You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bidan Praktek Mandiri ( BPM ) merupakan bentuk pelayanan kesehatan
di bidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu,
keluarga, dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya.
Bidan yang menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (
SIPB ) sehingga dapat menjalankan praktek pada saran kesehatan atau program.
( Imamah, 2012 : 01)
Bidan Praktek memiliki berbagai persyaratan khusus untuk
menjalankan prakteknya, seperti tempat atau ruangan praktek, peralatan, obat-
obatan. Namun pada kenyataannya BPM sekarang kurang memperhatikan dan
memenuhi kelengkapan praktek serta kebutuhan kliennya. Di samping
peralatan yang kurang lengkap tindakan dalam memberikan pelayanan kurang
ramah dan bersahabat dengan klien. Sehingga masyarakat berasumsi bahwa
pelayanan kesehatan bidan praktek mandiri tersebut kurang memuaskan (Rhiea,
2011 : 01)
Pelayanan yang di berikan di bidan praktek mandiri meliputi
penyuluhan kesehatan, konseling KB, antenatal care, senam hamil, perawatan
payudara, asuhan persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, pelayanan KB
(IUD, AKBK, Suntik, Pil), imunisasi ( ibu dan bayi ), kesehatan reproduksi
remaja, perawatan pasca keguguran. Selain itu bidan praktek mandiri melayani
pemeriksaan untuk orang yang sakit, kemudian memberi pelayanan kesehatan
terhadap WUS (wanita usia subur ) serta LANSIA ( lanjut usia ). (Imamah,
2011 : 01 )

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah


dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian dari Bidan Praktek berdasarkan UU No. 28 tahun
2017 ?
2. Apa saja persyaratan pendirian Bidan Praktek ?
3. Pelayanan apa saja yang diberikan pada Bidan Praktek Mandiri ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bidan Praktek Mandiri (BPM)


Bidan praktek mandiri (BPM) adalah suatu institusi pelayanan
kesehatan secara mandiri yang memberikan asuhan dalam lingkup praktik
kebidanan. Praktik kebidanan adalah penerapan ilmu kebidanan dalam
memberikan pelayanan atau asuhan kebidanan kepada klien dengan pendekatan
menejemen kebidanan.
Bidan Praktek Mandiri (BPM) adalah Bidan yang memiliki Surat Ijin
Praktek Bidan (SIPB) sesuai dengan persyaratan yang berlaku, dicatat (register)
diberi izin secara sah dan legal untuk menjalankan praktek kebidanan mandiri.
Bidan Praktek Mandiri (BPM) merupakan bentuk pelayanan kesehatan
dibidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga, dan
masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Bidan yang
menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB) sehingga
dapat menjalankan praktek pada sarana kesehatan atau program. (Imamah,
2012 : 01)
Bidan praktek mandiri mempunyai tanggung jawab besar karena harus
mempertanggungjawabkan sendiri apa yang dilakukan. Dalam hal ini Bidan
Praktek Mandiri menjadi pekerja yang bebas mengontrol dirinya sendiri. Situasi
ini akan besar sekali pengaruhnya terhadap kemungkinan terjadinya
penyimpangan etik. (Sofyan, dkk. 2006)
BPM selain berfungsi tempat pelayanan masyarakat terutama ibu dan
anak, hendaknya dapat pula berfungsi sebagai tempat pemberdayaan
masyarakat yang juga berperan ikut serta dalam kegiatan peran serta
masyarakat, misalnya :
a. Kegiatan posyandu
b. Membina posyandu
c. Membina kader
d. Membina dukun
e. Menjadi ibu asuh
f. Membina dasa wisma
g. Menjadi anggota organisasi kemasyarakatan

B. Praktek bidan menurut UU No. 28 Tahun 2017


Dalam praktek kebidanan ini ada beberapa pasal yang berkaitan mengenai
syarat dalam membuka praktek kebidanan di antaranya adalah:
BAB IV
PRAKTIK MANDIRI BIDAN
Pasal 30
(1) Bidan yang menyelenggarakan Praktik Mandiri Bidan harus memenuhi
persyaratan, selain ketentuan persyaratan memperoleh SIPB sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat

(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi persyaratan


lokasi, bangunan, prasarana, peralatan, serta obat dan bahan habis pakai.

