Вы находитесь на странице: 1из 5

Prinsip prinsi pengembangan ktsp

1. Peningkatan iman,tagwa dan akhlak mulia


2. Pengembangan kompetensi
3. Kebutuhan kompetensi masa depan
4. Peningkatan potensi,kecerdasan dan minat sesuai perkembangan dan kemampuan peserta
didik
5. Keragaman potensi dan karakteristikdaerah dan lingkungan
6. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
7. Tuntutan dunia kerja
8. Perkembangan iptek dan seni
9. Dinamika perkembangan global
10. Nilai bangsa

Manfaat menganalisis butir soal, yaitu:


1. Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi dengan baik,
2. Analisis Butir Soal
3. Meningkatkan butir soal melalui tiga komponen analisis yaitu tingkat kesukaran, daya
pembeda, dan pengecoh soal, 3.
4. Meningkatkan validitas soal dan reliabilitas, dan 4.
5. Merevisi soal yang tidak relevan dengan materi yang diajarkan, ditandai dengan
banyaknya anak yang tidak dapat menjawab butir soal tertentu.

1. Kajian Materi Pembelajaran

Tahap pertama yang harus dilakukan Gadik sebagai penilai adalah mempelajari dan
mengkaji materi pembelajaran dari satu atau lebih kompetensi dasar. Kajian materi ini dapat
dilakukan melalui beberapa referensi untuk memperoleh bahan secara komprehensif dari
beragam sumber dengan bertolak pada kompetensi yang diharapkan.

2. Memilih Teknik Penilaian

Tahap kedua Gadik memilih atau menentukan teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan
pengukuran. Secara garis besar, teknik penilaian dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
penilaian melalui tes dan non tes. Pusdik dan sekolah biasanya para Gadik banyak
menggunakan teknik pertama, yaitu dengan tes. Dalam menentukan keakuratan perlu
dipertimbangkan pemilihan teknik, yaitu tingkat ke-akurat-an dan kepraktisan penyusunan
dalam setiap butir soal. Pemberian nilai dengan cara tes lebih mudah dibandingkan dengan
non tes.

3. Perumusan Kisi Kisi

Tahap ketiga merumuskan dan membuat matrik kisi-kisi sesuai dengan teknik penilaian yang
telah ditentukan. Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai informasi dan ruang lingkup dari
materi pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman untuk menulis soal atau matriks soal
menjadi tes. Pembuatan kisi-kisi memiliki tujuan untuk menentukan ruang lingkup dalam
menulis soal agar menghasilkan perangkat tes yang sesuai dengan indikator.
Kisi kisi dibuat berdasarkan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai serta bentuk
tes yang akan diberikan kepada peserta didik. Tes dapat berbentuk tes objektif benar-
salah, pilihan ganda atau tes uraian serta non tes berupa penilaian afektif dan
psikomotorik.

Kisi-kisi berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes. Dengan adaya
kisi-kisi penulisan soal menjadi terarah, komprehensif dan representatif. Dengan pedoman
kepada kisi-kisi penyusunan soal menjadi lebih mudah dan dapat menghasilkan soal-soal
yang sesuai dengan tujuan tes.

1. Syarat penyusunan Kisi kisi adalah,

Dapat mewakili isi silabus atau kurikulum.


Komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami.
Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya sesuai bentuk soal yang
ditetapkan.
Sesuai dengan indikator.

2. Komponen kisi kisi terdiri dari:

Komponen Identitas
Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan.
Mata pembelajaran.
Tahun ajaran
Jumlah soal.
Bentuk soal.
Standar Kompetensi.
Kompetensi Dasar.
Indikator

PROSEDUR PENILAIAN

Dalam pembuatan kisi-kisi harus memenuhi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik
yang mengacu kepada teori Bloom sebagai berikut:

1. Aspek Kognitif

Menurut Taksonomi Bloom cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah:

a. Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan


kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode.

b. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal.
Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan,
menginterprestasikan.

c. Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat
tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan
menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan,
menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur.

d. Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek
menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis,
menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan.

e. Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis


sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan,
menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan.

f. Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap


sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak
ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan,
mempertimbangkan dan menentukan.

2. Aspek Afektif

Aspek afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif
kemampuan yang diukur adalah:

1. Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran,


kerelaan, mengarahkan perhatian
2. Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas
dalam merespon, mematuhi peraturan
3. Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen
terhadap nilai
4. Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan
abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai
5. Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya

3. Aspek Psikomotorik

Psikomotorik meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3) keterampilan
perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi
taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4) keterampilan fisik, (5) gerakan
terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan
ekspresif, gerakan interprestatif.

