You are on page 1of 5

Macam-macam Jenis Crepe berdasarkan standar mutunya

1) White Crepe Pale Crepe


Crepe jenis ini memiliki warna putih atau muda, ada yang tebal dan ada pula yang tipis.

2) Estate Brown Crepe


crepe ini memiliki warna coklat muda, biasanya diproduksi oleh perkebunan-perkebunan
besar. Dibuat dari bahan-bahan yang kurang baik, seperti sisa lateks, lump, atau koagulum
yang berasal dari prokoagulasi, serta scrap atau lateks kebun yang sudah kering dibidang
penyadapan.
3) Thick Blanket Crepe Ambers
Thick Blanket Crepe Ambers adalah Crepe Blanket yang tebal dangan warna coklat, dan
terbuat dari slab basah, sheet tanpa pengasapan, lump, dan scrap dari perkebunan besar atau
kebun rakyat yang baik mutunya.

4) Flat Bark Crepe


Flat Bark Crepe adalah karet tanah atau earth rubber, yakni crepe yang dihasilkan dari karet
alam yang belum diolah, termasuk scrap tanah yang berwarna hitam. Karet ini harus kering
dangan warna coklat tua sampai kehitaman dan bertekstur sedang hingga lembek. Tidak
diperbolehkan adanya kelenturan, bekas panas, pasir, lumpur, dan pengepakan tidak bersih.
5) Pure Samoked Blanket Crepe
Crepe ini didapatkan dari penggilingan karet asap yang berasal dari ribbed smoked sheet,
termasuk karet bongkah atau block sheet dan sisa potongannya. Standar mutunya adalah
kering, bersih, kuat, liat, dan berbau karet asap yang khas. Warnanya dari coklat hingga
coklat tua.
6) Off Crepe
Crepe jenis ini terbuat dari bahan- bahan sisa atau bermutu jelek, misalnya lembaran-
lembaran ribbed smoked sheet yang penggilingannya tidak sempurna, busa lateks, dan bekas
air cucian yang masih banyak mengandung lateks.
Macam-macam Jenis Crepe Menurut bahan bakunya

1) Thin pale crepe


Berupa lembaran-lembaran krep yang tipis berwarna kuning muda dengan tebal antara 1,0-1,7
mm. Krep ini berasal dari bahan baku lateks. Secara umum thin pale crepe inilah yang disebut
krep.
2) Thin brown crepe
Berupa lembaran-lembaran krep yang tipis berwarna kuning kecoklat-coklatan berasal dari
bahan baku karet mutu rendah seperti: screp, lump, busa, dan sebaginya. Tebal lembaran 1,5-
2,0 mm.
3) Sole crepe
Sole crepe atau krep sol adalah beberapa jenis krep yang licin dan rata berwarna muda yang
dikempa (dipress) menjadi lembaran-lembaran yang tebalnya berkisar antara 3,2-6,4 mm.

Pengolahan Karet Crepe


Tahapan pengolahan crepe adalah sebagai berikut :
a. Penyaringan dan pengenceran lateks
Lateks segar yang berasal dari perkebunan karet akan dikumpulkan terlebih dahulu sebelum
diproses menjadi karet crepe. Lateks segar akan disaring pada tempat pengolahan dan dilakukan
beberapa kali sehingga lateks yang diperoleh memiliki kualitas baik dan bersih. Bahan baku
dalam pembuatan crepe membutuhkan lateks yang memiliki tingkat kebersihan tinggi dan
kualitas yang baik. Proses selanjutnya pada lateks yaitu pengenceran. Sebelum lateks diencerkan,
lateks sudah mengalami pencampuran.

b. Pembekuan lateks
Pembekuan lateks dilakukan setelah lateks mengalami pengenceran. Pada pengolahan
krep bila keadaan tidak memungkinkan karena jarak antara kebun ke pabrik terlalu jauh dan
kemungkinan terjadi kerusakan pada saat pengangkutan maka pembekuan lateks dapat dilakukan
di kebun.
c. Penggilingan
Koagulum yang diperoleh dari bak pembekuan dapat berbentuk bongkah-bongkah dalam
ukuran tertentu sehingga perlu dilakukan penggilingan. Lateks beku yang memiliki ukuran besar
dipotong-potong agar mudah dilakukan penggilingan. Lateks beku akan digiling dengan
menggunakan 3 sampai 4 gilingan crepe yang masing-masing memiliki 2 roda. 1 seri mesin
gilingan kreb terdiri atas 3-5 buah gilingan.

d. Pengeringan
Lembaran crepe yang diletakkan secara tegak akan dikeringkan dengan bantuan angin.
Pengeringan kreb bisa dilakukan dengan dua acara yaitu menggunakan panas udara biasa
(pengeringan alami) dan dengan udara yang dipanaskan (pemanasan buatan).

