Вы находитесь на странице: 1из 28

LAPORAN KASUS STASE BOYOLALI

SEORANG ANAK LAKI-LAKI USIA 1 TAHUN


DENGAN HERNIA INGUINALIS LATERALIS
SINISTRA

Oleh :
Ridho Frihadananta (G99161082)
Ade Cahyana (G99162144)

Pembimbing :
dr. Anang Maruf, Sp.B, FInaCS

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD PANDAN ARANG
BOYOLALI
2017
STATUS PENDERITA

I. IDENTITAS

Nama : An. W
Umur : 1 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Musuk, Boyolali
No. Catatan Medis : 16516543
Tanggal Pemeriksaan : 5 Oktober 2017

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Keluar benjolan di lipatan paha kiri

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dibawa oleh orang tua pasien ke poliklinik bedah RSPA
Boyolali dengan keluhan muncul benjolan pada lipat paha kiri sejak pasien
umur 4 bulan. Benjolan dirasakan membesar ketika pasien berdiri dan benjolan
hilang sendiri ketika kaki pasien diposisikan lebih tinggi dari badan. Benjolan
sebesar telur puyuh. BAK berdarah (-), nyeri saat BAK (-), BAK menetes (-).
BAB tidak ada keluhan, 1-2 kali sehari, BAB lendir (-), BAB berdarah (-).

Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat penyakit serupa : disangkal
2. Riwayat kejang demam : disangkal
3. Riwayat campak : disangkal
4. Riwayat diare : disangkal
5. Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat alergi obat/ makanan : disangkal
7. Riwayat mondok : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


1. Riwayat penyakit serupa : (+) ayah pasien
2. Riwayat kejang demam : disangkal
3. Riwayat campak : disangkal
4. Riwayat diare : disangkal
5. Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat alergi obat/ makanan : disangkal

Riwayat Kelahiran
Pasien dilahirkan per vaginam cukup bulan. Saat dilahirkan pasien
mengangis kuat dan bergerak aktif. Berat badan lahiir : 2900 gram, panjang
badan : 46 cm, lingkar kepala : 35 cm, lingkar dada: 36 cm, lingkar lengan:
12 cm. Anus (+)

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan umum
- Keadaan umum : Tampak sakit ringan
- Derajat kesadaran : compos mentis
- Derajat gizi : gizi kesan cukup
B. Tanda Vital
- Nadi : 90 x/menit
- Respirasi : 24 x/menit
- Suhu : 36,5C
C. Status Generalis
- Kepala : Mesocephal
- Wajah : Oedema (-), wajah orang tua (-)
- Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflek cahaya (+/+)
- Hidung : Nafas cuping hidung (-), sekret (-/-), deviasi (-/-)
- Mulut : Mukosa basah, sianosis (-). Pucat (-), kering (-), faring
hiperemis (-)
- Telinga : daun telinga dalam batas normal, sekret (-)
- Tenggorok : Uvula ditengah, mukosa faring hiperemis (-), tonsil T1-
T1
- Leher : Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula
thyroid tidak membesar.
- Thorak : Bentuk dan Gerak simetris
o Cor
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak kuat angkat
Perkusi : Batas-batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I II murni reguler, murmur (-), Gallop (-)
o Pulmo
Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : Fremitus taktil pada hemithoraks kanan dan kiri
simetris
Perkusi : Sonor pada hemithoraks kanan dan kiri
Auskultasi : SDV (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
- Abdomen
Inspeksi : Dinding perut sejajar dinding dada
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar
Perkusi : Timpani diseluruh lapang abdomen
Auskultasi : BU (+) normal
- Genitalia
Inspeksi : secret (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
Skrotum : testis 2 buah
- Ekstremitas
Atas : Edema (-/-), Sianosis (-/-), CRT <2, akral hangat
Bawah : Edema (-/-), Sianosis (-/-), CRT <2, akral hangat
D. Status Lokalis:
Regio inguinalis sinistra :
- Inspeksi : tampak adanya benjolan ukuran 2x1x1 cm
- Palpasi : tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak jelas, dapat
dimasukkan, transluminasi (-), tidak nyeri.
- Auskultasi : bising usus (+).

