You are on page 1of 10

TUGAS

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

ANALISA KASUS
PT. SUMALINDO LESTARI JAYA Tbk

OLEH:

MONICA ROSA LINA


01044881719007

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
1. LATAR BELAKANG
Kinerja buruk perusahaan selalu berkaitan dengan konflik antar pemegang
sahamnya. Buruknya kinerja sebuah perusahaan selalu diikuti dengan pelanggaran
terhadap prinsip akuntabilitas dan transparansi, sehingga menimbulkan
ketidakpercayaan dan penuh curiga. Dengan demikian, keterbukaan adalah
keharusan yang fundamental dan perlu dimiliki oleh sebuah perusahaan bukan saja
untuk menciptakan iklim kondusif bagi keuntungan perusahaan tetapi juga terutama
menciptakan iklim investasi yang baik bagi sebuah negara. Konflik perusahaan
yang berlarut tentu perpotensi pada anjloknya kepercayaan publik dan menurunnya
kinerja investasi.
Kasus PT. Sumalindo Lestari Jaya Tbk cukup menarik perhatian karena
melibatkan pemegang saham mayoritas sekaligus pendiri perusahaan (Sampoerna
dan Sunarko), dengan pemegang saham minoritas (Deddy Hartawan Jamin).
Konflik PT. Sumalindo dipicu oleh anjloknya kinerja perusahaan, bahkan terus
merugi setiap tahunnya. Padahal dalam laporan tahunan perusahaan patungan
keluarga Sampoerna dan Sunarko pada 2012, total menguasai lebih dari 840 ribu
hektare hutan alam dan 73 ribu hektar hutan tanaman industri (HTI).
Dengan kapasitas produksi kayu lapis hingga 1,1 jutameter kubik per tahun,
Sumalindo menguasai lebih dari 30 persen pasar Indonesia dan termasuk lima besar
produsen kayu di dunia. Sejak 1980-an, keluarga Hasan Sunarko sudah malang
melintang di bisnis kayu dengan bendera Hasko Group dan PT Buana Alam
Semesta. Adapun Sampoerna baru masuk ke industri hutan pada 2007 dengan
mengibarkan bendera Samko Timber, Ltd di bursa Singapura.
Sebagai perusahaan raksasa pemegang hak penguasaan hutan terbesar, hal
itu tentu bukanlah sebuah hal yang wajar. Indikator paling nyata adalah harga
saham perusahaan yang pada 2007 senilai Rp 4.800, terjun bebas terjun bebas di
kisaran Rp 100 pada 2012. Terkait hal tersebut, Deddy Hartawan Jamin, pemilik
336, 27 juta saham atau 13,6 persen, sejak awal mempertanyakan duduk soalnya
kepada Direktur Utama Amir Sunarko bin Hasan Sunarko. Ketika itu, Direktur
Utama hanya menjawab bahwa Sumalindo merugi karena dampak krisis ekonomi
2008. Sementara upaya untuk mendapat keterbukaan selalu kandas, bahkan di
RUPS upaya ini selalu digagalkan melalui voting, karena manajemen mendapat
dukungan dari pemegang saham mayoritas/pengendali.
Kenyataan bahwa selalu kalah dalam voting ketika meminta audit
perusahaan, Deddy Hartawan Jamin akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan. Ada dua hal yang dituntutnya, yakni audit terhadap
pembukuan perusahaan dan audit dalam bidang industri kehutanan. Hasilnya, pada
9 Mei 2011 majelis hakim PN Jakarta Selatan mengabulkan permohonan
tersebut. Upaya memperjuangkan keterbukaan ini sempat mendapat halangan dari
Sumalindo dengan mengajukan Kasasi di MA, namun mendapat penolakan tahun
2012.
Selain persoalan tersebut, Deddy Hartawan Jamin merasa yakin untuk
memperkarakan konflik tersebut ke meja hijau karena adanya sejumlah temuan
penting, yakni: Pertama, pada laporan keuangan Sumalindo tercetak Piutang
Ragu-Ragu tanpa ada penjelasan sedikit pun tentang siapa yang menerima utang
tersebut. Padahal selama ini laporan keuangan PT Sumalindo Lestari Jaya, Tbk
diaudit oleh auditor Ernst & Young. Belakangan diketahui bahwa Piutang Ragu-
Ragu tersebut adalah pinjaman tanpa bunga sama sekali yang diberikan kepada
anak perusahaan Sumalindo, yakni PT Sumalindo Hutani Jaya (SHJ) mencapai
lebih dari Rp 140 miliar sejak 1997.
Kejanggalan kedua, adalah terkait pernyataan Direktur Utama kepada
Pemegang Saham Publik Minoritas bahwa PT Sumalindo Hutani Jaya telah dijual
kepada PT Tjiwi Kimia Tbk. Selain tidak memiliki manfaat sama sekali bagi
Sumalindo, penjualan tersebut dinilai sangat merugikan. Pada 1 Juli 2009, SHJ
telah menerbitkan Zero Coupon Bond (surat utang tanpa bunga) atas utangnya
kepada Sumalindo sebesar 140 miliar lebih, untuk jangka waktu satu tahun. Atas
dasar itulah, bisa dikatakan arah dan tujuan penjualan anak perusahaan ini cukup
mencurigakan. Pada 15 Juli 2009, tak lama setelah surat utang diterbitkan,
Sumalindo dan pabrik kertas Tjiwi Kimia menandatangani akta pengikatan jual
beli. Selain memberi uang muka, Tjiwi Kimia membayar kepada Sumalindo dengan
cara mencicil selama tiga tahun, sebagian lainnya dibayar dengan kayu hasil
tebangan yang ada di areal eks lahan SHJ. Penentuan nilai aset SHJ pun sarat
kongkalikong, karena penilaian hanya didasarkan atas saham dan besaran utang
kepada Sumalindo. Padahal, banyaknya pohon yang ada di areal SHJ pun
seharusnya masuk dalam perhitungan aset.
Ketiga, Surat Menteri Kehutanan yang menyetujui penjualan SHJ kepada
Tjiwi Kimia patut dipertanyakan. Menteri Kehutanan merilis surat persetujuan
pengalihan saham tersebut tertanggal 1 Oktober 2009. Padahal Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang mengagendakan penjualan SHJ baru
dilangsungkan pada 15 Oktober 2009. Apalagi dalam salah satu klausulnya,
ditegaskan bahwa jika terjadi sengketa di antara pemegang saham, maka hal
tersebut menjadi tanggung jawab perusahaan dan tidak melibatkan Kementerian
Kehutanan.

