Вы находитесь на странице: 1из 29

BAB V

PERANCANGAN

5.1. Lokasi

5.1.1. Letak Geografis


Letak Site Jalan Hankam, Jakarta Timur
Batas Site :
- Sebelah Utara : Taman Anggrek Indonesia
Permai
- Sebelah Selatan : Jalan ( Direncanakan )
- Sebelah Barat : Jalan Hankam
- Sebelah Timur : Lahan kosong
Luas Site 5,2 ha.

5.1.2. Letak Administrasi


Lokasi PNPSI terletak di wilayah Kecamatan
Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Batas-batas wilayah Kecamatan Pasar Rebo,
Jakarta Timur adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Kecamatan Kramat Jati
- Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor
( Jawa Barat )
- Sebelah Timur : Kali Sunter
( Kab. Bekasi, Jabar )
- Sebelah Barat : Kali Ciliwung
( Jakarta Selatan )

87
Keadaan Topografi
Tapak berkontur sedang. Ketinggian kontur
yang tertinggi adalah 10m terhadap jalan
Hankam.
Kedudukan tanah terletak pada posisi 45m di
atas permukaan laut, diukur dari titik 0
Tanjung Priok.

Keadaan IkJim
Curah hujan rata-rata 2000 mm sepanjang
tahun.
Curah hujan tertinggi terjadi sekitar bulan
Januari, dan terendah sekitar September.
Suhu rata-rata per tahun 27C.
Kelembaban udara 80% - 90%.

Kebijaksanaan Pemerintah
Peraturan pendirian bangunan di lokasi TMII
tidak ada secara khusus. Peraturan yang
diikuti adalah Peraturan dari Dinas Tata
Kota. Hanya dari segi tampilan arsitektural
diharapkan pendirian bangunan baru dapat
disesuaikan dengan arsitektur TMII.
Peraturan Pemerintah Daerah sesuai dengan
RBWK Kecamatan Pasar Rebo tahun 2005 :
- KDB 20%
- KLB 0.8
- GSB 20 M
89

- ketinggian bangunan maksimal 4 lantai

5.1.6. Jaringan Transportasi / Pencapaian ke Site


Site dilalui oleh Jalan Hankam ( Jalar
Arteri Primer ). Lebar jalan 40 m.
Untuk mencapai tapak dapat digunakan Angku
tan Umum Metromini atau Bis Patas ( bis
jarang-jarang ). Intensitas arus lalu
lintas yang terbanyak dari arah utara jalan
Hankam.

5.1. 7. Pot en si Site


Sebelah utara site terdapat Taman Anggrek
Indonesia Permai.
Konsep Perancangan
5.2.1. Pendekatan Berarsitektur
Berarsitektur bukan sekedar merancang ba-
ngunan agar dapat sesuai dengan fungsi dan
mampu menampung kebutuhan pemakai, kemudian
selesai. Tetapi lebih dari itu adalah
bagaimana perancangan bangunan mampu membe-
rikan pengalaman-pengalaman yang berarti
bagi pemakai bangunan.

Sebagai usaha untuk memberikan sentuhan-


sentuhan arsitektural yang dapat
membangkitkan suatu rasa bagi penikmat
bangunan, saya mencoba melakukan pendekatan
perancangan melalui pemahaman filosofis
tentang Pencak Silat.

5.2.2. Konsep Filosofis


Memahami jatidiri Pencak Silat sebagai
budaya bangsa Indonesia Yang berfalsafah
pengendalian diri yang terdiri dari 4 aspek,
mental spiritual, beladiri, seni, dan
olahraga,, maka dapat dikatakan Pencak Silat
adalah suatu sistem gerak berpola yang
bernilai pengendalian diri, pembelaan diri,
keindahan dan keserasian gerak serta
pembinaan ketangkasan dan ketahanan jasmani
sesuai dengan keluhuran nilai-nilai
PencakSilat yang berfalsafah budi pekerti

105
luhur.
Pada hakekatnya Pencak Silat adalah sarana
dan substansi pendidikan jasmani dan rohani
untuk membentuk manusia berbudi pekerti
luhur.

