You are on page 1of 5

ADHD part 2

INATENSI

Sering menghindar, tidak suka/ enggan melibatkan


diri dalam tugas yang memerlukan ketekunan
misalnya keterampilan, pekerjaan rumah

Sering menghilangkan benda-benda yang diperlukan


untuk tugas/ kegiatan.

HIPERAKTIF DAN IMPULSIF

Sering tangan dan kakinya tidak bisa diam/ tidak bisa


duduk diam baik disekolah/ dikelas atau dirumah.

Sering meninggalkan tempat duduk.

Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan

Sering kesulitan bermain atau mengikuti kegiatan


pada waktu senggang dengan tenang.

Sering dalam keadaan siap gerak (seperti


digerakkan oleh mesin).

Sering bicara berlebihan.

Sering menjawab pertanyaan tanpa dipikirkan


terlebih dahulu.

IMPULSIV

Sering menjawab pertanyaan tanpa dipikir terlebih


dahulu.
Sering memaksakan diri terhadap orang lain
(misalnya memotong percakapan atau mengganggu
permainan).

Sering sulit menunggu giliran.

DAMPAK PERILAKU ANAK ADHD

Tidak disenangi teman

Dikatakan nakal, usil, tidak pintar dan lain-lain


(labelling pada anak)

Nilai raport disekolah menurun (jelek).

Sering dimarahi oleh guru dan orangtua

Depresi

Pertengkaran orangtua, perceraian


Komorbiditas (saling tumpang tindih antara ADHD dengan
gangguan psikiatri lain)

Depresi pada anak ADHD

Cemas

Gangguan psikiatri lain

ANAK ADHD BILA TIDAK DIKELOLA ATAU TIDAK


DIPERHATIKAN DENGAN BAIK, DAPAT BERLANJUT MENJADI:

Gangguan perilaku menentangbiasanya dimulai


pada usia 10 tahun

Perilaku anti socialbiasanya dimulai pada usia 15


tahun

ALWAYS LOOKING FOR :

Associated Laboratory finding (temuan laboratorium


terkait)

Physical Examination and general medical


(pemeriksaan fisik dan medis umum)

Condition

Specific Age and gender

Prevalence

Course (perjalanan)

Deferential Diagnosis

Diagnostic Criteria
Instrumen screening

SPPAHI (Skala Penilaian Anak Hiperaktif Indonesia)

CONNERS

VANDERBILT

PREVALENCE

Anak laki > 2 5 kali anak perempuan

18% anak ADHD pada sosial ekonomi tinggi, 36%


pada sosial ekonomi menengah dan 45% pada sosial
ekonomi rendah.

Jakarta sebesar 26,2% pada rentang usia 6 - 13


tahun, dengan rasio laki-laki : perempuan = 2 : 1
(Saputro, 2004).

Jogja sebesar 21-23% pada anak SD dengan


instrument yang dipakai adalah SPPAHI

Kausa

sebagai penyebab tunggal belum diketahui

keadaan proses perkembangan otak yang kompleks.


Biasanya ADHD pada EEG terdapat iritatif difuse yang
sangat runcing dan banyak di daerah temporal

Secara umum, faktor-faktor penyebab ADHD:


genetik: orangtua yang ADHD bisa menurun ke
anaknya karena pola asuhnya, faktor prenatal dan
perinatal: misalnya karena trauma lahir, ada jejas di
lobus temporoparietalis dan oksipitalis, proses kimia
di otak: karena adanya neotransmitter (campuran
dopamine dan serotonin), stresor psikososial dalam
keluarga dan lingkungan, struktur otak dan
abnormalitas fungsi otak.

Penanganan multimodal

okupasi terapi (untuk konsentrasi dan mengurangi


hiperaktifnya), terapi wicara, terapi edukasi oleh
guru yang berpendidikan khusus, psikolog anak dan
pemerhati anak yang kompeten dalam, 2008).

Psikofarmaka: matilphanidatebisa tidak tapering


off

Hati-hati tapering off (penurunan sampai pelepasan


obat)