You are on page 1of 20

Menyatunya Keris Dengan Pemiliknya

Filosofi, Spiritual dan Kebatinan Keris Jawa.

Halaman ini menguraikan perilaku dari keris-keris yang sudah menunjukkan penyatuannya dengan
manusia pemiliknya dan memberikan pemahaman mengenai apa yang harus dilakukan seorang
pemilik keris supaya keris-kerisnya dapat menyatu dengan dirinya, sehingga keris-kerisnya benar-
benar dapat menjadi pusaka dan sipat kandel dan tidak menjadi keris koleksi / pajangan saja.

Pada jaman sekarang banyak keris yang hawa aura mistisnya sudah redup, sudah dingin / adem /
anyeb, mirip seperti keris kosong tak berpenghuni gaib. Hawa aura gaibnya sudah menurun atau
kerisnya pasif tidak memberikan tuahnya, terpengaruh perkembangan jaman dimana keberadaan
keris sudah mulai diabaikan, tetapi kekuatan aura keris-keris tersebut akan terasa kembali ketika
sudah menyatu dengan seorang pemilik yang sesuai.

Selama masih ada jarak antara kebatinan si manusia dengan kerisnya, maka keberadaan keris itu
tidak akan banyak berarti. Tuah-nya pun mungkin tidak akan dirasakan. Bagi anda yang memiliki atau
menyimpan keris, sebaiknya juga memiliki pengetahuan tentang tatacara pemakaian keris,
pemeliharaan keris, dsb, jangan hanya sekedar asal memiliki, menyimpan atau memakainya, supaya
tidak terbawa-bawa cerita tentang mistis keris atau pun mengkultuskan kegaiban keris, supaya keris
tidak dimusuhi orang karena cerita mistisnya, atau justru keris dijadikan sebagai suatu bentuk
pemujaan.

Secara umum keris-keris dibuat dengan tujuan untuk menyatu dan mendampingi manusia
pemiliknya, tuahnya dan kekuatan gaibnya sudah disesuaikan dengan si manusia calon pemiliknya (si
manusia pertama pemilik keris).

Secara umum tujuan keris dibuat dimaksudkan dengan cara penyatuan / pendampingannya masing-
masing keris-keris itu akan memberikan tuahnya kepada si manusia, dan untuk hasil kegaiban yang
maksimal dalam penyatuan itu dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan si manusia dengan kerisnya
(ada interaksi batin).

Karena sisi gaib sebuah keris jawa adalah bersifat wahyu, maka kegaiban keris jawa akan bekerja
sendiri sesudah ada penyatuan kebatinan dengan manusia pemiliknya dan akan melipatgandakan
pengaruh aktivitas dan perbuatan si manusia pemiliknya yang sejalan dengan sifat kegaiban
kerisnya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu memberikan pengaruh yang lebih besar
dibandingkan tanpa keris. Keris jawa yang sudah dimiliki oleh seseorang akan pasif peranan dan
pengaruhnya jika belum ada penyatuan kebatinan dengan orang si pemilik keris dan orangnya tidak
melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya.

Karena itu kegaiban keris jawa tidak akan bisa langsung dirasakan oleh orang-orang pemilik keris dan
banyak pemilik keris yang tidak bisa merasakan manfaat kerisnya, karena kegaibannya akan bekerja
hanya sesudah ada penyatuan kebatinan pemiliknya dengan kerisnya dan kegaiban keris tidak sama
dengan benda-benda bertuah lain yang otomatis memberikan tuahnya sesudah bendanya dimiliki,
apalagi mengharapkannya bekerja sendiri mendatangkan rejeki dan kekayaan sama seperti bertuah
pesugihan, karena sifat kegaiban keris adalah melipatgandakan pengaruh aktivitas dan perbuatan si
pemilik keris yang sejalan dengan sifat kegaiban kerisnya. Jadi, orangnya sendiri yang harus sakti,
orangnya harus bekerja, dsb, dan sesudah ada penyatuan kebatinan kerisnya dengan pemiliknya,
aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban kerisnya pengaruhnya akan
dilipatgandakan oleh kerisnya.

Sifat kejiwaan keris sama seperti orang tua yang memomong dan menjaga anaknya. Bila si manusia
sebagai pihak yang diemong mampu peka rasa, bisa mendengarkan bisikan gaib kerisnya yang
berupa ide dan ilham dan firasat (dan mimpi), maka orang itu akan dituntun kepada jalan /
perbuatan yang mengantarkannya sukses sesuai jenis tuah kerisnya masing-masing dan
menjauhkannya dari kesulitan. Sifat kejiwaan yang seperti itu tidak kita dapatkan dari benda-benda
gaib lain. Umumnya orang-orang jawa jaman dulu peka rasa dan batin, sehingga akan mudah
penyatuan kebatinannya dengan keris-kerisnya. Itulah juga sebabnya orang-orang jawa jaman dulu,
yang peka rasa, dan memahami kejawen, lebih memilih keris daripada benda-benda gaib lain.

Karena itu sebaiknya dipahami, jika kita mempunyai sebuah keris, apapun jenis keris dan tuahnya,
untuk mendapatkan kegaibannya yang maksimal dibutuhkan adanya penyatuan kebatinan kita
dengan si keris (ada interaksi batin), bukan sekedar memiliki sebuah keris. Karena itu jika kita merasa
tidak bisa bersikap seperti orang-orang yang bisa peka rasa dan firasat dan bisa menyatukan dirinya
dengan keris-kerisnya, sebaiknya janganlah kita memiliki keris. Lebih baik kalau kita memiliki benda-
benda gaib lain sebagai jimat ampuh untuk kesuksesan dan keberuntungan.
Penghalang Penyatuan Keris Dengan Pemiliknya

Ada beberapa kejadian keris-keris tertentu sama sekali tidak mau menyatukan dirinya dan tidak mau
memberikan tuahnya kepada si manusia pemiliknya. Kondisi ini bisa terjadi karena beberapa sebab.
Sebaiknya kita mengetahui kondisi ini, jangan sampai kita membeli keris dan pusaka yang kondisinya
tidak mau menyatu dengan kita, sehingga juga tidak akan bertuah, atau kita sudah terlanjur
mengharapkan tuah dari benda-benda pusaka kita, padahal mereka sama sekali tidak bertuah, atau
kita melakukan suatu perbuatan yang akhirnya malah menjadikan benda pusaka kita tidak bertuah.

Misalnya, mungkin kerisnya merasa tidak cocok mengikut kepada seorang manusia, seperti keris-
keris ber-luk 5 yang merasa tidak cocok untuk mengikut kepada manusia yang bukan keturunan
ningrat / bangsawan.

Silakan dibaca uraiannya dalam tulisan berjudul Status Keris dan Kelas Keris dan Keris Lurus dan Keris
Luk.

