You are on page 1of 8

METODE REMEDIASI CEMARAN BAHAN ORGANIK

DI PERAIRAN SUNGAI

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas


Mata kuliah Ekotoksikologi Perairan

Disusun oleh :
Kelompok 6/Kelas B

Dudi Hermawan 230110150116


Fajar Padli 230110150120
Raudatu Fiqro Safarina 230110150122
Angga Nugraha 230110150123
Mohammad Farid NW 230110150124
Nur Silmi Nafisah 230110150125
Anis Chairunnisa 230110150126

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
Metode Remediasi Cemaran Bahan Organik di Perairan Sungai

Latar Belakang
Limbah organik merupakan limbah yang paling besar mencemari lingkungan.
Walaupun telah diberlakukan berbagai macam kebijakan dan peraturan terkait dengan
pengendalian pencemaran air, namun penurunan kualitas badan air masih terus berlangsung.
Hal ini disebabkan karena lemahnya pengawasan dan penegakan hukum maupun teknologi
pengendalian pencemaran air yang berbasis pembubuhan bahan kimia masih belum bisa
memenuhi kriteria yang diberlakukan. Tulisan ini menguraikan proses remediasi sebagai
alternatif dalam upaya pengendalian pencemaran sungai.
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam remediasi pencemaran sungai,
diantaranya adalah bioremediasi dan fitoremediasi. Bioremediasi menggunakan
mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan, sedangkan fitoremediasi
menggunakan peran tumbuhan dalam mengurangi polutan di lingkungan.
Beberapa hal yang dibahas dalam jurnal yang digunakan adalah potensi bakteri genus
Pseudomonas di ekosistem sungai tercemar deterjen sekitar kampus Universitas Brawijaya,
optimasi konsentrasi inokulum bakteri hidrokarbonoklastik pada bioremediasi limbah
pengilangan minyak bumi di sungai pakning, potensi bakteri indigen dalam biodegradasi air
sungai, biodegradasi limbah cair organik menggunakan konsorsium bakteri, penggunaan
media penyaring pasir dan tumbuhan air dalam meremediasi TSS dan amoniak dalam
limbah cair karet, pemanfaatan eceng gondok sebagai fitoremediasi pencemaran air sungai.