Pasal 31
Persyaratan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) berupa
Praktik Mandiri Bidan harus berada pada lokasi yang mudah untuk akses
rujukan dan memperhatikan aspek kesehatan lingkungan.
Pasal 32
Persyaratan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2)
meliputi ruang dalam bangunan Praktik Mandiri Bidan yang terdiri atas:
a. ruang tunggu;

b. ruang periksa;

c. ruang bersalin;

d. ruang nifas;

e. WC/kamar mandi; dan

f. ruang lain sesuai kebutuhan.

Pasal 33
(1) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32, bangunan
Praktik Mandiri Bidan harus bersifat permanen dan tidak bergabung fisik
bangunan lainnya.

(2) Ketentuan tidak bergabung fisik bangunan lainnya sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) tidak termasuk rumah tinggal perorangan, apartemen, rumah
toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis.

(3) Dalam hal praktik mandiri berada di rumah tinggal perorangan, akses
pintu keluar masuk tempat praktik harus terpisah dari tempat tinggal
perorangan.

(4) Bangunan praktik mandiri Bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam
pemberian pelayanan serta perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi
semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang usia lanjut.
Pasal 34
Persyaratan prasarana Praktik Mandiri Bidan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 ayat (2) paling sedikit memiliki:
a. sistem air bersih;

b. sistem kelistrikan atau pencahayaan yang cukup;


c. ventilasi/sirkulasi udara yang baik; dan

d. prasarana lain sesuai kebutuhan.

Pasal 35
Persyaratan peralatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) berupa
peralatan Praktik Mandiri Bidan harus dalam keadaan terpelihara dan
berfungsi dengan baik untuk menyelenggarakan pelayanan.
Pasal 36
(1) Persyaratan obat dan bahan habis pakai Praktik Mandiri Bidan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) meliputi pengelolaan obat dan
bahan habis pakai yang diperlukan untuk pelayanan antenatal, persalinan
normal, penatalaksanaan bayi baru lahir, nifas, keluarga berencana, dan
penanganan awal kasus kedaruratan kebidanan dan bayi baru lahir.

(2) Obat dan bahan habis pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya
diperoleh dari apotek melalui surat pesanan kebutuhan obat dan bahan habis
pakai.

(3) Bidan yang melakukan praktik mandiri harus melakukan


pendokumentasian surat pesanan kebutuhan obat dan bahan habis pakai
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) serta melakukan pengelolaan obat yang
baik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(4) Contoh surat pesanan obat dan bahan habis pakai sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) tercantum dalam formulir V yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 37
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan bangunan, prasarana, peralatan,
dan obat-obatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal
36 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Pasal 38
(1) Praktik Mandiri Bidan harus melaksanakan pengelolaan limbah medis.

(2) Pengelolaan limbah medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan melalui kerjasama dengan institusi yang memiliki instalasi
pengelolaan limbah.
Pasal 39
(1) Praktik Mandiri Bidan harus memasang papan nama pada bagian atau
ruang yang mudah terbaca dengan jelas oleh masyarakat umum dengan
ukuran 60x90 cm dasar papan nama berwarna putih dan tulisan berwarna
hitam.

(2) Papan nama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat
nama Bidan, nomor STRB, nomor SIPB, dan waktu pelayanan.

Pasal 40
(1) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus melakukan penilaian terhadap
pemenuhan persyaratan Praktik Mandiri Bidan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 sampai dengan Pasal 36, dengan menggunakan instrumen penilaian
sebagaimana tercantum dalam Formulir I yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

(2) Hasil penilaian kelayakan sebagaimana dimaksud pada huruf (1), menjadi
dasar dalam pembuatan rekomendasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1) huruf f.

Pasal 41
(1) Praktik Mandiri Bidan tidak memerlukan izin penyelenggaraan sebagai
Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

(2) Izin penyelenggaraan Praktik Mandiri Bidan sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) melekat pada SIPB yang bersangkutan.

Pasal 42
(1) Bidan dalam menyelenggarakan Praktik Mandiri Bidan dapat dibantu oleh
tenaga kesehatan lain atau tenaga nonkesehatan.

