You are on page 1of 13

HUBUNGAN TIPE KEPRIBADIAN (EKSTROVERT DAN INTROVERT) DENGAN

TINGKAT KEKAMBUHAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA


DI POLIKLINIK RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI

(The Relation Personality Type (Extrovert and Introvert) and and Relapse Rate of
Schizophrenia Clients in Policlinic Psychiatric Hospital)

Made Budisari1), I Dewa Ayu Rismayanti2),Qamariyah3)


Program Studi S1 Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng
e-mail: madesari647@gmail.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Angka kekambuhan secara positif berhubungan dengan beberapa kali masuk rumah sakit, lamanya
dan perjalanan penyakit. Pasien yang kambuh biasanya mempunyai karakteristik hiperaktif tidak mau minum obat
dan memiliki sedikit kemampuan ketrampilan sosial. Tingkat kekambuhan skizofrenia 68%-80% hingga 5 tahun
setelah pasien masuk rumah sakit pertama kali, dikarenakan perlakuan yang salah selama di rumah dan masyarakat,
masalah kehidupan yang berat serta kepribadian yang tertutup dan sulit menyesuaikan diri. Tujuan dari penelitian ini
yakni mengetahui Hubungan antara Tipe Kepribadian (Ekstrovert dan Introvert) dengan Tingkat Kekambuhan pada
Pasien Skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif
korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 113 pasien skizofrenia. Teknik
sampling dengan cara purposive sampling dan instrumen pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner EPQ
(Eysenck Personality Questionnare). Analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji
chi kuadrat (chi square). Dari hasil penelitian pada analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square terhadap
variabel tipe kepribadian (ekstrovert dan introvert) dengan tingkat kekambuhan pada pasien skizofrenia di Poliklinik
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali mendapatkan p=0,000 (p<0,05). Nilai menunjukan ada hubungan yang bermakna
antara tipe kepribadian (ekstrovert dan introvert) dengan tingkat kekambuhan pada pasien skizofrenia. Kesimpulan
dalam penelitian ini adalah ada hubungan tipe kepribadian (ekstrovert dan introvert) dengan tingkat kekambuhan
pada pasien skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.

Kata kunci : tipe kepribadian, tingkat kekambuhan, skizofrenia.

ABSTRACT
The relapse rate is positively associated with multiple hospital admissions, duration and disease course. Recurrent
patients usually before leaving the hospital have hyperactive characteristics, are unwilling to take medication and
have little social skills. Relapse rate in schizophenia was 68%-80% up to 5 years after following the first admission
or episode, due to mistreatment at home and in the community, severe life problems, personality introverted and
difficulty adjusting. The purpose of this research is to know the relation personality type (extrovert and introvert)
and relapse rate of schizophrenia Clients in Policlinic Psychiatric Hospital. The research design used is descriptive
correlational with cross sectional approach. The study sample consisted of 113 people living with clients
schizophrenia. Sampling technique by purposive sampling and data collection instrument using EPQ (Eysenck
Personality Questionnare). The data analyzed both univariat and bivariate by using chi square on the personality
type (extrovert and introvert)variable and relapse rate of schizophrenia Clients in Policlinic Psychiatric Hospital,
with p=0.000 (p<0.05). the result shows that there is correlation between personality type (extrovert and introvert)
and relapse rate of schizophrenia clients. The conclusion of the study there is a correlation between tipe kepribadian
(ekstroverted and introverted) with relapse rate of schizophrenia Clients in Policlinic Psychiatric Hospital.

Keyword : personality type, relapse rate, schizophrenia.