Konsep Arsitektural
Bertitik tolak dari pernyataan di atas, maka
dapat dipahami bahwa dalam Pencak Silat ada
2 hal yang selalu ada yaitu pembinaan
jasmani dan pembinaan rohani. Pembinaan
rohani dilakukan dengan membina mental
spiritual pesilat. Pada Pencak Silat
terdapat pembinaan mental spiritual sesuai
dengan kepribadian Indonesia, terutama dalam
hal upaya pengendalian diri.
Pembinaan mental dengan melatih untuk
bersikap, bertindak, berlaku, dan bermental
kuat dan baik.
Pembinaan spiritual dengan melatih keluhuran
budi pekerti serta melalui pendidikan agama
masing-masing.
Antara pembinaan jasmani dan rohani harus
selalu berjalan selaras. Seiring dengan
pertambahan usia seorang pesilat, makin
disadari bahwa keduanya merupakan dua
komponen yang tidak terpisahkan. Sebaliknya
bagi pesilat muda/pemula, sering masih belum

106
mampu menyelaraskan dua hal tersebut
Seringkali j iwa muda Pesilat mendorong untuk
mendahulukan unsur jasmani, mengabaikan
unsur rohani. Padahal tujuan utama pesilat
bukanlah menjadi seorang yang tinggi ilmu
Pencak Silat saja, tapi juga tinggi mental
spiritualnya dan luhur budi pekertinya.
Peristiwa-peristiwa dalam diri pesilat ini
ingin saya angkat dan tuangkan dalam
perancangan Padepokan Nasional Pencak Silat
Indonesia. Dengan memakai dualisme antara
jasmani dan rohani. Hubungan keduanya
dapat menjadi suatu oposisi seperti yang
terjadi dalam diri pesilat muda, di mana dia
belum mampu memadukan keduanya, tapi masih
melihatnya sebagai sesuatu yang saling
bertolak belakang seperti terang dan gelap.
Sejalan dengan perkembangan jiwa pesilat,
dualisme itu dilihat sebagai suatu posisi,
yang saling melengkapi. Di mana yang
jasmani tidak akan lengkap tanpa yang
rohani, dan sebaliknya. Setelah kelengkapan
itu terjadi, pesilat masih terus
menyempurnakan diri dengan pembinaan rohani.

107
108

5.3. Analisa Tapak


5.3.1. Analisa Lingkungan

Orientasi massa bangunan Taman Anggrek


Indonesia Permai menghadap de jalan. Untuk
melengkapi keberadaan bangunan pada lokasi
itu, maka orientasi bangunan Padepokan
dibuat diagonal. Karena kembali ke
dualisme, bahwa segala sesuatu akan lengkap
bila ada sesuatu yang lain yang menjadi
pasangannya.

5.3.2. Analisa Budaya


Sebagai bangunan yang terletak di TMII,
bangunan PNPSI diharapkan tidak menampilkan
tampilan arsitektur yang terlalu jauh dari
yang sudah ada. Meninjau lebih jauh tujuan
PNPSI sebagai pusat/kiblat Pencak Silat
Indonesia, dan menunjukkan Pencak Silat
sebagai budaya bangsa Indonesia, maka dipus
tuskan untuk memakai arsitektur tradisional
Indonesia., sebagai dasar bentukan tiangunan.

Analisa Faktor Alam


Dalam Pencak Silat faktor pengendalian
dirinya sangat besar. Dalam setiap Olahraga
faktor ini selalu ada, namun dalam Pencak
Silat lebih besar. Perancangan arsitektur
Padepokan dimaksudkan dapat menampilkan /
menunjang pelatihan pengendalian diri itu
dengan menampilkan faktor alam baik pada
interior maupun exterior. Penghadiran ini
dengan maksud peringatan bahwa selain man-
made masih ada alam yang kadang tidak dapat
dikontrol, yang berarti bahwa manusia tidak
akan pernah menjadi yang paling unggul.
Selalu ada yang lebih dari dirinya, yaitu
Tuhan, pencipta alam semesta.
Kontur-kontur yang tinggi dimanfaatkan dalam
sirkulasi manusia untuk mengajak pemakai
bangunan menyelami alam, dengan maksud
memperoleh pengalaman yang berarti untuk
mempertebal pengendalian dirinya.
Faktor matahari dimanfaatkan sebagi pencipta
suatu suasana sebagai terjemahan dualisme
oposisi baik dalam bangunan maupun ruang
luar. Faktor matahari dimanfaatkan juga
sebagai pembentuk ornamen pada elemen
arsitektur.
no

Penetrasi sinar matahari dan angin ke dalam


bangunan dimaksudkan sebagai penyadaran akan
adanya kemampuan yang lebih tinggi dari
dirinya.

