You are on page 1of 13

BAB 4

KRITERIA PENGAWASAN PELAKSANAAN


PEKERJAAN KONSTRUKSI

1. PENDAHULUAN
Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan pada Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Dermaga
..adalah mengawasi dan memberi masukan teknis pada pelaksanaan pembangunan
dermaga dengan volume pekerjaan sebagai berikut:

1. ..

2.

3. .

4. ..

Acuan yang akan digunakan dalam pengawasan pekerjaan ini adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan
konstruksi yang memuat gambar pelaksanaan, daftar pekerjaan, volume pekerjaan, analisa harga
satuan pekerjaan dan jadwal pelaksanaan. Di samping itu, Konsultan juga akan menyusun analisa
harga satuan pembanding untuk mengontrol mutu pekerjaan dari Kontraktor.

Didalam Usulan Teknis ini, Konsultan akan memaparkan mengenai rencana kerja pengawasan, acuan-
acuan pelaksanaan pekerjaan lapangan yang harus diikuti oleh Kontraktor, metodologi evaluasi
pekerjaan konstruksi dan struktur organisasi pengawasan lapangan. Sedangkan mengenai jadwal
pelaksanaan pekerjaan pengawasan akan disesuaikan dengan lamanya jangka waktu pelaksanaan
pekerjaan konstruksi.

2. PEKERJAAN PERSIAPAN
Segera setelah diterbitkannya SPMK, maka Konsultan akan melakukan pekerjaan persiapan yang
meliputi:

1. Penyediaan kantor bagi pengawas lapangan di lokasi pekerjaan beserta fasilitasnya antara
lain: komputer, printer, telepon, kamera, dll

2. Mempelajari gambar-gambar rencana

3. Mempelajari Rencana Anggaran Biaya (RAB), analisa harga satuan pekerjaan dan daftar harga
satuan

4. Mempersiapkan blanko-blanko pengawasan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan

5. Melakukan koordinasi dengan pengelola teknis agar terjadi pembagian porsi kontrol yang
sinergis di lapangan

3. PENGAWASAN PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1. Mobilisasi Peralatan

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 1


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Untuk melaksanakan pekerjaan ini Kontraktor harus mempersiapkan peralatan berat diantaranya Crane
pancang, Alat Pancang, Diesel hammer, Ponton Pancang, Ponton Transport, Dumptruck, Genset, Mesin
Las, Beton Molen, Vibrator Beton, Compresor, Pompa Air, dll.

Sebelum peralatan ini mulai digunakan, Konsultan Pengawas akan terlebih dahulu melakukan uji
kelayakan dari peralatan tersebut. Disamping itu Konsultan akan meninjau stabilitas hidraulik khusus
untuk peralatan statis terapung yaitu ponton pancang. Peralatan yang tidak memenuhi syarat akan
ditolak dan Kontraktor harus menyediakan peralatan pengganti dengan kualitas yang baik.

1.2. Persiapan Umum

Persiapan Lapangan

Kontraktor harus melakukan pekerjaan pembersihan lahan untuk mempersiapkan tempat kerja,
penumpukan bahan-bahan, bangunan gudang, Direksi Keet dan lain-lain. Pekerjaan ini meliputi
penebangan pohon dan alang-alang, pengupasan lapisan tanah bagian atas bila diperlukan,
pengurugan tanah bila diperlukan dan pembersihan areal perairan.

Penerangan, Pagar dan Tanda-tanda Pengaman

Untuk menjaga keamanan dan keselamatan kerja selama pelaksanaan, maka Kontraktor harus
menyediakan penerangan di daerah kerja, membuat pagar sementara di sekeliling lokasi kerja dan
menyediakan tanda-tanda pengaman yang perlu.

Bangunan Sementara

Untuk menjamin keamanan bahan dan perlengkapan lain yang dianggap perlu Kontraktor harus
menyediakan gudang penyimpanan yang tertutup dan aman dari resiko hilang atau rusak. Disamping
itu Kontraktor juga harus menyediakan barak-barak untuk pekerja.

1.3. Penentuan Posisi Tapak Bangunan

Konsultan akan mengawasi Kontraktor dalam melakukan pengukuran kembali untuk menentukan
posisi dan ketinggian rencana bangunan di lapangan. Pengukuran ini harus disesuaikan dengan
referensi Bench Mark atau titik tetap di lapangan seperti ditunjukkan dalam gambar atau atas petunjuk
Direksi. Pengukuran ini akan dilakukan dengan peralatan yang mempunyai presisi tinggi dengan
metode triangulasi dan hasilnya harus disampaikan ke Direksi untuk mendapatkan persetujuan.

Semua batas ketinggian (elevasi) dinyatakan dalam satuan Matrik terhadap Low Water Spring (LWS).
Kontraktor harus membuat Bowplank dan memasang patok-patok pembantu sebagai pedoman
pelaksanaan pekerjaan untuk menjamin ketelitian bentuk, posisi, arah elevasi dan lain-lain, yang harus
dipelihara keutuhan letak dan ketinggiannya selama pekerjaan berlangsung.

Pekerjaan pengukuran bathimetri juga akan dilaksanakan untuk mendapatkan gambaran tentang
konfigurasi dan kedalaman sungai di lokasi proyek di mana dermaga tersebut akan dibangun, hal ini
dimaksudkan untuk menentukan posisi dermaga serta untuk melihat rintangan-rintangan navigasi bila
ada. Luas daerah yang akan diukur hanya sekitar rencana dermaga meliputi lahan seluas sekitar 20
ha.