(2) Tenaga kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memiliki SIP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 43
(1) Bidan yang berhalangan sementara dalam melaksanakan praktik kebidanan
dapat menunjuk Bidan pengganti dan melaporkannya kepada kepala
puskesmas setempat.
(2) Bidan pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki
SIPB dan tidak harus SIPB di tempat tersebut.
Pasal 44
Dalam rangka melaksanakan praktik kebidanan, Praktik Mandiri Bidan dapat
melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana antenatal sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Perbedaan Permenkes 1464 tahun 2010 dengan UU No. 28 Tahun 2017

Indikator 1464/2010 28/2017 Analisis

C. Visi, Misi dan Tujuan Rencana Usaha Visi dan Misi


1. VISI
Mewujudkan pelayanan kesehatan yang Islami, aman, terpercaya, dan
terjangkau yang berdasarkan pada nilai- nilai kepedulian dan kesigapan dalam
melayani seluruh golongan dan lapisan masyarakat.
2. MISI
a. Menciptakan suasana pelayanan yang nyaman dan aman bagi
pasien, keluarga pasien, dan para tamu serta pengunjung klinik.
b. Membangun hubungan saling percaya diantara seluruh elemen yang
terkait antara mitra medis pelayanan kesehatan dengan pasien dan
keluarganya yang mendukung pola pelayanan kesehatan yang
optimal.
c. Membangun citra pelayanan Klinik di masyarakat luas sehingga
klinik mendapatkan simpati dan rasa percaya masyarakat untuk
mendapatkan penanganan medis diklinik.
d. Menyediakan fasilitas pelayanan yang dapat menyerap aspirasi
masyarakat baik dari segi biaya, letak geografis serta budaya
sehingga dapat menjangkau seluruh golongan dan lapisan
masyarakat.
e. Memegang teguh sikap pelayanan yang menjunjung tinggi nilai-
nilai kepedulian dan kesigapan dalam melayani masyarakat.
3. Motto
Kesembuhan pasien suatu kebahagiaan kami
4. Maksud dan Tujuan
a) Tujuan Umum
Mewujudkan BPM sehingga tercipta profesionalisme dan mengoptimalkan
seluruh sumber daya yang dimiliki agar terwujud pelayanan yang prima.
b) Tujuan khusus
1. Membantu program pemerintah dalam menurunkan angka
kematian ibu dan bayi.
2. Terwujudnya pelayan profesional, nyaman, modern, sesuai
standar sesuai harapan akan pelayanan yang diinginkan oleh
klien.
3. Mampu memberikan pelayanan yang tepat waktu, tepat sasaran,
tepat kebutuhan klien, tepat biaya.
4. Terwujudnya BPM Rima Julita sebagai layanan kesehatan
yang mendapat kepercayaan dari klien dan mitra kerja serta
menjadi usaha yang menguntungkan sekaligus bermanfaat dan
memenuhi harapan masyarakat.
5. Memudahkan masyarakat umum dilingkungan sekitar klinik
bersalin umumnya, dan bagi keluarga khususnya untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil.

D. Analisis SWOT
1. Strenght (Kekuatan)
a. SDM
1. Lulusan DIII Kebidanan
2. Lulusan D4 Bidan Klinik
3. Lulusan s1 Kebidanan
4. Lulusan DIII Administrasi
5. Lulusan SMA
6. Bidan yang professional qurani
7. Sudah memiliki STR dan SIPB
8. Memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun
9. Pengetahuanbaiktekhnismaupun non tekhnis, anatara lain :
Asuhan persalinan normal
Keluarga berencana
Insersi IUD
penanganan HIV AIDS
Pelatihan kesehatan reproduksi
10. Memiliki wajah yang menarik
11. Memiliki solidaritas yang tinggi
12. Pandai bersosialisasi
13. Memiliki rasa humor
14. Kreatif dan inovatif
15. Ramah dan santun
b. Keuangan dan Pendanaan
1. Memiliki tabungan dari gaji kerja
2. Mendapat bantuan dari keluarga
3. Mendapat pinjaman dari Bank

c. Sarana dan Prasarana


1. Sudah mempunyai lahan untuk mendirikan BPM
2. Peralatan yang digunakan berkualitas
3. Ada sebagian peralatan yang sudah dicicil saat kuliah
4. Terdapat Baby Shop
5. Ruang untuk Baby Spa massage dan Senam Hamil
6. Parkiran yang luas
7. Mushola

d. Lokasi
1. Jarak BPM ke Puskesmas 1,5 km
2. Cukup strategis karena berada di tepi jalan
3. Strategis karena dekat dengan jalan kota
4. Lokasi mudah dicapai dan mudah ditemukan
5. Tansportasi area lokasi lancar
e. Kemitraan
Berkolaborasi dengan dokter obgyn dan dokter anak dari RSUP M.Jamil
Padang

