You are on page 1of 3

ADIKKU YANG BAIK

Pada suatu hari, di hari minggu pagi itu , ku dengar suara adzan subuh dan nyanyian

ayam berkokok, ku ku ruyuuuuuuuuuuuuuuuuk !!! tiba tiba ku dengar suara pintu kamar ku

berbunyi , tok .tok tok !

Nak ayo bangun sholat subuh berjamaah panggil ayah. Baik yah !! aku pun menjawab

dengan suara lemas.

Naya ..kemari sebentar ! panggil bunda, aku pun menjawab ya Bunda ada apa? hari

ini kita kerja bakti membersihkan rumah ya! Suruh bunda, baik bunda .!!! Aku menjawab

dengan semangat.

Lekas ku ambil sapu , tiba tiba ..sseeeet ! waktu berada di depan pintu , ku lihat

adikku masih tidur pulas, akupun merasa iri dengan adikku . kenapa adikku tidak di bangunkan

sedangkan aku di bangunkan . Aku pun berfikir apakah orang tuaku pilih kasih ? tanyaku dalam

hati.

Di siang harinya ayah dan bunda pergi berbelanja ke pasar swalayan . akupun di beri

tugas menjaga adikku yang masih berumur 3 tahun. Kata bunda aku tidak boleh nakal dan harus

sayang pada adikku.

Adikku mengajakku bermain sepeda keliling kompleks perum cempaka asri .tiba tiba

bruuuuuuukkk .! Aku terjatuh karena tersandung batu.. aduhhhhhhhhhhhhh.sakitttt

!!rintihku. Adikku pun menolongku kak aya , situ aja, nanti aki kak aya cakit kalo jalan kata

adikku dengan celat. Aku hanya mengguk . Adikku pergi entah kemana. Tiba tiba kak aya !!!

ini obat melah nya seru adikku.

Aku mengambilnya dari tangan adikku lalau mengoles nya pada luka yang berdarah. Aku

sadar ternyata adikku sangat baik dan sayang kepadaku.

Terima kasih adik sayang.

I lOVE YOU YOUNG BROTHER!!!!!!!!!!!!!


Doaku
User Rating: / 90
Poor Best
Wednesday, 27 May 2009 14:02
Kejadian itu hampir satu minggu berlalu, dan kakiku masih saja sakit.

Ugh.. luka dilutut ini tidak kunjung sembuh.., begitu celetukku. Ya memang tidak lekas
sembuh, apalagi kamu selalu bergerak, kata ayahku menyahut.
Hari Jumat yang lalu, aku terjatuh dari sepeda kesayanganku saat melewati tikungan dijalan raya.
Memang aku akui, aku sedikit melamun saat mengendarainya. Aku tidak menyadari kalau di
daerah tikungan itu banyak pasir yang berserakan.
Ini sudah ketiga kalinya, pasti kakak mengebut ya.., ujar adikku.
Tidak.., tukasku.
Mungkin roda depannya sudah tipis, jadi harus diganti yang baru.., lanjutku.
Tidak mungkin.. itu kan roda baru.., jawab ibuku.
Benar juga, roda bagian depan memang tidak begitu tipis. Kalau dipikir ulang, mungkin karena
aku tidak konsentrasi melihat jalan raya, jadi kurang hati-hati.
Kalau begitu, pasti karena jalannya berpasir dan basah.., ucapku.
Ah, pasti kamu yang kurang hati-hati.., kata ayahku.
Begitulah, hingga suatu hari aku bertemu dengan Kusma, sahabatku.
Huuuh.. sebel!!, teriak Kusma mendekatiku.
Kenapa Kus?, tanyaku.
Ini nih... kakiku sakit gara-gara Malli.., lanjutnya.
Kok bisa?, tanyaku lagi.
Iya, dia kan berpapasan denganku dipintu kaca. Sudah tahu aku membawa barang banyak, dia
bukannya membukakan pintu, malah mendorong pintunya kearahku. Karena itu, aku mundur
kebelakang dan tanpa sengaja tumit kakiku terbentur meja. Sakit deh,curhatnya padaku.
Aku hanya menatap Kusma dengan pertanyaan didalam benakku, lalu
..Eh.. dia dengan santainya bilang, kenapa Kus.. sakit ya, ups! Kasihan.. ambil hikmahnya ya..,
lanjut Kusma dengan nada sebel.
Sesaat aku termenung. Benar, Malli memang keterlaluan. Tidak seharusnya dia berkata seperti
itu. Tapi disisi lain kalimat Malli mengingatkanku pada sesuatu.
Ambil hikmahnya.
Aku lupa. Karena terlalu sering merintih kesakitan, aku lupa mengambil hikmah dari kecelakaan
yang aku alami. Tuhan memberi musibah, bukan untuk disesali atau dirapati. Tapi agar makhluk
ciptaannya tetap bersyukur terhadap apa yang Tuhan berikan.
Ya Tuhan, terima kasih masih memberiku kesempatan untuk hidup. Semoga, luka dilututku ini
cepat sembuh. Aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi, konsentrasi dalam apapun dan tidak akan
menyalahkan sesuatu karena kesalahanku sendiri.. amin, doaku sebelum tidur.

Karya: Rodya Yuliani <odya29 @ yahoo .com>


Cerita Anak | Dongeng Anak | Cerita Rakyat | Resep Masakan | Hyundai | Souvenir Pernikahan
Murah | Video Lucu | Kaos Anak