Keris-keris keningratan, walaupun mungkin kelihatannya fisiknya biasa saja sama seperti keris-keris
yang lain, tetapi tergolong sebagai keris-keris pemilih, yang hanya mau ikut kepada orang-orang
ningrat dan keturunan ningrat / bangsawan saja. Jika anda tidak termasuk dalam kriteria orang-
orang ningrat dan keturunan ningrat / bangsawan, sebaiknya teliti sebelum membeli, jangan
membeli / memahari keris keningratan, karena mereka tidak mau mengikut kepada anda, mereka
juga tidak akan memberikan tuahnya kepada anda. Lebih baik sebelumnya anda sudah menayuh
status anda lebih dulu apakah anda tergolong sebagai orang-orang ningrat dan keturunan ningrat /
bangsawan (Ilmu Tayuh / Menayuh Keris).

Keris-keris ber-luk 5 atau keris-keris keningratan lainnya, biasanya hanya akan diam saja, pasif, tidak
memberikan tuahnya dan tidak menunjukkan penyatuannya kepada pemiliknya jika si manusia
pemilik keris bukan keturunan ningrat dan tidak menghargai keningratan. Kondisi tersebut
menjadikan keris-keris ber-luk 5 dan keris-keris keningratan lainnya sebagai keris-keris khusus yang
tidak semua orang cocok memilikinya dan tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat dari keris-
keris itu.
Atau karena ada masalah dalam etika pemindah-tanganan keris. Misalnya keris tersebut didapat
dengan cara mencuri, memaksa, memeras, merampas, dsb, atau ada rekayasa pembodohan /
penipuan / tipu-muslihat dalam proses pemindah-tanganan atau dalam proses tawar-menawar
mahar keris. Atau pemilikan keris keluarga yang di dalamnya terjadi perebutan warisan antar ahli
waris, atau salah satu ahli waris mencuri / menggelapkan pusaka diluar sepengetahuan ahli waris
lain.

Jika anda berkenan kepada sebuah keris dan berminat untuk memilikinya, dalam proses tawar-
menawar mahar keris sebaiknya anda tidak melakukan tawar-menawar harga sampai semurah-
murahnya sampai menimbulkan kesan keris itu barang murahan dan tidak cukup berharga untuk
dimiliki. Tingkat penghargaan anda kepada sebuah keris, dan perlakuan sehari-hari dalam
pemeliharaan keris dapat berpengaruh pada tinggi atau rendahnya tingkat penyatuan keris dan
kadar tuah yang diberikan si keris kepada anda pemiliknya. Jika si keris merasa "disepelekan",
"direndahkan" atau merasa "terhina" dengan perlakuan anda, bisa jadi keris itu kemudian akan pasif,
tidak menunjukkan penyatuannya dengan anda, karena kerisnya tidak bersimpati kepada anda.

Kondisi keris yang tidak mau memberikan tuahnya kepada si manusia pemiliknya karena penyebab-
penyebab di atas biasanya tidak dapat diperbaiki / diakali dengan pemberian sesaji, atau pun dengan
cara lain, selain dibiarkan saja kondisinya seperti itu atau dipindah-tangankan kepada orang lain dan
mengganti dengan keris lain yang mau memberikan tuahnya kepada si manusia tersebut.

Jika sebuah keris tidak mau memberikan tuahnya kepada manusia si pemilik keris karena ada
kesalahan atau perbuatan si manusia yang si keris tidak berkenan, misalnya pemberian sesaji yang si
keris merasa tidak cocok bisa diperbaiki dengan memberi sesaji minyak cendana merah yang
dioleskan pada badan kerisnya atau bentuk sesaji lain yang si keris berkenan. Atau penjamasan yang
si keris merasa tidak cocok dengan cara kerja si penjamas keris, bisa diperbaiki dengan melakukan
penjamasan berikutnya kepada penjamas keris yang lain. Atau misalnya si manusia mengganti
bagian komponen kelengkapan keris, seperti mengganti kayu gagang keris, sarung keris, mendak,
dsb, dan si keris tidak berkenan, bisa diupayakan memperbaikinya dengan memasang kembali
komponen-komponen aslinya atau mengganti dengan komponen lain yang kira-kira si keris
berkenan.

Tetapi bila kesalahan itu terjadi karena si manusia dengan sengaja mengganti komponen utama
keris, seperti ganja keris atau pesi-nya, biasanya kesalahan ini tidak dapat diperbaiki, karena sudah
menyebabkan sakit hati si gaib keris, walaupun sudah diupayakan memasang kembali komponen
aslinya atau mengganti dengan komponen lain yang kira-kira si keris berkenan. Begitu juga sebuah
keris kita yang aslinya tidak ada hiasan emasnya, yang kemudian keris itu kita beri lapisan / sepuhan
emas di bagian ganja, dapur atau bilah kerisnya. Kesalahan lain yang tidak dapat diperbaiki adalah
bila si pemiliknya meng-ampelas / mengikis / menghaluskan badan kerisnya, atau mengukir ulang
bagian badan / luk atau dapur keris.

Kesalahan-kesalahan di atas biasanya tidak dapat diperbaiki, bahkan ada yang sampai khodam
kerisnya pergi meninggalkan kerisnya, karena sudah menyebabkan sakit hati si gaib keris, walaupun
sudah diupayakan mengembalikan kerisnya ke kondisi aslinya atau memasang kembali komponen
aslinya atau mengganti dengan komponen lain yang kira-kira si keris berkenan.

Karena itulah kita harus berhati-hati, jangan melakukan kesalahan seperti di atas. Juga ketika kita
berminat membeli sebuah keris yang kondisinya sudah banyak ubahannya, terutama ubahan pada
komponen-komponen utama keris seperti disebut di atas. Begitu juga dengan keris yang ada hiasan
emasnya pada bagian ganja, dapur atau bilah kerisnya, harus dicermati dulu apakah hiasan emas itu
adalah aslinya ataukah sebenarnya tambahan / gantian. Jangan sampai kerisnya kelihatannya bagus,
tapi ternyata khodamnya sudah bukan khodam aslinya yang dulu, karena khodam aslinya sudah
terlanjur sakit hati dan pergi meninggalkan kerisnya. Khodam kerisnya yang sekarang bukanlah
khodam aslinya yang dulu.

Bila bagian pesi keris (besi gagang keris) sudah sangat keropos atau tipis karena termakan karat,
kondisinya bisa diperbaiki dengan memasangkan pipa bekas antena televisi yang ukurannya pas
dengan ukuran pesi keris, dipasang menyelubungi pesi keris (ditambah lilitan benang wol hitam pada
pesi keris supaya tidak longgar dengan pipanya) dan pipa antena itu diusahakan pas dengan lubang
pada kayu gagang keris (ditambah lilitan benang wol hitam). Tetapi bila pesi keris tersebut sudah
patah pada bagian pangkalnya, sehingga tidak dapat diperbaiki dengan bantuan pipa antena itu, dan
terpaksa harus diganti, bisa diupayakan menggantinya dengan gagang besi lain dengan terlebih dulu
menyampaikan niat anda itu sebagai pemberitahuan awal kepada si keris.

