You are on page 1of 6

Berita Selulosa Vol. 43 (2), hal.

101-106, Desember 2008, ISSN 0005 9145


Terakreditasi sebagai Majalah Ilmiah No. 18/AKRED-LIPI/P2MBI/9/2006
Tersedia online di http://www.bbpk.go.id

POTENSI PEMANFAATAN LIGNOSELULOSA PADA COIR DUST


SEBAGAI PENYERAP TUMPAHAN MINYAK PADA AIR
Vera Barlianti*; Edi Iswanto Wiloso
* Pusat Penelitian Kimia-LIPI; PUSPIPTEK, Serpong-Tangerang
e-mail : vera_barlianti@yahoo.com

POTENCY OF LIGNOCELLULOSE UTILIZATION FROM COIR DUST AS AN OIL


SPILL SORBENT IN WATER

ABSTRACT
Oil spill can contaminate the environment as a consequence of activities related to crude oil
exploration, oil refinery, transportation, pipeline leaking, and industrial processes. This research
related with the characteristics of coir dust as oil sorbent material to remove oil from water.
Hydrophobicity is an important parameter that determines the effectiveness of the oil sorbent. Some
treatments were done in this research to increase the hydrophobicity of coir dust. Moreover, these
treatments were expected to improve oil sorption capacity of coir dust. They are heating and
acetylation process. The results showed both of heating and acetylation could increase
hydrophobicity and oil sorption capacity onto coir dust.

Keywords : coir dust, hydrophobic, oil sorption capacity, sorbent, lignocelluloses


INTISARI
Tumpahan minyak dapat mencemari lingkungan sebagai konsekuensi dari aktivitas-aktivitas
eksplorasi minyak bumi, pengilangan minyak, kecelakaan transportasi, kebocoran pipa, dan proses
industri. Penelitian ini berhubungan dengan karakteristik coir dust sebagai bahan penyerap (sorben)
minyak untuk menyisihkan cemaran minyak dalam air. Hidrofobisitas (sifat tidak suka air) merupakan
parameter penting yang menentukan efektivitas sorben tersebut. Pada penelitian ini dilakukan
beberapa perlakuan, baik secara fisik maupun kimia untuk meningkatkan hidrofobisitas coir dust,
yang selanjutnya diharapkan dapat memperbaiki kapasitas penyerapan minyak pada coir dust.
Perlakuan-perlakuan yang dimaksud adalah pemanasan dan proses asetilasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa proses pemanasan dan asetilasi dapat meningkatkan hidrofobisitas dankapasitas
penyerapan minyak pada coir dust.
Kata kunci : coir dust, hidrofobik, kapasitas penyerapan minyak, sorben, lignoselulosa

PENDAHULUAN atmosfir. Cemaran minyak pada perairan dapat


berakibat buruk pada kesehatan manusia karena
Tumpahan minyak merupakan salah satu
berpotensi menurunkan kualitas air baku air
sumber utama masalah pencemaran lingkungan.
minum dan mengganggu kegiatan pertanian dan
Hal ini dapat terjadi di lingkungan kerja maupun
perikanan. Kasus yang pernah terjadi, antara
lingkungan secara umum sebagai konsekuensi
lain adanya tumpahan minyak mentah di
dari aktivitas-aktivitas eksplorasi minyak bumi,
Indramayu yang menyebabkan kegagalan panen
pengilangan minyak, kecelakaan transportasi,
udang seluas 700 ha (Pikiran Rakyat, 2004), dan
kebocoran pipa, dan proses industri. Tumpahan
ditemukannya tumpahan minyak di perairan
minyak pada tanah akan menembus matriks
Kepulauan Seribu (Kompas 2007).
tanah dan kemungkinan dapat mengkontaminasi
Salah satu metode untuk menyisihkan
air tanah, sedangkan tumpahan minyak pada
minyak dari air adalah menggunakan bahan
badan air akan membentuk lapisan tipis yang
penyerap (sorben) minyak. Kontak antara
dapat mengganggu perpindahan panas, kelem-
sorben dengan minyak akan mengubah fasa
baban, dan pertukaran gas antara badan air dan
minyak dari bentuk cair menjadi semi solid

