You are on page 1of 25

Pemusnah Masa Depan

Minggu, 28 November 2010


STUDI TENTANG PRILAKU KELUARGA TERHADA PERAWATAN
LANJUT USIA DI DESA UNAMENDAA KECAMATAN WUNDULAKO
KABUPATEN KOLAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses menua adalah sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat menjadi rapuh

disertai dengan menurunya cadangan hampir semua sistem fisiologis proses tersebut disertai

dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Pendapat lain mengatakan

bahwa menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan

jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan

fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan

kemampuan untuk memperbaiki kerusakan yang diderita. (Roger Watson , 2003)

Terjadinya proses menua disertai dengan berbagai perubahan baik dari fisik maupun

psikososial. Perubahan fisik dapat dilihat antara lain dari perubahan penampilan pada bagian

wajah, tangan dan kulit. Perubahan lainnya yaitu pada bagian dalam tubuh seperti pada

sistem saraf otak, limpa, dan hati. Perubahan pada panca indra ternyata juga terjadi pada

penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, perubahan pada motorik antara lain

berubahnya kekuatan, dan kecepatan dan belajar keterampilan baru (Roger Watson,2004).

Perubahan secara psikososial lanjut usia antara lain keadaan pensiun dari pekerjaan,

kehilangan pekerjaan, kehilangan finansial, kehilangan status, keadaan sadar akan kematian,

perubahan cara hidup. Disamping itu lanjut usia juga mengalami penurunan secara ekonomi
karena pemberhentian dari jabatan sedangkan biaya hidup semakin bertambah dan mahalnya

biaya berobat. Dampak dari perubahan pada lanjut usia cenderung pada bentuk perubahan

yang negatif.

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam hal perawatan lanjut usia untuk

memberikan kemudahan dalam pemenuhan ADL (Activity Daily Living) lanjut usia.

keterbatasan lanjut usia juga dapat menyebabkan perubahan psikososial lanjut usia berubah,

perlu kesiapan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga agar dapat memberikan pemenuhan

kebutuhan perawatan terhadap lanjut usia.

Merawat lansia (orang lanjut usia) memberikan suatu tantangan keperawatan tertinggi

banyak pekerjaan yang dilakukan di dalam area ini. Perawatan berada dalam posisi unik

ketika merawat, lansia untuk mempengaruhi hasil perawatan tidak hanya melalui aplikasi

praktik biasa, akan tetapi juga melatih keterampilan dan melalukan koordinasi dengan

disiplin ilmu lain mencapai kepuasan hasil yang di harapkan pada setiap individu.

Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat lansia yang sakit, perlu

dikaji pengetahuan keluarga tentang yang dialaminya, bagaimana sikap keluarga terhadap

bantuan kesehatan serta bagaimana tindakan keluarga dalam mengatasi kesehatan lansia.

(Suprajitno, 2004)

Berdasarkan data yang diperoleh dari wilayah kerja Puskesmas Wundulako, beberapa

desa yang mempunyai lansia salah satunya terdapat pada desa Unamendaa yaitu berjumlah

164 orang lansia yang berumur 45-70 tahun keatas. (PKM Wundulako, 2009)

Berdasarkan masalah di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

Studi Tentang Prilaku Keluarga Terhadap Perawatan Lanjut Usia Di Desa Unamendaa

Wilayah Kerja Puskesmas Wundulako Kabupaten Kolaka Tahun 2009

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan masalah

penelitian ini adalah Bagaimana Perilaku Keluarga Terhadap Perawatan Lansia Di Desa

Unamendaa Di Wilayah Kerja Puskesmas Wundulako Kabupaten Kolaka.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran tentang perilaku keluarga dalam perawatan lansia di desa

unamendaa di wilayah kerja puskesmas wundulako kabupaten kolaka.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan keluarga terhadap perawatan lansia.

b. Untuk memperoleh informasi tentang sikap keluarga terhadap perawatan lansia.

c. Untuk memperoleh informasi tentang tindakan keluarga terhadap perawatan lansia.