Massa (+) diameter


2x1x1cm,kenyal,
mobile, nyeri (-
)hiperemi(-)
,transluminasi (-)

IV. ASSESSMENT I
Hernia Inguinalis Lateralis sinistra reponibilis
V. PLAN I
1. MRS Bangsal Bedah
2. Cek lab DL, elektrolit, PT/APTT, golongan darah

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Lab darah 3 Oktober 2017

Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan


DARAH RUTIN
Hemoglobin 12.4 g/dL 14-18
Hematokrit 26 % 42-52
Leukosit 9.34 ribu/l 4.8 10.8
Trombosit 265 ribu/l 150 450
Eritrosit 4.98 juta/l 4.7 6.1
Golongan Darah O
HEMOSTASIS
PT 18.0 Detik 12.0 16.0
APTT 40.0 Detik 25.0 42.0
IMUNOSEROLOGI
HbsAg Nonreactive Nonreactive
Anti HCV Nonreactive Nonreactive

VII. ASSESSMENT II
Hernia inguinalis letaralis dekstra reponibilis

VIII. PLAN II
1. Hernia repair
2. Konsul bagian anestesi

IX. PROGNOSIS
ad vitam : bonam
ad functionam : bonam
ad sanationam : bonam
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Definisi
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek atau bagian yang lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari
lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri dari cincin,
kantong dan isi hernia.

Gambar 1. Anatomi anterior


Gambar 2. Anatomi posterior

1.2 Klasifikasi
1. Berdasarkan terjadinya:
a. Hernia kongenital:
- Hernia kongenital sempurna: karena adanya defek pada
tempat-tempat tertentu.
- Hernia kongetital tak sempurna: bayi dilahirkan normal
(kelainan belum tampak) tetapi mempunyai defek pada
tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan
setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut
karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intra abdominal.
b. Hernia akuisita

2. Berdasarkan klinis:
a. Hernia reponibilis: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus
keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring
atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala
obstruksi usus. Dapat direposisi tanpa operasi.
b. Hernia irreponibilis: organ yang mengalami hernia tidak dapat
kembali ke cavum abdominal kecuali dengan bantuan operasi.
Tidak ada keluhan rasa nyeri atau tanda sumbatan usus. Jika
telah mengalami perlekatan organ disebut hernia akreta.
c. Hernia strangulata: hernia dimana sudah terjadi gangguan
vaskularisasi viscera yang terperangkap dalam kantung hernia
(isi hernia). Pada keadaan sebenarnya gangguan vaskularisasi
telah terjadi pada saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat
gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.
d. Hernia inkarserata: isi kantong terperangkap, terjepit oleh cincin
hernia, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut, dan sudah
disertai tanda-tanda ileus mekanis (usus terjepit sehingga aliran
makanan tidak bisa lewat).
3. Berdasarkan arah hernia:
a. Hernia eksterna:
Hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar karena
menonjolnya ke arah luar, misalnya:
- Hernia inguinalis medialis (15%) dan lateralis (60%)
- Hernia femoralis
- Hernia umbilicalis
- Hernia epigastrika
- Hernia lumbalis
- Hernia obturatoria
- Hernia semilunaris
- Hernia parietalis
- Hernia ischiadica
Gambar 3. Hernia eksterna

Gambar 4.
b. Hernia interna:
Jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya ke cavum
thorax, bursa omentalis, atau masuk ke dalam recessus dalam
cavum abdomen.
Pada cavum abdominalis:
- Hernia epiploica Winslowi
- Hernia bursa omentalis
- Hernia mesenterika
- Hernia retro peritonealis
Pada cavum thorax:
- Hernia diafragmatika traumatika
- Hernia diafragmatika non-traumatika:
Kongenital: misalnya hernia Bochdalek dan hernia
Morgagni
Akuisita: misalnya hernia hiatus esophagus

Hernia Regio Inguinalis

1.1 Definisi.

Hernia inguinalis adalah hernia yang paling sering kita temui. Menurut
patogenesisnya hernia ini dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis lateralis
(HIL) dan hernia inguinalis medialis (HIM). Ada juga yang membagi menjadi
hernia inguinalis direk dan hernia inguinalis indirek. Meskipun terapi terbaik pada
hernia ini adalah sama yaitu herniotomi dan herniorafi, tapi penting untuk
mengetahui perbedaannya karena akan mempengaruhi pada teknik operasinya
nanti.

