You are on page 1of 15

Perlakuan Panas (Heat Treatment)

Perlakuan panas adalah suatu proses pemanasan dan pendinginan logam


dalam keadaan padat untuk mengubah sifat-sifat fisik logam tersebut. Baja dapat
dikeraskan sehingga tahan aus dan kemampuan memotong meningkat, atau
baja dapat dilunakkan untuk dapat memudahkan permesinan lebih lanjut. Melalui
perlakuan panas yang tepat, tegangan dalam dapat dihilangkan, besar butir
diperbesar atau diperkecil, ketangguhan ditingkatkan atau dapat dihasilkan suatu
permukaan yang keras disekeliling inti yang ulet. Maksud perlakuan panas tersebut
secara garis besar menyangkut:
1. Meningkatkan kekerasan dan keuletan.
2. Menghilangkan tegangan dalam
3. Melunakkan Baja.

4. Menormalkan keadaan baja biasa dari akibat pengaruh-pengaruh pengerjaan


dan perlakuan panas sebelumnya.
5. Menghaluskan butir-butir kristal atau kombinasi dari maksud-maksud tersebut
diatas
Proses perlakuan panas ada beberapa macam, yaitu :
1. Softening (pelunakan) : adalah usaha untuk menurunkan sifat mekanik agar
menjadi lunak dengan cara mendinginkan material yang sudah dipanaskan
didalam tungku (annealing) atau mendinginkan dalam udara terbuka
(normalizing).
Contoh : annealing, normalizing, tempering.
2. Hardening (pengerasan) : adalah usaha untuk meningkatkan sifat material
terutama kekerasan dengan cara celup cepat (quenching) material yang sudah
dipanaskan ke dalam suatu media quenching berupa air, air garam, maupun oli.
Contoh : surface hardening dan quenching.
3 . Carburizing ( Pengerasan permukaan Luar) : adalah cara pengerasan permukaan
luar dari suatu material baja atau besi kadar karbon rendah agar menjadi keras
pada lapisan luar atau memiliki kadar karbon tinggi pada lapisan luarnya.
Biasanya suhu pada proses karburasi adalah 17000F. setelah proses pendinginan
maka pada permukaan baja dapat dilihat dengan mikroskop bahwa terdapat
bagian bagian hypereutectoid, zona yang terdiri dari perlit dan jaringan sementit
yang putih,
diikuti zona euktektoid, hanya terdiri dari perlit dan terakhir adalah zona
hypeutektoid, yang terdiri dari perlit dan ferrit, dimana jumlah ferrit
meninggkat hingga pusat dicapai.
Contoh : Karburasi Padat ( pack carburizing ),Karburasi Gas ( gac
carburizing dan Karburasi Cair ( liquid carburizing )

Di dalam laporan ini penulis hanya membahas tentang Pack carburizing (


Karburasi Padat ).
Untuk memungkinkan perlakuan panas yang tepat, susunan kimia baja harus
diketahui karena perubahan komposisi kimia, khususnya karbon dapat
mengakibatkan perubahan sifat-sifat fisik.
Elemen pokok dari beberapa perlakuan panas adalah siklus pemanasan (Heating
Cycle), temperatur penahanan (Holding temperatur), waktu dan siklus pendinginan
(Cooling cycle). Waktu pendinginan akan mempengaruhi terjadinya perubahan
struktur mikro dalam baja. Berikut merupakan diagram waktu pendinginan.
Gambar 2.1 Diagram Proses Pendinginan Fasa Austenit 9

Diagram diatas menggambarkan tahapan tahapan transformasi untuk


menghasilkan berbagai variasi struktur mikro yang terbentuk. Disini diasumsikan
bahwa perlit, bainit, dan martensit terbentuk dari perlakuan pendinginan yang
berlanjut. Dan martensit serta martensit temper digunakan untuk teknik penguatan
dan perlakuan panas. Pada baja semua proses dasar pengerjaan panas berhubungan
dengan transformasi atau penguraian austenite. Maka sifat dan kenyataan yang
diperoleh pada hasil transformasi memperluas aneka ragam guna, sifat fisik, dan sifat
mekanik logam.
Sedangkan laju pendinginan memegang peranan yang sangat penting dalam
transformasi austenite ke perlit maupun martensit. Pengerjaan panas efektif hanya
pada paduan tertentu, karena itu hanya tergantung dari satu unsur elemen yang
larut dengan yang lain, di dalam keadaan padat dengan jumlah yang berbeda pada
kondisi yang berbeda pula.
Diagram Fasa Besi Karbon (Fe-C)
Diagram fasa Fe-C atau biasa disebut diagram kesetimbangan besi karbon
merupakan diagram yang menjadi parameter untuk mengetahui segala jenis fasa yang
terjadi didalam baja, serta untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang terjadi pada
paduan baja dengan segala perlakuannya.

