah faham politik kenegaraan
yang menghendaki adanya perubahan dan perombakan besar sebagai jalan untuk mencapai taraf
kemajuan. Dalam definisi terakhir ini radikalisme cenderung bermakna perubahan positif.

Selain agama, radikalisme juga sudah menjangkiti aliran-aliran sosial, politik, budaya, dan
ekonomi. Ada anggapan di kalangan masyarakat awam bahwa radikalisme hanya dilakukan oleh agama
tertentu saja, dan anggapan itu memang tidak salah. Kelompok radikal di negeri ini tumbuh subur.
Mereka masih bebas melancarkan serangan dengan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Label radikalisme
bagi gerakan Islam yang menentang Barat dan sekutu-sekutunya dengan sengaja dijadikan komoditi
politik. Gerakan perlawanan rakyat Palestina, Revolusi Islam Iran, Partai FIS Al-Jazair, perilaku anti-AS
yang dipertunjukkan Muammar Ghadafi ataupun Saddam Hussein, gerakan Islam di Mindanao Selatan,
gerakan masyarakat Muslim Sudan yang anti-AS, merebaknya solidaritas Muslim Indonesia terhadap
saudara-saudara yang tertindas dan sebagainya, adalah fenomena yang dijadikan media Barat dalam
mengkapanyekan label radikalisme Islam.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 3 of 16


BAB III

PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Radikalisme

3.1.1 Definisi Radikalisme

Radikalisme itu adalah suatu perubahan sosial dengan jalan kekerasan, meyakinkan dengan satu
tujuan yang dianggap benar tapi dengan menggunakan cara yang salah. Radikalisme dalam artian bahasa
berarti paham atau aliran yang mengingikan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara
kekerasan atau drastis. Namun, dalam artian lain, esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam
mengusung perubahan. Sementara itu radikalisme menurut pengertian lain adalah inti dari perubahan itu
cenderung menggunakan kekerasan. Yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang
berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka.
Sementara Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari
perdamaian Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan
agama, paham keagamaan serta paham politik.

Dawinsha mengemukakan defenisi radikalisme menyamakannya dengan teroris.Tapi ia sendiri


memakai radikalisme dengan membedakan antara keduanya. Radikalisme adalah kebijakan dan
terorisme bagian dari kebijakan radikal tersebut. defenisi Dawinsha lebih nyata bahwa radiklisme itu
mengandung sikap jiwa yang membawa kepada tindakan yang bertujuan melemahkan dan mengubah
tatanan kemapanan dan menggantinya dengan gagasan baru.

Makna yang terakhir ini, radikalisme adalah sebagai pemahaman negatif dan bahkan bisa menjadi
berbahaya sebagai ekstrim kiri atau kanan.

3.1.2 Penggunaan Istilah Radikalisme

Lukman hakim seorang ilmuan yang menjabat Wakil Kepala Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI)
dalam kata pengantar buku berjudul Islam dan Radikalisme di Indonesia menjelaskan bahwa
radikalisme digunakan oleh media massa, ataupun para pengamat dan akademisi diarahkan pada
gerakan-gerakan islam politik yang berkonotasi negatif. Radikalisme disamakan dengan kata Ekstrem,
militan, non toleran anti barat dan anti barat.

Pasca peristiwa serangan 11 september 2001, istilah radikalisme bercampur aduk dengan istilah
fundamentalis, terorisme. Secara umum dapat dilihat bahwa radikalisme, fundamentalisme dan
terorisme dijadikan istilah untuk menghina atau melecehkan kelompok-kelompok islam yang
memperjuangkan nilai-nilai atau semangat islam dalam tatanan sistem kehidupan.

Munculnya istilah radikalisme yang dikonotasikan negatif bukan tanpa alasan, karena banyak
fenomena sebagian kecil masyarakat khusunya umat islam, dalam melakukan gerakan atau merespon
kebijakan dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol islam, bahkan gerakan kelompok yang
menggunakan simbol-simbol islam juga sering melakukan aksi yang anarkis dengan cara merusak tempat-
tempat umum, misalnya melakukan sweeping, menghancurkan tempat hiburan malam, merusak tempat-
tempat umum yang dianggap salah menurut kaca mata mereka sendiri tanpa memperhatikan etika dan
norma hukum yang berlaku. Misalnya, ingin memberantas kemaksiatan dilakukan dengan cara
menyerang atau merusak tempat-tempat kemaksiatan tersebut, ingin menegakkan dan menjaga kesucian

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 4 of 16


bulan suci ramadhan dilakukan dengan cara intimidasi para pedagang yang berjualan disiang hari, ingin
meluruskan ajaran islam yang dianggap menyimpang atau sesat dilakukan dengan cara menyerang lokasi
atau tempat komunitas masyarakat yang dianggap memiliki ajaran yang menyimpang. Ingin mati sahid
dilakukan dengan cara aksi bom bunuh diri yang diarahkan kepada orang-orang yang belum tentu
bersalah, ingin melawan kedholiman bangsa amerika, tetapi dilakukan dengan cara menyerang tempat
atau lokasi yang didalamnya belum tentu ada orang amerika, sehingga yang menjadi korban lebih banyak
umat islam dan bukan bangsa amerika. Ingin melawan orang-orang kafir tetapi dilakukan dengan cara
menyerang terhadap aparat keamanan (polisi).