Sebagai catatan tambahan :

Seandainya kita merubah bentuk keris atau mengganti komponen utamanya karena kita
menganggap keris itu bentuknya jelek atau tidak bagus sehingga harus dirubah bentuknya atau
diganti komponennya supaya tampak lebih bagus, bisa dipastikan bahwa si gaib keris akan sakit hati
dan tidak akan memberikan tuahnya kepada si manusia, sehingga kemudian keris itu akan berfungsi
sebagai keris ageman, bukan lagi keris tayuhan.
Seandainya kita merubah bentuk keris atau mengganti komponen utamanya bukan karena kita
menganggap keris itu jelek sehingga harus dirubah bentuknya atau diganti komponennya supaya
tampak lebih bagus, tetapi kita melakukannya karena merasa sayang ada bagian yang rusak,
mungkin itu tidak apa-apa, karena sosok gaibnya mengerti bahwa maksud kita tidak merusak dan
tidak menganggap keris itu jelek sehingga harus dirubah bentuknya atau diganti komponennya,
hanya diperbaiki saja.

Atau bila kita ingin mengganti komponen kelengkapan keris, seperti gagang, sarung, mendak dan
salut keris, sebaiknya ditanyakan dulu apakah keris itu berkenan, misalnya dengan cara menayuh
keris (Ilmu Tayuh / Menayuh Keris) dan tunjukkan juga kepada kerisnya (dengan pikiran kita)
gambaran benda yang akan menjadi gantinya.

Apapun yang akan kita lakukan terhadap fisik keris kita sebaiknya dilakukan dengan menyampaikan
terlebih dahulu niat kita itu sebagai pemberitahuan awal kepada si keris.

(baca juga : Pemilik Keris Sebenarnya).

Dari semua uraian di atas dapatlah dipahami bahwa sebuah keris tidaklah sama dengan benda gaib
lain. Keris mempunyai "jiwa" yang akan aktif berinteraksi dengan pemiliknya, karena sejak awal
tujuan sebuah keris dibuat adalah untuk menjadi "pendamping" manusia. Karena itu bila kita
memiliki sebuah keris, perlakukanlah benda itu seolah-olah dia adalah juga manusia yang memiliki
perasaan dan pikiran dan bisa diajak bertukar pikiran / curhat (seolah-olah mempunyai teman dari
alam gaib), tergantung kemampuan anda untuk berkomunikasi / berinteraksi dengan sosok gaibnya,
dan dia juga dapat mengikuti jalan hidup manusia pemiliknya. Tetapi jika kita hanya menginginkan
tuah dari sebuah benda gaib, sebaiknya janganlah kita memiliki keris, lebih baik memilih jenis benda
gaib lain sebagai jimat keberuntungan, kesuksesan dan keselamatan.

Sebagai tambahan dari faktor penghalang menyatunya keris dengan manusia pemiliknya di atas, bisa
dipastikan bahwa semua keris yang seharusnya menyatukan diri dan mendampingi pemiliknya, tidak
akan mau lagi menyatukan diri dan mendampinginya, jika si pemilik keris mempunyai khodam
pendamping yang berasal dari golongan hitam.

Mahluk halus golongan putih tidak bergaul / berkomunitas dengan yang dari golongan hitam,
sehingga jika seseorang mempunyai khodam pendamping yang berasal dari golongan hitam, maka
bisa dipastikan bahwa semua jenis khodam golongan putih yang seharusnya menyatukan diri dan
mendampinginya, tidak akan mau lagi menyatukan diri dan mendampinginya, bukan hanya khodam
keris jawa, tapi juga khodam batu akik dan mustika dan khodam ilmu / khodam pendamping. Bahkan
bisa jadi semua benda gaib yang dipakainya atau yang dibawanya, seperti cincin batu akik dan
mustika, juga akan menjadi kosong isi gaibnya (khodamnya pergi).

Penyebabnya adalah selain mahluk halus dari golongan putih akan menyingkir tidak mau bergaul
dengan yang golongan hitam, juga karena mahluk gaib yang dari golongan hitam itu mengambil alih
semua peranan dari khodam yang lain, sehingga si manusia akan menjadi bergantung hanya
kepadanya.

Selain mahluk halus golongan hitam yang keberadaannya adalah khodam keilmuan gaib kita, mahluk
tersebut bisa juga terpanggil datang karena adanya wiridan amalan / doa kita. Karena tujuan
kedatangannya tidak untuk mengganggu, tetapi datang untuk menjadi pendamping kita, maka
sekalipun sebelumnya kita mempunyai khodam-khodam penjaga, maka khodam-khodam penjaga itu
tidak akan melarangnya. Tapi kemudian khodam-khodam penjaga itu akan mundur semua tidak mau
lagi mendampingi kita karena mereka tidak mau bergaul / campur dengan yang golongan hitam.
Karena itu jika kita sudah mempunyai benda gaib atau khodam-khodam penjaga, sebaiknya mereka
juga disugestikan untuk mengusir semua mahluk halus golongan hitam, apapun tujuannya mereka
datang.

(Silakan dibaca juga tentang mahluk halus golongan hitam dalam tulisan berjudul : Penggolongan
Mahluk Halus).

Status Keris dan Kelas Keris di Dunia Gaib Perkerisan

Seperti yang sudah dituliskan dalam halaman Status Keris dan Kelas Keris, dan Status & Hierarki
Khodam, bukan hanya di dunia manusia, di dunia gaib keris juga ada semacam hierarki status dan
kelas gaib keris.

Bukan hanya di dunia manusia, di dunia gaib khodam keris juga ada aturan hirarki status dan kelas
gaib keris, yang aturannya sama dengan status dan kelas wahyu dewa yang diturunkan kepada
manusia, karena filosofi dasar diturunkannya wahyu gaib keris adalah untuk dipasangkan dengan
wahyu dewa yang diturunkan kepada manusia, sehingga hirarki status dan kelas gaib keris dan
wahyu dewa itu sejalan.

Sehubungan dengan tulisan di atas, mengenai bentuk penyatuan / pendampingan isi gaib keris
dengan manusia pemiliknya, maka jika seseorang mempunyai beberapa buah atau banyak keris,
mungkin tidak semua sosok gaib khodam keris itu akan tampak mendampingi si manusia, mungkin
hanya satu saja yang tampak mendampingi si manusia mewakili khodam keris yang lain, dan tidak
semuanya menonjol dalam memberikan tuahnya kepada manusia, karena ada aturan hierarki status
dan kelas gaib keris.

Sesuai hierarki status dan kelas gaib keris di dunia gaib perkerisan, bila anda memiliki beberapa buah
keris, maka urutan gaib keris yang menonjol dalam menunjukkan bentuk penyatuannya adalah sbb :

Keris ber-luk 5, keris pandawa, keris pulanggeni luk 5, keris berdapur nagasasra dan singa barong
dan keris-keris keningratan lain, yang dalam pembuatannya ditujukan untuk dimiliki oleh seorang
raja atau orang-orang yang memiliki status keningratan karena status keluarga / keturunan seorang
raja / bangsawan.