Pekerjaan pengukuran bathimetri dilakukan dengan menggunaka n peralatan echo sounder serta
kertas pencatat, sebagai alat bantu. Pemborong menyediakan juga alat-alat sperti Sectant, Theodolit,
Waterpass dan lain-lain peralatan yang dianggap perlu oleh Direksi untuk mendapatkan hasil yang
teliti. Posisi sounding ditetapkan dengan cara snellius atau cara lain yang dianggap memenuhi syarat
oleh Direksi dan semua kedalaman atau ketinggian diukur dari LWS (Low Water Spring). Jarak interval
lajur sounding maksimum 25 m, yang dimaksud untuk mendapatkan ketelitian hasil sounding.
Pelaksanaan sounding dilakukan dengan metode pulang pergi dari lajur-lajur sounding diusahakan
tegak lurus garis pantai.

Berdasarkan hasil sounding, pemborong harus membuat peta yang menyajikan keadaan penting
antara lain:

a. Garis kedalaman dan ketinggian terhadap 0,00 m LWS.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 2


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

b. Daerah-daerah dangkal.
c. Daerah-daerah karang yang tenggelam/timbul.
d. Rintangan-rintangan navigasi.
Hasil pekerjaan pengukuran hidrografi ini diserahkan kepada Direksi.

Di samping itu Kontraktor harus mengadakan pengamatan pasang surut selama pelaksanaan
pekerjaan sounding berlangsung. Pengamatan pasang surut dilakukan dengan memasang palem dan
diamati berkala secara manual serta ditempatkan pada yang aman.

Adapun peralatan yang digunakan dalam hal ini antara lain:

2 buah theodolit-wild T 1.
1 buah level-wild NAK2.
2 buah leveling rods, panjang 3 dan 5 M dibuat dari aluminium atau kayu.
2 buah staft buble-adjustable types.
1 buah optical square (prism), 2 way
1 buah 300 M tag line, 6 MM diameter polypropylene dan 1 M diameter reel.
1 buah 50 M sounding line and lead weight.

1.4. Peralatan Laboratorium

Alat-alat yang harus dipersiapkan oleh Kontraktor terdiri dari :

1 buah concerette hammer test.


1 set ayakan berukuran , no. 4, 10, 40 dan 200
1 timbangan neraca.
3 set alat pembuatan kubus beton.
2 alat percobaan slump test.

1.5. Material dan Penyimpanannya

Material yang akan dipakai dalam pekerjaan diusahakan semaksimal mungkin menggunakan produksi
dalam negeri yang memenuhi persyaratan teknis yang ditentukan. Di samping itu, Kontraktor harus
memilih sumber material dengan mempertimbangkan kualitas dan jarak pengambilan. Apabila terdapat
beberapa alternatif material dengan kualitas yang relatif sama maka Kontraktor harus mendahulukan
tempat pengambilan terdekat, hal ini dimaksudkan untuk menghemat waktu pelaksanaan dan juga
menghindari dampak sosial negatif yang mungkin timbul.

Penyimpanan material harus dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing


material, tetapi secara umum Kontraktor akan menyediakan gudang yang terlindung dari panas, air
hujan maupun air pasang.

Bahan Agregat Beton

Agregat halus atau pasir untuk pekerjaan beton dan adukan harus berbutir keras, bersih dari kotoran-
kotoran, zat-zat kimia organik dan unorganik dan yang dapat merugikan mutu beton ataupun baja
tulangan dan bersudut tajam.

Prosentase berat faksi butiran yang lebih halus dari 0,074 mm, kotoran atau lumpur tidak boleh lebih
dari 5% terhadap berat keseluruhan, kecuali ketentuan di atas, semua ketentuan mengenai agregrat
halus beton (pasir) pada PBI 1991 harus dipenuhi.

Agregat kasar adalah batu pecah (split) dengan ukuran maximum 3 cm yang mempunyai bidang pecah
minimal 4 buah dan mempunyai bentuk lebih kurang seperti kubus.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 3


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Batu pecah diperoleh dari batu yang keras sesuai dengan persyaratan PBI, bersih serta bebas dari
kotoran-kotoran yang dapat mempengaruhi kekuatan dan mutu beton maupun baja.

Bilamana diperlukan Kontraktor akan melakukan percampuran-percampuran butir untuk memperoleh


pembagian butir (grain size distribution) seperti yang disyaratkan.

Baja Tulangan

Besi untuk tulangan beton yang akan digunakan dalam pekerjaan ini adalah baja dengan mutu U-24
(minimum yield-stress 2400 kg/cm 2) dan U-37 (minimum yield-stress 3700 kg/cm 2) dengan diameter
pengenal seperti ditetapkan pada gambar kerja.

Untuk baja tulangan dengan diameter lebih besar dari atau sama dengan 12 mm, dipilih dari jenis baja
ulir (deformed bar) U-37 sedangkan diameter yang lebih kecil dapat dipakai baja polos U-24.

Setiap pengiriman sejumlah besi tulangan ke proyek harus dalam keadaan baru dan disertai dengan
sertifikat dari pabrik pembuat dan bila Direksi memandang perlu, contoh akan diuji ke laboratorium
atas beban Kontraktor. Jumlahnya akan ditentukan kemudian sesuai kebutuhan.

Penyimpanan atau penumpukan harus sedemikian sehingga baja tulangan terhindar dari pengotoran-
pengotoran minyak, udara lembab lingkungan yang dapat menyebabkan baja berkarat dan lain-lain
pengaruh luar yang mempengaruhi mutunya. Sebaiknya baja terlindung atau ditutup dengan terpal-
terpal sebelum dan setelah pembengkokan.