3.1.3 Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Gerakan Radikalisme

Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki
latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-
faktor itu adalah :

Pertama, faktor-faktor sosial-politik. Gejala kekerasan agama lebih tepat dilihat sebagai gejala
sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut sebagai
radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam
kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa
memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama
munculnya radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh
kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri
dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik. Dalam hal ini kaum radikalisme
memandang fakta historis bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga
menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi.

Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum radikalis mencoba
menyentuh emosi keagamaan dan menggalang kekuatan untuk mencapai tujuan mulia dari politiknya.
Tentu saja hal yang demikian ini tidak selamanya dapat disebut memanipulasi agama karena sebagian
perilaku mereka berakar pada interpretasi agama dalam melihat fenomena historis. Karena dilihatnya
terjadi banyak Islam dan Wacana [Syamsul Bakri] penyimpangan dan ketimpangan sosial yang
merugikan komunitas Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme yang ditopang oleh sentimen dan
emosi keagamaan.

Kedua, faktor emosi keagamaan. Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme
adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan
yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi
keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu
mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati syahid. Dalam
konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang
sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.

Ketiga, faktor kultural. Ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya
radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asyari bahwa
di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring
kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah
sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang
dianggab sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan
adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknyaatas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 5 of 16


sekarang ini merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia yang telah dengan sengaja
melakukan proses marjinalisasi seluruh sendi-sendi kehidupan muslim sehingga umat Islam menjadi
terbelakang dan tertindas.

Keempat, faktor ideologis anti westernisme. Westernisme merupakan suatu pemikiran yang
membahayakan Muslim dalam mengaplikasikan syariat Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus
dihancurkan demi penegakan syariat Islam. Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisa
disalahkan dengan alasan keyakinan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme
justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya
dan peradaban.

Kelima, faktor kebijakan pemerintah. Ketidakmampuan pemerintahan di negara-negara Islam


untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat Islam
disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit
pemerintah di negeri-negeri Muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab
munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang
dihadapi umat. Di samping itu, faktor media massa (pers) Barat yang selalu memojokkan umat Islam juga
menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-
propaganda lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk ditangkis sehingga
sebagian ekstrim yaitu perilaku radikal sebagai reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas
Muslim.

3.1.4 Asal Kemunculan Radikalisme

Sejarah kemunculan gerakan radikalisme dan kelahiran kelompok fundamentalisme dalam islam
lebih di rujuk karena dua faktor, yaitu:

1. Faktor internal

Faktor internal adalah adanya legitimasi teks keagamaan, dalam melakukan perlawanan itu sering
kali menggunakan legitimasi teks (baik teks keagamaan maupun teks cultural) sebagai penopangnya.
untuk kasus gerakan ekstrimisme islam yang merebak hampir di seluruh kawasan islam (termasuk
indonesia) juga menggunakan teks-teks keislaman (Alquran, hadits dan classical sources kitab kuning)
sebagai basis legitimasi teologis, karena memang teks tersebut secara tekstual ada yang mendukung
terhadap sikap-sikap eksklusivisme dan ekstrimisme ini.

Faktor internal lainnya adalah dikarenakan gerakan ini mengalami frustasi yang mendalam karena
belum mampu mewujudkan cita-cita berdirinya negara islam internasional sehingga pelampiasannya
dengan cara anarkis; mengebom fasilitas publik dan terorisme.Harus diakui bahwa salah satu penyebab
gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas
keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan
sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama.

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal terdiri dari beberapa sebab di antaranya :

pertama, dari aspek ekonomi politik, kekuasaan depostik pemerintah yang menyeleweng dari nilai-
nilai fundamental islam. Itu artinya, rezim di negara-negara islam gagal menjalankan nilai-nilai idealistik
islam. Rezim-rezim itu bukan menjadi pelayan rakyat, sebaliknya berkuasa dengan sewenang-wenang

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 6 of 16


bahkan menyengsarakan rakyat. Penjajahan Barat yang serakah, menghancurkan serta sekuler justru
datang belakangan, terutama setelah ide kapitalisme global dan neokapitalisme menjadi pemenang. Satu
ideologi yang kemudian mencari daerah jajahan untuk dijadikan pasar baru. Industrialisasi dan
ekonomisasi pasar baru yang dijalankan dengan cara-cara berperang inilah yang sekarang hingga
melanggengkan kehadiran fundamentalisme islam.

Kedua, faktor budaya, faktor ini menekankan pada budaya barat yang mendominasi kehidupan saat
ini, budaya sekularisme yang dianggap sebagai musuh besar yang harus dihilangkan dari bumi.

Ketiga, faktor sosial politik, pemerintah yang kurang tegas dalam mengendalikan masalah teroris ini
juga dapat dijadikan sebagai salah satu faktor masih maraknya radikalisme di kalangan umat islam.