x
PENDAHULAN

2
Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa tindakan-tindakannya. Penyesuaian dengan dunia
fungsional dengan gangguan utama pada proses luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar
pikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara berhubungan dengan orang lain. ditandai oleh sikap:
proses pikir, afek/ emosi, kemauan dan psikomotor kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami
disertai distorsi kenyataan, terutama karean waham batinya, suka menyendiri, bahkan sering takut kepada
dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi, sehingga timbul orang (Purwanto, 2009: 150).
inkoherensi. Skizofenia merupakan bentuk psikosa Menurut Mueser and Jeste (2008:45)
yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor mengungkapkan tipe kepribadian introvert lebih
penyebabnya belum dapat diidentifikasikan secara rentan mengalami kekambuhan. Angka kekambuhan
jelas ( Ade Direja, 2011:95). Sedangkan menurut secara positif berhubungan dengan beberapa kali
Kusnadi (2014:89) pada skizofrenia jarang ditemukan masuk rumah sakit, lamanya dan perjalanan penyakit.
kasus baru karena skizofrenia lebih disebabkan faktor Pasien yang kambuh biasanya mempunyai
internal. Faktor internal yang dimaksud adalah tipe karakteristik hiperaktif tidak mau minum obat dan
kepribadian orang tersebut. memiliki sedikit kemampuan ketrampilan sosial.
Tipe kepribadian ini pertamakali dikenalkan Tingkat kekambuhan skizofrenia 68%-80% hingga 5
oleh Carl Gustav Jung yang menganut aliran tahun setelah pasien masuk rumah sakit pertama kali,
Psikoanalitik dengan teorinya tentang struktur dikarenakan perlakuan yang salah selama di rumah
kesadaran manusia. Menurut Jung struktur kesadaran dan masyarakat, masalah kehidupan yang berat serta
manusia digolongkan menjadi dua yaitu: fungsi jiwa kepribadian yang tertutup dan sulit menyesuaikan
dan sikap jiwa. Fungsi jiwa yaitu suatu bentuk diri.
aktivitas kejiwaan yang secara teoritis tidak Hardianto (2009, dalam Yunus Taufik, 2014:5)
mengalami perubahan dalam lingkungan yang mengatakan bahwa di Indonesia 49% penderita
berbeda-beda. Jung membedakan fungsi jiwa secara skizofrenia mengalami rawat ulang setelah
rasional yaitu pikiran dan perasaan, dan secara dipulangkan selama 1 tahun, dalam waktu 6 bulan
irasional yaitu pendirian dan intuisi. Sikap jiwa pasca rawat didapatkan 30%-40% pederita
merupakan arah dari energik psikis umum yang mengalami kekambuhan sedangkan 1 tahun pasca
menjelma dalam bentuk orientassi manusia terhadap rawat 40%-50% penderita mengalami kekambuhan,
dunianya dapat mengarah ke luar maupun ke dalam dari setelah 3-5 tahun pasca rawat didapatkan 65%-
(Suryabrata, 2015: 158). Penamaan dari kedua tipe 75% penderita mengalami kekambuhan.
kepribadian ini sering disalah artikan bahwa tipe Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang
kepribadian ekstrovert memiliki kepercayaan diri dilakukan di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi
yang sangat tinggi sementara introvert memiliki sifat Bali pada tanggal 9 Maret 2017 yang peneliti
pemalu. Pada kenyataanya, perbedaan dari kedua tipe lakukan pada 10 pasien skizofrenia yang mengalami
kepribadian ini adalah sumber energi diri dan tingkat kekambuhan di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa
motivasi orang tersebut berasal, apakah sumber Provinsi Bali, didapatkan 6 pasien skizofrenia
energi dari orang lain atau berasal dari dalam dirinya mempunyai tipe kepribadian introvert dengan
sendiri (Puspitayani, 2010:17). mengalami tingkat kekambuhan tinggi, hal ini
Berdasarkan atas sikap jiwanya, manusia dapat disebabkan, karena dirinya sendiri. Hasil wawancara
digolongkan menjadi dua tipe yaitu kepribadian singkat dengan pasien dan keluarga pasien ini dilihat
ekstrovert dan introvert. Kepribadian ekstrovert ketika ditanya pasien menunjukan kontak mata
dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia luar kurang, menyendiri serta menyimpan masalah sendiri
dirinya. Orientasinya terutama tertuju keluar pada Strategi memendam di dalam tidak hanya cermin
pikiran, perasaan, serta tindakannya terutama kepribadian secara individu. Dengan kata lain
ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan mengontrol emosi dengan memendam didalam
sosial maupun lingkungan non-sosial ditandai oleh terlalu kuat mengakibatkan gangguan prilaku seperti
sikap: hatinya terbuka, mudah bergaul, ramah-tamah, mengamuk hal ini mempunyai kecenderungan untuk
penggembira, kontak dengan lingkungan besar. kambuh. Sedangkan 4 pasien skizofrenia mempunyai
Sedangkat kepribadian introvert dipengaruhi oleh tipe kepribadian ekstrovert dengan mengalami
dunia subjektif, yaitu dunia didalam dirinya sendiri. tingkat kekambuhan rendah, 1 diantaranya
Orientasinya tertuju kedalam pikiran, perasaan serta mengalami tingkat kekambuhan rendah, dikarenakan

3
pasien rajin kontrol obat, lebih mudah berinteraksi Berdasarkan tabel.1 menunjukan bahwa
dengan lingkungan serta adanya dukungan keluarga umur termuda responden adalah 18 tahun dan umur
yang membuat keyakinan klien akan kesembuhan tertua responden adalah 54 tahun, dan dari 113
tentang dirinya meningkat. Hal ini menyebabkan jumlah responden ratarata atau nilai meannya
klien mempunyai semangat dan motivasi dalam adalah 35.19.
proses penyembuhan. Tabel.2 Karakteristik Responden Berdasarkan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka Jenis Kelamin di Poliklinik Rumah Sakit
peneliti tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Jiwa Provinsi Bali.
Tipe Kepribadian (Ekstrovert dan Introvert) dengan Karakteristik Frekuensi Persentase
Tingkat Kekambuhan pada Pasien Skizofrenia di Jenis Kelamin (%)
Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Laki-laki 62 54.9%
Perempuan 51 45.1%
METODE PENELITIAN Total 113 100%
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif Berdasarkan tabel.2 dapat dilihat bahwa dari
yang menggunakan metode penelitian non- 113 responden sebagian besar responden berjenis
eksperimental dengan desain deskriptif kelamin perempuan, yaitu 61 orang (54%), dan
korelasional dan pendekatan cross sectional yaitu sebagian kecil responden berjenis kelamin laki-
variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus laki, yaitu 52 orang (46%).
yang terjadi pada objek penelitian diukur atau
dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang Tabel.3 Karakteristik Responden Berdasarkan
bersamaan) (Nursalam, 2014:163). Penelitian ini Aktivitas Pekerjaan Poliklinik Rumah
dilaksanakan di Poliklinik dari bulan Juni-Juli Sakit Jiwa Provinsi Bali.
2017. Populasi dalam penelitian adalah setiap
subjek yang memenuhi kriteria yang telah Aktivitas Frekuensi Persentase (%)
ditetapkan (Arikunto, 2013). Populasi dalam Pekerjaan
penelitian ini adalah pasien skizofrenia yang Bekerja 43 38,1%
menjalani rawat jalan di Poliklinik Rumah Sakit Tidak
70 61,9%
Jiwa Provinsi Bali. Pengumpulan data Bekerja
menggunakan lembar kuesioner Eysenck Total 113 100%
Personality Questionnaire (EPQ) untuk variabel Berdasarkan tabel.3 dapat dilihat bahwa dari
tipe kepribadian dan dokumentasi dengan 113 responden sebagian besar responden memiliki
menggunakan lembar penilaian berdasarkan status tidak bekerja, yaitu 70 orang (61,9%), dan
cacatan medis klien selama 1 tahun terakhir untuk sebagian kecil responden memiliki status bekerja,
variabel tingkat kekambuhan.dengan teknik yaitu 43 orang (38,1%).
purposive sampling dan jumlah sampel sebanyak
113 orang. Analisa data dilakukan dengan Tabel.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tipe
menggunakan uji chi-square. Kepribadian di Poliklinik Rumah Sakit
JiwaProvinsi Bali.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tipe Frekuensi Persentase
Penelitian ini menggunakan 113 sampel pasien Kepribadian (%)
skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Ekstrovert 48 42.5%
Provinsi Bali dengan karakteristik responden yang
Introvert 65 57.5%
meliputi umurn jenis kelamin, dan aktivitass
Total 113 100%
pekerjaan.
Tabel.1 Karakteristik Responden Berdasarkan
Berdasarkan tabel.4 dapat dilihat bahwa dari 113
Umur di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa
responden sebagian besar responden memiliki tipe
Provinsi Bali.
kepribadian introvert, yaitu 65 orang (57,5%), dan
Minimum Maximum Mean N
sebagian kecil responden memilii tipe kepribadian
18 54 35.19 113 ekstrovert, yaitu 48 orang (42,5%).

