You are on page 1of 6

BAB I

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Definis Ricket
Ricket adalah kondisi klinis dimana terjadinya ketidaseimbangan penyerapan
pada matriks tulang yang menyebabkan terjadinya gangguan pada tulang.
Rickets, yang secara historis disebut sebagai 'penyakit Inggris' ', umum terjadi
di seluruh dunia. Tidak adanya fosfat pada pertumbuhan permukaan mineral plat dan
mineral karena suplai vitamin D yang tidak memadai baik dari paparan sinar matahari
atau diet adalah penyebab utama penyakit ini.
Ricketsia adalah suatu kondisi yang telah dikenal selama berabad-abad
penyebabnya adalah karena mineralisasi yang cacat dari plat pertumbuhan pada anak
yang sedang tumbuh.

B. Etiologi
Penjelasan yang paling umum adalah defisiensi vitamin D yang mungkin
diakibatkan oleh kurangnya paparan sinar matahari yang mengarah untuk biosintesis
kutaneous yang tidak adekuat, asupan makanan yang buruk, atau malabsorpsi sebagai
akibat hepatobiliary atau penyakit gastrointestinal. Hal ini sering menyebabkan
hypocalcaemia, sekunderHiperparatiroidisme, dan hipofosfatemia.
Kadang-kadang, disfungsi tubulus ginjal menyebabkan pengeluaran fosat yang
berlebihan melalui saluarn kemih yang menyebabkan hipofosfatemia sering terjadi terkait
dengan kerusakan bioaktivasi vitamin D.
Jarang, gangguan pada kondrosit dan osteoblas, matriks tulang yang cacat atau
gangguan lainnya menghalangi kalsium dan fosfat masuk ke dalam kerangka.

C. Manifestasi Klinis
Ricketsia terjadi adanya tanda-tanda kaki bengkok, pembesaran kepala karena
penutupan fontalen terlambat, gigi terlambat keluar bentuk gigi tidak teratur dan
mudah rusak. Adapun gejala yang sering terjadi pada penderita rickettsia adalah :
1. Nyeri terjadi pada tulang.
2. Peningakatan tendensi retak tulang ( tulang mudah retak), terutama pada
Greenstick.
3. Perubahan rangka tulang :
a) Pada anak kecil yang baru bisa belajar biasanya akan menbungkuk (genu
varus)
b) Anak-anak yang lebih tua apabila diketuk lutut akan berbunyi (genu valgus)
c) Kelainan bentuk pada tengkorak, tulang belakang dan panggul.
d) Gangguan pertumbuhan.
e) Jumlah kalsium dalam darah rendah (hipokalsemia)
f) Kekejangan pada otot pada srluruh tubuh yang tak terkendalikan tetani

D. Patofisiologi
E. Pemeriksaan Penunjang
Pada sinar-x jelas terlihat demineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan
vertebra memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang
jelas. Pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar kalsium dan fosfor yang
rendah dan peningkatan moderat kadar alkali fosfatase. Kalsium urin dan ekskresi
kreatinin rendah. Biopsy tulang menunjukkan peningkatan jumlah osteoid.
Temuan laboratorium kadar kalsium serum normal atau agak menurun (9-9.4
mg/dl; 2.24-2.34 mM/L), kadar fosfat serum menurun sedang ( 1.5-3 mg/dL; 0.48-
0.96 mM/L), aktivitas alkali fosfatase meningkat, dan tidak ada bukti adanya
hiperparatiroidisme. Ekskresi fosfat urin besar, walaupun ada hipofosfatemia,
sehingga menunjukkan defek pada reabsorbsi fosfat tubeler ginjal. Gangguan ini khas
pada rakhitis defisien fosfat murni; aminoasiduria, glukosuria, bikarbonaturia, dan
kaliuria belum pernah ditemukan. Pada kemungkinan heterozigot obligat, yang
kemudian berkembang menjadi penyakit, kadar fosfat serum dapat tetap normal
selama umur beberapa bulan pertama. Kelainan laboratorium pertama sering
merupakan kenaikkan aktivitas fosfatase alkali serum. Kadar fosfat serum mungkin
tetap normal selama beberpa bulan, karena kecepatan filtrasi glomerulus sangat
rendah pada neonates. Kadang-kandang ditemukan hyperplasia paratiroid dengan
kenaikkan kadar hormone paratiroid (PTH) serum, biasanya pada kasus sporadic.
Pada kasus rakhitis defisiensi kalsium kadar kalsium dan fosfat serum rendah, dan
aktivitas alkali fosfatase naik karena penderita mengalami hiperparatiroidisme
sekunder, aminoasiduria, glukosuria, pemborosan bokarbonat tubeler ginjal. ( Nelson,
Waldo E.2000.Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Vol. 3.Jakarta.EGC)

F. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan Medik
Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat disuntik vitamin D 200.000
IU perminggu selama 4-6 minggu, yang kemudian dilanjutkan dengan 1.600 IU
setiap hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan. Jika terjadi kekurangan fosfat
(hipofosfatemia), maka dapat diobati dengan mengonsumsi 1,25-dihydroxy
vitamin D.
2) Penatalaksanaan Non Medik
Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah memperbanyak
konsumsi unsur kalsium. Agar sel osteoblast (pembentuk tulang) bisa bekerja
lebih keras lagi. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan teri,
daging, yogurt. Konsumsi suplemen kalsium sangatlah disarankan.
Jika kekurangan vitamin D, sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi
makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Untuk
membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh cobalah sering berjemur dibawah
sinar matahari pagi antara pukul 7-9 pagi dan sore pada pukul 16-17.
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Biografi Klien
1) Nama lengkap
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Alamat
5) Pekerjaan
6) Agama
7) Status
2. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan dulu
2) Riwayat kesehatan keluarga
3. Pemeriksaan fisik
1) Ekstremitas
- Deformitas skelet
- Deformitas vertebra
- Deformitas lengkungan tulang panjang
- Otot lemah
4. Data dasar pengkajian
1) Aktivitas / istirahat
Adanya tanda keterbatasan fungsi pada bagian yang terkena dan terasa nyeri
2) Sirkulasi
Takikardi (respon stress)
3) Neurosensori
Gejalanya hilang gerakan, disertai dengan tanda deformitas local dan
kelemahan
4) Nyeri/ ketidaknyamanan
Adanya nyeri tekan
5. Pemeriksaan Diagnostik
- Foto X-Ray
Umumnya nampak kekurangan mineral dari tulang sangat nyata. Berdasar dari
vertevra mungkin menunjukkan fraktur kompresi dengan nyeri pada ujung
vertebra.
- Pemeriksaan laboratorium
Menunjukkan lambatnya rata-rata serum kalsium dan jumlah fosfor serta
kurangnya kenaikan alkaline phosfat.
B. Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan gangguan skeletal
2. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan gangguan musculoskeletal
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tungkai
melengkung, deformitas vertebra.

C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan gangguan skeletal
- Tujuan : nyeri berkurang
- Intervensi :
1) Managemen nyeri :
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor prespitasi
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan teknik komunikasi teraupetik untuk mengetahui pengalaman
nyeri pasien
d. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungna
e. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
f. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
g. Berikan analgesic untuk mengurangi nyeri
h. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
i. Tingkatkan istirahat

2. Risiko tinggi cidera berhubungan dengan gangguan musculoskeletal


- Tujuan : Tidak terjadi cidera
- Intervensi :
1) Managemen lingkungan
a. Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
b. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien sesuai dengan kondisi fisik dan
fungsi kognitif
c. Menghindarkan lingkungan yang berbahaya
d. Memasang side rail tempat tidur
e. Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
f. Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien
g. Membatasi pengunjung
h. Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien
i. Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya
perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit.
3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan tungkai
melengkung, deformitas vertebra.
- Tujuan : Peningkatan citra tubuh
- Intervensi :
a. Kaji secara verbal dan non verbal respon klien terhadap tubuhnya
b. Monitor frekuensi mengkiritk dirinya
c. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit
d. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
e. Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu
f. Fasilitas kontak dengan individu lain dengan kelompok kecil.

D. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang dilakukan berdasarkan dari rencana yang
telah disusun

E. Evaluasi
Hasil yang diharapkan:
1. Nyeri berhubungan dengan gangguan skeletal
1) Pasien melaporkan adanya perasaan nyaman
2) Pasien melaporkan berkurangnya kelemahan tulang
2. Risiko cidera berhubungan dengan gangguan musculoskeletal
1) Tidak terjadi cidera pada pasien
2) Lingkungan nyaman dan aman untuk pasien
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah behubungaan dengan tungkai
melengkung, deformitas vertebra
1) Menunjukkan saling percaya dalam percakapan pasien-perawat
2) Peningkatan tingkat aktivitas
3) Peningkatan interaksi social.