3.2 Radikalisme Ditinjau Dari Ideologi Pancasila

3.2.1 Hubungan Antara Radikalisme Dan Ideologi Pancasila

Keberhasilan membuat perangkat hukum yang baik belum tentu memberikan dampak positif dalam
mewujudkan maksud dan tujuan hukum. Sebagus apapun produk hukum formal yang ada tidak akan ada
artinya tanpa disertai penerapan yang baik. Ironisnya, Indonesia dipandang sebagai negara yang pandai
membuat perangkat hukum namun masih lemah penerapannya. Hal ini jika dibiarkan akan
mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hukum itu sendiri.

Mengapa radikalisme masih tetap berlanjut di Indonesia, padahal Indonesia memiliki Pancasila
sebagai ideologi? kehadiran radikalisme seakan menggerus ideologi Pancasila yang selama ini dijadikan
landasan hidup bagi masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.

Sumber pokok kesalahan tidak terletak pada Pancasila. Tak ada yang salah dengan Pancasila karena
isi Pancasila tidak melenceng dari nilai-nilai yang ada. Kesalahan yang sesungguhnya terletak pada
penerapan Pancasila sebagai ideologi. Hal itu terjadi karena banyaknya orang Indonesia tidak dapat
menerapkan nilai-nilai Pancasila dengan benar. Terlebih para teroris, mereka adalah orang-orang yang
tidak konsisten dalam melaksanakan isi Pancasila. Mereka mengerti dan memahami Pancasila namun
tidak menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Pertanyaan muncul dibenak kita: kenapa segelintir bangsa Indonesia menjadi rusak sehingga
kehilangan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang pernah muncul dengan nama harum di dunia, antara
lain sebagai pemersatu Negara-Negara dunia ke-tiga, penggagas Konfrensi Asia-Afrika, duta perdamaian
dan banyak lagi contoh yang lain. Bahkan sekarang julukan yang tidak enak didengar mampir ditelinga
kita, sebagai Negara sarang teroris.

Radikalisme di Indonesia muncul di saat yang sama dengan dekade, di mana bangsa ini melupakan
Pancasila. Tidak pernah lagi Pancasila benar-benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal para pendiri NKRI sejak awal menyatakan bahwa penyelamat, pemersatu, dan dasar Negara kita
adalah Pancasila.

Bung Karno tegas-tegas berkata: Bila bangsa Indonesia melupakan Pancasila, tidak melaksanakan
dan mengamalkannya maka bangsa ini akan hancur berkeping-keping juga dinyatakan bahwa barang
siapa, atau kelompok manapun yang hendak menentang atau membelokkan Pancasila, niscaya akan
binasa.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 7 of 16


Tapi itulah yang terjadi sekarang. Pancasila hanya diucapkan dibibir saja. Diajarkan di sekolah-
sekolah hanya sebagai suatu pengetahuan. Sebagai sebuah sejarah, bahwa dahulu Bung Karno pernah
mendengung-dengungkan Pancasila sebagai dasar Negara. Para siswa hafal dengan urutan sila-sila dari
Pancasila, tetapi tidak paham artinya, filosofinya, dan hakekat manfaatannya bagi kehidupan berbangsa
dan bertanah air satu, NKRI.

Radikalisme di Indonesia tumbuh subur karena didukung oleh perilaku sebagian masyarakat yang
bertentangan dengan filosofi Pancasila. Setiap sila telah diselewengkan: Ketuhanan Yang Maha Esa yang
memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memeluk agama menurut keyakinan dan
kepercayaannya, telah diracuni oleh pemikiran-pemikiran salah yang hanya mengistimewakan agama
tertentu saja.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, berupa penghargaan akan harkat dan martabat kemanusiaan,
yang diwujudkan dengan penghargaan terhadap hak azasi manusia diabaikan.

Ideologi Pancasila menjunjung tinggi persatuan bangsa dengan menempatkan terwujudnya


persatuan bangsa itu di atas kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, kini tercabik-cabik ditarik ke sana
kemari demi kepentingan politik praktis.

Dan terakhir, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tinggal slogan kosong karena adanya
jurang pemisah yang amat dalam antara si-kaya dan si-miskin, yang menimbulkan kecemburuan sosial.

Namun sebagai sebuah bangsa yang besar, kita wajib menyadari bahaya ini. Jika dibiarkan, tak ayal
bangsa Indonesia akan terpecah-pecah dan akhirnya musnah. Belum terlambat benar untuk berbenah.
Kembali pada kekeramatan Pancasila.

3.2.2 Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Menghadapi Radikalisme

Dalam masa orde baru, untuk menanamkan dan memasyarakatkan kesadaran akan nilai nilai
Pancasila dibentuk satu badan yang bernama BP7. Badan tersebut merupakan penanggung jawab
(leading sector) terhadap perumusan, aplikasi, sosialisasi, internalisasi terhadap pedoman penghayatan
dan pengamalan Pancasila, dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.

Saat ini Pancasila adalah ideologi yang terbuka, dan sedang diuji daya tahannya terhadap

gempuran, pengaruh dan ancaman ideologi-ideologi besar lainnya, seperti liberalisme (yang menjunjung
kebebasan dan persaingan), sosialisme (yang menekankan harmoni), humanisme (yang menekankan
kemanusiaan), nihilisme (yang menafikan nilai-nilai luhur yang mapan), maupun ideologi yang berdimensi
keagamaan.