e. Sortasi
Krep yang sudah dikeringan akan diangkut keruang sortasi. Lembaran krep yang panjang
digulun menggunakan bilah kayu agar mempermudah proses sortasi. Noda-noda kotoran yang
terdapat pada lembarang digunting dan bekas guntingan dirapatkan kembali. beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam sortasi krep yaitu warna, noda-noda kotoran, tanda-tanda oksidasi, dan
belang-belang serta bintik-bintik atau garis-garis.

f) Pembungkusan
Lembaran-lembaran akan dijadikan bandela-bandela (bal-bal) berbentuk kubus kubus 52cm
x 52 cm x 52cm dengan berat 80 kg pada saat pembungkusan. Pembungkusan harus
dilakukan secara rapat dan dibalut menggunakan lembaran-lembaran krep pembalut yang
memiliki kualitas yang sama atau sejenis. Pada bagian luar bal diberi warna dengan
menggunakan larutan coating talk (dilabur) kemudian diberi merk dan cap kiriman
(Setyamidjaja, 1993).

Pengaruh Kesalahan Pembuatan Crepe


1. Warna Crepe
a. Putih
Warna putih dapat terjadi karena adanya dosis yang tidak tepat saat penambahan
natrium bisulfit yang berlebihan. Untuk menghindari adanya warna putih pada crepe
yaitu dengan pengontrolan saat penambahannya.
b. Kelabu
Warna abu pada crepe dapat dimungkinkan karena air yang digunakan dalam proses
pembuatan yang mengandung kadar besi yang tinggi, lateks yang sudah dikentalkan
dengan RPA-3/Duponol-O.S kemudian dibekukan dengan asam format, dan giliran
sering dilakukan tetapi tidak terdapat srepe dalam mesin.
c. Abu-abu tua
Jika penambahan natrium bisulfit yang terlalu banyak saat proses pengolahan, maka
warna menjadi putih, sedangkan jika natrium bisulfit ditambahkan terlalu sedikit maka
warnanya akan menjadi abu-abu tua. Selain penambahan natrium bisulfit yang telalu
sedikit, pengaruh suhu yang terlalu tinggi dan waktu pengeringan yang terlalu lama
bisa menyebabkan warnanya menjadi abu-abu tua.
d. Kuning
Warna kuning dari crepe dikarenakan lateks berasal dari pohon yang jenisnya memang
berwarna kuning, contohnya adalah Cyranji. Adapun penyebab lain yang dapat
mempengaruhi yaitu suhu pengeringan yang terlalu tinggi dan pengeringan yang
terlalu lama.
2. Crepe berlubang (Lacy)
Crepe dapat berlubang, hal yang menyebabkan cerep berlubang karena cara
penggilingan yang kurang baik. Mesin untuk menggiling yang sudah tua dan sudah rusak
dapat menjadi sumber masalah, sebaiknya mesin yang sudah tua dan rusak di ganti dan di
perbaiki diganti dengan mesin yang baru.
3. Crepe Bergaris
Warna garis yang terdapat pada crepe berwarna kuning hingga kecoklatan. Akibat
timbulnya garis ini akibat dari pengaruh prakoagulasi sebelum lateks diolah, tetapi dapat
terjadi karena busa-busa yang timbul saat waktu penambahan asam yang tidak dibuang
dengan bersih.
4. Crepe Berbutir
Gilingan yang tidak rata karena pengaruh gesekan akan menimbulkan crepe yang
berbutir. Selain disebabkan karena mesin, penggilingan yang tidak sempurna atau kedua
roda penggilingan yang tidak sejajar bisa menyebabkan crepe menjadi butiran.
5. Crepe Lembek Atau Mulur
Faktor yang menyebabkan crepe lembek dan memuai lebih panjang dari yang
seharusnya adalah penggilingan yang terlalu banyak atau lebih dari yang seharusnya
menjadikan crepe lebih tipis dan lembek lembarannya. Penggunaan suhu saat
pengeringan yang lebih tinggi dari yang dibutuhkan dapat menimbulkan pengaruh buruk
pada crepe.
6. Crepe Bernoda Sisa Air
Penyimpanan crepe yang masih basah terlalu lama sebelum dikeringkan, akan
menghasilkan crepe yang memiliki noda sisa air.
7. Crepe Lengket Atau Sticky
Suhu yang terlalu panas saat penggilingan akibat kekurangan air pendingin atau
suhu air pendingin yang tinggi sewaktu proses penghilangan dapat berpengaruh. Karena
lembaran crepe yang tipis dan crepe yang terkena sinar matahari secara langsung
mengakibatkan crepe menjadi lengket.