D. Manfaat penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah gambaran pendekatan terhadap

kemajuan ilmu pengetahuan tentang perawatan lanjut usia.

2. Hasil penelitian ini diharapkan agar perawat dapat mengembangkan keperawatan keluarga

terhadap lanjut usia dan memberikan gambaran baru kepada keluarga tentang pemenuhan

kebutuhan lanjut usia sehingga diperoleh satu kesatuan antara tercapainya peran keluarga dan

terpenuhinya kebutuhan perawatan yang diperlukan lanjut usia yang dirawat dalam

kehidupan keluarga.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Prilaku Keluarga Terhadap Perawatan Lansia

Keluarga didefenisikan sebagai suatu sistem sosial yang hidup. Keluarga merupakan

suatu kelompok kecil yang terdiri dari individu-individu yang mempunyai hubungan erat satu

sama lain dan saling tergantung, yang diorganisir dalam satu unit tunggal dalam rangka

mencapai tujuan-tujuan tertentu, yakni fungsi-fungsi keluarga atau tujuan-tujuan.

Dalam sebuah unit keluarga disfungsi apa saja (penyakit, cedera, perpisahan) yang

mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga, dan dalam hal tertentu, seringkali akan

mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit ini secara keseluruhan. Keluarga

merupakan jaringan yang mempunyai hubungan erat dan bersifat mandiri, dimana masalah-
masalah seorang individu menyusup dan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan

seluruh sistem.

Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan lansia, bahwa

peran dari keluarga sangat penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan lansia, mulai dari

strategi hingga fase rehabilitasi. Mengkaji/menilai dan memberikan perawatan kesehatan

merupakan hal yang penting dalam membantu setiap anggota keluarga untuk mencapai suatu

keadaan sehat.

Melalui perawatan keluarga yang berfokus pada peningkatan serta upaya-upaya yang

berarti dapat mengurangi risiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan.

Tujuannya adalah untuk mengangkat derajat kesehatan keluarga secara menyeluruh, yang

mana secara tidak langsung mengangkat derajat kesehatan dari setiap anggota keluarga

termasuk dalam hal perawatan lansia.

B. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan Keluarga

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindaraan terhadap suatu objek tertentu. Dimana pengetahuan merupakan unsur mengisi

akal dan alam jiwa seseorang yang sadar dan secara nyata terkandung dalam otaknya.

Pengetahuan tertentu tentang kesehatan mungkin penting sebelum suatu tindakan

kesehatan pribadi terjadi, tetapi tindakan kesehatan yang diharapkan mungkin tidak akan

terjadi, kecuali apabila seseorang mendapat isyarat yang cukup untuk memotivasinya

bertindak atas dasar pengetahuan yang dimiliki.

Pengetahuan keluarga tentang perawatan lansia bagian terpenting dalam memperbaiki

kesehatan lansia tersebut yang mencakup pengetahuan mengenai perawatannya, perubahan

berkaitan dengan perawatannya. Peran serta keluarga serta tanda-tanda yang perlu

diwaspadai. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan keluarga dapat bermotivasi untuk

menjaga dengan baik.


C. Tinjauan Umum Tentang Sikap Keluarga

Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon secara

positif maupun negatif terhadap orang. Objek atau situasi tertentu. Sikap yang mengandung

suatu penilaian emosional/efektif (senang, benci, sedih) di samping komponen kognigtif

(pengaturan tentang objek) serta aspek kognitif (kecenderungan untuk bertindak) sedangkan

pengetahuan lebih bersifat pengenalan terhadap suatu benda secara objektif.

Selain bersifat positif dan negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda

(sangat benci, agak benci dan sebagainya). Sikap itu tidaklah sama dengan prilaku dan

prilaku tidak selalu mencerminkan sikap seseorang, sebab sering kali terjadi bahwa seseorang

memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya.