Pancasila, sebagai ideologi terbuka pada dasarnya memiliki nilai-nilai universal yang sama dengan
ideologi lainnya, seperti keberadaban, penghormatan akan HAM, kesejahteraan, perdamaian dan
keadilan. Dalam era globalisasi, romantisme kesamaan historis jaman lalu tidak lagi merupakan pengikat
rasa kebersamaan yang kokoh. Kepentingan akan tujuan yang akan dicapai lebih kuat pengaruhnya
daripada kesamaan latar kesejarahan. Karena itu, implementasi nilai-nilai Pancasila, agar tetap aktual
menghadapi ancaman radikalisme harus lebih ditekankan pada penyampaian tiga message berikut :

a. Negara ini dibentuk berdasarkan kesepakatan dan kesetaraan, di mana di dalamnya tidak boleh ada
yang merasa sebagai pemegang saham utama, atau warga kelas satu.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 8 of 16


b. Aturan main dalam bernegara telah disepakati, dan Negara memiliki kedaulatan penuh untuk
menertibkan anggota negaranya yang berusaha secara sistematis untuk merubah tatanan, dengan cara-
cara yang melawan hukum.

c. Negara memberikan perlindungan, kesempatan, masa depan dan pengayoman seimbang untuk
meraih tujuan nasional masyarakat adil dan makmur, sejahtera, aman, berkeadaban dan merdeka.

Nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945 yang harus tetap diimplementasikan itu adalah:

Kebangsaan dan persatuan


Kemanusiaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia
Ketuhanan dan toleransi
Kejujuran dan ketaatan terhadap hukum dan peraturan
Demokrasi dan kekeluargaan

Ketahanan Nasional merupakan suatu kondisi kehidupan nasional yang harus diwujudkandan
dibina secara terus menerus secara sinergis dan dinamis mulai dari pribadi, keluarga, lingkungan dan
nasional yang bermodalkan keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan pengembangan
kekuatan nasional.

Salah satu unsur ketahanan nasional adalah Ketahanan Ideologi. Ketahanan Ideologi
perluditingkatkan dalam bentuk :

Pengamalan Pancasila secara objektif dan subjektif


Aktualisasi, adaptasi dan relevansi ideologi Pancasila terhadap nilai-nilai baru
Pengembangan dan penanaman nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam seluruh kehidupan
berbangsa, bermasyarakat.

3.2.3 Pokok-Pokok Persoalan Radikalisme

Nilai-nilai Pancasila dewasa ini tidak diimplementasikan secara murni dan konsekuen baik secara
pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara sehingga Indonesia. Adanya
ancaman radikalisme, terorisme dan separatisme, merupakan salah satu resultannya, yang berakibat
ketahanan ideologi tidak terbina dengan baik, yang pada akhirnya mempengaruhi ketahanan nasional.

Pokok-pokok persoalan tersebut adalah :

1) Masyarakat acuh dan kurang sosialisasi Pancasila dan UUD NRI 1945

De-Pancasila isme pada awal era reformasi


Ideologi non Pancasila dalam organisasi massa/ organisasi politik
Masyarakat acuh terhadap lingkungan sosialnya

2) Keteladanan Penyelenggara Negara yang memprihatinkan

Korupsi yang masif pada sebagian penyelenggara negara


Loyalitas ganda penyelenggara negara
Kompetensi penyelenggara negara yang lemah

3) Penegakan hukum dan peraturan yang lemah dan tidak adil

Diskriminasi dalam penegakan hukum

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 9 of 16


Peraturan di berbagai sektor dan hierarki yang tidak sinkron serta bertentangan
Toleransi terhadap penghujatan dan yang bersimpati terhadap perongrong kewibawaan
Pemerintah dan Ideologi Negara

4) Media massa yang kurang mendidik

Pemberitaan media yang bias dan kurang berimbang


Liputan yang melampaui batas etika
Ruang yang tersedia untuk pandangan yang tidak sejalan dengan ideologi Pancasila

3.2.4 Pokok-Pokok Pemecahan Persoalan Radikalisme

Pokok-pokok pemecahan persoalan tersebut adalah :

1) Masyarakat acuh dan kurang sosialisasi Pancasila dan UUD NRI 1945

Mensosialisasikan secara terstruktur, terlembaga dan berkelanjutan mengenai pemahaman dan


pengamalan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945
Melarang Ideologi non Pancasila dalam organisasi massa/ organisasi politik
Mendorong keaktivan dan kepekaan masyarakat terhadap lingkungan sosialnya

2) Penyelenggara Negara yang tdk terteladani ( ada kemunafikan)

Mewajibkan Penyelenggara Negara untuk mengumumkan dan membuktikan sumber-sumber


kekayaannya
Membuat aturan terkait loyalitas ganda penyelenggara negara
Pengisian Jabatan penyelenggara negara berdasarkan standar dan aturan yang didasarkan pada
kompetensi akseptabilitas, integritas dan jenjang pengalaman penugasan