Metode
Metode remediasi cemaran bahan organik yang digunakan di perairan sungai dalam
jurnal kami terdiri dari dua metode, yakni bioremediasi dan fitoremediasi. Dalam
bioremediasi, metode yang digunakan berbeda-beda, tergantung prosedur dan jenis
mikroorganisme yang digunakan. Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme
yang telah dipilih untuk ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan
kadar polutan tersebut. Pada saat proses bioremediasi berlangsung, enzim-enzim yang
diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi struktur polutan beracun menjadi tidak
kompleks sehingga menjadi metabolit yang tidak beracun dan berbahaya. Pada dasarnya,
pengolahan secara biologi dalam pengendalian pencemaran air, termasuk upaya bioremediasi,
dengan memanfaatkan bakteri bukan hal baru namun telah memainkan peran sentral dalam
pengolahan limbah konvensional sejak tahun 1900-an (Mara, Duncan dan Horan 2003).
Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk
dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik secara ex-situ
menggunakan kolam buatan atau reaktor maupun in-situ atau secara langsung di lapangan
pada tanah atau daerah yang terkontaminasi limbah (Subroto 1996). Fitoremediasi
didefinisikan juga sebagai penyerap polutan yang dimediasi oleh tumbuhan termasuk pohon,
rumput-rumputan, dan tumbuhan air. Pencucian bisa berarti penghancuran, inaktivasi atau
imobilisasi polutan ke bentuk yang tidak berbahaya. Ada beberapa metode fitoremediasi yang
sudah digunakan secara komersial maupun masih dalam taraf riset yaitu metode berldanaskan
pada kemampuan mengakumulasi kontaminan (phytoextraction) atau pada kemampuan
menyerap dan mentranspirasi air dari dalam tanah (creation of hydraulic barriers).
Kemampuan akar menyerap kontaminan di dalam jaringan (phytotransformation) juga
digunakan dalam strategi fitoremediasi. Fitoremediasi juga berldanaskan pada kemampuan
tumbuhan dalam menstimulasi aktivitas biodegradasi oleh mikrobia yang berasosiasi dengan
akar (phytostimulation) dan imobilisasi kontaminan di dalam tanah oleh eksudat dari akar
(phytostabilization) serta kemampuan tumbuhan dalam menyerap logam dari dalam tanah
dalam jumlah besar dan secara ekonomis digunakan untuk meremediasi tanah yang
bermasalah (phytomining).
Adapun prosedur yang akan dipaparkan disini yaitu prosedur dari penggunaan
potensi bakteri indigen. Kegiatan biodegradasi dilakukan dengan cara mengintroduksi bakteri
indigen (yang telah diseleksi dari proses isolasi dan memiliki potensi pendegradasi paling
tinggi diantara jenis isolat lain yang ditemukan) kemudian dikultur dan diinokulasikan
kembali pada sampel air sehingga proses transformasi akan berlangsung lebih optimal.
Tahapannya adalah sebagai berikut:
1. Pengambilan sampel, berupa air yang mengalir pada sungai Badeg dan dilakukan pada
jam-jam tertentu saat limbah dibuang.
2. Pembuatan medium, Media selektif yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu media
Bussnell Hass (BH) ditambah olive oil.
3. Propagasi bakteri indigen, untuk menumbuhkan bakteri dengan karakter pendegradasi
yang diinginkan.
4. Penapisan bakteri indigen, untuk memaksimalkan pertumbuhan bakteri dengan
karakter pendegradasi yang diinginkan.
5. Pengukuran tingkat degradasi lemak
6. Inventarisasi data dan pemilihan bakteri paling berpotensi
7. Identifikasi bakteri
8. Pengujian biodegradasi secara in vitro
Fitoremediasi yang dibahas dalam jurnal kami adalah fitoremediasi yang
menggunakan tanaman air. Adapun metode yang digunakan dalam fitoremediasi adalah
metode eksperimen. Rancangan eksperimen yang digunakan adalah dengan menguji-cobakan
alat pengolahan limbah cair karet yang terdiri dari 8 unit reactor. Media penyaringan
memiliki kapabilitas pada TSS remediasi dengan efektivitas 89,58% dan amonia 89,58%.
Media filter dengan tanaman air Limmnocharis flava memiliki kapabilitas di dalam remediasi
TSS dengan efektivitas 93,51% dan amonia 90,59%. Media filter dengan tanaman air
Echinodorus palaefoli memiliki kapabilitas pada remediasi TSS dengan efektivitas 94,63%
dan amonia 92,09%. Dan media filter dengan tanaman air Limmnocharis flava dan
Echinodorus palaefolius memiliki capabilitas pada remediasi TSS dengan efektivitas 95,35%
dan amonia 92,82%. Persentase tingkat kelangsungan hidup untuk umum 100%. Ini sesuai
standar kualitas dan sebaik media kehidupan ikan.