Penentuan Entrance

Perbedaan tinggi kontur yang tajam merupakan


potensi yang dapat dipakai sehubungan dengan
konsep dualisme, yang dapat dipakai sebagai
pengarah menuju entrance.
.111

1 : Areal Rohani ( Fasilitas Pembinaan


Mental Spiritual )
2 : Areal Jasmani ( Fasilitas Pembinaan
Jasmani)
3 : Areal Parkir
,Peletakan bangunan pada kontur yang tinggi
yang mengharuskan pemakai bangunan menaiki
tangga, menyimbolkan dimulainya perjalanan
menuju manusia berbudi pekerti luhur.
Proses yang terjadi dalam diri seorang
pesilat seperti yang diuraikan dalam bagian
5.2.3. di atas, diterapkan pada penataan
massa Padepokan di mana pemakai bangunan
mengalami dulu fasilitas-fasilitas pembinaan
jasmai baru menuju fasilitas pembinaan
rohani. Di mana dalam "perjalanan" itu
ditampilkan secara arsitektural dualisme-
dualisme yang mewarnai pemahaman akan Pencak
Silat, yang mungkin akan ditanggapi secara
berlainan oleh pesilat sesuai dengan perkem
bangan pribadinya.

5.4. Sistem Utilitas


5.3.1. Sistem Distribusi Air Bersih
Sumber air dari air tanah, karena saluran
PDAM masih belum masuk menyeluruh.
Skema : 1
112

5.3.2. Sistem Pembuangan Air Kotor / Kotoran


Untuk Pondok Serbaguna, Pondok Gedeh, Museum
dan Perpustakaan, Pondok Pengelola, Pendopo
Latihan, Laboratorium Jurus - Pondok
Kebugaran - Pondok Pengobatan, Musholla,
dengan sistem : skema 2
Untuk Penginapan menggunakan sistem :skema 3

5.3.3. Sistem Pembuangan Air Hujan


Sesuai dengan Peraturan Pemda Khusus Ibukota
Jakarta, harus dibuat sumur resapan untuk
menampung air hujan.
Skema : 4

5.3.4. Sistem Pembuangan Sampan


Sistem carry out.
Skema : 5

5.3.5. Sistem Pencegahan Kebakaran


Selain dengan sistem pencegahan pasif, juga
dilakukan pencegahan sistem aktif.
Skema : 6

5. 3. 6. Sistem Pemadaman Kebakaran


Sistem : menggunakan Hydran halaman, hydran
gedung, PAR, sprinkler.
Hydran gedung digunakan pada Pondok
Penginapan, Pondok Pengelola, Pondok
113

Serbaguna, Pondok Pengobaran, Pondok


Kebugaran, Laboratorium Jurus, Museum dan
Perpustakaan.
Skema : 7

5.3.7. Sistem Penghawaan


A. Penghawaan Alami
Penghawaan alami dengan memanfaatkan
angin, yang dialirkan secara silang
memotong bangunan dan mengenai bidang
kerja manusia ( 0 - 160 cm ).
Penghawaan alami diterapkan pada Pondok
Meditasi, Pondok Pengobatan, gelanggang
pertandingan.
Skema : 8

B. Penghawaan buatan
Dipakai pada bangunan yang memerlukan
kondisi udara yang stabil, yaitu pada
Pondok Serbaguna ( AC Sentral ) , Pondok
Penginapan ( AC Split ), Pondok Pengelola
( AC Split ), Museum dan Perpustakaan (
AC Package ).
Skema : 9

5.3.8. Sistem Tata Suara


Sistem :
Museum dan Perpustakaan memakai : Background
114

Music, General Paging, Emergency, Public


Address.
Pondok Serbaguna memakai : Conference
System, Background Music, General Paging,
Public Address, Car Call.
Pondok Gedeh memakai : Background Music,
Public Address, Car Call, Emergency.
Musholla memakai : Public Address.
Pondok Penginapan : Background Music, Car
Call, Emergency.
Skema : 10

5.3.9. Sistem Komunikasi


Skema Sistem : 11

5.3.lO.Sistem Penangkal Petir


Sistem : campuran antara Franklin dan
Faraday.
Skema : 12

5.3.11.Sistem Penerangan
Sistem : mendapatkan listrik dari PLN dan
ditfriw
<&-

iXC
6>* fywfvry Uryten -4/'r

ft l

Vecv,

tytfm ?unbuto\QM Air M*r* / Kobnn

tyur Air Mt?r ) ftr&ytey Uroafc

Kv/l/fot

-) #Tf ^ 4^i/r4n Ma.