Menurut W. A. Gerungan sikap adalah suatu pola prilaku atau kesiapan antisipatif

prediposisi untuk menyesuiakan dalam situasi sosial dengan kata lain bahwa sikap adalah

kesediaan untuk bereaksi terhadap suatu objek. Pada prinsipnya bahwa sikap terdiri tiga

komponen yakni :

a. Kepercayaan/keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu objek

b. Kehidupan emosional dan evaluasi terhadap suatu objek

c. Kecenderungan untuk bertindak, mucchielli menguraikan sikap sebagai suatu kecenderungan

jiwa atau perasaan yang relatife terhadap kategori tertentu dari objek, orang atau perasaan.

Bahkan kirscht menyatakan bahwa sikap menggambarkan suatu kumpulan keyakinan yang

selalu mencakup aspek evaluatif, sehingga sikap selalu dapat diukur dalam bentuk baik dan

buruk, positif atau negatif.

Dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap tidak langsung dapat dilihat tetapi hanya

dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup dan sikap merupakan kesiapan

atau kesediaan bertindak, keyakinan atau kepercayaan mengenai perawatan yang akan

dilakukan oleh keluarga tersebut.


D. Tinjauan Umum Tentang Tindakan Keluarga

Tindakan keluarga terhadap perawatan lansia sangat tergantung pada kebiasaan

keluarga. Tindakan tersebut dapat dilihat bagaimana proses perawatan sehari-hari.

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (ovening behavior) atau

terwujudnya sikap menjadi suatu perubahan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu

kondisi yang memungkinkan.

Tingkat tindakan ada 4 yaitu :

1. Persepsi (preseption) yaitu mengenal dan memiliki berbagai objek sehubungan dengan

tindakan yang akan diambil.

2. Respon terpimpin (guieded respon) yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang

sebenarnya.

3. Mekanisme (mechanism) yaitu apabila seseorang telah dapat mekanisme sesuatu dengan

benar secara otomatis atau sesudah itu merupakan kebiasaan.

4. Adaptasi (adaptation) yaitu suatu tindakan atau praktek yang sudah berkembang dengan baik

dan dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

E. Tinjauan Umum Tentang Lansia

Menurut Word Health Orgazation (WHO) bahwa lanjut usia digolongkan menjadi usia

pertengahan (middle age) yaitu kelompok usia 45-59 tahun, usia lanjut (edderly) antara 60-70

tahun, usia lanjut (old) 71-90 tahun dan usia (very old) diatas 90 tahun. (Watson, 2003)

Menurut Sumiati Ahmad memberikan batasan bahwa lanjut usia seseorang yang

memasuki tahap usia 60 tahun ke atas.


Menurut Undang-Undang no 4 tahun 1965 bahwa seseorang dapat dinyatakan sebagai

seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak

mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan kehidupan sehari-hari

dan mencari nafkah yang lain (Watson, 2003)

1. Konsep proses menua

Proses menua adalah proses yang mengubah orang dewasa laki-laki dan perempuan

sehat menjadi rapuh di sertai dengan menurunnya cadangan hampir semua sistem fisiologis

dan disertai pula dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit, walau proses menua

dan usia salin berkaitan dalam bentuk yang sama dan rumit, sehingga sulit membedakan

keduanya (Suprajitno, 2004)

Proses menua normal merupakan suatu proses yang ringan, ditandai dengan

menurunnya fungsi secara bertahap tetapi tidak ada penyakit sama sekali sehingga tetap

terjaga baik. Sebaliknya proses menua patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ

sejalan dengan umur tetapi bukan akibat umur tua, melainkan akibat penyakit yang muncul

pada orang tua. (Stanley, 2007)

Dari berbagai teori yang dikemukakan untuk menjelaskan proses menua, sebagian

besar dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu teori genetik mengasumsikan

bahwa tentang hidup dan laju proses menua dikontrol dari informasi didalam molekul DNA

di dalam gen. Terori akumulasi kerusakan dalam NA, RNA dan sintesis protein spesifik,

enzim, dan juga mutasi somatik akibat berbagai pengaruh yang merusak seperti radiasi ion

(Setiabudhi, 1999)

2. Dampak kemunduran reaksi-reaksi yang terjadi pada lansia

Kemunduran-kemunduran yang terjadi atas dampak terhadap tingkah laku dan

terhadap perasaan orang yang memasuki lanjur usia. Jelas jika berbicara tentang menjadi tua,

kemunduran, ada paling banyak dikemukakan tetapi di samping berbagai macam


kemunduran, ada sesuatu yang dikatakan justru meningkat dalam proses menua yaitu

sensivitas emosional seseorang yang akhirnya menjadi sumber banyak masalah pada masa

menua.