Diskusi
Jurnal pertama membahas tentang isolasi bakteri anggota Genus Pseudomonas
pendegradasi LAS di ekosistem sungai tercemar deterjen yang ada di sekitar kampus UB.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem sungai di sekitar kampus UB memiliki
konsentrasi LAS diatas ambang batas (0,5 mg/L) yaitu untuk sedimen berkisar antara 1,93
mg/kg 2,93 mg/kg dan untuk sampel air berkisar antara 1,7 mg/L 2.9 mg/L selama bulan
Agustus 2012 sampai November 2012. Lima isolat bakteri anggota Genus Pseudomonas yang
memiliki potensi mendegradasi LAS berhasil diisolasi. Semua isolat bakteri mampu
mendegradasi LAS sampai pada hari ke 28. Kelima isolat bakteri dalam waktu 28 hari secara
berturut-turut P 2.1, P 3.2, C 2.3, C 2.1 dan C 2.2 mampu mendegradasi LAS sebesar 74,29
%, 70,03 %, 69,24 %, 66,63 %, dan 65,31 %. Isolat P 2.1 memiliki kemapuan degradasi LAS
paling baik di antara lima isolat yang ada. Isolat yang kemampuan degradasinya paling lemah
adalah isolat C 2.2.
Selanjutnya, pada jurnal kedua dibahas mengenai optimasi konsentrasi inokulum
bakteri hidrokarbonoklastik pada bioremediasi limbah pengilangan minyak. Bahan penelitian
adalah isolat bakteri yang diisolasi dari limbah minyak bumi yang berasal dari tempat
pembuangan limbah kilang minyak bumi di Pertamina Sungai Pakning. Limbah yang dikirim
merupakan limbah cair dengan warna kehitaman, berbau tajam, dan mudah terbakar. Medium
pertumbuhan bakteri menggunakan Stone Mineral Salt Solution (SMSS). Isolat bakteri
yang digunakan adalah Acinetobacter baumannii, Alcaligenes eutrophus, Bacillus sp.,
Methylococcus capsulatus, Bacillus sp., Morococcus sp., Pseudomonas diminuta,
Xanthomonas albilineans, Bacillus cereus dan Flavobacterium branchiophiia. Kultur
campuran bakteri hidrokarbonoklastik memiliki kemampuan yang baik dalam bioremediasi.
Jurnal ketiga mengkaji tentang buangan limbah cair karet yang dibuang ke perairan
akan memberikan kontribusi peningkatan TSS dan amoniak ke perairan sehingga perairan
menjadi tercemar. Pemanfaatan media saring dengan tumbuhan air dalam penelitian ini
merupakan alternatif pengolahan limbah cair yang mudah dan murah. Tumbuhan air melati
air (Echinodorus palaefolius) dan genjer (Limnocharis flava) mampu menurunkan kadar TSS
dan amoniak dalam limbah cair kelapa sawit, namun sejauh ini belum diketahuinya
efektifitas media penyaring dan tumbuhan air tersebut dalam meremediasi TSS dan
amoniak dalam limbah cair karet. Selain itu, juga belum diketahuinya hasil olahan limbah
cair karet tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media hidup ikan. Dari penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa media penyaring pasir dan tumbuhan air mampu meremediasi TSS dan
amoniak dalam limbah cair karet. Limbah cair hasil olahan dari media penyaring pasir dengan
aliran vertikal menanjak dan tumbuhan air mampu sudah berada dibawah baku mutu dan
dapat menjadi media hidup ikan dengan kelulusan hidup ikan di atas 50%.
Berikutnya, dalam jurnal lain dikaji tentang biodegradasi limbah cair organik
menggunakan konsorsium bakteri. limbah organik merupakan salah satu jenis limbah
yang seringkali mencemari daerah perairan. Biodegradasi dapat digunakan sebagai solusi
perbaikan lingkungan yang tercemar bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan konsorsium bakteri dalam mendegradasi limbah cair organik, dan
menghasilkan buku ajar matakuliah Pencemaran Lingkungan berdasarkan hasil penelitian
biodegradasi limbah organik menggunakan konsorsium bakteri. Penelitian ini dilakukan
melalui dua tahap. Tahap pertama merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan jenis bakteri dan 3 kali ulangan,
sedangkan penelitian tahap kedua merupakan penelitian pengembangan dari hasil penelitian
tahap pertama. Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa kombinasi dari 3 isolat
bakteri (Enterobacter gergoviae, Vibrio parahaemolyticus, dan Pseudomonas stutzeri)
merupakan komposisi konsorsium yang tertinggi potensinya dalam menurunkan kadar
BOD (71.75%), COD (74.40%), TSS (58.44%), dan menaikkan DO (84.15%). Penelitian
tahap dua mengacu pada model pengembangan bahan ajar Educational Research and
Development Borg & Gall, dengan tahapan Research and Information Collecting, Planning,
Develop Preliminary Form of Product, Preliminary Field Testing, dan Main Product Revision