4
38.1%
Total 113 100%

Berdasarkan tabel.5 dapat dilihat bahwa dari


113 responden sebagian besar responden
Tabel.5 Karakteristik Responden Berdasarkan mengalami tingkat kekambuhan tinggi yaitu 48
Tingkat Kekambuhan di Poliklinik orang (42,5%), sebagian kecil responden
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. mengalami tingkat kekambuhan rendah yaitu 43
orang (38,1%), sedangkan sisanya mengalami
Tingkat Frekuensi Persentase tingkat kekambuhan sedang yaitu 20 orang
Kekambuhan (%) (19,5%).
Tinggi 48 42,5%
Sedang 22 19.5% Tabel.6 Tabulasi Tipe Kepribadian dengan Tingkat
Rendah 43 Kekambuhan

Berdasarkan tabel.6 menunjukan bahwa klien Tabel.7 Hubungan Tipe Kepribadian (Ekstrovert
yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert sebanyak dan Introvert) dengan Tingkat
48 orang (42,5%), dengan tingkat kekambuhan Kekambuhan pada pasien Skizofrenia di
pasien skizofrenia yang mengalami tinggi sebanyak Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bai.
3 orang (2,7%), klien yang mengalami tingkat
kekambuhan sedang sebanyak 8 orang (7,1%), dan Asymp. Sig. (2-
klien yang mengalami tingkat kekambuhan rendah Value Df sided)
sebanyak 37 orang (32,7%). Sedangkan dari 65
orang (57,5%) klien yang memiliki tipe kepribadian Pearson Chi-
59.525a 2 .000
introvert, mayoritas 48 orang (39,8%) mengalami Square
tingkat kekambuhan tinggi, klien yang mengalami Likelihood
68.045 2 .000
Ratio
Tingkatkekambuhan Linear-by-
tinggi sedang rendah Total Linear 58.310 1 .000
Tipe Association
Kepribadian N of Valid
113
Cases
ekstrovert Count 3 8 37
48 a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5.
% of 42.5 The minimum expected count is 9.35.
2.7% 7.1% 32.7%
Total % Berdasarkan tabel.7 hasil penelitian ini dapat
introvert Count 45 14 6 65 diketahui hasil analisis bivariat dengan
menggunakan uji chi-square jika p-value > (0,05)
% of 39.8 57.5
12.4% 5.3% maka Ho diterima dan bila p-value < (0,05) Ho
Total % %
ditolak. Hasil penelitia dapat dilihat bahwa nilai p-
Total Count value sebesar 0.000 kurang dari dari nilai (0,05),
tingkat kekambuhan sedang sebanyak 14 orang sehingga dapat diketahui ada hubungan yang
(12,4%), dan klien yang mengalami tingkat signifikan antara tipe kepribadian (ekstrovert dan
kekambuhan rendah sebanyak 6 orang (5,3%). introvert) dengan tingkat kekambuhan pada pasien
skizofrenia.

Dilihat dari karakteristik jenis umur diikuti sebagian kecil responden berumur lansia
menunjukan 113 responden berumur dewasa awal akhir dari usia 56-65 tahun yaitu 2 orang (1,8%).
dari usia 26-35 tahun merupakan responden dengan Peneliti berasumsi bahwa hal ini dapat
jumlah terbanyak yaitu sekitar 35 orang (31.0%), disebabkan karena pada usia produktif terdapat