Keris bertuah kekuasaan dan wibawa.

Keris bertuah kewibawaan.

Keris bertuah kesaktian.

Keris bertuah kesepuhan.

Keris bertuah kerejekian.

Keris bertuah pengasihan.

Jika beberapa keris anda ada yang mempunyai fungsi tuah yang sama, misalnya ada beberapa keris
yang sama-sama mempunyai tuah untuk kekuasaan dan wibawa, atau sama-sama mempunyai tuah
untuk kerejekian, maka keris-keris yang sama tuahnya itu yang lebih tua akan mewakili keris-keris
yang lebih muda umurnya.

Hierarki status dan kelas gaib keris adalah hierarki dan tata krama di dunia mahluk halus gaib keris
dan wahyu dewa. Hierarki itu tidak ditentukan oleh tingkat kesaktian masing-masing gaib keris atau
tua usianya, tetapi lebih ditentukan oleh hierarki status dan kelas gaib keris. Sama dengan di dunia
manusia yang mana seorang rakyat, punggawa, ksatria, atau orang kaya sekalipun, harus
menghormati dan menjunjung tinggi seorang raja atau bangsawan, di dunia mereka juga begitu.
Sekalipun seorang rakyat / prajurit / senopati / panglima perang dan seorang pesilat / ksatria /
panembahan umurnya lebih tua atau kondisinya jauh lebih sakti daripada raja mereka, tetap saja
mereka akan menundukkan diri di hadapan raja mereka. Begitu juga mereka di hadapan para
bangsawan dan kaum ningrat.

Secara umum yang lebih menonjol menunjukkan penyatuannya dengan manusia adalah keris-keris
yang berfungsi untuk penjagaan gaib, terutama didapatkan dari keris-keris keningratan dan yang
bertuah untuk kekuasaan dan/ atau wibawa.

Jika si pemilik keris bukan seorang keturunan raja atau ningrat, maka keris-keris yang bersifat
keningratan tidak akan menunjukkan penyatuannya dengan si manusia dan posisinya akan
digantikan oleh keris-keris yang lain sesuai hirarki status dan kelas gaib keris.

Keris-keris yang bertuah kekuasaan dan wibawa hanya akan memberikan tuahnya untuk seorang
pemilik yang dalam kehidupan kesehariannya mempunyai posisi jabatan tertentu dan mempunyai
bawahan, jika tidak, maka keris-keris itu hanya akan memberikan tuah kewibawaan saja.

Keris-keris yang bertuah kesaktian, bila berada di tangan seseorang yang aktif dalam ksatriaan dan
memiliki kekuatan / kesaktian kebatinan yang tinggi, penyatuan gaib keris dengan orang tersebut
akan menambah ketajaman dan kekuatan kebatinan / kanuragan orang tersebut menjadi bertambah
berlipat-lipat. Tetapi bila berada di tangan seseorang yang tidak aktif dalam ksatriaan dan tidak
memiliki kekuatan / kesaktian kebatinan yang tinggi biasanya akan pasif, hanya akan diam saja,
menunggu untuk diperintah secara khusus. Tetapi ada juga sebagian dari jenis keris ini yang
beradaptasi dan keluar dari kerisnya mendampingi si manusia untuk memberikan penjagaan gaib.

Dengan adanya hierarki status dan kelas gaib keris di atas, maka jika seseorang memiliki beberapa
atau banyak keris, mungkin hanya ada satu atau dua keris saja yang akan tampil mendampinginya
mewakili keris-kerisnya yang lain. Karena itu jika seseorang memiliki beberapa buah keris yang
fungsinya berbeda-beda dan ingin semua kerisnya memberikan tuahnya secara bersama-sama dan
terkoordinasi, maka harus ada upaya dari si manusia untuk menyatu dengan keris-kerisnya dan
mengsugesti keris-kerisnya supaya bisa berkoordinasi dan tidak saling menggantikan. Jika seseorang
mempunyai beberapa buah keris, sebenarnya masing-masing keris itu dapat memberikan tuahnya
secara terkoordinasi sesuai jenis tuahnya masing-masing, namun dalam pelaksanaannya tergantung
juga pada tingkat penyatuan masing-masing keris dengan si manusia pemiliknya.

Secara alami tingkat penyatuan masing-masing keris dengan manusia pemiliknya itu selain
tergantung pada tingkat penyatuan masing-masing pihak secara hati dan batin, juga tergantung pada
kecocokan sifat fungsi keris dengan aktivitas keseharian pemiliknya, sehingga seorang pemilik keris
yang kesehariannya bekerja sebagai seorang karyawan atau pedagang, mungkin hanya kerisnya yang
berfungsi kerejekian-pengasihan saja yang menonjol dalam memberikan tuahnya, bukan yang
bertuah kekuasaan dan wibawa.

Tetapi yang secara umum terjadi, jika seseorang memiliki beberapa keris yang berbeda-beda
fungsinya, yang lebih menonjol menunjukkan penyatuannya dengan si manusia adalah keris-keris
yang memberikan fungsi untuk keselamatan / penjagaan gaib, terutama didapatkan dari keris-keris
keningratan dan yang bertuah untuk kekuasaan dan/ atau wibawa. Biasanya salah satu dari mereka,
mewakili keris-keris yang lain, akan tampak mendampingi manusia pemiliknya, dan seringkali juga
pendampingan mereka itu menyebabkan keris-keris lain yang bertuah kerejekian atau tuah lainnya
menjadi tidak menonjol penyatuannya, atau bahkan menjadi tidak memberikan tuahnya (menjadi
tergantikan posisinya). Itulah perlunya kita mengsugestikan keinginan kita supaya keris-keris kita
tersebut secara bersama-sama dan terkoordinasi memberikan tuahnya kepada kita dan tidak saling
menggantikan.

Kalau kita ingin semua keris-keris itu memberikan tuahnya kepada kita secara bersama-sama dan
terkoordinasi, maka kita harus mengsugestikannya kepada mereka semua bahwa kita menginginkan
supaya mereka semua memberikan tuahnya kepada kita secara bersama-sama dan terkoordinasi
dan supaya tuah-tuah mereka tidak saling berlawanan dan tidak saling menggantikan. Caranya,
keris-keris itu semua dikumpulkan di hadapan anda. Kemudian sampaikan kepada mereka keinginan
di atas, misalnya disugestikan supaya mereka semua secara bersama-sama memberikan tuahnya
secara terkoordinasi, tidak berlawanan dan tidak saling menggantikan, supaya tuah kewibawaan dan
penjagaan gaib tidak berlawanan dengan tuah kerejekian dan pengasihan, supaya ketika anda
sedang bersama teman-teman anda agar yang bertuah kewibawaan seimbang tuahnya dengan yang
bertuah kerejekian-pengasihan supaya hubungan sosial baik dan tetap dihormati, dan ketika berada
di sekitar manusia jahat / berandalan supaya yang bertuah kewibawaan dan penjagaan gaib lebih
aktif bekerja menjauhkan anda dari gangguan.