2. PROFIL PERUSAHAAN
PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk adalah sebuah perusahaan kayu yang
berbasis di Indonesia. Perusahaan yang didirikan pada tanggal 14 April 1980 dan
memulai kegiatan komersialnya sejak tahun 1983. Kantor pusat SULI terletak di
Menara Bank Danamon, Lantai 19, Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. EIV/6, Mega Kuningan,
Jakarta dan kantor pusat operasional dan pabriknya berlokasi di Kalimantan Timur.
PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk, merupakan pabrik kayu terbesar di Kalimantan
Timur dan telah mempekerjakan sebanyak 3700 staf. Kegiatan utama Perusahaan
terdiri dari pengolahan kayu, kegiatan penebangan, operasi hutan tanaman industri,
serta perdagangan ekspor, impor dan lokal. Perusahaan ini memiliki sejumlah
konsesi hutan alam dan konsesi hutan tanaman yang dikelola sesuai dengan prinsip-
prinsip pengelolaan hutan lestari.
Pada tanggal 8 Maret 2013, perusahaan menjual seluruh sahamnya di PT.
Sumalindo Alam Lestari kepada PT. Mentari Pertiwi Makmur.Sebelumnya,
saham perusahaan ini tercatat di Bursa Efek Indonesia
Namun sejak tanggal 10 Juni 2013, pihak Bursa memutuskan untuk melakukan
penghentian sementara terhadap perdagangan efek perusahaan di seluruh pasar
terkait dengan masalah pemberitaan media Tribun Kaltim yang menyebutkan
bahwa Kantor Operasional PT Sumalindo Lestari Tbk yang berlokasi di
Sengkotek Jl. Cipto Mangunkusumo, kecamatan Loa Janan Ilir terbakar tetapi
kemudian permasalahan dapat terselesaikan.
Pada tahun 2013, perusahaan ini santer diberitakan karena terlibat masalah
ilegal logging yang menyeret nama ipar Presiden Bambang Yudhoyono, yaitu
Wijiasih Cahyasari alias Wiwiek. Meskipun pada bulan Aoril 2010. Wiwik
jelas membantah bahwa pihaknya tidak terlibat dalam kasus ilegal logging
perusahaan ini. Namun wiwiek nyatanya telah dipilih menjadi Presiden
Komisaris PT Sumalindo sejak tanggal 21 September 2010. Melalui rapat
umum pemegang saham luar biasa pada 21 September 2010. Wiwiek muncul
menggantikan Ambran Sunarko. Pergantian ini diartikan beberapa pihak
sebagai upaya permintaan perlindungan yang dapat membantu ruwetnya
masalah perusahaan dengan melakukan lobby ke beberapa pemegang
kewenangan seperti mathius salempang (selaku kepala kepolisian daerah
kalimantan timur). Bahkan kepada jenderal bambang hendarso danuri (kepala
kepolisian RI) dan zulkifli hasan (menteri kehutanan). Wiwiek bahkan juga
sempat menyurati Kementarian Koordinator Politik. Hukum dan keamanan
serta kejaksaan agung pada 27 agustus 2010 untuk melepaskan amir dan david
yang telah ditahan oleh kepolisian sejak juni 2010 dari jeratan hukum.

