You are on page 1of 24

Korupsi Kasus Pencucian Uang oleh Gayus Tambunan

Mata Kuliah : Pendidikan Budaya Anti Korupsi

Disusun Oleh :
Arif Ridwan
Devi Handika Hargiyanti
Dhiya Nabilah
Diana Arum Sari
Dinda Aulia S

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II


Jurusan Kesehatan Lingkungan
Jln. Hang Jebat Raya no. 47A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp : (021) 7397641 Fax: (021) 7397769
Website : poltekkesjkt2.ac.id
Jakarta, 2015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di dalam hiruk-pikuk masyarakat dunia termasuk di Indonesia,
dewasa ini terjadi tindak criminal yang sudah membudaya dan sangat
kronik.
Suatu tindakan dapat digolongkan korupsi, kalau tindakan itu
merupakan penyalahgunaan sumber daya public, yang tujuannya untuk
memenuhi kepentingan pribadi atau kelompok .
Hasil survey (2004) Political and Economic Risk Consultancy
Ltd. (PERC) menyatakan bahwa korupsi di Indonesia menduduki skor
9,25 di atas India (8,90), Vietnam (8,67), dan Thailand (7,33). Artinya,
Indonesia masih menjadi Negara terkorup di Asia.
Dalam buku yang diterbitkan oleh Syed Hossein Atalas ciri-ciri korupsi
diringkaskan sebagai berikut:
Suatu penghianatan terhadap kepercayaan,
penipuan terhadap badan pemerintahan, lembaga swasta atau
masyarakat umumnya,
dengan sengaja melalaikan kepentingan umum untuk kepentingan
pribadi,
dilakukan dengan rahasia, kecuali dalam keadaan dimana orang-
orang yang berkuasa atau bawahanya menganggapnya tidak
perlu,
melibatkan lebih dari satu orang atau pihak,
adanya kewajiban dan keuntungan bersama, dalambentuk uang
atau yang lainya,
terpusatnya kegiatan (korupsi) pda mereka yang menghendaki
keputusan yang pasti dann menguntungkan bagi dirinya ataupun
kelompoknya,
adanya usaha untuk menutupi perbuata korup dalam bentuk-bentuk
pengesahan hukum, dan
menunjukan fungsi ganda yang kontradiktitif pada mereka yang
melakukan korupsi.

Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan


keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan
sebagai suatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua
aspek kehidupan masyarakat.
Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan oleh
dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang yang terlibat
sejak dari perencanaan sampai pada pelaksanaan) dan pembiayaan.
Diantara dua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor
manusianya. Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di Asia
dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi
ironisnya, negara tercinta ini dibandingkan dengan negara lain di kawasan
Asia bukanlah merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk
negara yang miskin. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah
rendahnya kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan
hanya dari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut
kualitas moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral dan rendahnya
tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara negara menyebabkan
terjadinya korupsi.Korupsi di Indonesia ini sudah merupakan patologi
social (penyakit social) yang sangat berbahaya yang mengancam semua
aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah
mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang sangat besar.
Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan dan
pengurasan keuangan negara yang dilakukan secara kolektif oleh
kalangan anggota legislatif dengan dalih studi banding, THR, uang
pesangon dan lain sebagainya di luar batas kewajaran. Bentuk
perampasan dan pengurasan keuangan negara demikian terjadi hampir di
seluruh wilayah tanah air. Hal itu merupakan cerminan rendahnya
moralitas dan rasa malu, sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan
dan aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah korupsi diberantas?
Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus
diberantas. Jika kita tidak berhasil memberantas korupsi, atau paling tidak
mengurangi sampai pada titik nadir yang paling rendah maka jangan
harap Negara ini akan mampu mengejar ketertinggalannya dibandingkan
negara lain untuk menjadi sebuah negara yang maju. Karena korupsi
membawa dampak negatif yang cukup luas dan dapat membawa negara
ke jurang kehancuran.

1.2 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian korupsi.
2. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya korupsi.
3. Untuk mengetahui Strategi dan langkah-langkah pencegahan yang
dapat dilakukan untuk memberantas korupsi
4. Untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh korupsi.

