You are on page 1of 3

MERDEKAKAN ANAK DARI PEDOFILIA

Kasus pedofilia atau kekerasan seksual yang akhir-akhir ini mulai mencuat kembali
menjadi ancaman serius dan meresahkan masyarakat khususnya para orang tua yang memiliki
anak kecil yang belum pubertas di bawah umur 12 tahun. Pedofilia merupakan kelainan
kejiwaan dan orientasi seksual terhadap anak-anak di bawah umur. Data yang dilansir Global
Muslim Indonesia masuk 5 besar sebagai negara dengan kasus pedofilia terbanyak setelah
Inggris, India, Afrika Selatan, Zimbabwe dan Amerika Serikat. Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) mencatat pada tahun 2014 ada sebanyak 2.716 kasus kekerasan pada anak
dan 56% nya adalah pelecehan seksual pada anak di bawah umur. Tentu kita masih ingat kasus-
kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur yang terjadi di Indonesia, pada tahun 2001
ada seorang warga Italia yaitu Mario Manara yang mencabuli 9 anak kecil di Buleleng Bali
dengan modus memberikan uang dan pakaian pada korban. Pada tahun yang sama di Bali juga
terjadi kasus pelecehan seksual pada 3 anak remaja 14 tahun oleh seorang warga Perancis
bernama Michael Rene Helle dengan modus korban dijadikan sebagai anak angkat. Pada tahun
2004 dan 2005 juga terjadi kasus yang sama di Bali dimana korban diiming-imingi dengan
uang dan menjadi sponsor kegiatan sepak bola anak-anak. Kasus berikutnya pada tahun 2010
seorang warga Indonesia yaitu Baekuni alias Babe yang mencabuli bocah dan membunuh 14
korbannya, 4 diantaranya dimutilasi pada tahun 2010 di Jakarta. Modus yang dilakukan sebagai
koordinator pedagang asongan dan anak-anak pengamen jalanan mengajak korban bermain dan
memberikan makan. Semakin marak dan meningkatnya kasus pedofilia pada anak di bawah
umur semakin menjadi serius di mana kasus ini terjadi di lingkungan dekat dan orang-orang
terdekat. Pada tahun 2014 masih ingat di dalam fikiran kita kasus yang terjadi di TK Jakarta
International School (JIS) dimana korban dianiaya di dalam lingkungan sekolah yang menjadi
tempat untuk pendidikan dan pengajaran anak malah menjadi tempat kekerasan pada anak.

Kasus pedofilia yang baru-baru ini sedang hangat dialami oleh anak dari artis cantik
Nafa Urbach yaitu Mikhaela Lee Juwono. Kejadian ini bermula dari instagram Nafa Urbach
yang mengunggah foto-foto anaknya dan melihat komentar dari orang-orang yang diduga
pedofil dengan menyebut anak Nafa Urbach dengan sebutan Loli. Sebutan loli masih begitu
asing bagi orang awam. Loli merupakan sebutan bagi anak kecil yang menjadi target dari para
kaum pedofil. Terbongkarnya grup atau komunitas para pedofil di jejaring sosial facebook
dengan nama Official Candys Group yang mengunggah foto-foto dan video pornografi
anak-anak di bawah umur. Polda Metro jaya mengungkapkan pada tahun 2016 ada sebanyak
7.479 yang tergabung dalam grup tersebut dan 150 orang anggota aktif di grup whatsapp
dengan 500 video dan 100 foto pornografi anak. Nafa Urbach sebagai seorang ibu turut
menggerakan orang-orang terutama ibu-ibu yang aktif bergerak untuk memerangi para pedofil
dan segera melapor kepada pihak berwajib atas segala bentuk tindakan pelecehan seksual pada
anak.

Hukuman yang diberikan pada para pedofil sebelumnya dinilai masih kurang
memberikan efek yang positif. Pada bulan Oktober 2016, pemerintah mengesahkan Undang-
Undang Perlindungan Anak yang baru menerapkan hukuman lebih besar yaitu hukuman kebiri
kimia kepada pelaku kekerasan seksual. Tentu saja langkah ini tidak cukup untuk
menghilangkan kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur. Seluruh komponen
masyarakat, pemerintah dan lembaga kemasyarakatan harus turut berperan serta memberantas
tindak pelecehan seksual pada anak. Pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi dini menjadi
penting untuk ditanamkan pada anak sedari dini bagaimana cara melindungi diri dan mengenali
ciri-ciri orang yang memiliki niat tidak baik pada anak. Orang tua sebagai perlindungan
terdekat anak harus lebih waspada lagi jika menitipkan anak pada orang-orang disekitar karena
biasanya tindak kekerasan seksual terjadi di lingkungan sekitar. Edukasi anak agar tidak tergiur
jika diberikan hadiah atau uang. Berikan anak informasi bagian-bagian tubuhnya yang harus
dilindungi dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Waspadai diri dengan tidak sering
mengunggah foto dan video anak terutama di media sosial karena ini turut mempengaruhi para
pelaku pedofil melakukan aksinya. Sebagai seorang ibu kita harus lebih berhati-hati karena
kejahatan bisa datang dari mana saja. Di tahun 2017 ini, Indonesia sudah merdeka dari penjajah
selama 72 tahun namun belum terbebas dari tindak kekerasan seksual pada anak terutama anak
di bawah umur. Untuk itu merdekakan dan lindungi anak-anak kita dari para predator yang
berniat jahat dan melakukan tindakan pelecehan. Anak-anak merupakan aset dan generasi
penerus bangsa bagaimana jadinya nasib mereka jika tidak dilindungi terutama di masa-masa
perumbuhannya. Mari kita sama-sama memberantas tindak kekerasan seksual pada anak.

Referensi :

http://www.dw.com/id/mengapa-predator-seks-merajalela/a-38106311

https://globalmoslem.com/indonesia/indonesia-masuk-5-besar-kasus-pedofilia-terbanyak/

https://kumparan.com/rina-nurjanah/12-kasus-pedofilia-di-indonesia