3. VISI PERUSAHAAN
Menjadi industri perkayuan terpadu dan bertanggung jawab sosial,
memberikan solusi dengan menghasilkan produk-produk ramah lingkungan yang
menggunakan bahan baku dari hutan yang dikelola secara lestari, serta optimalisasi
pemanfaatan sumber daya alam lainnya.

4. MISI PERUSAHAAN
1. Mengelola kelompok usaha industri perkayuan terpadu di bidang kayu lapis
dan kayu lapis olahan, MDF serta produk-produk turunan lainnya yang
berkaitan dengan industri perkayuan serta mempunyai tanggung jawab
sosial.
2. Menjaga keberlangsungan kebutuhan bahan baku yang dipenuhi dari hutan
alam dan hutan tanaman yang dikelola berdasarkan prinsip pengelolaan
hutan lestari.
3. Melakukan proses produksi yang memenuhi standar ramah lingkungan.
4. Memberikan nilai tambah produk melalui peningkatan nilai disetiap proses
tahapannya, pengembangan produk, sumber daya manusia dan jalur
distribusi.
5. Mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya alam lainnya Struktur
Organisasi

5. PENERAPAN GCG PADA PT SUMALINDO LESTARI JAYA TBK


Dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Dewan
komisaris perseroan melakukan kontrol melalui fungsi utamanya sebagai pengawas
direksi dalam menjalankan tata kelola perusahaan. Fungsi pengawasan Dewan
Komisari tersebut dilaksanakan melalui mekanisme yang sudah ditentukan antara
lain melalui optimalisasi fungsi Komite Audit sabagai Komite Independen yang
dibentuk oleh Dewan Komisaris dan berperan membantu Komisaris mendapatkan
informasi mengenai kondisi serta aktifitas-aktifitas tertentu yang sedang atau telah
dilaksanakan oleh Perseroan melalui laporan rutinnya.
Sementara itu Direksi Perseroan memastikan bahwa setiap rencana kerja,
strategi maupun kebijakan yang akan diambil dalam pelaksanaan tata kelola
perusahaan sehari-hari selalu mengikutsertakan peran para karyawannya melalui
divisi-divisi yang dibentuk dalam organisasi sesuai dengan fungsinya masing-
masing. Dengan demikian apa yang diputuskan dan dilaksanakan tetap berpedoman
pada prinsip GCG, dan tentu berpedoman pula pada peraturan dan ketentuan yang
berlaku di bidang pasar modal, bidang kehutanan, anggaran dasar Perseroan serta
peraturan dan ketentuan lain yang berlaku. Dewan Komisaris berkeyakinan,
penerapan GCG tersebut merupakan pondasi yang penting bagi Perseroan untuk
berkembang di masa datang.
Pada kesempatan ini Dewan Komisaris melaporkan bahwa Perseroan telah
menerapkan tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance
(GCG) dengan merujuk pada ketentuan BAPEPAM-LK dan Pedoman Umum Good
Corporate Governance yang dikeluarkan oleh Komisi Nasional Kebijakan
Governance tahun 2006 dengan menetapkan Pedoman Tindak Komisaris. Lebih
lanjut, Dewan Komisaris juga telah menetapkan Piagam Komite Audit yang
mengacu pada berbagai ketentuan tersebut. Melalui Komite Audit, Dewan