1.3 SISTEMATIKA PENULISAN


BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam BAB ini penulis menguraikan tentang Latar Belakang, Tujuan dan
Sistematika Penulisan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Dalam Bab ini penulis menguraikan Teori Teori Seperti yang ada pada
bab 2
BAB 3 ANALISIS
Dalam BAB ini penulis menguraikan contoh kasus dan analisis kasus.
BAB 4 PEMBAHASAN
Dalam Bab ini Penulis Menguraikan tentang Pembahasan kasus
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam BAB ini berisikan tentang kesimpulan dan saran dari kasus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

PENGERTIAN KORUPSI
Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata
kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan,
memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik,
baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam
tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan
kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan
keuntungan sepihak.
Secara hukum pengertian "korupsi" adalah tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. Jadi dapat disimpulkan
bahwa pengertian "korupsi" lebih ditekankan kepada perbuatan yang
merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas untuk keuntungan
pribadi atau golongan.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis
besar memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
perbuatan melawan hukum,
penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan\
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

FAKTOR PENYEBAB KORUPSI


Mengutip teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering
disebut GONE Theory, bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
korupsi meliputi :

Greeds (keserakahan): berkaitan dengan adanya perilaku serakah


yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang.
Opportunities (kesempatan): berkaitan dengan keadaan organisasi
atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa, sehingga
terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan.
Needs (kebutuhan): berkaitan dengan faktor-faktor yamg dibutuhkan
oleh individu-individu untuk menunjang hidupnya yang wajar.
Exposures (pengungkapan): berkaitan dengan tindakan atau
konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku
diketemukan melakukan kecurangan.

Faktor-faktor Greeds dan Needs berkaitan dengan individu pelaku


(actor) korupsi, yaitu individu atau kelompok baik dalam organisasi
maupun di luar organisasi yang melakukan korupsi yang merugikan pihak
korban. Sedangkan faktor-faktorOpportunities dan Exposures berkaitan
dengan korban perbuatan korupsi (victim) yaitu organisasi, instansi,
masyarakat yang kepentingannya dirugikan.

Menurut Arya Maheka, Faktor-Faktor yang menyebabkan terjadinya


Korupsi adalah :
1. Penegakan hukum tidak konsisten : penegakan huku hanya sebagai
meke-up politik, bersifat sementara dan sellalu berubah tiap
pergantian pemerintahan.
2. Penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang karena takut dianggap
bodoh bila tidak menggunakan kesempatan.
3. Langkanya lingkungan yang antikorup : sistem dan pedoman
antikorupsi hanya dilakukan sebatas formalitas.
4. Rendahnya pendapatan penyelenggaraan negara. Pedapatan yang
diperoleh harus mampu memenuhi kebutuhan penyelenggara
negara, mampu mendorong penyelenggara negara untuk
berprestasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
5. Kemiskinan, keserakahan : masyarakat kurang mampu melakukan
korupsi karena kesulitan ekonomi. Sedangkan mereka yang
berkecukupan melakukan korupsi karena serakah, tidak pernah
puas dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
keuntungan.
6. Budaya member upeti, imbalan jasa dan hadiah.
7. Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan
korupsi : saat tertangkap bisa menyuap penegak hukum sehingga
dibebaskan atau setidaknya diringankan hukumannya. Rumus:
Keuntungan korupsi > kerugian bila tertangkap.
8. Budaya permisif/serba membolehkan; tidakmau tahu : menganggap
biasa bila ada korupsi, karena sering terjadi. Tidak perduli orang lain,
asal kepentingannya sendiri terlindungi.
9. Gagalnya pendidikan agama dan etika : ada benarnya pendapat
Franz Magnis Suseno bahwa agama telah gagal menjadi
pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena
perilaku masyarakat yang memeluk agama itu sendiri. Pemeluk
agama menganggap agama hanya berkutat pada masalah
bagaimana cara beribadah saja. Sehingga agama nyaris tidak
berfungsi dalam memainkan peran sosial. Menurut Franz,
sebenarnya agama bisa memainkan peran yang besar dibandingkan
insttusi lainnya. Karena adanya ikatan emosional antara agama dan
pemeluk agama tersebut jadi agama bisa menyadarkan umatnya
bahwa korupsi dapat memberikan dampak yang sangat buruk baik
bagi dirinya maupun orang lain.

