Вы находитесь на странице: 1из 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Laporan keuangan dapat dengan jelas memperlihatkan gambaran kondisi keuangan dari
perusahaan. Laporan keuangan yang merupakan hasil dari kegiatan operasi normal perusahaan
akan memberikan informasi keuangan yang berguna bagi entitas-entitas di dalam perusahaan
itu sendiri maupun entitas-entitas lain di luar perusahaan, oleh karena itu untuk mengetahui
kinerja laporan keuangan tersebut kita memerlukan suatu analisis, analisis-analisis inilah yang
harus dipahami oleh kita baik sebagai manajemen perusahaan untuk mengevaluasi kinerja
perusahaan ataupun sebagai investor jika kita ingin menginvestasikan harta kita terhadap suatu
perusahaan.

Laba atau keuntungan merupakan ukuran bagi keberhasilan dari suatu operasi
perusahaan. Perusahaan dikatakan sehat apabila mempunyai kemampuan yang cukup besar
dalam menghasilkan laba sepanjang hidupnya, serta hal yang tidak boleh diabaikan yakni
kemampuan yang cukup besar pula dalam memenuhi semua kewajiban kuangannya. Jika faktor
tersebut mampu dilaksanakan dengan baik oleh manajemen perusahaan selama
berlangsungnya kegiatan operasi, maka perjalanan hidup perusahaan itu dapat dipertahankan
dan dikembangkan secara optimal sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah yang ada pada
makalah ini adalah:

1.3 Tujuan Pembahasan Masalah


Dari uraian rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
1
BAB II
PEMAHASAN

2.1 Pengertian Laporan Keuangan


Laporan keuangan adalah suatu alat bantu yang dapat digunakan untuk membuat suatu
keputusan antara lain mengenai rencana-rencanan perusahaan, penanaman modal/investasi,
pencarian sumber-sumber dana oprasi perusahaan lainnya (Amin Wijaya Tunggal, 1995).
Melalui analisis laporan keuangan ini maka para pemakai informasi akuntansi dapat
mengambil keputusan. Pengelola/manajer dalam suatu perusahaan dapat menilai apakah
kinerjanya dalam suatu periode yang lalu mendatangkan keuntungan atau tidak.
2.2 Bagian-bagian Laporan Keuangan
Bagian-bagian dari laporan keuangan meliputi :

a. Neraca (Balance Sheet), menyajikan aktiva pada sisi sebelah kiri,yang merupakan
alokasi dari dana,kewajiban dan ekuitas pada sebelah kanan yang merupakan
sumber dana perusahaan.
b. Laporan Laba Rugi (Income Statement), Laporan yang mengikhtisarkan
pendapatan dan pengeluaran perusahaan selama satu periode akuntansi,biasanya
setiap satu kuartal atau satu tahun.
c. Laporan Laba Ditahan (Statement of Shareholders Equity), menyajikan
perubahan-perubahan pada pos-pos ekuitas untuk mengidentifikasi alasa
perubahan klaim pemegang ekuitas atas aktivanya.
d. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow), Tujuan dari pembuatan laporan arus
kas ini adalah:
1) Memberikan informasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas perusahaan
selama periode tertentu.
2) Memberikan informasi mengenai efek kas dari tiga kategori aktivitas yaitu
aktivitas investasi,aktivitas pendanaan,aktivitas operasi

2.3 Manfaat Laporan Keuangan


Pemakai laporan keuangan menjadi sasaran manfaat laporan keuangan yang meliputi
investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberian pinjaman, pemasok dan
kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga - lembaganya, dan masyarakat.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
2
Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berbeda.
Beberapa manfaat laporan keuangan bagi pihak-pihak tersebut diuraikan berikut ini.

1. Investor
Penanaman modal resiko dan penagihan mereka berkepentingan dengan resiko
yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka
membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli,
menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi
yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar
deviden.
2. Karyawan
Karyawan dan kelompok kelompok yang mewakili mereka tertarik pada
imformasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik
dengan informasi yang memungkinkan mereka menilai kemampuan perusahaan dalam
memberi jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
3. Pemberi pinjaman
Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan
mereka untuk memutuskan apakan pinjaman tersebut serta bunga dapat dibayar pada
saat jatuh tempo.
4. Pemasok dan kreditur usaha lainnya
Manfaat laporan keuangan bagi pemasok dan kreditur usaha lainnya yang tertarik
dengan informasi, yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah
yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditur usaha berkepentingan pada
perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek dari pinjaman kecuali kalau
sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidupm perusahaan.
5. Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup
perusahaan, terutama kalo mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan
perusahaan.
6. Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di kekuasaan berkepentingan
dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas
perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas
perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasr menyusun statistik
pendapatan nasional dan pendapatan lainnya.
Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
3
7. Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya,
perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional,
termasuk jumlah orang yang dipekerjakan danperlindungan terhadap penanaman modal
domestic. Manfaat laporan keuangan dalam hal ini dapat membantu masyarakat dengan
menyediakan informasi kecendrungan dan perkembangan terakhir kemakmuran serta
rangkaian aktivitas.

