You are on page 1of 18

TUGAS MANDIRI

MAKALAH KEPERAWATAN SISTEM INTEGUMEN

KONSEP GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA ANAK

DHF (Dengue Haemorraghic Fever)

OLEH :

RIRIN PRASTIA AGUSTIN

NIM. 1510045

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA

2017-2018
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut sebagai
demam berdarah. Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut sebagai penyakit
(terutama sering dijumpai pada anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan gejala
utama demam,nyeri otot, dan sendi diikuti dengan gejala pendarahan spontan seperti ;
bintik merah pada kulit,mimisan, bahkan pada keadaan yang parah disertai muntah atau
BAB berdarah.
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah
suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya
adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-
2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang
berbeda, tergantung dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di
negara-negara Tropis dan Subtropis.
Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam
jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Menurut WHO, negara Indonesia ialah negara
dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara sejak tahun 1968 hingga 2009. Angka
kesakitan DBD pada tahun 2011 di wilayah Provinsi Sulawesi Utara khususnya kota
Manado sebesar 156 kasus dari total 1485 kasus di seluruh wilayah provinsi sulut . Total
kunjungan penderita DBD Pada periode tahun 2008-2012 di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou
Manado mencapai 3077 dengan total kasus baru sebanyak 2736 (Soputan, 2013) dan
berdasarkan data instalasi rekam medik, jumlah penderita DBD yang menjalani rawat inap
tahun 2013 di RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado sebanyak 315 dengan 242 diantaranya
ialah anak-anak dengan umur 2-12 tahun.
Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di
Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan
sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai
adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab
DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor
genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan
tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi
masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis.
BAB 2
TI NJAUAN TEORI
2.1 Teori Konsep Gangguan Sistem Integumen pada anak DHF
2.1.1 Definisi
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, sejenis
virusyang tergolong arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan
nyamukAedes Aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan
DemamBerdarah Dengue (DBD).
DHF adalah infeksi arbovirus( arthropoda-borne virus) akut, ditularkan
oleh nyamuk spesies Aedes .
Dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa DHF
merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti, biasanya menyerang anak di bawah usia 15
tahundan dapat menimbulkan kematian.
2.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi DHF menurut derajat penyakitnya dibagi menjadi 4 golongan :

1. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan.


Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan
hemokonsentrasi.

2. Derajat II : Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala


perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena,
perdarahan gusi.

3. Derajat III : Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi
lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg ),
tekanan darah menurun, (120/80 120/100 120/110 90/70
80/70 80/0 0/0 )