yang menghasilkan buku ajar untuk matakuliah Pencemaran Lingkungan berjudul
Biodegradasi Limbah Organik Menggunakan Konsorsium Bakteri.
Jurnal selanjutnya mengkaji tentang pencemaran air sungai oleh industry tahu, yang
menggunakan efektif mikroorganisme (EM4). Walau usaha masih dalam bentuk usaha rumah
tangga, namun disebabkan industri ini cukup banyak jumlahnya dan limbah yang dihasilkan
disangsikan berdampak signifikan terhadap lingkungan. Hasil pengukuran nilai pH setelah
pemberian efektif mikroorganisme (EM4) dengan konsentrasi 1:20 (perlakuan A) dan
konsentrasi 1:10 (perlakuan B) dalam waktu 15 hari berkisar antara 7,68 0,07 dan 7,61
0,06. Secara umum pengolahan aerob dengan bioremediasi menggunakan mikroorganisme
EM4 mampu menurunkan konsentrasi BOD dan COD limbah cair tahu, dimana persentase
penurunan konsentrasi mencapai 93,61-97,87%. Dari data yang diperoleh konsentrasi
penurunan BOD dan COD dengan proses aerob lebih tinggi dari pada konsentrasi penurunan
BOD dan COD dengan proses anaerob. Proses aerob ini lebih baik dari pada proses anaerob
untuk menurunkan konsentrasi BOD dan COD limbah cair tahu. Sebagai perbandingan hasil
penelitian (Nusa dan Heru, 1999) untuk konsentrasi BOD dan COD limbah cair tahu yang
diolah dengan cara anerob persentase penurunan konsentrasinya berkisar antara 70-80%,
kemudian penelitian yang sama dilakukan oleh (Nuraida, 1985) penurunan konsentrasi BOD.
Begitupun dengan penggunaan tanaman talas (Colocasia esculenta). Berdasarkan data
kualitas air tersebut, bahwa sungai Cikapundung mengindikasikan sebagai sungai yang sudah
tercemar organik. Hal tersebut antara lain ditunjukkan oleh tingkat keasaman air sungai yang
mengarah ke pH asam (6.8) dan diperkuat oleh kandungan nitrogen (N) yang konsentrasinya
hampir 2,5 kali kandungan N pada air tanah, juga kandungan karbon organic (C) yang
konsentrasinya hamper 50 kali kandungan C pada air tanah. Pertumbuhan talas pada Kolam
AS lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan di Kolam AT, diduga terkait dengan
pasokan nutrient pada Kolam AT yang rendah, sedangkanKolam AS tinggi karena limbah
organik yang masuk kedalam sungai Cikapundung. Penyerapan bahan organic(C,N dan P)
oleh tanaman talas mencapai 2000 mguntuk C dan 100 mg untuk N selama 63 hari.
Kemudian, dalam jurnal selanjutnya memperlihatkan bahwa
semakin besar konsentrasi amoniak maka kemampuan remediasi amoniak
oleh eceng gondok akan semakin menurun. Semakin besar konsentrasi
amoniak maka toksisistas amoniak terhadap eceng gondok akan semakin
besar sehingga menyebabkan kemampuan remediasi eceng gondok
terhadap amoniak semakin berkurang. Pengaruh Penambahan Nutrisi dan
Berat pada Enceng Gondok dengan berat 1000 gram dan 750 gram
mampu menurunkan konsentrasi amoniak dalam larutan hingga 70%
meskipun selanjutnya mengalami penurunan kemampuan remediasi
sangat tajam. Sedangkan pada eceng gondok 250 gram kemampuan
remediasinya berbanding lurus dengan waktu kontak.
Jurnal terakhir memperlihatkan hasil bahwa selama proses
pengolahan limbah cair tapioka, rata-rata nilai BOD pada berbagai
konsentrasi limbah cair tapioka mengalami penurunan. Rata-rata COD
limbah cair tapioka mengalami penurunan juga. Nilai TSS limbah cair
tapioka yang telah mengalami proses pengolahan dengan menggunakan
tanaman secara umum mengalami peningkatan. Hal ini terjadi selain
karena konsentrasi limbah yang tinggi juga adanya padatan yang berasal
dari tanaman eceng gondok. Setelah 28 hari tejadi peningkatan kadar
oksigen terlarut pada berbagai konsentrasi limbah cair tapioka. Hasil rata-
rata nilai CN (sianida) limbah cair tapioka mengalami penurunan pada
semua perlakuan. Terjadi peningkatan pH pada berbagai konsentrasi
limbah cair tapioka pada hari ke-28. Rata-rata nila N pada berbagai
konsentrasi limbah cair tapioka umumnya mengalami penurunan setelah
mengalami pengolahan selama 28 hari. Rata-rata P-total pada berbagai
konsentrasi limbah cair tapioka umumnya mengalami penurunan selama
28 hari.
Biodegradasi dengan memanfaatkan bakteri indigen dapat menjadi alternatif dalam
memperbaiki kualitas perairan. Biodegradasi merupakan cara yang efektif dalam
mendegradasi bahan organik, terutama kadar lemak. Konsorsium dari isolat bakteri S.aureus,
P.pseudomallei dan Actinobacilus sp. dalam penelitian ini mampu menurunkan kadar lemak,
BOD, COD dan TSS serta menaikkan kadar DO pada sampel air sungai.