2.3.1 Manfaat Analisis Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2009:195), kegunaan analisis laporan keuangan ini dapat


dikemukakan sebagai berikut:

1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang terdapat
dari laporan keuangan biasa.
2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu
laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan (implicit).
3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya
dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern maupun
kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan
teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan.
6. Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan.
Dengan perkataan lain yang dimaksudkan dari suatu laporan keuangan merupakan
tujuan analisis laporan keuangan juga antara lain:
a. Dapat menilai prestasi perusahaan.
b. Dapat memproyeksi laporan perusahaan.
c. Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek
waktu tertentu:
1) Posisi keuangan (Aset, Neraca, dan Ekuitas).
2) Hasil Usaha Perusahaan (Hasil atau Beban).
3) Likuiditas.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
4
4) Solvabilitas.
5) Aktivitas.
6) Rentabilitas atau Profitabilitas.
7) Indikator Pasar Modal.
d. Menilai perkembangan dari waktu ke waktu.
e. Menilai komposisi struktur keuangan, arus dana.
7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria tertentu yang
sudah dikenal dalam dunia bisnis.

2.4 Tujuan Analisis Laporan Keuangan


Menurut Kasmir (2011), tujuan dari analisis laporan keuangan adalah:

1. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu, baik aset,

kewajiban, ekuitas, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk beberapa periode.

2. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.

3. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki.

4. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan

berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat ini.

5. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau

tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal.

6. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang

mereka capai.

Menurut Munawir (2010), tujuan analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat
penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang
telah dicapai perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi
pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau
lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat
mendukung keputusan yang akan diambil.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
5
BAB III
PENGELOMPOKAN BIAYA
3.1 Biaya varaibel
Biaya variable didefinisikan sebagai biaya yang totalnya meningkat secara proporsional
terhadap peningkatan dalam aktivitas dan menurun secara proporsional, terhadap penurunan
dalam aktivitas. Biaya variabel termasuk biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung,
beberapa perlengkapan, beberapa tenaga kerja tidak langsung, alat-alat kecil, pengerjaan ulang,
dan unit-unit yang rusak. Biaya variabel biasanya dapat didefinisikan langsung dengan
aktivitas yang menimbulkan biaya tersebut.

3.2 Biaya Tetap


Biaya tetap didefinisikan sebagai biaya yang secara total tidak berubah ketika aktivitas
bisnis meningkat dan menurun. Meskipun beberapa jenis biaya terlihat sebagai biaya tetap,
semua biaya sebenarnya bersifat variabel dalam jangka panjang. Jika semua aktivitas bisnis
turun sampai ke titik nol dan tidak ada prospek akan kenaikan, suatu perusahaan akan
melikuidasi dirinya dan menghindari semua biaya. Jika aktivitas diperkirakan akan meingkat
diatas kapasitas saat ini, biaya tetap harus dinaikkan untuk menangani peningkatan volume
yang di perkirakan. Misalnya saja overhead pabrik memasukkan item seperti supervisi,
penyusutan, sewa, asuransi properti, pajak properti semuanya secara umum dianggap sebagai
biaya tetap. Jika management memperkirakan bahwa permintaan terhadap produksi perusahaan
akan meningkat di atas kapasitas saat ini, management dapat mengusahakan tambahan pabrik,
peralatan, tenaga kerja tidak langsung, dan mungkin juga supervisi untuk memproduksi tingkat
output yang diinginkan guna memenuhi permintaan. Tambahan tersebut menaikkan tingkat
pengeluaran atas setiap item overhead pabrik. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya
variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut,
adalah: = +
=

3.3 Overhead Pabrik


Biaya overhead pabrik (manufacturing overhead costs) adalah biaya produksi yang
tidak masuk dalam biaya bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung. Apabila suatu
perusahaan juga memiliki departemen-departemen lain selain departemen produksi maka
semua biaya yang terjadi di departemen pembantu tersebut (termasuk biaya tenaga kerjanya)
dikategorikan sebagai biaya overhead pabrik. Biaya overhead pabrik biasanya muncul dari

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
6
biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk pemakaian bahan tambahan, biaya tenaga kerja
tak langsung, pengawasan mesin produksi, pajak, asuransi, hingga fasilitas-fasilitas
tambahan yang diperlukan dalam proses produksi.

