You are on page 1of 11

TUGAS KELOMPOK

SISTEM UTILITAS 1

S A M P A H RAMAH L I N G K U N G A N

Disusun

KELOMPOK 6

Endah Retno Ningtyas F 221 15 075

Muhammad Reski Akhbar F 221 15 046

Muhammad Dwiki Abdullah F 221 15 062

Winardi F 221 15

Vinnhy Syah Putri F 221 13


SAMPAH RAMAH LINGKUNGAN

Semua Negara di bumi ini, menyadari bahwa sampah merupakan salah satu
permasalahan yang membawa ketidak nyamanan hidup dalam sebuah lingkungan.
Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah
meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah.
Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi
serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga
memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan.
Meningkatnya volume timbunan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan
sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah
lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatif sampah terhadap kesehatan juga
akan sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungam pemukiman, hutan,
persawahan, sungai dan lautan.
Untuk mewujudkan kota bersih dan hijau, pemerintah telah mencanangkan berbagai
program yang pada dasarnya bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan kapasitas
masyarakat dalam pengelolaan sampah.
A. Pengertian Sampah
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya
suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat
keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada
hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.
Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah
dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.
Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang sampah, sampah adalah sisa
kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud
biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam
pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan. (Kamus Istilah
Lingkungan, 1994).
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas
manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. (Istilah Lingkungan
untuk Manajemen, Ecolink, 1996).
Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai
semula. (Tandjung, Dr. M.Sc., 1982)
Sampah adalah sumberdaya yang tidak siap pakai. (Radyastuti, W. Prof. Ir, 1996).
Dari berbagai pendapat di atas, dapat kita simpulkan pengertian sampah itu adalah
sebuah proses alamiah berbentuk padat yang berasal dari manusia dan alam yang tidak
dapat dipakai dan digunakan serta tidak memiliki nilai ekonomis sehingga dibuang dan
ditinggalkan oleh pemiliknya atau pemakai semula.
B. Jenis-Jenis Sampah
1. Berdasarkan sumbernya
a. Sampah alam
Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur
ulang alami, seperti halnya daun-daun kering dihutan yang terurai menjadi tanah. Di luar
kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di
lingkungan pemukiman.
b. Sampah manusia
Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap
hasil-hasil pencernaan manusia, seperti fesesdan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya
serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan)
penyakit. Sampah yang dihasilkan oleh manusia lebih banyak berupa sampai cair.
c. Sampah konsumsi
Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna
barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah
sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini
pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses
pertambangan dan industri.
d. Sampah nuklir
Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang
menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga
manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi
tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang
garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).
e. Sampah industri
Sampah industri merupakan hasil dari sisa pemakaian bahan-bahan industri yang
dibuang secara kesinambungan tanpa melihat dampak dan akibatnya. Sampah industri lebih
dikenal dengan istilah limbah industri. Sampah industri lebih dikenal berbahaya dalam
lingkungan.
2. Berdasarkan sifatnya
a. Sampah Organik - dapat diurai (Degradable)
Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang
diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah
ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar
merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, Contoh dari sampah organik adalah :
1) Sisa makanan;
2) Sisa sayuran dan kulit buah-buahan;
3) Sisa ikan dan daging;
4) Sampah kebun (daun-daunan, rumput, dan sampah yang mudah busuk lainnya).
b. Sampah Anorganik - tidak terurai (Undegradable)
Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui seperti mineral
dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam
seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat
diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang
sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol
plastik, tas plastik, dan kaleng.
3. Berdasarkan bentuknya
Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan
dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:
a. Sampah Padat
Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah
cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas
dan lain-lain
b. Sampah Cair
Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali
dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung
patogen yang berbahaya.
Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan
tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.
Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan
dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan
sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. untuk mencegah sampah cair adalah
pabrik pabrik tidak membuang limbah sembarangan misalnya membuang ke selokan.
C. Dampak Sampah
Pembuangan sampah yang tidak memenuhi persyaratan dapat menimbulkan dampak
negative pada lingkungan. Dampak yang ditimbulkan sampah antara lain :
1. Pencemaran Lingkungan
2. Penyebab Penyakit
3. Penyumbatan Saluran Air dan banjir
4. Dampak Sosial Terhadap masyarakat
5. Dampak Sampah Terhadap Keadaan Sosial Ekonomi
D. Alternatif Pengelolaan Sampah
Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan
alternatif-alternatif pengelolaan yang bisa menangani semua permasalahan pembuangan
sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi
masyarakat atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam.
Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti
dengan tiga prinsipprinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan
menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan
prioritas utama.
Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau
didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur
seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka
untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis
dan alur sampah.
Pembuangan sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material
yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/
mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat
menghancurkan kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur
limbah yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang
untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem daur-ulang atau
tahapan penghapusan penggunaan.
Program-program sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar
berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di
negara-negara berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah
berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi fisik,
ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau pemulung)
merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang ada saat ini, dan
peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan
sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah zabbaleen di Kairo, yang
telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan daur-ulang sampah yang mampu
mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang terkumpul dan mempekerjakan 40,000
orang.
Secara umum, di negara Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan
sampah organik merupakan komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan
sampah kota. Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos
(pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-
nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-
ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif
pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton
sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang
dapat mensuplai industri.
Melalui proses dekomposisi terjadi proses daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara
yang terkandung dalam bahan atau benda-benda organik yang telah mati, dengan bantuan
mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur, akan terurai menjadi hara yang lebih
sederhana dengan bantuan manusia maka produk akhirnya adalah kompos (compost).
Setiap bahan organik, bahan-bahan hayati yang telah mati, akan mengalami proses
dekomposisi atau pelapukan. Daun-daun yang gugur ke tanah, batang atau ranting yang
patah, bangkai hewan, kotoran hewan, sisa makanan, dan lain sebagainya, semuanya akan
mengalami proses dekomposisi kemudian hancur menjadi seperti tanah berwarna coklat-
kehitaman. Wujudnya semula tidak dikenal lagi. Melalui proses dekomposisi terjadi proses
daur ulang unsur hara secara alamiah. Hara yang terkandung dalam bahan atau benda-benda
organik yang telah mati, dengan bantuan mikroba (jasad renik), seperti bakteri dan jamur,
akan terurai menjadi hara yang lebih sederhana dengan bantuan manusia maka produk
akhirnya adalah kompos (compost).
Pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik
sebagai agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip dengan
humus. Hasil perombakan tersebut disebut kompos. Kompos biasanya dimanfaatkan sebagai
pupuk dan pembenah tanah.