Baja tulangan ditumpuk di atas balok-balok kayu agar tidak langsung berhubungan dengan tanah.

Semen

Jenis semen yang dipakai untuk beton dan adukan dalam pekerjaan ini adalah portland semen type I
yang memenuhi ketentuan dan syarat-syarat dalam standar SII 0013-81.

Semen yang didatangkan ke proyek harus dalam keadaan utuh dan baru, kantong-kantong
pembungkus harus utuh dan tidak ada sobekan-sobekan.

Penyimpanan semen harus dilakukan dalam gudang tertutup dan terlindung dari pengaruh hujan dan
lembab-udara dan tanah. Semen ditumpuk di dalamnya di atas lantai panggung kayu minimal 30 cm di
atas tanah. Tinggi penumpukkan maksimum 15 lapis. Semen yang kantongnya pecah tidak boleh
dipakai dan harus disingkirkan keluar proyek.

Semen yang dipakai selalu diperiksa oleh Direksi sebelumnya. Semen yang mulai mengeras harus
segera dikeluarkan dari proyek. Urutan pemakaian semen harus mengikuti urutan tibanya semen
tersebut di lapangan sehingga untuk itu pemborong diharuskan menumpuk semen berkelompok
menurut urutannya tiba di lapangan.

Semen yang umurnya lebih dari tiga bulan sejak keluarnya dari pabrik tidak diperkenankan dipakai
untuk pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya struktural.

Bilamana Direksi memandang perlu, Kontraktor akan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk
memeriksa dan melihat apakah mutu semen memenuhi syarat atas biaya pemborong.

Bekisting

Kayu yang dipakai untuk cetakan beton adalah kayu mutu klas II bila menurut kebutuhan PPKI 1970
atau kayu lapis (playwood) ataupun kayu lokal yang memenuhi persyaratan.

Ukuran tebal papan bekisting minimal 3 cm dan toleransi perbedaan tebal minimal adalah 2 mm. Bila
untuk papan bekisting dipakai playwood tebal minimum 16 mm. Papan bekisting harus kering udara
agar tidak menyusut pada waktu dipakai.

Apabila kayu yang akan digunakan sesuai gambar, jenis dan ukurannya tidak dapat diperoleh di
pasaran, maka pemborong boleh mengajukan usul perubahan kepada Direksi dengan jenis dan ukuran

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 4


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

kayu yang berbeda namun mutunya minimal sama atau lebih tinggi dari yang disyaratkan. Direksi akan
menilai dan memberikan persetujuan secara tertulis.

Untuk konstruksi gelagar/rusuk-rusuk penguat dipakai kayu sejenis atau kayu yang lebih baik dengan
ukuran yang memadai sesuai perhitungan. Bilamana akan dipergunakan dolken, diameter minimal
harus 12 cm, lurus, tidak banyak cacat dan diameter terkecil pada salah satu ujungnya harus lebih
besar dari 10 cm.

Setelah umur beton dilewati, maka harus dilakukan pembongkaran cetakan beton (bekisting) serta
memotong stek tulangan yang muncul kepermukaan beton dan menutupnya dengan adukan beton.

Butiran material urugan harus cukup keras dan tidak mudah lapuk, serta mempunyai berat jenis
minimal 1,7 ton/m3 dan specific gravity minimal (Gs) adalah rata-rata 2,5.

1.6. Kode, Standard, Sertifikat dan Literatur dari Pabrik

Kontraktor harus menyediakan semua standard bahan yang digunakan di lapangan antara lain:
fotocopy persyaratan, standard bahan, katalog, rekomendasi dan sertifikat dari pabrik dan informasi
lainnya yang diperlukan untuk semua material yang dipergunakan dalam proyek ini. Untuk material
pasang, maka pemasangan barang-barang tersebut akan mengikuti prosedur yang direkomendasikan
oleh pabrik.

1.7. Air Kerja

Air yang dipakai untuk adukan beton dan adukan spesi harus bersih, bebas zat-zat organik atau
unorganik yang terkandung dalam air, yang dapat mempengaruhi kekuatan dan keawetan dari beton.
Mutu air tersebut sedapat mungkin bermutu air minum.

Kontraktor harus menyediakan tempat-tempat penampungan air kerja di lapangan untuk menjamin
kelancaran kerja.

Untuk memenuhi kebutuhan air kerja, apabila dipandang perlu pemborong diperbolehkan membuat
sumur air bersih dalam daerah kerja pelabuhan sepanjang memenuhi persyaratan, atas beban biaya
pihak pemborong.

4. PENGAWASAN PEKERJAAN BETON BERTULANG

1.8. Pekerjaan Bekisting dan Penyangga

Untuk mendapatkan bentuk penampang dan ukuran dari beton seperti dalam gambar kerja
(konstruksi) maka bekisting harus dikerjakan dengan baik, lurus, rata, teliti dan kokoh. Bekisting untuk
pekerjaan beton pada lantai, balok lantai, poer dan lain sebagainya dapat memakai kayu atau pelat
baja besi. Pekerjaan bekisting akan diatur sehingga hubungan-hubungan antara papan bekisting
terjamin rapat dan adukan tidak akan merembes ke luar.

Konstruksi dari bekisting, seperti sokong-sokongan perancah dan lain-lain yang memerlukan
perhitungan akan diajukan ke Direksi untuk disetujui. Diameter minimum dolken yang akan digunakan
adalah 15 cm dan jarak antara balok pendukung papan bekisting maximum 40 cm.