Hernia inguinalis lateralis timbul karena adanya kelemahan anulus intenus sehingga
organ-organ dalam rongga perut (omentum, usus) masuk ke dalam kanalis
inguinalis dan menimbulkan benjolan di lipat paha sampai skrotum. Sedangkan
hernia ingunalis medialis timbul karena adanya kelemahan dinding perut karena
suatu sebab tertentu. Biasanya terjadi pada segitiga hasselbach. Secara anatomis
intra operatif antara HIL dan HIM dipisahkan oleh vassa epigastrika inferior. HIL
terletak di atas vassa epigastrika inferior sedang HIM terletak di bawahnya
a. Kanalis inguinalis

Kanalis inguinalis dibatasi di kraniomedial oleh annulus internus yang


merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan apponeurosis m.
transverses abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum kanal
ini dibatasi dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari
appoeurosisi m. obliges eksternus. Atapnya adalah apponeurosis m. obliges
eksternus , dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali
sperma pada laki laki dan ligamentum rotundum pada perempuan

1.3 Etiologi
Secara fisiologis, kanalis inguinalis merupakan kanal atau saluran yang
normal. Pada fetus, bulan kedelapan dari kehamilan terjadi descensus
testiculorum. Penurunan testis yang sebelumnya terdapat di rongga
retroperitoneal, dekat ginjal, akan masuk kedalam skrotum sehingga terjadi
penonjolan peritoneum yang dikenal sebagai processus vaginalis peritonei.
Pada umumnya, ketika bayi lahir telah mengalami obliterasi sehingga isi
rongga perut tidak dapat melalui kanal tersebut. Biasanya obliterasi terjadi
di annulus inguinalis internus, kemudian hilang atau hanya berupa tali.
Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup yang hasilnya ialah
terdapatnya hernia didaerah tersebut.
Setelah dewasa kanal tersebut telah menutup. Namun karena daerah
tersebut ialah titik lemah, maka pada keadaan yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen kanal itu dapat terbuka kembali dan
timbul hernia inguinalis akuisita. Sementara di usia ini seseorang lebih
produktif dan melakukan banyak aktivitas. Sehingga penyebab hernia pada
orang dewasa ialah sering mengangkat barang berat, juga bisa oleh karena
kegemukan, atau karena pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat
sehingga sering mengedan pada saat BAB.
Hernia pada orang tua terjadi karena faktor usia yang mengakibatkan
semakin lemahnya tempat defek. Biasanya pada orang tua terjadi hernia
medialis karena kelemahan trigonum Hesselbach. Namun dapat juga
disebabkan karena penyakit-penyakit seperti batuk kronis atau hipertrofi
prostat.
.
1.4 Diagnosis
1. Anamnesis
Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul,
muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan
tekanan intra-abdomen seperti mengangkat barang atau batuk, benjolan ini
hilang pada waktu berbaring atau dimasukkan dengan tangan (manual).
Terdapat faktor-faktor yang berperan untuk terjadinya hernia. Dapat terjadi
gangguan passage usus (obstruksi) terutama pada hernia inkarserata. Nyeri
pada keadaan strangulasi, sering penderita datang ke dokter atau ke rumah
sakit dengan keadaan ini.

2. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum
inguinale di medial vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum.
Benjolan tersebut berbatas atas tidak jelas, bising usus (+), transluminasi (-
).
Gejala/tanda Obstruksi usus pada Nekrosis/gangren pada
hernia inkarserata hernia strangulata
Nyeri Kolik Menetap
Suhu badan Normal Normal/meninggi
Denyut nadi Normal/meninggi Meninggi/tinggi sekali
Leukosit Normal Leukositosis
Rangsang Tidak ada Jelas
peritoneum
Sakit Sedang/berat Berat sekali/toksik
Tabel 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata
yang menyebabkan nekrosis atau ganggren

Teknik pemeriksaan

Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan


mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui annulus
inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum. Mempunyai LMR ( Locus Minoris
Resistentie Secara klinis HIL dan HIM dapat dibedakan dengan tiga teknik
pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb test. Cara
pemeriksaannya sebagai berikut :
Pemeriksaan Finger Test :

1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.


2. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus
eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:

Bila impuls diujung jari berarti Hernia


Inguinalis Lateralis.
Bila impuls disamping jari Hernia Inguinnalis
Medialis.

Gambar 6

Pemeriksaan Ziemen Test :

1. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan


dulu (biasanya oleh penderita).
2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada
:

jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.


jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.
jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Gambar 7

Pemeriksaan Thumb Test :


Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan
Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis.
Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.

1.5 Diagnosis Banding


1. Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan sumber
infeksi di tungkai bawah, perineum, anus, atau kulit tubuh kaudal dari
tingkat umbilikus.
2. Lipoma kadang tidak dapat dibedakan dari benjolan jaringan lemak
preperitoneal pada hernia femoralis.
3. Abses dingin yang berasal dari spondilitis torakolumbalis dapat
menonjol di fosa ovalis.
Untuk membedakannya perlu diketahui bahwa munculnya hernia
erat hubungannya dengan aktivitas seperti mengedan, batuk, dan gerak lain
yang disertai dengan peninggian tekanan intra-abdomen, sedangkan
penyakit lain seperti limfadenitis femoralis tidak berhubungan dengan
aktivitas demikian
1.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan

1. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia
yang telah direposisi.
a.Reposisi
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada
pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri
memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan
mendorongnya kearah cincin hernia dengan tekanan lambat tapi menetap
sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada
umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya
gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan dengan orang
dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis
dibandingkan dengan orang dewasa.
Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative
dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan
untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam
waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. Pada tindakan reposisi ini
posisi penderita dapat dilakukan denagn posisi seperti pada gambar :
Gambar 11 : Reposisi dengan posisi trendelenburg

b. Bantalan penyangga ( sabuk Truss)

Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah


direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harusdipakai seumur
hidup. Namun cara yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja

dipakai sampai sekarang.


Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan karena mempunyai komplikasi, antara
lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut didaerah yang tertekan
sedangkan strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat
menimbulkan atrofitestis karena tekanan pada funikulus spermatikus yang
mengandung pembuluh darah dari testis
2.Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar
operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.

a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya.
Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian
direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

Indikasi :

1. Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)


2. Hernia Irreponabilis ( urgen, 2 x 24 jam)
3. Hernia Reponabilis dilakukan atas indikasi sosial : pekerjaan (elektif)
4. Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)

Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan inkarserasi /


strangulasi. Herniotomy pada dewasa lebih dulu faktor-faktor penyebab harus
dihilangkan dulu, misal BPH harus dioperasi sebelumnya.

Tehnik Operasi

Incisi inguinal 2 jari medial SIAS sejajar ligamentum inguinale ke


tuberculum pubicum
Incisi diperdalam sampai sampai nampak aponeurosis MOE : tampak crus
medial dan lateralis yang merupakan anulus eksternus
Aponeurosis MOE dibuka kecil dengan pisau , dengan bantuan pinset
anatomis dan gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai anulus internus
dan ke kaudal sampai membuka annulus inguinalis eksternus. Hati2 dengan
N.Ilioinguinalis dan N.Iliohypogastrik. M.cremaster disiangi sampai
nampak funiculus spermaticus
Funiculus dibersihkan dicantol dengan kain kasa dibawa ke medial,
sehingga nampak kantong peritoneum
Peritoneum dijepit dengan 2 bh pinset kemudian dibuka selanjutnya usus
didorong ke cavum abdomen dengan melebarkan irisan ke proksimal
sampai leher hernia, kantong sebelah distal dibiarkan
Leher hernia dijahit dengan kromik dan puntung ditanamkan di bawah
conjoint tendo dan digantungkan
Selanjutnya dilakukan hernioplasty secara :

Ferguson
Funiculus spermaticus ditaruh disebelah dorsal MOE dan MOI abdominis. MOI &
transversus dijahitkan pada ligamentum inguinale dan meletakkan funiculus di
dorsalnya. kemudian aponeurosis MOE dijahit kembali, sehingga tidak ada lagi
canalis inguinalis.