4. Derajat IV : Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung
140x/mnt) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak
biru.
2.1.3 Etiologi
Penyebab penyakit demam berdarah dengue adalah virus dengue yang
ditularkan kemanusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypty. yaitu virus yang
tergolong arbovirus, berbentuk batang bersifat termolabil, stabil pada suhu
70C.
2.1.4 Manifestasi Klinis
1. Demam
Demam mendadak disertai dengan gejala klinis yang tidak spesifik seperti
anoreksia, lemah, nyeri pada punggung, tulang sendi dan kepala. Pada
umumnya gejala klinik ini tidak mengkhawatirkan. Demam berlangsung
antara 2-7 hari kemudian turun secara lysis.
2. Perdarahan
Umumnya muncul pada hari kedua sampai ketiga demam bentuk
perdarahan dapat berupa uji rumple leed positif, petechiae, purpura,
echimosis, epistasis, perdarahan gusi dan yang paling parah adalah melena.
3. Hepatomegali
Hati pada umumnya dapat diraba pada pemulaan demam, kadang-kadang
juga di temukannya nyeri, tetapi biasanya disertai ikterus.
4. Shok
Shock biasanya terjadi pada saat demam menurun yaitu hari ketiga dan
ketujuh sakit. Shock yang terjadi dalam periode demam biasanya
mempunyai prognosa buruk. Penderita DHF memperlihatkan kegagalan
peredaran darah dimulai dengan kulit yang terasa lembab dan dingin pada
ujung hidung, jari dan kaki, sianosis sekitar mulut dan akhirnya shock.
5. Trombositopenia
Trombositopenia adalah berkurangnya jumlah trombosit, apabila dibawah
150.000/mm3 biasanya di temukan di antara hari ketiga sampai ketujuh
sakit.
6. Kenaikan Nilai Hematokrit
Meningkatnya nilai hematokrit merupakan indikator yang peka terhadap
terjadinya shock sehingga perlu di lakukan pemeriksaan secara periodik.
7. Gejala Klinik Lain
Gejala Klinik Lain yang dapat menyertai penderita adalah epigastrium,
muntah-muntah, diare dan kejang-kejang
2.1.5 Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan
viremia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi
komplek imun Antibodi virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan
melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan
merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termo regulasi instabil yaitu
hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi
hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas
dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya
komplek imun antibodi virus juga menimbulkan agregasi trombosit sehingga
terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, dan koagulopati. Ketiga hal
tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok
dan jika syok tidak teratasi, maka akan terjadi hipoxia jaringan dan akhirnya
terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena
kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga
perfusi jaringan menurun dan jika tidak teratasi dapat menimbulkan hipoxia
jaringan.
Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya
dapat hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia
terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada
daya tahan tubuh manusia. Sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi:
1) Aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin
yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga
terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke
ekstravaskular,
2) Agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan
menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan
terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang
3) Kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau
mengaktivasi faktor pembekuan.

Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan :

peningkatan permiabilitas kapiler;


kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati;
trombositopenia; dan kuagulopati
2.1.6 Penatalaksanaan
1. Menganjurkan tirah baring
2. Memberikan makanan lunak .
3. Pemberian terapi cairan melalui infus.
Pemberian cairan intra vena ( biasanya diberikan ringer lactat, nacl )
ringer lactate merupakan cairan intra vena yg paling sering digunakan ,
mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28
mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
4. Pemberian terapi obat-obatan : antibiotic, antipiretik
5. Pemberian Anti konvulsi jika terjadi kejang
6. Memonitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
7. Memonitor adanya tanda-tanda renjatan
8. Memonitor apabila ada tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
9. Melaksanakan pemeriksaan HB,HT, dan Trombosit setiap hari
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Darah : Leukopenia terjadi pada hari ke 2 atau 3, karena berkuarangnya
limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali. Trombositopenia dan
hemokonsentrasi. Uji tourniquet positif merupakan pemeriksaan yang
penting. Masa pembekuan normal tapi masa perdarahan memanjang.
2. Urine : Mungkin ditemukan albuminuria ringan
3. Sum sum tulang : Pada awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian
menjadi hiperseluler pada hari ke-5 dengan gangguan maturasi
4. Serologi : Dengan mengukur titer antibodi dengan cara
haemaglutination inhibition test ( HI Test ) atau dengan uji pengikatan
komplemen untuk mengetahui tipe virus yang mungkin timbul kembali
dari 4 serotipe yang ada.
2.2 Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen pada Anak DHF
A. Pengkajian
1. Identitas pasien
Nama, umur ( pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia
kurang dari 15 tahun ), jenis kelamin, alamat , pendidikan , nama orang tua
, pendidikan orang tua , dan pekerjaan orang tua.
2. Keluhan Utama
Alasan / keluhan yang menonjol pada pasien DHF untuk datang ke rumah
sakit adalah panas tinggi dan anak lemah.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Di dapatkan adanya keluhan panas mendadak yang di sertai menggigil dan
saat demam kesadaran compos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari
ke 3 dan ke 7 , dan anak semakin lemah. Kadang-kadang di sertai dengan
keluhan batuk, filek, nyeri telan, mual, muntah, anorexia, diare/konstipasi,
sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakanbola
mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (
grade III, IV ), melena, atau hematemesis.
4. Riwayat penyakit yang pernah di derita
Penyakit apa saja yang pernah di derita. Pada DHF, anak bisa mengalami
serangan ulang DHF dengan tipe virus yang lain.
5. Riwayat Imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat di hindarkan.
6. Riwayat Gizi
Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. semua anak dengan
status gizi baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor
predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan
mual, muntah, dan nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan
tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat
mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
7. Kondisi lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang
kurang bersih seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar.
8. Pola kebiasaan
Nutrisi dan metabolisme frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang, dan nafsu makan menurun.
Eliminasi alvi ( buang air besar ). Kadang-kadang anak mengalami
diare / konstipasi. sementara DHF pada grade III-IV bisa terjadi
melena.
Eliminasi urine ( buang air kecil ) perlu di kaji apakah sering kencing,
sedikit / banyak, sakit / tidak. pada DHF garade IV sering terjadi
hematuria.
Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena
mengalami sakit / nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan
kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan
lingkungan cenderung kurang terutama untuk membesihkan tempat
sarang nyamuk aedes aegypti.
Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk
menjaga kesehatan.
Pemeriksaan fisik. Meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade)
DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut.
1) Grade I : Kesadaran kompos mentis, keadaaan umum lemah,
tanda-tanda vital dan nadi lemah.
2) Grade II : Kesadaran kompos mentis , keadaaan uum lemah, ada
perdarahan spontan ptekia, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi
lemah, kecil, dan tidak teratur.
3) Grade III : kesadaran apatis, somenolen, keadaan umum lemah,
nadi lemah, kecil, dan tidak teratur, serta tensi menurun.
4) Grade IV : Kesadaran koma, tanda-tanda vital : nadi tidak teraba,
tensi tidak terukur, pernafasan tidak teratur, ekstremitas dingin ,
berkeringat, dan kulit tampak biru.
Sistem Integumen
1) Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul
keringat dingin, dan lembab.
2) Kuku sianosis / tidak
3) Kepala dan leher

Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (


flusy ), mata anemis, hidung kadang mengalamiperdarahan (
epistaksis ) pada grade II,III,IV, pada mulut di dapatkan bahwa
mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan.
Sementara tenggorokan mengalami hypertemia pharing dan
terjadi perdarahan telinga ( pada grade II,III,IV ).

4) Dada

Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. pada fhoto


thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah
kanan ( efusi pleura ), Rales +, rhonkhi + yang biasanya terdapat
grade III dan IV.

5) Abdomen, mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (


hepatomegali ), dan asietas.
6) Ekstremitas, akral dingin, serta terjadi nyeri otot , sendi, serta
tulang.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi
virus.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
mual, muntah, anoreksia.
4. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan keletihan, malaise
sekunder akibat DHF.
6. Kecemasan ringan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan
perdarahan yang dialami pasien.
C. Intervensi
1. Diagnosa I
Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi
virus.
Tujuan : Anak menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal.
Kriteria hasil :
Suhu tubuh 36-37 0C
Pasien bebas dari demam.
Rencana tindakan :

1) Monitor temperatur tubuh


Rasional : Perubahan temperatur dapat terjadi pada proses infeksi
akut.
2) Observasi tanda-tanda vital (suhu, tensi, nadi, pernafasan tiap 3 jam
atau lebih sering).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan
umum pasien.
3) Anjurkan pasien untuk minum banyak 1 -2 liter dalam 24 jam.
Rasional : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan yang banyak.
4) Berikan kompres dingin
Rasional : Menurunkan panas lewat konduksi.
5) Berikan antipiretik sesuai program tim medis
Rasional : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus.
2. Diagnosa II
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler, perdarahan, muntah, dan demam.
Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan cairan.
Kriteria hasil :
TTV (nadi, tensi) dalam batas normal
Turgor kulit kembali dalam 1 detik
Ubun-ubun datar
Produksi urine 1 cc/ kg/ BB/ jam
Tidak terjadi syok hipovolemik

Rencana tindakan :