3) Penegakan hukum dan peraturan yang lemah dan tidak adil

Penegakan hukum secara adil, konsisten, serta memenuhi akuntabilitas publik


Harmonisasi peraturan di berbagai sektor dan persetujuan hierarkis oleh lapisan birokrasi di
atasnya
Meminta pertanggungjawaban hukum atas pendapat dan simpati yang diberikan berbagai
kalangan dan perorangan kepada perongrong kewibawaan Pemerintah dan Ideologi Negara

4) Media massa yang terlalu liberal

Alih-alih sebagai pilar demokrasi, dalam beberapa hal media massa saat ini telah menjelma atau
terjelma menjadi monster penebar dan penyebar kebencian dan perongrong kewibawaan negara.

a. Mengatur proporsi kepemilikan dan luas lingkup media.

i). Kepemilikan ganda media massa, seperti TV, radio dan media cetak yang ada pada kelompok-
kelompok tertentu, pada dasarnya tidak memberi keseimbangan ruang demokrasi politik dan
ekonomi.. Di Indonesia saat ini, beberapa media TV, radio dan media cetak, dikuasai kelompok-
kelompok tertentu. Hal ini dapat menjadi kekuatan oligarkis, monopolistis, dan liberalis Di Negara
maju demokratis saja, seperti US dan Australia ada pengaturan dan pelarangan cross ownership.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 10 of 16


ii) Pengaturan zona peliputan. TV harus memiliki jaringan TV lokal. Sudah saatnya diberlakukan
zoning. Media TV harus ada yang menjadi media nasional, dan media lokal. Hal ini akan memberikan
beberapa kemanfaatan yaitu :

(1) Menghidupkan ekonomi, dan budaya lokal. Tidak semua centralized focus

(2) Mengurangi dominasi agenda setter dan news setter. Berita daerah yang dimuat secara
nasional secara terus menerus, dapat dianggap sebagai berita nasional yang sifatnya distortif

(3) Mengurangi biaya politik kampanye. Kampanye pilkada di TV nasional misalnya, adalah sesuatu
yang absurd.

b. Pengetatan penerapan kode etik peliputan dan pemberitaan batas etika.

i.) Media massa tidak boleh memiliki kebebasan yang tanpa etika. Peliputan media massa yang tidak
seimbang antara pesan-pesan Pemerintah dengan pesan aroganisme penentang kebijakan
Pemerintah harus dibatasi.

ii.) Membatasi pemuatan pendapat dan liputan yang dapat menimbulkan sentimen SARA serta
memberdayakan redaksi untuk self-censorship

c. Wajib relay berita nasional

i) Media massa wajib merelay Pemberitaan Pemerintah, secara berkala pada jam yang sama

ii) Materi pemberitaan kesadaran berbangsa, beretika harus ada. Terorisme brainwashing yang saat
ini masuk secara bebas ke ruang publik dan privat melalui TV yang mengedepankan konsumerisme,
hedonisme, kekerasan harus dihilangkan.

iii) Media massa wajib mengalokasikan waktu dan prime time untuk menyiarkan produksi sendiri
yang memiliki nilai-nilai kebangsaan, dan program Pemerintah dengan biaya sendiri

Media massa saat ini menikmati bonus demokrasi yang luar biasa. Sudah saatnya media massa
berterima kasih kepada Negara, Pemerintah dan masyarakat dengan membuat program layanan sosial
yang mendidik dan konstruktif.

3.2.5 Membentengi Pemuda Dari Radikalisme

Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan negeri ini bertumpu padankualitas
mereka. Namun ironisnya, kini tak sedikit kaum muda yang justru menjadi pelaku terorisme. Serangkaian
aksiterorisme mulai dari Bom Bali-1, Bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-
Carlton,hingga aksi penembakan Pos Polisi Singosaren di Solo dan Bom di Beji dan Tambora, melibatkan
pemuda. Sebut saja, Dani Dwi Permana, salah satu pelaku Bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, yang
saat itu berusia 18 tahun dan baru lulus SMA.

Fakta di atas diperkuat oleh riset yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP).
Dalam risetnya tentang radikalisme di kalangan siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di
Jabodetabek, pada Oktober 2010-Januari 2011, LaKIP menemukan sedikitnya 48,9 persen siswa
menyatakan bersedia terlibat dalam aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral.

Rentannya pemuda terhadap aksi kekerasan dan terorisme patut menjadi keprihatinan kita
bersama. Banyak faktor yang menyebabkan para pemuda terseret ke dalam tindakan terorisme, mulai

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 11 of 16


dari kemiskinan, kurangnya pendidikan agama yang damai, gencarnya infiltrasi kelompok radikal,
lemahnya semangat kebangsaan, kurangnya pendidikan kewarganegaraan, kurangnya keteladanan, dan
tergerusnya nilai kearifan lokal oleh arus modernitas negatif.