101
BS, Vol. 43, No. 2, Desember 2008 : 101 - 106

dengan volume yang lebih kecil. Penanganan dengan molekul minyak dan menolak molekul
terhadap minyak yang sudah terperangkap air, sedangkan sifat kemampuan terapung yang
dalam struktur sorben menjadi lebih mudah. baik memudahkan pemisahan sorben yang
Berdasarkan bahan baku yang digunakan, sudah berikatan dengan minyak dari fasa airnya.
sorben terbagi dalam 3 kelompok, yaitu yang Salah satu kandidat bahan alam organik
terbuat dari mineral anorganik (zeolit, silica, dan yang berpotensi untuk dijadikan sorben minyak
clay), organik sintetik (polypropylene dan adalah coir dust (Cocos nucifera). Coir dust
polyurethane), dan organik bahan alam (gambut, merupakan produk samping dari industri
bonggol jagung, kenaf, dan jerami) (Adebajo pengolahan kelapa yang memiliki serat yang
dkk, 2003). Bahan alam organik berpotensi kuat, tahan lama, dan dapat dibiodegradasi. Coir
sebagai sorben minyak karena diperoleh dari dust adalah bahan berbentuk granul pada lapisan
sumber yang dapat diperbaharui (renewable), terluar serat kelapa, dan terdiri dari filamen-
bahannya tersedia secara lokal, penanganan filamen kecil berukuran panjang 1 mm dan
akhir sorben dapat dilakukan dengan penguraian berdiameter 10-20 m. Karakteristik coir dust
alami karena bahan ini mudah dibiodegradasi dapat dilihat pada Tabel 1.
(Ghalambor, 1998). Selain itu, harga bahan alam
organik relatif tidak mahal karena dapat berupa
Tabel 1. Karakteristik Coir Dust
limbah atau produk samping dari kegiatan
pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Selain Karakteristik Nilai
berbagai keuntungan di atas, sorben dari bahan pH 5,0-6,8
alam organik memiliki beberapa kelemahan pula, Selulosa 20-30%
yaitu berdebu, kapasitas penyerapan minyak Lignin 65-70%
yang rendah, menyerap air, dan mudah
Kapasitas mengikat air 8-9 kali beratnya
tenggelam (Ghalambor, 1998).
Beberapa peneliti telah melaporkan potensi Porositas 36%
beberapa bahan alam organik sebagai sorben Densitas 1,01 g/cm3
penyerap minyak, yaitu Salvinia sp. dilaporkan Sumber : http ://en.C oirPeat.Aust.PtyL. td. 2003
mampu menyerap 4,8 g minyak mentah/g
biomasa (Ribeiro dkk, 2000), dan bonggol Struktur sel tiap butirnya berongga sempit
jagung mampu menyerap 6,9 g minyak dengan dinding tersusun oleh selulosa. Coir dust
pelumas/g biomasa (Wiloso dkk, 2005). Bahan- dari kelapa yang belum masak berwarna pucat
bahan lain yang telah dilaporkan adalah serbuk dan selanjutnya akan berwarna kuning dan keras
gergaji, kapuk, wool, kulit kayu, milkweed, karena lapisan lignin pada dinding selnya.
kenaf, dan jerami. Beberapa di antaranya telah Setelah dewasa, coir dust akan berwarna coklat
dipasarkan di pasar international, termasuk di dan lebih banyak mengandung lignin dan sedikit
Indonesia, seperti bonggol jagung (DriZorb-AS) selulosa sehingga strukturnya kuat tetapi kurang
dan gambut (PeatSorb-Kanada). elastis. Coir dust relatif bersifat tahan air dan
Karakteristik utama suatu sorben penyerap merupakan salah satu serat alam yang tidak
minyak adalah kapasitas penyerapan minyak rusak oleh air asin (air laut) (Cresswell, 2005).
yang tinggi. Selain itu, minyak harus diikat Parameter kapasitas mengikat air yang tinggi (8-
cukup kuat oleh sorben, tetapi minyak tersebut 9 kali beratnya), seperti tercantum pada Tabel 1,
masih dapat diperoleh kembali (recovery) menunjukkan kecenderungan coir dust untuk
dengan mudah dan sorben dapat digunakan lebih menyerap air daripada menyerap minyak.
kembali. Untuk kasus tumpahan minyak di air, Modifikasi terhadap sifat menyerap air yang
sorben minyak harus bersifat hidrofobik dan dimiliki coir dust diperlukan sehingga proses
memiliki kemampuan terapung yang baik penyisihan minyak dari air dapat berjalan
(Ghalambor, 1998). Bersifat hidrofobik efektif. Penelitian ini bertujuan untuk
didefinisikan sebagai kemampuan menyerap air meningkatkan hidrofobisitas coir dust, yang
yang rendah. Semakin rendah kemampuan suatu
selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan
sorben untuk menyerap air, berarti semakin
tinggi hidrofobisitasnya. Pada kasus tumpahan kapasitas penyerapan minyaknya. Upaya yang
minyak di air, akan terjadi kompetisi antara dilakukan adalah melakukan proses pemanasan
molekul-molekul air dan molekul-molekul dan asetilasi terhadap coir dust.
minyak untuk berikatan dengan sorben. Sorben
yang bersifat hidrofobik cenderung berikatan