Rujukan Pustaka
Fidiastuti, H. R. 2014. Potensi Bakteri Indigen dalam Biodegradasi Air Sungai.
https://jurnal.unej.ac.id/index.php/STF/article/download/2396/1963/ [Diakses pada 25
Oktober 2017 pukul 16.50 WIB]

Jasmiati, Sofia.A, dan Thamrin. 2010. Bioremediasi Limbah Cair Industri Tahu
Menggunakan Efektif Mikroorganisme (EM4). Jurnal of Enfironmental Science.
ISSN 1978-5283
M, Febrizki Lenggo., Budijono., Hasbi. M. 2014. Remediation of TSS and Ammonia in the
Rubber Liquid Waste by the Filter Media and the Water Plants (Limmnocharis flava,
Echinodorus palaefolius) For Live Fish Media. JOM Oktober 2014. Pekanbaru,
Riau.

Mara, Duncan and Horan,N.J. 2003. Handbook of water and wastewater microbiology. ISBN
0-12- 470100-0. Elsevier Pusat Litbang Sumber

Mulvey, P. 2002. Treatment, Recovery and Disposal Technology: Bioremediation Techniques


for Petroleum Facilities. Environmental and Earth Sciences Pty Ltd., North Sydne

Nuraida, 1985, Analisis Kebutuhan Air Pada Industri Pengolahan Tahu dan Kedelai, Thesis
Master, Program Pasca Sarjana USU, Medan.

Nusa, I.S. dan Heru, D.W. 1999. Teknologi Pengolahan Air Limbah Tahu-Tempe dengan
Proses Biofilter Anaerob dan Aerob. Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan
Limbah Cair, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.

Paramita, dkk. 2011. Biodegradasi Limbah Organik dari Air Sungai Tercemar, Pasar dan
Limbah Domestik dengan Menggunakan Mikroorganisme Alami Tangki Septik.
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-22855-1507100006-Paper.pdf [Diaksese pada
25 Oktober 2015 pukul 16.45 WIB]

Sharpley, J. M. 1966. Elementary Petroleum Microbiology. Gult. Publ. Co., Texas.

Subroto, M.A. 1996. Fitoremediasi. Dalam: Prosiding Pelatihan dan Lokakarya Peranan
Bioremediasi Dalam Pengelolaan Lingkungan, Cibinong. 24-25 Juni 1996.

Turista, Dora Dayu Rahma. 2017. Biodegradasi Limbah Cair Organik Menggunakan
Konsorsium Bakteri Sebagai Bahan Penyusunan Buku Ajar Matakuliah Pencemaran
Lingkungan. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA (p-ISSN: 2442-3750; e-
ISSN: 2527-6204) VOLUME 3 NOMOR 2 TAHUN 2017(Halaman 95-102). STIKes
Hutama Abdi Husada Tulungagung

Wibowo Kusno dan Wage Komarawidjaja. 2012. Uji Tanaman Talas (Colocasia esculenta)
Sebagai Agen Fitoremediasi Air Sungai Cikapundung. Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi.