Вы находитесь на странице: 1из 23

Pada histerektomi jenis ini, rahimn diangkat, tetapi mulut rahim (serviks) tetap

dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim
sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan leher rahim) secara
rutin.
5,6,7
2. Histerektomi total
Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat secara keseluruhan.
Keuntungan dilakukan histerektomi total adalah ikut diangkatnya serviks yang
menjadi sumber terjadinya karsinoma dan prekanker. Akan tetapi, histerektomi
total lebih sulit daripada histerektomi supraservikal karena insiden komplikasinya
yang lebih besar.
1
Operasi dapat dilakukan dengan tetap meninggalkan atau mengeluarkan ovarium
pada satu atau keduanya. Pada penyakit, kemungkinan dilakukannya ooforektomi
unilateral atau bilateral harus didiskusikan dengan pasien. Sering kali, pada
penyakit ganas, tidak ada pilihan lain, kecuali mengeluarkan tuba dan ovarium
karena sudah sering terjadi mikrometastase.
1
Berbeda dengan histerektomi sebagian, pada histerektomi total seluruh bagian
rahim termasuk mulut rahim (serviks) diangkat. Selain itu, terkadang histerektomi
total juga disertai dengan pengangkatan beberapa organ reproduksi lainnya
secara bersamaan. Misalnya, jika organ yang diangkat itu adalah kedua saluran
telur (tuba falopii) maka tindakan itu disebut salpingo. Jika organ yang diangkat
adalah kedua ovarium atau indung telur maka tindakan itu disebut oophor. Jadi,
yang disebut histerektomi bilateral salpingo-oophorektomi adalah pengangkatan
rahim bersama kedua saluran telur dan kedua indung telur. Pada tindakan
histerektomi ini, terkadang juga dilakukan tindakan pengangkatan bagian atas
vagina dan beberapa simpul (nodus) dari saluran kelenjar getah bening, atau yang
disebut sebagai histerektomi radikal (radical hysterectomy).
2
Ada banyak gangguan yang dapat menyebabkan diputuskannya tindakan
histerektomi. Terutama untuk keselamatan nyawa ibu, seperti pendarahan hebat
yang disebabkan oleh adanya miom atau persalinan, kanker rahim atau mulut
rahim, kanker indung telur, dan kanker saluran telur (falopi). Selain itu, beberapa
gangguan atau kelainan reproduksi yang sangat mengganggu kualitas hidup
wanita, seperti miom atau endometriosis dapat menyebabkan dokter mengambil
pilihan dilakukannya histerektomi.
2
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral
Histerektomi ini mengangkat uterus, mulut rahim, kedua tuba falopii, dan kedua
ovarium. Pengangkatan ovarium menyebabkan keadaan penderita seperti
menopause meskipun usianya masih muda.
5,6,7
4. Histerektomi radikal
Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina, jaringan dan kelenjar limfe
disekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa jenis kanker
tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa penderita.
5,6,7
Histerektomi dapat dilakukan melalui 3 macam cara, yaitu abdominal, vaginal dan
laparoskopik. Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi yang akan dilakukan,
jenis
penyakit yang mendasari, dan berbagai pertimbangan lainnya. Histerektomi
abdominal
tetap merupakan pilihan jika uterus tidak dapat dikeluarkan dengan metode lain.
of 17

Histerektomi
by shintarosiana

on Aug 13, 2015

Report

Category:

Documents

Download: 20
Comment: 0

775

views

Comments

Description

Download Histerektomi

Transcript

HISTEREKTOMI 1.1 Pendahuluan Porro (1876) melakukan histerektomi pada


kasus infeksi intrapartal berat tanpa mengeluarkan janin dari dalam rahim.
Usahanya ini berhasil mencegah kematian ibu sehingga pada tahun 1880 diakui
para sarjana secara luas. Histerektomi segera setelah sectio sesarea dahulu semata-
mata dilakukan untuk mengurangi angka kematian ibu akibat perdarahan dan
infeksi yang bersumber dari rahim. 3 Histerektomi merupakan suatu tindakan
penanganan untuk mengatasi kelainan atau gangguan organ atau fungsi reproduksi
yang terjadi pada wanita. Dengan demikian, tindakan ini merupakan keputusan
akhir dari penanganan kelainan atau gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan
dokter. 2 Namun, tindakan ini sangat berpengaruh terhadap sistem reproduksi
wanita. Diangkatnya rahim, tidak atau dengan saluran telur atau indung telur akan
mengakibatkan perubahan pada sistem reproduksi wanita, seperti tidak bisa hamil,
haid, dan perubahan hormon. 2 Pada beberapa kasus dan biasanya pada kasus
dengan penyulit perdarahan obstetric yang parah, tindakan histerektomi
pascapartum mungkin dapat menyelamatkan nyawa. Operasi dapat dilakukan
dengan laparotomi setelah pelahiran pervaginam, atau dilakukan bersamaan
dengan sesar (disebut histerektomi sesar). 4 Sebagian besar histerektomi
paripartum dilakukan untuk menghentikan perdarahan akibat atonia uterus yang
tak teratasi, perdarahan segmen bawah uterus yang berkaitan dengan insisi sesar
atau implantasi plasenta, laserasi pembuluh besar uterus, mioma besar, dysplasia
serviks yang parah, dan karsinoma insitu. Gangguan implantasi plasenta, termasuk
plasenta previa dan berbagai plasenta akreta yang sering berkaitan dengan sesar
berulang, sekarang menjadi indikasi tersering untuk histerektomi saesar. 4
Pengahambat utama histerektomi sesarea adalah kehawatiran akan peningkatan
pengeluaran darah dan kemungkinan kerusakan kerusakan saluran kemih. Factor
utama komplikasi tampaknya adalah apakah operasi dilakukan secara elektif atau
darurat. Morbiditas yang berkaitan dengan histerektomi darurat secara substantive
meningkat. Pengeluaran darah pada umumnya banyak dan hal ini berkaitan
dengan indikasi operasi. Jika dilakukan atas indikasi
perdarahan, pengeluaran darah hampir slalu besar. Memang, lebih dari 90 persen
wanita yang menjalani histerektomi pasca partum darurat membutuhkan tranfusi.
4 1.2 Definisi Istilah histerektomi berasal dari bahasa latin histeria yang berarti
kandungan, rahim, atau uterus, dan ectomi yang berarti memotong, jadi
histerektomi adalah suatu prosedur pembedahan mengangkat rahim yang
dilakukan oleh ahli kandungan. 5,6,7 Histerektomi obstetrik adalah pengangkatan
rahim atas indikasi obstetrik. 3 Histerektomi adalah suatu prosedur operatif
dimana seluruh organ dari uterus diangkat. Histerektomi merupakan suatu
prosedur non obstetrik untuk wanita di negara Amerika Serikat. Histerektomi
adalah bedah pengangkatan rahim (uterus) yang sangat umum dilakukan. namun
organ-organ lain seperti ovarium, saluran tuba dan serviks sangat sering dihapus
sebagai bagian dari operasi. Histeroktomi merupakan suatu tindakan penanganan
untuk mengatasi kelainan atau gangguan organ atau fungsi reproduksi yang terjadi
pada wanita. Dengan demikian, tindakan ini merupakan keputusan akhir dari
penanganan kelainan atau gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.
Namun tindakan ini sangat berpengaruh terhadap system reproduksi wanita.
Diangkatnya rahim, tidak atau dengan saluran telur atau indung telur akan
mengakibatkan perubahan pada system reproduksi wanita, seperti tidak bisa
hamil, haid dan perubahan hormone. Histerektomi adalah operasi pengangkatan
kandungan (rahim,uterus) pada seorang wanita, sehingga setelah menjalani ini dia
tidak bisa lagi hamil dan mempunyai anak. Histerektomi biasanya disarankan oleh
dokter untuk dilakukan karena berbagai alasan. Alasan utamanya dilakukan
