You are on page 1of 6

BAB IV

ANALISA KASUS

Pasien seorang wanita usia 40 tahun dengan G6P3(+1)A2 datang ke Poliklinik


Kandungan RSUD Sukoharjo pada tanggal 28 September 2017 untuk memeriksakan
kehamilannya, dengan HPMT pada tanggal 5 Desember 2016 dan perkiraan lahir
pada 11 Oktober 2017, serta umur kehamilan 38+1 minggu. Pasien mengeluhkan
kenceng-kenceng sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit, kenceng-kenceng
awalnya jarang makin lama semakin sering, semakin kuat, dengan durasi sekitar 10-
15 detik saat 1 kali kenceng. Dari hasil anamnesis didapatkan tidak keluarnya cairan
dari jalan lahir baik berupa darah atau cairan rembes berwarna kuning, hanya saja
beberapa kali keluar lendir sedikit tidak berbau. Keluhan lain seperti demam, mual,
muntah tidak dirasakan, dan pasien masih merasakan gerakan aktif dari janin.
Pasien mengaku saat ini merupakan kehamilan keenamnya, dimana anak pertama
berusia 15 tahun (laki-laki), berat badan saat lahir 2800 gram, dilahirkan melalui
persalinan dengan ekstraksi vakum. Kehamilan kedua dan ketiga pasien mengalami
keguguran. Sedangkan pada kehamilan keempat pasien melahirkan anak laki-laki
dengan berat badan saat lahir 2850 gram, persalinan dengan ekstraksi vakum, namun
meninggal 1 bulan setelah dilahirkan karena tersedak, kemudian untuk anak kelima
yang kini berusia 2 tahun berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan lahir 3500
gram, dulunya dilahirkan secara caesar atas indikasi panggul pasien yang sempit.
Pada pemeriksaan fisik pasien didapatkan TD : 120/80 mmHg, N : 76 x/menit,
RR: 20 x/menit, suhu 36o C. Pada pemeriksaan Leopold didapatkan Leopold I kepala,
leopold II puki, leopold III bokong, leopold IV belum masuk PAP. Dari pemeriksaan
ginekologis diketahui tinggi fundus uteri 36cm.His (-) dan dari pemeriksaan vaginal
toucher porsio masih menutup dan teraba bokong. DJJ janin 144 x/menit.
Dari pemeriksaan USG didapatkan kesan : Tunggal intra uterine, punggung kiri,
presentasi bokong, DJJ (+), plasenta di corpus, air ketuban lebih, perkiraan berat janin
2700 gr.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik-obstetri, dan pemeriksaan penunjang, maka
pasien ini di diagnosa dengan presentasi bokong dengan polihidramnion, Re SC, dan
riwayat obstetri jelek pada G6P3+1A2 hamil aterm usia kehamilan 38+1 minggu.
Faktor faktor yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang
diantaranya adalah prematuritas, multiparitas, kehamilan kembar, polihidramnion,
hidrosefalus, panggul sempit, dan kelainan bentuk uterus seperti uterus bikornus,
uterus berseptum, kelemahan dinding uterus akibat multiparitas, dan adanya tumor
uterus. Adanya kelainan letak implantasi plasenta ( plasenta previa ) dan panjang tali
pusat yang terlalu pendek juga menyebabkan terjadinya kehamilan sungsang.

Pada pasien ini didapatkan factor-faktor terserbut antara lain:

1. Polihidramnion
Jumlah air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa
bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga

2. Multipara
Rahim ibu yang telah melahirkan banyak anak sudah sangat elastis dan akan
membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan
seterusnya.

3. Panggul sempit
Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi
sungsang (kepala bayi akan sulit berputar kea rah bawah

Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap
ruangan di dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air
ketuban relatif lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa.
Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak
sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan
cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai
yang terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati
ruangan yang lebih luas di daerah fundus uteri sedangkan kepala berada dalam
ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Tetapi dengan adanya gangguan
hubungan akomodasi janin dengan akomodasi uterus akibat faktor faktor tersebut di
atas, maka terjadilah kehamilan letak sungsang.

Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup


bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan,
janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala Sayangnya, beberapa fetus
tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berada dalam posisi sungsang.
Penatalaksanaan pada presentasi bokong dapat dilakukan sejak masa kehamilan,
diantaranya dengan mengubah presentasi bokong menjadi presentasi kepala dengan
cara versi luar, moksibusi dan posisi dada-lutut ibu.Pada kasus dimana versi luar
gagal/janin tetap letak sungsang, maka penatalaksanaan persalinan lebih waspada.

Persalinan pada letak sungsang dapat dilakukan pervaginam atau perabdominal


(seksio sesaria). Pervaginam dilakukan jika tidak ada hambatan pada pembukaan dan
penurunan bokong. Syarat persalinan pervaginam pada letak sungsang: bokong
sempurna (complete) atau bokong murni (frank breech), pelvimetri, klinis yang
adekuat, janin tidak terlalu besar, tidak ada riwayat seksio sesaria dengan indikasi
CPD, kepala fleksi. persalinan pervaginam, umur kehamilan yang cukup, taksiran
berat janin kurang dari 3600 gr serta persetujuan pasien.
Persalinan letak sungsang dengan seksio sesaria sudah tentu merupakan yang
terbaik ditinjau dari janin. Banyak ahli melaporkan bahwa persalinan letak sungsang
pervaginam memberi trauma yang sangat berarti bagi janin. Namun hal ini tidak
berarti bahwa semua letak sungsang harus dilahirkan perabdominam.
Skor Zachtuchni Andros

Nilai
Parameter 0 1 2

Paritas Primi Multi -

Pernah letak sungsang


Tidak 1 kali 2 kali

TBJ >3650 gram 3649-3176 < 3176 g


g

Usia kehamilan > 39 minggu 38 minggu < 37 minggu

Station < -3 -2 -1 atau >

Pembukaan serviks 2 cm 3 cm 4 cm

Persalinan diakhiri dengan seksio sesaria bila:


1. Persalinan pervaginam diperkirakan sukar dan berbahaya (disproporsi feto
pelvic atau skor Zachtuchni Andros 3).
Arti nilai:
3:persalinan perabdominam
4 :evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin, bila nilai
tetap dapat dilahirkan pervaginam.
>5 : dilahirkan pervaginam.
2. Tali pusat menumbung pada primi/multigravida.
3. Didapatkan distosia
4. Umur kehamilan:
Prematur (EFBW=2000 gram)
Post date (umur kehamilan 42 minggu)
5. Nilai anak (hanya sebagai pertimbangan)
Riwayat persalinan yang lalu: riwayat persalinan buruk, milai social janin
tinggi.
6. Komplikasi kehamilan dan persalinan:
Hipertensi dalam persalinan
Ketuban pecah dini
Jika dinilai menggunakan skor Zachtuchni didapatkan skor 4, berdasarkan
pasien ini merupakan pasien Multipara (1), belum pernah hamil letak lintang (0), TBJ
3565 g (1), usia kehamilan 38+1 minggu (1), penurun kepala berada pada station -2
(1), pembukaan serviks menutup (0) total hasil penilaian adalah 4 berarti perlu
dilakukan evaluasi secara cermat dapat dilahirkan secara pervaginam. Namun pada
pasien ini akan dilakukan terminasi secara perabdominal yaitu section caesaria
dikarenakan pasien sebelumnya pernah melakukan operasi Caesar akibat panggul
yang sempit dan memiliki riwayat obstetric jelek yaitu abortus 2x dan lahiran dengan
ekstaksi dengan bantuan alat vakum.

Jadi dari hasil pemeriksaan fisik dan evaluasi awal pada penderita ini

didapatkan hal-hal sebagai berikut:

1. Persentasi bokong dengan polihidramnion

2. Perkiraan berat janin yang masih dalam batas normal (3565 g)

3. Tidak ada kelainan letak pada tali pusat

4. Terdapat riwayat seksio sesaria akibat indikasi CPD

5. Dari pengukuran dengan ZA skor didapatkan skor = 4 (setelah dievaluasi tetap 4)

ZA skore = 4evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin, bila

nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam.

6. Penderita memiliki riwayat obstetric yang buruk


7. His tidak adekuat yaitu 1x/10 menit dengan durasi selama 10 sampai 15 detik

8. Denyut jantung janin baik yaitu 144 x/menit (regular)

Dari hasil pemeriksaan penderita ini maka dipilih persalinan dengan cara
sectio caesaria.