Sebelum pengecoran dimulai, bagian dalam dari bekisting akan dibersihkan dari kotoran dan air
menggunakan kompresor agar mendapatkan mutu beton yang diharapkan.

Pembongkaran bekisting beton akan dilakukan setelah waktu pengerasan menurut PBI 1991 dipenuhi
dan pembongkarannya akan dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak merusak beton yang sudah
mengeras, pembongkaran bekisting ini dilakukan setelah mendapat persetujuan Direksi. Khusus untuk
pekerjaan balok, bekisting akan dibuka bila lantai di atasnya sudah selesai dicor dan telah mengeras.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 5


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

1.9. Pekerjaan Baja Tulangan

Gambar rencana kerja untuk baja tulangan, meliputi rencana pemotongan,pembengkokan sambungan,
penghentian, dibuat oleh kontraktor dan diajukan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan
terlebih dahulu sebelum pelaksanaan. Semua pekerjaan pembengkokan tulangan akan dilakukan
sebelum penyetelan/penempatan.

Tulangan akan ditempatkan dengan teliti pada posisi sesuai rencana dan harus dijaga jarak antara
tulangan dengan bekisting untuk mendapatkan tebal selimut (beton deking) minimal 8 cm untuk
bagian beton yang langsung berhubungan dengan air laut ataupun yang berhadapan dengan air/hawa
laut sedangkan bagian lainnya minimum 5 cm.

Sebelum melakukan pengecoran, semua tulangan akan terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan
penelitian tempatnya, kebersihan dan untuk mendapatkan perbaikan bilamana perlu. Tulangan yang
berkarat harus segera dibersihkan atau diganti bilamana dianggap direksi akan melemahkan
konstruksi.

Khusus untuk tebal selimut beton, dudukan harus cukup kuat dan jaraknya sedemikian sehingga
tulangan tidak melengkung dan beton penutup tidak kurang dari yang disyaratkan. Toleransi yang
diperkenankan untuk penyimpangan terhadap bidang horizontalnya adalah + 5 mm.

1.10. Pekerjaan Percobaan Campuran Beton dan Adukan Beton

Pekerjaan beton dalam pelaksanaannya harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang termuat dalam
PBI 1991, baik mengenai material koral, pasir semen dan baja maupun pelaksanaannya.

1. Mutu beton
Untuk beton bertulang kekuatan yang disyaratkan dalam pekerjaan ini adalah berdasarkan
kekuatan karakteristik (K).

Kekuatan karakteristik beton 225 kg/cm 2 dengan pemakaian PC minimum 400 kg untuk tiap 1
m3 beton, faktor air semen maksimum 0,45 dan slump beton maksimum 7 cm. Untuk ini
pemborong harus membuat mixed design dengan persetujuan Direksi.

2. Percobaan Campuran (Mixed Design)


Sebelum pelaksanaan pembetonan, Kontraktor harus mengadakan percobaan campuran (Mixed
Design) untuk membuat mutu karakteristik beton seperti yang disyaratkan dan untuk
mengetahui komposisi campuran beton (pasir, semen dan batu pecah).

3. Slump yang diperkenankan adalah maximum 7 cm.


Dalam menentukan atau untuk mendapatkan mutu beton sesuai dengan karakteristik yang
sudah ditentukan, harus dilakukan dengan menggunakan ukuran yang sudah tertentu, baik
untuk material betonnya maupun ukuran penggunaan air (ember tertentu) yang mana ukuran
tersebut nantinya akan digunakan selama pelaksanaan konstruksi (seperti gambar).

Percobaan ini dilakukan sampai mendapatkan mutu beton yang sesuai dengan karakteristik yang
sudah ditentukan yaitu:

K > K Syarat (K=225)


Pekerjaan konstruksi pengecoran/beton boleh dilaksanakan, tetapi kalau:

K<K syarat (K=225)


Maka percobaan ini harus terus dilakukan dengan komposisi lain, sampai mendapatkan mutu
beton sesuai dengan yang disyaratkan.

Bilamana kekuatan karakteristik telah dicapai dengan komposisi agregat tersebut di atas dan
telah disetujui oleh Direksi harus digunakan dalam pemakaian selanjutnya.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 6


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Jumlah sample akan disediakan untuk tiap seri pengetesan atau percobaan adalah 20 (dua
puluh) buah dan laboratorium tempat percobaan akan ditentukan Direksi atau dengan
persetujuan Direksi.

1.11. Pekerjaan Pengecoran Beton

Untuk mendapatkan campuran beton yang baik dan merata maka akan digunakan mesin pengaduk
dengan kapasitas yang cukup untuk melayani volume pekerjaan yang direncanakan. Mesin pengaduk
harus dibersihkan dengan air dan dihindarkan dari minyak sebelum dipakai. Setiap campuran beton
harus diaduk sehingga merata/homogen dan waktu pengadukan minimum adalah 2 menit untuk setiap
kali pencampuran. Tulangan, jarak, bekisting dan lain-lain, harus dijaga dengan baik sebelum dan
selama pelaksanaan pengecoran.

Segera setelah beton dituangkan kedalam bekisting, adukan harus dipadatkan dengan concrete
vibrator yang jumlahnya harus mencukupi. Penggetaran dengan concrete vibrator dapat dibantu
dengan penyodokan, apabila dengan concrete vibrator tidak mungkin dilakukan dan harus
mendapatkan persetujuan dari Direksi terlebih dahulu.