histerektomi adalah kanker mulut rahim atau kanker rahim. 5,6,7 1.3 Indikasi dan
kontraindikasi 1. Indikasi a. b. Ruptur uteri Perdarahan yang tidak dapat dikontrol
dengan cara-cara yang ada, misalnya pada : 1) Atonia uteri
2) 3) 4) 5) 6) c. d. Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia pada solusio plasenta
dan lainnya. Couvelaire uterus tanpa kontraksi. Arteri uterina terputus. Plasenta
inkreta dan perkreta. Hematoma yang luas pada rahim. Infeksi intrapartal berat.
Pada keadaan ini biasanya dilakukan operasi Porro, yaitu uterus dengan isinya
diangkat sekaligus. e. f. g. Uterus miomatosus yang besar. Kematian janin dalam
rahim dan missed abortion dengan kelainan darah. Kanker leher rahim. 3 2.
Kontraindikasi a. b. c. d. e. f. g. Atelektasis Luka infeksi Infeksi saluran kencing
Tromoflebitis Embolisme paru-paru. Terdapat jaringan parut, inflamasi, atau
perubahan endometrial pada adneksa Riwayat laparotomi sebelumnya (termasuk
perforasi appendix) dan abses pada culde-sac Douglas karenadiduga terjadi
pembentukan perlekatan. 1.4 Jenis Histerekomi 1. Histerektomi parsial (subtotal)
Pada histerektomi jenis ini, rahimn diangkat, tetapi mulut rahim (serviks) tetap
dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim
sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan leher rahim) secara
rutin. 5,6,7 2. Histerektomi total Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim
diangkat secara keseluruhan. 5,6,7 Keuntungan dilakukan histerektomi total
adalah ikut diangkatnya serviks yang menjadi sumber terjadinya karsinoma dan
prekanker. Akan tetapi, histerektomi total lebih sulit daripada histerektomi
supraservikal karena insiden komplikasinya yang lebih besar. 1 Operasi dapat
dilakukan dengan tetap meninggalkan atau mengeluarkan ovarium pada satu atau
keduanya. Pada penyakit, kemungkinan dilakukannya ooforektomi unilateral atau
bilateral harus didiskusikan dengan pasien. Sering kali, pada penyakit ganas, tidak
ada pilihan lain, kecuali mengeluarkan tuba dan ovarium karena sudah sering
terjadi mikrometastase. 1 Berbeda dengan histerektomi sebagian, pada
histerektomi total seluruh bagian rahim termasuk mulut rahim (serviks) diangkat.
Selain itu, terkadang histerektomi total juga disertai dengan pengangkatan
beberapa organ reproduksi lainnya secara bersamaan. Misalnya, jika organ yang
diangkat itu adalah kedua saluran telur (tuba falopii) maka tindakan itu disebut
salpingo. Jika organ yang diangkat adalah kedua ovarium atau indung telur maka
tindakan itu disebut oophor. Jadi, yang disebut histerektomi bilateral
salpingooophorektomi adalah pengangkatan rahim bersama kedua saluran telur
dan kedua indung telur. Pada tindakan histerektomi ini, terkadang juga dilakukan
tindakan pengangkatan bagian atas vagina dan beberapa simpul (nodus) dari
saluran kelenjar getah bening, atau yang disebut sebagai histerektomi radikal
(radical hysterectomy). 2 Ada banyak gangguan yang dapat menyebabkan
diputuskannya tindakan histerektomi. Terutama untuk keselamatan nyawa ibu,
seperti pendarahan hebat yang disebabkan oleh adanya miom atau persalinan,
kanker rahim atau mulut rahim, kanker indung telur, dan kanker saluran telur
(falopi). Selain itu, beberapa gangguan atau kelainan reproduksi yang sangat
mengganggu kualitas hidup wanita, seperti miom atau endometriosis dapat
menyebabkan dokter mengambil pilihan dilakukannya histerektomi. 2 3.
Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral Histerektomi ini mengangkat
uterus, mulut rahim, kedua tuba falopii, dan kedua ovarium. Pengangkatan
ovarium menyebabkan keadaan penderita seperti menopause meskipun usianya
masih muda. 5,6,7 4. Histerektomi radikal Histerektomi ini mengangkat bagian
atas vagina, jaringan dan kelenjar limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya
dilakukan pada beberapa jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa
penderita. 5,6,7 Histerektomi dapat dilakukan melalui 3 macam cara, yaitu
abdominal, vaginal dan laparoskopik. Pilihan ini bergantung pada jenis
histerektomi yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai
pertimbangan lainnya. Histerektomi abdominal tetap merupakan pilihan jika
uterus tidak dapat dikeluarkan dengan metode lain. Histerektomi vaginal awalnya
hanya dilakukan untuk prolaps uteri tetapi saat ini juga dikerjakan pada kelainan
menstruasi dengan ukuran uterus yang relatif normal. Histerektomi vaginal
memiliki
resiko invasive yang lebih rendah dibandingkan histerektomi abdominal. Pada
histerektomi laparoskopik, ada bagian operasi yang dilakukan secara laparoskopi
(garry, 1998). 5,6,7 1.5 Patofisiologi
1.6 Pemeriksaan Diagnostik 1. USG Untuk menentukan jenis tumor, lokasi
mioma, ketebalan endometrium dan keadaan adnexa dalam rongg apelvis. Mioma
juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu
lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya
leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan
mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnose jaringan. 2. Foto BNO/IVP
pemeriksaan ini penting untuk menilai masaa di rongga pelvis serta menilai fungsi
ginjal dan perjalanan ureter 3. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien
mioma submukosa disertai dengan infertilitas. 4. 5. Laparoskopi untuk
mengevaluasi massa pada pelvis Laboratorium, darah lengkap, urine lengkap, gula
darah, tes fungsi hati, ureum, kreatinin darah. 6. 7. Tes kehamilan D/K (dilatasi
dan kuretase) pada penderita yang disertai perdarahan untuk menyingkirkan
kemungkinan patologi pada rahim (hyperplasia atau adenokarsinoma
endometrium). 5,6,7 1.7 Teknik Operasi Histerektomi Pilihan teknik pembedahan
tergantung pada indikasi pengangkatan uterus, ukuran uterus, lebarnya vagina,
dan juga kondisi pendukung lainnya. Lesi prekanker dari serviks, uterus, dan
kanker ovarium biasanya dilakukan histerektomi abdominal, sedangkan pada
leimioma uteri, dilakukan histerektomi abdominal jika ukuran tumor tidak
memungkinkan diangkat melalui histerektomi vaginal. 1 1. Histerektomi
abdominal Pengangkatan kandungan dilakukan melalui irisan pada perut, baik
irisan vertikal maupun horisontal (Pfanenstiel). Keuntungan teknik ini adalah
dokter yang melakukan operasi dapat melihat dengan leluasa uterus dan jaringan
sekitarnya dan mempunyai cukup ruang untuk melakukan pengangkatan uterus.
Cara ini biasanya dilakukan pada mioma yang berukuran besar atau terdapat
kanker pada uterus. Kekurangannya, teknik ini biasanya menimbulkan rasa nyeri
yang lebih berat, menyebabkan masa pemulihan yang lebih panjang, serta
menimbulkan jaringan parut yang lebih banyak. 2. Histerektomi vaginal
Dilakukan melalui irisan kecil pada bagian atas vagina. Melalui irisan tersebut,
uterus (dan mulut rahim) dipisahkan dari jaringan dan pembuluh darah di
sekitarnya kemudian
dikeluarkan melalui vagina. Prosedur ini biasanya digunakan pada prolapsus uteri.
Kelebihan tindakan ini adalah kesembuhan lebih cepat, sedikit nyeri, dan tidak
ada jaringan parut yang tampak. 3. Histerektomi laparoskopi Teknik ini ada dua
macam yaitu histeroktomi vagina yang dibantu laparoskop (laparoscopically
assisted vaginal hysterectomy, LAVH) dan histerektomi supraservikal laparoskopi
(laparoscopic supracervical hysterectomy, LSH). LAVH mirip dengan
histerektomi vagnal, hanya saja dibantu oleh laparoskop yang dimasukkan melalui
irisan kecil di perut untuk melihat uterus dan jaringan sekitarnya serta untuk
membebaskan uterus dari jaringan sekitarnya. LSH tidak menggunakan irisan
pada bagian atas vagina, tetapi hanya irisan pada perut. Melalui irisan tersebut
laparoskop dimasukkan. Uterus kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil
agar dapat keluar melalui lubang laparoskop. Kedua teknik ini hanya
menimbulkan sedikit nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta sedikit jaringan
parut. Tindakan pengangkatan rahim menggunakan laparoskopi dilakukan
menggunakan anestesi (pembiusan) umum atau total. Waktu yang diperlukan
bervariasi tergantung beratnya penyakit, berkisar antara 40 menit hingga tiga jam.
Pada kasus keganasan stadium awal, tindakan histerektomi radikal dapat pula