2. Weakness (Kelemahan)
1. Fasilitas kurang lengkap seperti USG
2. Masyarakat ramai tapi suka berobat ke Dokter
3. Sebagian kecil masyarakat masih menggunakan obat tradisional
seperti rendaman daun-daunan
4. Jarak 2 km dari lokasi pendirian BPM ada BPM yang sudah lama
berdiri
5. Bidan di BPM tetangga sudah terkenal di masyrakat setempat

3. Opportunity (Peluang)
1. Orang tua mendukung
2. Mempunyai hubungan yang baik dengan warga sekitar Sekitar
3. Masih sedikitnya fasilitas kesehatan di sekitar
4. Mempunyai hubungan relasi yang baik dengan warga sekitar
5. Setelah dianalisis pelayanan sebagian bidan di daerah itu kurang
memuaskan khususnya dalam bidang kepuasan pelanggan
6. Bidan-bidan senior kurang bisa meningkatkan kreatifitas sehingga
terlihat monoton

4. Treatht (Tantangan)
1. Masih banyak warga yang datang ke dukun
2. Kebudayaan masih sangat melekat
3. Bidan mendapat sanksi jika terjadi mal praktek
4. Bidan senior lebih kompeten
5. Banyak warga yang kurang informasi mengenai fasilitas
kesehatan
E. Persyaratan Pendirian Bidan Praktek Mandiri
1. Bidan dalam menjalankan praktek harus :
a. Memiliki tempat dan ruangan praktek yang memenuhi persyaratan
kesehatan.
b. Menyediakan tempat tidur untuk persalinan minimal 1 dan
maksimal 5 tempat tidur.
c. Memiliki peralatan minimal sesuai dengan ketentuan dan
melaksanakan prosedur tetap (protap) yang berlaku.
d. Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peralatan yang
berlaku.
2. Bidan yang menjalankan prakytek harus mencantumkan izin praktek
bidannya atau foto copy prakteknya diruang praktek, atau tempat yang
mudah dilihat.
3. Bidan dalam prakteknya memperkerjakan tenaga bidan yang lain, yang
memiliki SIPB untuk membantu tugas pelayanannya
4. Bidan yang menjalankan praktek harus harus mempunyai peralatan
minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan peralatan harus
tersedia ditempat prakteknya.
5. Peralatan yang wajib dimilki dalam menjalankan praktek bidan sesuai
dengan jenis pelayanan yang diberikan .
6. Dalam menjalankan tugas bidan harus serta mempertahankan dan
meningkatkan keterampilan profesinya antara lain dengan :
a. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan atau saling
tukar informasi dengan sesama bidan .
b. Mengikuti kegiatan-kegiatan akademis dan pelatihan sesuai
dengan bidang tugasnya, baik yang diselenggarakan pemerintah
maupun oleh organisasi profesi.
c. Memelihara dan merawat peralatan yang digunakan untuk
praktek agar tetap siap dan berfungsi dengan baik.
7. Persyaratan Bangunan, meliputi :
a. Papan nama
Untuk membedakan setiap identitas maka setiap bentuk pelayan medik dasar
swasta harus mempunyai nama tertentu, yang dapat diambil dari nama yang
berjasa dibidang kesehatan, atau yang telah meninggal atau nama lain yang
sesuai dengan fungsinya.
Ukuran papan nama seluas 1 x 1,5 meter.
Tulisan blok warna hitam, dan dasarnya warna putih.
Pemasangan papan nama pada tempat yang mudah dan jelas
mudah terbaca oleh masyarakat.
b. Tata ruang
Setiap ruang priksa minimal memiliki diameter 2 x 3 meter.
Setiap bangunan pelayanan minimal mempunyai ruang priksa,
ruang adsministrasi/kegiatan lain sesuai kebutuhan, ruang
tunggu, dan kamar mandi/WC masing-masing 1 buah.
Semua ruangan mempunyai ventilasi dan
penerangan/pencahayaan.
c. Lokasi
Mempunyai lokasi tersendiri yang telah disetujui oleh
pemerintah daerah setempat (tata kota), tidak berbaur dengan
kegiatan umum lainnya seperti pusat perbelanjaan, tempat
hiburan dan sejenisnya.
Tidak dekat dengan lokasi bentuk pelayanan sejenisnya dan juga
agar sesuai fungsi sosialnya yang salah satu fungsinya adalah
mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
d. Hak dan guna pakai
Mempunyai surat kepemilikan (surat hak milik/surat hak guna
pakai)
Mempunyai surat hak guna (surat kontrak bangunan) minimal 2
tahun.