Kemunduran fisik yang terjadi pada dirinya membawa yang bersangkutan pada

kesimpulan bahwa kecantikan apapun atau ketampanannya yang mereka miliki mulai

menghilang. Ini baginya berarti kehilangan daya tarik dirinya. Wanita biasanya di puji orang

karena kecantikan dan keindahan fisik. Tetapi tidak berarti pada msa ini tidak mengalami

atau merasakan hal yang serupa pada pria sedang mengalami proses menua, tetapi

menginginkan dirinya menarik lawan jenisnya. (Watson, 2003)

3. Penyakit yang sering di jumpai pada lansia

Menurut The Nasional old peoples warfare council di inggris mengemukakan bahwa

penyakit atau gangguan umum pada lanjut usia ada 12 macam, yaitu :

a. Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan

b. Gangguan pada koksa atau sendi panggul

c. Anemia

d. Demensia

e. Gangguan penglihatan

f. Ansietas atau kecemasan

g. Dekompensasi kordis

h..Gangguan penglihatan

i. Ansietas

j. Diabetes Mellitus, Osteomalasia dan Hipotiroid

k. Gangguan pada defekasi

Penyakit usia lanjut di Indonesia yaitu: penyakit sistem pernapasan, penyakit

cardiovaskuler dan pembuluh darah, penyakit sistem urogenital, gangguan metabolik dan
endokrin, penyakit pada persendian, dan tulang yang disebabkan oleh keganasan yang

diperberat oleh faktor luar seperti makanan, kebiasaan hidup yang salah, infeksi dan trauma.

Menurut WHO community study of the olderly central java 1990 mengemukakan

bahwa penyakit dan keluhan yang sering muncul pada lanjut usia yaitu rheumatisme,

hipertensi, bronchitis, DM, stoke, Fraktur tulang, kanker dan masalah kesehatan yang

mempengaruhi activity daily living (ADL.)

4. Permasalahan pada lansia

Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia

antara lain (Setiabudi, 1999)

a. Permasalahan umum

1) Makin besarnya jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan

2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang

diperhatikan, dihargai dan dihormati

3) Lahirnya kelompok masyarakat industri

4) Masih rendahnya kualitas dan kuantitas tenaga professional

5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan dan pembinaan kesejahteraan lansia

b. Permasalahan khusus

1) Berlansungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental maupun

sosial

2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia

3) Rendahnya produktivitas kerja lansia

4) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat

5) Adanya dampak negative dari proses pembangunan yang dapat menggunakan kesehatan fisik

lansia
5. Perubahan sel dalam proses penuaan

a. Perubahan yang terjadi pada sel ketika seseorang menjadi lanjut usia adalah (Setiabudhi,

1999)

1) Adanya perubahan genetik yang mengakibatkan terganggunya metabolisme protein.

2) Terjadinya ikatan DNA dengan protein stabil yang mengakibatkan gangguan genetik.

3) Gangguan metabolisme muctic acid dan deoxynuclele acid (DNA)

4) Gangguan kegiatan enzyme dan sistem pembuatan enzyme.

5) Menurunnya proporsi protein diotak, ginjal dan hati.

6) Terjadinya pengurangan parenchyama.

7) Penambahan lipofuscion.

b. Perubahan yang terjadi diotak lanjut usia adalah

1) Otak menjadi atrofis, beratnya berkurang 5-10 % ukurannya mengecil, terutama dibagian

parasagital, frontal dan parietal.