Gambar 1. Composting (Pengomposan).


Sumber: http://www.uptpal-provbali.com. Diunduh tanggal 15 Oktober 2016, pukul 07:46

Kompos dan pengomposan (composting) sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu.
Berbagai sumber mencatat bahwa penggunaan kompos sebagai pupuk telah dimulai sejak
1000 tahun sebelum Nabi Musa. Tercatat juga bahwa pada zaman Kerajaan Babylonia dan
kekaisaran China, kompos dan teknologi pengomposan sudah berkembang cukup pesat.
Namun demikian, perkembangan teknologi industri telah menciptakan ketergantungan
pertanian terhadap pupuk kimia buatan pabrik sehingga membuat orang melupakan kompos.
Padahal kompos memiliki keunggulan-keunggulan lain yang tidak dapat digantikan oleh
pupuk kimiawi, yaitu kompos mampu:
Mengurangi kepekatan dan kepadatan tanah sehingga memudahkan perkembangan
akar dan kemampuannya dalam penyerapan hara.
Meningkatkan kemampuan tanah dalam mengikat air sehingga tanah dapat
menyimpan air lebih ama dan mencegah terjadinya kekeringan pada tanah.
Menahan erosi tanah sehingga mengurangi pencucian hara.
Menciptakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan jasad penghuni tanah seperti
cacing dan mikroba tanah yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.
Sebenarnya masih ada beberapa cara yang digunakan dalam pengolahan sampah,
seperti TPA (land-filling), pembakaran atau insenerasi (incineration), dan daur ulang
(recycling). Cara pengolahan yang umum digunakan di Indonesia adalah membawa sampah
ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sedangkan sebagian kecil didaur ulang.

Gambar 2. TPA
Sumber: http://www.bic.web.id/. Diunduh tanggal 15 Oktober 2016, pukul 08:59