Korupsi terjadi karnea adanya kekuasaan monopoli kekauasaan


yang dipegang oleh seseorang dan orang tersebut memiliki kemerdekaan
bertindak atau wewenang yang berlebihan tanpa ada pertanggung
jawaban yang jelas.
Korupsi ada karena :
1. Faktor Eksternal
Kesempatan : Biasanya oleh pemilik kekuasaan, pelaku
pelaksana peraturan / UU, pengatur atau pengelola
kebijakan.
Kebutuhan : Biasanya oleh masyarakat pengguna Undang
Undang (UU), kebijakan peraturan dan persyaratan.
2. Faktor Internal : Moralitas, tuntutan hidup

CARA PENCEGAHAN DAN STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI

1. Pembentukan Lembaga Anti Korupsi


a. Membentuk lembaga independen yang khusus menangani korupsi.
b. Memperbaiki kinerja lembaga peradilan baik dari tingkat kepolisian,
kejaksaan, pengadilan, dan Lembaga Permasyarakatan.
c. Reformasi birokrasi dan reformasi pelayanan publik
d. memperbaiki dan memantau kinerja Pemerintah Daerah.
2. Pencegahan Korupsi di Sektor Publik
3. Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat
a. Salah satu upaya memberantas korupsi adalah dengan memberi
hak kepada masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap
informasi. Perlu dibangun sistem dimana masyarakat (termasuk
media) diberikan hak meminta segala informasi sehubungan
dengan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hajat hidup
orang banyak.
b. Isu mengenai public awareness atau kesadaran dan kepedulian
publik terhadap bahaya korupsi dan isu pemberdayaan masyarakat
merupakan salah satu bagian penting upaya pemberantasan
korupsi. Salah satu cara meningkatkan public awareness adalah
dengan melakukan kampanye tentang bahaya korupsi.
c. Menyediakan sarana untuk melaporkan kasus korupsi. Misalnya
melalui telepon, surat, faksimili (fax), atau internet.
d. Di beberapa negara pasal mengenai fitnah dan pencemaran
nama baik tidak dapat diberlakukan untuk mereka yang
melaporkan kasus korupsi, dengan pemikiran bahwa bahaya
korupsi lebih besar daripada kepentingan individu.
e. Pers yang bebas adalah salah satu pilar demokrasi. Semakin
banyak informasi yang diterima masyarakat, semakin paham
mereka akan bahaya korupsi.
f. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau NGOs baik tingkat lokal
maupun internasional juga memiliki peran penting untuk mencegah
dan memberantas korupsi. Sejak era Reformasi, LSM baru yang
bergerak di bidang Anti Korupsi banyak bermunculan. LSM memiliki
fungsi untuk melakukan pengawasan atas perilaku pejabat publik.
Contoh LSM lokal adal ICS (Indonesian Corruption Watch).
g. Cara lain untuk mencegah dan memberantas korupsi adalah
dengan menggunakan perangkat electronic surveillance. Alat ini
digunakan untuk mengetahui dan mengumpulkan data dengan
menggunakan peralatan elektronik yang dipasang di tempat-tempat
tertentu. Misalnya kamera video (CCTV).
h. Melakukan tekanan sosial dengan menayangkan foto dan
menyebarkan data para buronan tindak pidana korupsi yang
putusan perkaranya telah berkekuatan hukum tetap.
4. Pengembangan dan Pembuatan Berbagai Instrumen Hukum yang
Mendukung Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
5. Pemantauan dan Evaluasi
6. Kerjasama Internasional
DAMPAK KORUPSI

1. Dampak Finansial

Pengeluaran tidak penting dengan biaya mahal untuk


pembelanjaan, investasi, jasa, atau pendapatan negara menjadi
rendah karena tidak diperlukannya surat ijin, perijinan, konsensi
dan sebagainya;
Sub perincian kualitas penyediaan atau pekerjaan tidak sesuai
dengan harga yang dibayar;
Pembebanan kewajiban keuangan kepada pemerintah atas
pembelanjaan atau penanaman modal yang tidak diperlukan atau
tidak bermanfaat yang secara ekonomi biasanya bernilai sangat
besar; dan
Pembebanan atas biaya perbaikan awal kepada pemerintah yang
kerap diikuti dengan berbagai alasan biaya perawatan.