3.3.1 Penggolongan Biaya Overhead Pabrik


Sebelum menentukan anggaran biaya overhead pabrik, kita harus bisa menggolongkan
biaya overhead pabrik terlebih dahulu. Dengan adanya penggolongan, kita akan lebih mudah
dalam menentukan seberapa besar anggaran yang perlu disisihkan sebagai anggaran biaya
overhead pabrik sesuai dengan usaha di perusahaan kita. Biaya overhead pabrik dapat
digolongkan ke dalam tiga kriteria, yakni:

1. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya


Berdasarkan sifatnya, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi:
a. Biaya bahan penolong
Bahan penolong yang dimaksud dalam hal ini adalah bahan yang tidak menjadi
bagian dari hasil produksi atau bahan yang nilainya relatif kecil dibandingkan
harga keseluruhan produk.
b. Biaya tenaga kerja tak langsung
Tenaga kerja tak langsung yang dimaksud dalam biaya overhead pabrik adalah
tenaga kerja perusahaan yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara
langsung kepada produk.
c. Biaya reparasi dan pemeliharaan
Biaya reparasi dan pemeliharaan yang dimaksud dalam biaya overhead pabrik
adalah biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies),
dan harga jasa yang perlu dikeluarkan perusahaan untuk keperluan perbaikan dan
pemeliharaan mesin produksi, kendaraan, dan alat-alat perusahaan lainnya.
2. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungan dengan
perubahan volume produks
Penggolongan biaya overhead pabrik yang selanjutnya dibagi berdasarkan
perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi. Perilaku biaya
overhead pabrik ini dapat dibagi menjadi tiga golongan:
a. Biaya overhead pabrik tetap, yakni biaya overhead pabrik yang tidak berubah
meskipun terjadi perubahan dalam volume produksi.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
7
b. Biaya overhead pabrik variabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah
sebanding dengan perubahan volume produksi.
c. Biaya overhead pabrik semivariabel, yakni biaya overhead pabrik yang berubah
namun tidak sebanding dengan perubahan volume produksi. Untuk memudahkan
penentuan tarif biaya overhead pabrik, biasanya biaya overhead pabrik
semivariabel akan dipecah menjadi dua unsur yakni biaya tetap dan biaya
variabel.
3. Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen.
Selain departemen produksi, sebuah perusahaan pasti memiliki departemen lain
yang dikategorikan sebagai departemen pembantu. Berdasarkan hubungannya dengan
departemen-departemen yang ada dalam perusahaan, biaya overhead pabrik dapat
digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Biaya overhead pabrik langsung departemen (direct departemental overhead
expenses), yakni biaya overhead pabrik yang ada dalam sebuah departemen dan
manfaatnya hanya dapat dinikmati oleh departemen tersebut.
b. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen (indirect departemental
overhead expenses), yakni biaya overhead pabrik yang manfaatnya dapat
dinikmati oleh lebih dari satu departemen.

3.3.2 Metode Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik


Untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik, perusahaan perlu memperhatikan
jumlah tarif biaya overhead pabrik yang akan digunakan. Terdapat tiga alternatif yang dapat
perusahaan digunakan untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik, yaitu:

1. Plantwide Rate / Tarif Tunggal


Perusahaan hanya menggunakan tarif biaya overhead pabrik untuk pembebanan
biaya overhead pabrik ke pesanan maupun produknya dari awal sampai akhir proses.
2. Departemental Rate / Tarif Departementalisasi
Perusahaan menetapkan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap tahapan atau
departemen produksi yang ada di perusahaan. Jumlah tarif biaya overhead pabrik
tergantung dari tahapan atau departemen produksi yang ada.
3. Activity Rate / Tarif Setiap Aktivitas

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
8
Perusahaan menetapkan tarif biaya overhead pabrik untuk setiap aktivitas yang
terjadi dalam pembuatan produknya. Cara ini dikenal dengan Activity Based Costing
(ABC).