Komisaris secara rutin menerima evaluasi atas kinerja keuangan Perseroan dan
laporan tentang efektivitas pengendalian internal Perseroan. Dewan Komisaris
berkeyakinan, penerapan GCG ini merupakan pondasi yang penting bagi Perseroan
untuk berkembang di masa datang. OECD (Organisation for Economic Co-
operation and Development) berupaya untuk memahami dan membantu
pemerintahan-pemerintahan dalam menghadapi perkembangan dan persoalan baru,
seperti tata kelola perusahaan, ekonomi informasi, dan tantangan-tantangan yang
dihadapi. OECD bertujuan untuk membandingkan pengalaman yang berkaitan
dengan kebijakan, mencari jawaban untuk masalah, mengidentifikasi praktik yang
baik dan berupaya untuk mengkoordinasikan kebijakan dalam negeri dan
internasional.
PT Sumalindo sudah memberikan hak-hak yang seharusnya diperoleh para
pemegang saham, misalnya para pemegang saham menerima informasi yang
relevan secara tepat waktu mengenai penerbitan dan penawaran saham yang
membutuhkan persetujuan para pemegang saham, informasi tersebut diperoleh
melalui sekretaris perusahaan yang dijadikan sebagai pusat informasi bagi para
pemegang saham dan seluruh stakeholders yang memerlukan informasi informasi
penting yang berkaitan dengan kegiatan maupun perkembangan Perseroan dan anak
perusahaan.
Para pemegang saham juga memiliki hak untuk berpartisipasi dalam RUPS,
salah satu contohnya adalah hak untuk memilih dan menghapus anggota dewan.
Dalam pertemuan pemegang saham, proses dan prosedur memilih anggota dewan
layaknya dipermudah agar dapat memberikan suara secara efektif. Untuk pemegang
saham minoritas juga harus dilindungi dari tindakan kepentingan perusahaan yang
merugikan. Selain itu, juga harus memiliki sarana yang efektif. Dalam laporan
keuangan menyebutkan juga bahwa para pemegang saham dapat mentransfer
seluruh resiko dan manfaat atas kepemilikan asset.

No. Detail Prinsip Fakta di PT. Sumalindo

1. Kesamaan hak untuk saham Ada perbedaan hak antara pemegang


dengan kelas yang sama. saham mayoritas dan minoritas.
adanya informasi yang tidak didapat
oleh pemegang saham minoritas
terhadap penjualan saham PT.
Sumalindo Lestari, Tbk kepada pabrik
Tjiwi Kimia.

2. Persetujuan dan pengungkapan Fakta yang telah ungkapkan di poin


hak untuk saham dengan kelas pertama mengakibatkan persetujuan dan
yang berbeda. pengungkapan hak untuk pemgang
saham minoritas tidak dapat dipenuhi.
Seandainya PT. Sumalindo Lestari, Tbk
melakukan syarat transparansi kepada
semua anggota, PT. Sumalindo Lestari,
Tbk tidak mungkin mendapat masalah
sampai ke jalur hokum. Karena sewaktu
rapat anggota yan tidak setuju dengan
putusan, pasti akan menolak atau
menyanggah putusan tersebut. Tetapi
karena adanya informasi yang tidak
sampai ke pemegang saham minoritas,
maka gugatan terhadap PT. Sumalindo
Lestari, Tbk terkuak.