dilakukan menggunakan laparoskopi. Untuk ini diperlukan waktu operasi yang
relatif lebih lama. Apabila dilakukan histerektomi subtotal, maka jaringan rahim
dikeluarkan menggunakan alat khusus yang disebut morcellator sehingga dapat
dikeluarkan melalui llubang 10 mm.Apabila dilakukan histerektomi total, maka
jaringan rahim dikeluarkan melalui vagina, kemudian vagina dijahit kembali.
Operasi dilakukan umumnya menggunkan empat lubang kecil berukuran 5 10
mm, satu di pusar dan tiga di perut bagian bawah. 1.8 Prosedur Histerektomi 1.8.1
Persiapan Pre Operasi 1 hari sebelum operasi 1. Persiapan urogenital Dilakukan
pengosongan kandung kemih dengan kateterisasi nkandung kemih. 2. Obat-obat
Premedikal Yaitu penyuntikan pengantar pada pendrita yang sudah ditentukan
oleh ahli bius 3. Bahan yang harus dibawa bersama pasien ke kamar operasi a. b.
Status klien Hasil-hasil laboratorium
4. Persiapan psikologis a. Pasien dan keluarga perlu diberi kesempatan bertanya
mengenai fungsi reproduksi dan seksnya. b. Beri penjelasan tentang operasi
histerektomi yang akan dilakukannya. 5. Hal-hal yang perlu diperhatikan a. b. c.
d. e. f. Cek gelang identitas Lepas tusuk konde, wig, tutup kepala dengan mitella.
Lepaskan perhiasan, cincin dan jam tangan. Bersihkan cat kuku Lepaskan kontak
lens Alat bantu pendengaran dapat dipasang bila pasien tidak dapat mendengarkan
tanpa alat. g. h. Pasang kaos kaki anti emboli bila pasien resiko tingi terhadap
syok. Ganti pakaian operasi 6. Transportasi ke kamar operasi Perawat menerima
status pasien, memeriksa gelang pengenal, menandatangani inform concent,
pasien dilindungi dari kedinginan dengan memberi selimut katun. 1.8.2 Persiapan
Operasi 1. Inform Concent Surat persetujuan kepada pasien dan keluarga
mengenai pemeriksaan sebelum operasi, alasan, tujuan, jenis operasi, keuntungan
dan kerugian operasi. 2. Puasa Pada operasi kecil, tidak perlu ada perawatan
khusus. Hanya perlu puasa beberapa jam sebelum operasi dan makan makanan
ringan yang mudah dicerna malam hari sebelumnya Pada operasi besar, pada hari
akan dilakukan operasi, pasien hanya mendapatkan terapi cairan saja. Pada
persiapan praoperatif penderita malnutrisi, juga diberikan hiperalimentasi per oral
atau intravena. 3. Persiapan usus, persiapan usus praoperatif berguna untuk hal-hal
berikut: a. Pengurangan isi gastrntestinal memberi ruang tambahan pada pelvis
dan abdomen sehingga memperluas lapangan operasi. b. Pengurangan jumlah
flora patgen pada usus menurunkan resiko infeksi pascaoperasi
Cedera usus saat pembedahan tidak selalu berhasil untuk dihindari, terutama
sering terjadi pada pasien yang menjalani operasi karsinoma, endometriosis,
penyakit peradangan pelvis, pasien dengan prosedur pembedahan berulang atau
penyakit peradangan usus. 4. Persiapan kulit Persiapan kulit disarankan untuk
dilakukan pada are pembedahan, bukan karena takut terjadi kontaminasi, akan
tetapi lebih karea alasan teknis. Pasien dicukur hanya pada area disekitar insisi.
Pencukuran sebaiknya dilakukan segera sebelum operasi, untuk mengurangi
resiko infeksi pasca perasi. Membersihkan kulit dengan sabun antiseptic pada
malam hari sebelum operasi atau pagi hari dapat mengurangi frekuensi infeksi
luka pascaoperasi. 5. Persiapan vagina Apabila terdapat infeksi vagina, sebaiknya
diterapi sebelum operasi. Vaginosis bacterial dapat diterapi dengan metrodinazole
atau krim klindamisin 2%. Pada wanita pasca menopause dengan atrofi mucosa
vagina, krim estrogen meningkatkan penyembuhan luka setelah operasi vagina.
Segera sebelum operasi, vagina dibersihkan dengan larutan antisepsis, seperti
iodine PVB, chlorhexidine atau octenidindil-hydricloride. 6. Persiapan kandung
kencing dan ureter Segera sebelum pemeriksaan di bawah anestesi,kandung
kencing dikosngkan dengan kateterisasi. Jik akan dilakukan operasi denga durasi
lama, sebelumnya dipasang kateter folley. 1.8.3 Prosedur Histerektomi
Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah atau vagina,
dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut dilakukan melalui
sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi sesar. Histerektomi lewat
vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina bagian atas. Sebuah alat yang
disebut laparoskop mungkin dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk
membantu pengangkatan rahim lewat vagina. Histerektomi vagina lebih baik
dibandingkan histerektomi abdomen karena lebih kecil risikonya dan lebih cepat
pemulihannnya. Namun demikian, keputusan melakukan histerektomi lewat perut
atau vagina tidak didasarkan hanya pada indikasi penyakit tetapi juga pada
pengalaman dan preferensi masing-masing ahli bedah.
Histerektomi adalah prosedur operasi yang aman, tetapi seperti halnya bedah
besar lainnya, selalu ada risiko komplikasi. Beberapa diantaranya adalah
pendarahan dan penggumpalan darah (hemorrgage/hematoma) pos operasi, infeksi
dan reaksi abnormal terhadap anestesi. 1.9 Efek Samping dan Komplikasi 1. Efek
Samping Efek samping yang utama dari histerektomi adalah bahwa seorang
wanita dapat memasuki masa menopause yang disebabkan oleh suatu operasi,
walaupun ovariumnya masih tersisa utuh. Sejak suplai darah ke ovarium
berkurang setelah operasi, efek samping yang lain dari histerektomi yaitu akan
terjadi penurunan fungsi dari ovarium, termasuk produksi progesterone. Efek
samping Histerektomi yang terlihat : a. Perdarahan intraoperatif Biasanya tidak
terlalu jelas, dan ahli bedah ginekologis sering kali kurang dalam memperkirakan
darah yang hilang (underestimate). Hal tesebut dapat terjadi, misalnya, karena
pembuluh darah mengalami retraksi ke luar dari lapangan operasi dan ikatannya
lepas b. Kerusakan pada kandung kemih Paling sering terjadi karena langkah awal
yang memerlukan diseksi untuk memisahkan kandung kemih dari serviks anterior
tidak dilakukan pada bidang avaskular yang tepat. c. Kerusakan ureter Jarang
dikenali selama histerektomi vaginal walaupun ureter sering kali berada dalam
resiko kerusakan. Kerusakan biasanya dapat dihindari dengan menentukan letak
ureter berjalan dan menjauhi tempat tersebut. d. Kerusakan usus Dapat terjadi jika
loop usus menempel pada kavum douglas, menempel pada uterus atau adneksa.
Walaupun jarang, komplikasi yang serius ini dapat diketahui dari terciumnya bau
feses atau melihat material fekal yang cair pada lapangan operasi. Pentalaksanaan
memerlukan laparotomi untuk perbaikan atau kolostomi e. Penyempitan vagina
yang luas Disebabkan oleh pemotongan mukosa vagina yang berlebihan. Lebih
baik keliru meninggalkan mukosa vagina terlalu banyak daripada terlalu sedikit.
Komplikasi ini
memerlukan insisi lateral dan packing atau stinit vaginal, mirip dengan
rekonstruksi vagina. 2. Komplikasi a. Hemoragik Keadaan hilangnya cairan dari
pembuluh darah yang biasanya terjadi dengan cepat dan dalam jumlah yang
banyak. Keadaan ini diklasifikasikan dalam sejumlah cara yaitu, berdasarkan tipe
pembuluh darah arterial, venus atau kapiler, berdasarkan waktu sejak dilakukan
pembedahan atau terjadi cidera primer, dalam waktu 24 jam ketika tekanan darah
naik reaksioner, sekitar 7-10 hari sesudah kejadian dengan disertai sepsis
sekunder, perdarahan bisa interna dan eksterna. b. Thrombosis vena Komplikasi
hosterektomi radikal yang lebih jarang terjadi tetapi membahayakan jiwa adalah
thrombosis vena dalam dengan emboli paru-paru, insiden emboli paru-paru
mungkin dapat dikurangi dengan penggunaan ambulasi dini, bersama-sama
dengan heparin subkutan profilaksis dosis rendah pada saat pembedahan dan
sebelum mobilisasi sesudah pembedahan yang memadai. c. Infeksi Infeksi oleh
karena adanya mikroorganisme pathogen, antitoksinnya didalam darah atau
jaringan lain membentuk pus. d. Pembentukan fistula Saluran abnormal yang
menghubungkan 2 organ atau menghubungkan 1 organ dengan bagian luar.
Komplikasi yang paling berbahaya dari histerektomi radikal adalah fistula atau
striktura ureter. Keadaan ini sekarang telah jarang terjadi, karena ahli bedah
menghindari pelepasan ureter yang luas dari peritoneum parietal, yang dulu bisa
dilakukan. Drainase penyedotan pada ruang retroperineal juga digunakan secara
