You are on page 1of 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Al-Quran secara harfiah berarti bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan.
Al-Quran berarti bacaan yang maha sempurna dan maha mulia. Kitab suci yang
diturunkan kepada nabi Muhammad SAW antara lain dinamai Al-Kitab dan Al-Quran
(bacaan yang sempurna). Fungsi Al-Quran adalah petunjuk semua kisah dalam Al-
Quran yang berkaitan dengan sejarah umat umat terdahulu merupakan realitas yang
bersifat pasti dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
Para sahabat menyadari bahwa Al-Quran adalah seruan Allah SWT mengikuti
cara sahabat dalam memahami Al-Quran dan terus berusaha menggali makna dibalik
firman Allah SWT. Ini akan menghantarkan seseorang pada pemahaman tafsir yang
benar. Selain akan memperluas pengetahuannya terhadap Al-Quran juga akan
mempertajamkan matahari dan kemampuan abtraksinya. Dengan demikian tidak butuh
lagi metodologi yang beragam dan cendrung bertele tele dalam mengaji Al-Quran.
Kesadaran bahwa Al-Quran memuat berbagai penjelasan tentang berbagai
persoalan, merangkum banyak kebenaran didalamnya maka pada saat itu ia akan
menyadari betapa besarnya manfaat Al-Quran bagi kehidupan.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada makalah ini yaitu :
1. Apa Pengertian Al Quran dan Hadits sebagai sumber hukum islam?
2. Apa kedudukan Al quran dan Hadits sebagai sumber hukum islam?
3. Apa fungsi Al Quran dan hadits sebagai sumber hukum islam?
4. Apa macammacam sumber hukum islam?

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Al Quran Dan Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam

Beberapa penjelasan Allah tentang Al Quran sebagai sumber hukum dari Allah
terdapat dalam firman-Nya berikut ini.

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul (Nya) dan Ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan
hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baikakibatnya. (QS An
Nisa: 59).

Dari segi bahasa Al Quran berarti yang dibaca atau bacaan, sedangkan dari segi istilah Al
Quran adalah firman (wahyu) Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw
melalui perantara Malaikat Jibril yang merupakan mukjizat dan menggunakan bahasa Arab,
berisi tentang petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia, dan bila kita membacanya
merupakan ibadah.

Hadis menurut lughat atau bahasa artinya baru atau kabar. Hadis menurut istilah ialah segal:-
tingkah laku Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapannv;
Kedudukan hadis dalam ajar an Islam adalah sebagai sumber hukum yang kedua setelah Al
Qurar Maksudnya, apabila suatu perkara yang tidak didapati hukumnya dalam Al Quran, mak
hendaknya dicari dalam hadis. Hadis Nabi Muhammad saw. dapat dibedakan menjadi 3 (tiga)
bentuk yaitu sebagai berik .

Hadis qauliyah yaitu hadis atas dasar segenap perkataan (ucapan) Nabi Muhammad
saw.
Hadis filiyah yaitu hadis atas dasar perilaku (perbuatan) yang dilakukan Nabi
Muhamir :
saw.
Hadis taqririyah adalah hadis atas dasar persetujuan Nabi Muhammad saw. terhadap
apa ya dilakukan oleh para sahabatnya. Artinya, Nabi Muhammad memberikan
penafsiran at perbuatan yang dilakukan sahabatnya dalam suatu hukum Allah swt. atau
nabi diam sebac tanda persetujuan (boleh) atas perbuatan-perbuatan sahabat Nabi
Muhammad saw.

2
2.2 Kedudukan Al Quran Dan Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam

Al-Quran sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan
utama dari seluruh ajaran Islam,baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya
sendiri,hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan
sesamanya,dan hubungan manusia dengan alam.

Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua
sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Quran.Mereka beralasan kepada dalil-dalil Al-
Quran surah Ali-Imran,3:132,




Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.

surah Al-Ahzab,33:36 dan

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah
dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Al-Hasyr,59:7,










Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta
benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul,
kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam
perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara
kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat
keras hukumannya.
3
serta hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog antara Rasulullah SAW
dengan sahabatnya Muaz bin Jabal tentang sumber hukum Islam.

