You are on page 1of 14

ATM

Sumber: Pexels

Pernahkah kamu membayangkan bahwa kamu harus hidup


tanpa ATM, di mana kamu harus mendatangi bank untuk
sekadar menarik uang ketika kamu membutuhkannya?
Untungnya, sekitar tahun 50 hingga 60-an, ATM berhasil
diciptakan. Awalnya mesin ATM tidak mendapatkan respons
yang baik dari khalayak ramai. Tetapi, seiring berjalannya
waktu, tidak ada yang tahan mengantre hingga berjam-jam
di depan teller hanya untuk mengambil sejumlah kecil uang.
Era 80-an adalah masa di mana ATM mulai mendapatkan
tempat di hati masyarakat.

Automated Teller Machine atau Anjungan Tunai Mandiri


adalah salah satu temuan terbesar yang pernah ada di
sejarah perbankan. ATM merevolusi perbankan, yang
mulanya mengharuskan nasabah datang dan bertatap muka
dengan teller untuk menarik uang menjadi lebih cepat dan
mudah dengan bantuan mesin. Awalnya, ATM
menggunakan microcontroller khusus dengan arsitektur
tersendiri yang mengamankan data yang diproses. Kini,
dengan semakin murahnya perangkat keras, ATM mulai
mengadopsi arsitektur perangkat keras dari PC (Personal
Computer) dan beralih dari teknologi microcontroller.

Di Indonesia, umumnya ATM dapat digunakan untuk


melakukan penarikan tunai, penyetoran tunai, pembayaran
tagihan-tagihan, membeli pulsa, dan transfer tunai (sesama
atau antar bank). Sementara beberapa ATM khusus dapat
mencetak buku tabungan, mengisi saldo dompet elektronik,
hingga menarik uang dengan bantuan ponsel. Bahkan, untuk
lebih mempermudah nasabah, mesin ATM kini ditempatkan di
lokasi-lokasi dengan akses yang mudah.

Jadi, siapa yang menurutmu lebih menarik,


petugas teller cantik dengan senyum hangat mereka, atau
mesin ATM yang selalu ada untuk ada dimana saja dan kapan
saja?

Mobile Banking dan


Internet Banking
Sumber: Pexels

Menurut Statista, pengguna smartphone hingga tahun 2017


telah mencapai 2,3 miliar pengguna, dan diperkirakan pada
tahun 2020 angka ini akan terus meningkat hingga 2,9 miliar
pengguna. Ini berarti lebih dari tiga puluh persen penduduk
dunia telah menggunakan smartphone di keseharian mereka.
Dengan mendekatkan teknologi perbankan ke nasabah
melalui teknologi mobile banking, nasabah akan
mendapatkan kemudahan bertransaksi. Selain itu, mobile
banking juga mengambil peranan untuk memperluas jaringan
perbankan. Kini nasabah tidak perlu lagi repot-repot untuk
mencari ATM demi keperluan transfer. Semua keperluan
mereka kini sudah ada di genggaman.

Selain keperluan transaksi, mobile banking juga akan


mempermudah pelanggan untuk melakukan pengecekan
saldo, pengiriman uang, dan bahkan mendapatkan informasi
seputar produk-produk perbankan yang ditawarkan kepada
mereka.

Teknologi perbankan lainnya adalah online banking (internet


banking), di mana seluruh transaksi yang ada dilakukan
melalui internet dengan sistem keamanan yang lebih
mutakhir walau dengan celah keamanan yang lebih
banyak juga. Sayangnya, belum semua daerah di Indonesia
dapat menikmati layanan internet
banking dikarenakan konektivitas internet yang belum
merata, terutama di daerah-daerah terpencil. Di
sinilah mobile banking mengambil peranan dengan aplikasi
perbankan yang dapat diakses via SMS atau aplikasi dalam
SIM toolkit (STK) yang disertakan.

Terlepas dari segala kekurangannya, baik mobile


banking maupun online banking adalah sebuah teknologi
yang sangat krusial bagi bank untuk dapat mengembangkan
jaringan mereka ke seluruh pelosok negeri.

Autentikasi multi faktor


dalam teknologi
perbankan

Sumber: Wikimedia
Dulu, bermodalkan nama pengguna dan kata sandi saja
sudah cukup untuk melakukan autentikasi. Tetapi kini,
dengan semakin maraknya kejahatan di ranah digital,
dibutuhkan sebuah metode autentikasi yang akan
mengamankan aktifitas perbankan nasabah, baik secara
tradisional maupun secara mobile atau online. Autentikasi
multi faktor menggunakan beberapa cara untuk meyakinkan
sistem bahwa nasabahlah yang berhak untuk mengakses.

Seperti yang tertulis pada buku Cryptography and Network


Security oleh WIlliam Stallings, beberapa faktor yang
biasanya digunakan oleh sistem untuk melakukan verifikasi
pengguna antara lain:

Something You Know: Autentikasi ini memanfaatkan sesuatu


yang diketahui pengguna. Contoh paling simpel adalah kata
sandi atau PIN.

Something You Have: Autentikasi ini akan memanfaatkan


sebuah benda atau barang yang dimiliki pengguna. Benda ini
bisa berbentuk magnetic card, stiker NFC, atau benda lainnya
yang memiliki informasi unik di dalamnya.

Something You Are: Metode autentikasi ini akan melibatkan


keunikan pengguna sebagai salah satu faktornya. Salah satu
contohnya adalah pemindai biometrik. Perangkat tersebut akan
memindai faktor biologis pengguna, seperti sidik jari atau
retina mata.