umum yang membantu meminimalkan infeksi. 5,6,7 Pencegahan komplikasi a.
Pencegahan perlekatan Perlekatan dapat dicegah dengn cara manipulasi jaringan
secara lembut dan hemostasis yang seksama. Untuk mempertahankan integritas
serosa usus, pemasangan tampon dgunakan apabila usus mengalami intrusi
menghalangi lapangan pandang operasi. Untuk mencegah infeksi, darah harus
dievakuasi dari
kavum peritonei. Hal ini dapat dilakukan dengan mencuci menggunakan larutan
RL dan melakukan reperitonealisasi defek serosa dengan hati-hati b. Drainase
Pada luka bersih (aseptic), pemasangan drain untuk mengevakuasi cairan yang
berasal dari sekresi luka dan darah berguna untuk mencegah infeksi. Pada luka
terinfeksi pemasangan drain dapat membantu evakuasi pus dan sekresi luka dan
menjaga luka tetap terbuka. System drainase ada yang bersiat pasif (drainase
penrose), aktif (drainase suction) da juga ada yang bersiat terbuka atau tertutup. c.
Pencegahan thrombosis vena dalam dan emboli 1) Saat praoperasi, perlu dicari
faktor resiko. Usahakan menurunkan berat badan dan memperbaiki keadaan
umum pasien sampai optimal. Kontrasepsi oral harus dihentikan minimal empat
minggu sebelum operasi. Mobilisasi pasien dilakukan sedini mungkin dan
diberikan terapi fisik dan latihan paru. 2) Upaya intraoperasi, dilakukan
hemostasis yang teliti san pencegahan infeksi. Selain itu, cegah juga hipoksia dan
hipotensi selama pembiusan. Hindari statis vena sedapat mungkin, terutama
dengan memperhatikan posisi kaki. 3) Pada pascaoperasi, antikoagulasi
farmkologis dan fisik dilanjutkan. Upaya fisik meliputi mobilisasi dini pada 4-6
jam pertama pascaoperasi, bersamaan dengan fisioterapi. Disamping itu bisa juga
dnegan pemakaian stocking ketat dan mengankat kaki. 1.10 Penatalaksanaan 1.
Preoperative Setengah bagian abdomen dan region pubis serta perineal dicukur
dengan sangat cermat dan dibersihkan dengan sabun dan air (beberapa dokter
bedah tidak menganjurkan pencukuran pasien). Traktus intestinal dan kandung
kemih harus dikosongkan sebelum pasien dibawa keruang operasi untuk
mencegah kontaminasi dan cidera yang tidak sengaja pada kandung kemih atau
traktus intestinal. Edema dan pengirigasi antiseptic biasanya diharuskan pada
malam hari sebelum hari pembedahan, pasien mendapat sedative. Medikasi
praoperasi yang diberikan pada pagi hari pembedahan akan membantu pasien
rileks. 2. Postoperative Prinsip-prinsip umum perawatan pasca operatif untuk
bedah abdomen diterapkan, dengan perhatian khusus diberikan pada sirkulasi
perifer untuk mencegah tromboflebitis dan TVP (perhatikan varicose, tingkatkan
sirkulasi dengan latihan tungkai dan menggunakan stoking. 5,6,7
1.11 Pemulihan dan Diet Pasca Operasi Pemulihan dari operasi histerektomi
biasanya berlangsung dua hingga enam minggu. Selama masa pemulihan, pasien
dianjurkan untuk tidak banyak bergerak yang dapat memperlambat penyembuhan
bekas luka operasi. Dari segi makanan, disarankan untuk menghindari makanan
yang menimbulkan gas seperti kacang buncis, kacang panjang, brokoli, kubis dan
makanan yang terlalu pedas. Seperti setelah operasi lainnya, makan makanan yang
kaya protein dan meminum cukup air akan membantu proses pemulihan.
DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. Rasjidi, Imam. 2008. Manual Histerektomi.
Jakarta: EGC Kasdu, Dini. 2008. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa
Swara Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid 2. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Leveno, Kenneth J . 2009. Obstetric wiliam. Jakarta : EGC. Bagian obstetri &
gineekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Bandung : Elstar Friedman, Borten,
Chapin. 1998. Seri skema Diagnosa & penatalaksanaan Ginekologi Edisi 2.
Jakarta : Bina Rupa Aksara 7. Saifudin, Abdul Bari, dkk. 2001. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. 8. 9. Carpenito, Lynda Juall,
2000. Buku saku Keperawatan, edisi 8. EGC. Jakarta http://jama.ama-
assn.org/content/291/12/1526.full.pdf+html 10.
http://www.nature.com/bjc/journal/v90/n9/full/6601763a.html

