Вы находитесь на странице: 1из 4

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

EPIDEMIOLOGI USIA LANJUT : OSTEOARTHRITIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Kesehatan Masyarakat


Dosen: drg. Dwi Gayatri M.P.H.

Oleh Kelompok 5 :
1. Ivo Urwah 1606954054
2. Rahmi Kurniani R 1606954312
3. Sigma Citta Binajit 1606954464
4. Syifa Adzannur 1606954533
5. Wildana Zakiia 1606954634

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
S1 EKSTENSI KESEHATAN MASYARAKAT
TAHUN 2017
A. Definisi Penyakit Osteoatritis
Osteoartritis atau sering disebut sebagai OA merupakan salah satu penyakit
degeneratif (penuaan) pada persendian sehingga lebih sering dijumpai pada orang tua,
obesitas dan keadaan degeneratif lainnya. Osteoartritis merupakan penyakit sendi
degeneratif yang progresif dimana rawan kartilago yang melindungi ujung tulang mulai
rusak, disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang subkhondral yang
menimbulkan rasa sakit dan hilangnya kemampuan gerak. Masyarakat umum menyebut
penyakit ini rheumatic. Peradangan itu terjadi pada tulang rawan yang menyusun sendi
atau dengan kata lain terjadi pengapuran pada sendi. Tulang rawan yang seharusnya
lunak, ditumbuhi zat-zat kapur yang disebut osteofit. Akibatnya persendian tidak lentur,
sehingga menggangu gerakan dan menyebabkan nyeri. Penyakit sendi ini biasanya terjadi
pada golongan usia paruh baya hingga lanjut usia. Secara biomekanis terdapat kerusakan
pada komponen di area persendian yang menyebabkan penurunan fungsi dan
menimbulkan rasa nyeri.

B. Epidemiologi di Indonesia dan Dunia


Data radiografi menunjukkan bahwa OA terjadi pada sebagian besar usia lebih
dari 65 tahun, dan pada hampir setiap orang pada usia 75 tahun. OA ditandai dengan
nyeri dan kaku pada sendi, serta adanya daya keterbatasan gerakan.
Insidensi dan prevalensi OA bervariasi pada masing-masing negara, tetapi data
pada berbagai negara menunjukkan, bahwa arthritis jenis ini adalah yang paling banyak
ditemui, terutama pada kelompok usia dewasa dan usia lanjut. Prevalensinya meningkat
sesuai pertambahan usia. Prevalensi keseluruhan 12-15% pada paling sedikit satu sendi,
lebih banyak pada kelompok usia >65 tahun. Terdapat peningkatan yang seiring dengan
bertambahnya usia, contohnya adalah lebih dari 80% pasien berusia > 75 tahun memiliki
bukti radiologis adanya OA. Kecenderungan wanita sedikit lebih tinggi secara
keseluruhan, terutama pada penyakit sendi interfalang (pria : wanita, 10:1) (Davey, 2005).
Berdasarkan data prevalensi dari National Centers for Health Statistics,
diperkirakan 15.8 juta (12%) orang dewasa antara 25-74 tahun mempunyai keluhan sesuai
OA. Prevalensi dan tingkat keparahan OA berbeda-beda antara rentang usia dewasa dan
usia lanjut (Hansen, 2005 dalam Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik 2006).
Sebagai gambaran, 20% pasien dibawah 45 tahun mengalami OA tangan dan hanya 8,5%
terjadi pada usia 75-79 tahun. Sebaliknya, OA lutut terjadi <0.1% pada kelompok usia
25-34 tahun, tetapi terjadi 10-20% pada kelompok 65-74 tahun. OA lutut moderat sampai
berat dialami 33% pasien usia 65-74 tahun dan OA panggul moderat sampai berat dialami
oleh 50% pasien dengan rentang usia yang sama.
Data di Indonesia, diketahui sekitar 56,7% pasien di poliklinik Rheumatologi
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta didiagnosis menderita salah satu jenis OA
(Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, 2006).
Insidensi OA panggul dan lutut mendekati 200 per 100.000 orang per tahun.
Insidensi OA panggul lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki, sedangkan
insidensi OA lutut antara perempuan dan laki-laki sama. Pada laki-laki insidensi OA lutut
dan panggul meningkat sesuai dengan pertambahan umur, tetapi pada perempuan tidak
berubah. Berdasarkan data tersebut, diramalkan tiap tahun di Amerika akan terjadi
insidensi setengah juta kasus gejala OA idiopatik pada populasi kulit putih (Hansen, 2005
dalam Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, 2006).