3.3.3 Menghtiung Biaya Overhead Pabrik


Untuk bisa menghitung biaya overhead pabrik, terdapat tahap-tahap yang harus
dilakukan oleh perusahaan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menyusun anggaran biaya overhead pabrik
Penyusunan anggaran biaya overhead pabrik didasarkan pada volume kegiatan
yang akan dilaksanakan di masa depan.
2. Memilih dan menaksir dasar pembebanan biaya overhead pabrik
Dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk, dapat dipilih
berdasarkan satuan produk, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga
kerja langsung, jam mesin. Sementara itu faktor-faktor yang harus dipertimbangkan
dalam pembebanan biaya overhead pabrik antara lain:
a. Memperhatikan jenis biaya overhead pabrik yang dominan jumlahnya dalam
departemen produksi.
b. Memperhatikan sifat-sifat biaya overhead pabrik yang dominan tersebut dan
hubungannya dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.
c. Menghitung tarif biaya overhead pabrik yang dapat dilakukan dengan rumus:

3.4 Free On Board Shipping Point


Free on board shipping point adalah transaksi penjualan barang dagan dimana
penyerahan hak kepemilikan atas barang dagang tersebut dilakukan di gudang penjual.
Konsekuensinya, seluruh beban pengiriman barang dagang sejak dari gudang penjual hingga
gudang pembeli menjadi tanggungan pembeli. Itu berarti jika transaksi penjualan dilakukan
dengan menggunakan FOB-Shipping Point, maka biaya pengiriman biaya tida dicatat dan di
jurnal oleh pihak penjual. Sebaliknya, pihak pembeli harus mencatat dan menjual biaya

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
9
pengiriman tersebut dalam buku jurnalnya. Akibatnya, harga beli barang dagang tersebut akan
bertambah sebesar biaya pengirimannya.

Perusahaan 4M Industrial Development LTD. yang berlokasi di Hongkong menjual


secara tunai barang dagang sebesar Rp. 450.000.000 kepada PT. Bydesign Cipta Graha Indah
yang berlokasi di Indonesia (Jakarta). Biaya pengiriman barang dagang tesebut dari Hongkong
ke Indonesia adalah Rp. 20.000.000. Disepakati bahwa transaksi penjualan tersebut
menggunakan FOB-Shipping Point, sehingga atas transaksi penjualan itu perlu dibuat ayat
jurnal sebagai berikut :

Tabel A-1 Tabel jurnal FOB-Shipping Point

Jurnal
Metode Pencarian
Penjual Pembeli
Kas Rp 560.000.000 Pembelian Rp 560.000.000
Periodik Penjualan Rp 560.000.000 Beban angkut Rp 20.000.000
Kas Rp 580.000.000

Kas Rp 560.000.000 Persedian Rp 580.000.000


Kas Rp 580.000.000
Perpetual
Penjualan Rp 560.000.000
Persediaan Rp 560.000.000

PPH 22 IMPORT (PENGURANGAN AKHIR TAHUN UNTUK PPH 29 BADAN)


PPN IMPORT (PENGURANGAN PPN KELUARAN DALAM NEGERI)
BIAYA MASUK (BEBAN BARANG UNTUK MENAMBAH HPP) 15%

3.5 Penentuan Harga Jual dan Profit


Penentuan harga jual merupakan hal penting dalam suatu perusahaan karena merupakan
dasar dalam penentukan keuntungan yang diharapkan. Penentuan harga jual juga
mempengaruhi kehidupan perusahaan. Penentuan harga jual yang terlalu tinggi akan
menyebabkan konsumen beralih pada perusahaan pesaing yang menawarkan harga lebih murah
dengan kualitas barang atau jasa yang relatif sama. Hal ini menyebabkan perusahaan
memperoleh kerugian jangka panjang yaitu kehilangan konsumen yang secara otomatis akan
mengurangi perolehan laba perusahaan. Sedangkan penentuan harga jual yang terlalu rendah
menyebabkan perusahaan mengalami kerugian karena harga jual barang atau jasa tidak bisa
menutupi seluruh biaya produksi.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
10
PT Bydesign cipta graha indah ingin menetapkan harga jual per unit sebagai berikut:
Diketahui harga beli Rp. 40.000, per unit dari 4M Industrial Developmetn LTD, lalu PT
Bydesign menetapakan harga jual sebesar 220%, jadi:

= . 40.000 220%
= . 40.000 + . 88.000
= . 128.000 per item

PT. Bydesign cipta grah indah memperjual barang kebeberapa toko seperti Gramedia, Toys
Kingdom, Toys City, Sogo, Metro. PT Bydesign memberikan margin sebesar 35% ke semua
supplier atas penjualan barang tersebut dengan perhitungan sebagai berikut:

= 35% . 128.000

= . 44.800 per item

= 65 % . 128.000

= . 83.200 per item

() = . 83.200 1,1

= . 75.636,36

= . 83.200 . 75.636,36

= . 7.563,36 per item

= . 75.636,36 . 40.000

= 35.636,36 per item

Jadi keuntungan perusahaan selama 1 bulan s/d 1 tahun dalam menjual 1 item, yaitu,

= 35.636,36 30

= . 1.069.090,8 per item (per bulan)

= . 35.636,36 12
= . 12.829.089,6 per item (per tahun)

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
11
Jika PT. Bydesign Cipta graha indah menjual produk sampai 200 item dalam satu toko maka
keuntungan dalam setahun yaitu,

= . 12.829.089,6 200

= Rp. 2.565.817.920 ( 1 toko )


= Rp. 2.565.817.920 * 50 ( Sampel 50 toko )
=. Rp. 128.290.896.000
Jadi, penjualan laba rugi kotor yg di miliki PT. Bydesign Cipta Graha Indah dalam setahun
mendapatkan Rp. 128.290.8960.00 jika menjual 200 produk dalam 50 toko.

3.5.1 Laporan rugi laba


Pengertian Laporan Laba Rugi adalah mengukur kinerja keuangan perusahaan selama
satu periode tertentu. Laporan ini mencerminkan aktivitas operasi perusahaan. Menurut Van
Horne dan Wachowicz (2005:193) laporan laba rugi merupakan ringkasan dari pendapatan dan
biaya perusahaan selama periode tertentu, diakhiri dengan laba atau kerugian bersih untuk
periode tersebut.

Laporan laba rugi terutama menyajikan informasi kinerja. Informasi kinerja perusahaan
diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin
dikendalikan di masa depan. Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas
perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Di samping itu, informasi
tersebut juga berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam
memanfaatkan tambahan sumber daya. Berikut ini laporan rugi laba PT. Bydesign Cipta Graha
Indah:

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
12
Tabel B-1 Tabel laporan rugi laba.

PT. BYDESIGN CIPTA GRAHA INDAH


LAPORAN RUGI LABA
PER 31 DESEMBER 2016
NO
PENJUALAN JUMLAH TOTAL
AKUN
Laba Rugi Kotor Rp 128.290.896.000

Beban gaji karyawan Rp 38.279.996.400


Beban listrik Rp 12.432.725.800

Beban penyewaan
gedung Rp 1.920.000.000
Beban iventaris kantor Rp 1.249.088.700
Beban angkut penjualan Rp 2.546.180.640
Beban pajak Rp 33.730.903.200
Beban administrasi toko Rp 7.216.362.900
Transportasi Rp 9.329.817.740
Rp 106.705.075.380
TOTAL BEBAN Rp 106.705.075.380
RUGI LABA Rp 21.585.820.620

3.5.2 Neraca
Neraca adalah bagian dari laporan keuangan yang mencatat informasi tentang aset,
kewajiban pembayaran pada pihak-pihak yang terkait dalam operasional perusahaan, dan
modal pada saat tertentu.

Tabel B-2 Tabel Neraca.

PT. BYDESIGN CIPTA GRAHA INDAH


NERACA
PER 31 DESEMBER 2016
NO NO
PERKIRAAN SALDO PERKIRAAN SALDO
AKUN AKUN
Rp Rp
Kas 15.000.000 Utang dagang 370.678.000
Rp Pajak ( hutang Rp
Kas Bank 15.691.000.000 PPN) 14.082.187.557
Rp
Piutang dagang 5.635.800.500
Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
13
NO NO
AKUN PERKIRAAN SALDO AKUN PERKIRAAN SALDO
Persediaan barang Rp Rp
dagangan 12.360.085.000 Modal usaha 1.600.000.000
Rp Rp
Inventaris toko 978.900.000 Rugi laba 21.585.820.620
Rp
Inventaris kantor 525.000.000
Rp
Uang muka pajak 2.432.900.677