^KPMATIK ^iq^M \j\MW $.1


*&cw\ ?txt\\MW)*a Air MUJM

txnup

7 di <Mi \wpr $? f'Tte


vkfc*0(&t?'be.

fatter.
\fim tebnw
PA*

I
%
c: 'rf'/
Jt
*.
>#

-ft
GU ft
Tfc
AJ ftft

eii f&
At fdcJkfytd.

7
Unit
^
-Tkw^ ^ta
Chiller IMik I '
t
ftg#gflj MWk

Aw, 1A
-5
T^f Etek -
Nk -
Mtaor-\
fowr.
I -rffpfcr

Am"iplpH"

micr^plrnd Ampler -
K]
CbhftfMQ. ftyftem

tr o p i
&
ft d i 4
H
Jettem f^nbr PI^PI3--

#;#& taw? wfity*.


-few* Krffe wh3-
^ Ui^?t*m

fi)\tW% l*
, Ml Vtfrim I
1
P^ * _ h& -M^.

^9f8-

-4 i fi^ -JQ1
#r#k
r
a
LUASAN RUANG

Bangunan ruang kapasitas standard luasan acuan luasan ruang


(orang ) <m2)
Sasana GelarWilaga nan 1100 0.65 - 0.9 m2/orang AJ Metnc Handbook 715
r. briefing 04 1.5m2/orang Neutert Architects Data Hi
750 0.4 m2/orang POR Oepdikbud 300
tnbun atlit
810 3org = 0.5x0 4 Standard KONI 3276
locker room
1.5m2/orang BAER
34 1 orang = 3.0625 m2 Standard KONI 257 04
r pemanasan
405 3org = 0.5x0 4 Standard KONI 129.2
locket body protector
ishower=i3m2 HO 27
toilet
1 WC = 1.5 m2
1 urlnoir = 0.9 m2
1 washtafel = 0 9 m2
75 l.5m2/orang BAER 14625
r. nas 81
5 9X9M2 BAER. studl banding
panggung ',5
trtbun pemain nayaga 14 4x4m2 studi banding
26 1.5m2/orang studi banding 507
r. refreshing
26 1 Sm2/orang studl Banding 507
r duduk
I. P3K 7(2 KONI
50 4 46m2 Neulert Arehrtects Data 223
r panrtia
20% ruang makan 22
pantry
30 m2 30
loading dock
2 21 x21 m2 studl banding 882
arena
0 65 - 0.9 m2/orang AJ Metric Handbook 195
nail 300
3 1 menri 12 pemBell. 15 |am buka 12265
loket tlket
1 loket = 3.1Sm2 HO
toyer 50 0 65 - 0.9 m2/orang AJ Metnc Handbook 32.5
tnbun 3000 0.4 m2/orang POR Oepdikbud 1560
toilet 20 1.5 m2 Technical Fundamentals 70.55
Construction o( Sport
caletana 50 0 83 m2/orang Neutert Architects Data 64.74
tnbun undangan '.00 OS m2/orang POR Oepdikbud 85
lobby 100 - 0 65m2 AJ Metric Handbook 65
trtbun pers 100 TV/Radio = 1.2 m2/orang studi banding 87.38
koran 0.4 m2/orang
r. pars 105 1 orang = 1.239 m2 Time Saver Standards i.t*
telephone booth 6 0 7 m2/telephone Neutert Architects Data 5.46
toko benda pos / wartel 12 m2 studi banding 12
r. kontrol 12 m2 studi banding 12
gudang alat pertandingan 32 m2 studi banding 32
gudang alat muslk IS MB studi banding 18
locker room 25 3 orang = 0.2 m2 Standard KONI 2.16
pos keamanan 25 1 orang = 1 m2 studi banding 25
0.65 rn2/orang AJ Matte Handbook 52.15
Graha Safrla Brnrawa had 81
2 6.7 m2/orang NauhrtAichitacuDaU W.4
810 3.16 m2/orang Nautart A/critaa OaU 3327.49
1 2 m2/orang Naufart Architacta O a u 912.1
810
1 m2/orang N tufart Arctltacta D i U 948
. xanta. 810
62 1 m2/orang Naufart Anniaca OaU 112
r bataiar
1 WC = 2.25 m2 NaulartAiohittctsOaU 535.275
Km / toilat 810
1 urinoir 0.9 m2
1 washtafK > 0 9 rn2
6.7 m2/orang Naufart M U Data * U
r kafla
r makan 7 1 2 m2/orang Naufart ArchUactt Data 7 25
1 WC * 2.25 m2 Naufart Arcritacta Data 411
tottat 7
1 urinoir > 0 9m2
1 washtafal 0 9 m2
tudbandng M
loadng
gudartg pngM dtankAan 12
1 1 mZAMartg uaWd KONI 124 1
kxKar room
1 m2Vorang Naufart Arormacta Data M.TS
f Krvrn
1 W C * 1.5 m2 BAER 474
km/ wc
1 urinoir 0.9 m2
1 wnhtafal * 0.9 m2
tlurl banding 30
loading
Naufart Arcratacta Data 243
dapur
rjtamukan 121 5
gudang dapur
(ttanaAan
gudang maWaranca
laundry 810 16.5 m2 untuk 50 orang Naularl Artftlacta Data
449 55
knan 810 0.2 m2 par kamar Naufart Arcritacta OaU it