102
Pemanfaatan Serat Selulosa pada Coir Dust sebagai
Penyerap Tumpahan Minyak; Vera Barlianti, Edi Iswanto Wiloso

METODOLOGI
luas permukaan yang besar, adanya lapisan lilin
Bahan alam organik yang diuji sebagai (ekstraktif) dan adanya senyawa lignoselulosa.
sorben adalah coir dust. Bahan ini dikeringkan Minyak akan diserap oleh coir dust melalui
dan diayak menggunakan laboratory test sieve pori-pori tersebut menurut gejala kapiler. Pori-
(Retsch, Germany) untuk memperoleh partikel- pori coir dust yang dapat ditempati udara
partikel berukuran 500-600 m. Minyak yang sebanyak 36% (Tabel 1), memungkinkan coir
diuji terdiri dari 4 jenis minyak, yaitu minyak dust untuk mengapung pada permukaan air
mentah Cemara, solar, dan pelumas dari sehingga dapat menyerap minyak yang terapung
Pertamina, serta minyak kelapa sawit dari PT pada permukaan air.
Sinar Mas.
Penentuan kapasitas penyerapan minyak 14

K a p a s ita s P e n y e ra p a n (g -
dan air pada coir dust dilakukan berdasarkan 12
ASTM F726-82. 0,25 g sorben ditempatkan Air

s o rb a t/g -s o rb e n )
10
Minyak Sawit
pada keranjang yang terbuat dari kawat baja 8
Solar
dengan bukaan pori berukuran (120 mesh). 6
Pelumas
Selanjutnya keranjang tersebut dimasukkan ke 4
Minyak Mentah
dalam 500 ml minyak uji di dalam gelas beaker 2
yang dilengkapi pengaduk dengan kecepatan 0
100 rpm, dan diaduk selama 20 menit.
ro l

