You are on page 1of 9

III.2.

Pengertian dan Klasifikasi Granitoid

Granitoid merupakan istilah untuk kelompok batuan beku plutonik dengan

tekstur faneritik dan komposisi asam sehingga intermediate (Gill, 2010). Mineral

penyusun yang terbentuk pada fase awal adalah plagioklas, sedangkan kuarsa dan

alkali feldspar terbentuk kemudian (Winter, 2001). Granitoid umumnya hanya

tersusun oleh kristal karena proses pendinginan dari kristalisasi magma yang

berlangsung secara perlahan yang menghasilkan tekstur faneritik, sehingga tingkat

kristalinitasnya umumnya holokristalin.

Batuan granitoid merupakan batuan yang keberadaannya melimpah di kerak

benua. Bantuan ini dapat ditemukan di berbagai tatanan tektonik, mulai dari zona

orogenik dan zona tumbukan antar lempeng benua, hingga tatanan anorogenik.

Umumnya granitoid terbentuk akibat proses anateksis dari kerak, tetapi kontribusi dari

mantel juga dapat berpengaruh dalam terbentuknya granitoid (Winter, 2001). Selain

itu bantuan ini juga dapat ditemukan di bagian punggungan tengah samudra (Mid

Oceanic Ridge) dan kompleks ofiolit dalam volum kecil (Campbell dan Taylor, 1983,

dalam Gill, 2010). Contoh dari kelompok batuan granitoid adalah granit, granodiont,

monzonit, tonalit, alkali granit, syenit, dan diorit (Gill, 2010).

Pada daerah penelitian sendiri salah satu litologi penyusunannya berupa batuan

adamelit, dimana adamelit sendiri merupakan nama lain dari monzogranit (Williams,

dkk, 1982). Batuan adamelit memiliki kandungan plagioklas dan alkali feldspar

sekitar 35-65% dari total kandungan feldspar dan kandungan SiO2 sekitar 72-74%.

Mineral hornblende dari biotit umumnya merupakan mineral mafik yang hadir dalam

batuan ini. Mineral aksesori lainnya berupa rutil, oksida besi, apatit, zirkon, dan alanit

(Williams, dkk, 1982).


Salah satu klasifikasi batuan granitoid yang umum digunakan didasari oleh

kelimpahan alimina (AI2O3) yang merupakan oksida utama terbanyak setelah SiO2.

Menurut Shand (1927), dalam Winter (2001), (Gambar 3.2) berdasarkan saturasi

aluminia membagi batuan beku menjadi:

1. Batuan peralumina, jika kandungan AI2O3 > CaO+Na2O+K2O. Mineral penciri dari

batuan ini adalah topas, numalin, korundum, andalusit, silimanit, dan muskovit.

2. Batuan metalumina, jika kandungan AI2O3 < CaO+Na2O+K2O, namun kandungan

AI2+O3 > Na2O+K2O. Mineral penciri dari batuan ini adalah anortit dan mineral

yang berikatan dengan AI seperti biotit, hornblende, dan melilit.

3. Batuan peralkalin, jika kandungan AI2O3 < Na2O+K2O. Mineral pencirinya alkal

ferromagnesian.

Bliohjjgjkjgyfhb,hu Bliohjjgjkjgyfhb,hu Bliohjjgjkjgyfhb,hu


yhjhu yhjhu yhjhu

CaO
CaO

CaO
K2O
K2O
moles

AI2O3 K2O AI2O3 AI2O3

Na2O Na2O Na2O

Peraturnioous Metaluminoue Peraksline

Gambar 3.2. Perbandingan batuan granitoid berdasarkan saturasi aluminia


(Shand, 1927, dalam Winter, 2001)

Klasisfikasi lainnya yang umum digunakan untuk batuan granitoid adalah

klasifikasi granitoid S-I-A-M (Winter, 2001) dapat dilihat pada tabel 3.1, dimana
klasifikasi ini berdasarkan atas komposisi kimia magma yang menghasilkan

granitoid. Klasifikasi S-I-A-M membagi granitoid menjadi empat kelompok yaitu:

1. Granitoid tipe-S

Pada granitoid tipe-S memiliki kandungan dari SiO2 sekitar 55-74% dan

perbandingan K2O/Na2O yang tinggi. Granitoid tipe-S seperti biotit, andalusit,

imenit, kordierit, muskovit, dan garnet. Pembentukan granitoid tipe-S berasal dari

proses partial melting batuan sedimen yang berasosiasi dengan pelapukan di

permukaan bumi.

2. Granitoid tipe-I

Pada granitoid tipe-I memiliki kandungan SiO2 sekitar 53-76% dan

perbandingan K2O/Na2O yang rendah. Granitoid tipe-I memiliki tingkat saturasi

alumina agak rendah (metaluminus peralkalin). Oksida utama berupa seri

magnetit. Mineral yang umum hadir seperti hornblende dann magnetit. Pembentuk

granotiod tipe-I berasal dari partial melting yang berkomposisi mafik dari sumber

batuan beku.