1) Kaji keadaan umum pasien


Rasional : Menetapkan data dasar untuk mengetahui dengan cepat
penyimpangan dari keadaan normalnya.
2) Observasi tanda-tanda syok (nadi lemah dan cepat, tensi menurun
akral dingin, kesadaran menurun, gelisah)
Rasional : Mengetahui tanda syok sedini mungkin sehingga dapat
segera dilakukan tindakan.
3) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-ubun cekung
produksi urin turun).
Rasional : Mengetahui derajat dehidrasi (turgor kulit turun, ubun-
ubun cekung produksi urin turun).
4) Berikan hidrasi peroral secara adekuat sesuai dengan kebutuhan
tubuh.
Rasional : Asupan cairan sangat diperhatikan untuk menambah
volume cairan tubuh.
5) Kolaborasi pemberian cairan intravena RL, glukosa 5% dalam half
strenght NaCl 0,9%, Dextran L 40.
Rasional : Pemberian cairan ini sangat penting bagi pasien yang
mengalami defisit volume cairan dengan keadaan umum yang buruk
karena cairan ini langsung masuk ke pembuluh darah.
3. Diagnosa III
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
mual, muntah dan anoreksia.
Tujuan : pemenuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
Adanya minat/ selera makan
Porsi makansesuai kebutuhan
BB dipertahankan sesuai usia
BB meningkat sesuai usia

Rencana tindakan :

1) Monitor intake makanan


Rasional : Memonitor intake kalori dan insufisiensi kualitas
konsumsi makanan.
2) Memberikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan.
Rasional : Mengurangi rasa tidak nyaman dan meningkatkan selera
makan.
3) Sajikan makanan yang menarik, merangsang selera dan dalam
suasana yang menyenangkan.
Rasional : Meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan
intake makanan.
4) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Makan dalam porsi besar/ banyak lebih sulit dikonsumsi
saat pasien anoreksia.
5) Timbang BB setiap hari.
Rasional : Memonitor kurangnya BB dan efektifitas intervensi
nutrisi yang diberikan.
6) Konsul ke ahli gizi.
Rasional : Memberikan bantuan untuk menetapkan diet dan
merencanakan pertemuan secara individual bila diperlukan.
4. Diagnosa IV
Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan : Anak menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan perifer yang
adekuat.
Kriteria hasil :
Suhu ekstrimitas hangat, tidak lembab, warna merah muda
Ekstrimitas tidak nyeri, tidak ada pembengkakan
CRT kembali dalam 1 detik

Rencana tindakan :

1) Kaji dan catat tanda-tanda vital (kualitas dan frekuensi nadi, tensi,
capilary reffil).
Rasional : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
penurunan perfusi ke jaringan.
2) Kaji dan catat sirkulasi pada ekstrimitas (suhu kelembaban, dan
warna).
Rasional : Suhu dingin, warna pucat pada ekstrimitas menunjukkan
sirkulasi darah kurang adekuat.
3) Nilai kemungkinan kematian jaringan pada ekstrimitas seperti
dingin, nyeri, pembengkakan, kaki.
Rasional : Mengetahui tanda kematian jaringan ekstrimitas lebih
awal dapat berguna untuk mencegah kematian jaringan.
5. Diagnosa V
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan keletihan malaise
sekunder akibat DHF.
Tujuan : Rasa nyaman pasien terpenuhi dengan kriteria nyeri berkurang
atau hilang.
Rencana tindakan :
1) Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien dengan memberi rentang
nyeri (0-10).
Rasional : Mengetahui nyeri yang dialami pasien sehingga perawat
dapat menentukan cara mengatasinya.
2) Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri.
Rasional : Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat
dapat melakukan intervensi yang sesuai dengan masalah klien.
3) Berikan posisi yang nyaman dan ciptakan suasana ruangan yang
tenang.
Rasional : Posisi yang nyaman dan situasi yang tenang dapat
membuat perasaan yang nyaman pada pasien.
4) Berikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien dari
rasa nyeri dengan mainan, membaca buku cerita.
Rasional : Dengan melakukan aktifitas lain pasien dapat
sedikit mengalihkan perhatiannya terhadap nyeri.
5) Kolaborasi pemberian obat-obatan analgesik.
Rasional : Obat analgesik dapat menekankan rasa nyeri.
6. Diagnosa VI
Kecemasan ringan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan
perdarahan yang dialami pasien.
Tujuan : kecemasan berkurang
Kriteria hasil :
Klien tampak lebih tenang
Klien mau berkomunikasi dengan perawat

Rencana tindakan :

1) Kaji rasa cemas yang dialam oleh pasien.


Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
2) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Membantu menenangkan perasaan pasien.
3) Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar segala sesuatu yang disampaikan pada pasien
memberikan hasil yang efektif.
4) Jaga hubungan saling percaya dari pasien dan keluarga.
Rasional : Menjalin hubungan saling percaya antara perawat dengan
pasien/ keluarga.
5) Jawab pertanyaan daripasien/ keluarga dengan jujur dan benar.
Rasional : Jawaban jujur dan benar akan menumbuhkan kepercayaan
pasien pada perawat

2.3 Patient Safety

Keselamatan pasien (patient safety) secara sederhana didefinisikan sebgai suatu


upaya untuk mencegah bahaya yang terjadi pada pasien . Konsep keselamatan pasien
harus dijalankan secara menyeluruh dan terpadu. Strategi untuk menigkatkan
keselamatan pasien DHF :

Beri Obat Turun Panas seperti Tempra untuk anak2 atau Panadol untuk orang
dewasa. Hati-hati memilih obat demam, pastikan mengandung PARASETAMOL
(baca kemasan)

Jika demam tidak turun setelah 1 hari diberi obat, segera periksa darah untuk
memastikan demam berdarah.

Beri minum yang banyak agar tidak dehidrasi. Untuk orang dewasa sekitar 20
gelas sedang/hari. Jika lambung kuat/tidak maag, bisa diberikan Pocari Sweat atau
Air Kelapa.

Banyaklah makan meski mual. Coba makan bubur kacang hijau, bubur ayam, dsb.
Untuk mengatasi mual bisa minum obat Primperan.

Minumlah 2 sendok makan madu dan juga sari kurma 2-3 jam sekali untuk
meningkatkan stamina anda.

Untuk pengobatan alternatif bisa diminum Jus Jambu Biji Merah dan juga obat
Cina Angkak.
2.4 Aspek Legal Etik Keperawatan Gangguan Sistem Integumen pada Anak DHF
Aspek Legal
Sebagai Narasumber dan fasilitator perawatan paliatif (untuk memberikan
perasaan nyaman dan menghindari keresahan, membantu belajar mandiri, menghibur
saat sedih,membangun motivasi diri).
Memberikan inform consent/lembar persetujuan kepada klien terhadap segala
tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
Sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan lainnya dalam rangka
pemenuhan kebutuhan klien.
Memberikan penyuluhan yang berhubungan dengan pengetahuan penyakit
DHF , mengajar keluarga tentang bertanya dan mendengarkan, memberikan
informasi dan mendiskusikan, mengevaluasi pemahaman, mendengar dan
menjawab pertanyaan, menunjukkan cara melakukan sesuatu dengan benar dan
mandiri serta pemecahan masalah.serta pengobatan yang diperlukan/ dilakukan.

Kode etik

Beneficence
Mengupayakan yang terbaik untuk klien dalam segala tindakan dan kebutuhan
klien. Apabila diperlukan tindakan donor, maka tindakan itu diperhatikan, serta
benar-benar dalam keadaan yang gawat, atau memerlukan tindakan donor darah
dikarenakan kekurangan darah.
Non-malefience
Menghindari tindakan yang dapat merugikan / membahayakan klien seperti
salah memberikan dosis obat. Serta salah melakukan pemeriksaan, misalnya
pada pemeriksaan darah, karena selain memerlukan biaya yang mahal, serta
dapat menyebabkan pasien tersebut malah menimbilkan penyakit yang baru.
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Terapi Cairan Pada Pasien Anak DHF

Demam berdarah (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue (arboovirus) yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypty. Prevalensi kasus demam berdarah di Indonesia pada tahun 2014 71.668 orang
dan 641 diantaranya meninggal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tatalaksana
pemberian terapi cairan pada pasien anak demam berdarah dengue di ruang Flamboyan
RST Dr. Soedjono Magelang.

