You are on page 1of 32

dimulai dari Sejak abad pertama Masehi, bangsa Indonesia sudah menjalin hubungan dengan

wilayah Indonesia, bangsa Indonesia mulai mengenai tulisan dan kebudayaan lainnya
berdasarkan agama Hindu. Dengan demikian, bangsa Indonesia sudah mengakhiri zaman
Prasejarah dan mulai memasuki zaman Sejarah. Hal ini dibuktikan bahwa penduduk
Nusantara telah meninggalkan peninggalan tertulis. Banyak peniliti sejarah yang menyatakan
bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia.

Artikel Terkait: Sejarah Kerajaan Kutai & Kehidupan Ekonomi, Sosial, Budaya

Peninggalan Sejarah Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai terletak di aliran sungai mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai
bercorak Hindu. Bukti yang mendukung pernyataan itu adalah ditemukannya tujuh buah
yupa pada tahun 1879 dan 1940 didaerah aliran sungai Mahakam. Yupa adalah sebuah
bangunan tugu batu tertulis yang berisi suatu peringatan upacara berkorban. Yupa tersebut
menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta dalam bentuk syair. Huruf Pallawa
dan bahasa sanskerta lazim digunakan oleh kaum bramanan dari India Selatan. Dari Yupa
tersebut diketahui bahwa pada sekitar tahun 400-500 Masehi telah berdiri Kerajaan Kutai.
Yupa tersebut dibuat atas perintah Raja Mulawarman pada upacara kurban lembu. Dari
tulisan itu diketahui bahwa raja yang memerintah ialah Mulawarman, anak Aswawarman,
cucu Kudungga. Aswawarman disebut dengan wamsakerta artinya pembentuk keluarga.

Prasasti lainnya menyebutkan adanya hadiah dari Raja Mulawarman kepada pendeta
ditempat suci bernama Waprakeswara berupa 20.000 ekor lembu sebagai tanda kebaikan sang
raja. Untuk menghormati kebaikan raja tersebut dibuatlah yupa oleh para brahmana. Bentuk
hadiah atau kurban (sedekah) yang besar itu dapat dianggap sebagai kelengkapan dalam
upacara penyucian diri untuk masuk ke dalam Kasta Brahmana bagi keluarga raja. Upacara
semacam itu di India disebut dengan Vratyastoma.

Agama yang dianut Raja Mulawarman adalah Hindu Syiwa. Hal itu ditunjukkan oleh salah
satu prasastinya yang menyebutkan tempat suci Waprakeswara, yaitu tempat suci yang selalu
disebut berhubungan dengan tiga dewa besar (trimurti) yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa.

Kerajaan Kutai mengalami perkembangan yang pesat pada saat itu karena merupakan tempat
yang baik untuk persinggahan kapal-kapal yang menempuh rute perdagangan melalui Selat
Makassar. Hal itu diperkuat dengan ditemukannya peninggalan di Sulawesi Selatan berupa
Arca Dewi Tara yang biasa dipuja para pelaut yang akan berlayar.

Perkembangan Kerajaan Kutai selanjutnya tidak banyak diketahui karena keterbatasan


sumber tertulis yang berupa prasasti.

Kehidupan Masyarakat Pada Masa Kerajaan Kutai

a. Bidang Ekonomi. Kerajaan Kutai terletak di aliran SUngai Mahakam, Kalimantan Timur.
Kehidupan ekonomi Kerajaan Kutai didukung oleh perdagangan dan pelayaran di sepanjang
Sungai Mahakam. Sektor pertanian dijadikan sebagai bahan dalam menentukan kondisi
perdagangan. Letak Kerajaan Kutai yang sangat strategis berada pada jalur pelayaran di Selat
Makassar tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi masyarakat khususnya
bidang perdagangan.
b. Bidang Sosial. Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kutai menunjukkan bahwa
masyarakat Kutai telah terpengaruh oleh peradaban India, terutama kalangan keluarga
kerajaan. Pada dasarnya, sebagian masyarakat Kutai menerima unsur budaya yang datang
dari India. Meskipun begitu, sebagian besar rakyat Kutai masih berpegang kepada
kepercayaan warisan leluhurnya. Unsur-unsur budaya India yang masuk tersebut disesuaikan
dengan tradisi bangsa Indonesia sendiri.

c. Bidang Budaya. Prasasti berbentuk Yuoa merupakan ciri khas peninggalan kebudayaan
Kerajaan Kutai. Penggunaan huruf Pallawa menunjukkan adanya pengaruh India Selatan
dalam penulisan pada prasasti berbentuk Yupa tersebut. Perlu diingat bahwa yupa merupakan
bentuk kelanjutan dari kebudayaan asli nenek moyang bangsa Indonesia zaman Megalitikum.
Yupa merupakan perkembangan dari bentuk menhir yang berfungsi sebagai tempat untuk
memuja roh nenek moyang. Yupa diperkirakan sebagai tempat untuk mengikat korban yang
akan dipersembahkan kepada para dewa.

Baca Juga:

Tokoh Sejarah pada Masa Hindu Budha di Indonesia


Mengenal Sejarah Kerajaan Singasari
Sejarah: Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Sejarah: Sejarah Kerajaan Mataram Kuno
Sejarah: Sejarah Kerajaan Tarumanegara
Sejarah: Sejarah Kerajaan Kutai
Sejarah: Sejarah Kerajaan Kalingga (Holling)
Sejarah: Peninggalan Sejarah Kerajaan Tarumanegara
Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Peninggalan Sejarah Kerajaan Majapahit
Pengaruh Tradisi Hindu-Budha Bagi Masyarakat Indonesia
Hasil Peninggalan Sejarah Kerajaan Bali

Kerajaaan Kutai dan Tarumanegara


Seorang Pelajar

Makalah

Makalah Kerajaaan Kutai dan Tarumanegara


PEMBAHASAN I
KERAJAAN KUTAI

A. Sumber Sejarah
Sumber yang menyatakan Bahwa di kaltim telah berdiri dan berkembang kerajaan yang
mendapatkan pegaruh Hindu adalah beberapa penemuan berupa batu bertulis atau Prasasti. Tulisan
itu ada pada tujuh tiang batu yang disebut Yupa. Yupa ini berfungsi utuk mengikat hewan Korban.
Korban itu merupakan pwersembahan rakyat kepada para Dewa yang dipujanya. Tulisan yang
terdapat pada Yupa tersebut menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sansekerta.

B. Letak Kerajaan Kutai


Kerajaan kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak ditepi sungai Mahakam di
Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat kota Tenggarong.

C. Kehidupan Politik
Sejak muncul dan berkembangnya Pengaruh Hindu di Kaltim, terjadi perubahan dalam tata
pemerintahan, yatu dari sistem pemerintahan kepala suku menjadi sistem pemerintahan Raja atau
feodal. Raja-raja yang pernah berkuasa pada kerajaan Kutai adalah sebagai berikut:
Kudungga. Raja ini adalah Founding Father kerajaan Kutai, ada yang unik pada nama raja pertama
ini, karena nama Kudungga merupakan nama Lokal atau nama yang belum dipengaruhi oleh budaya
Hindu. Hal ini kemudian melahirkan persepsi para ahli bahwa pada masa kekuasaan Raja Kudungga,
pengaruh Hindubaru masuk ke Nusantara, kedudukan Kudungga pada awalnya adalah seorang
kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia megubah struktur pemerintahannya menjadi
kerajaan dan mengangkat dirinya mejadi raja, sehingga pergantian raja dilakukan secara turun
temurun.
Aswawarman. Prasasti Yupa menyatakan bahwa Raja aswawarman merupakan raja yang cakap dan
kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai diperluas lagi. Hal ini
dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Asmawedha. Upacara-upacara ini pernah dilakukan di India
pada masa pemerintahan raja Samudragupta, ketika ingin memperluas wilayahnya. Dalam upacara
itu dilaksanakan pelepasan kuda dengan tujuan untuk menentukan batas kekuasaan kerajaan Kutai.
Dengan kata lain, sampai dimana ditemukan tapak kaki kuda, maka sampai disitulan batas kerajaan
Kutai. Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh prajurit kerajaan Kutai.
Mulawarman. Raja ini adalah Putra dari raja Aswawarman, ia membawa Kerajaan Kutai ke puncak
kejayaan. Pada masa kekuasaannya Kutai mengalami masa gemilang. Rakyat hidup tentram dan
sejahtera. Dengan keadaan seperti itulah akhirnya Raja Mulawarman mengadakan upacara korban
emas yang amat banyak.

D. Kehidupan Sosial Dan Budaya


Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, dapat diketahui bahwa pada abad ke -4 M di daerah Kutai
terdapat suatu masyarakat Indonesiayang telah banyak menerima pengaruh hindu. Masyarakat
tersebut telah dapat mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola pemerintahan di
India. Masyarakat Indonesia menerima unsur-unsur dari luar dan mengembangkannya sesuai
dengan tradisi bangsa Indonesia
Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut :
- Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
- Masyarakat yang sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
- Menjunjung tingi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.
- Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respon terhadap perubahan dankemajuan budaya.
Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yangmenerima dan mengadaptasi budaya luar
(India) ke dalam kehidupan masyarakat.Selain dari itu masyarakat Kutai dikenal sebagai masyarakat
yang menjunjung tinggispirit keagamaan dalam kehidupan kebudayaanya. Penyebutan Brahmana
sebagai pemimpin spiritual dan ritual keagamaan dalam yupa-prasasti yang mereka tulismenguatkan
kesimpulan itu.

E. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dapat diketahui dari dua hal berikut ini :
- Letak geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai
menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian.
- Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan
hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

F. Masa Keruntuhan
Berdasarkan yupa yang ditemukan, kerajaan kutai runtuh ketika Raja Dharma Setia tewas ditangan
Raja Kutai Kartanegara. Raja Dhamarmasetia adalah anak dari Raja Mulawarman, cucu dari Raja
Asmawarman, buyut dari Raja Kudungga. Dan Raja Dharma Setia adalah Raja terakhir diKerajaan
Kutai

PEMBAHASAN II
KERAJAAN TARUMANEGARA

A. Asal Mula Kerajaan Tarumanegara


Kerajaan Tarumanegara berdiri pada taahun 450 Masehi dengan raja yang memerintah
Purnawarman. Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah yang
sekarang menjadi Provinsi Banten, Jawa Barat dan Jakarta. Kerajaan ini berdiri kira-kira pada abad
ke-4 hingga abad ke-7 M, dan beribu kota di Jayasinghapura. Kerajaan Tarumanegara adalah
kelanjutan dari kerajaan Salakanagara, dan merupakan salah satu kerajaan tertua yang ada di
Indonesia.
Salakanagara, adalah salah satu kerajaan kuno yang pernah ada di Indonesia. Bahkan, banyak orang
percaya bahwa Salakanagara merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara. Salakanagara
kemudian menjadi kerajaan besar yang beribukota di Rajatapura. Rajatapura ini menjadi pusat
pemerintahan raja-raja Dewawarman (I-VIII) hingga tahun 362. Raja Dewawarman VIII memiliki
seorang menantu bernama Jayasingawarman. Ia adalah seorang Maharesi dari Salankayana di India
yang mengungsi ke Salakanagara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja
Samudragupta dari Kerajaan Maurya. Jayasingawarman inilah yang kemudian mendirikan kerajaan
baru bernama Tarumanegara. Setelah Kerajaan Tarumanegara berdiri, pusat pemerintahan beralih
dari Rajatapura ke Tarumanegara. Dan Salakanagara hanya menjadi sebuah Kerajaan Daerah.
Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari 7 buah prasasti batu yang ditemukan.
Lima ditemukan di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Ketujuh prasasti tersebut adalah
:
1. Prasasti Kebon Kopi, Bogor
2. Prasasti Tugu, Jakarta
3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, Banten
4. Prasasti Ciauteun, Bogor
5. Prasasti Muara Cianten, Bogor
6. Prasasti Jambu, Bogor
7. Prasasti Pasir Awi, Bogor
Dari prasasti-prasasti itu, diketahui bahwa kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru
Jayasingawarman pada tahun 358 M. Jayasingawarman kemudian memerintah sampai tahun 382 M.
Setelah meninggal, Jayasingawarman dimakamkan di sekitar sungai Gomatri (wilayah Bekasi).
Selain prasasti, bukti lain keberadaan kerajaan Tarumanegara adalah adanya berita dari China.
Orang-orang China mengatakan bahwa kerajaan Tarumanegara beberapa kali mengirim utusan ke
negeri China pada masa Dinasti Sui dan Dinasti Tang. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan
Tarumanegara di akui oleh kekaisaran China, dan hubungan baik telah terjamin di antara keduanya.
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. berdasarkan prasasti,
diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Pada saat itu, wilayah
kekuasaan Kerajaan Tarumanegara menurut prasasti Tugu meliputi hampir seluruh Jawa Barat yang
membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, dan Cirebon. Raja Purnawarman sendiri terkenal sebagai
seorang raja yang arif dan bijaksana. Salah satu bentuk kearifannya adalah ketika pada tahun ke-22
pemerintahannya, atau tepatnya pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati
sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km) yang dikerjakan dalam waktu 21 hari. Penggalian Sungai
Gomati tersebut untuk menghindari bencana alam berupa banjir di aliran Sungai Chandrabhaga yang
sering terjadi pada masa pemerintahannya, sekaligus untuk mengatasi kekeringan yang terjadi pada
musim kemarau.
Usaha ini membuktikan bahwa Purnawarman penuh perhatian kepada rakyatnya. Penggalian sungai
tersebut dilakukan oleh rakyat secara bergotong-royong dan tanpa paksaan. Pada akhir penggalian,
Raja Purnawarman kemudian memberikan hadiah seratus ekor lembu kepada para Brahmana.

B. Kehidupan Politik
Raja Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini
dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan raja Purnawaman telah memerintah untuk menggali
sebuah kali. Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya, karena pembuatan kali ini merupakan
saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawahsawah pertanian rakyat.

C. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial kerajaan Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya raja
Purnawarman yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Raja
Purnawarman juga sangat memperhatikan kedudukan kaum Brahmana yang dianggap penting
dalam melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda
penghormatan kepada para dewa. Lapisan masyarakat Tarumanegara di duga terdiri dari :
a. Keluarga raja dan kaum bangsawan (pangeran) yang memerintah kerajaan.
b. Kaum Brahmana yang memimpin upacara agama dan mengembangkan agama Hindu.
c. Rakyat yang terdiri dari pemburu, pedagang, petani, pelayar, penambang, peternak .
d. Budak-budak.

D. Kehidupan Ekonomi
Prasasti Tugu menyatakan bahwa raja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat
sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan terusan ini mempunyai arti ekonomis yang
besar bagi masyarakat, karena dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencegah banjir serta
sarana lalu lintas pelayaran perdagangan antar daerah di kerajaan Tarumanegara dengan dunia luar,
juga perdagangan daerah disekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonimian masyarakat kerajaan
Tarumanegara sudah teratur. Mata pencaharian rakyat Tarumanegara di perkirakan :
a. Perburuan disimpulkan dari adanya perdagangan cula badak dan gading gajah dengan cina.
b. Pertambangan disimpulkan dari banyaknya perdagangan emas dan perak.
c. Perikanan disimpulkan dari adanya perdagangan penyu, disamping menangkap penyu juga
menangkap ikan.
d. Pertanian disimpulkan dari penggalian kali untuk mengairi sawahsawah.
e. Perdagangan di simpulkan dari adanya hubungan dagang dengan cina.
f. Pelayaran disimpulkan dari pengiriman utusan ke cina.
g. Peternakan di simpulkan dari hadiah 1.000 ekor sapi dari Purnawarman

E. Kehidupan Budaya
Dilihat dari teknik dan cara penulisan hurufhuruf dari prasastiprasasti yang ditemukan sebagai titik
kebesaran kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui dapat tingkat kebudayaaan masyarakat pada
masa itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan prasastiprasasti tersebut
menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara.

F. Silsilah Raja-Raja Tarumanegara


Berikut adalah raja-raja Tarumanagara:
a. Jayasingawarman (358 - 382)
Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang
Maharesi dari SALANKAYANA di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan
ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. Setelah Jayasingawarman mendirikan
Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanegara. Salakanagara
kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah. Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati
(Bekasi).
b. Dharmayawarman (382 - 395 M)
Dipusarakan di tepi kali Candrabaga.
c. Purnawarman (395 - 434 M)
Ia membangun ibukota kerajaan baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan
dinamainya "Sundapura". Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun
397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya. Pustaka Nusantara,parwa II sarga 3
(halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja
daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang)
sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah. Secara tradisional Ci Pamali (Kali
Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.
d. Wisnuwarman (434-455)
e. Indrawarman (455-515)
f. Candrawarman (515-535 M)
g. Suryawarman (535 - 561 M)
Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan
lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga
mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya. Manikmaya,
menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan
Limbangan, Garut. Sedangkan putera Manikmaya, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara
dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur
menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.
h. Kertawarman (561-628)
i. Sudhawarman (628-639)
j. Hariwangsawarman (639-640)
k. Nagajayawarman (640-666
l. Linggawarman (666-669)
Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Dalam tahun 669,
Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman
sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan
yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan
Sriwijaya.
m. Tarusbawa (669 723 M)
Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa
Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia
ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota)
Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa
ini dijadikan alasan olehWretikandayun, cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari
kekuasaan Tarusbawa. Karena Putera Mahkota Galuh (SENA or SANNA) berjodoh dengan Sanaha
puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga,
Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua.
Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh.
Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda
dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.

G. Wilayah Kekuasaan
Dari sumbersumber di atas dapat di simpulkan bahwa Tarumanegara terletak di jawa Barat.
Pusatnya belum dapat di pastikan, namun para ahli menduga kali Chandabagha adalah kali Bekasi,
kirakira anatar sungai Citarum dan sungai Cisadane. Adapun wilayah kekuasaan kerajaan
Tarumanegara meliputi daerah Banten, Jakarta, sampai perbatasan Cirebon.

H. Prasasti-Prasasti Kerajaan Tarumanegara


No

Prasasti

Informasi
1.

Prasasti Ciaruteun

Terdapat gambar dua telapak kaki dengan tulisan huruf Palawa dan bahasa Sanskerta: Inilah dua kaki
yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia Sang Purnawarman di negeri Taruma, raja yang
gagah berani di dunia.
2.

Prasasti Kebon Kopi

Terdapat gambar dua kaki gajah. Isinya: 'Inilah dua telapak kaki gajah yang seperti Airawata, gajah
penguasa negeri Taruma yang gagah perkasa.' Tapak kaki dipuja merupakan ajaran Hindu Vaisnawa:
raja dianggap keturunan Dewa.
3.

Prasasti Jambu

Terdapat gambar sepasang kaki dengan tulisan 'gagah mengagumkan dan jujur terhadap tugas
adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyur Sri Purnawarman yang memerintah di
Taruma dan baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Inilah sepasang
kakinya, yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran,
tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuhnya.
4.

Prasasti Tugu

Terdapat di dekat Tanjung Priok, Jakarta Utara. Isinya: Dahulu sebuah sungai yang bernama
Candrabhaga, yang digali oleh seorang guru Rajadiraja mengalir ke laut setelah melalui puri. Dari
tahun ke-22 masa pemerintahan Purnawarman telah digali Sungai Gomati yang penjangnya 6122
tombak ( 12 km). Penggalian selesai 21 hari dimulai tanggal 6 paro peteng bulan Phalguna dan
selesai tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Lalu diadakan selamatan dan oleh Purnawarman
dihadiahkan kepada Brahmana 1.000 ekor sapi.
5.

Prasasti Lebak

Terdapat di Lebak, Banten. Isinya: Inilah tanda keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang
sesungguhsungguhnya dari raja dunia, yang mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja.
6.

Prasasti muara Cianten

Prasasti ini belum dapat dibaca karena menggunakan


huruf ikal
7.