5
faktor lingkungan yang memperngaruhi responden (54,9%) dan perempuan sebanyak 51
perkembangan emosional, sedangkan pada usia responden (45,1%). Hasil penelitian ini
lansia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor menunjukkan bahwa laki-laki merupakan
biologik. kelompok risiko lebih tinggi mengalami gangguan
Hasil penelitian ini memperlihatkan secara jiwa psikotik (skizofrenia).
proporsi sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hasil ini sejalan dengan penelitian yang
Arif (2015) mengatakan bahwa sebagian besar dilakukan Arif (2015) menunjukkan distribusi
keluarga yang mempunyai anggota keluarga sakit terbesar adalah jenis kelamin laki - laki yaitu
skizofrenia adalah dewasa awal yaitu sebanyak 13 sebanyak 22 responden (63%) dan distribusi
responden dengan jumlah presentase (37%), terendah adalah jenis kelamin perempuan sebanyak
sedangkan sebagian kecil keluarga yang 13 responden (37%). Hal tersebut telah dijelaskan
mempunyai anggota keluarga yang sakit pada teori Yosep (2011) mengatakan bahwa faktor
skizofrenia yaitu lansia akhir sebanyak 2 yang berpengaruh terhadap penyakit skizofrenia
responden dengan presentase (6%). Hal ini sesuai yaitu jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang
dengan teori Ade Direja (2011:61) mengatakan mempunyai prevalensi perbedaan permulaan dan
rata-rata 1-2% dari jumlah seluruh penduduk di perjalanan penyakitnya. Laki-laki mempunyai
suatu wilayah pada setiap waktu dan terbanyak permulaan skizofrenia yang lebih cepat daripada
mulai timbul (onset) nya pada usia 15-35 tahun. wanita. Hal tersebut terjadi karena kemunduran
Usia juga merupakan salah satu faktor onset pada wanita, yaitu adanya efek perlindungan
sosiodemografi yang mempengaruhi tingkat atau neuroprotektif dari hormone wanita dan
kekambuhan. Menurut peneliti, hubungan antara potensi tinggi untuk mengalami cedera kepala pada
usia dengan tingkat kekambuhan dipengaruhi oleh pria dibandingkan wanita. Hal itulah sebabnya
beberapa faktor diantaranya adalah kekhususan mengapa pria lebih dahulu untuk mendapatkan
penyakit yang diderita, lamanya dan perjalan perawatan dibandingkan wanita.
penyakit tersebut, dan ketentuan yang berlaku Jenis kelamin juga merupakan salah satu
untuk dapat dinyatakan sebagai seorang yang patuh faktor yang mempengaruhi tingkat kekambuhan.
dalam menjalani perawatan. Penelitian-penelitian Penelitian yang dilakukan di Poliklinik Rumah
yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Sakit Jiwa Grhasia DIY diketahui bahwa jenis
kepatuhan dapat meningkat atau menurun sejalan kelamin laki-laki lebih beresiko mengalami tingkat
usia. kekambuhan pada kategori tinggi. Dari 80
Hal ini sejalan dengan penelitian yang responden yang berjenis kelamin perempuan
dilakukan di oleh Yunus Taufik (2014) mengatakan sebanyak 38 orang (47,5%), sisanya jenis kemanin
bahwa karakteristik responden berdasarkan rentang laki-laki sebanyak 42 orang (52,5%) yang paling
usia 20-40 tahun sebanyak 53 responden (62,4%), sering mengalami kekambuhan (Sandriani, 2014).
kemudian untuk rentang usia paling sedikit pada Menurut peneliti jenis kelamin merupakan
rentang usia >65 tahun sebanyak 1 responden salah satu variabel deskriptif yang dapat
(1,2%). memberikan perbedaan angka/rate kejadian pada
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat pria dan wanita. Perbedaan insiden penyakit
disimpulkan bahwa umur berkaitan dengan kasus menurut jenis kelamin dapat timbul karena bentuk
skizofrenia. Usia juga memiliki hubungan dengan anatomis, fisiologis dan sistem hormonal.
tingkat kekambuhan. Meskipun tidak ada teori Penelitian-penelitian yang telah dilakukan
yang mengatakan bahwa secara jelas alasan usia menunjukkan bahwa jenis kelamin dapat
lebih sering mengalami kekambuhan akan tetapi mempengaruhi tingkat kekambuhan.
dari penelitian diatas cukup mendukung Berdasarkan penelitian tersebut dapat
karakteristik yang ditemukan dalaam penelitian. disimpulkan bahwa jenis kelamin berkaitan dengan
Dilihat dari karakteristik jenis umur kasus skizofrenia, dimana laki- laki merupakan
menunjukan responden berdasarkan jenis kelamin kelompok risiko lebih tinggi mengalami gangguan
menunjukkan responden skizofrenia yang paling jiwa psikotik (skizofrenia) dibandingkan
banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan. Jenis kelamin juga merupakan salah
perempuan yaitu responden laki-laki sebanyak 62 satu faktor yang mempengaruhi tingkat