2) Jumlah neuron berkurang dan tak dapat diganti baru. Disamping itu terjadi penyusunan sel

pyramidal cortes, cerebral dan pengurangan sel non pyramidal.

3) Terjadi pengurangan neurotransmitter

a.) Sel pyramidal : asam amino, asam glutamik, dan asam asparttc

b) Sel non pyramidal : gemma amino butyric acid (GABA), noradrenaline, somatostatin.

c) Lain-lain : monoamines, dopamine, horaprenaline, noradrenaline, serotonio.

4) Terbentuknya struktur abnormal di otak dan terakumulasinya pigmen organik mineral seperti

lipofuscin, amyloid, plak dan neurofibrillary tagle

5) Perubahan biologis lainnya yang mempengaruhi di otak, seperti gangguan indera telinga,

mata, gangguan kardiovaskuler, gangguan kelenjar thyroid dan kartikosteroid

c. Perubahan jaringan
1) Terjadinya penurunan cytoplasma protein

2) Peningkatan metaplasmie protein seperti kalogen dan elastin

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran

Peningkatan penduduk lansia pada dasarnya merupakan dampak positif dari

pembangunan. Pembangunan meningkatakan taraf hidup masyarakat, menurunkan angka

kematian dan meningkatkan usia harapan hidup. Namun, disisi lain pembangunan secara

tidak langsung juga berdampak negatif melalui perubahan nilai-nilai dalam keluarga yang

berpengaruh kurang baik terhadap kesejahteraan lansia

Prilaku keluarga dalam pengetahuan adalah segalah sesuatu yang diketahui oleh

keluarga terhadap perawatan usia lanjut. Disini dapat dilihat bagaimana proses perawatannya.

Prilaku keluarga dalam sikap adalah segala sesuatu yang diketahui oleh keluarga

terhadap perawatan usia lanjut. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana sikap dalam mengambil

keputusan.

Prilaku keluarga dalam tindakan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh keluarga

terhadap perawatan usia lanjut. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana proses dalam mengambil

tindakan.

Pengetahuan Keluarga

Bagan kerangka konsep

Perawatan Lansia

Sikap Keluarga
B. Variabel Penelitian

1. Variabel independen yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan

2. Variabel dependen yaitu perawatan lansia

C. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif

1. Pengetahuan keluarga

Adalah pengetahuan keluarga tentang perawatan pada lansia

Kreteria Obyektif :

Kreteria pengukuran tentang pengetahuan merujuk pada skala Ordinal dimana setiap item

mempunyai jawaban 1 dikatakana (benar) sedangkan item yang jawabannya 0 dikatakan

(salah)

Baik : bila responden menjawab > 67 %

Kurang : bila responden menjawab < 33 %

2. Sikap keluarga

Adalah sikap keluarga dalam merawat lansia

Kreteria obyektif :

Kreteria pengukuran tentang pengetahuan merujuk pada skala Guttman dimana setiap item

mempunyai jawaban setuju mempunyai nilai sama dengan (1) sedangkan item yang

jawabannya tidak setuju mempunyai nilai (0) dimana sikap keluarga dikatakan :

Positif : bila responden menjawab > 50 %

Negatif : bila responden menjawab < 50 %


3. Tindakan keluarga

Adalah proses

Kreteria Obyektif :

Kreteria pengukuran tentang pengetahuan merujuk pada skala guttman, dimana setiap item

mempunyai jawaban setuju mempunyai nilai sama dengan (1) sedangkan item yang

jawabannya tidak setuju mempunyai nilai (0) dimana tindakan keluarga dikatakan :

Positif : bila responden menjawab ya > 50 %

Negatif : bila responden menjawab tidak < 50 %

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif untuk mendapatkan

gambaran tentang prilaku keluarga terhadap perawatan lansia di Desa Unamendaa Kecamatan

Wundulako tahun 2009.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Unamendaa kecamatan Wundulako

2. Waktu penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada Tanggal 2 November sampai dengan 2

Desember 2009

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga yang mempunyai Lansia di Desa

Unamendaa Kecamatan Wundulako

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah keluarga yang mempunyai Lansia yang dianggap

mewakili seluruh populasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik Purposive

sampling, dengan kreteria yaitu :

1. Bersedia menjadi responden

2. Keluarga yang mempunyai lansia

3. Bisa baca dan tulis

D. pengumpulan data

1. Data Primer

Yaitu data dalam penelitian yang diperoleh dengan melakukan survey dan wawancara

langsung dengan responden atau dengan bantuan kuesioner.