Prasasti Pasir Awi

Prasasti ini belum dapat dibaca karena menggunakan huruf ikal

I. Sumber-Sumber Sejarah
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam
maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan
empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa
kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah
sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah
Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Sedangkan sumber-
sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:
1. Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-
po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang
yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.
2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo
yang terletak di sebelah selatan.
3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-
mo.

J. Kejayaan Tarumanegra
Masa keeamasan Tarumanagara disebut-sebut terjadi pada zaman Purnawarman, bergelar Sri
Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhima prakarma Suryamaha purusa Jagatpati.
Pembangun Tarumanagara. Ia disebut juga narendraddhvaja buthena (panji segala raja), atau sering
disebut Maharaja Purnawarman, berkuasa pada tahun 317 Saka (395 M), meningal pada 356 Saka
(434 M), dipusarakan di Citarum, sehingga disebut juga Sang Lumah ing Tarumadi.
Kemasyhuran Tarumanagara diabadikan didalam Prasasti zaman Purnawaraman, tentang
dibangunnya pelabuhan dan beberapa sungai sebagai sarana perekonomian ; pada masa
Purnawarman, Tarumanagara menaklukan raja-raja kecil di Jawa Barat yang belum mau tunduk.
Prasasti-prasasti tersebut juga menjelaskan tentang raja Tarumanegara ; menggali kali gomati
sepanjang 6122 busur ; wilayahnya meliputi Bogor dan Pandeglang, bahkan pada perkembangan
berikutnya, Tarumanagara mampu melebarkan sayap kekuasaannya. Perluasan daerah
Tarumanagara dilakukan melalui jalan perang maupun jalan damai, berakibat wilayah Tarumanagara
menjadi jauh lebih luas dibandingkan ketika masih dipimpin Rajadirajaguru dan Raja Resi.
Pada zaman ini pula, masalah hubungan diplomatik ditingkat. Sehingga wajar jika Pustaka Nusantara
menyebutkan kekuasaan Purnawarman membawahi 48 raja daerah yang membentang dari
Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga
(Purbolinggo) di Jawa Tengah. Sehingga memang secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) dianggap
batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam. Hal yang sama dapat ditenggarai
dari masa Manarah dan Sanjaya di Galuh.

K. Membangun Wilayah
Kisah Purnawarman secara terperinci diuraikan didalam Pustaka Pararatvan I Bhumi Jawadwipa.
Langkah pertama yang dilakukannya, ia memindah kan ibukota kerajaan kesebelah utara ibukota
lama, ditepi kali Gomati, dikenal dengan sebutan Jaya singapura. Kota tersebut didirikan
Jayasingawarman, kakeknya. Kemudian diberi nama Sundapura (kota Sunda). Iapun mendirikan
pelabuhan ditepi pantai pada tahun 398 sampai 399 M. Pelabuhan ini menjadi sangat ramai oleh
kapal Tarumanagara.
Raja Tarumanagara pada masa Purnawarman sangat memperhatikan pemeliharaan aliran sungai.
Tercatatat beberapa sungai yang diperbaikinya :
1. Pada tahun 410 M ia memperbaiki kali Gangga hingga sungai Cisuba, terletak di daerah Cirebon,
termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Indraprahasta.
2. Pada tahun 334 Saka (412 M) memperindah alur kali Cupu yang terletak di kerajaan Cupunagara
yang mengalir hingga istana raja.
3. Tahun 335 Saka (413 M) Purnawarman memerintahkan membangun kali Sarasah atau kali
Manukrawa (Cimanuk).
4. Tahun 339 Saka (417 M), memperbaiki alur kali Gomati dan Candrabaga, yang sebelumnya pernah
dilakukan oleh Rajadirajaguru, kakeknya.
5. Tahun 341 Saka (419), memperdalam kali Citarum yang merupakan Sungai terbesar di Wilayah
kerajaan Tarumanagara.
Proses dan hasil pembangunan beberapa sungai diatas menghasilkan beberapa implikasi, yakni
dapat memperteguh daerah-daerah yang dibangun sebagai daerah kekuasaan Tarumanagara.
Kedua, karena sungai pada saat itu sebagai sarana perkenomian yang penting, maka pembangunan
tersebut membangkitkan perekonomian pertanian dan perdagangan. Politik dan Keamanan Sejak
pra Aki Tirem wilayah pantai barat pulau Jawa tak lekang dari gangguan para perompak, bahkan
keberadaan Salakanagara tak lepas pula dari perlunya penduduk Kota Perak mempertahankan diri
dari gangguan para perompak. Disinilah sebenarnya Dewawarman I berkenalan dengan masyarakat
Yawadwipa dan dari thema ini pula masyarakat Jawa Barat bersentuhan dengan kebudayaan India.
Konon kabar ketika masa Salakanagara, pemberantasan perompak dianggap sulit, bahkan menurut
cerita rakyat, ketujuh putra Dewawarman yang terakhir terbunuh dilaut ketika menghalau para
perompak. Para India, perompak yang paling ganas berasal dari laut Cina Selatan, sehingga Sang
Dewawarman menganggap perlu untuk membuka jalur diplomatik dengan Cina dan Gangguan para
perompak dialami juga ketika zaman Purnawarman, bahkan wilayah laut Jawa sebelah utara, barat
dan timur telah dikuasai perompak. Semua kapal diganggu atau dirampas, yang terakhir para
perompak berhasil menyandera dan membunuh seorang menteri Kerajaan Tarumanagara dan para
pengikutnya. Untuk menghancurkan para perompak, Sang Purnawarman langsung memimpin
pasukan Tarumanagara. Kontak senjata pertama terjadi diwilayah Ujung Kulon. Para perampok
tersebut dibunuh dan dibuang kelaut. Sedemikian marahnya Purnawarman. Sejak peristiwa itu
daerah tersebut menjadi aman, karena Purnawarman menghukum mati setiap perompak yang
tertangkap. Untuk meneguhkan hubungan diplomatik, banyak anggota kerajaan yang menikah
dengan keluarga raja lain.
Purnawarman memiliki permaisuri dari raja bawahannya, disamping istri-istri lainnya dari Sumatra,
Bakulapura, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya. Dari permaisuri ini kemudian lahir sepasang
putra dan putri. Putra Purnawarman bernama diberi nama Wisnuwarman, kelak menggantikan
kedudukannya sebagai raja Tarumanagara. Sedangkan adiknya dinikahi oleh seorang raja di
Sumatera. Konon dikemudian hari di Sumatera terdapat raja besar yang bernama Sri Jayanasa, dari
kerajaan Sriwijaya (pada saat itu masih dibawah kerajaan Melayu), dia adalah keturunan
Purnawarman.

L. Pemberontakan Cakrawarman
Pada saat Purnawarman meninggal Tarumanagara membawahi 46 raja-raja kecil. Sungguh
kekuasaan yang besar dan perlu raja yang mampu dan kuat untuk melanjutkan kekuasaan ini. Ia
kemudian digantikan oleh putranya, yakni Wisnuwarman, dinobatkan tahun 356 Saka (434 M), Ia
memerinta selama 21 tahun.
Wisnuwarman meneruskan kebijakan ayahnya, namun ia jauh lebih bijaksana dibandingkan
Purnawarman yang dianggap bertangan besi. Untuk menjaga eksistensi Tarumanagara, penobatan
ini diberitahukan keesegenap Negara sahabat dan bawahannya. Pada awal pemerintahan
Wisnuwarman sudah beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Hingga kemudian diketahui,
bahwa aktor intellectual upaya pembunuhan itu adalah Cakrawarman, pamannya sendiri, adik
Purnawarman.
Cakrawarman dimasa Purnawarman menjabat sebagai panglima angkatan perang. Ia sangat setia
mendampingi kakaknya dalam upaya melebarkan sayap kekuasaan Tarumanagara. Ia dianggap orang
kedua di Tarumanagara. Sepeninggal Purnawarman Ia diharapkan para pengikutnya untuk
menggantikan Purnawarman.
Upaya makar sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika Cakrawarman tidak berambisi dan yakin
terhadap kepemimpinan Wisnuwarman yang mampu melanjutkan kekuasaan Purnawarman.
Keraguannya sangat beralasan, mengingat Cakrawarman tidak bertabiat seperti ayahnya, yang tegas
dan tanpa kompromi terhadap lawan-lawannya. Namun patut diakui, sejak masa Wisnuwarman
keadilan dan kemakmuran Tarumanagara bisa dapat tercapai. Upaya makar yang dilakukan pula oleh
para pejabat istana yang setia kepada Cakrawarman, seperti Sang Dewaraja (wakil panglima
angkatan perang), Sang Hastabahu (kepala bayangkara), Kuda Sindu (wakil panglima angkatan laut),
serta pejabat angkatan perang dan para pejabat kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara.
Cakrawarman akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di sebelah selatan Indraprahasta, tidak
jauh dari Sungai Cimanuk. Ia terbunuh oleh pasukan Bhayangkara Indraprahasta, kerajaan dibawah
Tarumanagara yang setia kepada Wisnuwarman. Sejak peristiwa tersebut, pasukan bhayangkara
Tarumanagara selalu dipercayakan kepada orang-orang Indraprahasta. Kepercayaan demikian
berlangsung hingga pada peristiwa Galuh, ketika terjadi pemberontakan Purbasora terhadap Sena.
Negara Indrapahasta yang dibangun Resi Sentanu itu dibumi hanguskan oleh Sanjaya.Peristiwa
pengancuran Indraprahasta oleh Sanhaya diabadikan dalam Nusantara III/2, sebagai berikut : kang
rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya
Indraprahasta kebehan nira kaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i
mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang
pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah,
luputa sakeng satrwikang tan hana karunya budhi pinaka satwakura. Kerajaan Indraprahasta itu
telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta
ditundukan termasuk keratonya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon
Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para
terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri
bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas
kasihan seperti binatang buas.