0.65 m2/or ang AJ Matte Handbook 33.1


Saana Tala Lafcsana haft 52
3m2/orartg Naufart Arcratacta OaU 3
.ntormaai 1
1 orang 6.7 m2 Naufart Arctltacta OaU 214.4
I. kr)a 32
0.65 mZ'orang AJ Matte Handbook 338
lobby 52
1.2 m2/orang Naufart ArcfttactaDau 12.4
r. makan 52
1.5 m2/orang Naufart AfefitaettOau 70.2
r. rapat 32
Naufart Arcritacta OaU 12
r. aratp
gudang paralatan kantor rltanajtan 1
loading alurjbanrjng 30
gudang barang mukan 12
1 W C * 1.5 m2 BAER 13.325
lotlat 52
i urtnotr 0.0 m2
1 washtafal > 0.9 m2
1 orang 6.7 m2 Naufart Arcritacta Oata 134
r. kafja 20
1.5m2/orang Naufart Arcritacta OaU 39
r. raoat
r. araip
20
Nautart Arcritacta OaU (
onamukan 1
gudang para aun kantor
rMaotukan 12
gudang barang
locfcarroom 5 1 7 m2/orang Hanaro KONl 11.05
gudang mantananca I M u a l 1
d tank* an I
panry
rjtanajian 3
gudang makanan
1 2m2/orang Naufart Aroritacta OaU 1
r. karyawan 5
1 W C 1.5 m2 BAER 5135
toilat 5
1 urinoir * 0.0 m2
1 wasntaf al * 0.9 m2
Saaana Honing &u3h* toy** 30 0.85 m2/orang *J Matte Handbook
r. maditasi 30 1.00375 mZforang Naufart Arcratacta Dal* 55

Sssana Aaung Widya


3
arxistakaan hall, inform a at 60 0 65 m2/orang AJ Matte Handbook 39
tacks 10000 buku 1 rak a 126 buku Now Marc Handbook 130 050
1 rak * 1/314 m2
ruang baca l4 2.3 m2/orang Now Matte Handbook
i. bagian airkulasi i 4.5 m2/orang POPPPT
11*31
4.5
r. panyimpan Dim ditaniAan 1290
r. audio visual 90 0 8 m2/orang Naulart Architacta Data 70
torial 2WC 1 W C * 1 5n>2 BAER 6.344
1 urinoir 1 urinoir 0.9 m2
1 waahtafal 1 waaritafai a 0.9 m2
loading aludt bandtng 30
r pangolanan/pangadaan 2 4.5m2/orang POPPPT 9
r bagian panigpan 1 ditanlufcan
gudang ditantukan
kapala p4*rpu*takaan 1 11 25m2/orang POPPPT 11.2S