Gambar 2.2 Diagram Kesetimbangan Fe-C 10


Dari diagram fasa yang dituntujukkan pada gambar 2.2 terlihat bahwa suhu
sekitar 723C merupakan suhu transformasi austenit menjadi fasa perlit (yang
merupakan gabungan fasa ferit dan sementit). Transformasi fasa ini dikenal
sebagai reaksi eutectoid dan merupakan dasar proses perlakuan panas dari baja.
Sedangkan daerah fasa yang prosentase larutan karbon hingga 2 % yang terjadi di
temperatur 1.147C merupakan daerah besi gamma () atau disebut austenit. Pada
kondisi ini biasanya austenit bersifat stabil, lunak, ulet, mudah dibentuk, tidak ferro
magnetis dan memiliki struktur kristal Face Centered Cubic (FCC).

Besi murni pada suhu dibawah 910C mempunyai struktur kristal Body
Centered Cubic (BCC). Besi BCC dapat melarutkan karbon dalam jumlah sangat
rendah, yaitu sekitar 0,02 % maksimum pada suhu 723C. Larutan pada
intensitas dari karbon didalam besi ini disebut juga besi alpha () atau fasa ferit.
Pada suhu diantara 910C sampai 1.390C, atom-atom besi menyusun diri menjadi
bentuk kristal Face Centred Cubic (FCC) yang juga disebut besi gamma () atau
fasa austenit. Besi gamma ini dapat melarutkan karbon dalam jumlah besar yaitu
sekitar 2,06 % maksimum pada suhu sekitar 1.147C. Penambahan karbon ke dalam
besi FCC ditransformasikan kedalam struktur BCC dari 910C menjadi 723C pada
kadar karbon sekitar 0,8 %. Diantara temperatur 1.390C dan suhu cair 1.534C,
besi gamma berubah menjadi susunan BCC yang disebut besi delta ().
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam diagram Fe Fe3C yaitu,
perubahan fasa ferit atau besi alpha (), austenit atau besi gamma (), sementit atau
karbida besi, perlit dan sementit akan diuraikan dibawah ini :
1. Ferrite atau besi alpha ()
Merupakan modifikasi struktur besi murni pada suhu ruang, dimana ferit
menjadi lunak dan ulet karena ferit memiliki struktur BCC, maka ruang antara atom-
atomnya adalah kecil dan padat sehingga atom karbon yang dapat tertampung hanya
sedikit sekali.

2. Austenit atau besi gamma ()


Merupakan modifikasi dari besi murni dengan struktur FCC yang memiliki
jarak atom lebih besar dibandingkan dengan ferit. Meski demikian rongga-rongga
pada struktur FCC hampir tidak dapat menampung atom karbon dan penyisipan
atom karbon akan mengakibatkan tegangan dalam struktur sehingga tidak semua
rongga dapat terisi, dengan kata lain daya larutnya jadi terbatas.
3. Karbida Besi atau Sementit
Adalah paduan Besi karbon, dimana pada kondisi ini karbon melebihi batas
larutan sehingga membentuk fasa kedua atau karbida besi yang memiliki komposisi
Fe3C. Hal ini tidak berarti bila karbida besi membentuk molekul Fe3C, akan tetapi
kisi kristal yang membentuk atom besi dan karbon mempunyai perbandingan 3 :
1. Karbida pada ferit akan meningkatkan kekerasan pada baja sifat dasar sementit
adalah sangat keras.
4. Perlit
Merupakan campuran khusus yang terjadi atas dua fasa yang terbentuk
austenisasi, dengan komposisi eutektoid bertransformasi menjadi ferit dan karbida.
Ini dikarenakan ferit dan karbida terbentuk secara bersamaan dan keluarnya
saling bercampur. Apabila laju pendinginan dilakukan secara perlahan-lahan maka
atom karbon dapat berdifusi lebih lama dan dapat menempuh jarak lebih jauh,
sehingga di peroleh bentuk perlit besar. Dan apabila laju pendinginan lebih di
percepat lagi maka difusi akan terbatas pada jarak yang dekat sehingga akhirnya
menghasilkan lapisan tipis lebih banyak.
5. Martensit
Adalah suatu fasa yang terjadi karena pendinginan yang sangat cepat
sekali,dan terjadi pada suhu dibawah eutektoid tetapi masih diatas suhu kamar.
Karena struktur austenit FCC tidak stabil maka akan berubah menjadi struktur BCT
secara serentak. Pada reaksi ini tidak terjadi difusi tetapi terjadi pengerasan
(dislokasi). Semua atom bergerak serentak dan perubahan ini langsung dengan
sangat cepat dimana semua atom yang tinggal tetap berada pada larutan padat
karena terperangkap dalam kisi sehingga sukar menjadi slip, maka martensit akan
menjadi kuat dan keras tetapi sifat getas dan rapuh menjadi tinggi.Martensit dapat
terjadi bila austenit didinginkan dengan cepat sekali (dicelup) hingga temperatur
dibawah pembentukkan bainit.
Martensit terbentuk karena transformasi tanpa difusi sehingga atom- atom
karbon seluruhnya terperangkap dalam larutan super jenuh. Keadaan ini yang
menimbulkan distorsi pada struktur kristal martensit dan membentuk BCT.
Tingkat distorsi yang terjadi sangat tergantung pada kadar karbon. Karena itu
martensit merupakan fasa yang sangat keras namun getas.