M. Pemberian Otonomi
Kisah penumpasan pemberontakan Cakrawarman memberikan pelajaran terhadap pihak keraton
dan raja-raja dibawah Tarumanagara untuk tidak mengulang peristiwa yang sama. Keteguhan
kekuasaan selanjutnya dirubah, dari yang bersifat tangan besi di zaman Purnawarman menjadi
perilaku adil dan bijaksana. Ia memperhatikan kesejahteraan rakyat dan mengayomi raja-raja yang
ada dibawah kekuasaannya.
Suri ketauladan Wisnuwarman digambarkan ketika menggagalkan upaya Kup Cakrawarman. Secara
bijak ia mengadili orang-orang suruhan Cakrawarman untuk memberitahukan aktor intelectualnya.
Ia memperlakukan tersangka dengan baik dan secara cerdik dijanjikan tidak akan dihukum mati.
Kemudian iapun mendapatkan informasi tentang actor intellectual dimaksud.Kebijaksanaan yang ia
miliki dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya, Indrawarman dan Candrawarman. Sang
Maharaja Indrawarman bergelar Sang Paramartha Sakti Maha Prabawa Lingga Triwikrama
Buanatala. Berkuasa selama 60 tahun, sejak 377 sampai dengan 437 Saka (455 515 M), sedangkan
Indrawarman bergelar Sri Maharaja Candrawarman bergelar Sang Hariwangsa Purusasakti Suralaga
Wangenparamarta, berkuasa selama 20 tahun, sejak tahun 437 sampai dengan 457 saka (515 535
M). Pada masa pemerintahannya memang banyak penduduk yang beragama Wisnu, namun tidak
pernah terdengar adanya benturan, Situasi keagamaan digambar-kan tidak ada yang saling curiga
dan cemburu (tan hanekang irsya). Peristiwa yang dapat dianggap monumental ketika menyerahkan
pemerintahan raja-raja daerah kepada trah turunanan masing-masing, atas dasar kesetiaan kepada
raja Tarumanagara. Peristiwa ini terjadi pada 454 Saka (532 M). Suatu hal yang perlu diteladani,
pembagian atau penyerahan pengawasan pusat ke daerah masing-masing bukan suatu barang baru
di tatar sunda. Hanya saja banyak ragam proses yang perlu dilalui. Biasanya perlu ada desakan,
tekanan dan permintaan agar pusat mau memberikan otonomi. Dalam peristiwa Tarumanagara
justru sebaliknya, pemberian otonomi kepada raja-raja dibawahnya dilakukan ketika Negara dalam
keadaan yang stabil. Peristiwa ini digambarkan didalam naskah Wangsakerta (Jawa dwipa Sarga 1)
dan disebut adanya perubahan paradigma raja-raja tarumanagara, dari tangan besi kearah
pengendoran kekuasaan.Tindakan monumental tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk
prasasti ketika jaman Raja Suryawarman, yang ditemukan didaerah Pasir Muara (Cibungbulang). Isi
prasasti tersebut sebagai berikut : Ini sabdakalanda rakryan juru pangambat wi kawihaji panyca
pasagi marsa Ndeca barpulihkan haji sundaIni tanda ucapan rakyan juru pangambat (tahun) 458
pemerintahandaerah dipulihkan kepada raja sunda.

N. Karakter Kepemimpinan
Dari kearifan masa lalu, adanya penerapan leadership yang berbeda antara masa Purnawarman
dengan Wisnuwarman. Masa Purnawarman kepemimpinan Tarumanagara dijalan kan secara tangan
besi. Ia tanpa ampun menghukum setiap para pelanggar hukum dan penganggu ketertiban. Namun
ia pun mampu menjaga hubungan baiknya melalui jalur diplomatik dengan kerajaan lainnya. Bahkan
masalah reward dan punishment sangat kentara dijalankan. Hal ini dapat ditenggarai dari setiap
selesainya membangun suatu daerah niscaya ia memberikan hadiah kepada warga maupun
Brahmana Konsep lain dari kearifannya dapat pula ditenggarai dalam cara-cara Purnawarman
menjaga hubungan baik dengan para Brahmana, bahkan ia membangun tempat tempat suci seperti
diwilayah Indraprahasta. Hubungan raja brahmana demikian dapat mensinergikan antara masalah
duniawi (raja) dan masalah akhirat (brahma). Dalam cara-cara mempertahankan kejayaan tersebut
di zaman Wisnuwarman dilakukan dengan cara yang benar-benar adil dan berani mendelagasikan
pengawasan dan kebijakannya kepada raja-raja bawahan. Ia pun memberikan punishment yang
seimbang dengan tingkat kesalahan para pelanggarnya. Hal ini terbukti pada cara-cara memberikan
hukuman terhadap para pemberontak. Namun tentunya, masalah kepercayaan (dipercayai dan
dapat memegang kepercayaan) merupakan factor analisa yang pentinga ia lakukan, sehingga tanpa
perang pun ia mampu mempertahankan kejayaan Tarumanagara.

O. Runtuhnya Tarumanegara
Runtuhnya Tarumanegara belum dapat di ketahui pasti, namun kerajaan Tarumanegara masih
mengirimkan utusannya ke cina sampai tahun 669 M. setelah itu tidak di dapatkan lagi berita.
Kemungkinan Tarumanegara di taklukan Sriwijaya (sepertihalnya terlulis dalam Prasasti Prasasti
Karang berahi). Sehingga dapat di duga runtuhnya Tarumanegara sekitar + tahun 669 M oleh
serangan Sriwijaya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari apa yang telah kami uraikan dalam makalah di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa
kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara tidak hanya menunjuk pada perkembangan ajaran
HinduBudha, tetapi juga pada aspek lain missal aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan lain
sebagainya.
Dalam proses akulturasi, Indonesia sangat berperan aktif. Hal ini terlihat dari peninggalan
peninggalan yang tidak sepenuhnya merupakan hasil jiplakan kebudayaan India. Meskipun corak dan
sifat kebudayaan di pengaruhi India. Namun dalam perkembangannya Indonesia mampu
menghasilkan kebudayaan kepribadian sendiri.

Kerajaan Tarumanegara
Sejarah tertua yang berkaitan dengan pengendalian banjir dan sistem pengairan adalah pada masa
Kerajaan Tarumanegara. Untuk mengendalikan banjir dan usaha pertanian yang diduga di wilayah
Jakarta saat ini, maka Raja Purnawarman menggali sungai maka raja mempersembahkan 1.000 ekor
lembu kepada brahmana. Berkat sungai itulah penduduk Tarumanegara menjadi makmur.

Siapakah Raja Purnawarman itu?

Purnawarman adalah raja terkenal dari Tarumanegara. Perlu kamu pahami bahwa setelah Kerajaan
ini terletak tidak jauh dari pantai utara Jawa bagian barat. Berdasarkan prasasti-prasasti yang
ditemukan pusat Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berada di antara Sungai Citarum dan
Cisadane. Kalau mengingat namanya Tarumanegara, dan kata taruma mungkin berkaitan dengan
kata tarum yang artinya nila. Kata tarum dipakai sebagai nama sebuah sungai di Jawa Barat,
yakni Sungai Citarum. Mungkin juga letak Tarumanegara dekat dengan aliran Sungai Citarum,.
Kemudian bedasarkan Prasasti Tugu, Purbacaraka memperkirakan pusatnya da di daerah Bekasi.

Sumber sejarah Tarumanegara yang utama adalah beberapa prasasti yang telah ditentikan.
Berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Tarumanegara, telah ditemukan tujuh buah prasasti.
Prasasti-prasasti itu berhuruf pallawa dan berbahasa sansekerta.

Prasasti Tugu

Inspirasi yang dikeluarkan oleh Purnawarman ini ditemukan di Kampung batutumbuh, Desa Tugu,
dekat Tanjungpriuk, Jakarta. Ditulis dalam lima baris tulisan beraksara pallawa dan bahasa sanskerta.
Inspirasi tersebut isinya sebagai berikut:
Dulu (kali yang bernama) Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan
mempunyai lengan kencang dan kuat, (yakni Raja Purnawarman), untuk mengalirkannya ke
laut, setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termashur.Pada tahun ke-22 dari tahta
Yang MUlia Raja Purnawarman yang terkilauan-kilauan karna kepandaian dan
kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja, (makna sekarang) beliau
memerintahkan pula mmenggali kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah
kali itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Sang
Purnawarman). pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tnaggal delapan paruh gelap bulan
Phalguna dan selesai pada tanggal 13 paroh tengah bulan Caitra, jadi hanya dalam 21 hari
saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 busur(11 km). Selamatan baginya dilakukan oleh
brahmana disertai persembahan 1.000 ekor sapi

Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini ditemukan di kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Cibungbulang, Bogor. Prasasti terdiri
atas dua bagian, yaitu Inskripsi A yang dipahatkan dalam empat baris tulisan beraksara pallawa dan
bahasa sanskerta, dan Inskripsi B yang tediri dari satu baris tulisan yang belum dapat dibaca denga
jelas. Inspirasi ini disertai pula gambar sepasang telapak kaki. Inskripsi A isinya sebagai berikut:

Ini Berkas dua kaki, yang sseperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja
di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia Toko Untuk Anda

Beberapa sarjana telah berusaha membaca inskripsi B, namun hasilnya belum memuaskan. Inskripsi
B ini dibaca oleh J.L.A Brandes sebagai Cri Tji Aroe? Eun waca (Cri Ciaruteun wasa), sedangkan H.
Kern membacanya Purnavarmma-padam yang berarti telapak kaki Purmawarman.

Prasasti Kebon Kopi

Prasasti ini ditemukan di Kampung Muara, Desa Ciaruetun Hilir, Cibungbulang, Bogor. Prasatinya
dipahatkan dalam satu baris yang diapit oleh dua bauh pahatan telapak kaki gajah. Isinya sebagai
berikut:

Disini tampak tampak sepasang telapak kaki.


yang seperti (telapak kaki) Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dalam.

dan (?) kejayaan.

Prasasti Muara Cianten

terletak dimuara Kali Cianten, Kampung Muara, Desa Ciarteun Hilir, CIbungbulan, Bogor. Inskripsi ini
belum dapat dibaca. Inskripsi ini dipahatkan dalam bentuk aksara yang menyerupai selur-seluran,
dan oleh para ahli sisebut aksara ikal.

Prasasti Jambu (Pasir Koleangkak)

Terletak di sebuah bukit (pasir) Koleangkak, Desa parakan Muncang, Nanggung, Bogor. Inskripsinya
dituliskan dalam dua baris tulisan dengan aksara pallawa dan bahasa sanskerta. Isinya sebagai
berikut:

Gajah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya, adalah pimpinan manusia yang tiada taranya,
yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Tarumanegara dan yang baju
zirahna yang terkenal tiada dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang telapak kakinya,
yang senangtiasa berhasil menggempur musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan
duri dalam daging musuh-musuhnya.

Prasasti Cidanghiang (Lebak)

teletak di tepi kali Cidanghiang, Desa Lebak, Munjul, Banten Selatan. Dituliskan dalam dua baris
tulisan beraksara pallawa dan bahasa sansekerta.. Isinya sebagai berikut:

Inilah tanda keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja Dunia, Yang
Mulia Purnawarman, yang menjadi panji sekalian raja-raja.

Prasasti Pasir Awi

Inskripsi ini terdapat di dalam sebuah bukit bernama Pasir Awi, di kawasan perbukitan Desa
Sukamakmur, jonggol, Bogor, Inskripsi prasasti ini tidak dapat dibaca karna inskripsi ini lebih berupa
gambar (piktograf) dari pada tulisan. Di bagian atas inskripsi terdapat sepasang telapak kaki.
Pemerintahan Dan Kehidupan Masyarakat
Kerajaan Tarumanegara mulai berkembang pada abad ke-5 M. Raja yang sangat terkenal adalah
Purnawarman. Ia di kenal sebagai raja yang gagah berani dan tegas. Ia juga dekat dengan para
brahmana, pangeran, dan rakyat. Ia raja yang jujur, adil, dan arif dalam memerintah. Daerahnya
cukup luas sampai kedaerah Banten. Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan dengan
kerajaan lain, misalnya dengan Cina.

Dalam kehidupan agama, sebagian besar masyarakat Tarumanegara memeluk agama Hindu.
Sedikt yang teragama Budha dan masih ada mempertahankan agama nenek moyang
(animisme). berdasarkan berita dari Fa-Hein, di To-lo-mo (Tarumanegara) terdapat tiga
agama, yakni agama Hindu, agama, Budha dan kepercayaan animisme.Raja memeluk agama
Hindu. sebagai bukti, pada prasasti Ciaruteun ada tapak kaki raja yang diibaratkan tapak kaki
Dewa Wisnu. Sumber Cina lainnya menyatakan bahwa, pada masa Dinasti Tang terjadi
hubungan perdagangan dengan jawa. Barang-barang yang diperdagangkan adalah kulit
penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah, dituliskan juga bahwa pemeluk daerah itu
pandai membuat minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa.

Rakyat Tarumanagara hidup aman dan tentram. pertanian merupakan mata pencaharian pokok.
Disamping itu, perdagangan juga berkembang. kerajaan Tarumanegara mengadakan hubungan
dagang dengan Cina dan India.

Untuk memajukan bidang pertanian, raja memerintahkan pembangunan irigasi dengan cara
menggali sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak (11 km). saluran itu disebut denga Sungai Gomati.
Saluran itu selain berfungsi sebagai irigasi juga untuk mencegah bahaya banjir.

Sejarah Kerajaan Kutai


Bicara tentang perkembangan Kerajaan Kutai, tidak akan lepas dari sosok Raja Mulawarman, Anda
perlu memahami keberadaan kerjaan Kutai, karna Kerajaan Kutai ini dipandang sebagai kerajaan
Hindhu-Budha yang petama di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan terletak di daerah
Muarakaman di tepi SungaiMahakam, Kalimantan Timur.
Sungai Mahakam merupakan sungai yang cukup besar dan memiliki beberapa anak sungai, Daerah di
sekitar tempat pertemuan antara Sungai Mahakam dengan anak sungainya diperkirakan merupakan
letak Muarakaman dahulu. Sungai Mahakam dapat dilayari dari pantai sampai masuk ke
Muarakaman, sehingga baik untk perdagangan. Inilah posisi yang sangat menguntungkan untuk
meningkatkan perekonmian masyarkat. Sungguh Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta
dan tanah air Indonesia itu begitu kaya dan strategis. Hal ini perlu kita syukuri.

untuk memahami perkembangan Kerajaan Kutai itu, tentu memerlukan sumber sejarah yang dapat
menjelaskannya. Sumbe sejarah Kutai yang utama adalah prasasti yang disebut yupa, yaitu berupa
batu bertulis. Yupa juga sebagai tugu peringatan dari upacara kurban. Yupa ini dikeluarkan pada
masa pemerintahan Raja MUlawarman. Prasasti yupa ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa
sanskerta. Dengan melihat bentuk hurufnya, para ahli berpendapat bahwa yupa dibuat sekitar abad
ke-5 M.

Hal menarik dalam prasasti itu adalah disebutkannya nama kakek Mulawarman yang bernama
Kudungga. Kudungga berarti penguasa lokal yang setelah terkena pengaruh Hindu-Buddha
daerahnya berubah menjadi kerajaan. Walaupun sudah mendapat pengaruh Hindu-Budha namanya
tetap Kudungga berada dengan putranya yang bernama Aswawarman. Oleh karna itu yang terkenal
sebagai wamsakarta adalah Aswawarman. Coba pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari
persoalan nama di dalam datu keluarga Kudungga itu?
Satu di antara yupa itu memberi informasi penting tentang silsilah Raja Wulawarman. Diterangkan
bahwa Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman. Raja Aswawarman dikatakan seperti
Dewa Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga anak, tetapi yang terkenal adalah
Mulawarman. Raja Wulawarman dikatakan sebagai raja yang terbesar di Kutai. Dia pemeluk agama
Hindu siswa yang setia. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara. Ia juga dikenal sebagai raja yang
sangat dekat dengan kaum brahmana dan rakyat. Raja Wulawarman sangat dermawan. Ia
mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para brahmana. Oleh karna itu, sebagai
rasa terimakasih dan peringatan mengenai ucapan kurban, para brahmana mendirikan sebuah yupa.

Zaman Keemasan Pemeritahan Mulawarman

Pada masa pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami zaman keemasan. Kehidupan ekonomi pun
mengalami perkembangan. Kutai terletak di tepi sungai, sehingga masyarakatnya melakukan
pertanian. Selai itu, mereka banyak melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan sudah terjadi
hubungan dagang dengan luar. Jalur perdagangan Internasional dari India melewati selat Makassar,
lalu ke Filipina dan sampai di Cina. Dalam pelayaran di mungkinkan para pedagang itu singgah
terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur.

satu dari antara yupa di Kerajaan Kutai berisi keterangan yang artinya Sang Mulawarman, raja yang
mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti
api, (bertempat) di dalam tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara.

Sejarah Kerajaan Kalingga


Ratu Sima adalah penguasa di kerajaan Kalingga. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita
tegas dan taat terhadap peraturan itu. Kerajaan Kalingga atau Holing, diperkirakan terletak di jawa
bagian tengah. Nama Kalingga berasal dari Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Seletan. Menerut
berita Cina, di ssebelah timur Kalingga pada Po-li(Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat
To-po-Teng (Sumatra). Sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah
selatan perbatasan dengan samudra. Oleh karna itu, lokasi Kerajaan Kalinnga diperkirakan terletak di
Kecamatan Klaing, Jepara, Jawa Tengah atau di sebelah utara Gunung Maria.
Sumber utama mengenai Kerajaan Kalingga adalah berita Cina, misalnya cerita dari Dinasti Tang.
Sumber lain adalah Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu. Melalui berita Cina, banyak hal
yang kita ketahui tentang perkembangan Kerajaan Kalingga dan kehidupaan masyarakatnya.
kerajaan Kalingga berkembang kira-kira abad ke-7 sampai ke-9 M.

Pemerintahan dan Kehidupan Masyrakat

Raja yang paling terkenal pada masa Kerajaan Kalingga adalah seorang Raja wanita yang bernama
Ratu Sima. IIa memerintah sekitar tahun 674 M. Ia dikenal sebagai raja yang tegas, jujur, dan sangat
bijaksana. Kukum dilaksanakan dengan tegas dan seadil-adilnya. Rakyat patuh terhadap semua
peraturan yang berlaku. Untuk mencoba kejujuran rakyatnya, Ratu Sima pernah mencobanya,
dengan meletakan pudi-pundi ditengah jalan. ternyata sampai waktu yang lama tidak ada yang
mengusik pundi-pundi itu.

Akan tetapi, pada suatu hari ada anggota keluarga istana yang sedang jalan-jalan, menyentuh
kantong pundi-pundi dengan kakinya. Hal ini diketahui Ratu Sima. Anggota keluarga istana itu dinilai
salah dan harus diberi hukuman mati. Akan tetapi atas usul persidangan para menteri, hukuman itu
diperingan dengan hukuman potong kaki. Kisah ini menunjukan, begitu tegas dan adilnya ratu Sima.
Ia tidak membedakan antara rakyat dan anggota kerabatnya sendiri.
Baca juga >> Pengertian Molekul Dan Contohnya Dalam Biologi Lengkap

Agama

Agama utama yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya adalah Buddha. Agama Buddha
berkembang peasat. Bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning datang di Kalingga dan tanggal
selama tiga tahun. Selama di Klaingga, menerjemhkan kitab suci Agama Buddha Hinayana ke dalam
bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta
bernama janabadra.

Kepemimpinan raja yang adil, menjadikan rakyat hidup teratur, aman, dan tentram. Mata pencarian
penduduk pada umumnya adalah bertani, karna wilayah Kalingga subur untuk pertanian. Dii samping
itu, penduduk juga melakukan perdagangan.

Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran kemungkina akibat serangan Sriwijaya yang mengguasai
perdagangan. Serangan tersebut mengakibatkan pemerintah Kijen menyingkir ke Jawa bagian Timur
atau mudur ke pedalaman Jawa bagian Tengah antara tahun 742-755 M.

1. KERAJAAN KUTAI
A. Kehidupan Politik
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindhu Budha pertama di Indonesia.
Kerajaan ini berdiri pada tahun 400 Masehi. Kerajaan Kutai terletak di daerah
Muarakaman di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam
merupakan sungai yang cukup besar dan memiliki beberapa anak sungai. Sumber
utama Kerajaan Kutai adalah tujuh buah batu tertulis yang disebut yupa. Yupa ditulis
dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanksekerta. Yupa diperkirakan ditulis pada tahun
400 Masehi ( abad ke -5 Masehi ).
Dari Yupa itu dapat diketahui bahwa raja yang memerintah adalah Mulawarman
anak dari Aswawarman dan merupakan cucu Kudungga. Raja Aswawarman
dikatakan seperti Dewa Ansuman ( Dewa Matahari ). Raja Mulawarman merupakan
raja terbesar / terkenal di Kutai. Ia pemeluk agama Hindhu Syiwa yang setia. Tempat
sucinya dinamakan Waprakeswara. Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat dekat
dengan Kaum Brahmana dan rakyat. Raja Mulawarman sangat dermawan. Ia
mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para Brahmana. Oleh karena
itu, sebagai rasa terimakasih dan peringatan mengenai upacara kurban, para Brahmana
mendirikan sebuah Yupa.
Selain itu, disebutkan pula bahwa Aswawarman adalah Wangsakerta ( Pendiri
dinasti ). Dari keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa Kerjaan Kutai telah
mendapat pengaruh Hindhu. Namun, pengaruh Hindhu diduga setelah Kudungga
selesai memerintah. Hal itu didasarkan pada nama Kudungga sendiri adalah nama asli
Indonesia. Oleh karena itu, Kudungga tidak disebut Wangsakerta.

B. Kehidupan Sosial Ekonomi


Pada masa pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami zaman keemasan.
Kehidupan ekonomi pun mulai berkembang. Kutai terletak di tepi sungai, sehingga
masyarakatnya melakukan pertanian. Dilihat dari letak Kerajaan Kutai pada jalur
perdagangan dan pelayaran antara Barat dan Timur maka aktivitas perdagangan
tampaknya menjadi mata perncaharian yang utama. Rakyat Kutai sudah aktif terlibat
dalam perdagangan Internasional dan tentu saja mereka berdagang sampai ke perairan
lau dewa dan Indonesia timur untuk mencari barang barang dagangan yang laku di
pasaran Internasional. Jalur perdagangan Internasional dari India Selat Makassar
Filiphina Cina / dari Selat Malaka Laut Dewa Selat Makassar Kutai Cina atau
sebaliknya. Dengan demikian, dalam pelayarannya dimungkinkan para pedagang itu
singgah terlebih dahulu di Kutai. Sehingga Kutai semakin ramai dan pada masa
pemerintahan raja Mulawarman, rakyat Kutai hidup sejahtera.

C. Kehidupan Kebudayaan
Kehidupan kebudayaan masyarakat Kutai erat kaitannya dengan agama /
kepercayaan yang dianutnya. Yupa merupakan salah satu hasil budaya masyarakat
Kutai, yaitu tugu batu yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia dari
zaman Megalithikum, yaitu bentuk menhir. Salah satu yupa itu menyebutkan suatu
tempat suci dengan nama Waprakeswara ( tempat pemujaan Dewa Syiwa ). Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kutai adalah pemeluk agama Syiwa.

D. Runtuhnya Kerajaan Kutai


Kerajaan Kutai berakhir pada saat raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma
Setia tewas dalam peperangan di tangan raja kutai Kartanegara ke 13, Aji Pangeran
Anum perlu diketahui bahwa Kutai ini ( Kutai Martadipura ) berbeda dengan Kerajaan
Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai lama ( Tanjung Kute ). Kutai
Kertanegara inilah, dari tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra jawa Negara
Kertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi Kerajaan Islam.
Sejak tahun 1735 Kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar
Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan ( Sultan Aji Muhammad Idris ) dan hingga
sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara. Begitulah dalam sejarah tercatat,
Kerajaan Kutai akhirnya mengalami keruntuhan.

E. Nilai yang dapat diterapkan pada masa sekarang


Pada pemerintahan : Rasa yang dimiliki oleh seorang raja yang mempunyai sifat
dermawan kepada rakyatnya.
Toleransi : Mau menerima budaya luar, tetapi tidak meninggalkan budaya sendiri.

2. KERAJAAN TARUMANEGARA
A. Kehidupan Politik
Kerajaan tarumanegara merupakan kerajaan Hindhu tertua kedua di Indonesia,
dan merupakan kerajaan Hindhu tertua di Pulau Jawa. Kerajaan ini berdiri pada tahun
450 Masehi. Letaknya di sekitar Bogor, Jawa Barat. Rajanya terkenal bernama
Purnawarman. Bukan pemeluk agama Hindhu, menyembah Dewa Wisnu. Sumber
sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara dibagi 2, yaitu :
Berita dari Cina Zaman Dinasti Tang
Berita Cina juga dapat dijadikan sumber sejarah kerajaan Tarumanegara
terutama berita yang disampaikan oleh seorang musafir Cina yang bernama Fa-Hien
yang berkunjung ke Jawa. Ia menyebutkan adanya kerajaan To-lo-mo ( Tarumanegara
) mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 528, 538, 665 dan 666 Masehi.

Prasasti yang menceritakan tentang Kerajaan Tarumanegara


Prasasti ciareteun : ditemukan di tepi sungai Citarum di dekat muaranya yang
mengalir sungai Cisadane, dari daerah Bogor. Pada prasasti ini dipahatkan sepasang
telapak kaki raja Purnawarman.
Prasasti kebon kopi : ditemukan di Kampung Muara Hilir, kecamatan Cibungbulang,
Bogor. Pada prasasti ini ada pahatan gambar tapak kaki gajah Airawata ( Gajah
Kendaraan Dewa Wisnu ).
Prasasti jambu : ditemukan di perkebunan jambu, Bukit Keloangkok, kira kira 30
km sebelah barat Bogor. Dalam prasasti itu diterangkan bahwa raja Purnawarman itu
gagah, pemimpin yang termahsyur, dan baju zirahnya tidak dapat ditembus senjata
musuh.
Prasasti tugu : ditemukan di Desa Tugu, Cilincing Jakarta. Prasasti ini menerangkan
tentang penggalian saluran Gomati dan sungai Candrabhaga. Mengenai nama
Candrabhaga, Purbacaraka mengartikan Candra = bulan = sasi. Candrabaga menjadi
sasibhaga dan kemudian menjadi Bhagasasi bagasi, akhirnya menjai Bekasi.
Prasasti pasir awi ( Bogor )
Prasasti muara ciaten ( Bogor )
Prasasti lebak ( Banten Selatan ) : keberanian Purnawarman sebagai raja dunia.
Ke 7 prasasti tersebut berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

B. Kehidupan Sosial dan Ekonomi


Kerajaan Tarumanegara mulai berkembang pada abad ke 5 Masehi. Kehidupan
perkekonomian masyarakat tarumanegara adalah pertanian dan peternakan. Hal ini
dapat diketahui dari isi Prasasti Tugu yakni tentang pembangunan atau penggalian
Saluran Gomati yang panjangnya 6112 tombak ( 12km) dan selesai dikerjakan dalam
waktu 21 hari. Selesai penggalian, Raja Purnawarman mengadakan selamatan dengan
memberikan hadiah 1000 ekor sapi kepada para brahmana. Pembangunan itu
mempunyai arti ekonomis bagi rakyat karna dapat dipergunakan sebagai sarana
pengairan dan pencegahan banjir. Dengan demikian, rakyat akan hidup makmur,
aman dan sejahtera.
Sumber Cina lainnya mengatakan bahwa, pada masa Dinasti Tang terjadi
hubungan perdagangan dengan Jawa. Barang barang yang diperdagangkan adalah
kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah. Penduduk daerah itu pandai
membuat minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa. Pertanian merupakan mata
pencaharian pokok. Disamping itu, perdagangan juga berkembang. Kerajaan
Tarumanegara mengadakan hubungan dagang dengan Cina dan India.

C. Kehidupan Kebudayaan
Dalam kehidupan agama, sebagian besar masyarakat Tarumanegara memeluk
agama Hindhu. Sedikit yang beragama Budha dan masih ada yang mempertahankan
agama nenek moyang ( animisme ). Berdasarkan berita dari Fa-Hien di Tolomo ada 3
agama yaitu agama Hindhu. Budha dan kepercayaan Animisme. Raja memeluk agama
Hindhu, buktinya pada prasasti Ciareteun ada tapak kaki raja yang diibaratkan tapak
kaki Dewa Wisnu. Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf huruf pada prasasti
prasasti yang ditemukan sebagai bukti keberadaan Tarumanegara maka sudah dapat
diketahui bahwa kehidupan kebudayaan masyarakat pada masa itu sudah tinggi.

D. Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara


Kerajaan Tarumanegara runtuh pada sekitar tahun ke 7 Masehi. Hal itu
didasarkan pada fakta bahwa setelah abad ke 7, berita mengenai kerajaan ini tidak
pernah terdengar baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri. Para ahli
berpendapat bahwa runtuhnya kerajaan ini karena adanya tekanan dari Kerajaan
Sriwijaya yang melakukan ekspansi wil.

E. Nilai yang dapat diterapkan pada masa sekarang


Usaha untuk mengatasi banjir
Taat agama : Raja Purnawarman mengadakan selamatan dengan memberikan hadiah
1000 ekor sapi kepada para Brahmana
Mau menerima pengaruh luar
toleransi

3. KERAJAAN KALINGGA
A. Lahirnya Kerajaan Kalingga ( Ho-ling )
Jika dilihat dari namanya, Kerajaan Kalingga kemungkinan didirikan oleh
sekelompok orang India yang mengungsi dari sebelah Timur India ke Nusantara.
Dengan ini didasarkan pada laporan tentang penghancuran daerah Kalingga di India (
Raja Harsja ), orang Kalingga yang tersisa melarikan keluar negeri. Nama Holing
sebenarnya muncul ketika terjadi perubahan dengai mulai meluasnya kekuasaan
Wangsa Sailendra. Sebelum perluasan ini, berita Cina dari Dinasti Sung awal ( 420
470 M ) menyabut Jawa dengan sebutan She-po, akan tetapi kemudian berita Cina
dari Dinasti Tang ( 618 906 M) menyebut Jawa dengan sebutan Holing sampai tahun
818 M. Namun penyebutan Jawa dengan she-po kembali muncul pada tahun 820 856
M.

B. Kehidupan Politik
Ratu Sima adalah penguasa di Kerajaan Kalingga. Ia digambarkan sebagai
seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku dalam
kerajaan itu. Kerajaan Kalingga ( Holing ) diperkirakan terletak di Jawa bagian
Tengah. Nama Kalingga berasal dari Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan.
Kalingga diperkirakan terletak di Jawa Tengah, Kecamatan Keling, sebelah utara
Gunung Muria. Sumber utama mengenai Kerajaan Kalingga adalah berita Cina,
misalnya berita Cina dari Dinasti Tang. Sumber lain adalah Prasasti Tuk Mas di lereng
Gunung Merbabu. Melalui berita Cina, banyak hal yang diketahui tentang
perkembangan Kerajaan Kalingga dan kehidupan masyarakatnya. Kerajaan Kalingga
berkembang kira kira abad ke 7 9 Masehi.
Ratu Sima memerintah sekitar tahun 674 Masehi. Ia dikenal sebagia raja yang
tegas, jujur dan sangat bijaksana. Hukum dilaksanakan dengan tegas dan seadil
adilnya. Rakyat patuh terhadap semua peraturan yang berlaku. Untuk mencoba
kejujuran rakyatnya, Ratu Sima pernah mencobanya dengan meletakkan pundi
pundi di tengah jalan. Ternyata sampai waktu yang lama tidak ada yang mengusik
pundi pundi itu. Akan tetapi, pada suatu hari ada anggota keluarga istana yang
sedang jalan jalan, dan tidak sengaja menyentuh kantong pundi pundi dengan
kakinya, hal ini diketahui Ratu Sima. Anggota keluarga istana itu dinilai salah dan
harus diberi hukuman mati. Akan tetapi atas usul persidangan para mentri, hukuman
itu diperingan dengan hukuman potong kaki. Kisah ini menunjukkan, begitu tegas
dan adilnya Ratu Sima. Ia tidak membedakan antara rakyat dan anggota keluarga
(kerabat)nya sendiri.

C. Kehidupan Sosial Ekonomi


Kepemimpinan raja yang adil, menjadikan rakyat hidup teratur, aman dan
tentram. Mata pencaharian penduduk pada umumnya adalah bertani, karena wilayah
Kalingga subur untuk pertanian. Di samping itu, penduduk juga melakukan
perdagangan.

D. Kehidupan Kebudayaan
Agama utama yang dianut penduduk Kalingga pada umumnya adalah Budha.
Agama Budha berkembang pesat. Bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning
datang di Kaling dan tinggal selama 3 tahun. Selama di Kalingga, ia menerjemahkan
kitab suci agama Budha Hinayana ke dalam bahasa Cina. Dalam usaha
menterjemahkan kitab itu Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama Jnanabadra.

E. Runtuhnya Kerajaan Kalingga


Sebenarnya kerajaan ini tidaklah hancur / runtuh, tetapi setelah Ratu Sima
meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja.
Kerajaan Kalingga utara kemudian disebut Bumi Mataram. Pada tahun 752 M,
Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya.

F. Nilai nilai yang dapat diterapkan pada masa sekarang


Raja atau pemimpin yang sangat taat kepada hokum
Menjalankan kepemimpinan dengan tegas dan bijaksana
Rakyat patuh kepada pemimpinnya

INDONESIA PADA MASA KERAJAAN- KERAJAAN HINDU-BUDDHA Kutai


Tarumanagara Holing Melayu Sriwijaya Mataram Kuno Medang Kamulan Kediri Singasari
Bali Pajajaran Majapahit Kehidupan politik Kahidupan ekonomi Kahidupan sosial
Kahidupan budaya dan agama

4 Kehidupan Politik meliputi : Sumber sejarah /bukti adanya kerajaan tersebut Pendiri Dinasti
Puncak Kejayaannya Faktor penyebab keruntuhan Letak kerajaan tersebut

5 EKONOMISOSIALBUDAYA DAN AGAMA 1. Bertani di sawah dan berladang 2.


Perdagangan 1.kehidupan masyarakatnya sdh teratur 2. Terdapat gol.Brahmana,ksatria dan
masyarakat umum 1.Sdh dipengaruhi budaya India 2.Golongan istana,Brahmana dan ksatria
menganut Hindu 3.Masyarakat pada umumnya masih menjalani adat istiadat dan kepercayaan
asli mereka KERAJAAN KUTAI

8 TARUMANAGARA BUDAYA DAN AGAMA Dikenalnya huruf Pallawa dan bahasa


Sangsekerta Bahasa pergaulannya bahasa Kwunlun yang berasal dari Cina Agama yang
berkembang adalah agama Hindu Wisnu,Buddha dan agama asli SUMBER-BUKTI INTERN
DAN EKSTERN Prasasti Ciaruteun/Bogor(tentang Raja Purnawarman yg diidentikan dg
dewa Wisnu beserta cap kakinya) Prasati Kebon Kopi/Bogor (memuat telapak kaki gajah
Airawata) Prasati Pasir Awi di Bogor Prasasti Tugu di Bekasi (penggalian saluran
air/S.Gomati dan Candrabaga Prasati Muara Cianten di Bogor Prasati Munjul/Cidanghiyang
di Lebak/Banten Prasasti Jambu di Bogor Berita Cina dari Fa Hsien

9 KERAJAAN TARUMANAGARA EKONOMI Pertanian dengan sistem Irigasi Pertanian


berladang berpindah-pindah perdagangan SOSIAL Susunan masyarakat sudah teratur Sudah
terbagi dalam kasta dengan perannya masing-masing ( kelompok pemuka agama,raja,rakyat
yang masih menganut agama asli) Masyarakat yang mendominasi terdiri
dari,petani,pedagang dan nelayan

10 KALINGGA/HOLING BUDAYA DAN AGAMA Mayoritas penduduknya penganut


agama Buddha Hinayana ( Hwining, dan Jnanabhadra) Kebudayaannya banyak dipengaruhi
oleh agama Buddha SUMBER DAN BUKTI Berdasarkan Prasasti Tuk Mas Berada di tepi
semenanjung Malaya/ Jawa tengah di kaki gunung Merbabu Dari berita Cina (dinst Tang)
Dari pendeta Buddha yang bernama I- tsing Berada di Jawa Tengah

11 KERAJAAN HOLING EKONOMI Perdagangannya terpusat pada satu tempat, yaitu


pasar Perdagangan dan pelayaran Sudah terjalin hubungan dengan negara tetangga SOSIAL
Sudah ada lembaga masyarakat yang fungsi dan tugasnya sudah jelas Pelaksanaan hukum dan
undang-undang oleh masyarakat dengan sanksi yang tegas Sistem pemerintahan matrilineal
1. KERAJAAN KUTAI
Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, yang diperkirakan muncul
pada abad 5 M atau 400 M, keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan sumber
berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk Yupa/tiang batu berjumlah 7
buah.

Gambar 2 . Salah satu Yupa dari Kutai

Tempat penemuan prasasti Yupa tersebut adalah daerah Muarakaman tepi


sungai Mahakam, Kalimantan Timur, sehingga oleh para ahli kerajaan tersebut diberi nama
Kutai, karena dalam prasasti tidak dijelaskan nama kerajaan untuk itu diberi nama sesuai
tempat penemuan prasasti tersebut. Dari isi yang tertera dalam prasasti Yupa yang
menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkan tentang
keberadaan kerajaan Kutai dalam berbagai aspek kebudayaan yaitu antara lain politik,
sosial, ekonomi, dan budaya.

Kehidupan Sosial
Dalam kehidupan sosial. Perihal ini diketahui bahwa terjalin hubungan yang
harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan
dalam prasasti Yupa, bahwa raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada
kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakesmara. Waprakesmara adalah
tempat suci untuk memuja dewa Syiwa, yang kalau di pulau Jawa disebut dengan
Baprakeswara.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa agama yang dianut Mulawarman
adalah Hindu aliran Syiwa artinya dewa yang dipuja adalah Syiwa.

Kehidupan Ekonomi
Sedangkan dalam kehidupan ekonomi. Hal ini tidak dijelaskan secara pasti
dalam prasasti, tetapi para ahli sejarah berpendapat bahwa dengan adanya sedekah 20.000
ekor sapi membuktikan perekonomian Kutai sudah kuat pada masa itu, yang didasarkan
kepada pertanian, peternakan dan perdagangan. Mata pencaharian tersebut di atas
dimungkinkan karena raja Mulawarman menghadiahkan kepada kaum Brahmana 20.000
ekor sapi. Ini dapat dijadikan indikasi bahwa populasi ternak cukup besar pada waktu itu. Ia
juga menghadiahkan segunung minyak kental dengan lampu, seperti yang tertulis dalam
prasasti.

2. KERAJAAN TARUMANAGARA
Bukti-bukti adanya kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber
yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah
prasasti batu yang ditemukan lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten.
a. Prasasti Ciarunteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, dekat
muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa
Sansekerta yang terdiri dari 4 baris kalimat yang ditulis dalam bentuk puisi India. Dan di
samping itu juga terdapat lukisan laba-laba serta sepasang telapak kaki Raja
Mulawarman yang diibaratkan kaki dewa Wisnu.

Gambar 3. Telapak Kaki pada Prasasti Ciarunteun

Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:


1. Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat
ditemukannya prasasti tersebut).
2. Di India, cap telapak kaki melambangkan kekuasaan sekaligus penghormatan sebagai
dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu
maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.

b. Prasasti Jambu atau prasasti Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan


jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahwa
Sansekerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji
pemerintahan raja Mulawarman.
c. Prasasti Kebun Kopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang. Yang
menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan
tapak kaki gajah Airanata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu.
d. Prasasti Muara Cianteun, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat
dibaca.
e. Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwiling, juga tertulis dalam aksara ikal yang
belum dapat dibaca.
f. Prasasti Cidanghiang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai
Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru
ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan
bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.
g. Prasasti Tugu di temukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini
dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang melingkar dan isinya paling panjang dibanding
dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga ada beberapa hal yang dapat diketahui
dari prasasti tersebut.

Gambar 4. Prasasti Tugu

Hal-hal yang dapat diketahui dari prasasti Tugu adalah:


1. Prasasti Tugu menyebutkan nama dua buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu sungai
Chandrabaga dan Gomati. Dengan adanya keterangan dua buah sungai tersebut
menimbulkan tafsiran dari para sarjana salah satunya menurut Poerbatjaraka. Sehingga
secara Etimologi (ilmu yang mempelajari tentang istilah) sungai Chandrabaga diartikan
sebagai kali Bekasi.
2. Prasasti Tugu juga menyebutkan anasir penanggalan walaupun tidak lengkap dengan
angka tahunnya yang disebutkan adalah bulan phalguna dan caitra yang diduga sama
dengan bulan Pebruari dan April.
3. Prasasti Tugu yang menyebutkan dilaksanakannya upacara selamatan oleh Brahmana
disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan raja.

Sumber dari Luar Negeri


Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Cina antara
lain:
1. Berita Fa-Hien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan
bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Budha, yang banyak
adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.
2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-
mo yang terletak di sebelah selatan.
3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan
dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara
fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara. Maka berdasarkan sumber-
sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan
tentang kerajaan Tarumanegara.

Kehidupan Ekonomi
Kehidupan perekonomian masyarakat Tarumanegara adalah di samping
utamakan bidang pertanian, pelayaran dan perdagangan, juga perburuan dan perikanan
mendapatkan perhatian. Hal ini dapat dibuktikan melalui berita-berita tentang barang-barang
perdagangan dari kerajaan Tarumanegara. Barang-barang yang diperdagangkan antara
lain: cula badak, gading gajah dan kulit penyu. Barang tersebut diperoleh dari usaha
perburuan dan perikanan. Hal ini juga dapat diketahui dari isi Prasasti Tugu yakni tentang
pembangunan atau penggalian Saluran Gomati yang panjangnya 6112 tombak (12 km) dan
selesai dikerjakan dalam waktu 21 hari. Selesai penggalian, Raja Purnawarman
mengadakan selamatan dengan memberikan hadiah 1.000 ekor sapi kepada para
brahmana. Pembangunan itu mempunyai arti ekonomis bagi rakyat karena dapat
dipergunakan sebagai sarana pengairan dan pencegahan banjir. Dengan demikian, rakyat
akan hidup makmur, aman dan sejahtera. Di samping Saluran Gomati, dalam Prasasti Tugu
juga disebutkan adanya penggalian Saluran Candrabhaga.

Kehidupan Sosial
Dengan adanya kehidupan ekonomi yang kompleks tersebut, maka kehidupan
sosial masyarakatnya cukup baik, sehingga masing-masing golongan masyarakat yang ada
pada masa itu dapat saling bekerja sama dan tercipta jalinan kehidupan yang baik.
A. Kerajaan Kutai
Prasasti Yupa (Sumber:http:wikipwdia.org)
Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura)
merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi
di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Diperkirakan kerajaan kutai
merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini
dibangun oleh Kudungga. Diduga ia belum menganut agama Hindu.
Peninggalan terpenting kerajaan Kutai adalah 7 Prasasti Yupa,
dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta, dari abad ke-4
Masehi. Salah satu Yupa mengatakan bahwa Maharaja Kundunga
mempunyai seorang putra bernama Aswawarman yang disamakan
dengan Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga
orang putra. yang paling terkemuka adalah Mulawarman. Salah
satu prasastinya juga menyebut kata Waprakeswara yaitu tempat
pemujaan terhadap Dewa Syiwa.
B. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegera di Jawa Barat hampir bersamaan waktunya
dengan Kerajaan Kutai. Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh
Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian
digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382 395). Maharaja
Purnawarman adalah raja Tarumanegara yang ketiga (395 434
M). Menurut Prasasti Tugu pada tahun 417 ia memerintahkan
penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak
(sekitar 11 km).
Dari kerajaan Tarumanegara ditemukan sebanyak 7 buah prasasti.
Lima diantaranya ditemukan di daerah Bogor. Satu ditemukan di
desa Tugu, Bekasi dan satu lagi ditemukan di desa Lebak,
Banten Selatan. Prasasti-prasasti yang merupakan sumber
sejarah Kerajaan Tarumanegara tersebut adalah sebagai berikut
:
Prasasti Tugu
1. Prasasti Kebon Kopi,
2. Prasasti Tugu,
3. Prasasti Munjul atau Prasasti Cidanghiang,
4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
5. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
6. Prasasti Jambu, Bogor
7. Prasasti Pasir Awi, Bogor.
C. Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya merupakan kerajaan yang bercorak agama Budha. Raja
yang pertamanya bernama Sri Jaya Naga, sedangkan raja yang
paling terkenal adalah Raja Bala Putra Dewa.
Letaknya yang strategis di Selat Malaka (Palembang) yang
merupakan jalur pelayaran dan perdagangan
internasional.Keadaan alam Pulau Sumatera dan sekitarnya pada
abad ke-7 berbeda dengan keadaan sekarang. Sebagian besar
pantai timur baru terbentuk kemudian. Oleh karena itu Pulau
Sumatera lebih sempit bila dibandingkan dengan sekarang,
sebaliknya Selat Malaka lebih lebar dan panjang. Beberapa
faktor yang mendorong perkembangan kerajaan Sriwijaya menjadi
kerajaan besar antara lain sebagai berikut :

Kemajuan kegiatan perdagangan antara India dan Cina


melintasi selat Malaka, sehingga membawa keuntungan yang
besar bagi Sriwijaya.
Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam Selatan akibat
serangan kerajaan Kamboja memberikan kesempatan bagi
perkembangan Sriwijaya sebagai negara maritim (sarwajala)
yang selama abad ke-6 dipegang oleh kerajaan Funan.

Berdasarkan berita dari I Tsing ini dapat kita ketahui bahwa


selama tahun 690 sampai 692, Kerajaan Melayu sudah dikuasai
oleh Sriwijaya. Sekitar tahun 690 Sriwijaya telah meluaskan
wilayahnya dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Hal ini juga diperkuat oleh 5 buah prasasti dari Kerajaan
Sriwijaya yang kesemuanya ditulis dalam huruf Pallawa dan
bahasa Melayu Kuno. Prasasti-prasasti tersebut adalah sebagai
beikut :
1. Prasasti Kedukan Bukit
2. Prasasti Talang Tuwo
3. Prasasti Kota Kapur
4. Prasasti Telaga Batu
5. Prasasti Karang Birahi
6. Prasasti Ligor
Selain peninggalan berupa prasasti, terdapat peninggalan
berupa candi. Candi-candi budha yang berasal dari masa
Sriwijaya di Sumatera antara lain Candi Muaro Jambi, Candi
Muara Takus, dan Biaro Bahal, akan tetapi tidak seperti candi
periode Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit, candi di
Sumatera terbuat dari bata merah.
Beberapa arca-arca bersifat budhisme, seperti berbagai arca
budha dan bodhisatwa Awalokiteswara ditemukan di Bukit
Seguntang, Palembang, Jambi, Bidor, Perak dan Chaiya.
Pada masa pemerintahan Bala Putra Dewa Sriwijaya menjadi pusat
perdagangan sekaligus pusat pengajaran agama Budha. Sebagai
pusat pengajaran Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak
peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain
pendeta dari Tiongkok I Tsing, yang melakukan kunjungan ke
Sumatera dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda,
India, pada tahun 671 dan 695. I Tsing melaporkan bahwa
Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi
pusat pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yang datang ke
pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di
pesisir kerajaan. Selain itu ajaran Buddha aliran Buddha
Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di
Sriwijaya.
Letak Sriwijaya strategis membawa keberuntungan dan
kemakmuran. Walaupun demikian, letaknya yang strategis juga
dapat mengundang bangsa lain menyerang Sriwijaya. Beberapa
faktor penyebab kemunduran dan keruntuhan :

Adanya serangan dari Raja Dharmawangsa 990 M.


Adanya serangan dari kerajaan Cola Mandala yang
diperintah oleh Raja Rajendracoladewa.
Pengiriman ekspedisi Pamalayu atas perintah Raja
Kertanegara, 1275 1292.
Muncul dan berkembangnya kerajaan Islam Samudra Pasai.
Adanya serangan kerajaan Majapahit dipimpin Adityawarman
atas perintah Mahapatih Gajah Mada, 1477. Sehingga
Sriwijaya menjadi taklukkan Majapahit.

Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi di Kutai, tidak diketahui secara pasti, kecuali
disebutkan dalam salah satu prasasti bahwa Raja Mulawarman telah
mengadakan upacara korban emas dan tidak menghadiahkan sebanyak
20.000 ekor sapi untuk golongan Brahmana.
Tidak diketahui secara pasti asal emas dan sapi tersebut diperoleh.
Apabila emas dan sapi tersebut didatangkan dari tempat lain, bisa
disimpulkan bahwa kerajaan Kutai telah melakukan kegiatan dagang.
Kehidupan Budaya
Dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju.
Hal ini dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk
agama Hindu) yang disebut Vratyastoma.
Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena
Kudungga masih mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya, sedangkan
yang memimpin upacara tersebut, menurut para ahli, dipastikan adalah
para pendeta (Brahmana) dari India. Tetapi pada masa Mulawarman
kemungkinan sekali upacara penghinduan tersebut dipimpin oleh
pendeta/kaum Brahmana dari orang Indonesia asli. Adanya kaum
Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa kemampuan
intelektualnya tinggi, terutama penguasaan terhadap bahasa
Sansekerta yang pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-
hari, melainkan lebih merupakan bahasa resmi kaum Brahmana untuk
masalah keagamaan.