2.3 Fungsi Al Quran Dan Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam


Fungsi kitab suci Al Quran adalah.
a. Al Quran sebagai Sumber Hukum
Al Quran sebagai sumber hukum memiliki tiga inti atau komponen dasar hukum
yaitu sebagai berikut.
1. Hukum yang berhubungan dengan masalah akidah (keimanan) dan tercermin
dalam rukun iman. Ilmu yang mempelajari tentang keimanan disebut ilmu tauhid,
ilmu kalam, atau ilmu usuluddin.
2. Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah secara lahiriah, antara
manusia dengan sesamanya, dan dengan lingkungan sekitarnya
b. Al Quran Sebagai Pedoman Hidup
Sebagai kitab suci yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., Al Quran
memiliki kelebihan dan keistimewaan yang tidak dipunyai oleh kitab-kitab sebelumnya.
Keistimewaan dan kelebihannya antara lain sebagai berikut.
1. Al Quran mengandung ringkasan ajaran ketuhanan yang pernah dimuat pada kitab-
kitab sebelumnya.
2. Al Quran ditujukan bagi semua umat sepanjang masa. Adapun kitab-kitab
sebelumnya hanya untuk bangsa tertentu saja dan dalam kurun waktu tertentu pula.
3. Sebagai pedoman hidup abadi, Al Quran mempunyai kelengkapan yang luar biasa
mengenai berbagai aspek kehidupan dan memiliki keluwesan dari segi pemahaman.
4. Al Quran diturunkan dalam bahasa yang sangat indah, mudah dibaca, diingat, dan
dipahami.
Fungsi hadist Nabi Muhammad saw. dalam hukum Islam adalah sebagai berikut.

1. Sebagai sumber hukum Islam kedua. Ada beberapa hukum yang tidak disebutkan di
dalai A1 Quran. Rasulullah saw. kemudian menjelaskan hukumnya baik dengan
perkataan, perbuata maupun dengan penetapan.
2. Sebagai pengukuh atau penguat hukum yang telah disebutkan oleh Allah di dalam
kitab sue Nya, sehingga keduanya yaitu A1 Quran dan hadis menjadi sumber hukum
yang salir melengkapi dan menyempurnakan.
3. Sebagai penjelasan atau perincian terhadap ayat-ayat A1 Quran yang masih bersifat
umum.

4
4. Menetapkan hukum-hukum yang tidak terdapat dalam Al Quran. Hadis juga dapat
berfungsi untuk menetapkan hukum apabila di dalam Al Quran tidak dijumpai, seperti
halnya keharaman seorang laki-laki untuk menikah dengan bibi istrinya dalam waktu
yang bersamaan.

2.4 MacamMacam Sumber Hukum Islam

A. Al Quran

Al Quran berisi wahyu-wahyu dari Allah SWT yang diturunkan secara berangsur-
angsur (mutawattir) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Al Quran
diawali dengan surat Al Fatihah, diakhiri dengan surat An Nas. Membaca Al Quran
merupakan ibadah.

Al Quran merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim berkewajiban
untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi
manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala perintah Allah dan
menjauhi segala larangnannya

Al Quran memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia.

1. Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yantg berkaitan


dengan iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari
akhir, serta qadha dan qadar
2. Tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim memilki
budi pekerti yang baik serta etika kehidupan.
3. Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat dan haji.
4. Tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam masyarakat

Hukum yang berkaitan dengan muamalah meliputi:

1. Hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam berkeluarga, yaitu


perkawinan dan warisan
2. Hukum yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu yang berhubungan dengan jual
beli (perdagangan), gadai-menggadai, perkongsian dan lain-lain. Maksud
utamanya agar hak setiap orang dapat terpelihara dengan tertib
3. Hukum yang berkaitan dengan gugat menggugat, yaitu yang berhubungan
dengan keputusan, persaksian dan sumpah
4. Hukum yang berkaitan dengan jinayat, yaitu yang berhubungan dengan
penetapan hukum atas pelanggaran pembunuhan dan kriminalitas
5. Hukum yang berkaitan dengan hubungan antar agama, yaitu hubungan antar
kekuasan Islam dengan non-Islam sehingga tercpai kedamaian dan
kesejahteraan.
6. Hukum yang berkaitan dengan batasan pemilikan harta benda, seperti zakat,
infaq dan sedekah.