C. Riwayat Alamiah Penyakit dan Faktor Risiko


Pada OA, terjadi proses pengapuran yang merusak tulang rawan disekitar tulang
sehingga menjadi tipis dan kemudian tumbuh tulang baru disekitar sendi yang terserang.
Akibatnya, pinggir sendi bersangkutan kehilangan pembungkus halus kartilago.
Akibatnya tulangtulang saling bergesekan, menyebabkan rasa sakit, bengkak, dan sendi
dapat kehilangan kemampuan bergerak. Lama kelamaan sendi akan kehilangan bentuk
normalnya, dan osteofit dapat tumbuh di ujung persendian (National Institute of Arthritis
and Musculoskeletal and Skin Diseases, 2002 dalam Direktorat Bina Farmasi Komunitas
Dan Klinik, 2006).
Faktor risiko yang dapat menyebabkan OA diantaranya:
1. Obesitas
OA panggul, lutut, dan tangan sering dihubungkan dengan peningkatan berat
badan. Obesitas merupakan penyebab yang mengawali OA, bukan sebaliknya
bahwa obesitas disebabkan immobilitas akibat rasa sakit karena OA (Hansen,
2005 dalam Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, 2006).
2. Okupasi, olah raga, trauma
Hubungan antara okupasi dengan risiko terserang OA tergantung dari tipe dan
intensitas aktivitas fisiknya. Aktivitas dengan gerakan berulang atau cedera
akan meningkatkan risiko terjadinya OA (Hansen, 2005 dalam Direktorat Bina
Farmasi Komunitas Dan Klinik, 2006).
3. Genetic
Pengaruh faktor genetik mempunyai kontribusi sekitar 50% terhadap risiko
terjadinya OA tangan dan panggul, dan sebagian kecil OA lutut (NIH
Conferece, 2000 dalam Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik,
2006).
4. Nutrisi
Metabolisme normal dari tulang tergantung pada adanya vitamin D. Kadar
vitamin D yang rendah di jaringan dapat mengganggu kemampuan tulang
untuk merespons secara optimal proses terjadinya OA dan akan
mempengaruhi perkembangannya. Kemungkinan Vitamin D mempunyai efek
langsung terhadap kondrosit di kartilago yang mengalami OA, yang terbukti
membentuk kembali reseptor vitamin D (NIH Conferece, 2000 dalam
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik, 2006).
5. Hormonal
Pada kartilago terdapat reseptor estrogen, dan estrogen mempengaruhi banyak
penyakit inflamasi dengan merubah pergantian sel, metabolisme, dan
pelepasan sitokin.

D. Pencegahan/Strategi Kesmas
Ada 10 strategi kesehatan masyarakat nasional untuk mencegah penyakit osteoarthritis
adalah sebagai berikut.
1. Pendidikan kesehatan mengenai pencegahan atau intervensi berbasis masyarakat,
terutama pada orang-orang yang menderita OA sitomatik
2. Pada jangka pendek, aktifitas fisik dan latihan penguatan otot dapat di promosikan
secara luas sebagai intervensi kesehatan untuk masyarakat dengan OA pinggul dan
lutut.
3. Kebijakan dan intervensi untuk mengurangi cedera sendi harus di promosikan,
dilaksanakan dan di terapkan.
4. Menjaga berat badan, pola makan dan gizi yang seimbang di perlukan dalam
mencegah OA.
5. Platform kebijakan nasional untuk OA harus dibentuk untuk memperbaiki kesehatan
bangsa melalui pencegahan dan pengendalian klinis yang berbasis masyarakat dan
bukti, termasuk kegiatan peningkatan infrastruktur kesehatan masyarakat.
6. Memperluas sistem untuk memberikan intervensi berbasis bukti
7. Menjamin mutu kualitas dan akses terhadap intervensi OA
8. Meningkatkan lingkungan di tempat kerja dengan mengadopsi kebijakan dan
intervensi yang dapat mencegah timbul dan berkembangnya OA
9. Strategi komunikasi harus ditingkatkan agar terjalin kerjasama antara konsumen,
pelayanan kesehatan, pembuat kebijakan, pengusahan dan komunitas bisnis, dan LSM
10. Penelitian dan evaluasi harus dilakukan secra terus menerus agar dapat meningkatkan
pengawasan, memahami faktor resiko, dan memperbaiki strategis intervensi yang
dilakuan. (CDC, 2010)

Referensi:
- Davey, Patrick. (2005). At A Glance Medicine. Alih Bahasa Annisa Rahmalia dan
Cut Novianty; editor Amalia Safitri. Jakarta : Erlangga
- Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik. (2006). Pharmaceutical Care Untuk
Pasien Penyakit Arthritis Rematik. Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan
Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan .
tersedia dalam binfar.kemkes.go.id diakses pada tanggal 6 Oktober 2017
- CDC. (2010). A National Public Health Agenda for OsteOarthritis 2010. tersedia
dalam https://www.cdc.gov/arthritis/docs/oaagenda.pdf diakses pada tanggal 6
Oktober 2017