You are on page 1of 12

IDI menolak konsep dokter layanan primer sehingga mengajukan review pada DPR

dan pemerintah.
MK menolak semua permohonan uji materi UU no 20/2013 yang diajukan PDUI
karena tidak beralasan menurut hukum
Walaupun 80% kasus penyakit ditemukan dalam layanan primer, kebanyakan
masyarakat cenderung ke pelayanan sekunder dengan alasan ketersediaan alat.
Jika dipaksakan DLP maka akan dibuatkan kelas biasa dan dokter layanan primer
untuk mengurangi gejolak kapitasi
Dokter jangan mempercayai isu negatif terkait program DLP karena DLP tidak
menggeser dokter umum di layanan primer
DLP juga tidak wajib bagi dokter sehingga PDUI mengajukan permohonan uji materi
UU no 20/2013 tentang pendidikan kedokteran Namun MK menolak untuk semua
materi gugatan.
DLP dikatakan sebagai upaya nyata negara memenuhi hak konstitusi warga negara.
Berdasarkan target MDGES target WHO adalah untuk memberantas kematian balita, pemberantasan
HIV dan penyakit menular dan juga kematian ibu.
Dari data tabel tampak angka kematian balita menurun dari tahun 1991, saat ini menjadi 44
sehingga dapat dikatakan target kematian balita telah tercapai.
Angka kematian bayi juga mengalami penurunan dari 68 tahun 91 menjadi 34 pd th 2007
sebanyak 34 sehingga target tercapai
Upaya penurunan dilakukan juga dengan pemberian vaksin campak diusia satu tahun,
kalimantan tengah sebanyak 81,81% hal ini menunjukkan tingkat kesadaran akan vaksinasi
semakin meningkat. Sehingga angka kematian terhadap penyakit menular dapat berkurang,
khususnya campak.
Berdasarkan tabel tersebut terdapat 4 jenis vaksin dari imunisasi dasar, total imunisasi BCG
81%, DPT HB 62,8%, Polio 62,8%, Campak 81%.
Tampak polio dan DPT-HB jumlahnya tidak mencapai 81% Kemungkinan, disebabkan banyak
penduduk yang melakukan imunisasi di dokter praktek swasta atau di rumah sakit. Sehingga
data tampak kurang terdata.
WHO juga mencanangkan menurunkan angka kematian Ibu. Pada tahun 2011 dilaporkan
adanya penurunan angka kematian dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 tahun 2007.
Ditargetkan 102 kematian per 100,000 kelahiran hidup sehingga perlu perhatian lebih lanjut
Pemakaian kontrasepsi juga semakin meningkat, menunjukkan meningkatnya kesadaran dan
pengetahuan terhadap pentingnya penggunaan kontrasepsi untuk menekan kelahiran dan
mencegah kematian
Cakupan pelayanan antenatal juga mengalami peningkatan, sehingga menunjukkan
meningkatnya pentingnya pemeriksaan kehamilan untuk mengurangi resiko penyulit dalam
persalinan
Berdasarkan data tersebut Kalimantan Tengah antenatal care pada kunjungan pertama
mencapai 72% tahun 2010, namun K4 hanya 35%, hal ini kemungkinan disebabkan karena
pada trimester akhir pasien cenderung berobat ke pelayanan sekunder dengan alasan
ketersediaan alat yang lebih lengkap, atau berobat dan kontrol pada dr praktek swasta.
Sehingga tidak tercatat dengan baik.

Berdasarkan data tersebut wilayah Kalimantan Tengah menduduki peringkat tertinggi


pemakaian kontrasepsi. Jumlah pemakaian kontrasepsi semua cara sebanyak 79% dan cara
modern sebanyak 76%.
Kalimantan tengah berdasarkan data tersebut menunjukkan telah mencapai target daalam
penekanan ledakan penduduk dengan menggunakan kontrasepsi.
Berdasarkan tabel tersebut, tampak kalimantan tengah masyarakat cenderung untuk
persalinan lebih meminta bantuan bidan. Sebanyak 60% tercatat setiap persalinan dibantu
oleh tenaga medis terlatih, yaitu bidan. 10% dibantu oleh dokter, 5% bukan tenaga medis
dan 2% tenaga medis lain.
WHO juga mengupayakan dalam pencegahan penyakit menular. Berdasarkan data
tersebut prevalensi saat ini mencapai 0,30% tahun 2011 , ditargetkan pada tahun 2015
mengalami penurunan sehingga diperlukan perhatian khusus dalam pencegahan
penularan tersebut.
Pada penggunaan kondom pada hubungan seks dari tahun 2002 meningkat baik laki-
laki (14%) dan perempuan (35%) ditargetkan mengalami peningkatan pada tahun
2015
Proporsi penduduk terinveksi HIV dengan adanya akses obat antiretroviral mengalami
peningkatan 84,1% dan akan tercapai di tahun 2015
Berdasarkan Tabel tersebut menunjukkan kasus HIV pada bulan Desember 2011 Kalimantan
Tengah memiliki jumlah 89 Kasus. Namun, Kemungkinan besar data tersebut belum tercatat
seluruhnya. Kemungkinan besar dikarenakan, kurangnya screening, keninginan untuk
berobat, dan juga adanya lokalisasi di Kalimantan Tengah yang beresiko meningkatkan
jumlah kasus.
WHO juga turut berperan dalam menurunkan angka kasus penyakit menular seperti malaria
dan tuberculosis.
Berdasarkan tabel tersebut angka kejadian malaria mengalami penurunan, dan diharapkan
menurun pada tahun 2015.
Namun untuk menurunkan angka kejadian malaria tersebut perlu ada perhatian dalam
penggunaan kelambu berinsektisida serta pengobatan yang tepat pada anak yang
mengalami demam.

Berdasarkan data tersebut tampak Kalimantan tengah menjadi peringkat ke 5 dengan nilai 6,661%
kejadian malaria pada tahun 2011. Kalimantan Tengah merupakan daerah endemik malaria dan juga
DBD, namun dengan adanya pencegahan diharapkan angka kejadian malaria menurun setiap
tahunnya, khususnya angka kematian akibat malaria.
Berdasarkan tabel tersebut angka kejadian TB mengalami penurunan, dimana
program pemberantasan TB telah mencapai target.
Tingkat prevalensi Tb pun juga mengalami penurunan sehingga mencapai target
Program DOTS juga mengalami peningkatan hingga melebihi target 70% yaitu 83%
sehingga mencapai target
Dengan adanya Program DOTS kasus yang diobati juga mengalami peningkatan.
Sehingga dapat disimpulkan program DOTS memiliki manfaat dalam pemberantasan
TB

Berdasarkan tabel tersebut Kalimantan Tengah memiliki kejadian kasus TB paling rendah
dari seluruh provinsi. Dengan nilai temuan kasus baru 33%, kesembuhan total 85% dan
sembuh 75%