You are on page 1of 7

BENTUK-BENTUK KETIDAK ADILAN GENDER

Konsep Gender : mengacu pada peran dan tanggung jawab sebagai


perempuan dan sebagai laki2 yang diciptakan dan diinternalisasi dalam keluarga,
dalam masyarakat, dalam budaya masyarakat dimana kita hidup termasuk harapan-
harapan, sikap, sifat, perilaku bagaimana menjadi seorang laki2 dan bagaimana
menjadi seorang perempuan (culturally learned and assigned behaviour);

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih
dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu
permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidak mengakibatkan diskriminasi atau
ketidakadilan.

Contoh Gender yang jadi masalah:

1. Perempuan tdk berkembang krn harus di rumah saja

2. Anak-anak perempuan tidak mendapat pendidikan seperti anak laki kerena


dianggap tdk perlu
3. Perempuan tergantung pada nafkah suami shg kalau suami meninggal
perempuan sulit utk menghidupi anak-anaknya krn tdk ada ketrampilan &
pengalaman
4. Laki-laki tidak mau tahu dengan pekerjaan di rumah karena marasa tdk pantas
melakukan pekerjaan perempuan, meskipun istri sangat repot
Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender

1. Marjinalisasi (Pemiskinan)
Suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan
atau laki-laki

Bentuknya macam-macam:

1. Terpinggirkannya karier perempuan untuk menjadi pimpinan, promosi


atau pendidikan lanjut krn dianggap tdk sesuai jadi pimpinan
2. Perempuan tidak perlu pendidikan tinggi karena akhirnya nanti juga
ke dapur
3. Pada laki-laki, adanya anggapan bahwa mereka sebagai penyangga
ekonomi keluarga, akibatnya banyak yang drop-out krn harus bekerja
2. Subordinasi (penomorduaan)
Sikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang
lebih rendah dibanding laki-laki dibangun atas dasar keyakinan satu jenis kelamin
dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding yang lain

Bentuknya macam-macam:

Perempuan sebagai konco wingking

Perempuan lebih dikalahkan dari laki-laki dalam pendidikan oleh keluarganya


Perempuan dianggap tidak cocok untuk berbagai pekerjaan
Mengurus rumahtangga dianggap sebagai kodrat perempuan, dll

Contoh Kasus

Seorang Ibu di India dengan dua anak kembarnya.


Anak laki-laki disusui oleh ibunya (diberi ASI), sedangkan
anak berjenis kelamin perempuan diberi susu botol. Mengapa demikian?

3. Stereotype atau Pelabelan Negatif


Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkal pada satu
sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan.

Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label/cap kepada
seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau
sesat.
Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali
digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok
atas kelompok lainnya.

Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau


tidak seimbang yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain.
Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun
seringkali pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan.
Contoh :

Perempuan dianggap cengeng, suka digoda.


Perempuan tidak rasional, emosional.
Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting.
Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan.
Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.

4. Violence atau Kekerasan terhadap perempuan


Kekerasan (violence) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik
yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga,
masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya.

Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki.


Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian
mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan
sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata
pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan
bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-
mena, berupa tindakan kekerasan.

Contoh :

Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap
isterinya di dalam rumah tangga.
Pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa
dan tertekan.
Pelecehan seksual.
Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.

5. Double Burden atau Beban Ganda


Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu
jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya

Contoh keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik


KKG

1. KESETARAAN GENDER (Gender Equity)

Memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan dengan


tidak memprioritaskan jenis kelamin tertentu.

2. Gender equality atau keadilan gender

Merupakan proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-


laki,sehingga dalam menjalankan kehidupan bernegara dan bermasyarakat,tidak ada
pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan

Dikatakan adil/setara Gender:

Jika:

> Terdapat pembagian kerja/peran laki-laki dan perempuan sesuai dengan


harkat dan martabatnya dalam hal:

akses (peluang)

partisipasi
kontrol - keputusan atas diri sendiri
mengambil manfaat
INPRES NO.9/2000 TTG PUG DALAM PEMB.NASIONAL

PERPRES NO. 5/2010

PENGARUSUTAMAAN GENDER/PUG
Strategi Mengintegrasikan Pengalaman,
Aspirasi,atauKebutuhan,
Gender mainstreaming serta(PUG) merupakan
Pengarusutamaan Gender
Permasalahan
langkah selanjutnya Laki-laki
dari konsep kesetaraan genderdandan proses keadilan
gender.
Perempuan dalam Setiap Tahapan
Secara umum PUG Prosesmerupakan sebuah strategi dalam aplikasi
kesetaraan dan keadilan gender dalam sebuah organisasi.
Kebijakan, Program, Dan Kegiatan
Pembangunan
INDIKATOR PUG

Terhadap
Akses Sumberdaya

K
K Partisipa
si Terhadap
G Pengambilan
keputusan
Kontrol
Dari kebijakan
& program
Manfaat dlm
pembangunan