F. Inovasi/Unggulan Layanan
Ingin memperbarui dan memodifikasi pelayanan dengan cara
sedemikian rupa sehingga dapat mendirikan sebuah tempat pelayanan
kesehatan yang dapat memberikan kepuasan kepada pasien dan membuat
pasien merasa nyaman berada disebuah tempat pelayanan tersebut.Misalnya di
BPM :
1. Ada ruangan pojok untuk ibu menyusui sehingga ibu merasa
nyaman ketika akan menyusui bayinya sehingga ibu dan bayi
merasa nyaman dan tenang , diruangan tersebut diberikan fasilitas
kipas angin dan disediakan tempat minum sehingga ibu dan bayi
tidak merasa gerah dan apabila ibu haus pada saat menyusui ibu
biasa langsung minum.
2. Ada ruangan pojok bermain anak sehingga ketika ibu sedang
melakukan pemeriksaan anak dapat menunggu sambil bermain dan
dapat dengan mudah diawasi sehingga anak tidak merasa takut lagi
untuk mendengar ataupun takut pergi kepelayanan kesehatan, dan
bidan juga dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan si anak
melalui ruang pojok mainan.
3. Ada ruang konsultasi bayi jadi para ibu biasa sekali-kali konsultasi
terhadap bidan tentang pertumbuhan dan perkembangan si bayi, jadi
ibu tidak perlu jauh-jauh harus ke klinik maupun kerumah sakit
hanya untuk berkonsultasi jadi ibu bisa menghemat waktu.
4. Ada ruangan ibadah agar ibu dan keluarga pasien yang sedang
menunggu juga dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk
sehingga pasien tidak buru-buru untuk pulang kerumah untuk
menjalankan ibadah.
5. Ada ruang senam bagi ibu hamil, ibu nifas untuk membantu
melancarkan proses persalinan dan membantu mempercepat
pemulihan ibu pada ibu nifas.
6. Ada ruang hypno birthing digunakan untuk memberikan teknik
relaksasi agar calon ibu yang melahirkan tetap rileks dan
menghindari rasa takut yang berlebihan yang akan lebih memicu
rasa sakit dan ketidaknyamanan pada si ibu.
7. Diruang tunggu disediakan tempat minum seperti air putih apabila
pasien lelah bisa menghilangkan dengan minum dan setiap pasien
datang pasien disuguhkan dengan teh hangat sehingga pasien
merasa senang dan bidan sekali-kali berbicang-bincang dan
bercanda mengakrabkan diri sehingga bidan dengan pasien maupun
keluarga pasien merasa lebih dekat dan pasien merasa lebih
diperhatikan.
8. Dan pada ibu bersalin ketika ibu ingin pulang ibu diantar kerumah
dengan bu bidan, sebelum pulang ibu bidan berfoto terlebih dahulu
dengan si ibu dan si bayi dan memberikan sedikit souvenir kepada
ibu untuk menjalin kedekatan dengan pasien. Setelah itu pada
kunjugan pertama ibu nifas, setelah si ibu selesai melakukan
pemeriksaan ketika ibu ingin pulang , ibu bidan memberikan foto si
ibu dan si bayi yang sudah diberi bingkai kepada si ibu.
9. Diluar terdapat pekarangan kecil yang terdapat sebuah taman yang
bisa menyejukan pandangan dan memberikan sedikit rileksasi
sehingga pasien tidak bosan dan jenuh, terdapat juga berbagai
macam tanaman obat yang ditanam.
10. Tempat parkir harus strategis dan luas agar pasien dan keluarga
mudah untuk menempatkan kendaraan dan terjaga juga
keamanannya , sehingga pasien tidak cemas dengan kendaraannya
BAB III
PROGRAM PELAYANAN