an

i
s
il a
nt

as
Keranjang yang berisi sorben diangkat dan

et
Ko

an

As
m
Pe
ditiriskan selama 1 menit, kemudian ditimbang. Jenis Perlakuan
Kapasitas penyerapan minyak pada coir dust
dihitung dari selisih berat keranjang berisi Gambar 1. Kapasitas Penyerapan Air dari
sorben sesudah dan sebelum pencelupan. Beberapa Jenis Minyak pada Coir
Seluruh percobaan dilakukan pada suhu kamar. Dust yang Telah Diproses
Proses pemanasan dilakukan dengan
mencuci coir dust dengan air keran sampai air Kapasitas penyerapan air (mewakili
cucian terlihat jernih. Selanjutnya coir dust hidrofobisitas) dan kapasitas penyerapan
dibilas dengan aqua dm dan dikeringkan pada minyak pada kontrol dan coir dust yang telah
suhu 50oC selama 16 jam. Selanjutnya 15 g coir diproses dapat dilihat pada Gambar 1. Data-data
dust dipanaskan pada suhu 150oC selama 17 yang tercantum dalam Gambar 1 merupakan
menit. Proses asetilasi dilakukan dengan cara hasil rata-rata dua kali ulangan modifikasi dan
menempatkan 10 g coir dust pada labu yang dua kali ulangan pengujian.
berisi 200 mL larutan anhidrida asetat dan 0,5 g Proses Pemanasan
DMAP. Selanjutnya labu tersebut direfluks pada
Proses pemanasan dipilih pada suhu
suhu 120oC selama 30 menit. Kemudian coir
150oC berdasarkan hasil percobaan pendahuluan
dust dicuci dengan etanol dan aseton untuk
yang menunjukkan bahwa suhu tersebut
menyisihkan anhidrida asetat yang tidak
merupakan suhu maksimal, dimana coir dust
bereaksi dan asam asetat sebagai produk
tidak terdegradasi secara termal. Proses
samping. Selanjutnya coir dust dikeringkan
pemanasan dilakukan secara bertahap mulai
dalam oven pada suhu 50oC selama 16 jam.
suhu 100oC, kemudian pemanasan secara
Hasil proses asetilasi terhadap coir dust
konstan pada suhu 150oC selama 17 menit, dan
dievaluasi menggunakan FT-IR (Jasou FT/IR 40
dilanjutkan dengan pendinginan secara bertahap
S spectrophotometer), dengan menggunakan
pula sampai suhu 100oC sebelum didinginkan
lempeng KBr yang mengandung 1% contoh
dalam desikator.
yang sudah digiling halus.
Penyerapan air oleh bahan lignoselulosa
HASIL DAN PEMBAHASAN tergantung pada jumlah gugus -OH bebas yang
Pada penelitian ini, coir dust alami terdapat pada bahan tersebut. Berkurangnya
digunakan sebagai kontrol terhadap seluruh kapasitas penyerapan air diperkirakan terjadi
percobaan. Kemampuan coir dust alami sebagai karena berkurangnya gugus -OH bebas pada
sorben minyak disebabkan oleh bentuk struktur lignoselulosa sehingga mengurangi terjadinya
sel coir dust yang berongga sehingga diperoleh ikatan hidrogen dengan molekul air. Pada proses
ini diperkirakan senyawa yang berperan adalah

103
BS, Vol. 43, No. 2, Desember 2008 : 101 - 106

selulosa, karena secara alami lignin telah Kapasitas penyerapan air pada coir dust
bersifat hidrofobik (Sjostorm, 1995). Diduga yang telah diasetilasi berkurang dari 11,87 g/g
pada tahap pertama pemanasan terjadi menjadi 2,05 g/g, dengan kata lain telah terjadi
pemecahan ikatan hidrogen antar molekul air, peningkatan hidrofobisitas pada coir dust
yang merupakan ikatan dengan energi paling sebesar 6 kali kondisi awalnya. Peningkatan
rendah dalam sistem selulosaair. Sebagian air hidrofobisitas setelah asetilasi lebih besar
lepas dan permukaan selulosa mendekat satu daripada setelah pemanasan karena perubahan
sama lain. Proses ini berlanjut hingga hanya yang terjadi pada proses asetilasi lebih
tertinggal lapisan air monomolekul antara dua menyeluruh pada setiap komponen lignoselulosa
permukaan selulosa. Kemudian ikatan hidrogen (selulosa,hemiselulosa, dan lignin).
antara OH-air dan OH-selulosa terbelah dan Meskipun terjadi peningkatan
terbentuk ikatan hidrogen antara permukaan- hidrofobisitas, tidak menyebabkan peningkatan
permukaan selulosa seperti yang terlihat pada kapasitas penyerapan minyak pada coir dust.
Gambar 2 (Fengel dan Wegener, 1989). Kapasitas penyerapan minyak pada coir dust
Pengurangan kapasitas penyerapan air yang relatif konstan, diduga disebabkan oleh
pada coir dust yang telah mengalami terhalangnya pori-pori coir dust oleh keberadaan
pemanasan, dari kapasitas awal 11,87 g/g gugus asetil (faktor sterik) sehingga molekul
menjadi 3,43 g/g, menunjukkan telah terjadi minyak yang dapat menempati pori-pori tersebut
peningkatan hidrofobisitas coir dust sebesar 4 hanya sedikit dan hanya melekat pada
kali hidrofobisitas awal. permukaan pori yang bersifat lipofil saja.
Kemungkinan lain adalah perlu dicari kondisi
operasi untuk proses asetilasi yang lebih
optimum.

