You are on page 1of 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dukungan keluarga dan kepatuhan

1. Dukungan keluarga

Dukungan Keluarga Secara Keseluruhan Menurut Bomar (2004),

dukungan keluarga adalah suatu bentuk melayani yang dilakukan oleh

keluarga baik dalam bentuk dukungan emosional, penghargaan, informasi

dan instrumental yang dapat diberikan pada lansia. Dukungan keluarga

mengacu pada dukungan-dukungan yang dipandang oleh anggota

keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau dilakukan untuk

keluarga.

a. Dukungan instrumental Menurut Suryo, Harbandinah, Bagoes

(2006), mengatakan bahwa kelompok lansia yang berperilaku

sehat mungkin disebabkan karena keluarga mampu dan mau

menyediakan sarana yang dibutuhkan lansia, serta perilaku

keluarga juga dapat dijadikan sebagai referensi lansia dalam

berperilaku sehat maupun berperilaku tidak sehat.

b. Dukungan informasi

Hoi et al dalam BMC Geriatrics, 2011; mengatakan bahwa

proporsi dari orang tua yang membutuhkan bantuan yang tertinggi

adalah bantuan dalam hal intelektual (menulis, membaca,

mendengarkan radio dan menonton TV), yaitu sebanyak 13-32%.

Lansia mengalami keterbatasan yang dipengaruhi oleh penurunan


berbagai fungsi tubuh. Sesuai dengan teori penuaan maka lansia

membutuhkan bantuan dari keluarga.

c. Dukungan Emosi

Menurut Gottlieb (1998) dalam Kuncoro (2002), dukungan emosi

yang diberikan oleh keluarga mencakup ungkapan empati,

kepedulian dan perhatian dalam merawat, menjaga dan menemani

lansia sehingga lansia tidak merasa sendiri. Keluarga merupakan

tempat yang aman dalam mengolah emosi setiap individu.

d. Dukungan Penghargaan

Tradisi keluarga di Indonesia masih menghargai lansia untuk

memberikan pendapat dalam menyelesaikan masalah keluarga.

Para usia lanjut mempunyai peranan yang menonjol sebagai

seorang yang dituakan, bijak dan berpengalaman, pembuat

keputusan, dan kaya pengetahuan. (Suhartini R, 2004).

2. Peran anggota keluarga terhadap lansia ( padila 2013).

a. Melakukan pembicaraan terarah

b. Mempertahankan kehangatan keluarga, menyediakan waktu untuk

mendengarkan keluh kesahnya.

c. Membantu melakukan persiapan makan bagi lansia.

d. Membantu dalam hal transportasi.

e. Membantu memenuhi sumber-sumber keuangan.

f. Memberikan kasih sayang dan perhatian, menghormati dan

menghargai, jangan menganggapnya sebagai beban.


g. Bersikap sadardan bijaksana terhadap perilaku lansia.

h. Memberi kesempatan untuk tinggal bersamanya.

i. Mintalah nasihatnya dalam peristiwa penting.

j. Mengajaknya dalam acara-acara penting.

k. Memeriksakan kesehatan secara teratur, dorong untuk tetap hidup

bersih dansehat.

3. Peran keluarga dalam perawatan lansia

Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam

mempertahankan kesehatanya. Peranan keluarga antara lain : menjaga

ataumerawat lansia, mempertahankan atau meningkatkan status mental,

mengantisipasi perubahan status sos.ek serta memberikan motivasi dan

memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia.

4. Farmakologi pada usia lanjut

Menurut Anonim (2004) padila (2013), pada Pemberian obat atau

terapi untuk kaum lansia, memang banyak masalahnya, karena beberapa

obat sering berinteraksi. Kondisi patologi pada golongan usia lanjut,

cenderung membuat lansia mengkonsumsi lebih banyak obat

dibandingkan dengan pasien yang lebih muda sehingga memiliki resiko

lebih besar untuk mengalami efek samping dan interaksi obat yang

merugikan.
B. Konsep dasar hipertensi

1. Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan angka

kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Secara umum,

hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang

abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko

terhadap stroke, gagal jantung dan serangan jantung( Triyanto, 2014).

Menurut badan kesehatan dunia atau WHO (world health organization)

dalam kenia (2013) juga memberikan batasan bahwa seorang dengan

beragam usia dan jenis kelamin, apabila tekanan darahnya berada pada

satuan 140/90 mmHg atau diatas 160/90 mmHg, maka ia sudah dapat

dikategorikan sebagai penderita hipertensi. Ada juga yang disebut

hipertensi maligna atau hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak

diobati akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi

ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi (Triyatno,

2014).

2. Klasifikasi

Ada 4 klasifikasi tekanan darah menurut join national commite (JNC),

( kayce bell, june twiggs dan Bernie R. Olin, 2015), yaitu :

a. Normal, tekanan darah sistole <120 mmHg dan diastole <80 mmHg.

b. Pre hipertensi, tekanan darah sistole <120-139 mmHg dan diastole

<80-89 mmHg.
c. Hipertensi stage 1, tekanan darah systole <140-159 mmHg dan

diastole <90-99 mmHg.

d. Hipertensi stage 2, tekanan darah sistole 160 mmHg dan diastole

100 mmHg.