3. Transaksi dengan pihak yang - Dalam hal ini PT. Sumalindo Lestari,
berelasi mengandung benturan Tbk salah dalam melakukan prosedur
kepentingan penjualan surat utang kepada pabrik
Tjiwi Kimia (surat hutang dengan
tingkat bunga nol persen). Adanya
kesalahan prosedur ini diduga adanya
benturan kepemtingan antar pihak
pembeli (pabrik Tjiwi Kimia) dan
penjual (PT. Sumalindo Lestari, Tbk).
- PT. Sumalindo Lestari, Tbk juga
memalsukan dokumen persetujuan
pengalihan saham kepada mentri
kehutanan tanpa didahului RUPS PT.
Sumalindo Lestari, Tbk.
4. Peran akuntan professional Dalam kasus ini tidak secara tertulis
dalam memfasilitasi perlakuan adanya peran akuntan yan ambil andil
setara terhadap pemegang dalam perkara ini. Tetapi seharusnya
saham. akuntan di dalam persahaan PT.
Sumalindo Lestari, Tbk mengetahui
lebih dahulu terhadap masalah adanya
ketidaksetaraan antar kelas pemegang
saham mayoritas dan minoritas.

6. KESIMPULAN DAN SARAN


PT Sumalindo sudah memberikan hak-hak yang seharusnya diperoleh para
pemegang saham, misalnya para pemegang saham menerima informasi yang
relevan secara tepat waktu mengenai penerbitan dan penawaran saham yang
membutuhkan persetujuan para pemegang saham. Para pemegang saham juga
memiliki hak untuk berpartisipasi dalam RUPS, salah satu contohnya adalah hak
untuk memilih dan menghapus anggota dewan. Dalam pertemuan pemegang
saham, proses dan prosedur memilih anggota dewan layaknya dipermudah agar
dapat memberikan suara secara efektif. Untuk pemegang saham minoritas juga
harus dilindungi dari tindakan kepentingan perusahaan yang merugikan. Selain itu,
juga harus memiliki sarana yang efektif. Dalam laporan keuangan menyebutkan
juga bahwa para pemegang saham dapat mentransfer seluruh resiko dan manfaat
atas kepemilikan asset.
PT Sumalindo sudah menerapkan OECD point diatas, hal ini tercantum
dalam laporan keuangan dan diimplementasikan dalam semua kegiatannya yang
berdasarkan prinsip transparansi, akuntanbilitas, tanggung jawab, independensi dan
kewajaran.
PT. Sumalindo Lestari, Tbk belum menerapkan prinsip good corporate
governance dengan baik. Mengingat ada beberapa prinsip yang dilanggar disini
yaitu :
1. Adanya informasi yang tidak diketahui pemegang saham minortas.
2. Adanya benturan kepentingan ketika adanya transaksi dengan pabrik Tjiwi
Kimia; prosedur penjualan saham.
3. Adanya pemalsuan dokumen pengalihan saham kepada mentri kehutanan
tanpa didahului persetujuan RUPS.
4. Adanya ketertutupan terhadap informasi dari pihak manajemen kepada
pemegang saham.
Fakta-fakta tersebut di atas menjadi bukti bahwa PT. Sumalindo Lestari,
Tbk belum menerapkan prinsip good corporate governanance. Saran dari penulis,
PT. Sumalindo Lestari, Tbk harus mengkaji ulang tetang perhatian terhadap
kesamaan hak antar pemegang saham dan menghindari adanya benturan
kepentingan transaksi dengan pihak luar. Peran akuntan professional menjadi
penting, agar dapat menjadi gerbang penyaringan PT. Sumalindo Lestari, Tbk
apakah sudah sesuai dengan prosedur dan undang-undang yang berlaku atau belum.
(full disclosure).

Saran
Terus konsisten mempraktekkan goodcorporate governance melalui
pematuhanperaturan pemerintah sesuai dengan sifatusaha, meminimalisasi
terjadinya konflik sosialmelalui community development, sertaoperasional usaha
yang ramah lingkungan(environment-friendly policy)