Evaluasi Keberhasilan Proses Asetilasi


Proses asetilasi dilakukan terhadap coir
dust yang telah dihilangkan kandungan
Gambar 2. Perubahan Ikatan Hidrogen selama ekstraktifnya, sehingga gugus -OH yang
Pelepasan Air dari Dua Permukaan terasetilasi hanya yang terdapat pada
Selulosa lignoselulosa saja (lignin, selulosa dan
hemiselulosa). Mekanisme reaksi asetilasi
Seiring dengan peningkatan hidrofobisitas,
ditampilkan pada Gambar 3. Reaksi diawali
maka kapasitas penyerapan minyak sawit pada
dengan penyerangan substrat sebagai nukleufil
coir dust meningkat dari 7,54 g/g menjadi 9,57
terhadap atom karbon karbonil anhidrida asetat
g/g. Sementara kapasitas penyerapan terhadap
menghasilkan intermediet tetrahedral piridinium
jenis minyak yang lain (minyak mineral) relatif
(C7H11N2+). Kemudian DMAP (4-dimetil amino
konstan. Diperkirakan masih ada parameter lain,
piridin) sebagai basa akan menarik atom
selain hidrofobisitas, yang perlu dimodifikasi
hidrogen dari lignoOH bersamaan dengan
untuk meningkatkan kapasitas penyerapan
pelepasan gugus pergi CH3COO-. Ion CH3COO-
minyak mineral pada coir dust.
merupakan basa lemah sehingga berfungsi
sebagai gugus pergi yang baik.
Proses Asetilasi
Garam C7H11N2+ -OOH3C akan terurai
Penurunan kapasitas penyerapan air pada menjadi asam asetat dan 4 dimetil amino piridin,
proses asetilasi menunjukkan efektifitas asetilasi sehingga produk akhir asetilasi akan
dengan pengurangan gugus -OH dari menghasilkan lignoselulosa terasetilasi dan
lignoselulosa sehingga mengurangi terjadinya asam asetat. Sisa anhidrida asetat yang tidak
pembentukan ikatan hidrogen dengan molekul bereaksi dihilangkan menggunakan etanol dan
air. Gugus OH pada lignoselulosa disubstitusi aseton.
oleh gugus asetil yang bersifat hidrofobik. Salah satu bukti keberhasilan proses
Urutan senyawa pada lignoselulosa dari yang asetilasi dapat ditunjukkan dari hasil
paling reaktif terhadap proses asetilasi adalah karakterisasi menggunakan FTIR. Spektrum IR
lignin, hemiselulosa, dan holoselulosa coir kelapa sebelum dan sesudah asetilasi dapat
(campuran antara hemiselulosa dan selulosa) dilihat pada Gambar 4. Bukti telah terjadinya
(Rowell dkk, dalam Sun dkk, 2002). asetilasi ditunjukkan oleh munculnya tiga pita

104
Pemanfaatan Serat Selulosa pada Coir Dust sebagai
Penyerap Tumpahan Minyak; Vera Barlianti, Edi Iswanto Wiloso

serapan dari ikatan ester yang tidak terdapat ester, 1373.07 cm-1 menunjukkan regangan dari
pada spektrum IR coir alami. Serapan yang ikatan CH dalam O(C= O)-CH3 grup, dan
tajam dan kuat pada 1749.12 cm-1 dan 1753.29 1228.43 cm-1 menunjukkan uluran ikatan CO
cm-1 menunjukkan regangan dari gugus C=O dari gugus asetil.