Untuk membentengi para pemuda dan masyarakat umum dari radikalisme dan terorisme, Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menggunakan upaya pencegahan melalui kontra-radikalisasi
(penangkalan ideologi). Hal ini dilakukan dengan membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme
(FKPT) di daerah, Pelatihan anti radikal-terorisme bagi ormas, Training of Trainer (ToT) bagi sivitas
akademika perguruan tinggi, serta sosialiasi kontra radikal terorisme siswa SMA di empat provinsi.

ada beberapa hal yang patut dikedepankan dalam pencegahan terorisme di kalangan pemuda :

Pertama, memperkuat pendidikan kewarganegaraan (civic education) dengan menanamkan


pemahaman yang mendalam terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI,
dan Bhineka Tunggal Ika. Melalui pendidikan kewarganegaraan, para pemuda didorong untuk
menjunjung tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan kearifan lokal
seperti toleransi antar-umat beragama, kebebasan yang bertanggung jawab, gotong royong,
kejujuran, dan cinta tanah air serta kepedulian antar-warga masyarakat.
Kedua, mengarahkan para pemuda pada beragam aktivitas yang berkualitas baik di bidang
akademis, sosial, keagamaan, seni, budaya, maupun olahraga.
Ketiga, memberikan pemahaman agama yang damai dan toleran, sehingga pemuda tidak mudah
terjebak pada arus ajaran radikalisme. Dalam hal ini, peran guru agama di lingkungan sekolah
dan para pemuka agama di masyarakat sangat penting.
Keempat, memberikan keteladanan kepada pemuda. Sebab, tanpa adanya keteladanan dari para
penyelenggara negara, tokoh agama, serta tokoh masyarakat, maka upaya yang dilakukan akan
sia-sia.

3.3 Islam Dan Pancasila

Pancasila dilihat dari perspektif dasar Negara dan filosofi kehidupan bangsa Indonesia dapat
dikatakan sudah final, artinya mendiskusikan tentang pancasila sudah selesai dan tinggal bagaimana
mengimplementasikan kedalam nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Mendiskusikan pancasila
sebagai dasar Negara dan filosofi kehidupan berbangsa menjadi tidak perlu karena secara normatife
pancasila tidak ada yang pantas diragukan. Lima sila memuat pesan yang sangat mulia.

Manakala dilihat dari perspektif realitas sikap dan prilaku bangsa Indonesia, pancasila pantas untuk
direnungkan, dikaji dan didiskusikan mengenai adanya kesenjangan (gap) antara isi atau pesan yang ada
didalam pancasila dengan realitas sikap dan prilaku masyarakat Indonesia.

Ditengah bangsa Indonesia memiliki landasan kehidupan bernegara yang sangat baik, tepat, santun
dan damai, justru banyak fenomena bangsa Indonesia yang memiliki sikap dan prilaku yang tidak sesuai
dengan pesan agama islam maupun isi dari pancasila. Anarkisme, in-toleransi, an-pluralisme, tawuran
bahkan masih ada sedikit kelompok yang memiliki keyakinan pentingnya pemberlakuan Negara Islam
(khilafah). Bahkan sangat memprihatinkan jika masih ada sekelompok masyarakat yang memiliki
keyakinan bahwa memberlakukan Negara Islam merupakan perjuangan Islam dan sesuai dengan amanat
al-Quran maupun hadits.

Membandingkan antara islam dan pancasila merupakan sesuatu yang tidak tepat, karena keduanya
bukan sesuatu obyek yang tidak bisa dibandingkan. Islam adalah doktrin yang sangat universal sementara

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 12 of 16


pancasila adalah doktrin local (Indonesia). Isi pancasila merupakan cerminan dari islam, yaitu apa yang
dikonsepkan dalam pancasila hasil dari pesan atau nilai-nilai yang terkandung didalam Islam.

Isi atau pesan dalam pancasila sudah ada sejak lama didalam Islam, oleh sebab itu menjalankan
pancasila juga dapat dikatakan menjalankan sebagian dari ajaran Islam. Islam mengajarkan pentingnya
ketuhanan (tauhid), begitu jupa sila pancasila pada sila perta juga mengharuskan mengakui keesaan
tuhan. Islam setelah mengajarkan tauhid (syahadat) mewajibkan sholat, dimana sholat merupakan
amalan yang lebih banyak mengandung makna social. Pancasila pada sila kedua juga mengharuskan
pentingnya kemanusiaan. Islam sangat menjunjung tinggi persatuan, keadilan dan demokrasi. Begitu juga
pancasila sangat memperhatikan aspek persatuan dan keadilan social dan demokrasi.

Berdasarkan asumsi tersebut, dapat dikatan setiap umat islam sudah sangat familiar terhadap
pancasila, sehingga setiap sikap dan perilakunya harus sesuai dengan pesan agama Islam dan juga sila
yang ada di dalam pancasila.