Bassini
MOI dan transversus abdominis dijahitkan pada ligamentum inguinal, Funiculus
diletakkan disebelah ventral, aponeurosis MOE tidak dijahit, sehingga canalis
inguinalis tetap ada.
Kedua musculus berfungsi memperkuat dinding belakang canalis,sehingga LMR
hilang
Gambar 13:

Teknik bassini

Halsted
Dilakukan penjahitan MOE, MOI dan m.transversus abdominis, untuk memperkuat
/ menghilangkan LMR. Funiculus spermaticus diletakkan di subcutis
Cara Ferguson dan Bassini dilakukan pada orang dewasa. Cara Halsted dilakukan
pada orang tua, supaya dinding perut lebih kuat

Kemudian luka ditutup lapis demi lapis

1. Aponeurosis MOE jahit simpul dengan cromic catgut


2. Subcutan fat dijahit simpul dengan catgut
3. Kulit dijahit dengan zyde secara simpul
Tehnik operasi Herniotomi Herniorafi Lichtenstein

Hernia inguinalis lateralis dan medialis:

1. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal anestesi
atau anestesi lokal

2. Dilakukan insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum pubikum

3. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Obligus


Abdominis Eksternus)

4. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam

5. Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait pita dan
kantong hernia

diidentifikasi

6. Isi hernia dimasukan ke dalam cavum abdomen, kantong hernia secara tajam
dan tumpul sampai

anulus internus

7. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium , dilanjutkan dengan


herniotomi

8. Perdarahan dirawat, dilanjutkan dengan hernioplasty dengan mesh

9. Luka operasi ditutup lapis demi lapis

Komplikasi
Durante Operasi

Lesi funiculus spermaticus


Lesi usus, vu, vasa epigastrica inferior, vasa iliaca ekterna
Putusnya arteri Femoralis

Post Operasi

Hematom, Infeksi, Wound dehisiensi


Atropi testes
Hydrocele
Rekurens

b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya
dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal
berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus
dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan
menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus
abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale
poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus
abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc
Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian
bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

Shouldice
Menurut Abrahamson (1997) prinsip dasar tehnik Shouldice adalah Bassini multi
layer, di klinik khusus hernia Shouldice digunakan kawat baja no 32 atau 34 untuk
menjahit defek dinding posterior kanal inguinal. Tetapi penggunaan benang
monofilamen sintetis non absorbsi lebih biasa dipakai diluar Toronto. Adapun
tahapan hernioplasty menurut Shouldice:
Langkah pertama:
Setelah dilakukan insisi garis kulit sampai fasia, dengan preparasi saraf ilioinguinal
dan iliohipogastrika, bebaskan funikulus dari fasia transversalis sampai ke cincin
interna, membuang kantong dan ligasi setinggi mungkin.
Dilanjutkan dengan memotong fasia transversalis dan membebaskan lemak pre
peritoneal.

Gambar 14 :

Gambar 15 :

Langkah berikutnya dilakukan rekonstruksi dinding belakang inguinal dengan


jahitan jelujur membuat suatu flap dari tepi bawah fasia ke bagian belakang flap
superior, usahakan titik jahitan tidak segaris dengan jarak 2-4 mm. Bagian flap
superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan dibawahnya dengan jelujur
membentuk lapisan ke dua (gambarA). Demikian seterusnya

gambar 16

dengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum inguinal membentuk lapisan ke


tiga (gambar B). Kemudiaan penjahitan aponeorosis obliqus eksterna membentuk
lapisan ke empat (gambar C).

Bagian flap superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan dibawahnya
dengan jelujur membentuk lapisan ke dua (gambarA). Demikian seterusnya
dengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum inguinal membentuk lapisan ke
tiga (gambar B). Kemudiaan penjahitan aponeorosis obliqus eksterna membentuk
lapisan ke empat (gambar C).

Lichtenstein Tension free


Tehnik pemasangan mesh pada Lichtenstein seperti berikut (Wexler, 1997) :
Dilakukan terlebih dahulu herniotomi
2. Letakkan bahan mesh ukuran 10x5 cm diletakkan di atas defek, disebelah bawah
spermatik kord.
3. Dilakukan penjahitan dengan benang non absorbsi 3-0 ke arah :
- Medial : perios tuberkulum pubikum.
- Lateral : melingkari spermatik kord.
- Superior : pada konjoin tendon.
- Inferior : pada ligamentum inguinal.