6
kekambuhan. Berdasarkan penelitian-penelitian dikatakan bahwa tidak bekerja lebih sering
yang telah dilakukan dikatakan bahwa laki-laki mengalami kekambuhan daripada bekerja.
lebih sering mengalami kekambuhan daripada Meskipun tidak ada teori yang mengatakan bahwa
perempuan. secara jelas alasan tidak bekrja lebih sering
Dilihat dari karakteristik aktivitas kerja mengalami kekambuhan akan tetapi dari penelitian
menunjukan bahwa dari 113 responden sebagian diatas cukup mendukung karakteristik yang
besar responden memiliki akitivitas tidak bekerja ditemukan dalam penelitian.
yaitu 70 orang (61,9%), dan sebagian kecil Dilihat dari karakteristik tipe kepribadian
responden memiliki aktivitas bekerja yaitu 43 menunjukan bahwa dari 113 responden skizofrenia
orang (38,1%). Menurut pendapat peneliti di Poliklinik RSJ Provinsi Bali mendapatka hasil
gambaran ini jelas bahwa sebagian responden yaitu sebagian besar responden memiliki tipe
dengan aktivitas tidak bekerja memiliki faktor kepribadian introvert yang diukur dengan
resiko 61,9% kali untuk terkena skizofrenia menggunakan kuesioner EPQ, responden tipe
dibandingkan responden yang berstatus bekerja hal kepribadian introvert dalam penelitian ini mereka
ini terjadi, karena status tidak bekerja dapat yang memiliki nilai bila Z introvert 0,50 dan Z
menimbulkan stress, depresi, dan melemahnya ekstrovert <0. Hasilnya menunjukkan dari 113
kondisi kejiwaan sebab orang yang tidak bekerja responden sebagian besar responden memiliki tipe
mengakibatkan rasa ketidakberdayaan dan tidak kepribadian introvert yaitu 56 orang (57,5%) dan
optimis terhadap masa depan. sisanya berada pada tipe kepribadian ekstrovert
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang yaitu 48 orang (42,5%).
dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Pati II Menurut peneliti, hal ini dikarenakan
bahwa jumalah status yang tidak bekerja lebih sebagian besar responden memiliki sifat yang
tinggi sebayak 18 orang (58,1%), sedangkan pendiam dan pemalu, tampak ketika proses
jumlah status bekerja sebanyak 13 orang pengambilan data, dimana responden telihat lebih
(41,9%).Perhitungan risk estimate didapatkan sering menundukan kepala ketika diajak
OR=3,385 (OR>1) dengan CI 1,180-9,708 (tidak wawancara serta menunjukan kontak mata kurang.
mencakup angka 1), hal ini berarti bahwa sampel Hal ini terjadi karena motivasi diri yang kurang
dengan status tidak bekerja memiliki faktor resiko karena adanya gejala negative yang mendasarinya,
3,385 kali untuk terkena skizofrenia dibandingkan stigma dan diskriminasi pada penyandang
sampel berstatus bekerja Wahyudi,dkk (2016). gangguan jiwa psikotik (skizofrenia) menghalangi
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh mereka untuk berinteraksi kedalam masyarakat
Fahlur (2014) mengatakan bahwa distribusi karena sering mendapat ejekan serta isolasi sosial.
pekerjaan responden yang terbanyak adalah tidak Oleh karena itu faktor ini yang membatasi hak
bekerja yaitu 51 responden (62,2%). mereka untuk memperoleh rasa aman dan nyaman.
Selain jenis kelamin dan umur, aktivitas Kepribadian meliputi segala corak perilaku
peerjaan juga merupakan salah satu faktor yang dan sifat yang khas dan dapat diperkirakan pada
ikut mempengaruhi tingkat kekambuhan. Hal ini diri seseorang, yang digunakan untuk bereaksi dan
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh menyesuaikan diri terhadap rangsangan, sehingga
Sandriani (2014) mengatakan bahwa sebagian corak tingkah lakunya itu merupakan satu kesatuan
besar responden dalam penelitian ini tidak bekerja fungsional yang khas bagi individu itu
sebanyak 54 responden (67,5%). (Prabowo,2014:134).
Berdasarkan penelitian tersebut dapat Tipe kepribadian ini pertamakali dikenalkan
disimpulkan bahwa aktivitas pekerjaan berkaitan oleh Carl Gustav Jung yang menganut aliran
dengan kasus skizofrenia, dimana tidak bekerja Psikoanalitik dengan teorinya tentang struktur
merupakan kelompok risiko lebih tinggi kesadaran manusia. Menurut Jung struktur
mengalami gangguan jiwa psikotik (skizofrenia) kesadaran manusia digolongkan menjadi dua yaitu:
dibandingkan tidak bekerja. Aktivitass pekerjan fungsi jiwa dan sikap jiwa. Fungsi jiwa yaitu suatu
juga merupakan salah satu faktor yang bentuk aktivitas kejiwaan yang secara teoritis tidak
mempengaruhi tingkat kekambuhan. Berdasarkan mengalami perubahan dalam lingkungan yang
penelitian-penelitian yang telah dilakukan berbeda-beda. Jung membedakan fungsi jiwa