Ketetapan hukum yang terdapat dalam Al Quran ada yang rinci dan ada yang garis
besar. Ayat ahkam (hukum) yang rinci umumnya berhubungan dengan masalah
ibadah, kekeluargaan dan warisan. Pada bagian ini banyak hukum bersifat taabud
(dalam rangka ibadah kepada Allah SWT), namun tidak tertutup peluang bagi akal
5
untuk memahaminya sesuai dengan perubahan zaman. Sedangkan ayat ahkam
(hukum) yang bersifat garis besar, umumnya berkaitan dengan muamalah, seperti
perekonomian, ketata negaraan, undang-undang sebagainya. Ayat-ayat Al Quran
yang berkaitan dengan masalah ini hanya berupa kaidah-kaidah umum, bahkan
seringkali hanya disebutkan nilai-nilainya, agar dapat ditafsirkan sesuai dengan
perkembangan zaman.
Selain ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan hukum, ada juga yang berkaitan
dengan masalah dakwah, nasehat, tamsil, kisah sejarah dan lain-lainnya. Ayat yang
berkaitan dengan masalah-masalah tersebut jumlahnya banyak sekali.

B. Hadits

Hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan,
perbuatan, maupun ketetapan (taqrir). Hadits merupakan sumber hukum Islam yang
kedua setelah Al Quran. Allah SWT telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum
dan perbuatan-perbuatan yang disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam
haditsnya.

Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku Nabi


Muhammad SAW mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan akhlak
mulia. Apabila seseorang bisa meneladaninya maka akan mulia pula sikap dan
perbutannya. Hal tersebut dikarenakan Rasulullah SAW memilki akhlak dan budi
pekerti yang sangat mulia. Hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua, juga
dinyatakan oleh Rasulullah SAW:

Artinya: Aku tinggalkan dua perkara untukmu seklian, kalian tidak akan sesat
selama kalian berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah rasulnya.
(HR Imam Malik)

Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki kedua fungsi sebagai
berikut.

1. Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al Quran, sehingga


kedunya (Al Quran dan Hadits) menjadi sumber hukum untuk satu hal yang
sama. Misalnya Allah SWT didalam Al Quran menegaskan untuk menjauhi
perkataan dusta, sebagaimana ditetapkan dalam firmannya : (lihat Al-Quran
onlines di google)

Artinya: Jauhilah perbuatan dusta (QS Al Hajj : 30)

Ayat diatas juga diperkuat oleh hadits-hadits yang juga berisi larangan berdusta.

1. Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Quran yang masih


bersifat umum. Misalnya, ayat Al Quran yang memerintahkan shalat,
membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji, semuanya bersifat garis besar.
Seperti tidak menjelaskan jumlah rakaat dan bagaimana cara melaksanakan
shalat, tidak merinci batas mulai wajib zakat, tidak memarkan cara-cara
melaksanakan haji. Rincian semua itu telah dijelaskan oelh rasullah SAW
dalam haditsnya. Contoh lain, dalam Al Quran Allah SWT mengharamkan
bangkai, darah dan daging babi. Firman Allah sebagai berikut:

Diharamkan bagimu bangkai, darah,dan daging babi (QS Al Maidah : 3)

6
Dalam ayat tersebut, bangkai itu haram dimakan, tetap tidak dikecualikan bangkai
mana yang boleh dimakan. Kemudian datanglah hadits menjelaskan bahwa ada
bangkai yang boleh dimakan, yakni bangkai ikan dan belalang. Sabda Rasulullah
SAW:
, :
,



( )

:

Artinya: Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua
macam bangkai adalah ikan dan belalalng, sedangkan dua macam darah adalah hati
dan limpa (HR Ibnu Majjah)

1. Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam Al Quran.