ujaum hatt 12 1 orang * 0.8 -2 m2 MUMP 10


lokai 1 3.15m2/orang Human Dtmanaton 1.19
r. pamar PS IPSI. Pangda IPSI Naufart ArcJMtacta Data 71102475
10 parguruan hiatoria
6 parguman baaar
loko aouvantr ditantukan 20
toilat 00 1 WC 1.5 m2 LMEft 1.700
1 urinoir 0.9 ta2
1 waahtafal * 0 9 m2
r. kurator 3 1 5m2/orang Naufart Architacta Data 505
poa aatpam 5 1 orang 1m2 aajdi banding 3
informaai 1 Naufart Artrvtacta Data 3
loading dttanlukan 30

Saaana Sarwa Ouna Uti n 0.65 m2/orang AJ Matic Handbook 400


rabty 450 0.65 m21 orang a j Mat^c Handbook 292.5
r. aidang 450 2m2/erartg Naufart Architacta Da t* 1170
MM 450 1 W C * 1.5 m2 8AER 92.000
1 urinoir a 0.9 m2
1 waantafai a 0.9 m2
gudang paratatan aidang dttanajkan 24
r. pant* a 30 4.48 m2/orang Naufart Architacta Data 1330
pantry, r > 975
M M 30 1 WC"1.5m2 AEH 4304
1 urinoir 0 9 m2
1 waahtafal - 0 9m2
r. pantarjamah 1.5m2/oranf Naufart Arefaiacta OaU 11.77
r. karja
5 4.46 m2/orang Naufart Arcnitacta Data 20 99
r. tamu 3 1.2 m2/orartg Naufart Architacta Data 4.00
r. makan 35 1.2 m 2/orang Naufart ArthHacta Data 54
' loading fftaal banding 30
gudang barang dHamukan 12
tockarroom 5 1.7m2/orang Standard KOtfl 11.09
gudang mawtananea dtlansjkan
M M i 1WC"1.S2 MSI 4.3S4
lurinoa? 0 9 m2
1 waahtafal 0 0 m2
r lmtfm*mn 5 1 2 m2/orang Nwjfart AraNtoct* Dais 0
drtentukan 48.7
60 10% pendopo
Sasana Giadi wnaga ruang penenma studi banding 468.50
50 21x21m
pendopo studi banding 120375
SO 0 69 m2/orang
arena latin landing terouka BAER 7.566
60 1 W C = 1.5 m2
MM
1 urtnoir = 0.9 m2
1 washta'el = 0.9 m2
3org = 0.5x0.4 Standard KONI
locker room
1 5m2/orang

Sasana Knda Wiiaga AJ Metnc Handbook 26


to 0.65 m2/orang
Lac>oratonum Jurus nail Neulert Architects Data 108
1 5m2/orang
r. audio visual JO Neulert Architects Data 39
1 5m2/orang
r. diskusi 20 441
1 gelanggang 21x21 m studi banding
r. laiinan khusus

0 9 m2/orang AJ Metnc Handbook 9


Fasthtas KeDugaran lobby 94 221
3org 0.5x0 4 Standard KONI
locker room 00
1 5 mZ'orang
662
100 4 6m2/orang
ruang lafinan kebugaran 2197
1 3m2/orang Human Dimension
100
snower
BAER 13
00 1 W C = 1.5 m2
loilet 13104
i urtnoir = 0.9 m2
t washta'el 0 9 m2

AJ Metric Handbook 75
1 SrrO/orang
Fasilitas Pengooolan lobby 892
4 46 m2/orang Neufen Architects Data
ruang penksa 16
16 m2 Neulert Architects Data
r pengobaian obat 14
14 m2 Neulert Architects Data
r. pijat 16
16 m2 Neulert Architects Data
r. tusuk jarum 14
14 m2 Neulert Architects Data
r. pengooaian tenaga dalam 7.5
1 5m2/orang TFCS
loilet 2.7
2.7 m2 Neulert Architects Data
shower 12
12 m2 drtentukan
r. obat 7.5
1 5m2/orang Neulert Architects Data
i kelas
Mesjid ruang penenma 200 1 orang 0 9 m2 AJ Metnc Handbook *M
wudnu 167 15 menii sebelumnya studi perbandingan ll,U
i kran untuk 7 orang
1 kran 0.9 m2
167 1 orang 0.8 m2 studl perbandingan i*-4
toilet 167 16-30 orang : 1 WC BAER
minrab 1 diteniukan