7
secara rasional yaitu pikiran dan perasaan, dan sebesar 86,67% (26 pasien) dengan tipe
secara irasional yaitu pendirian dan intuisi. Sikap kepribadian introvert Tipe kepribadian introvert
jiwa merupakan arah dari energik psikis umum lebih tertuju kepada tenaga/potensi yang
yang menjelma dalam bentuk orientassi manusia mendasarinya, orang dengan tipe kepribadian
terhadap dunianya dapat mengarah ke luar maupun introvert bersifat intuitif dan berkecenderungan
ke dalam (Suryabrata, 2015: 158). menghayal, merenung dan merencanakan serta
Penamaan dari kedua tipe kepribadian ini ragu-ragu dalam mencapai keputusan akhir.
sering disalah artikan bahwa tipe kepribadian Sikap suka memendam permasalahan dan lebih
ekstrovert memiliki kepercayaan diri yang sangat suka merenung untuk mengatasinya.
tinggi sementara introvert memiliki sifat pemalu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fadil
Pada kenyataanya, perbedaan dari kedua tipe (2016) di Desa Banaran Galur Kulon Progo
kepribadian ini adalah sumber energi diri dan Yogyakarta juga mendukung dalam penelitian ini,
motivasi orang tersebut berasal (Puspitayani, diketahui bahwa sebagian besar responden pada
2010:17). Berdasarkan atas sikap jiwanya, kelompok gangguan jiwa memiliki tipe kepribadian
manusia dapat digolongkan menjadi dua tipe. introvert yaitu 21 responden (75%), dan 7
(a) Kepribadian Ekstrovert. responden (25%) memiliki tipe kepribadian
C.G.Jung menyatakan bahwa ekstrovert ekstrovers. Orang dengan kepribadian introvert
dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia luar cenderung hidup dalam dunianya sendiri.
dirinya. Orientasinya terutama tertuju keluar Interaksinya dengan dunia luar kurang baik,
pada pikiran, perasaan, serta tindakannya memiliki pribadi yang tertutup, sulit untuk
terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik bersosialisasi dengan orang lain, dan sering menarik
lingkungan sosial maupun lingkungan non- diri dari suasana yang ramai. Mereka cenderung
sosial. Individu dengan tipe ekstrovert pendiam, tidak menyukai keramaian dan canda
perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, gurau, lebih suka menghabiskan waktu sendiri, dan
kepada orang lain dan kepada masyarakat sering merasa malu jika bertemu dengan orang lain.
ditandai oleh sikap: hatinya terbuka, mudah kepribadian juga berperan besar dalam kejadian
bergaul, ramah-tamah, penggembira, kontak gangguan jiwa pada seseorang.
dengan lingkungan besar. Meraka mudah Jadi dapat disimpulkan bahwa keseluruhan
mempengaruhi dan mudah pula dipengaruhi partisipan merupakan tipe pribadi yang pendiam
(Purwanto, 2007:150). dan pemalu. Hal lain yang menunjukkan tipe
(b) Kepribadian Introvert. kepribadian interovert tampak ketika mereka tidak
Orang yang introvert dipengaruhi oleh dunia menyenangi keramaian dan apabila ada
subjektif, yaitu dunia didalam dirinya sendiri. acara/kegiatan, tidak semata-mata datang hanya
Orientasinya tertuju kedalam pikiran, perasaan untuk berkumpul bersama orang lain namun lebih
serta tindakan-tindakannya. Penyesuaian dengan punya tujuan tertentu, dalam menghadiri kegiatan
dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar mereka juga terlihat kurang percaya diri sehingga
berhubungan dengan orang lain. Individu denga tidak berani bertindak/tampil dalam mengemukakan
tipe introvert perhatiannya mengarah kepada pendapat, selain itu pasien dengan tipe kepribadian
dirinya sendiri ditandai oleh sikap: kurang introvert ini termasuk pemalu, sehingga pasien
pandai bergaul, pendiam, sukar diselami batinya, kesulitan untuk bersosialisasi dengan masyarakat
suka menyendiri, bahkan sering takut kepada sekitar. hal ini mempunyai kecenderungan untuk
orang (Purwanto, 2009: 150).Hal ini kambuh.
diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan Upaya yang perlu dilakukan dalam
oleh Yanuar (2012) menyatakan bahwa jumlah menghadapi orang dengan tipe kepribadian
penderita gangguan jiwa dalam penelitian ini introvert adalah memberikan kesempatan bagi
sebanyak 30 responden dengan tipe kepribadian mereka untuk bersikap lebih terbuka dan bebas
ekstrovert di desa Paringan sebesar 13,33% (4 mengungkapkan pendapat, membiasakan untuk ikut
pasien). Umumnya pasien yang mempunyai tipe aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan orang
kepribadian ini apabila bertemu dengan orang banyak misalnya, gotong royong, dll. Selanjutnya,
lain cenderung akan berinteraksi. Sisanya memberikan model ekstrovert, dalam arti

8
mencarikan tetangga/teman/anggota keluarga yang Hasil ini sesuai dengan teori Stuart dan
memiliki kepribadian ekstrovert untuk berinteraksi, Laraia (2005 dalam Taufik, 2014:12) yang
hal ini untuk memancing supaya orang dengan tipe menyatakan bahwa rata-rata pasien dengan riwayat
kepribadian introvert bisa lebih terbuka. skizofrenia lebih sering mengalami kekambuhan.
Hasil penelitian berdasarkan tingkat Kekambuhan adalah kembalinya suatu penyakit
kekambuhan pasien skizofrenia di Poliklinik RSJ setelah nampaknya mereda. Kekambuhan
Provinsi Bali menunjukkan bahwa dari 113 menunjukkan kembalinya gejala-gejala penyakit
responden dominan kategori tinggi, yaitu sebanyak sebelumnya cukup parah dan menganggu aktivitas
48 orang (42,5%), sebagian kecil responden sehari-hari dan memerlukan perawatan inap dan
mengalami tingkat kekambuhan rendah yaitu 43 rawat jalan yang tidak terjadwal Dorlan ( 2002,
orang (38,1%), sedangkan sisanya mengalami dalam Fitra 2013:5). Tingkat kekambuhan
tingkat kekambuhan sedang yaitu 20 orang (19,5%). berhubungan dengan beberapa kali masuk rumah
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sakit, lamanya dan perjalannya penyakit.
bahwa tingkat kekambuhan pada pasien Dari hasil penelitian ini peneliti menarik
skizofrenia adalah sebagian besar memiliki tingkat kesimpulan bahwa ingkat kekambuhan pada
kekambuhan yang tinggi, hal ini disebabkan karena pasien skizofrenia adalah sebagian besar memiliki
salah satu faktornya adalah dirinya sendiri. tingkat kekambuhan yang tinggi, hal ini disebabkan
Pasien lebih senang menyimpan masalah karena salah satu faktornya adalah dirinya sendiri.
sendiri, pendiam, suka menyediri serta meghindari Pasien lebih senang menyimpan masalah sendiri,
hubungan sosial. Sedangkan tingkat kekambuhan pendiam, suka menyediri serta meghindari
yang sedang atau rendah disebabkan, karena rajin hubungan sosial. Hal ini perlu adanya dukungan
kontrol obat, lebih mudah berinteraksi dengan keluarga yang membuat keyakinan klien akan
lingkungan serta adanya dukungan keluarga yang kesembuhan tentang dirinya meningkat, sehingga
membuat keyakinan klien akan kesembuhan menyebabkan klien mempunyai semangat dan
tentang dirinya meningkat, sehingga menyebabkan motivasi dalam proses penyembuhan.
klien mempunyai semangat dan motivasi dalam Hasil penelitian ini dapat diketahui hasil
proses penyembuhan. analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-
Hal ini sesuai dengan teori Menurut Mueser square jika p-value > (0,05) maka Ho diterima
and Jeste (2008:45) mengungkapkan tingkat dan bila p-value < (0,05) Ho ditolak. Hasil
kekambuhan atau relapse pada pasien skizofrenia penelitian dapat dilihat bahwa nilai p-value sebesar
dikarenakan perlakuan yang salah selama di rumah 0.000 kurang dari dari nilai (0,05), sehingga
dan masyarakat, masalah kehidupan yang berat dapat diketahui ada hubungan yang signifikan
serta kepribadian yang tertutup dan sulit antara tipe kepribadian (ekstrovert dan introvert)
menyesuaikan diri. dengan tingkat kekambuhan pada pasien
Penelitian yang dilakukan oleh Sandriani skizofrenia. Hal ini dapat disimpulkan kepribadian
(2014), yang menyatakan bahwa kekambuhan pada introvert memiliki kecenderungan aktivitas yang
pasien skizofrenia dalam kategori tinggi, dengan tertutup terhadap lingkungan hal ini yang
tingkat yang tinggi >2 kali setahun sebanyak 40 menyebabkan klien mengalami tingkat
responden (50%), kekambuhna sedang sebanyak 27 kekambuhan tinggi.
responden (33,8%), dan sebagian kecil diketahui Menurut hasil penelitian tersebut, bahwa
memiliki tingkat kekambuhan dala kategori rendan kepribadian introvert memiliki kecenderungan
sebanyak 13 responden (16,2%). Sejalan dengan aktivitas yang tertutup terhadap lingkungan hal ini
penelitian yang dilakukna oleh Taufik (2014) juga yang menyebabkan klien mengalami tingkat
menambahkan bahwa 37 responden (43,5%) dalam kekambuhan tinggi, selain itu diakibatkan oleh
penelitian ini memiliki tingkat kekambuhan pada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat
kategori tinggi, adapun 27 responden (31,8%) kekambuhan yang tidak mampu dikendalikan oleh
diketahui memiliki tingkat kekambuhan dalam peneliti, seperti faktor psikososial pasien meliputi
kategori sedang, dan sisanya 21 responden dukungan sosial keluarga, dan terapinya.
(24,7%) memiliki tingkat kekambuhan pada Peneliti juga berasumsi, pada responden yang
kategori rendah. memiliki kepribadian ekstrovert dengan tingkat