Misalnya, cara menyucikan bejana yang dijilat anjing, dengan membasuhnya
tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW:


)


)

Artinya: Mennyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah dengan cara membasuh
sebanyak tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah (HR Muslim, Ahmad, Abu
Daud, dan Baihaqi)

Hadits menurut sifatnya mempunyai klasifikasi sebagai berikut:

1. Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, sempurna
ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat, dan tidak janggal. Illat hadits
yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai
keshohehan suatu hadits
2. Hadits Hasan, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, tapi tidak
begitu kuat ingatannya (hafalannya), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat
illat dan kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang
makbul biasanya dibuat hujjah untuk sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau
tidak terlalu penting
3. Hadits Dhoif, adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih syarat-syarat
hadits shohih atau hadits hasan. Hadits dhoif banyak macam ragamnya dan
mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau
sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak dipenuhi

Adapun syarat-syarat suatu hadits dikatakan hadits yang shohih, yaitu:

1. Rawinya bersifat adil


2. Sempurna ingatan
3. Sanadnya tidak terputus
4. Hadits itu tidak berilat, dan
5. Hadits itu tidak janggal

C. Ijtihad

Ijtihad ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah


yang tidak ada ketetapannya, baik dalam Al Quran maupun Hadits, dengan
menggunkan akal pikiran yang sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara
menetapkan hukum-hukumyang telah ditentukan. Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber
hukum yang ketiga. Hasil ini berdasarkan dialog nabi Muhammad SAW dengan

7
sahabat yang bernama muadz bin jabal, ketika Muadz diutus ke negeri Yaman. Nabi
SAW, bertanya kepada Muadz, bagaimana kamu akan menetapkan hukum kalau
dihadapkan pada satu masalah yang memerlukan penetapan hukum?, muadz
menjawab, Saya akan menetapkan hukumdengan Al Quran, Rasul bertanya lagi,
Seandainya tidak ditemukan ketetapannya di dalam Al Quran? Muadz menjawab,
Saya akan tetapkan dengan Hadits. Rasul bertanya lagi, seandainya tidak engkau
temukan ketetapannya dalam Al Quran dan Hadits, Muadz menjawab saya akan
berijtihad dengan pendapat saya sendiri kemudian, Rasulullah SAW menepuk-
nepukkan bahu Muadz bi Jabal, tanda setuju. Kisah mengenai Muadz ini menajdikan
ijtihad sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam setelah Al Quran dan hadits.
Untuk melakukan ijtihad (mujtahid) harus memenuhi bebrapa syarat berikut ini:

1. mengetahui isi Al Quran dan Hadits, terutama yang bersangkutan dengan


hukum
2. memahami bahasa arab dengan segala kelengkapannya untuk menafsirkan Al
Quran dan hadits
3. mengetahui soal-soal ijma
4. menguasai ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqih yang luas.

Islam menghargai ijtihad, meskipun hasilnya salah, selama ijtihad itu dilakukan sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW
bersabda:
( )



Artinya: Apabila seorang hakim dalam memutuskan perkara melakukan ijtihad dan
ternyata hasil ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala dan apabila seorang
hakim dalam memutuskan perkara ia melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya
salah, maka ia memperoleh satu pahala. (HR Bukhari dan Muslim)

Islam bukan saja membolehkan adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad,
tetapi juga menegaskan bahwa adanya beda pendapat tersebut justru akan membawa
rahmat dan kelapangan bagi umat manusia. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:
( )

Artinya: Perbedaan pendapat di antara umatku akan membawa rahmat (HR
Nashr Al muqaddas)

Dalam berijtihad seseorang dapat menmpuhnya dengan cara ijma dan qiyas. Ijma
adalah kese[akatan dari seluruh imam mujtahid dan orang-orang muslim pada suatu
masa dari beberapa masa setelah wafat Rasulullah SAW. Berpegang kepada hasil
ijma diperbolehkan, bahkan menjadi keharusan. Dalilnya dipahami dari firman Allah
SWT: (lihat Al-Quran onlines di google)

Artinya: Hai orang-oran yang beriman, taatilah Allah dan rasuknya dan ulil amri
diantara kamu. (QS An Nisa : 59)