2. Data Sekunder

Yaitu data yang diperoleh dari puskesmas

E. Pengolahan dan Penyajian Data

1. Pengolahan Data

a. Coding yaitu data yang diperoleh dari hasil catatan dan laporan dan catatan puskesmas.

b. Tabulasi yaitu memindahkan data secara manual dengan bantuan kakulator.

2. Penyajian Data

Data yang telah diperoleh dan disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan penjelasan.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Demografi Responden

a. Umur Responden

Tabel 1.
Distribusi responden berdasarkan kelompok umur di Desa Unamendaa Kecamatan
Wundulako Kabupaten Kolaka
Desember 2009
No. Umur n Persentase (%)
1. 20-30 tahun 38 50,7
2. 31-40 tahun 27 36
3. 41-50 tahun 10 13,3
Jumlah 75 100

Dari tabel di atas, menunjukkan umur responden yang paling banyak di Desa

Unamendaa yaitu kelompok umur 20 -30 tahun sebanyak 38 orang (50,7 %) dan yang paling

sedikit adalah kelompok umur 41-50 tahun sebanyak 10 orang (13,3 %).

b. Jenis Kelamin

Tabel 2.
Distribusi responden berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Unamendaa Kecamatan Wundulako
Kabupaten Kolaka
Desember 2009

No. Jenis Kelamin n Persentase (%)


1. Laki-Laki 26 34,7
2. Perempuan 49 65,3
Jumlah 75 100

Dari tabel di atas, menunjukkan jenis kelamin responden yang paling banyak di Desa

Desa Unamendaa yaitu perempuan sebanyak 49 orang(65,3 %) dan yang paling sedikit

adalah laki-laki sebanyak 26 orang(34,7 %)

c. Tingkat Pendidikan

Tabel 3.
Distribusi responden berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Unamendaa Kecamatan
Wundulako Kabupaten Kolaka
Desember 2009

No. Tingkat Pendidikan n Persentase (%)


1. Tidak sekolah 8 10,7
2. SD sederajat 23 30,7
3. SMP sederajat 13 17,3
4. SMA sederajat 21 28
5. PT 10 13,3
Jumlah 75 100
Dari tabel di atas, menunjukkan tingkat pendidikan responden yang paling banyak di

Desa Unamendaa yaitu SD Sederajat sebanyak 23 orang(30,7 %) dan yang paling sedikit

adalah Tidak Sekolah yaitu sebanyak 8 orang(10,7 %)

d. Pekerjaan

Tabel 4.
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Di Desa Desa Unamendaa Kecamatan
Wundulako Kabupaten Kolaka
Desember 2009

No. Pekerjaan n Persentase (%)


1. Petani 39 52
2. PNS/TNI/POLRI 9 12
3. Wiraswasta 17 22,7
4. IRT 10 13,3
Jumlah 75 100

Dari tabel di atas, menunjukkan tingkat pendidikan responden yang paling banyak di

Desa Unamendaa yaitu Petani sebanyak 39 orang(52 %) dan yang paling sedikit adalah

PNS/TNI/POLRI yaitu sebanyak 9 orang(12 %)

2. Variabel yang diukur

a. Pengetahuan Keluarga

Tabel 5.
Distribusi Responden Tentang Pengetahuan Keluarga Terhadap Perawatan Lansia di Desa
Unamendaa Kecamatan
Wundulako Kabupaten Kolaka
Desember 2009

No. Pengetahuan n Persentase (%)