Something You Do: Faktor autentikasi ini akan meminta


pengguna untuk melakukan sebuah atau sederetan instruksi
untuk meyakinkan bahwa pengguna bukanlah sebuah bot atau
kode komputer.

Beberapa faktor di atas dapat digunakan salah satu atau


digunakan secara bersamaan, tergantung kepada kebutuhan
sistem. Semakin banyak faktor yang digunakan, semakin
aman sebuah sistem. Hanya saja, yang diterapkan di sisi
nasabah kebanyakan hanya autentikasi dua faktor saja
bisa antara magnetic card dengan PIN seperti pada ATM, atau
PIN dengan token OTP (One-Time Password) seperti
pada mobile banking/online banking.

Dompet Elektronik (e-


wallet)
Sumber: Wikimedia

Walau masih digunakan oleh sebagian besar


masyarakat, keberadaan uang fisik semakin hari semakin
dirasa merepotkan. Bayangkan ketika kamu akan pergi ke
sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli laptop. Jika harga
laptop tersebut 10 juta rupiah, kamu harus membawa uang
tunai pecahan seratus ribu sebanyak seratus lembar. Cukup
merepotkan bukan?
Inilah yang menjadikan dompet elektronik sebagai salah satu
teknologi yang akan sangat membantu masyarakat dalam
bertransaksi. Walau teknologi ini tidak diinisiasi oleh industri
perbankan, tetapi e-wallet biasanya berkaitan dengan
aktivitas perbankan ketika menggunakan rekening untuk
melakukan topup.

Salah satu contoh e-wallet yang paling terkenal


adalah PayPal, yang masih menjadi solusi paling dipercaya
oleh para penggunanya untuk bertransaksi secara online. Di
Indonesia sendiri, e-wallet telah cukup umum digunakan oleh
sebagian masyarakat. Penggunaan e-wallet yang umum di
Indonesia antara lain sebagai salah satu metode pembayaran
di toko fisik maupun online, sebagai pembayaran tiket kereta
dan bus juga gerbang tol.

Selain membuat setiap transaksi penggunanya lebih praktis,


keamanan e-wallet juga terbilang jauh lebih aman
dibandingkan dengan kartu debit dan kartu kredit. Apabila
hilang, nominal uang yang hilang hanya sebatas yang kamu
setorkan saja. Berbeda dengan kartu kredit, yang jika jatuh di
tangan orang yang salah dapat dikuras hingga limit kartu
habis. Kartu debit juga rentan terhadap tindak
kejahatan skimming, dimana pemindai pita magnetik yang
ilegal dapat menyimpan data nasabah dari kartu debit.

Kartu debit dengan cip

Sumber: PicServer
Seperti yang pada bagian sebelumnya saya bahas,
belakangan ini tindak kejahatan skimming cukup marak
terjadi di Indonesia. Potensi terjadinya skimming ini ada di
mana-mana, mulai dari tindakan pemilik bisnis nakal,
hingga oknum tidak bertanggung jawab yang memasang
pemindai di mesin ATM. Hal ini membuat Bank Indonesia
sebagai otoritas tertinggi perbankan mengeluarkan Peraturan
Bank Indonesia No.16/1/2014tentang Perlindungan Konsumen
Jasa Sistem Pembayaran. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk melindungi identitas konsumen adalah
dengan mengganti teknologi lama pita magnetik dengan cip
yang lebih mutakhir.

Sebagai bank yang peduli akan keamanan dan kenyamanan


nasabah mereka dalam bertransaksi, PermataBank adalah
salah satu dari beberapa bank yang akan mengubah kartu
debit konvensional mereka menjadi kartu debit dengan cip.
Kartu debit terbaru mereka, PermataDebit PLUS, diharapkan
menjadi sebuah solusi transaksional yang akan
memungkinkan nasabah untuk melakukan transaksi di
manapun dan kapanpun tanpa perlu khawatir akan
keamanan data mereka.
PermataDebit PLUS yang sudah berbasis VISA memungkinkan
transaksi pada semua merchant yang menerima pembayaran
VISA, tidak hanya secara offline, melainkan juga transaksi
secara online. Untuk dukungan keamanan dalam
transaksi online, nasabah akan mendapatkan kode OTP yang
digunakan sebagai verifikasi akhir transaksi online pada
semua merchant berlogo Verified by VISA. Hal ini
memungkinkan pengguna PermataDebit PLUS untuk
bertransaksi di e-commerce, toko aplikasi seperti AppStore
dan Google Play, maupun jasa online lainnya seperti Uber
dan Grab. Ini akan semakin mempermudah nasabah untuk
melakukan transaksi apapun yang mereka inginkan dengan
aman dan nyaman.

Perkembangan teknologi perbankan tidak hanya berhenti


sampai di sini. Masih banyak pengembangan lain yang sudah
pasti menarik untuk di simak. Bukan tidak mungkin nantinya
akan ada bank resmi yang hanya
mengurusi cryptocurrency seperti bitcoindalam bisnis
mereka.

Cara bank memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan


inovasi yang mempermudah nasabahnya bertransaksi inilah
yang mungkin akan menarik kembali animo generasi Y dan
millenial yang sempat jenuh dengan perbankan konvensional.
Kita simak saja transformasi perbankan berikutnya dengan
hadirnya teknologi-teknologi baru lainnya.