You are on page 1of 12

LAPORAN KASUS

KEJANG DEMAM SEDERHANA

Disusun Oleh :
Aria Jaya, S.Ked
FAB 116 018

Pembimbing :
dr. Soetopo, Sp.KFR
dr. Tagor Sibarani

Program Studi Pendidikan Dokter


Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya
Bagian Rehabilitasi Medik dan Emergency Medicine
RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Kejang demam merupakan penyakit kejang yang paling sering dijumpai di


bidang neurologi khususnya anak. Kejang selalu merupakan peristiwa yang
menakutkan bagi orang tua, sehingga dokter wajib mengatasi kejang demam
dengan tepat dan cepat. Kejang demam pada umumnya dianggap tidak berbahaya
dan sering tidak menimbulkan gejala sisa; akan tetapi bila kejang berlangsung
lama sehingga menimbulkan hipoksia pada jaringan Susunan Saraf Pusat (SSP),
dapat menyebabkan adanya gejala sisa di kemudian hari.
Frekuensi dan lamanya kejang sangat penting untuk diagnosa serta
tatalaksana kejang, ditanyakan kapan kejang terjadi, apakah kejang itu baru
pertama kali terjadi atau sudah pernah sebelumnya, bila sudah pernah berapa kali
dan waktu anak berumur berapa. Sifat kejang perlu ditanyakan, apakah kejang
bersifat klonik, tonik, umum atau fokal. Ditanya pula lama serangan, kesadaran
pada waktu kejang dan pasca kejang. Gejala lain yang menyertai diteliti, termasuk
demam, muntah, lumpuh, penurunan kesadaran atau kemunduran kepandaian.
Pada neonatus perlu diteliti riwayat kehamilan ibu serta kelahiran bayi.1
Kejang demam jarang terjadi pada epilepsi, dan kejang demam ini secara
spontan sembuh tanpa terapi tertentu. Kejang demam ini merupakan gangguan
kejang yang paling lazim pada masa anak, dengan prognosa baik secara seragam.2
Jumlah penderita kejang demam diperkirakan mencapai 2-4% dari jumlah
penduduk di AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Namun di Asia dilaporkan
penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% di antara jumlah penderita mengalami
kejang demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat jenis
kelamin penderita, kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki.3
Penyakit-penyakit infeksi masih sering ditemukan di Indonesia, menurut data
profil kesehatan Indonesia pada tahun 2010 menunjukan bahwa didapatkan 10
penyakit-penyakit yang sering rawat inap di rumah sakit diataranya diare dan
penyakit gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu, demam berdarah dengue,
demam tifoid dan paratifoid, penyulit kehamilan, dispepsia, hipertensi esensial,

2
cidera intrakranial, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), peneumonia.
Kesepuluh penyakit di atas, penyakit terbanyak disebabkan oleh karena infeksi
yang dapat bermanifestasi menjadi kejang karena penyakit-penyakit tersebut
mempunyai manifestasi klinis demam.

3
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1. Primary Survey (By.Ny.N/1 tahun 1 bulan)


Vital Sign:
Denyut Nadi : 120 kali/menit (reguler, kuat angkat, dan isi cukup)
Frekuensi Napas : 35 kali/menit, torako-abdominal
Suhu : 37,60C
Airway : Bebas, tidak ada sumbatan jalan napas
Breathing : Spontan, 35 kali/menit, pernapasan torako-abdominal
Circulation : Denyut nadi 120 kali/menit, reguler, kuat angkat. CRT < 2
detik
Disability : Gerakan aktif
Evaluasi masalah : Kasus ini merupakan kasus yang termasuk dalam priority
sign karena pasien berdasarkan trias emergency, pasien
tidak masuk dalam trias tersebut dan saat datang, pasien
tidak dalam keadaan kejang. Pasien kemudian
ditempatkan di ruang non bedah dan diberi label warna
kuning.
Tatalaksana awal : Tata laksana awal pada pasien ini adalah memposisikan
pasien, oksigenasi 2 liter permenit dan memasang IV line.

2.2. Secondary Survey


2.2.1. Identitas
Nama : By.Ny.N
Usia : 1 tahun 1 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. Beruk Angis No.23
Tgl Pemeriksaan : 24 Oktober 2017 pukul 08.30

4
2.2.2. Anamnesis
Dilakukan Alloanamnesis kepada orang tua pasien di ruang IGD RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya.
Keluhan Utama : Kejang
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien rujukan dari RS Muhamadiyah dengan susp. Meningitis. Ibu pasien
mengatakan bahwa pasien kejang 1 jam SMRS. Ini adalah kejang pertama
pasien. Pasien kejang dengan mata ke arah atas, tangan dan kaki kaku. Kejang
berlangsung selama 3 menit. Setelah kejang pasien menangis. Kejang didahului
dengan demam. Pasien demam diakui oleh ibunya sejak 1 hari SMRS. Demam
tinggi mendadak dan terus menerus meskipun sudah diberikan obat penurun
panas.
Keluhan muntah (-), batuk (-), pilek (-), mencret (-), suara serak saat menangis (+)
sejak 2 hari lalu. Nafsu makan menurun.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Kejang ini merupakan kejang pertama pasien. Pasien tidak pernah mengalami
kejang sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluhan serupa disangkal.

2.2.3. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Gerakan aktif
Berat badan : 9,4 kg
Vital sign : Denyut Nadi :120 kali/menit (reguler, kuat angkat)
Frekuensi Napas :35 kali/menit, torako-abdominal
Suhu :37,50C
Kepala
Normocephal, ubun-ubun datar, konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil
isokor (+/+), refleks cahaya (+/+), mata cekung (-), sekret hidung (-)

5
Leher
Kaku kuduk (-), kelenjar getah bening tidak membesar

Thoraks
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, retraksi
(-)
Palpasi : Fremitus vokal normal kanan dan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Auskultasi : Bunyi jantung 1 (S1) dan 2 (S2), tunggal, reguler,
murmur(-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba besar
Perkusi : Timpani (+)
Ekstremitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, edem tungkai (-)

2.2.4. Pemeriksaan Penunjang


Tabel 2.1. Pemeriksaan Laboratorium
Parameter Pasien Kadar Normal
Hematologi
Hb 11,8 g/dl 11-16 g/dl
Hematokrit 33 % 37-48 %
Leukosit 16.200/ul 4.500-11.000/ul
Eritrosit 4,59 juta/ul 4-6 juta/ul
Trombosit 351.000/ul 150.000-400.000/ul

6
Kimia Klinik
Glukosa Sewaktu 155 mg/dl < 200 mg/dl

2.2.5. Diagnosa
Diagnosis Klinis : Kejang Demam Sederhana
Diagnosis Etiologi : Laringitis Akut
Diagnosis Kerja : Kejang Demam Sederhana ec Laringitis Akut.

2.2.6. Penatalaksanaan
Tatalaksana awal di IGD
- Posisikan pasien berbaring terlentang
- Oksigenasi 2 liter permenit
- Pasang IV line dengan cairan D5 NS 10 tpm
- Inj. Cefotaxime 3 x 250 mg IV (ST)
- Inj. Gentamicin 2x25 mg IV
- Inj. Metilprednisolon 3x6,26 mg IV
- Pasang NGT
- Po: Luminal 2x20 mg
- Po: Paracetamol 3xI cth
- Observasi kejang berulang, keadaan umum dan tanda vital anak.

2.2.7. Prognosa
- Quo ad vitam : Bonam
- Quo ad functionam : Bonam
- Quo ad sanationam : Bonam

7
BAB III
PEMBAHASAN

Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering terjadi


pada anak, 1 dari 25 anak akan mengalami satu kali kejang demam. Hal ini
dikarenakan, anak yang masih berusia dibawah 5 tahun sangat rentan terhadap
berbagai penyakit disebabkan sistem kekebalan tubuh belum terbangun secara
sempurna. Serangan kejang demam pada anak yang satu dengan yang lain
tidaklah sama, tergantung nilai ambang kejang masing-masing. Oleh karena itu,
setiap serangan kejang harus mendapat penanganan yang cepat dan tepat, apalagi
kejang yang berlangsung lama dan berulang. Sebab, keterlambatan dan kesalahan
prosedur bisa mengakibatkan gejala sisa pada anak, bahkan bisa menyebabkan
kematian. Kejang yang berlangsung lama biasanya disertai apneu (henti nafas)
yang dapat mengakibatkan terjadinya hipoksia (berkurangnya kadar oksigen
jaringan) sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak
yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Apabila anak sering kejang, akan
semakin banyak sel otak yang rusak dan mempunyai risiko menyebabkan
keterlambatan perkembangan, retardasi mental, kelumpuhan dan juga 2-10%
dapat berkembang menjadi epilepsi.1

Klasifikasi Kejang
Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan
dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang
tonik dan kejang mioklonik.4
1. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah
dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi
prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu
ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai
yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah
dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai

8
deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan
oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernicterus.
2. Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan
fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik
fokal berlangsung 1-3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai
gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk
kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada
bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
3. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau
keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan
tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan
susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang
mioklonik pada bayi tidak spesifik.
Pada pasien, tidak diketahui termasuk dalam klasifikasi kejang yang mana
karena saat dirumah sakit pasien sudah tidak kejang lagi.
Penegakkan diagnosis kejang demam sederhana, berdasarkan kriteria dari
livingstone yaitu:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2. Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu sesudah suhu normal
tidak menunjukkan kelainan
7. Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak melebihi empat kali.
Pada pasien, pasien masuk ke dalam kriteria ini dimana usia pasien adalah 1
tahun, kejang pada pasien menurut ibu pasien berlangsung sekitar 3 menit. Ini
merupakan kejang pertama pasien dalam 1 tahun.

9
Pada saat di IGD, pasien datang dengan suhu 37,6oC, maka dari itu,
diperlukannya anitpiretik oral yaitu paracetamol. Pasien juga harus diberikan
cairan ( infus D5 NS) sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan total cairan per hari
seorang anak menurut Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit 2013 dihitung
dengan formula berikut: 100 ml/kgBB untuk 10 kg pertama, lalu 50 ml/kgBB
untuk 10 kg berikutnya, selanjutnya 25 ml/kgBB untuk setiap tambahan kg BB-
nya. Pasien mempunyai berat 9,4 kg, sehingga kebutuhan cairan perharinya
adalah (9,4 x 100) = 940 ml per hari.3
Pemberian inj. Fenobarbital 75 mg IM tidak diberikan di IGD RSUD dr.
Doris Sylvanus dikarenakan sudah diberikan di IGD RS Muhamadiyah. Injeksi
fenobarbital sudah cukup tepat sebagai pengobatan kejang demam fase akut,
sesuai dengan literatur, pemberian suntikan intramuskular fenobarbital diberikan
dengan dosis awal 30 mg untuk neonatus, 50 mg untuk usia 1 bulan 1 tahun, dan
75 mg untuk usia lebih dari 1 tahun.3
Pada pasien diberikan antibiotic dimana terdapat tanda-tanda infeksi pada
pasien yaitu demam, jumlah leukosit yang meningkat yaitu 16.200 dimana
kemungkinan sumber infeksi pada pasien berasal dari laring pasien yang ketika
dianamnesi didapatkan pasien mengalami suara parau sejak 2 hari ini.
Pasien kemudian dikonsulkan ke bagian anak dan dirawat inap.

10
BAB IV
KESIMPULAN

Telah dilaporkan By.Ny.N usia 1 tahun 1 bulan rujukan dari RS


Muhamadiyah dengan susp. Meningitis. Ibu pasien mengatakan bahwa pasien
kejang 1 jam SMRS. Ini adalah kejang pertama pasien. Pasien kejang dengan
mata ke arah atas, tangan dan kaki kaku. Kejang berlangsung selama 3 menit.
Setelah kejang pasien menangis. Kejang didahului dengan demam. Pasien demam
diakui oleh ibunya sejak 1 hari SMRS. Demam tinggi mendadak dan terus
menerus meskipun sudah diberikan obat penurun panas. Keluhan muntah (-),
batuk (-), pilek (-), mencret (-), suara serak saat menangis (+) sejak 2 hari lalu.
Nafsu makan menurun.
Berdasarkan anamnesis menurut kriteria Livingston, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang, didapatkan diagnosis pasien mengarah ke kejang demam
sederhana dengan etilogi sumber infeksi laringitis akut. Penatalaksanaan yang
diberikan pada anak adalah dengan memposisikan pasien, oksigenasi 2 lpm dan
pemasangan IV line. Anak kemudian diberikan antibiotic, antipiretik dan
antikejang. Penatalaksanaan kejang demam pada anak harus dilakukan dengan
tepat dan cepat karena keterlambatan prosedur penanganan kejang dapat
menyebabkan gejala sisa pada anak dan mengganggu tumbuh kembang anak
dikemudian hari.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus


Penatalaksanaan Kejang Demam. IDAI: Jakarta. 2006. Hal. 1 4.
2. World Health organization. Accessed at
http://www.who.int/childgrowth/standards/chart_catalogue/en/. Accessed at
12 Sep 2016
3. Deliana M. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak. Vol. 4. No. 2. Sari
Pediatri: Jakarta. 2002. Hal. 59 62.

12