1. Baik 20 26,7
2. Cukup 21 28
3. Kurang 34 45,3
Jumlah 75 100

Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa pengetahuan tentang perawatan lansia yang

paling banyak adalah kurang 34 orang(45,3 %), cukup sebanyak 21 orang ( 28 %) dan baik

sebanyak 20 orang(26,7 %)

b. Sikap Keluarga
Tabel 6.
Distribusi Responden Tentang Sikap Keluarga Terhadap Perawatan Lansia di Desa
Unamendaa Kecamatan Wundulako
Kabupaten Kolaka
Tahun 2009

No. Sikap n Persentase (%)


1. Positif 47 62,7
2. Negatif 28 37,3
Jumlah 75 100

Dari tabel di atas, menunjukkan bahwa sikap keluarga terhadap perawatan lansia yang

paling banyak di Desa Unamendaa adalah Positif sebanyak 47 orang(62,7 %) dan yang paling

sedikit adalah Negatif yaitu sebanyak 28 orang(37,3 %).

c. Tindakan Keluarga

Tabel 7.
Distribusi Responden Tentang Tindakan Keluarga Terhadap Perawatan Lansia di Desa
Unamendaa Kecamatan Wundulako
Kabupaten Kolaka
Tahun 2009

No. Tindakan n Persentase (%)


1. Positif 29 38,7
2. Negatif 46 61,3
Jumlah 75 100

Dari tabel di atas, menunjukkan tindakan keluarga terhadap perawatan lansia yang

paling banyak di Desa Unamendaa adalah negatif sebanyak 46 orang(61,3 %) dan yang

paling sedikit adalah Positif yaitu sebanyak 29 orang(61,3 %).

B. Pembahasan

Setelah dilakukan penelitian dan pengolahan data mengenai faktor-faktor yang

mempengaruhi tingginya angka kejadian ispa di desa lembah subur kecamatan ladongi

kabupaten kolaka dari tanggal 2 November sampai dengan 2 Desember 2009, diperoleh 75

responden yang memenuhi kriteria. untuk lebih jelasnya hasil penelitian tersebut dibahas

menurut variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan keluarga
Berdasarkan data hasil penelitian sebagaimana yang telihat pada tabel 5 di atas

menunjukkan bahwa pengetahuan tentang perawatan lansia yang paling banyak adalah

kurang 34 orang(45,3 %), cukup sebanyak 21 orang ( 28 %) dan baik sebanyak 20 orang(26,7

%)

Melihat besarnya jumlah responden yang memiliki pengetahuan kurang terhadap

perawatan lansia itu sendiri yaitu 34 orang dapat disimpulkan bahwa kurangnya peran serta

keluarga dalam perawatan lansia dengan baik, hali ini juga didukung oleh latar belakang

pendidikan responden yang rendah yang dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan

responden atau keluarga.

Adapun faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah usia, dimana

semakin matang usia seseorang maka semakin banyak informasi dan pengalaman yang

diperoleh.

Hal ini sinkron dengan pendapat yang dikemukakan oleh Roger Watson (2003) bahwa

pengetahuan keluarga tentang perawatan lansia bagian terpenting dalam memperbaiki

kesehatan lansia tersebut yang mencakup pengetahuan mengenai perawatannya, perubahan

berkaitan dengan perawatannya. Peran serta keluarga serta tanda-tanda yang perlu

diwaspadai. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan keluarga dapat bermotivasi untuk

menjaga dengan baik.

2. Sikap Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana terlihat pada tabel 6. di atas menunjukkan

bahwa sikap keluarga terhadap perawatan lansia di Desa Unamendaa sebagian besar adalah

positif yaitu 47 orang (62,7%) sedangkan sebagian kecil yang sikap negatif yaitu 24 orang

(37,3%)

Kenyataan di atas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh New comb,

salah seorang ahli psikolog sosial nyata bahwa sikap itu menunjukkan kesiapan untuk
bertindak dan bukan merupakan palaksana motiv tertentu. Sikap belum merupakan

predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertentu, bukan

merupakan resksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka, sikap merupakan suatu kesiapan

untuk objek dilingkungan terhadap objek tertentu sebagai penghayatan (Notoatmodjo, 2003).

Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecendrungan untuk bertindak

sesuai dengan sikap objek tadi. Jadi sikap senantiasa terarah bermacam-macam hal masih

berbeda dengan suatu pengetahuan yang dimiliki orang. Pengetahuan mengenai objek tidak

sama dengan sikap objek itu tetapi pengetahuan yang disertai kesediaan kecendrungan

bertindak sesuai pengetahuan itu. (Notoatmodjo, 2003)

Jadi dapat disimpulkan bahwa sikap keluarga di Desa Unamendaa adalah positif. Hal

ini dapat dilihat dari sikap masyarakat yang cenderung ikut berperan serta dalam perawatan

lansia.

3. Tindakan Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana terlihat pada tabel 6. di atas menunjukkan

bahwa tindakan keluarga terhadap perawatan lansia di Desa Unamendaa sebagian besar

adalah positif yaitu 47 orang (62,7%) sedangkan sebagian kecil yang sikap negatif yaitu 24

orang (37,3%)

Tindakan keluarga terhadap perawatan lansia sangat tergantung pada kebiasaan

keluarga. Tindakan tersebut dapat dilihat bagaimana proses perawatan sehari-hari.

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (ovening behavior) atau

terwujudnya sikap menjadi suatu perubahan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu

kondisi yang memungkinkan. Dimana tingkat tindakan ada 4 yaitu :persepsi (preseption),

respon terpimpin (guieded respon) , mekanisme (mechanism), adaptasi (adaftation).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tindakan keluarga terhadap perawatan lansia di Desa

Unamendaa dalah negatif, walaupun sikap keluarga positif tetapi dalam implementasinya
nihil. hal ini kemungkinan disebabkan Karena keluarga lebih mengutamakan pekerjaan,

dengan kesibkan tersebut sehingga keluarga tidak mempunyai waktu untuk merawat lansia.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian perilaku keluarga terhadap perawatan lanjut usia di desa

Unamendaa wilayah kerja puskesmas Wundulako Kabupaten Kolaka tahun 2009, maka

peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:


1. Pengetahuan keluarga tentang perawatan lansia di Desa Unamendaa adalah kurang.

2. Sikap keluarga tentang perawatan lansia di Desa Unamendaa menyatakan Positf.

3. Tindakan keluarga tentang perawatan lansia di Desa Unamendaa menyatakan negatif

B. Saran-saran

Dengan memperhatikan hasil penelitian dengan segala keterbatasan yang peneliti

miliki, maka peneliti ajukan beberapa saran:

1. Diharapkan kepada pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan perawatan lansia di

Desa Unamendaa Kabupaten Kolaka..

2. Diharapkan bagi tenaga kesehatan unutk lebih aktif dan berpartisipasi dalam memberikan

penyuluhan-penyuluhan tentang peran keluarga dalam perawatan

lansia.

3. Bagi warga diharapkan berpartisipasi dan rajin mengikuti penyuluhan-penyuluhan yang

diadakan oleh tenaga kesehatan.

Diposkan oleh Chyo Zhecret di 02.10


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Amazon MP3 Clips


Ada kesalahan di dalam gadget ini

Arsip Blog
2010 (8)
o November (8)
HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI DAN BUDAYA DENGAN
KEPEM...
KTI TENTANG PENGARUH LAYAR MONITOR KOMPUTER
TERHA...
Creatif'Q
Makalah Akbid
STUDI TENTANG PRILAKU KELUARGA TERHADA
PERAWATAN ...
ISI KTI
STUDI TENTANG PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU
TERHADAP I...

Mengenai Saya

Chyo Zhecret
Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Ingin Menjadi Seorang Perawat Sukses Agar Bisa Buat kedua Orang Tua'Q
Tersenyum
Lihat profil lengkapku

Video

powered by

Nasrum. Dj, AMK. Diberdayakan oleh Blogger.