Diagram TTT (Time Temperature Transformation)


Untuk mendapatkan sifat-sifat bahan yang lebih baik sesuai dengan karakter
yang diinginkan dapat dilakukan melalui pemanasan dan pendinginan. Tujuannya
adalah mengubah struktur mikro sehingga bahan dikeraskan, dimudakan atau
dilunakan.
Pemanasan bahan dilakukan diatas garis transformasi kira-kira pada 7700C,
sehingga perlit berubah menjadi austenit yang homogen karena terdapat cukup
karbon. Pada suhu yang lebih tinggi ferrit menjadi austenit karena atom karbon
difusi ke dalam ferrit tersebut. Untuk pengerasan baja, pendinginan dilakukan
dengan cepat melalui pencelupan kedalam air, minyak atau bahan pendingin lainnya
sehingga atom-atom karbon yang telah larut dalam austenit tidak sempat
membentuk sementit dan ferrit akibatnya austenit menjadi sangat keras yang disebut
martensit.
Pada baja setelah terjadi austenit dan ferrit kadar karbonya akan menjadi makin
tinggi sesuai dengan penurunan suhu dan akan membentuk hipoeutektoid. Pada
saat pemanasan maupun pendinginan difusi atom karbon memerlukan waktu yang
cukup. Laju difusi pada saat pemanasan ditentukan oleh unsure-unsur paduanya dan
pada saat pendinginan cepat austenit yang berbutir kasar akan mempunyai banyak
martensit.
Fase kristal dan besarnya butir yang terjadi akan membentuk sifat baja.
Apabila ferrit dan sementit didalam perlit berbutir besar, maka baja tersebut
makin lunak sebagai akibat pendinginan lambat. Sebaliknya baja menjadi semakin
keras apabila memiliki perlit berbutir halus yang diperoleh pada pendinginan cepat.
Baja dengan unsure paduan aluminium, vanadium, titanium dan zirkonim akan
cenderung memiliki kristal berbutir halus. Untuk memahami macam-macam fase
dan struktur kristal yang terjadi pada saat pendinginan dapat diamati dari diagram
TTT .
Fasa austenit stabil berada di atas suhu 7700C. Pada suhu yang lebih rendah
akan terbentuk martensit dan mulai suhu tersebut martensit sudah tidak tergantung pada
kecepatan pendinginan. Struktur bainit akan terbentuk setelah terbentuknya ferrit dan
sementit. Jadi campuran antara ferrit dan sementit adalah bainit seperti pada perlit.
Perbedaan antara bainit dengan perlit adalah bentuknya halus sedangkan perlit kasar.
Diagram TTT dipengaruhi oleh kadar karbon dalam baja, makin besar kadar
karbonya maka diagramnya akan semakin bergeser kekanan, demikian pula dengan
unsure paduan lainya. Apabila baja dipanaskan sampai terbentuknya austenit,
pendinginan akan berlangsung terus menerus tidak isotermal biarpun dilakukan
dengan berbagai media pendingin.
Untuk menentukan laju reaksi perubahan fasa yang terjadi dapat diperoleh dari
diagram TTT (Time Temperature Transformation). Diagram TTT untuk baja
karbon dengan C kurang dari 0,8% (hipoeutectoid) ditunjukan dalam gambar 2.3 ,
sedangkan diagram TTT untuk baja C sama dengan 0,8% (eutectoid) diberikan dalam
gambar 2.4.
Gambar 2.3 Diagram TTT untuk baja Hipoeutectoid (C < 0,8%) 1