Adapun menurut pudiastuti, (2013) hipertensi dikelompokan

dikelompokan dalam 2 tipe kalisifikasi, yaitu :

a. Hipertensi primer adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan

darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seorang dan

faktor lingkungan. Seorang yang pola makanya tidak terkontrol dan

mengakibatkan kelebihan berat badan atau obisitas, hal ini

merupakan pemicu awal ancaman penyakit tekanan darah tinggi.

Begitu pula seorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi

stressor tinggi, sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah

tinggi, termasuk pula orang yang kurang olahraga pun dapat

mengalami tekanan darah tinggi.

b. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder adalah suatu kondisi dimana terjadinya

peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seorang mengalami

atau menderita penyakit lainya seperti gagal jantung, gagal ginjal,

atau kerusakan system hormone tubuh.

3. Etiologi

Menurut Hariyanto dan Sulistyowati (2015), ada 5 penyebab

hipertensi yaitu :
a. Perokok

Merokok yang menahun dapat merusak endoteal arteri dan nikotin

menurukan HDL (High Density Lipoprotein) untuk tubuh manusia.

b. Obesitas

dapat meningkatkan LDL ( low Desenty Lipoprotein) untuk tubuh

manusia pencetus Aterosklerosis.

c. Alkoholisme

Alkohol yang dapat merusak hepar dan sifat alcohol mengikat air

mempengaruhi viskositas darah mempengaruhi darah.

d. Stress

Merangsang system saraf simpatis mengeluarkan adrenalin yang

berpengaruh terhadap kerja jantung.

e. Konsumsi garam

Garam mempengaruhi viskositas darah dan mempercepat kerja ginjal

yang mengeluarkan renin angiotensin yang dapat meningkatkan

tekanan darah.

4. Manifestasi klinis

Menurut TIM POKJA RS Harapan kita, (2003) dalam ode, (2012),

mengemukakan bahwa pada beberapa pasien mengeluh sakit kepala,

pusing, lemas, sesak nafas, kelelahan, kesadaran menurun, mual,

muntah, gelisah, kelemahan otot, epitaksis bahkan ada yang

mengalami perubahan mental.

5. Patofisiologi
6. Penatalaksanaan

Terpat 2 cara penanganan hipertensi menurut FKUI (1990:214-219)

dalm buku ode ( 2014) yaitu dengan nonfarmakologis dan dengan

farmakologis. Cara non farmakologis dengan menurunkan berat badan

pada penderita yang gemuk, diet rendah garam dan rendah lemak,

mengubah kebiasaan hidup, olahraga secara teratur dan control

tekanana darah secara teratur. Sedangkan dengan cara farmakologis

yaitu dengan cara memberikan obat-obatan anti hipertensi seperti

propranolol. Alfa bloker seperti phentolamin, prozazine, nitroprusside

captaril. Simphatolitic seperti hydralazine, diazoxine. Antagonis

kalsium seperti nefedipine ( adalat).

Pengobatan hipertensi harus dilandasi oleh beberapa prinsip

menurut FKUI (1990) yaitu pengobatan hipertensi esensial ditunjukan

untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang

umur dan mengurangi timbulnya komplikasi, upaya menurunkan

tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat jangka panjang

bahkan mungkin seumur hidup, pengobatan dengan menggunakan

standard triple therapy (STT) menjadi dasar pengobatan hipertensi.

Tujuan pengobatan dari hipertensi adalah menurunkan angka

morbiditas sehingga upaya dalam menemukan obat anti hipertensi

yang memenuhi harapan terus dikembangkan.

Menurut dr iskandar junaedi (2010) pengobatan farmakologis adalah

pengobatan yang mengguanakn obat-obatan modern. Pengobatan


farmakologis dilakukan pada hipertensi dengan tekanan darah 140/90

mmHg atau lebih. Biasanya pengobatan farmakologis dengan obat-

obat modern dilakukan bersamaan dengan pengobatan non-

farmakologis.

C. Konsep dasar lansia

1. Defenisi lansia

Lanjut usia menurut UU RI no 13 tahun 1998 dalam indriana, kristiana

dkk,(2010) adalah mereka yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Banyak

istilah yang dikenal masyarakat untuk menyebut orang lanjut usia, antara lain

lansia merupakan singkatan dari lanjut usia. Istilah lain adalah manula yang

merupakan singkatan dari manusia lanjut usia. Apapun istilah yang

dikenalkan pada individu usia ini mereka harus menyesuaikan dengan

berbagai perubahan baik yang bersifat fisik, mental, maupun sosial.

Perubahan-perubahan dalam kehidupan yang harus dihadapi oleh individu

usia lanjut khususnya berpotensi menjadi sumber tekanan dalam hidup.

2. Batasan-batasan lanjut usia

Menurut WHO dalam padila (2013) ada empat tahapan yaitu :

a. Usia pertengahan ( middle age ) usia 45-59 tahun

b. Lanjut usia ( elderly) usia 60-74 tahun

c. Lanjut usia tua ( old) usia 75-90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) >90 tahun


3. Tipe lansia

Tipe lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan, kondisi

fisik mental sosial dan ekonominya. Nugroho, (2000) dalam Padila, (2013).

Tipe tersebut diantaranya :

a. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan

zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana,

dermawan, memenuhi undangan dengan menjadi panutan.

b. Tipe mandiri

Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dengan

mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.

c. Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah,

tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak

menuntut.

d. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama dan

melakukan pekerjan apa saja.

e. Tipe bingung

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,menyesal,

pasif dan acuh tak acuh.