Gambar 17 : setelah pemasangan mesh

Karena penjahitan pada tehnik Shouldice dilakukan cara jelujur tidak terputus pada
titik yang berbeda kesegarisannya menyebabkan tarikan yang terjadi menyebar dan
terdistribusi dibanyak titik sehingga rasa nyeri menjadi tidak dominan disatu
tempat. Hal inilah yang menyebabkan keluhan rasa nyeri pasca operasi menjadi
lebih ringan dibanding tehnik konvensional lainnya (Abrahamson, 1997).
Penggunaan material sintetis sebagai penutup defek miopektineal dinding belakang
kanalis inguinal memerlukan persyaratan tertentu, prostesis yang dipakai harus
cukup kuat sebagai penyangga, tidak bersikap alergen, mempunyai potensi untuk
menimbulkan respon inflamasi dan cepat berintegrasi dengan jaringan sekitar. Agar
integrasi menjadi solid, prostesis berupa anyaman yang berpori sehingga jaringan
tumbuh diantara pori-pori tersebut. Polypropylene mesh dikategorikan memiliki
sifat tersebut serta mampu bersifat permanen sehingga tidak diperbolehkan kontak
langsung dengan organ visera karena akan menimbulkan perlengketan serta
obstruksi atau pembentukan fistula. Saat ini polypropylen mesh dipilih sebagai
prostesis baku dalam petatalaksanaan hernio plasty (Wexler, 1997).
Hernioplasty dengan polypropylene mesh mencegah terjadinya peregangan
sewaktu rekonstruksi dinding belakang kanalis inguinal sehingga perasaan nyeri
pasca operasi dapat berkurang dengan nyata. Diikuti pemulihan dan kembali kepada
aktivitas rutin yang lebih dini, serta pencegahan rekurensi jangka panjang.
Pemulihan dan kemampuan kerja setelah operasi ternyata sangat dipengaruhi oleh
rasa sakit (Callesen, 1999). Bax (1999) melaporkan dengan polypropylene mesh
lebih dari 60% pekerja kasar dan lebih dari 90% pekerja kantoran telah dapat
bekerja dalam 10 hari. Ismail (2000) melaporkan 74 % penderita telah kembali
mengemudikan mobil dalam 10 hari, 49 % diantaranya dalam 7 hari.
Untuk mencegah rekurensi jangka panjang penggunaan material harus
cukup lebar untuk menutup seluruh defek miopektineal (dengan ukuran 10
x 5 cm), tidak terjadi lipatan-lipatan, melingkari bagian dari spermatik kord
di daerah kanalis inguinal interna

1.7 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi
hernia. Isi hernia dapat tertahan di dalam kantong hernia pada hernia
irreponibilis, hal ini terjadi jika hernia terlalu besar atau terdiri dari
omentum, organ ekstraperitoneal, atau hernia akreta. Di sini tidak timbul
gejala klinik kecuali berupa benjolan.
Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga
terjadi hernia strangulata yang menimbulkan obstruksi usus yang sederhana.
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi
hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi oedem
organ atau struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia.
Timbulnya oedem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin
bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia
menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan
serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus, dapat terjadi perforasi yang
akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis jika terjadi
hubungan dengan rongga perut.
Hernia inguinalis dapat menjadi inkarserata dan strangulata. Mual,
muntah, dan nyeri abdomen yang berat dapat terjadi pada hernia strangulata.
Hernia strangulata merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa (gawat
darurat) yang membutuhkan pembedahan segera.

1.8 Prognosis
Prognosis biasanya cukup baik bila hernia diterapi dengan baik.
Angka kekambuhan setelah pembedahan kurang dari 3%.
DAFTAR PUSTAKA
De Jong W, Sjamsuhidajat R. Buka Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3, Jakarta: EGC 2010.
Hal 156-165.
Mansjoer A, Suprohaita, et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3, Jakarta: Media
Aesculapius FKUI 2000. Hal 329-334.
Snell R. Anatomi Klinik. Edisi 6, Jakarta: EGC 2006.