Gambar 2.4 Diagram TTT untuk baja eutectoid (C = 0,8%) 1

Dari gambar diatas menunjukkan bentuk hidung (nose) sebagai batasan


waktu minimum dimana sebelum waktu tersebut bertransformasi austenit ke perlit
tidak akan terjadi. Posisi hidung dari diagram TTT dapat bergeser menurut kadar
karbon. Posisi hidung bergeser makin kekanan yang berarti baja karbon itu makin
mudah untuk membentuk bainit/martensit atau makin mudah untuk dikeraskan.
Sedangkan Ms merupakan temperatur awal mulai terbentuknya fasa martensit dan Mf
merupakan temperatur akhir dimana martensit masih bisa terbentuk.
Untuk mendapatkan hubungan antara kecepatan pendinginan dan struktur
mikro yang terbentuk biasanya dilakukan dengan menggabungkan diagram
kecepatan pendinginan kedalam diagram TTT yang dikenal dengan diagram CCT
(Continous Cooling Transformation) seperti yang terlihat dalam gambar 2.5.

Gambar 2.5 Diagram CCT (Continous Cooling Transformation) 1


Pada contoh gambar diagram diatas menjelaskan bahwa bila kecepatan
pendinginan naik berarti bahwa waktu pendinginan dari suhu austenit turun,
struktur akhir yang terjadi berubah dari campuran feritperlit ke campuran ferit
perlitbainitmartensit, feritbainitmartensit, kemudian bainit martensit dan
akhirnya pada kecepatan yang tinggi sekali struktur yang terjadi adalah martensit.
Gambar 2.6 Kurva Pendinginan pada Diagram TTT 1

Dari diagram pendinginan diatas dapat dilihat bahwa dengan pendinginan


cepat (kurva 6) akan menghasilkan struktur martensite karena garis pendinginan
lebih cepat daripada kurva 7 yang merupakan laju pendinginan kritis (critical
cooling rate) yang nantinya akan tetap terbentuk fase austenite (unstable).
Sedangkan pada kurva 6 lebih cepat daripada kurva 7, sehingga terbentuk struktur
martensite yang keras , tetapi bersifat rapuh karena tegangan dalam yang besar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan proses heatreatment pada baja karbon
akan meningkatkan kekerasanya. Dengan meningkatnya kekerasan, maka efeknya
terhadap kekuatan adalah sebagai berikut :
Kekuatan impact (impact strength) akan turun karena dengan meningkatnya
kekerasan, maka tegangan dalamnya akan meningkat. Karena pada pengujian
impact beban yang bekerja adalah beban geser dalam satu arah, maka tegangan
dalam akan mengurangi kekuatan impact.

Kekuatan tarik (tensile sterngth) akan meningkat. Hal ini disebabkan karena pada
pengujian tarik beban yang bekerja adalah secara aksial yang berlawanan dengan
arah dari tegangan dalam, sehingga dengan naiknya kekerasan akan meningkatkan
kekuatan tarik dari suatu material.
Hardening
Hardening adalah perlakuan panas terhadap baja dengan sasaran
meningkatkan kekerasan alami baja. Perlakuan panas menuntut pemanasan benda
kerja menuju suhu pengerasan didaerah atau di atas daerah kritis dan pendinginan
berikutnya secara cepat dengan kecepatan pendinginan kritis. Akibat penyejukan
dingin dari daerah suhu pengerasan ini dicapailah suatu keadaan paksa bagi struktur
baja yang membentuk kekerasan. Oleh karena itu maka proses pengerasan ini di
sebut juga pengerasan kejut atau pencelupan langsung kekerasan yang tercapai pada
kecepatan pendinginan kritis (martensit) ini di iringi kerapuhan yang besar dan
tegangan pengejutan.
Pada setiap operasi perlakuan panas, laju pemanasan merupakan faktor yang
penting. Panas merambat dari luar ke dalam dengan kecepatan tertentu bila
pemanasan terlalu cepat, bagian luar akan jauh lebih panas dari bagian dalam oleh
karena itu kekerasan di bagian dalam benda akan lebih rendah dari pada di bagian
luar,dan ada nilai batas tertentu. Namun air garam atau air akan menurunkan suhu
permukaan dengan cepat, yang diikuti dengan penurunan suhu di dalam benda
tersebut sehingga di peroleh lapisan keras dengan ketebalan tertentu.