9
kekambuhan responden sedang atau rendah tipe kepribadian introvert, maka semakin tinggi
diakibatkan karena rajin kontrol obat, lebih mudah tingkat kekambuhan, sebaliknya semakin rendah
berinteraksi dengan lingkungan serta adanya tingkat kekambuhan klien skizofrenia maka semakin
dukungan keluarga yang membuat keyakinan klien banyak yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert.
akan kesembuhan tentang dirinya meningkat, Kekambuhan sebagai suatu proses yang dinamis,
sehingga menyebabkan klien mempunyai semangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak berdiri
dan motivasi dalam proses penyembuhan. sendiri, memerlukan suatu kombinasi strategi
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil promosi, memerlukan sebuah tim yang terdiri dari
penelitian Purwantini (2015) yang menemukan multidisiplin keluarga yang terintegrasi dan dapat
remaja yang mengalami gangguan jiwa memiliki bekerjasama dengan baik dalam memberikan
tipe kepribadian introvert sebanyak 30 (54,5%) perawatan komprehensif berkesinambungan.
responden, sedangkan yang mengalami
kekambuhan gangguan jiwa sedang sebanyak 28 KESIMPULAN DAN SARAN
(50,9%) responden. Ada hubungan tipe kepribadian Simpulan
dengan kekambuhan gangguan jiwa pada remaja Berdasarkan hasil penelitian maka dapat
yang mengalami gangguan jiwa di Rumah Sakit disimpulkan beberapa hal seperti berikut :
Jiwa Daerah Surakarta dengan hasil nilai p value 1) Karakteristik klien skizofrenia yang terdaftar di
tabel sebesar 0,00<0,05. Individu yang memiliki Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali
kepribadian kuat akan cendrung mengatasi masalah adalah sebagai berikut: sebagian besar
yang dihadapi, tetapi individu yang begitu responden berjenis kelamin laki-laki, dengan
mengalami kebergantungan terhadap orang lain, rata-rata usia dewasa awal dan mayoritas
maka cenderung untuk mudah mengalami responden tidak bekerja.
gangguan jiwa karena kepribadiannya rapuh 2) Tipe kepribadian dari 113 responden mayoritas
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali
James Sembiring (2013), mengatakan bahwa adalah introvert sebanyak 65 responden dengan
rendahnya tingkat kepatuhan dari pasien gangguan jumlah prevalensi (57.5%).
jiwa berat dalam minum obat secara teratur 3) Tingkat kekambuhan dari 113 respnden di
dipengaruhi oleh persepsi dari kepala keluarga Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali
pasien tersebut mengenai kekambuhan, persepsi itu adalah dominan kategori tingkat kekambuhan
sendiri dipengaruhi oleh karakteristik pribadi tinggi yaitu 48 orang (42,5%), sebagian kecil
(faktor internal). Kepala keluarga dengan tipe responden mengalami tingkat kekambuhan
kepribadian INTP (Introvert Intuiting Thingking rendah yaitu 45 orang (39,8%), sedangkan
Perceiving) yaitu tipe orang yang konseptual atau sisanya mengalami tingkat kekambuhan sedang
teoritis memiliki persepsi paling baik tentang yaitu 20 orang (17,7%)
kekambuhan, hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata 4) Terdapat hubungan signifikan antara tipe
raking skor tertinggi 72,31. Kemudian kepribadian kepribadian (introvert dan ekstrovert) dengan
dengan tipe ENJF (Ekstrovert Intuiting Feeling tingkat kekambuhan pada skizofrenia di
Judging), yaitu tipe orang yang berkarisma (most Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali
persuasive) memiliki persepsi yang buruk mengenai dengan nilai p-value 0,000. Berdasarkan hasil
kekambuhan hal ini ditunjukan dengan nilai rata- analisis uji chi-square dapat diketahui p-value
rata raking sekor terendah 3,50. Hasil pengujian 0,000<0,05.
dengan menggunakan uji kruskal wallis Saran
membuktikan bahwa ada perbedaan persepsi yang Adapun saran yang dapat peneliti
signifikan mengenai kekambuhan berdasarkan tipe sampaikan yaitu: Sebaiknya instansi lebih
kepribadian dari kepala keluarga dengan diperoleh memperhatikan pasien skizofrenia terutama pada
nilai (p<0,05). pasien yang mempunyai tipe kepribadian introvert
Jadi dapat disimpulkan bahawa ada hubungan sehingga dalam melakukan perawatan terhadap
signifikan antara tipe kepribadian (ekstrovert dan pasien dapat maksimal. Tindakan yang dilakukan
introvert) dengan tingkat kekambuhan pada pasien oleh instansi adalah melakukan pelatihan khusus
skizofrenia. Semakin banyak klien yang memiliki pada perawat tentang bagaimana merawat pasien