i. Jenis Layanan dan Harga

No Jenis Pelayanan Tarif


1. Pelayanan ANC
a Pelayanan ANC Rp. 30.000,00
b Senam hamil Rp. 35.000,00
c Imunisasi TT Rp. 30.000,00
2 Pelayanan Persalinan
a Proses persalinan Rp. 800.000,00
b Perawatan Nifas Rp. 25.000,00
3. Pelayanan Kunjungan Nifas
a Pemeriksaan nifas Rp. 25.000,00
4. Pelayanan Imunisasi
a BCG Rp. 30.000,00
b Polio Rp. 30,000,00
c Hepatitis B Rp. 30,000,00
d DPT-HB Rp. 30,000,00
e Campak Rp. 30,000,00
6. Pelayanan KB
a Pil Rp. 10.000,00
b KB suntik 1 bulan Rp. 25.000,00
c KB suntik 3 bulan Rp. 35.000,00
d IUD
1) Pasang IUD Rp. 250.000,00
2) Kontrol IUD Rp. 75.000,00
3) Lepas IUD Rp. 150.000,00
e Implan Rp. 150.000,00
f Kondom Rp 20.000,00

ii. Tempat dan Lokasi Usaha


Bidan praktek mandiri ini akan didirikan di Jl. Teknologi 9 Kelurahan
Surau Gadang, Kec Nagggalo Siteba, Padang. Padatnya penduduk serta
minimnya fasilitas kesehatan yang ada. Selain itu, letak yang strategis yaitu
dekat dengan jalan utama sehingga lalu lintas ini cukup ramai dilalui oleh
masyarakat termasuk juga transportasi umum.
Tempat untuk praktik bidan terpisah dari ruangan keluarga terdiri dari:
a. Ruang Tunggu
b. Ruang pemeriksaan
c. Ruang persalinan
d. Ruang rawat inap
e. Ruang hypno birthing
f. Ruang konsultasi bayi
g. Pojok menyusui
h. Pojok bermain
i. Ruang ibadah
j. WC/ Kamar mandi
k. Ruang pencegahan dan pengendalian infeksi, dan
l. Ruang senam

iii. Waktu Pelayanan


Untuk jam praktek dimulai dari pukul 16.00 23.00 setiap harinya,
Sedangkan untuk pelayanan pasien partus 24 jam. Salah satu penyebabnya
adalah proses persalinan yang sering tidak bisa diperkirakan.

iv. Tenaga Kerja

NO. TENAGA KERJA JUMLAH PENDIDIKAN

1 Bidan pengelola 1 orang S1 Kebidanan


D3 Kebidanan
2 Bidan pelaksana 2 orang
D4 Bidan Klinik

3 AsistenRumah Tangga 1 orang SMA

4 Bendahara 1 orang D3 Akuntansi

5 Sopir + Satpam 1 orang SMA

v. Kelayakan Usaha
Kelayakan dari BPM ini sudah teruji dari surat-surat perizinan yang
dimiliki dan kemauan masyarakat sekitar untuk memiliki tempat pelayanan
kesehatan terdekat, sehingga masyarakat tidak perlu membuang waktu dalam
menempuh jarak yang cukup lama untuk datang ke tenaga kesehatan, sehingga
tingkat kepedulian masyarakat terhadap dirinya dan kesehatan dapat lebih
diutamakan oleh masyarakat itu sendiri, dan fasilitas diBPM ini sudah sebagian
besar terpenuhi kelayakannya dan sudah memiliki standar yang sudah teruji
untuk memberikan kepuasan dan kenyamanan terhadap klien maupun pasien
itu sendiri.
Bidan memberikan pelayanan dengan ramah, cepat tanggap terhadap
keadaan klien, tidak membeda bedakan pasien, meningkatkan keterampilan
agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu tinggi serta
menjalin kerja sama dengan rumah sakit atau klinik untuk mempercepat
penanganan bila terjadi kegawatdaruratan. Biaya pelayanan terjangkau oleh
masyarakat sekitar dan bidan memiliki tenaga ahli yang professional.