Pengecoran akan dilakukan terus menerus dan hanya boleh berhenti di tempat-tempat yang
diperhitungkan aman dan telah direncanakan terlebih dahulu dan sebelumnya mendapatkan
persetujuan dari Direksi. Penghentian maksimum yang diperbolehkan adalah 2 jam. Untuk
menyambung suatu pengecoran, pengecoran sebelumnya harus dibersihkan permukaannya dan dibuat
kasar dengan sikat baja agar sempurna sambungannya dan sebelum adukan beton dituangkan,
permukaan yang akan disambung harus disiram dengan air semen dengan campuran 1 PC : 0,45 air.

Selama waktu pengerasan beton harus dilindungi dengan air bersih atau ditutup dengan karung-
karung yang senantiasa dibasahi dengan air, terus menerus selama paling tidak 10 hari setelah
pengecoran.

Apabila cuaca diragukan, sedangkan pengawas atau Direksi menghendaki agar pengecoran tetap
harus berlangsung maka akan digunakan alat pelindung atau terpal yang cukup untuk melindungi
tempat yang sudah/akan dicor. Pengecoran tidak akan dilakukan selama hujan lebat atau ketika suhu
udara naik diatas 320C.

Untuk setiap 5 m3 pengecoran, Kontraktor akan mengambil contoh (sample) untuk pemeriksaan
kekuatan tekan kubus, pemeriksaan slump test, dengan prosedur sebagaimana ditentukan dalam PBI
1991.

Slump yang diperkenankan dalam pelaksanaan adalah antara 7 cm dan faktor air semen maximum
0,45. Pengambilan-pengambilan contoh di atas sesuai petunjuk Direksi. Kubus-kubus dijaga agar dapat
mengeras dengan baik.

Kubus beton yang diambil selama pengecoran akan diuji kekuatan tekan karakteristiknya di
laboratorium yang dapat disetujui Direksi dan hasilnya dilaporkan secara tertulis kepada Direksi untuk
dievaluasi. Bilamana hasil pengujian menunjukkan mutu beton kurang dari K yang disyaratkan
(K=300) maka Kontraktor akan melakukan perkuatan/penyempurnaan konstruksi.

1.12. Pekerjaan Balok dan Lantai Beton

Mutu beton yang disyaratkan untuk pekerjaan balok dan lantai adalah K 225. Tulangan yang
direncanakan untuk pekerjaan ini adalah besi beton mutu U-24. Bilamana pemborong hendak memakai
baja tulangan lebih tinggi dari yang disyaratkan, pemborong harus mengajukan pada Direksi untuk
persetujuan. Konstruksi bekisting harus cukup kokoh agar tidak terjadi perubahan-perubahan bentuk
pada waktu pengecoran maupun masa pengerasan.

Pemborong harus mengajukan rencana konstruksi bekisting kepada Direksi untuk diperiksa dan
disetujui. Ukuran penopang jadi dari beton tidak boleh kurang dari apa yang disyaratkan dalam
gambar kerja dan penyimpangan dan tidak boleh lebih 1% dari ukuran yang bersangkutan.

Selimut beton yang disyaratkan untuk pekerjaan konstruksi yang berhubungan langsung dengan air
laut harus memakai selimut beton setebal 8 cm, sedang konstruksi yang tidak berhubungan langsung
dengan air laut cukup setebal 5 cm.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 7


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Dalam pelaksanaan pekerjaan ini Kontraktor harus mengikuti persyaratan-persyaratan sesuai


pekerjaan beton bertulang dan ketentuan-ketentuan lain dalam PBI 1991.

5. PENGAWASAN PEKERJAAN TIANG PANCANG

1.13. Lingkup Pekerjaan

Yang termasuk pada pekerjaan tiang pancang ini adalah:

Pengadaan tiang pancang beton (WIKA Pile)


Pekerjaan pemancangan tiang pancang
Pekerjaan loading test tiang pancang

1.14. Pengadaan Tiang Pancang

Sebagai tiang pancang dipakai dari tiang pancang beton pracetak diameter 35 cm tebal 8 cm yang
memenuhi syarat-syarat K 600.

Kualitas dan tulangan yang disiapkan adalah baja ulir dengan fy = 400 MPa untuk diameter lebih besar
dari 12 mm dan fy = 240 MPa untuk diameter lebih kecil dari 12 mm.

1.15. Alat Pancang / Pile Driving Hammer

Kontraktor harus menyediakan peralatan untuk pemancangan sedemikian lengkap sehingga semua
persyaratan teknis yang diminta dapat dipenuhi. Palu yang dipakai untuk tiang adalah palu jenis Diesel
Hammer dengan berat minimum dari palu 2500 kg (Kobe tipe 25).

Alat pancang harus dilengkapi dengan ladder yang cukup panjang dan dapat digerakan secara hydrolik
atau mekanis, untuk menjamin pemancangan tiang-tiang tegak dan tiang miring dapat dilaksanakan.

1.16. Pelaksanaan Pemancangan Tiang Pancang

Posisi pemancangan akan ditentukan dari hasil pengukuran ulang yang dilakukan pada tahap
persiapan. Pemancangan akan dilakukan dengan alat pancang yang dilengkapi dengan pembimbing
(Leader) dan alat-alat penumpu sehingga tiang-tiang dapat dipancang dengan tepat dan aman.