10
sebaik mungkin sehingga tidak terjadi kekambuhan Kepatuhan Dalam Minum Obat (Survey
yang berulang. Terhadap Keluarga Pasien Rawat Jalan
Yang Berkunjung Ke Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Jawa Barat).

Kusnadi. 2014. Keperawatan Jiwa. Jakarta:


Binarupa.

Mueser and Jeste. 2008. Clinical Handbook


of Schizophrenia. New York : The
Guilford Press.
DAFTAR PUSTAKA
Muhamad Fadil. 2016. Hubungan Tipe
Ade Direja. 2011. Buku Asuhan Keperawatan Jiwa. Kepribadian dengan Kejadian Gangguan
Yogyakarta: Nuha Medika. Jiwa Pada Keluarga Di Desa Banaran
Galur Kulon Progs Yogyakarta.
Arif, M. 2015. Hubungan Peran Keluarga Dengan
Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di Nursalam. 2014. Metologi Penelitian Ilmu
Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cawa I Keperawatan: Pendekatan Praktis Edisi
Klaten. 3. Jakarta : Salemba Medika.

Diny Rizki A, dan Zainul Anwar. 2013. Relaps Pada Notoadmojo. 2012. Metologi Penelitian Kesehatan.
Pasien Skizofrenia. Jakarta : Renika Cipta.

Fitra, S. 2013. Hubungan Antara Faktor


Prabowo, E. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Kepatuhan Mengkonsumsi Obat,
Yogyakarta : Nuha Medika.
Dukungan Keluarga Dan Lingkungan
Masyarakat Dengan Tingkat
Purwanto, M. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung
Kekambuhan Pasien Skizofrenia Di
: PT Remaja Rosdakarya.
RSJD Surakarta.
Puspitayani. 2010. Hubungan Antara Tipe
Hui,C.L. 2011. Relapse In Schizophrenia.
Kepribadian Ekstrovert Introvert Dengan
Medical Bulletin, Volume 16, Nomor 5
Kejadian Hipertensi Di Puskesmas
(hlm.7-9).
Depok I Sleman Yogyakarta. Tugas
Akhir (tidak diterbirkan). Program Studi
Ireine, K. 2014. Hubungan Kepathan Minum Obat
Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu
Dengan Prevalensi Kekambuhan Pada Pasien
Kesehatan Surya Global Yogyakarta.
Skizofrenia Yang Berobat Jalan Di Ruang
Poliklinik Jiwa Rumah Sakit. Prof
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). 2013.
Dr.V.L.Ratumbuysana Manado.
Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Kementrian
James Sembiring. 2013. Pengaruh Persepsi
Kesehatan RI.
Kepala Keluarga Mengenai Kekambuhan
Gangguan Jiwa Berat Terhadap

11
Sandriani. 2014. Hubungan Kepatuhan Videbeck. 20..
Minum Obat Dengan Tingkat
Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di Wahyudi, dkk. 2016. Faktor Resiko
Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia Terjadinya Skizofrenia (Studi Kasus di
DIY. Wilayah Kerja Puskesmas Pati II)

Sarwono, Sarlito,W. 2016. Pengantar Yanuar. 2012. Analisa Faktor Yang


Psikologi Umum. Jakarta : Rajawali Pers. Berhubungan Dengan Kejadian Gangguan
Jiwa Di Desa Paringan Kecamatan Jejang
Semiun, Y. 2007. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta : Kabupaten Ponorogo.
Kanisius.
Yunus Taufik. 2014. Hubungan Dukungan
Susilo, M. 2013. Prinsip-Prinsip Biostatiska Keluarga Dengan Tingkat Kekambuhan
Dan Aplikasi SPSS Pada Ilmu Pada Pasien Skizofrenia Di Poliklinik
Keperawatan. Jakarta : IN MEDIKA. Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY.

Swarjana, Ketut. 2015. Metologi Penelitian Yosep, I. & Sutini, T. 2014. Buku Ajaran
Kesehatan (Edisi Revisi). Yogyakarta : Keperawatan Jiwa Dan Advance Mental
ANDI. Health Nursing. Bandung : PT Refika
Aditama.

12