vi. Perizinan
Usaha kami memiliki perizinan sebagai berikut :
a. SIB/226_AKDIT/DINKES (lampiran)
b. SIPB : 112/ 002/ SIPB/ 09/ Dinkes (lampiran)
c. SITU ( Surat Izin Tempat Usaha) yang dikeluarkan oleh Pemkot
Sumatera Barat dengan No : 227/1567/850.A/BPPTSP-C/1V/2014.
(lampiran)
d. Memiliki Akta Notaris
e. Memiki NPWP

vii. Aspek Keuangan


Sumber dana adalah tabungan pribadi sebanyak Rp 90.000.000, modal
dari orang tua 20.000.000, pinjam dana dari bank 30.000.000, Jadi total
keseluruhan modal Rp.140.000.000,00

viii. Barang dan Alat yang Dibutuhkan


NO JENIS ALAT JUMLAH
PERALATAN TIDAK STERIL
1 Tensimeter 2
2 Stetoskop bioculer 1
3 Stetoskop monoculer 1
4 Timbangan dewasa 1
5 Timbangan bayi 1
6 Pengukur panjang bayi 1
7 Termometer 2
8 Oksigen dengan regulator 1
9 Amubag dengan masker resusitasi 1/1
10 Penghisap lendir 2
11 Lampu Sorot 1
12 Penghitung nadi 1
13 Sterilisator 1
14 Bak Instrumen dengan tutup 2
15 Reflex hammer 1
16 Alat pemeriksaan Hb Sahli 1
17 Set pemeriksaan urine(protein+reduksi) 1
18 Pita pengukur 2
19 Plastik penutup instrument steril 2
20 Sarung tangan karet untuk mencuci alat 2 pasang
21 Apron/celemek 2
22 Masker 1 dus
23 Pengaman mata 2
24 Sarung kaki plastic 2
25 Infuse set 15
26 Standard infuse 2
27 Semprit disposable 10
28 Tempat kain kotor 3
29 Tempat plasenta 2
30 pot 5
31 Bengkok besar/ kecil 2
32 Sikat, sabun ditempatnya 2/2
33 Kertas lakmus 2
34 Vacumekstraktor set 1 set
35 Semprit glyserin 1
36 Gunting perban 1
37 Spatel lidah 2
38 IUD KIT 1
39 Implant KIT 1
40 Handuk bayi 1
41 Topi bayi 4
42 Selimut bayi 4

PERALATAN STERIL
1 Klem Pean 2
2 kocer 2
3 Korentang 2
4 Gunting tali pusat 1
5 Gunting benang 2
6 Gunting episiotomy 2
7 Kateter karet/metal 2
8 Pincet anatomi pendek dan panjang 3
9 Tenaculum/kocher tang 2
10 Pincet chirurgic 1/1
11 Speculum vagina 2/2
12 Mangkok metal kecil 1
13 Penjepit tali pusat 6
14 Penghisap lendir 2
15 Tampon tang dan tampon vagina 2
16 Pemegang jarum 2
17 Jarum otot dan jarum kulit 2/2
18 Sarung tangan 1 dus
19 Benang sutra+catgut 2/2
20 Duk Steril 3 pasang

BAHAN HABIS PAKAI


1 Kapas 3 pack
2 Kain kasa 3 roll
3 Plester 2 roll
4 Pembalut wanita 5 pack
5 Underpad 6 pack

PERALATANPENCEGAHAN INFEKSI
1 Safety box 3
2 Tempat sampah basah dan kering 1/1
3 Ember untuk larutan klorin 1
4 Ember untuk mendekontaminasi peralatan 1
5 Ember plastic dan sikat untuk membersihkan 3
alat
6 DTT set 1
7 Tempat penyimpanan alat bersih 2

PERALATAN LAIN
1 Bed untuk VK
2 Bed periksa 1
3 Bed untuk pasien nifas 1
4 Lemari es untuk menyimpan vaksin 2
5 Rak obat 1
6 Kursi 2
7 Meja kerja 15
8 Lemari pasien 2
9 TV 21 inchi 2
10 Box bayi 2
11 Kipas angin 2
12 Matras 3
13 Bantal tidur 6
14 Bantal menyusui 2
15 CD panduan senam 2
16 CD panduan hypno brithing 6
17 Linen 6
18 sprei 6
19 taplak meja 6
20 sarung bantal 7
21 gorden untuk pemisah ranjang 6
22 perlak plastic 4
2
OBAT-OBATAN KB :
1 Pil KB 12
2 Kb injeksi 3 bulan 50
3 KB injeksi 1 bulan 50
4 Kondom 50

Untuk Pelayanan imunisasi bayi


1 HB0 / pack (24 bh) 5 ampul
2 DPT / pack ( 24 bh ) 5 ampul
3 HB Combo / pack ( 24 bh) 5 ampul
4 Campak /pack ( 24 bh ) 5 ampul
5 Polio / pack ( 12 bh ) 5 ampul