3. Granitoid tipe-A

Pada granitoid tipe-A memiliki kandungan SiO2 yang tinggi sekitar > 77%

dan kandungan Na2O yang tinggi. Selain itu granitoid tipe-A juga kaya akan

alkali, Fe/Mg, halogen (F dan Cl), unsur tanah jarang, Ga/Al, Zr, Nb, Ga, y dan

Ce. Kandungan elemen jejak seperti Co, Cr, Ni, Ba, Sr lebih kecil daripada

granitoid tipe-I. Pembentukan graitoid tipe-A berasal dari intrusi pada tatanan

anorogenik.

4. Granitoid tipe-M

Pada granitoid tipe-M memiliki kandungan SiO2 sekitar 46-70% dan

perbandingan K2O/Na2O yang rendah. Berbeda dengan granit tipe-I yang


mengalami dua tahap pelepasan, granit tipe-M merupakan hasil dari fraksinasi

pelelehan mantel dalam satu tahapan.

Tabel 3.1 Klasifikasi batuan granitoid S-I-A-M (Winter, 2001).

Typ
e
M 46-70%
I 53-76%
S 65-74%
high
A 77
%

III.3. Klasifikasi Granitoid Berdasarkan Kandungan Mineral Silikat

Tatanan tektonik pembentukan dari batuan granitoid dapat diinterprestasikan

berdasarkan mineralogi, sifat kimiawi, dan kenampakan di lapangan. Sebagai contoh

Barbarin (1999) yang membagi tatanan tektonik pembentukan granitoid berdasarkan

mineral silikat dan tingkat saturasi aluminanya. Terdapat tiga parameter yang

membedakan tiap tipe-tipe granitoid, yaitu kelimpahan mineral silikat dan mineral

penyusun lainnya (Tabel 3.2), karakteristik kenampakan lapangan dan petrografi

batuan (Tabel 3.3) , dan kandungan kimiawi dari batuan berupa unsur mayor dan

isotop (Tabel 3.4). berikut ini adalah penjelasan masing-masing tipe granitoid

berdasarkan kandungan mineral silikatnya menurut Barbarin (1999).


Tabel 3.2. Kelimpahan mineral penyusun pada setiap tipe granetoid (Barbarin,
1999)

Mineral MPG CPG KCG ACG RTG PAG


Biotit X XXX XXX XX X XX
Muskovit XXX X X O O X
Kordierit O XX O O O O
Silimanit-
O X O O O O
Andalusit
Amphibol O O X XXX XXX Alk.Amph
Piroksen O O O XX XX Alk-pir
Apatit XXX XXX XX XX XX XX
Zirkon X XX XXX XXX XXX XXX
Monasit X X O O O O
Garnet XX X O O O X
Tourmalin XXX XX O O O O
Alanit O X XX XX X XX
Titanit O O XX XXX X X
Ilmenit X X X X X XX
Magnetit O O X XX XX XX
Plagioklas-An% 0 - 20 15 - 40 15 - 30 20 - 50 20 - 50 0 - 10
O: absen; X: jarang; XX: banyak; XXX: melimpah
Keterangan:
1. MPG : Muscovite-bearing Peraluminous Granitoids
2. CPG : Cordierite-bearing Peraluminous Granitoids
3. KCG : K-rich Clac-alkaline Granitoids
4. ACG : Amphibole-bearing Calc-alkaline Granitoids
5. RTG : Mid-ocean Ridge Tholeiitic Granitoids
6. PAG : Peralkaline and Alkaline Granitoids
Tabel 3.3. Karakteristik Granitoid berbasarkan kenampakan lapangan dan petrografi (Barbarin, 1999)

Petrografi MPG CPG KCG ACG RTG PAG


Granit Alkali
Leukogranit Leukogranit (Granit) Plagiogranit Syenit Alkali
Leukogranit Granit Granit Granodiorit Trondjenietes Syenit
Tipe Petrografi
(Granit) Granodiorit Granodiorit Tonalit Tonalit Granit
(Diorit Kuarsa) (Diorit Kuarsa) Gabbro Gabbro (Gabbro)
(Anortosit)
Batuan Aosiasi
Migmatit
Metamorfik O O O O O
Anateksis
Lava Asam Andesit dan Olivine-bearing
Volkanik O O Lava Alkalin
(Tuf) Dasit Tholeites
Diorit Kuarsa
Diorit Kuarsa Gabbro (dalam Gabbro (dalam Gabbro (dalam
Mafik O Gabbro
(Vaugnerites) jumlah besar) jumlah besar) jumlah besar)
(Appinites)
Enclaves
Xenolith X O-X X X X X
Resites X XXX X O O O
Felsic M.E X O-X X X X X
Mafic M. E O X XX XXX XXX X
Strong Extreme
Frational Frational
fractional Extreme fractional
Proses Frational Crystallization Crystallization
crystallization fractional crystallitastion
Diferensiasi Crystallization or restite and magma
and magma crystallization and subsolidus
unmixing mixing
mixing interactions
(O: absen: X; jarang: XX; banyak: XXX: melimpah) (M.E = Microgranular Enclaves)
1. Amphibole-bearing Calc-alkaline Granitoids (ACG)

