You are on page 1of 3

ANTIOKSIDAN

Secara kimia senyawa antioksidan adalah senyawa pemberi elektron ( elektron


donor). Secara biologis, pengertian antioksidan adalah senyawa yang dapat menangkal atau
meredam dampak negatif oksidan. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu
elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan
tersebut dapat di hambat (Winarti, 2010). Antioksidan dibutuhkan tubuh untuk melindungi
tubuh dari serangan radikal bebas. Antioksidan adalah suatu senyawa atau komponen kimia
yang dalam kadar atau jumlah tertentu mampu menghambat atau memperlambat kerusakan
akibat proses oksidasi.

Tubuh manusia tidak mempunyai cadangan antioksidan dalam jumlah berlebih,


sehingga apabila terbentuk banyak radikal maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen.
Adanya kekhawatiran kemungkinan efek samping yang belum diketahui dari antioksidan
sintetik menyebabkan antioksidan alami menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan. Senyawa
fenolik mempunyai berbagai efek biologis seperti aktivitas antioksidan melalui mekanisme
sebagai pereduksi, penangkap radikal bebas, pengkhelat logam, peredam terbentuknya singlet
oksigen serta pendonor elektron (Karadeniz et al., 2005). Flavonoid merupakan salah satu
dari kelompok senyawa fenolik yang ditemukan dalam buah dan sayur (Farkas et al., 2004).
Beberapa tahun belakangan ini, telah dibuktikan bahwa flavonoid memiliki potensi yang
besar melawan penyakit yang disebabkan oleh penangkap radikal (Middleton et al., 2000).

Proses oksidasi tidak saja terjadi dalam tubuh manusia tetapi juga dapat terjadi dalam
makanan. Komponen makanan yang paling mudah mengalami oksidasi adalah lemak.
Antioksidan merupakan senyawa yang ditambahkan ke dalam lemak atau makanan berlemak
untuk mencegah terjadinya proses oksidasi dapat memperpanjang kesegaran dan palabilitas
dari makanan tersebut. Antioksidan yang ditambahkan kedalam bahan makanan tersebut
harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu : (1) tidak mempunyai efek fisiologis yang
berbahaya; (2) tidak menyebabkan terbentuknya flavor, odor atau warna yang tidak disukai
pada lemak atau makanan; (3) efektif pada konsentrasi rendah; (4) larut dalam lemak; (5)
tahan terhadap proses pengolahan; (6) mudah diperoleh; dan (7) ekonomis (Muchtadi, Palupi
dan Astawan 1993).
Metode Pengujian DPPH

Metode DPPH merupakan metode yang cepat, sederhana, dan tidak membutuhkan
biaya tinggi dalam menentukan kemampuan antioksidan menggunakan radikal bebas 2,2-
diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Metode ini sering digunakan untuk menguji senyawa
yang berperan sebagai free radical scavengers atau donor hidrogen dan mengevaluasi
aktivitas antioksidannya, serta mengkuantifikasi jumlah kompleks radikal-antioksidan yang
terbentuk. Metode DPPH dapat digunakan untuk sampel yang berupa padatan maupun
cairan (Prakash, Rigelhof, dan Miller, 2001).

Gugus kromofor dan auksokrom pada radikal bebas DPPH memberikan absorbansi
maksimum pada panjang gelombang 517 nm sehingga menimbulkan warna ungu. Warna
DPPH akan berubah dari ungu menjadi kuning seiring penambahan antioksidan yaitu saat
elektron tunggal pada DPPH berpasangan dengan hidrogen dari antioksidan. Hasil
dekolorisasi oleh antioksidan setara dengan jumlah elektron yang tertangkap.
DAFTAR PUSTAKA

Farkas, O., Jakus, J. & Hberger, K., 2004, Quantitative Structure Antioxidant Activity
Relationships of Flavonoid Compounds, Molecules, 9, 1079- 1088.

Middleton E, C Kandaswami & TC Theoharides. 2000. The effects of plant flavonoids on


mammalian cells: implications for inflammation, heart disease, and cancer.
Pharmacological Reviews. 52. 673 751.

Muchtadi D, NS Palupi, M Astawan. 1993. Metabolisme Zat Gizi, Sumber, Fungsi dan
Kebutuhan bagi Tubuh Manusia Jilid II. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Prakash, A., Rigelhof, F., and Miller, E., 2001, Antioxidant Activity:
Medallion Laboratories, Analithycal Progress, 19(2), 1-4.
Winarti, Sri. 2010. Makanan Fungsional. Yogyakarta: Gramedia Pustaka