Pemancangan tiang harus dikerjakan secara terus menerus sampai mencapai kedalaman atau daya
dukung yang telah disyaratkan. Jika pada waktu pemancangan didapati lapisan tanah keras pada
kedalaman yang berbeda dengan yang disyaratkan pada gambar kerja, sehingga pemancangan tidak
mungkin dilanjutkan, Kontraktor akan memberikan laporan pada Direksi dan Perencana. Pemancangan
akan diteruskan/dihentikan sesuai dengan keputusan dari Direksi.

Pemborong harus membuat perhitungan daya dukung tiang pancang berdasarkan hasil pemancangan
(Kalendering) yang tergantung dari jenis alat pancang dan ukuran tiang. Salah satu rumus yang
digunakan untuk mengevaluasi daya dukung tiang pancang tekan antara lain adalah:

e h Wr h Wr n Wp 1
2

R x x
S K Wr Wp SF
2
di mana:

R = daya dukung tiang pancang (ton)


Wr = berat alat pukul (ton)
eh = efficiency = 85%
Wp = berat tiang pancang (ton)

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 8


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

S = penetrasi pada pukulan terakhir = 0,25 cm/pukulan


K = k1 + k2 + k3 = perpendekan elastis total dari kepala tiang pancang, yang
diperkirakan = 0,5 cm
n = koefisien restitusi = 0,5 (baik untuk tiang beton maupun tiang pipa baja)
SF = angka keamanan (= 4)
Perkiraan kedalaman tiang pancang berdasarkan hasil soil test adalah sesuai dengan gambar kerja.
Meskipun demikian apabila dari hasil kalendering maupun loading test kedalaman tersebut tidak
memenuhi daya dukung yang dijinkan maka tiang harus diperdalam lagi sampai mencapai daya
dukung yang dijinkan.

Walaupun posisi dermaga berada pada jarak yang relatif dekat dengan daratan, namun dikarenakan
perbedaan tinggi pasang surut maka dalam pelaksanaan pemancangan harus menggunakan ponton.
Adapun alat yang digunakan adalah :

1. Ponton beserta alat pancang yang terdiri dari :


Pile driver
Diesel Hammer
Ponton
Winch
Generator

2. Ponton transport

3. Crawler crane

4. Tug boat

5. Anchor boat

Dari tempat penyimpanan bahan, tiang pancang diangkut dengan trolley ke ponton transport menuju
lokasi titik pemancangan, dari ponton transport dengan menggunakan crawler crane yang diletakan
diatas ponton tiang pancang tersebut dipindahkan ke ponton yang telah dilengkapi dengan alat
pancang Diesel Hammer.

1.17. Panjang Tiang Pancang

Panjang pemancangan akan dilakukan dengan mengacu pada gambar rencana. Tiang pancang pada
dasarnya dipancang sampai mencapai final set sesuai dengan persyaratan daya dukung berdasarkan
Dynamic Formula dibandingkan dengan daya dukung yang diperoleh berdasarkan data-data
karakteristik tanah. Apabila final set telah dicapai sebelum panjang tiang/kedalaman rencana, maka
bagian tiang berlebih (diatas cut off level) harus dipotong, pemotongan berlebihan tiang ini harus
mendapat persetujuan Direksi.

Apabila seluruh panjang tiang rencana telah terpancang, tetapi final set belum terpenuhi, maka tiang
pancang tersebut akan disambung dengan meminta persetujuan Direksi.

1.18. Catatan Selama Pekerjaan

Kontraktor harus membuat catatan untuk masing-masing titik pancang yang berisi:

Ukuran tiang pancang.


Elevasi dasar tiang pancang dan elevasi tanah asli.
Tanggal/jam dimulainya dan selesainya pemancangan.
Pencatatan kalendering.

Tiang yang digunakan sebagai pile driving test kalendering dicatat:

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 9


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Tiap 50 cm, dilakukan pada kedalaman 4 m - 6 m sebelum tanah keras yang


direncanakan.
Tiap 25 cm, dilakukan pada kedalaman 2 m - 4 m sebelum tanah keras yang
direncanakan.
Tiap 10 cm, dilakukan pada kedalaman 0 m - 2 m sebelum tanah keras yang
direncanakan.
Tiang yang tidak digunakan sebagai pile driving test kalendering dicatat:

Tiap 10 cm, dilakukan pada kedalaman 0 m - 2 m sebelum tanah keras yang


direncanakan.
Pemancangan pile driving test dan tiang lainnya dihentikan setelah kalenderingnya memenuhi syarat
(daya dukung tiang memenuhi yang disyaratkan, yang dapat dihitung dengan rumus dinamis).

Laporan yang dibuat harus mencakup apa yang tercantum dalam ASTM D.1143-74 dan ASTM D.3689-
78.