Posisi Keris Sebagai Pendamping Manusia

Bila seseorang memiliki beberapa buah keris dan juga memiliki benda-benda gaib lain selain keris
atau juga memiliki beberapa khodam pendamping, upaya penyatuannya oleh kedua belah pihak
adalah sbb:
1. Upaya penyatuan dari si manusia terhadap gaib-gaib yang bersamanya.

2. Upaya penyatuan dari gaib-gaib yang bersamanya terhadap si manusia.

Upaya penyatuan dari si manusia haruslah dilakukan satu per satu terhadap sosok-sosok gaib atau
benda-benda gaib yang bersamanya dengan cara-cara yang serupa seperti yang sudah dituliskan
mengenai upaya penyatuan manusia dengan kerisnya atau seperti dalam tulisan tentang ilmu tayuh
/ menayuh keris.

Mengenai upaya penyatuan dari gaib-gaib yang bersamanya terhadap si manusia, di dalam dunia
mahluk halus berlaku hierarki status dan kelas sosok halus pendamping manusia sbb:

1. Roh Leluhur.

Yang pertama dan terutama diakui sebagai sosok halus pendamping dan pelindung manusia adalah
sukma leluhur si manusia sendiri yang dalam pelaksanaannya bisa dilakukan dalam bentuk
pengawasan jarak jauh, bisa juga tampil langsung mendampingi si manusia.

Urutan pertama adalah leluhur si manusia yang berperan sebagai pelindung yang menjaga si
manusia.

Urutan kedua adalah leluhur si manusia berdasarkan peranannya (fungsi / tuahnya) yang sama
dengan hierarki status dan kelas gaib keris.

2. Sosok sukma lain yang dianggap sebagai leluhur oleh si manusia.

Jenis ini adalah sukma lain yang bukan leluhur si manusia, tetapi oleh si manusia dianggap
(dihormati) sebagai leluhurnya. Sukma itu juga berperan seolah-olah dia adalah seorang leluhur yang
menjaga dan mendampingi si manusia seolah-olah adalah keturunannya. Biasanya sukma itu
berfungsi sebagai khodam pendamping.

Urutan pertama adalah yang berperan sebagai pelindung yang menjaga si manusia.

Urutan kedua adalah berdasarkan peranannya yang sama dengan hierarki status dan kelas gaib keris.

3. Sukma lain atau jenis mahluk halus lain.

Jenis ini adalah sukma lain atau jenis mahluk halus lain yang bukan (dan tidak dianggap) sebagai
leluhur si manusia, biasanya berfungsi sebagai khodam pendamping / khodam ilmu.

Urutan pertama adalah yang berperan sebagai pelindung yang menjaga si manusia (penjagaan gaib).
Urutan kedua adalah berdasarkan peranannya / fungsinya yang sama dengan hierarki status dan
kelas gaib keris.

4. Gaib Keris.

Hierarki status dan kelas gaib keris sebagai pendamping manusia adalah seperti sudah tertulis di
atas.

5. Gaib dari Benda-benda Gaib Lain Selain Keris.

Dalam memberikan tuahnya kepada manusia sosok gaib dari benda-benda gaib selain keris ada yang
tampak mendampingi manusia, ada yang tetap berdiam di dalam benda gaibnya masing-masing.

Hierarki status dan kelas gaib-gaib tersebut yang mendampingi manusia adalah sesuai sifat tuah
benda gaibnya, yang pertama adalah yang bertuah untuk penjagaan gaib, selebihnya sama dengan
hierarki status dan kelas gaib keris.

Dengan demikian urutan status dan kelas sosok halus yang mendampingi manusia adalah sbb:

1. Sukma leluhur si manusia.

2. Sukma lain yang dianggap leluhur si manusia.

3. Sukma lain atau jenis mahluk halus lain sebagai khodam pendamping / khodam ilmu.

4. Gaib Keris.

5. Gaib dari benda-benda gaib lain selain keris.

Di antara jenis yang sama dari sosok-sosok halus tersebut di atas urutannya yang pertama sebagai
pendamping manusia adalah yang berperan sebagai sosok pelindung atau yang untuk penjagaan
gaib. Urutan berikutnya sama dengan hierarki status dan kelas gaib keris.

Bentuk Penyatuan Keris


Biasanya bila sebuah keris atau sejumlah keris merasa sudah cocok dengan manusia pemiliknya,
maka khodam-khodam gaibnya, atau salah satu atau dua khodam gaib keris mewakili khodam-
khodam keris yang lain, akan mendampingi dan menyertai si manusia di manapun dia berada,
walaupun kerisnya ditinggal di rumah. Dengan demikian, bila diterawang, maka fisik keris itu akan
tampak kosong tidak berpenghuni gaib, karena sosok gaibnya tidak berada di dalam kerisnya, tetapi
menyatu mendampingi si pemilik keris. Hanya sisa-sisa energi gaibnya saja yang ada pada keris
tersebut.

Seringkali kondisi di atas salah ditafsirkan oleh para praktisi kebatinan atau praktisi perkerisan atau
oleh orang-orang yang bisa melihat gaib, yang menganggap keris itu tidak berguna, karena tidak
menunjukkan kesan angker / wingit dan kosong tidak ada "isi"nya. Walaupun keris itu kosong tidak
berpenghuni gaib, tetapi orang-orang yang tinggi spiritualitasnya dan tajam kebatinannya akan tahu
bahwa keris itu berkhodam, karena ada tanda-tanda energi bahwa keris itu berpenghuni gaib, hanya
saja mungkin khodamnya sedang tidak berada di dalam kerisnya, mungkin sudah keluar
mendampingi orangnya.

Secara umum ada suatu aturan di alam mahluk halus mengenai tatacara dan perlambang
keberadaan suatu sosok mahluk halus dalam mendampingi manusia. Walaupun mungkin tidak selalu
persis sama, tetapi dalam banyak hal ada kesamaan cara suatu sosok mahluk halus mendampingi
manusia.

Secara umum posisi keberadaan sosok-sosok gaib sebagai khodam manusia adalah sbb :

Bersemayam di dalam tubuh manusia dan menyatukan kekuatannya dengan si manusia, sehingga
disebut si manusia ketempatan mahluk halus. Keberadaannya berfungsi sebagai khodam kekuatan /
kesaktian, kekuasaan, dan wibawa, atau fungsi lain sesuai pembawaan sifat asli si mahluk gaib.
Tetapi banyak sosok halus yang bersemayam di dalam tubuh manusia yang wataknya jelek, sehingga
bisa menimbulkan pengaruh / akibat yang merugikan.

Di sebelah kanan si manusia, artinya keberadaannya berfungsi sebagai sosok halus yang menjaga si
manusia, atau sebagai tangan kanan si manusia (sebagai sosok halus yang diandalkan untuk berbagai
keperluan), atau sebagai khodam ilmu yang bersifat penjagaan gaib, kesaktian, kekuatan / wibawa,
penaklukkan / penundukkan.