Penatalaksaan yang dilakukan pada pasien DBD berhubungan dengan


pemberian cairan. Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis.
Penatalaksanaan dituujukkan untuk menggantikan kehilangan cairan akibat kebocoran
plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam
pemberian terapi cairan hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik
secara klinis maupaun laoratorium. Bahwa pada DBD derajat I dan II jenis cairan yang
diberikan adalah kristaloid berupa RL/Asering/NaCl 0,9 % dan untuk DBD derajat III
dan IV diberikan cairan tinggal seperti gelofusin/gelofundin, plasma darah atau bila
syok tetap terjadi diberikn kombinasi kristaloid dan kolid. Penggunaan kristaloid dalam
tatalaksana DBD aman dan efektif. Beberapa efek samping yang dilaporkan terkait
dengan penggunaan kristaloid adalah edema, asidosis laktat, instabilitas hemodinamik
dan hemokonsentrasi. Kristaloid memiliki waktu bertahan yang singkat di dalam
pembuluh darah. Pemberian larutan ringer laktat (RL) secara bolus (20 ml/kg BB) akan
menyebabkan efek penambahan volume vaskular hanya dalam waktu yang singkat
sebelum didistribusikan ke seluruh kompartemen interstisial dengan perbandingan 1 :
3, sehingga dari 20 ml bolus tersebut dalam waktu satu jam hanya 5 ml yang tetap
berada dalam ruang intravaskular dan 15 ml masuk ke dalam ruang interstisial.
Sedangkan cairan koloid mengandung zat-zat dengan berat molekul tinggi seperti
protein atau polimer glukosa.

Cairan koloid menjaga tekanan onkotik koloid plasma dan sebagian besar tetap
berada di intravaskular, sedangkan cairan kristaloid cepat seimbang dan terdistribusi ke
seluruh rongga cairan ekstraseluler. Koloid sering didasarkan pada larutan kristaloid
sehingga mengandung air dan elektrolit, namun memiliki komponen tambahan zat
koloid yang tidak bebas berdifusi melintasi membran semipermeabel.

DAFTAR PUSTAKA

Soedarto. 2012. Demam Berdarah Dengue Dengue Haemoohagic Fever. Jakarta:


Sugeng Seto.

Rekam Medik Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Kasus Demam dengue
(DHF) dalam rentang waktu tahun 2012-2013. Didapat pada 9 Mei 2013

Soegijanto 2012. Demam Berdarah Dengue. Surabaya: Airlangga University press.

Wilkinson, Judith M. & Nency, Ahern N. 2011. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.
Jakarta: EGC.

Depkes RI. 2010. Demam Berdarah Dengue. Buletin Jendela Epidemiologi, 2.

Andriani, et al (2014). Kajian Penatalaksanaan Terapi Peengobatan Demam Berdarah


Dengue (DBD) pada Penderita Anak yang Menjalani Perawatan di RSUP Prof. DR. R. D
Kandou Tahun 2013. Jurnal Ilmiah Farmasi - Unsrat. Vol 3 No. 2.

NANDA. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta :


EGC

Wijaya A. S & Putri Y. M. 2013. Keperawatan medical bedah KMB 2. Yogyakarta :


Nuha Medika
Departemen Kesehatan RI (2015). Prevalensi Demam Berdarah Dengue di
indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/15011700003/demam-berdarah-biasanya-
mulai-meningkat-di-januari.html (diakses pada 10 Juni 2016).

Judith, W.M. 2015. Diagnosis Keperawatan : NANDA , Intervensi NIN, Hasil NOC Ed
10. Jakarta : EGC