2. Dampak Ekonomi

Dampak ekonomi dapat terdiri atas beban kepada pemerintah


untuk biaya pelaksanaan, perawatan dan peminjaman hutang untuk
investasi atau pembelanjaan, yang tidak digunakan secara benar demi
kepentingan ekonomi negara.

3. Dampak Lingkungan

Korupsi dalam pengadaan barang dan jasa dapat


mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan. Karena proyek-proyek
yang dikerjakan biasanya tidak mengikuti standarisasi lingkungan
negara tersebut (atau internasional). Akibat dari penolakan mengikuti
standarisasi tersebut akan berdampak kerusakan parah pada
lingkungan dalam jangka panjang dan tentunya berimplikasi pada
tingginya resiko masalah kesehatan.
4. Dampak pada Kesehatan dan Keselamatan Manusia

Resiko kerusakan dapat terjadi pada kesehatan dan


keselamatan manusia berbagai akibat kualitas lingkungan yang buruk,
penanaman modal yang anti-lingkungan atau ketidakmampuan
memenuhi standarisasi kesehatan dan lingkungan. Korupsi akan
menyebabkan kualitas pembangunan buruk, yang dapat berdampak
pada kerentanan bangunan sehingga memunculkan resiko korban.

5. Dampak pada Inovasi

Korupsi membuat kurangnya kompetisi yang akhirnya mengarah


kepada kurangnya daya inovasi. Perusahaan-perusahaan yang
bergantung pada hasil korupsi tak akan menggunakan sumber
dayanya untuk melakukan inovasi. Hal ini akan memicu perusahaan-
perusahaan yang tidak melakukan korupsi untuk tidak merasa harus
menanamkan modal berbentuk inovasi karena korupsi telah membuat
mereka tidak mampu mengakses pasar.

6. Erosi Budaya

Ketika orang menyadari bahwa tidak jujurnya pejabat publik dan


pelaku bisnis, serta lemahnya penegakan hukum bagi pelaku-pelaku
korupsi, akan menyebabkan masyarakat meninggalkan budaya
kejujuran dengan sendirinya dan membentuk kepribadian masyarakat
yang tamak.

7. Menurunnya Tingkat Kepercayaan Kepada Pemerintah

Ketika orang menyadari bahwa pelaku korupsi dilingkungan


pemerintahan tidak dijatuhi hukuman, mereka akan menilai bahwa
pemerintah tak dapat dipercaya. Kemudian secara moral, masyarakat
seakan mendapat pembenaran atas tindakannya mencurangi
pemerintah karena dianggap tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

8. Kerugian Bagi Perusahaan yang Jujur

Jika peserta tender yang melakukan korupsi tidak mendapat


hukuman, hal ini akan menyebabkan peserta yang jujur akan
mengalami kerugian karena kehilangan kesempatan melakukan
bisnisnya.

9. Ancaman Serius Bagi Perkembangan Ekonomi

Jika pemerintah mentolelir korupsi dalam belanja barang dan


jasa serta investasi, dan dasar pemilihan investasi yang tidak dilandasi
pada perkembangan perekonomian tetapi lebih karena suap- maka
cepat atau lambat negara tidak mampu membiayai investasinya
sendiri. Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan mengundang
investor asing dengan iming-iming berbagai fasilitas kemudahan.
Kebijakan ini tentu akan melumpuhkan perkembangan ekonomi
domestik dan masyarakat miskin akan menjadi korban.
BAB III
KASUS