Obat anti pendarahan:


5 ampul
Oxytocin
1 5 ampul
Metil ergometrin
2

Analgesik :
10
Paracetamol
1 10
Amoxicilin
2 10
Asam Mefenamat
3 1 pack
Spuit 1 cc / pack ( 100 bh )
4 1 pack
Spuit 3 cc / pack ( 100 bh )
5 1 pack
Spuit 5 cc / pack ( 100 bh )
6 1 pack
Spuit 10 cc / pack ( 100 bh )
7 2
Alcohol besar
8 10
Betadhine
9
1 LAUNDRY 2 bungkus
2 Deterjen 1 botol
3 Pemutih 2 bungkus
Pengharum

1 FORMULIR YANG DISEDIAKAN 15 lembar


2 15 lembar
Formulir Inform Consent
3 20 lembar
Formulir ANC
4 15 lembar
Formulir patograf
5 7 buku
Formulir persalinan/nifas/KB
Buku register: pasien umum, ANC, INC,
6 15 lembar
PNC, anak sehat, anak sakit, KB
7 15 lembar
Formulir laporan
8 25 lembar
Formulir rujukan
9 50 buah
Formulir surat kelahiran
10 10 lembar
Buku KIA
Formulir keterangan hamil untuk cuti
11 10 lembar
melahirkan
Formulir kematian

ix. Strategi Kemitraan


1. Bekerjasama dengan Puskesmas Nanggalo
a. Merujuk setiap ada kegawatdaruratan, dan merujuk pasien
dengan kasus diluar
b. Bekerjasama dalam pembuangan limbah medis
2. Bekerjasama dengan apotik
3. Bekerjasama dengan toko alat kesehatan
4. Bekerjasama dengan laboratorium
5. Bekerjasma dengan dukun didaerah sekitar, dengan menempatkan
bidan sebagai penolong persalinan dan dukun dialih fungsikan dari
penolong persalinan menjadi mitra dalam merawatan bayi.
Dan membuat kesepakatn dimana dukun akan selalu merujuk ke bidan apabila
ada ibu hamil dan akan melahirkan.dengan sistem bagi hasil antara bidan dan
dukun.
6. Menjalin kerjasama dengan organisasi kemasyarakatan
7. Membangun kerjasama dengan pemerintah daerah mulai dari tingkat
kelurahan sampai tingkat provinsi

x. Strategi Monitoring, Evaluasi dan Pengendalian Usaha


a. Evaluasi kinerja karyawan
1. Untuk bidan, ada pemberian bonus tambahan uang setiap ada partus
2. Pemberian reward kepada karyawan yang berprestasi dengan
nominal uang
3. Pengawasan langsung kepada bidan sesuai dengan SOP dan
kompetensi bidan
4. Kuisioner pasien : membagikan lembar kuisioner kepada pasien
tentang kualitas pelayanan yang diberikan oleh karyawan.
5. Mengadakan meeting bulanan
6. Mengadakan meeting tahunan

xi. Jadwal Rencana Usaha


Jenis Kegiatan Tahun 2016 bulan ke-
1 2 3
Tahap I
(Perencanaan)

1. Pembuatan V
Proposal
2. Perizinan V

Tahap II
(Pelaksanaan)

1. Penyediaan V
perlengkapan
praktik
2. Pelaksanaan
program V

Tahap III (Evaluasi)

1. Penulisan V
Laporan
2. Penyerahan V
Laporan
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bidan Praktek Mandiri (BPM) merupakan bentuk pelayanan kesehatan
dibidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga, dan
masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Bidan yang
menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB) sehingga
dapat menjalankan praktek pada sarana kesehatan atau program. Persyaratan
pendirian juga perlu diperhatikan, agar bidan dapat memberikan pelayanan
yang bermutu kepada setiap pasien.

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan untuk mengetahui berbagai hal tentang Bidan Praktek Swasta
mulai dari pelayanan, manajemen, serta persyaratan pendirian BPM.
2. Bagi Bidan
Diharapkan untuk memperhatikan segala aspek dalam memberikan
pelayanan, terutama pada mutu pelayanannya.
3. Bagi Institusi
Di harapkan institusi lebih memberikan pengalaman serta pengetahuan
tentang Bidan Praktek Mandiri sehingga mahasiswa menjadi lebih tahu.