Rp Rp
JUMLAH 37.638.686.177 37.638.686.177

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
14
BAB IV
ANALISA BIAYA
4.1 Analisa rugi laba
Analisis Laporan Laba Rugi Suatu Perusahaan Laporan Laba Rugi di produksi setiap
bulan sebagai penanda dan suatu teguran untuk pemilik perusahaan untuk mengetahui apakah
perusahaan terus menghasilkan keuntungan, atau kerugian selama bulan itu, atau selama sekian
bulan terakhir. Perusahaan bisa saja mempunyai angka pendapatan yang fantastis, tetapi bila
Beban Usaha tidak di kontrol, bisa saja menjadi Rugi. Oleh karena itu, perlu untuk melihat
lebih ditel beban perusahaan dan melakukan strategi agar beban perusahaan terus menurun
tanpa berakibat buruk untuk pendapatan. Sama juga situasinya dimana Beban sudah minim,
tetapi Pendapatan tidak bisa menutupi Beban, tetap juga menjadi Rugi.

4.2 Analisa Neraca


Analisa neraca dapat dilakukan oleh seorang profesional yang menyajikan laporan
dalam bentuk rasio yang menggunakan informasi sebagaimana tersaji dalam laporan
keuangan. Laporan ini biasanya disajikan kepada pimpinan puncak suatu usaha
sebagai acuan untuk mengambil suatu kebijakan perusahaan.

Berdasarkan hasil analisa ini maka manajemen dapat memutuskan berbagai keputusan
manajemen misalnya :

Melanjutkan atau tidak melanjutkan operasional suatu usaha atau bagian dari suatu
usaha.
Melakukan pembuatan atau pembelian bahan baku dalam proses produksi.
Melakukan pembelian atau menye!a mesin"mesin produksi.
Melakukan penerbitan saham atau melakukan negosiasi untuk memproleh pinjaman
bank guna meningkatkan modal kerja perusahaan.

Berbagai keputusan lainnya yang memungkinkan manajemen melakukan pilihan yang tepat
terhadap berbagai alternatif yang ada dalam mengelola perusahaan. Ada dua hal pokok yang
digambarkan dalam neraca, yaitu bagian aktiva: semua harta yang dimiliki perusahaan, dan
bagian pasiva: kewajiban yang harus dipenuhi oleh perusahaan kepada pihak ketiga.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
15
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Laporan keuangan adalah suatu alat bantu yang dapat digunakan untuk membuat suatu
keputusan antara lain mengenai rencana-rencanan perusahaan, penanaman modal/investasi,
pencarian sumber-sumber dana oprasi perusahaan lainnya (Amin Wijaya Tunggal, 1995).
Melalui analisis laporan keuangan ini maka para pemakai informasi akuntansi dapat
mengambil keputusan. Pengelola/manajer dalam suatu perusahaan dapat menilai apakah
kinerjanya dalam suatu periode yang lalu mendatangkan keuntungan atau tidak.

Analisis laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh
informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan
yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang
berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih, dan
dianalisa lebih lanjut sehingga akan dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung
keputusan yang akan diambil.

5.2 Saran
Siklus akuntansi dijalankan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan pada pencatatan
yang dapat membuat kerugian perusahaan.

Bagi perusahaan hendaknya meningkatkan kinerja keuangan perusahaan sehingga


dapat menarik investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Dan perusahaan juga
harus lebih memperhatikan kegiatan operasional perusahaan lebih cermat lagi terutama dalam
penggunaan modal, pemakain aktiva lancar. Selain dari itu perusahaan juga harus efisien dalam
pengendalian harga pokok penjualan supaya perusahaan bisa memperoleh laba yang
maksimum.

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
16
DAFTAR PUSTAKA

Harmono. Manajemen Keuangan. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2009.

Munawir. Analisis Laporan Keuangan. Edisi ke Empat. Yogyakarta: Liberty. 1993.

Rudianto. Konsep dan Teknik Penyusunan Laporan Keuangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
2012.

Thompson. Akuntansi biaya. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Edisi 13-2006.

Syamsuddin, Lukman. 2001. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.

Horne, James C.Van, John M.Wachowicz,Jr, 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan,


Edisi Ke-12, Buku Satu, Alih Bahasa : Heru Sutojo, Salemba Empat, Jakarta

Laporan keuangan
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul
Jl. Arjuna Utara no. 9, Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
17