JAKARTA, KOMPAS.com Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana


Korupsi, Jakarta, dijadwalkan membacakan putusan atas perkara dugaan
korupsi dan pencucian uang dengan terdakwa mantan pegawai Direktorat
Jenderal Pajak, Gayus H Tambunan, Kamis (1/3/2/2012) pagi ini.
"Iya, vonis hari ini jam 10.00 jadwalnya," kata salah satu kuasa
hukum Gayus, Dion Pongkor, melalui pesan singkat yang diterima
Kompas.com, Kamis.
Sedianya, putusan atas perkara Gayus ini dibacakan majelis hakim
Tipikor pada Senin (20/2/2012) pekan lalu. Namun, karena ketua majelis
hakim Suhartoyo sakit, pembacaan vonis tersebut ditunda. Hari ini,
petugas Pengadilan Tipikor, Amin, memastikan kalau hakim Suhartoyo
sehat dan siap membacakan vonis.
Gayus dituntut hukuman delapan tahun penjara ditambah denda
Rp 1 miliar yang dapat diganti kurungan enam bulan. Selaku pegawai
Ditjen Pajak, Gayus dinilai terbukti melakukan empat perbuatan korupsi.
Pertama, menerima uang Rp 925 juta dari Roberto Santonius
terkait kepengurusan gugatan keberatan pajak PT Metropolitan Retailmart
dan menerima 3,5 juta dollar AS dari Alif Kuncoro terkait kepengurusan
pajak tiga perusahaan Grup Bakrie, yakni PT Arutmin, PT Kaltim Prima
Coal, dan PT Bumi Resource.
Kedua, menerima gratifikasi terkait kepemilikan uang 659.800
dollar AS dan 9,68 juta dollar Singapura. Ketiga, melakukan pencucian
uang dengan menyimpan uang gratifikasi tersebut dalam safe deposit box
Bank Mandiri Cabang Kelapa Gading. Keempat, menyuap sejumlah
petugas Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, agar dapat keluar-
masuk tahanan.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Kronologi Kasus Gayus


Nama yang akhir-akhir ini mencuat karena namanya disebut oleh
mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji memiliki uang sebesar Rp 25
miliar dalam rekening pribadinya. Hal tersebut sangat mencuri perhatian
karena Gayus Tambunan hanyalah seorang PNS golongan III A yang
mempunyai gaji berkisar antara 1,6-1,9 juta rupiah saja.
Lelaki yang memiliki nama lengkap Gayus Halomoan Tambunan ini
bekerja di kantor pusat pajak dengan menjabat bagian Penelaah
Keberatan Direktorat Jenderal Pajak. Posisi yang sangat strategis,
sehingga ia dituduh bermain sebagai makelar kasus (markus). Kasus pun
berlanjut karena di duga banyak pejabat tinggi Polri yang terlibat dalam
kasus Gayus. Gayus dijadikan tersangka oleh Polri pada November 2009
terkait kepemilikan uang yang mencurigakan di rekeningnya mencapai Rp
25 miliar. Gayus terindikasi melakukan pidana korupsi, pencucian uang,
dan penggelapan senilai Rp 395 juta.
Namun di persidangan, jaksa hanya menjerat pasal penggelapan saja,
dengan alasan uang yang diduga hasil korupsi telah dikembalikan. Sisa
uang Rp 24,6 miliar, atas perintah jaksa, blokirnya dibuka. Hakim pun
memutuskan Gayus divonis 6 bulan penjara dan masa percobaan
setahun. Setelah dilakukan pemeriksaan, dari uang total Rp 25 miliar,
uang sejumlah Rp 395 juta disita, dan sisanya sebesar Rp 24,6 miliar pun
hilang entah kemana dan tidak ada pembahasan lanjut mengenai uang
sebesar itu. Dalam kasus ini, Gayus dijerat 3 pasal sekaligus, yakni
Korupsi, Pengelapan Uang dan Pencucian Uang. Tetapi pada
persidangan ia hanya didakwa kasus Penggelapan Uang saja. Alhasil,
hukuman sangat ringan pun ia dapatkan, yaitu 1 tahun. Tetapi, tak lama
kemudian, Gayus pun malah dibebaskan. Dikarenakan ada penghapusan
pasal yang dilakukan jaksa, yakni menghilangkan pasal korupsi dan
pencucian uang dan hanya mengenakan pasal penggelapan.

4.2 Faktor Penyebab Korupsi


Gayus diduga melakukan korupsi karena faktor hidup yang konsumtif
dan adanya struktur birokrasi yang berpenyakit dari sejak dulu.