CH3

Ligno + O C O

.. H O

O O
H3C H CH3
+N
Ligno O CH3 + H3 C O

Gambar 3. Mekanisme Reaksi Asetilasi pada Lignoselulosa

12
1
10

3 3419.17
%T

5
3419.17

1749.12 1045.42
1224.80
1752.29

1
4000 3000 2000 1000 400
Wavenumber[cm-1]

Gambar 4. Spektrum FT-IR dari Coir Dust setelah Asetilasi (Spektrum 1 dan 3)
dan Coir Dust Alami (spektrum 2)

105
BS, Vol. 43, No. 2, Desember 2008 : 101 - 106

Bukti telah terjadinya asetilasi ditunjukkan Cresswell, Geoff. 2005. Coir Dust
oleh munculnya tiga pita serapan dari ikatan ester A Proven Alternative To Peat.
yang tidak terdapat pada spektrum IR coir alami. Cresswell Horticultural Services
Serapan yang tajam dan kuat pada 1749.12 cm-1 dan Fengel, D., G. Wegener. 1989. Kayu, Kimia,
1753.29 cm-1 menunjukkan regangan dari gugus Ultrastruktur, Reaksi-reaksi.
C=O ester, 1373.07 cm-1 menunjukkan regangan Terjemahan oleh H.
dari ikatan CH dalam O(C= O)-CH3 grup, dan Sastrohamidjoyo. Gajah Mada
1228.43 cm-1 menunjukkan uluran ikatan CO dari University Press. Yogyakarta.
gugus setil. Penurunan intensitas pita absorpsi Ghalambor, A. 1998. Composting
gugus OH pada 3419.17cm-1 (spektrum 1 dan 3) technology for practical and safe
mengindikaskan bahwa proses asetilasi telah terjadi remediation of oil spill residual.
terhadap gugus OH. Ketidakhadiran pita absorpsi University of Southwestern
pada 1840 1760 cm-1 (spektrum 1 dan3) Lousiana.
mengindikasikan bahwa coir dust yang telah Kompas (2007). 14 pulau tercemar,
diasetilasi tidak mengandung sisa anhidrida asetat. kawasan Kepulauan Seribu
Tidak adanya pita absorpsi pada 1700 cm-1 sekarat. 12 Juni. Hal. 14.
menyatakan bahwa coir dust yang telah diasetilasi Pikiran Rakyat (2004). Kematian udang
tidak mengandung produk samping asam asetat berlangsung massal : tercemar, 700
(Adebajo dkk, 2003). hektar tambak gagal panen. 11
Agustus
KESIMPULAN Ribeiro, T.H., Smith, R.W., and Rubio, J.,
2000. Sorption of oil by the Non
Proses pemanasan dapat meningkatkan kapasitas
Living Biomass of a Salvinia sp.
penyerapan minyak sawit oleh coir dust, dan
Environmental sciences and
hidrofobisitas coir dust sebesar 4 kali kondisi
Technology. 34. 5201-5205
awalnya.
Sjstrm, E. 1995. Kimia kayu, dasar-dasar
Proses asetilasi dapat meningkatkan
dan penggunaan. Edisi Kedua,
hidrofobisitas coir dust sebesar 6 kali kondisi
Gajah Mada University Press
awalnya.
Yogyakarta.
Lignoselulosa berperan penting terhadap Sun Feng Xiao., Sun Run Cang., Sun Jing
peningkatan hidrofobisitas dan kapasitas Xia. 2002. Acetylation of Rice
penyerapan minyak pada coir dust. Straw With Or Without Catalyst
And Its Characterization as a
DAFTAR PUSTAKA Natural Sorbent in Oil Spill
Cleanup. American Chemical
Adebajo, O. Moses., Frost L.R. 2003. Acetylation of Society.
Raw Cotton For Oil Spill Clean Up Wiloso, E.I., Setiawan, A.H., and Barlianti,
Aplication: an FTIR and C MAS NMR V., 2005. Use of Lignocellulosic
Spectroscopic Investigation. Marine Wastes as an Oil Sorbent.
Pollution Bulletin Proceeding of 2nd International
Seminar on Environmental
Chemistry and Toxicology.
Yogyakarta. Indonesia

106