Di sebelah kiri si manusia, artinya keberadaannya berfungsi sebagai sosok halus yang menjaga si
manusia, tetapi tidak secara khusus menjaga, lebih banyak bersifat hanya membantu penjagaan,
atau berfungsi sebagai khodam ilmu selain yang bersifat penjagaan gaib, kesaktian, kekuatan,
kewibawaan, penaklukkan atau penundukkan, seperti untuk pengasihan, membantu kerejekian,
keilmuan, spiritualitas, kebijaksanaan, membantu pemecahan masalah, dsb.
Di sebelah depan si manusia, artinya keberadaannya berfungsi mutlak sebagai sosok halus yang
menjaga si manusia, artinya setiap ada gangguan / serangan gaib akan lebih dulu berhadapan
dengannya.

Di sebelah belakang si manusia, artinya keberadaannya berfungsi sebagai sosok halus yang bersifat
menjaga seperti seorang pemomong dan kadangkala membantunya juga jika diperlukan.

Di sebelah atas si manusia (posisinya tepat di atas kepala si manusia), artinya keberadaannya
berfungsi sebagai sosok halus yang bersifat menjaga, melindungi, mengayomi (berlaku seperti
seorang leluhur yang menaungi dan menjaga anak-cucu keturunannya) dan bisa juga memberikan
fungsi-fungsi lain kombinasi dari fungsi no.2 sampai 5 di atas.

Di sebelah depan atas si manusia, artinya keberadaannya berfungsi mutlak sebagai sosok halus yang
bersifat menjaga dan melindungi (berlaku seperti seorang leluhur yang menaungi dan menjaga anak-
cucu keturunannya).

Di sebelah belakang atas si manusia, artinya keberadaannya berfungsi sebagai sosok halus yang
bersifat membantu si manusia, tetapi sifat keberadaannya tidak langsung berfungsi seperti fungsi-
fungsi tertentu di atas, lebih banyak bersifat mengawasi dan hanya membantu jika diperlukan sekali
bantuannya.

Pengawasan jarak jauh. Khodamnya tidak tampak bersama dengan manusia, tetapi melakukan
pengawasan atau memberikan pengaruhnya dari jauh, dan bisa seketika datang ketika dibutuhkan.

Khodam panggilan (khodam ilmu hadiran). Khodam jenis ini tidak bersifat mendampingi manusia,
dan hadir hanya ketika dipanggil atau ketika amalan ilmunya dibacakan.

Posisi sosok gaib keris yang mendampingi manusia umumnya posisinya berada di bawah, yaitu
antara no.2 sampai 5 atau no.9.

Dengan demikian jika kita, atau orang lain, mempunyai satu atau banyak khodam pendamping, baik
asalnya dari keris, benda-benda jimat, khodam ilmu, atau adanya sukma leluhur yang mendampingi,
maka dari posisi masing-masing khodam tersebut kita bisa memperkirakan fungsi utamanya.

Jika kita sendiri sudah memiliki satu atau banyak khodam pendamping, tidak perlu kita mengatur-
atur posisi keberadaan mereka, karena secara alami mereka akan mengatur sendiri posisinya sesuai
fungsi dan statusnya masing-masing.

Posisi sosok gaib yang berada di atas manusia, yang posisinya tepat di atas kepalanya atau di
depannya, memberikan kadar perlindungan yang lebih tinggi daripada sosok gaib yang posisinya
berada di bawah. Biasanya yang melakukan itu adalah dari jenis sukma manusia yang berperan
sebagai seorang leluhur yang melindungi dan menaungi anak-cucu keturunannya dan memiliki
kesaktian gaib yang tinggi, minimal kekuatan gaibnya 100 kali lipatnya kesaktian Ibu Ratu Kidul (jika
kurang dari itu biasanya posisinya di bawah, sama dengan gaib-gaib yang lain). Dari posisinya di
atas, selain bisa memandang dan bisa memberi pengaruh gaib mencakup jarak yang lebih jauh, juga
menunjukkan posisi yang bisa dengan jelas dilihat oleh mahluk halus lain sebagai sosok pelindung si
manusia.

Posisi sosok gaib yang berada di atas manusia biasanya adalah sukma leluhur si manusia, tetapi ada
beberapa kasus yang melakukan itu adalah dari jenis lain selain sukma leluhur si manusia, misalnya
khodam keris jawa, bangsa jin atau sukma orang lain yang merasa ada ikatan batin dengan si
manusia dan berperan sama seperti seorang leluhur yang melindungi dan menaungi anak-cucu
keturunannya dan memiliki kesaktian gaib yang tinggi, minimal kekuatan gaibnya 100 kali lipatnya
kesaktian Ibu Ratu Kidul. Jika kesaktiannya kurang dari itu, dan tidak ada ikatan batin seperti seorang
leluhur dengan anak cucu keturunannya, biasanya posisinya di bawah, sama dengan gaib-gaib yang
lain.

Khusus untuk sosok gaib pendamping yang posisinya berada di depan si manusia, jika anda
memilikinya, atau ada orang lain yang melihatnya begitu, karena posisinya yang berhadapan
langsung dengan orang lain, sebaiknya anda berhati-hati pada sifat-sifat karakter kepribadian sosok
gaib tersebut.

Posisi di depan si manusia melambangkan posisi yang mutlak sebagai pelindung gaib. Biasanya sosok
gaib itu percaya diri dengan kesaktiannya dan akan memancarkan hawa aura energinya sebagai
tanda perlindungannya. Jika karakternya teduh dan netral, mungkin tidak apa-apa. Tetapi jika
karakternya panas, pemarah, galak, atau berlebihan wibawanya, akan dapat memberikan efek
negatif terhadap hubungan sosial dan jalan kerejekian anda. Pengaruh karakter mereka yang seperti
itu akan membuat anda terlihat sombong, sok berwibawa, dan keberadaan anda dapat menciptakan
suasana panas dan tidak nyaman di dalam pergaulan, hubungan sosial dan rumah tangga dan dapat
berpengaruh negatif juga terhadap jalan kerejekian anda. Pengaruh negatif itu juga bisa muncul dari
sosok pendamping di sebelah kanan, tetapi kadarnya lebih rendah daripada yang posisinya di depan
si manusia.

Keterangan posisi khodam no.1 di atas :

Ada jenis-jenis mahluk halus / khodam yang sehari-harinya bersemayam di dalam tubuh manusia,
sehingga disebut si manusia ketempatan mahluk halus. Secara alami mahluk halus / khodam
tersebut akan berfungsi sebagai khodam kekuatan / ketahanan badan ketika si manusia berkelahi
(baca juga : Pengaruh Gaib Thd Manusia).

Selain yang sehari-harinya bersemayam di dalam badan manusia, khodam lainnya posisi
pendampingannya di luar tubuh, bisa di samping kanan, kiri, depan, belakang atau atas. Ketika si
manusia berkelahi / bertarung, biasanya khodam-khodamnya itu akan masuk ke dalam badan si
manusia, sehingga melipatgandakan kekuatannya berkelahi, terutama adalah yang posisinya di
samping kanan dan di atas, sedangkan yang posisinya di depan, biasanya tidak masuk ke dalam
badan, tetapi akan menyerang langsung lawan si manusia secara gaib. Begitu juga ketika orangnya
sedang menggunakan kekuatan kebatinannya, atau ketika sedang mengamalkan ilmu gaibnya.

Kondisi khodamnya masuk ke dalam badan itu bersifat temporer / sementara, karena tujuan
keberadaan mahluk halus tersebut adalah untuk menyatukan kekuatannya pada saat dibutuhkan,
bukan untuk menyatukan dirinya dengan si manusia seperti orang yang ketempatan mahluk halus.

Keterangan posisi khodam no.9 di atas :

Ada jenis-jenis mahluk halus / khodam yang sehari-harinya tidak tampak bersama dengan manusia,
tetapi melakukan pengawasan atau memberikan pengaruhnya dari jauh, dan bisa seketika datang
ketika dibutuhkan. Biasanya sehari-harinya mereka membantu kepekaan rasa dan firasat atau
membantu memberikan penglihatan gaib. Untuk yang juga memberikan fungsi perlindungan gaib,
jika diperlukan mereka dapat seketika datang ketika dibutuhkan seperti keterangan no.1 di atas.
Contohnya adalah keris-keris jawa yang tidak tampak khodamnya mendampingi manusia pemiliknya,
tetapi tetap berdiam di dalam kerisnya. Ada juga sosok leluhur atau bangsa jin yang mengawasi jarak
jauh yang sehari-harinya tinggal di rumah si manusia atau tinggal di tempat lain yang jauh.

Benda-benda gaib lain selain keris jawa, misalnya batu akik atau mustika atau jimat isian, yang
khodamnya tidak keluar sebagai khodam pendamping, tetapi tetap berdiam di dalam bendanya
masing-masing, jika bendanya di tinggal di rumah biasanya khodamnya akan pasif, hanya menunggu
untuk diperintah secara khusus. Karena itu untuk tetap mendapatkan tuahnya maka benda-benda
itu harus selalu dibawa / dipakai. Atau jika bendanya ditinggal di rumah, lebih dulu dimintakan untuk
memberikan aura / energinya sebagai tuahnya, misalnya aura kewibawaan atau pengasihan atau
untuk pagaran gaib.
Tetapi keris-keris jawa yang khodamnya tetap berdiam di dalam kerisnya, sebagai bentuk
penyatuannya dengan manusia pemiliknya biasanya khodamnya sudah memberikan auranya seperti
aura wibawa / kekuasaan, atau pengasihan untuk pergaulan atau bentuk energi lainnya sesuai tuah
asli kerisnya, sesuai karakter kegaibannya. Dengan demikian walaupun khodamnya tetap berdiam di
dalam kerisnya, keris-keris itu tetap memberikan tuahnya kepada manusia pemiliknya sekalipun
keris-kerisnya ditinggal di rumah.

Dalam penyatuannya (pendampingan) kepada si manusia pemiliknya ada isi gaib keris yang keluar
dari kerisnya dan akan tampak berdiri mendampingi tuannya, ada juga yang tetap berdiam di dalam
kerisnya. Masing-masing mempunyai cara pendampingan sendiri-sendiri.

Pada jaman dulu ketika keris masih dibawa-bawa orang, khodamnya memang tidak keluar dari
kerisnya. Pada jaman sekarang ketika keris sudah tidak lagi dibawa-bawa, ada khodam keris yang
tetap berdiam di dalam kerisnya, ada juga khodam keris yang menyesuaikan diri dengan aktivitas
orangnya dengan cara keluar dari kerisnya dan mendampingi pemilik kerisnya.

Baik khodam kerisnya tetap berdiam di dalam kerisnya atau sudah keluar dari kerisnya, masing-
masing ada kebaikannya dan kelemahannya sendiri-sendiri. Khodam keris yang tetap berdiam di
dalam kerisnya umumnya memang lebih pasif dibandingkan yang sudah mendampingi orangnya.
Selain perawatan dan sesajinya yang harus baik dan telaten, secara umum semua keris akan lebih
terasa tuahnya jika sering dibawa.

Tetapi kerisnya tidak perlu dibawa-bawa. Sesudah perawatan dan sesajinya baik dan teratur, cukup
kita sugestikan saja supaya kerisnya memberikan tuahnya kepada kita pemiliknya. Kita juga bisa
sambat kepada kerisnya kalau ada masalah supaya kerisnya membantu pemecahannya. Jadi karena
kerisnya hanya mengawasi dan membantu dari jauh, kita sendiri yang harus dekat dengan kerisnya,
menjaga kedekatan batin dengan kerisnya supaya ia tetap aktif membantu kita dengan caranya
sendiri. Baik khodam kerisnya tetap berdiam di dalam kerisnya atau sudah keluar dari kerisnya
diperlukan interaksi dan penyatuan batin orangnya dengan kerisnya.

Dengan syarat sebuah keris sudah menyatu dengan manusia pemiliknya, masing-masing keris yang
khodamnya keluar mendampingi manusia ataupun yang tetap berdiam di dalam kerisnya masing-
masing mempunyai kecenderungan yang akan menjadi kelebihan ataupun kelemahan.

Sebuah keris yang khodamnya tetap berdiam di dalam kerisnya biasanya memberikan bentuk dan
kadar tuah yang konsisten, stabil, kepada manusia pemiliknya, walaupun bendanya ditinggal di
rumah. Sedangkan yang khodamnya sudah keluar menjadi khodam pendamping, karena khodamnya
mengikuti dan menyesuaikan diri dengan kehidupan si manusia, maka ada kecenderungan besar
bahwa tuahnya akan lebih menjurus pada penjagaan gaib (keselamatan), dan tuah lainnya seperti
kewibawaan atau pengasihan / kerejekian akan berkurang kadarnya.

Kelebihan dari keris yang khodamnya sudah menjadi khodam pendamping adalah akan lebih mudah
bagi si manusia untuk berinteraksi dengan khodamnya di manapun ia berada, karena khodamnya itu
mendampinginya dimanapun ia berada. Sedangkan jika khodam kerisnya tetap berdiam di dalam
kerisnya, jika si manusia ingin berinteraksi dengan khodam kerisnya, maka ia harus lebih dulu
mengkonsentrasikan dirinya kepada kerisnya.

Upaya penyatuan dari si manusia dengan khodamnya atau benda gaibnya haruslah dilakukan satu
per satu terhadap sosok-sosok gaib atau benda-benda gaib yang bersamanya dengan cara seperti
yang sudah dituliskan mengenai upaya penyatuan manusia dengan kerisnya atau dalam tulisan
tentang ilmu tayuh / menayuh keris.