1.19. Loading Test

Loading test yang dilakukan merupakan aksial loading test untuk tiang tekan dengan prosedur
percobaan pembebanan yang memenuhi syarat-syarat ASTM D-1143-81. Syarat-syarat pelaksanaan
loading test mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Prosedur pembebanan
Resultan beban-beban percobaan harus segaris dengan sumbu memanjang tiang. Beban
percobaan total harus sebesar 200% dari design load, yaitu:
Pembebanan dilakukan menurut prosedur "Slow Maintained Load Test" dengan cyclic
loading berdasarkan ASTM D.1143-81. Apabila digunakan sistem pembebanan dengan
tiang angkur, maka tidak dijinkan menggunakan used pile untuk tiang angkur.
b. Prosedur pembacaan displacement tiang
Di bawah tiap beban termasuk beban nol harus dilakukan pembacaan awal dan
pembacaan akhir. Jika terjadi failure, pembacaan dilakukan segera sebelum pengurangan
beban pertama dilakukan. Selama pengurangan beban, pembacaan dilakukan pada setiap
interval tidak lebih dari 20 menit.
c. Jack hidrolis beserta sistemnya yang terdiri dari ramp hidrolis, coupling, pompa hidrolis
dan pressure gauge sebelum digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu, sehingga
pembebanan dapat dikontrol dalam batas 5% dari pada beban total.
d. Semua alat ukur seperti dial gauge, pressure gauge harus dikalibrasi oleh instansi/badan
pemerintah yang berwenang. Sertifikat kalibrasi hanya berlaku untuk satu proyek dan
untuk waktu satu bulan.
e. Laporan mengenai hasil loading test harus mencakup hal-hal sebagai berikut:
Umum
Alat instalasi tiang
Data pelaksanaan pemancangan tiang percobaan termasuk data tiang
Pelaksanaan dan data testing
Hasil loading test (berupa tabel & grafik)
Data hasil penyelidikan tanah yang terdekat dengan tiang percobaan
Lokasi tiang percobaan secara keseluruhan
Sertifikat dan data pengetesan alat-alat ukur.
Displacement akhir yang merupakan permanent set (displacement total dikurangi
perpendekan/perpanjangan elastis dari 1 tiang pancang) adalah maksimum 0,25 inch.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 10


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

1.20. Percobaan Kedalaman Tiang (Pile Driving Test)

Ukuran panjang tiang seperti tertulis dalam gambar kerja adalah ukuran normal.

Lokasi dan jumlah tiang yang akan ditest adalah sesuai dengan lokasi titik Fondasi, jumlah tiang yang
ditest adalah tiang yang lokasinya akan ditentukan kemudian.

Tiang-tiang yang telah ditest akan tetap dipakai sebagai salah satu dari tiang Fondasi.

Sebagai akibat adanya percobaan ini, akan diperhitungkan pekerjaan tambah kurang untuk perubahan
panjang tiang pancang antara yang tercantum dalam gambar kerja dengan kenyataan yang
dilaksanakan.

1.21. Pekerjaan Pengelasan

Lingkup pekerjaan pengelasan meliputi pengelasan untuk sambungan tiang pancang PC-pile serta lain-
lain pekerjaan pengelasan yang diperlukan.

Semua pekerjaan las hanya boleh dikerjakan oleh tukang-tukang las yang ahli dengan kualifikasi 3.G
dan berpengalaman minimal 2 tahun termasuk 2 proyek/pekerjaan berturut-turut sebelum bekerja
pada pekerjaan dimaksud. Konsultan Pengawas akan memeriksa daftar yang diberikan Kontraktor
kepada Direksi mengenai tukang-tukang las yang dipekerjakan, nama-nama mereka, pengalaman
kerja dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan.

Tempat pembuatan las lengkung, kelengkapan- kelengkapannya yang memenuhi persyaratan B.S
638 atau JIS. C.9301. Electrode-electrode yang akan dipakai adalah yang memenuhi persyaratan dari
D.4301, D.4311, D.4313 dan J Z.3312 atau B.S 639. Contoh-contoh electrode pengetesannya harus
disampaikan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuannya. Cara penggunaan electrode tersebut
akan diperhatikan sesuai dengan brosur dan apabila perlu memakai penahan terhadap angin keras.

Bahan-bahan baja yang perlu dipotong akan dikerjakan secara akurat dengan mengunakan oxy
acetylene. Pemotongan bahan-bahan yang panjang dan yang bengkok harus dilakukan dengan hati-
hati agar tidak terjadi perubahan bentuk lebih lanjut.

Penyambungan tiang-tiang pancang yang dilakukan dengan las harus dilakukan dengan cara
pengelasan manual seperti ditentukan dalam JIS Z.3605 dan sesuai dengan gambar kerja. Sebelum
pelaksanaan, seluruh permukaan yang akan dilas dan daerah-daerah di sekitamya harus dibersihkan
dari karat, cat, bahan-bahan sisa (slag) serta kotoran-kotoran lainnya dan harus dikeringkan dahulu.
Sebelum pengelasan berlangsung, bahan-bahan yang akan dilas harus dipegang kuat-kuat dalam
posisi yang benar. Pengelasan pada las tumpul harus dihentikan dengan hati-hati dan teliti serta celah
antara bagian-bagian yang dilas harus dibuat tepat seperti dalam gambar. Selama pengelasan,
pemberian bahan las dan kecepatannya harus sedemikian rupa sehingga las berbentuk V dan
seluruhnya terisi dengan bahan-bahan isi. Kekurangan bahan isi untuk las harus dicegah dan
pelaksanaan harus hati-hati, seperti masuknya slag ke dalam las, ketidaksempurnaan creter dan retak-
retak. Kontraktor akan bertanggung jawab untuk memperbaiki las yang tidak memenuhi syarat seperti
keropos, tumpang tindih (overlap), miring kelebihan, atau kurang tebalnya "throat" atau ukuran.
Pengelasan tidak akan dilakukan pada waktu hujan. Pekerjaan las dalam cuaca buruk hanya dapat
dilakukan atas persetujuan Direksi, jika telah diambil langkah-langkah pengamanan terhadap pengaruh
cuaca buruk tersebut.