Dalam ayat ini ada petunjuk untuk taat kepada orang yang mempunyai kekuasaan
dibidangnya, seperti pemimpin pemerintahan, termasuk imam mujtahid. Dengan
demikian, ijma ulam dapat menjadi salah satu sumber hukum Islam. Contoh ijam
ialah mengumpulkan tulisan wahyu yang berserakan, kemudian membukukannya
menjadi mushaf Al Quran, seperti sekarang ini

Qiyas (analogi) adalah menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada hukumnya
dengan kejadian lain yang sudah ada hukumnya karena antara keduanya terdapat

8
persamaan illat atau sebab-sebabnya. Contohnya, mengharamkan minuman keras,
seperti bir dan wiski. Haramnya minuman keras ini diqiyaskan dengan khamar yang
disebut dalam Al Quran karena antara keduanya terdapat persamaan illat (alasan),
yaitu sama-sama memabukkan. Jadi, walaupun bir tidak ada ketetapan hukmnya
dalam Al Quran atau hadits tetap diharamkan karena mengandung persamaan dengan
khamar yang ada hukumnya dalam Al Quran.
Sebelum mengambil keputusan dengan menggunakan qiyas maka ada baiknya
mengetahui Rukun Qiyas, yaitu:

1. Dasar (dalil)
2. Masalah yang akan diqiyaskan
3. Hukum yang terdapat pada dalil
4. Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan

Bentuk Ijtihad yang lain

Istihsan/Istislah, yaitu mentapkan hukum suatu perbuatan yang tidak dijelaskan


secara kongret dalam Al Quran dan hadits yang didasarkan atas kepentingan
umum atau kemashlahatan umum atau unutk kepentingan keadilan
Istishab, yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan telah
ditetapkan suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan dari
hukum tersebut
Istidlal, yaitu menetapkan suatu hukum perbuatan yang tidak disebutkan secara
kongkret dalam Al Quran dan hadits dengan didasarkan karena telah menjadi
adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat. Termasuk dalam hal ini ialah
hukum-hukum agama yang diwahyukan sebelum Islam. Adat istiadat dan
hukum agama sebelum Islam bisa diakui atau dibenarkan oleh Islam asalkan
tidak bertentangan dengan ajaran Al Quran dan hadits
Maslahah mursalah, ialah maslahah yang sesuai dengan maksud syarak yang
tidak diperoeh dari pengajaran dalil secara langsung dan jelas dari maslahah
itu. Contohnya seperti mengharuskan seorang tukang mengganti atau
membayar kerugian pada pemilik barang, karena kerusakan diluar kesepakatan
yang telah ditetapkan.
Al Urf, ialah urursan yang disepakati oelh segolongan manusia dalam
perkembangan hidupnya
Zarai, ialah pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai
mashlahah atau untuk menghilangkan mudarat.

9
BAB III

PENUTUP

1.1. Kesimpulan
Kita perlu mengetahui / memahami bahwa sesungguhnya manusia itu adalah
makhluk yang lemah. Didalam kandungan Al-Quran mengajarkan kita agar berprilaku
dengan akhlak karimah, seperti : kesabaran, murah hati dan lain lain. Kita sebagai
umat islam wajib memahami dan mempelajari dengan baik supaya kita tidak
terjerumus.
Al-Quran itu kitab terbaik yang diturun melalui Jibril sebagai mukjizat Nabi
Muhammad SAW. Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk hidup umat islam. Semua
kisah yang ada didalam Al-Quran yang berkaitan dengan sejarah umat umat
terdahulu merupakan realitas yang bersifat pasti dan tidak diragukan lagi kebenarannya.

1.2. Saran
Alhamdulillah segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas
rahmatnya dan hidayahnya yang telah memberikan kesempatan untuk saya hingga saya
bisa menulis makalah ini, dan dengan kekurangan kekurangan yang ada pada
penulisan maka dari itu saya mengharap saran dan kritik untuk menuju kepada yang
lebih baik.
Penulis menyarankan kepada para pembaca agar lebih baik memahami tentang
Al-Quran yang lebih dalam supaya umat islam memahami dan mempelajari. Ungkapan
terimakasih kepada pembimbing sehingga terselesainya tulisan ini. Mudah-mudahan
Allah SWT meridhoi apa yang kita kerjakan. Amin

10