4.3 Pihak Yang Terlibat


Seperti yang kita tahu bahwa dalam kasus pajak ini bukan hanya
gayus saja yang bekerja sendiri tetapi ia juga mempunyai jaringan.
Sebelum Gayus Tambunan pergi ke Singapura ia pernah memberi
pengakuan ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum bahwa bukan hanya
dirinya yang bertugas tetapi ada orang lain.
Selain sejumlah petinggi negara yang terlibat istri Gayus (Milana
Anggraeni) juga ditetapkan sebagai tersangka karena ia diketahui
menerima dana dari suaminya (Gayus Tambunan) sebesar 3,6 miliar. Andi
kosasih juga menerima dana dari Gayus tambunan Sebesar Rp 1,9 miliar,
masuk ke rekening Gayus Rp 10 miliar dan tabungan Gayus Rp 1 miliar.
Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas), Hamzah Tadja mencurigai
adanya itikad tidak baik dari Cirus Sinaga selaku jaksa peneliti berkas
perkara Gayus Tambunan. Memang ada informasi bahwa Surat Perintah
Dimulainya Penyidikan (SPDP) tersebut diambil sendiri oleh Cirus ke
Mabes Polri. Namun, pihaknya belum bisa memastikan kebenarannya
karena masih harus mengkonfirmasikan dengan pihak Mabes. Cirus
sendirilah yang mengantarkan SPDP tersebut langsung kepada Direktur
Prapenuntutan Jampidum saat itu, Poltak Manullang. semestinya SPDP
masuk dari Mabes Polri langsung ke Kabbag TU Jampidum. Setelah itu
diproses untuk diberikan kepada Jampidum supaya ditunjuk jaksanya.
Oleh karena itu, hasil pemeriksaan jajaran Pengawasan Kejagung
menilai ada itikad tidak baik dari jaksa Cirus dalam menangani perkara
Gayus Tambunan. Itu sebabnya ia dihukum karena ada itikad tidak baik.
Sebelumnya, jaksa Cirus Sinaga dan mantan Direktur Prapenuntutan
Jampidum Poltak Manullang terbukti tidak cermat dalam menangani kasus
Gayus. Keduanya dikenai sanksi pembebasan dari jabatan struktural.

4.3 Pelanggaran Etika Profesi


Dalam hal ini, Gayus sudah melanggar beberapa prinsip dari etika
profesi, antara lain:
1. Prinsip Pertama Tanggung Jawab Profesi
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional seorang
pejabat perpajakan untuk mengelola pendapatan keuangan Negara
harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional
dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Tapi dalam kasus
pengelapan pajak keuangan Negara seorang Gayus telah melupakan
tanggung jawab (tidak bertanggiung jawab) sebagai profesinya. Sejalan
dengan peranan tersebut, seorang pejabat perpajakan gayus
seharusnya mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa
profesional mereka.
2. Prinsip Kedua Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam
kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik,
dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Melihat kasus
penggelapan pajak yang dilakukan oleh pejabat perpajakan Gayus
jelas tidak menghormati kepercayaan masyarakat luas(kepercayaan
public). Dan semua itu tidak dilakukan oleh pejabat perpajakan
Gayus. Dalam mememuhi tanggung-jawab profesionalnya, pejabat
perpajakan mungkin menghadapi tekanan yang saling berbenturan
dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam mengatasi benturan
ini, anggota harus bertindak dengan penuh integritas, dengan suatu
keyakinan bahwa apabila pejabat memenuhi kewajibannya kepada
publik, maka kepentingan penerima jasa terlayani dengan sebaik-
baiknya.
3. Prinsip Ketiga Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap
anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan
integritas(perilaku,kejujuran,kebulatan) setinggi mungkin. Dalam kasus
penggelapan pajak oleh pejabat pajak Gayus tidak ditemukan sama
sekali integritas yang tinggi, dalam hal kejujuran pejabat tersebut telah
membohongi public, dalam hal perilaku pejabat persebut telah melukai
hati public sebagai pembayar pajak.
4. Prinsip Keempat Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Menengok
kasus pejabat perpajakan Gayus syarat dengan banyak kepentingan
yang berbenturan dan bertentangan dengan kewajiban dan etika
profesi. Sementara dalam kasus pejabat pajak Gayus tidak
menunjukkan indikasi seperti diatas alias bertentangan dengan prinsip
Obyektifitas yang mana harus bekerja dalam berbagai kapasitas yang
berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai
situasi.
5. Prinsip Kelima - Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Dalam masalah pejabat perpajakan Gayus Kompetensi dan kehati-
hatian Profesional tidak ditunjukkan dengan memihak kepada
organisasi dan golongan tertentu untuk memupuk keuntungan sendiri.
6. Prinsip Keenam Kerahasiaan
Setiap anggota harus, menghormati Kerahasiaan informasi yang
diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai
atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila
ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk
mengungkapkannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah
hubungan antara anggota dan klien atau pemberi kerja berakhir.
Kerahasiaan harus dijaga oleh anggota kecuali jika persetujuan khusus
telah diberikan atau terdapat kewajiban legal atau profesional untuk
mengungkapkan informasi. Melihat kasus terhadap penyimpangan
pajak yang dilakukan pejabat perpajakan Gayus, seharusnya
kerahasiaan itu benar benar dilakukan untuk dan demi kepentingan
pembangunan Negara dan Bangsa dan bukan untuk melindungi
kepentingan golongan tertentu.
7. Prinsip Ketujuh Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi
profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesi: Hal ini sama sekali tidak di tunjukkan oleh pejabat perpajakan
Gayus dimana prilaku profesinya jelas jelas merugikan masyarakat
bangsa dan Negara.
8. Prinsip Kedelapan - Standar Teknis
Bahwa setiap pejabat harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai
dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan sebagai
seorang pejabat perpajakan. Dalam kasus penggelapan pajak oleh
pejabat perpajakan Gayus tidak ditemukan standar teknis dan
standar professional dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya yang mana harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan tentunya bermuara pada penerimaan pendapatan Negara guna
pembangunan Bangsa sesuai dengan standar dan ketentuan yang
berlaku.

4.4 Dugaan Yang Dituduhkan Kepada Gayus


1. Mengenai perbuatan mengurangi keberatan pajak PT. Surya Alam
Tunggal dengan total Rp 570.952.000 ,-.
2. Gayus terbukti menerima suap sebesar Rp 925.000.000 ,- dari Roberto
Santonius, konsultan pajak terkait dengan kepengurusan gugatan
keberatan pajak PT. Metropolitan Retailmart.
3. Pencucian uang terkait dengan penyimpanan uang yang disimpan di
safe deposit box Bank Mandiri cabang Kelapa Gading serta beberapa
rekening lainnya.
4. Gayus menyuap sejumlah petugas Rumah Tahanan Brimob Kelapa
Dua, Depok, serta kepala Rutan Iwan Susanto yang jumlahnya sebesar
Rp 1.500.000 ,- hingga Rp 4.000.000,.
5. Gayus memberikan keterangan palsu kepada Penyidik perihal uang
sebesar Rp 24.600.000.000 didalam rekening tabungannya.

4.5 Potensi Kerugian Yang Ditanggung Oleh Negara


Korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan mengakibatkan negara
harus menanggung kerugian sebesar Rp 645,99 Milyar dan US $ 21,1 juta
dan dua wajib pahak yang terkait dengan sunset policy dengan potensi
kerugian sebesar Rp 339 Milyar.

4.6 Pasal Serta Jeratan Hukum Yang Menjerat Kasus Gayus


Tambunan
1. Pasal 18 UU No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana
korupsi (TIPIKOR), dimana Gayus Tambunan diduga memperkaya diri
sendiri dan merugikan keuangan negara sebesar RP 570.952.000 ,-,
terkait penanganan keberatan pajak PT. Surya Alam Tunggal Sidoarjo.
2. Pasal 5 ayat 1a No.31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi,
dimana Gayus Tambunan dituding melakukan penyuapan sebesar $
760.000 terhadap penyidik Mabes Polri M Arafat Enanie, Sri Sumartini,
dan Mardiyani.
3. Pasal 6 ayat 1a No.31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi
karena Gayus diketahui memberikan uang sebesar US $ 40.000
kepada Hakim Muhtadi Asnus, Ketua Majelis Hakim yang menangani
perkara Gayus di Pengadilan Negeri Tangerang.
4. Pasal 22 No.31 Tahun 1999 mengenai Undang undang tidak pidana
korupsi, dimana gayus didakwa telah dengan sengaja memberi
keterangan yang tidak benar untuk kepentingan penyidikan.
4.7 Keputusan Sidang Akhir Kasus Gayus Tambunan
Keputusan sidang akhir terdakwa kasus penggelapan pajak Gayus
Tambunan oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta adalah hukuman
sebesar 8 tahun penjara dan denda sebesar Rp 300.000.000 ,- dengan
ketentuan apabila denda tidak dapat dibayarkan maka akan ada
penggantian berupa pidana kurungan selama 3 bulan.
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Korupsi
Korupsi adalah tindakan seseorang atau kelompok yang dilakukan
secara tidak wajar menyalah gunakan adanya kepercayaan dan
kekeuasaan yang mereka miliki untuk membuat keuntungan untuk
perseorangan ataupun kelompok yang membuat pihak lain merugi.

5.1.2 Faktor Penyebab Korupsi


Mengutip teori Jack Bologne atau sering disebut GONE Theory,
bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi meliputi :

Greeds (keserakahan)
Opportunities (kesempatan)
Needs (kebutuhan)
Exposures (pengungkapan)

Faktor lain yang mendorong adanya perilaku korupsi adalah Faktor


Eksternal dan internal yang ada pada diri orang masing masing

5.1.3 Cara Pencegahan Dan Strategi Pemberantasan Korupsi

1. Pembentukan Lembaga Anti Korupsi

Yaitu membentuk lembaga independen yang khusus menangani


korupsi. Yang bertujuan memperbaiki kinerja lembaga peradilan
,mereformasi birokrasi dan pelayanan publik dan juga memperbaiki dan
memantau kinerja Pemerintah Daerah.

2. Pencegahan Korupsi di Sektor Publik


3. Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat
4. Pengembangan dan Pembuatan Berbagai Instrumen Hukum
yang Mendukung Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
5. Pemantauan dan Evaluasi
6. Kerjasama Internasional

5.1.4 Dampak Korupsi

Dampak yang dihasilkan oleh tindak laku korupsi memiliki dampak pada
beberapa beberapa hal diantaranya:

1) Dampak Finansial
2) Dampak Ekonomi
3) Dampak Lingkungan
4) Dampak pada Kesehatan dan Keselamatan Manusia
5) Dampak pada Inovasi
6) Erosi Budaya
7) Menurunnya Tingkat Kepercayaan Kepada Pemerintah
8) Kerugian Bagi Perusahaan yang Jujur
9) Ancaman Serius Bagi Perkembangan Ekonomi

5.2 Saran
1. Perketatlah hukum yang ada di Indonesia , sehingga para
koruptor/ bakal koruptor akan jera dan tak akan melakukan
korupsi yang merugikan
2. Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak
dini. Dan pencegahan korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil
3. Seharusnya pemerintah lebih tegas terhadap terpidana korupsi.
Undang-undang yang adapun dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya. Agar korupsi tidak lagi menjadi budaya di
negara ini
4. Pemerintah harus tegas dalam menghukum pelaku korupsi
dan dalam memberantas korupsi yang tidak hanya berfokus
pada intansi atau jabatan tinggi, tetapi juga harus fokus
memberantas korupsi yang mungkin dapat dilakukan oleh
pegawai biasa.
5. Hendaknya setiap masyarakat yang memiliki kepentingan
dengan pegawai atau seseorang dengan jabatan tertentu tidak
memberikan hadiah atau apapun yang bersifat suapan.
6. Hendaknya setiap masyarakat dan pemerintah yang melihat
adanya tindakan korupsi melapor kepada aprat berwajib agar
kasus tersebut segera dapat ditangani.
Daftar Pustaka :

http://smkn3-denpasar.sch.id/pak/?page_id=19
http://diasdiari.blogspot.com/2014/03/makalah-faktor-faktor-terjadinya-
korupsi.html
http://novapungki.blogspot.com/2014/06/makalah-mengenai-kasus-
korupsi-gayus.html
https://sangpangeranbiru.wordpress.com/2013/07/04/prilaku-korupsi-di-
indonesia-dan-pencegahannya/
http://www.nurliapaizah.web.id/2014/12/ide-saya-generasi-muda-
untuk.html
http://smkn3-denpasar.sch.id/pak/?page_id=22
http://www.slideshare.net/ARY_SETIADI/masalah-korupsi-di-indonesia
http://makalainet.blogspot.com/2013/10/korupsi.html
http://yayuqamariah.blogspot.com/
http://nasional.kompas.com/read/2012/03/01/09200292/Gayus.Divonis.Pa
gi.Ini
http://novapungki.blogspot.com/2014/06/makalah-mengenai-kasus-
korupsi-gayus.html
http://septikomariyah.blogspot.com/2013/05/makalah-gayus-tambunan-
pelanggaran-etika.html