pondok i orang lm2 Neulen Architects Data 4|


Sasana Andra Win*

LUASAN RUANG

SASANA GELAR WILAGA


SASANA GLAOI WILAGA 7Bl5.951
SASANA KRIOA WILAGA
Laooralortum Jurut 614
Fasilltas Ksougaran 960 0074
FastMas Pengobatan 106 12
SASANA HENING BUDHI 85
SASANA ASUNG WIDYA
Parpultakaan ' 658 68
Muaaum 803 813
SASANA SARWA GUNA 1784 924
GRAHA SATRIA BHIRAWA 7827 045
SASANA TATA LAKSANA 725 11
Me|id
SASANA ANORA WINA 40

-
Kapasitas parkir
Peraturan parkir Pengda Jakarta :
untuk gelanggang olahraga ditentukan 15 penonton 1
nob 11
Asumsi pemakaian kendaraan pribadi pengunjung 9 (
berdasarkan hasil pengamatan terhadap kebiasaan
rata-rata pengunjung ) :
- 45% dari 3000 orang yaitu sebesar 1350 orang,
raembutuhkan parkir 90 mobil
- 15% dari 3000 orang yaitu sebesar 450 orang,
membutuhkan parkir sepeda motor sebanyak 225
buah.
- sisanya dianggap naik kendaraan umum
Kapasitas bis dihitung sejumlah 10 bis.
Konsep Perancangan
5.2.1. Pendekatan Berarsitektur
Berarsitektur bukan sekedar merancang
bangunan agar dapat sesuai dengan fungsi dan
mampu. menampung kebutuhan pemakai, kemudian
selesai. Tetapi lebih dari itu perancangan
bangunan seyogyanya mampu memberikan
pengalaman-pengalaman yang berarti bagi
pemakai bangunan.

Sebagai usaha untuk menciptakan suatu produk


arsitektural yang mampu membangkitkan suatu
pengalaman bagi pemakai, penulis mencoba
4

melakukan pendekatan perancangan melalui


pemahaman filosofis tentang Pencak Silat.

5.2.2. Konsep Filosofis


Memahami jatidiri Pencak Silat sebagai
budaya bangsa Indonesia yang berfalsafah
pengendalian diri yang terdiri dari 4 aspek,
mental spiritual, beladiri, seni, dan
olahraga, maka dapat dikatakan Pencak Silat
adalah suatu sistem gerak berpola yang
bernilai pengendalian diri, pembelaan diri,
keindahan dan keserasian gerak serta
pembinaan ketangkasan dan ketahanan jasmani
sesuai dengan keluhuran nilai-nilai Pencak
Silat yang berfalsafah budi pekerti luhur.
Pada hakekatnya Pencak Silat adalah sarana

105
dan substansi pendidikan jasmani dan rohani
untuk membentuk manusia berbudi pekerti
luhur.

Konsep ArsitekturaJ
Bertitik tolak dari pernyataan di atas, maka
dapat dipahami bahwa dalam Pencak Silat ada
2 hal yang selalu ada yaitu pembinaan
jasmani dan rohani. Pembinaan rohani
dilakukan dengan membina mental spiritual
pesilat. Pada Pencak Silat terdapat
pembinaan mental spiritual sesuai dengan
kepribadian Indonesia, terutama dalam hal
upaya pengendalian diri. Pembinaan spiritual
dengan melatih keluhuran budi pekerti serta
melalui pendidikan agama masing-masing.
Proses perkembangan dalam diri pesilat
dimulai dari penguasaan akan ilmu bela diri
disertai dengan sedikit pembinaan mental,
yang kemudian makin lama pembinaan mental
spiritualnya makin mendalam, sesuai dengan
tujuan utaraa pesilat bukan menjadi seorang
yang tinggi ilmu Pencak Silat saja, tapi
juga tinggi mental spiritual dan budi
pekertinya.

Peristiwa yang terjadi dalam diri pesilat


dalam perjalanannya menjadi seorang pesilat
yang 'mumpuni' inilah yang akan dicoba untuk

106
I

diangkat dalam perancangan Padepokan


Nasional Pencak Silat Indonesia.

107