Quenching
Quenching adalah proses pendinginan setelah mengalami pemanasan. Media
quenching dapat berupa oli, air, air garam, dan lain-lain sesuai dengan material yang
diquenching. Dimana kondisi sangat mempengaruhi tingkat kekerasan. Pada
quenching proses yang paling cepat akan menghasilkan kekerasan tertinggi.

Jika suatu benda kerja diquench ke dalam medium quenching, lapisan cairan
disekeliling benda kerja akan segera terpanasi sehingga mencapai titik didihnya dan
berubah menjadi uap. Berikut adalah 3 tahap pendinginan :
Gambar 2.7 Diagram Tahap Pendinginan

Pendinginan dan Media Pendingin


Seperti pemanasan, pendinginan juga bekerja tidak merata pada keseluruhan
penampang benda kerja (dari luar kedalam).
Untuk proses quenching kita melakukan pendinginan secara cepat dengan
menggunakan media Oli. Tujuanya adalah untuk mendapatkan struktur martensite,
semakin banyak unsur karbon, maka struktur martensite yang terbentuk juga akan
semakin banyak. Karena martensite terbentuk dari fase Austenite yang didinginkan
secara cepat. Hal ini disebabkan karena atom karbon tidak sempat berdifusi keluar
dan terjebak dalam struktur kristal dan membentuk struktur tetagonal yang ruang
kosong antar atomnya kecil, sehingga kekerasanya meningkat.
Untuk mendinginkan bahan di kenal berbagai macam bahan, dimana untuk
memperoleh pendinginan yang merata maka bahan pendinginan tersebut hampir
semuanya di sirkulasi, contohnya yaitu :
1. Air
Air memberi pendinginan yang sangat cepat. Untuk memperbesar daya
pendinginan air, maka kedalam air tersebut dilarutkan garam dapur dari 5 sampai
10 %.
2. Minyak / Oli
Minyak / oli memberi pendinginan yang cepat, oleh karena untuk keperluan ini
minyak harus memenuhi berbagai macam persyaratan.

3. Udara

Udara memberi pendinginan yang perlahan-lahan. Udara tersebut ada yang


disirkulasi dan ada pula yang tidak disirkulasi.
4. Garam
Garam memberi pendinginan yang cepat dan merata. Garam tersebut terutama
digunakan untuk proses Hardening.

Teori dasar Pengujian Kekerasan


Yang dimaksud dengan kekerasan adalah suatu sifat dari bahan-bahan logam
yang sangat penting karena banyak sifat-sifat lain yang berhubungan dengan
kekerasannya. Pada umumnya ada tiga cara penentuan kekerasan bahan yaitu:
1. Cara Goresan
Cara ini sering dilakukan dengan menggoreskan bahan logam yang lebih
keras kepada bahan yang lebih lunak. Mohs telah membuat skala yang terdiri dari 1
s/d 10 standar mineral yang disusun menurut kemampuannya dari bahan yang
terkeras, yaitu intan dengan skala 10 sampai bahan yang terlunakkan yaitu Talk
dengan angka 1. Logam-logam yang keras pada umumnya ada pada skala 4-8.
2. Cara Dinamik
Cara ini adalah dengan cara menjatuhkan bola baja pada permukaan logam,
tinggi pantulan bola menyatukan energi benturan sebagai ukuran kekerasan logam,
dengan cara ini dinamakan cara Shore Scleroscope.
3. Cara Penekanan
Pengukuran kekerasan dengan cara ini dilakukan dengan menggukan indentor
yang ditekan pada benda uji dengan beban besar tertentu. Penekanan tersebut akan
menyebabkan logam mengalami deformasi plasstis. Apabila penekanan oleh indentor
diterusken, deformasi pada benda uji akan terus berlangsung. Kemampuan benda uji
menahan tekanan indentor inilah yang diartikan sebagai kekerasan dari material,
beban yang diberikan dalam uji kekerasan adalah konstan. Oleh karena itu nilai
kekerasan dari benda uji akan tergantung pada luas permukaan bekas benda uji yang
mengalami penekanan. Makin luas bekas penekanan tersebut, maka makin rendah
sifat kekerasan dari benda uji atau benda uji tersebut bersifat lunak.

Metode Rockwell
Dalam metode ini penetrator ditekan dalam benda uji. Harga kekerasan
didapat dari perbedaan kedalaman dari beban mayor dan minor. Beban minor adalah
beban pertama yang diberikan identer kepada specimen pada saat mencapai
permukaan specimen juga berfungsi sebagai landasan untuk beban mayor. Sedangkan
beban mayor adalah beban yang diberikan pada benda uji sampai mencapai
kedalaman tertentu pada specimen dari identer. Jadi nilai kekerasan didasarkan
pada kedalaman bekas penekanan.
Metode ini sangat cepat dan cocok untuk pengujian massal. Karena hasilnya
dapat secara langsung dibaca pada jarum penunjuk, maka metode ini sangat efektif
untuk pengetesan massal.
Uji kekerasan ini banyak digunakan disebabkan oleh sifat-sifatnya yang cepat
dalam pengerjaannya, mampu membedakan kekerasan pada baja yang diperkeras,
ukuran penekanan relative kecil, sehingga bagian yang mendapatkan perlakuan
panas dapat diuji kekerasannya tanpa menimbulkan kekerasan. Uji ini
menggunakan kedalaman lekukan pada beban yang konstan sebagai ukuran
kekerasan.
Mula-mula diberikan beban kecil sebesar 10 kgf untuk menempatkan benda
uji. Hal ini untuk memperkecil kecenderungan terjadinya penumbukan keatas atau
penurunan yang disebabkan oleh identer. Kemudian diberikan beban yang besar
sebagai beban utama , secara otomatis kedalaman bekas penekanan akan terekam
pada gauge penunjuk yang menyatakan angka kekerasannya.
Pengujian kekerasan Rockwell didasarkan pada kedalaman masuknya penekan
benda uji, makin keras benda yang akan diuji makin dangkal masuknya penekan
tersebut. Sebaliknya semakin dalam masuknya penekan tersebut berarti benda uji
makin lunak. Cara Rockwell disukai karena dapat dengan cepat mengetahui harga
kekerasan suatu material tanpa menghitung seperti cara brinell dan Vickers. Nilai
kekerasan dapat langsung dibaca setelah beban utama dihilangkan, dimana beban awal
masih menekan benda tersebut.
Uji kekerasan Rockwell mempunyai kemampuan ulang (reproduciable), namun
perlu diperhatikan :
Penekan dan landasan harus bersih dan terpasang dengan baik.
Permukaan yang diuji harus bersih, kering, halus, dan bebas dari pengotor.
Permukaan harus datar dan tegak lurus terhadap penekan.
Menguji permukaan silinder memberikan hasil pembacaan yang rendah.
Pengukuran pada permukaan silinder memerlukan koreksi dimana data-data
koreksinya secara teoritis dan empiris telah dipublikasikan.
Kecepatan pembebanan harus sama dengan waktu pemberian beban, baik untuk
pengujian pertama maupun selanjutnya.
Tebal benda uji harus sedemikian rupa sehingga tidak terjadi gembung
pada permukaan dibaliknya. Dianjurkan agar tebal benda uji minimal 10
kali kedalaman bekas penekanan. Pusat dari penekanan tidak boleh kurang
dari 2,5 kali garis tengah penekanan dari tiap sisi benda uji tersebut dan
dari segala macam penekan lainnya.
Tabel 2.1 Skala Kekerasan Rockwell
Skala Beban Mayor Tipe Identor Tipe material uji
(kg)

A 60 Intan kerucut Sangat keras, tungsten, karbida

B 100 1/16 bola baja Kekerasan sedang, kuningan,


perunggu

C 150 Intan kerucut Baja keras, paduan yang


dikeraskan, baja hasil perlakuan

D 100 1/8 bola baja Paduan alumunium,magnesium


yang diannealing

Gambar 2.8 Rockwell Hardness Tester HR-150


Kelebihan :
Cepat dan lebih sederhana
Mampu untuk membedakan perbedaan kekerasan kecil pada baja yang diperkeras
Ukuran lekukan kecil, sehingga bagian yang mendapat perlakuan panas yang
lengkap dapat diuji kekerasan tanpa menimbulkan kerusakan.

Kekurangan :
Skala kekerasan pengukuran yaitu kombinasi antara penetrator yang digunakan
dan beban penekanan yang diijinkan untuk setiap material berbeda-beda, sehingga
harus disesuaikan.
Dengan bekas tekanan yang kecil maka kekerasan rata-rata tidak dapat ditentukan
untuk bahan yang tidak homogeny.
Dengan pembesaran dalamnya bekas tekanan yang kecil terdapat kesalahan
pengukuran yang besar.