Islam dengan pancasila memiliki hubungan yang beraneka ragam, tergantung dari kualitas cara fikir
atau pemahaman bangsa Indonesia. Hubungan Islam denga pancasila menjelma kedalam berbagai
bentuk, antara: Pertama Hubungan dualistic atau vis a vis yaitu Islam dan pancasila diposisikan
berhadap-hadapan baik berhadapan secara negatif. Pemahaman seperti ini melahirkan diskursus tentang
pentingnya Negara Islam, karena pancasila dianggap belum mampu menjadi solusi dalam berbangsa dan
bernegara. Kedua Hubungan monolistik, yaitu Islam dan pancasila dianggap menyatu, Islam adalah
pancasila dan pancasila juga Islam. Pemahaman ini menyebabkan adanya pencampuradukkan antara
beragama dan bernegara. Ketiga Hubungan siklus yaitu memposisikan Islam dan pancasila memiliki
keterkaitan yang saling interaktif dan interdependentif. Artinya Islam dan pancasila saling mengisi dan
melengkapi dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Salah Faham Doktrin

Ada dua doktrin atau konsep didalam Islam yang memiliki peluang mudah dipahami salah satu
menyimpang sehingga berimplikasi munculnya sikap atau perilaku anarkis atau radikalisme. Dua doktrin
atau konsep itu adalah Amar maruf nahi mungkar dan jihad.

Amar makruf nahi mungkar (alamru bi-maruf wannahyuanil-munkar) adalah sebuah frasa dalam
bahasa arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan
mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. Frasa ini dalam syariat Islam hukumnya dalah wajib. Dalil
amar maruf nahi mungkar adalah pada surah luqman, yang berbunyi sebagai berikut :

Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka
dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadapa apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan. (Q.S. Luqman: 17).

Hendaklah kamu beramar maruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang
perbuatan jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat
diantara kamu, kemudian orang-orang uang baik-baik diantara kamu berdoa dan tidak dikabulkan (doa
mereka). (HR. Abu Dzar).

Doktrin ini mengandung dorongan atau motivasi untuk melakukan aksi menuju kebaikan, tetapi
doktin ini harus dipahami secara kontekstual dan komprehensif. Jika tidak akan mudah menimbulkan
potensi anarkisme. Untuk memahami doktrin secara utuh maka perlu memenuhi persyaratan untuk
melakukan amar maruf nahi mungkar sebagai berikut: Pertama Mengetahui bahwa apa yang dia

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 13 of 16


perintahkan adalah hal yang maruf (baik), juga mengetahui apa yang dia larang adalah betul hal yang
tercela. Kedua Tidak boleh mencegah kemungkaran yang berakibat kepada kemungkaran yang lebih
besar. Ketiga Pelaku mampu untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar tanpa menimbulkan
bahwa yang akan menimpanya. Ke empat Pelaku amar maruf dan nahi mungkar wajib melakukan apa
yang ia perintahkan atau yang ia larang.

Selain amar maruf, jihad juga sering jadi konsep yang memiliki peluang untuk melahirkan sikap dan
prilaku yang anarkis. Ibnu Abbas berkata: jihad adalah mencurahkan kemampuan padanya dan tidak
takut karena Allah terhadap celaan orang yang suka mencela. Abdullah Ibnul Mubarak berkata; jihad
adalah melawan diri sendiri dan hawa nafsu. Dalah tinjauan syariat Islam (pengertian secara umum),
jihad juga diistilahkan kepada mujahadatu nafs (jihad melawan diri sendiri), mujahadatusy ayaithan (jihad
melawan syaitan), mujahadatul kufar (jihad melawan orang-orang kafir) dan mujahadatul munafikin
(jihad melawan munafik).

Jihad tidak identik dengan perang melawan orang yang dianggap kafir atau orang kafir, jihad lebih
mengarah kepada optimalisasi proses atau kegiatan untuk memperoleh sesuatu yang baik atau
mashlahah bermanfaat) yang dilakukan dengan cara-cara yang kontekstual. Jihad pada dasarnya memiliki
hukum fardhu kifayah, tetapi berubah menjadi fardhu ain, jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Pertama, apabila bertemu dengan musuh yang sedang menyerang. Hal ini sesuai dengan firman Allah
SWT, hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang
menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi
mereka (mundur) diwaktu itu, kecuali membelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri
dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari
Allah dan tempatnya ialah mereka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (Al-Anfal; 15-16).
Kedua, apabila negerinya dikepung oleh musuh. (dalam keadaan ini wajib atas penduduk negeri tersebut
untuk mempertahankan negerinya, keadaan ini serupa dengan orang yang berada dibarisan peperangan.

Sebab apabila musuh mengepung suatu negeri, tidak ada jalan bagi penduduknya kecuali untuk
membela dan mempertahankannya. Dalam hal ini musuh juga akan menahan penduduk negeri tersebut
untuk keluar dan mencegah masuknya bantuan baik berupa personil, makanan, dan yang lainnya. Karena
wajib atas penduduk negeri untuk berperang melawan musuh sebagai bentuk pembelaan kepada negeri.
Ketiga, apabila diperintah oleh imam. Apabila seorang diperintah oleh seorang imam untuk berijtihad,
hendaknya ia mentaatinya. Imam dalam hal ini adalah pemimpin tertinggi negara dan tidak disyaratkan ia
sebagai imam secara umum bagi kaum muslimin semuanya, Allah berfirman: Hai orang-orang yang
beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan
Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia
sebagai ganti kehidupan diakhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini di bandingkan dengan
kehidupan akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan
menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan diganti-Nya kamu yang lain, dan kamu tidak dapat memberi
kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah maha kuasa atas segala sesuatu. (At-Taubah: 38-39).