Berikut ini contoh pembuatan kisi-kisi dalam bentuk matrik dengan bentuk tes objektif yang
bervariasi dan nomor soal dibuat berurutan sesuai dengan bentuk soal dan indikator.

4. Penulisan Butir Soal

Tahap keempat, Gadik menulis dan membuat butir-butir soal yang sesuai dengan kisi-kisi
dan bentuk soal yang telah ditentukan. Bila Gadik menggunakan teknik non tes, maka
diperlukan untuk membuat pedoman pengisian instrumen. Misalnya untuk observasi atau
wawancara.

5. Penimbangan/Reviewe
Dalam tahap ini, butir soal dan atau pedoman yang telah disusun Gadik, ditimbang secara
rasional (analisis rasional oleh Gadik) ; dibaca, ditelaah dan dikaji kembali butir-butir soal
dan atau pedoman yang dibuat telah memenuhi persyaratan.

6. Perbaikan

Pedoman diperbaiki sesuai dengan hasil penimbangan, bagian-bagian mana yang perlu
dikurangi atau ditambah kalimat atau kata-katanya perbaikan inipun biasanya didasarkan
kepada pemikiran peserta didik untuk memahami isi dari kalimat yang diberikan, hal ini
mengandung arti bahwa kalimat yang disusun hendaknya mudah di pahami oleh para peserta
didik .

7. Uji-coba dan Penggandaan.

Uji-coba terhadap tes/soal yang dibuat adalah untuk menentukan apakah butir soal yang
dibuat telah memenuhi criteria yang dituntut, sudahkah mempunyai tingkat ketetapan,
ketepatan, tingkat kesukaran dan daya pembeda yang memadai. Untuk bentuk non tes
kriterianya dituntut adalah tingkat ketepatan (validitas) dan ketetapan (reliabilitas) sehingga
diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang baku (standar)

8. Diuji (diteskan)

Setelah diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang memenuhi persyaratan sudah
barang tentu perangkat alat ini diorganisasikan, disusun berdasarkan pada bentuk-bentuk atau
model-model soal bagi perangkat tes, dan untuk perangkat non tes.Setelah perangkat tes
maupun non tes digandakan kemudian siap untuk diujikan.

9. Pemberian Skor

Lembar jawaban peserta didik dikumpulkan dan disusun berdasarkan nomer induk peserta
didik untuk memudahkan dalam memasukkan skor peserta didik. Kemudian dilakukan
pemberian skor sesuai dengan kunci jawaban, sehingga diperoleh skor setiap peserta didik.
Untuk bentuk soal objektif diberi skor 1 jika benar dan 0 jika salah, sedangkan skor bentuk
essay bergantung kepada tingkat kesulitan soal. Untuk menafsirkan siapa yang lulus dan tidak
lulus bergantung pada batas lulus yang dipergunakan oleh Gadik.

10. Putusan.

Tujuan Prakerin :
1. Membentuk mental siswa siswi agar mempunyai jiwa pekerja keras yang mampu
konsisten.
2. Menambah pengetahuan siswa siswi di masing masing bidangnya.
3. Memberikan suatu motivasi dalam diri siswa siswi agar menunjukan dirinya mampu
melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya.
4. Memberikan bekal serta gambaran pada siswa siswi seperti apakah bekerja itu.
5. Sebagai pengalaman melatih diri dengan menkaji konsep-konsep yang didapat selama
melakukan PRAKERIN sehingga terbiasa dengan dunia lapangan kerja.
6. Menyiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas sesuai dengan tuntutan zaman di era
Teknologi Informasi dan Komunikasi.
7. Mengembangkan pemantapan Profesionalisme yang diperlukan siswa untuk memasuki
dunia lapangan pekerjaan sesuai dengan bidangnya.
untuk itu pelaksanaan Prekerin merupakan suatu hal yang sangat penting sekali dan
merupakan suatu kegiatan wajib dalam dunia pendidikan SMK. 8.Ajang uji coba ilmu yang ia
pelajari.
Melalui prakerin paling tidak manfaat yang harus diambil oleh siswa SMK adalah :
1. Mengajarkan ia akan perlunya semangat dan disiplin tinggi sebagaimana di dunia kerja.
2.Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan ilmu serta skill yang ia miliki, sehingga.
3.Mengajarkannya bagaimana kehidupan yang sebenarnya.
4.Siswa diharapkan mempunyai sikap Jujur ,Dedikasi,Komitmen,Tanggung jawab,
Konsisten,tuntas.