Cara pengolahan dengan membawa sampah ke TPA masih bisa digunakan untuk
daerah yang lahannya cukup luas, tetapi kurang efektif dikembangkan di daerah dengan luas
lahan terbatas. Selain itu, TPA sampah adalah salah satu tempat penghasil gas metan yang
menyebabkan efek rumah kaca, sumber penyakit, dan pada umumnya ditentang oleh
masyarakat setempat. Di Eropa, cara ini sudah dilarang sejak tahun 2008. Cara pengolahan
sampah lainnya adalah insenerasi. Insenerasi merupakan cara pengolahan sampah yang
digunakan secara komersial. Melalui cara ini, sampah dapat diolah dalam volume besar.
Tetapi dengan cara pengolahan sampah ini masih muncul masalah lingkungan, yaitu adanya
dioksin yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan seperti kerusakan sistem kekebalan
tubuh, kanker, gangguan reproduksi, dan lain-lain. Di samping itu dibutuhkan investasi yang
sangat besar, teknologi yang rumit dengan nilai ekonomi yang minim, dan saat ini sangat
dibatasi penggunaannya di negara maju.
Universitas riset terkemuka di Jepang, Tokyo Institute of Technology,
memperkenalkan teknologi Hydrothermal yang diberi nama RRS (Resource Recycling
System). RSS memanfaatkan tekanan dan uap suhu tinggi (30 atm, 200C) yang lebih ramah
lingkungan, relatif murah, dan lebih sederhana teknologinya, sehingga kandungan lokal
komponennya bisa mendekati 90%. Artinya, uang tidak perlu dibelanjakan ke negara lain.
Teknologi ini sesuai dengan kebutuhan pengolahan sampah di Indonesia yang
umumnya terdiri dari 80% bahan organik dan campuran plastik. Sampah campuran ini dapat
menghasilkan bahan bakar padat yang bisa dicampur (co-firing) dengan batu bara yang bisa
digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik semen, pembangkit PLTU, dan keperluan rumah
tangga. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya, investasi yang sudah ditanam dapat kembali
dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Gambar 3. Ilustrasi
Sumber: http://www.cityu.edu.hk/sro/publication/sro_newsletter/issue19/save_energy.html.
Diunduh tanggal 16 Oktober 2016, pukul 05:52

Selain dengan pengelolaan sampah diatas, tentu kita telah mengenal adanya program
pemerintah yaitu 3R yang mendukung aksi Go Green itu sendiri. Go Green sendiri saat ini
tidak hanya dilakukan dengan 3R akan tetapi berkembang menjadi 5R , yaitu sebagai berikut:

Reduce berarti kita mengurangi sampah yang kita hasilkan atau mengurangi
penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce dilakukan dengan
cara : kurangi belanja barang-barang yang kamu yang tidak terlalu dibutuhkan
seperti baju atau celana baru, aksesoris-aksesoris, kurangi penggunaan kertas tissue
dengan menggantinya dengan sapu tangan karena akan dapat dipakai ulang dengan
mencucinya, kurangi penggunaan kertas di kantor dengan melakukan print preview
sebelum mencetak, biasakan membaca koran online, karena semua itu nanti ujung-
ujungnya akan menjadi sampah.

Reuse sendiri berarti menggunakan kembali seperti baju lama kamu bisa digunakan
kembali dengan merubah model atau menambah kain dari baju-baju bekas yang
akhirnya kelihatan menarik dan kamu bisa pakai kembali atau baju lama kamu
bisa kamu berikan kepada orang lain yang membutuhkan.
Recycle adalah mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur ulang sampah
organik di rumahmu, misalnya bekas botol plastik air minum bisa kamu gunakan
sebagai pot tanaman, atau kamu bisa juga mendaur ulang kertas bekas untuk
digunakan sebagai bahan kerajinan. Pernahkah kamu melihat tempat yang
berdampingan dengan tulisan Organik dan Anorganik? Tujuannya adalah sebisa
mungkin kamu bisa memisahkan sampah organik (biasa disebut sebagai sampah
basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah organik adalah sampah yang
terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang berasal dari alam atau
dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, rumah tangga atau yang lain. Sampah
ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian
besar merupakan bahan organik, misalnya sampah dari dapur, sayuran, kulit buah, dan
daun. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/ hancur) secara alami.
Sedangkan sampah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti
mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak
terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara
keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat
diuraikan melalui proses yang cukup lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah
tangga, misalnya berupa botol kaca, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.
Replace, yaitu mengganti atau menghindari barang yang sekali pakai dengan barang
yang bisa dipakai berulang-ulang. Misalnya membawa kantong sendiri saat belanja.
Cara tersebut efektif untuk mengurangi sampah plastik dari bungkus belanjaan.
Repair, yaitu memperbaiki barang-barang yang rusak agar dapat dipakai lagi. Dengan
langkah tersebut, Anda tak perlu membeli barang-barang baru lagi. Karena barang
lama masih bisa dipakai.
DAFTAR PUSTAKA

- Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KNLH). 2008.


Statistik Persampahan Indonesia Tahun 2008.
- http://www.uptpal-provbali.com/berita/pengelolaan-limbah-rumah-
tangga.html
- http://www.cityu.edu.hk/sro/publication/sro_newsletter/issue19/save_energy.h
tml.
- http://www.bic.web.id/