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 14 of 16


BAB IV

PENUTUPAN
4.1 Kesimpulan

Radikalisme itu adalah suatu perubahan sosial dengan jalan kekerasan, meyakinkan dengan satu
tujuan yang dianggap benar tapi dengan menggunakan cara yang salah. Fenomena meningkatnya
tindakan radikalisme dikarenakan dangkalnya pemahaman terhadap Agama dan Pancasila. Oleh karena
itu, dibutuhkan pengimplementasian terhadap nilai-nilai Pancasila dan pembentengan para pemuda dari
radikalisme. Radikalisme muncul disebabkan adanya faktor ideologi dan non ideologi seperti ekonomi,
dendam dan sakit hati. Faktor yang paling sulit diberantas dalam jangka waktu yang singkat dan
memerlukan pemikiran yang matang adalah faktor ideologi karena menyangkut keyakinan. Upaya
mendasar yang paling efektif utuk menanngkal ideologi radikalisme global adalah dengan memperkuat
ketahanan nasional dalam bidang ideologi, mengkaji pola pikir yang paling dalam dari ideologi
radikalisme global tersebut dan membuktikan kekeliruan dan kelemahan dalil-dalil yang dianutnya bukan
saja dari aspek internal tetapi juga dari aspek eksternalnya, dengan meniadakan kondisi yang
memungkinkan tumbuh dan bekembangnya ideologi tersebut, Mengambil tindakan preventif serta
represif yang tepat dan cepat yang terkait dengan fundamentalisme keagamaan khususnya agama islam
perlu difasilitatsi dengan upaya alim ulama. Jenis-jenis radikalisme dapat dibedakan berdasarkan
perbedaan perspektif politik, perspektif budaya, perspektif agama, perspektif ekonomi dan perspektif
sosiologis. Manfaat dari pluralisme adalah mengajak warga negara agar dapat membangkitkan sifat
pengharagaan antara satu ras dengan ras lainnya, antara etnik atau suku yang satu, dengan suku lainnya,
antara pengikut agama yang satu dengan agama lainnya, antara golongan yang satu dengan lainnya.

Untuk menangkal paham radikal tersebut adalah dengan mengembalikan dan menguatkan kembali
nilai-nilai dasar Pancasila ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanpa bermaksud
mengenyampingkan sila-sila lainnya, makna Pancasila dalam sila pertama dan kedua telah menyiratkan
agar masyarakat Indonesia berketuhanan, menghargai perbedaan pandangan agama dan bersikap adil
sesesama manusia. Secara umum makna Sila Pertama, menuntut setiap warga negara mengakui Tuhan
Yang Maha Esa sebagai pencipta dan tujuan akhir, baik dalam hati dan tutur kata maupun dalam tingkah
laku sehari-hari. Konsekuensinya adalah Pancasila menuntut umat beragama dan kepercayaan untuk
hidup rukun walaupun berbeda keyakinan. Sila Kedua, mengajak dan menghimbau masyarakat untuk
mengakui dan memerlakukan setiap orang sebagai sesama, menjunjung tinggi martabat dan hak-hak
asasinya, bertindak adil dan beradap terhadap sesama.

4.2 Saran

Sebagai bangsa yang cerdas di Negara yang merdeka dan berdaulat, hendaklah selalu mawas diri dan
menyadari bahwa sampai saat ini negara kita masih terus dirongrong oleh kelompok kelompok
separatis dan radikalis yang ingin menguasai Negara kita dan membuat Negara ini terpecah belah,
kelompok radikalis itu menghembuskan isu dan dalih bahwa pergerakan mereka sebagai aksi nyata dalam
menegaknya Hak Asasi Manusia ataupun sebagai misi dalam penyebaran suatu paham yang dibenarkan
oleh ajaran yang mereka anut, maka dari itu sebagai warga Negara Indonesia yang baik dan mencintai
tanah airnya, mari bahu membahu bersatu padu untuk selalu menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia dengan mengamalkan apa yang diamanatkan dan menjadi dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Pancasila, dan pancasila adalah penangkal radikalisme di negara yang
ber-bhineka. Disinilah peran pancasila sebagai ideologi negara dapat mengatasi hal tersebut, agar tidak
terjadi perpecahan terutama yang dilatarbelakangi oleh keyakinan.

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 15 of 16


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Radikalisme

https://damailahindonesiaku.com/ideologi-pancasila-menangkal-radikalisme.html

https://ian2212.wordpress.com/2013/06/23/radikalisme-dan-terorisme-di-indonesia/

http://nasional.kompas.com/read/2017/01/14/16575541/radikalisme.dan.pancasila?page=all

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/03/27/onh8yv366-yenny-wahid-
radikalisme-di-indonesia-meningkat

http://notonogoro.com/agama-akhlak-pancasila-dan-radikalisme

http://www.sarjanaku.com/2011/05/pancasila-sebagai-ideologi-negara.html

http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/lapsus_radikalisasi_anak_muda

http://www.muslimedianews.com/2014/10/hubungan-pancasila-dan-islam-yang.html

http://www.nu.or.id/post/read/69585/akar-sejarah-dan-pola-gerakan-radikalisme-di-indonesia

Pancasila Sebagai Penangkal Radikalisme |Page 16 of 16