Granitoid tipe ACG memiliki kandungan amphibol yang banyak dimana

umumnya mineral amphibol tersebut kaya akan Ca. Mineral lain yang juga

kandungannya melimpah pada granitoid ini adalah titanit. Selain itu terdapat pula

kandungan piroksen. Xenolith dan felsic microgranular enclaves umumnya

muncul di dekat batas dari intrusi granitoid tipe ini. Selain itu juga ditemukan

kehadiran yang melimpah dari mafic microgranular enclaves. Granitoid tipe ACG

memiliki afinitas magma kalk-alkalin.

2. Muscovite-bearing Peraluminous Granitoids (MPG)

Granitoid tipe MPG memiliki kandungan muskovit yang melimpah dan

berbentuk kepingan dengan ukuran besar dan terzonasi (Roycroft, 1991, dalam

Barbarin, 1999). Kandungan mineral lain yang terdapat pada tipe granitoid ini

adalah tourmalin, garnet, dan apatit. Granitoid tipe MPG memiliki tingkat

saturaasi alumina yaitu peralumina dan memiliki kandungan Sr yang tinggi.

3. Cordierite-bearing Peraluminous Granitoids (CPG)

Granitoid tipe CPG memiliki kandungan kordierit yang melimpah (Zen,

1998, dalam Barbarin 1999) berasosisasi dengan silimanit, sedikit andalusit, dan

sedikit kepingan muskovit primer yang berukuran kecil. Umumnya kordient pada

granitoid tipe ini memiliki bentuk prismatik dan terkadang dijumpai sebagai

modul berasosiasi dengan kuarsa (Didier dan Duprat, 1985, dalam Barbarin,

1999). Granitoid tipe CPG memiliki tingkat saturasi aluminia yang sama dengan

granitoid tipe MPG yaitu peralumina.

4. K-rich Calc-alkaline Granitoids (KCG)

Granitoid tipe KCG memiliki sedikit kandungan amphibol, titanit umumnya

hadir, dan tidak terdapat kandungan piroksen tekstur penciri granitoid tipe ini
adalah tekstur porfiritik K-feldspar. Granit dan granodiorit yang memiliki tekstur

porfiritik K-feldspar dan miskin amphibol disebut shoshonitic dan sub-alkalin

granitoid. Hampir serupa dengan granitoid tipe ACG, granitoid tipe KCG bersifat

intrusif dan memiliki kandungan xenolith dan felsic microgranular enclaves.

Granitoid tipe KCG memiliki afinitas magma kalk-alkalin. Tipe granitoid ini

berasosiasi dengan granitoid yang bersifat peraluminus.

5. Peralkaline and Alkaline Granitoids (PAG)

Granitoid tipe PAG memiliki kandungan amphibol dan piroksen yang kaya

Na. Pada granitoid tipe ini jarang dijumpai adanya xenolith, felsic microgranular

enclaves, dan mafic microgranular enclaves. Batuan granitoid yang termasuk tipe

ini berupa granit alkali feldspar dengan tekstur perthit hingga syenit. Granitoid

tipe PAG berdasarkan tingkat saturasi alumina termasuk peralkalin dan alkalin

dikarenakan kandungan Na2O dan K2O > AI2O3.

6. Mid-ocean Ridge Tholeiitic Granitoids (RTG)

Granitoid tipe RTG kaya akan kandungan amphibol dan umum dijumpai

piroksen. Namun granitoid tipe ini berbeda dengan granitoid tipe lainnya karena

granitoid tipe RTG berasosiasi dengan batuan mafik samudra. Batuan granitoid

tipe RTG seperti plagiogranit, trondjhemites, tonalit, dan gabbro muncul

bersamaan dengan kerak samudra dalam bentuk dikes atau intrusi pluton yang

kecil (Coleman dan Perterman, 1975, Coleman dan Donato, 1979, dalam Barbarin

1999). Granitoid tipe RTG umumnya terdapat di daerah pemekaran tengah

samudra.

Terdapat pula tipe granitoid yang serupa dengan tipe RTG yaitu granitoid

tipe ATG (Arc Tholeiitic Granitoids). Hal yang membedakan kedua tipe granitoid

ini adalah granitoid ATG umumnya terdapat di busur volkanik dan tepi benua
aktif (Active Continental Margin). Granitoid tipe ATG umumnya berasosiasi

dengan granitoid tipe ACG. Baik granitoid tipe RTG maupun tipe ATG memiliki

afunitas magma yang sama yaitu tholeiitik.