Bagian yang telah selesai dilas harus bersih dan goresan-goresan, lekukan-lekukan, sisa-sisa bahan las
dan cacat-cacat lain yang ada selama pelaksanaan. Apabila menurut pandangan Direksi mempunyai
kesalahan-kesalahan geometrik yang akan menimbulkan konsentrasi tegangan atau "notch effect"
karena tidak tepatnya letak las, Kontraktor harus memperbaiki dengan mengkikir. Perbaikan dengan
mengulangi las di atasnya tidak dijinkan. Jika untuk perbaikan kesalahan tersebut di atas dianggap
perlu menambah las, maka pelaksanaannya harus mendapat persetujuan Direksi.

Pekerjaan las harus diperiksa atau disaksikan oleh Direksi dan sesuai dengan persyaratan dalam JIS.
Z.3146. Pemeriksaan tidak hanya terbatas pada pemeriksaan visual saja tetapi mencakup pula test
radiographik (ultrasonic). Pemeriksaan visual mencakup pengecekan pemasangan sambungan yang
dilas mengenai, apakah sudah lurus dan mengikuti persyaratan pekerjaan las mengenai sudut-sudut
lekukan, permukaan-permukaan bagian yang dilas dan bagian-bagian yang terbuka. Direksi dapat

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 11


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

memerintahkan kepada Pemborong apabila perlu pada setiap sambungan las agar diperiksa dan ditest
dengan ultrasonic atau radiographik. Dalam hal ini Pemborong harus mempersiapkan segala
sesuatunya agar test dapat dilaksanakan.

1.22. Penyimpanan Tiang Pancang Beton

Tiang pancang beton yang tiba di lokasi pekerjaan harus disimpan/ditumpuk di tempat-tempat yang
aman dan terhindar dari pengaruh buruk air/hawa laut. Tiang pancang ini sebaiknya ditumpuk di atas
bantalan kayu sehingga tidak langsung berhubungan dengan tanah, berlapis-lapis dengan tinggi
maksimum tiga lapis.

Bilamana kondisi lapangan sangat korosif maka Kontraktor harus melindungi tiang pancang beton
tersebut dengan terpal-terpal atau plastik.

1.23. Kepala Tiang dan Poer (Pile Cap)

Kontraktor akan melakukan tindakan-tindakan untuk mencegah kerusakan kepala tiang pada waktu
pemancangan. Kepala tiang akan diberi pelindung kayu keras selama pemancangan agar tidak
langsung terpukul oleh landasan hammer. Tiang pancang yang lebih dari elevasi rencana dipotong
dengan syarat bagian ujung tiang pancang akan tertanam dalam poer (pile cap) minimal sepanjang 30
cm. Di atas tiap-tiap tiang pancang akan dibuatkan poer untuk menyalurkan gaya-gaya dari balok ke
tiang pancang yang bentuk, ukuran-ukuran dan penulangannya seperti ditunjukkan dalam gambar
kerja.

Pada ujung tiang pancang dilas tulangan menurut jumlah dan diameter sesuai dengan gambar kerja
yang berfungsi sebagai tulangan penyaluran dan akan tertanam dalam poer. Demikian pula pada
bagian atas di dalam tiang pancang diberi tulangan dan dicor beton, dengan ukuran sesuai dengan
gambar kerja.

Sebelum melakukan pengecoran adukan, semua tulangan harus sudah terpasang dengan baik, bersih
dari karat dan kotoran. Pelaksanaan pengecoran harus diperhitungkan waktunya sedemikian sehingga
adukan yang sudah dituangkan tidak terganggu oleh pasang surut sebelum beton mencapai umur 3
jam.

Apabila terdapat besi-besi bekas anker bekisting atau baja tulangan yang menonjol dari permukaan
beton, maka besi atau baja tersebut harus dipotong sedemikian sehingga nantinya dapat tertanam dan
ditutup dengan adukan beton atau material lain yang kedap air minimal setebal selimut beton.

1.24. Pekerjaan Pemasangan Bollard

Bollard berfungsi untuk menambatkan kapal pada saat berlabuh atau tambat. Penempatan bollard
disesuaikan dengan gambar rencana. Bollard yang dipergunakan adalah bollard baja dengan kapasitas
tarikan 10 ton.

6. SISTEMATIKA PELAPORAN
Dalam melaksanakan pekerjaan Pengawasan Pembangunan Dermaga ini,
koordinasi yang ideal antara semua pihak terkait sangat mutlak diperlukan. Dalam hal ini Konsultan
akan mencoba menjembatani arus informasi dari pihak-pihak tersebut.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 12


KRITERIA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Pada pelaksanaannya di lapangan, pengawas lapangan akan mencatat kemajuan pekerjaan yang
dicapai oleh Kontraktor setiap hari. Volume masing-masing pekerjaan akan diukur dan dihitung sesuai
dengan kenyataan pelaksanaan di lapangan. Foto-foto lapangan akan diambil pada kondisi kemajuan
pekerjaan 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%. Dengan demikian maka prestasi pekerjaan kumulatif akan
dapat diketahui setiap saat dan dapat dibandingkan dengan Kurva-S rencana untuk mengetahui
ketepatan jadwal pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

Laporan kemajuan pekerjaan harian ini akan diringkas ke dalam sebuah laporan mingguan dimana
laporan ini akan menjadi salah satu bahan acuan bagi Direksi untuk mengevaluasi kinerja kontraktor.
Laporan harian dan laporan mingguan ini akan diarsipkan dan dilampirkan pada laporan bulanan dan
laporan akhir pekerjaan pengawasan yang masing-masing akan dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar
dan diserahkan kepada Direksi.

PEKERJAAN PENGAWASAN PEMBANGUNAN DERMAGA HAL - 13