Bila seseorang sudah memiliki beberapa buah keris dan juga memiliki benda-benda gaib lain selain
keris atau juga memiliki beberapa khodam pendamping, sebaiknya dilakukan upaya penyatuan dari
si manusia supaya masing-masing gaib tersebut dapat berfungsi optimal seperti seharusnya.

Tetapi bisa juga dicoba untuk melakukannya sekaligus. Kalau kita ingin semua keris-keris dan benda-
benda gaib itu memberikan tuahnya kepada kita secara terkoordinasi, maka kita harus
mengsugestikannya kepada mereka semua bahwa kita menginginkan supaya mereka semua
memberikan tuahnya kepada kita dan supaya tuahnya tidak saling berlawanan, misalnya tuah
kewibawaan dan penjagaan gaib supaya tidak berlawanan dengan tuah kerejekian dan pengasihan.
Caranya, keris-keris dan benda-benda gaib itu semua dikumpulkan di hadapan anda. Kemudian
sampaikan kepada mereka keinginan di atas.

Bentuk penyatuan keris dengan si manusia pemilik keris yang diuraikan di atas adalah bentuk
penyatuan keris yang khodam kerisnya keluar dari kerisnya dan mendampingi si manusia pemilik
keris (berfungsi sama dengan khodam pendamping). Dengan cara ini si khodam keris akan selalu
mendampingi dan menyertai si manusia pemilik keris dimanapun dia berada dan memancarkan
hawa aura wibawa, pengasihan, dsb, sesuai sifat tuah keris dan sifat karakter khodamnya. Dengan
kondisi pendampingan ini orang yang bisa melihat gaib akan bisa melihat bahwa ada sosok gaib (si
khodam keris) yang mendampingi si manusia.
Selain dalam bentuk pendampingan di atas, bentuk menyatunya gaib keris dengan manusia
pemiliknya ada juga yang diwujudkan dalam bentuk lain, biasanya dari jenis keris kesaktian dan
wibawa kekuasaan, yaitu si gaib keris tetap berada di dalam kerisnya, tidak keluar mendampingi si
manusia, tetapi si gaib keris memberikan suatu energi / aura yang melingkupi diri si pemilik keris.
Energi / aura yang melingkupi diri si manusia pemilik keris adalah sebagai tanda bahwa manusia itu
ada di bawah naungannya, dan sebagai perlindungan gaib supaya tidak ada mahluk halus lain yang
mengganggu manusia itu.

Ada jenis-jenis sosok gaib keris (termasuk khodam benda gaib lain) yang tidak menjadi khodam
pendamping, yang akan tetap berdiam di dalam kerisnya, tidak keluar mendampingi pemiliknya,
tetapi tetap mengawasi si manusia pemilik keris. Walaupun jaraknya berjauhan (misalnya kerisnya
ditinggal di rumah sedangkan orangnya sedang pergi ke tempat lain), tetapi dari tempat
keberadaannya gaib keris itu memperhatikan si pemilik keris dimanapun dia berada (pengawasan
gaib), akan bisa selalu kontak rasa dan batin, bisa memberikan pengaruh gaib terhadap orang-orang
di sekitar si manusia pemilik keris (sesuai jenis tuah kerisnya) dan khodam kerisnya bisa datang
setiap saat bila diperlukan.

Sebagai tanda bentuk penyatuan keris tersebut dengan manusia pemiliknya adalah adanya energi
gaib yang diberikan si gaib keris kepada si manusia pemilik keris. Energi itu bisa dirasakan sebagai
kekuatan badan, atau berbentuk aura kewibawaan atau pengasihan, sesuai jenis tuah dan sifat
karakter khodam kerisnya.

Energi itu juga menjadi tanda bagi mahluk halus lain bahwa si manusia pemilik keris ada di bawah
naungannya. Energi itu juga berfungsi sebagai tanda jejak, sehingga sekalipun si manusia dan
kerisnya berjauhan jaraknya, tetapi khodam kerisnya bisa selalu mendeteksi posisi keberadaannya,
bisa kontak rasa dan batin, dan bisa datang setiap saat bila diperlukan.

Dari masing-masing bentuk dan tanda penyatuan gaib keris dengan manusia pemiliknya di atas
menunjukkan bahwa sebuah keris sudah menyatukan kegaibannya dengan si manusia pemilik keris,
hanya saja kadar kekuatan tuah yang diberikan oleh keris seseorang belum tentu selalu sama dengan
keris milik orang lain, juga kadar tuah sebuah keris yang sama pada pemilik yang terdahulu belum
tentu sama dengan pada pemiliknya yang sekarang. Semuanya tergantung pada tingkat penyatuan
kebatinan masing-masing manusianya dengan kerisnya dan kemampuan si manusia dalam
mengsugesti kerisnya.

Karena itu jika kita sudah memiliki sebuah keris, sebaiknya kita bisa mengsugestikan penyatuan kita
dengan keris kita. Untuk menyatukan keris kita dengan kita bukanlah dengan cara memasukkan
khodamnya ke badan kita. Untuk sehari-harinya cukup kita bersugesti "nyambung" dengan kerisnya,
ada kontak rasa dan batin, kita bisa mendengarkan suara dan bisikan gaib dari kerisnya, dan bisa
merasakan adanya energi gaib kerisnya yang diberikan ke badan kita. Untuk maksud itu tidak
diperlukan amalan apapun, hanya perlu sugesti kebersamaan saja antara kita dengan kerisnya dan
menyampaikan segala apa yang kita inginkan untuk diberikan oleh keris kita.

Keberadaan pendampingan sosok gaib khodam keris bersama si manusia akan dapat dilihat oleh
orang lain yang mampu melihat gaib (yang penglihatan gaibnya cukup tajam) bahwa ada sesosok
gaib yang menjaga si manusia tersebut atau mendampinginya, atau ada suatu energi gaib yang
menyelimuti diri si manusia. Pendampingan sosok gaib keris tersebut atau aura energinya akan
memberikan tuah / manfaat gaib kepada si manusia sesuai sifat tuah kerisnya masing-masing.

Berbeda dengan keris-keris yang umum seperti di atas, keris-keris yang dalam laku pembuatannya
ditujukan untuk menjadi lambang kebesaran sebuah kerajaan / kadipaten / kabupaten, tidak
menunjukkan keberadaannya mendampingi manusia, tetapi tetap berdiam di dalam kerisnya. Dari
tempat keberadaannya, atau sesekali sosok gaibnya keluar dari kerisnya, ia memancarkan suatu aura
energi wibawa kekuasaan yang melingkupi suatu area yang luas yang melingkupi wilayah yang harus
dinaunginya, sekaligus memusatkan aura energinya pada sosok manusia yang menjadi penguasa
wilayah itu.

Tetapi sama halnya dengan keris-keris yang lain, kinerja keris-keris pusaka keraton itu juga
tergantung pada kecocokkannya dengan sosok manusianya (sesuai kualitas wahyu
kepemimpinannya).

---------------------