Recommended

Histerektomi

HISTEREKTOMIf 1.1 Pendahuluan Porro (1876) melakukan histerektomi pada


kasus infeksi intrapartal berat tanpa mengeluarkan janin dari dalam rahim.
Usahanya ini berhasil mencegah
Histerektomi PP

ANGGOTA KELOMPOK: 1. INDANG SUPRIYATI 2. MEGA JATI NASTITI


3. SEPTI INDRIASARI 4. NUR PAKIHUDIN A. Latar Belakang Myoma Uteri
umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun.

operatif histerektomi
DEFINISI Istilah histerektomi berasal dari bahasa latin histeria yang berarti
kandungan, rahim, atau uterus, dan ectomi yang berarti memotong, jadi
histerektomi adalah suatu

Histerektomi PP

ANGGOTA KELOMPOK: 1. INDANG SUPRIYATI 2. MEGA JATI NASTITI


3. SEPTI INDRIASARI 4. NUR PAKIHUDIN A. Latar Belakang Myoma Uteri
umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun.

Histerektomi slidetania

Tania VANTIKA Histerektomi adalah operasi pengangkatan rahim dan leher


rahim. Klasifikasi Histerektomi : KlasHisterektomi total: pengangkatan
rahim dan serviks,
HISTEREKTOMI UJIAN

kelompok 2 Histerektomi

HISTEREKTOMI Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Obstetri Operatif Disusun oleh : Kelompok 2 Cory Avianingsih Putri Fia Fegriana
Rima Arianti Tita Nurlita
Pathway Post Histerektomi

Pathway Post Histerektomi Mioma Uteri Histerektomi Luka operasi Adaptasi post
operasi Perdarahan Trauma jaringan Tempat invasi kuman Fisiologi Psikologi
Resti kekurangan

Lp Histerektomi Mioma Uteri

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN


MATERNITAS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS
RIAU Nama mahasiswa Nim Tanggal Ruang Praktik Diagnosa medis :
SEPRINAWATI
96677247 Pathway Post Histerektomi

histerektomi

Hubungan Histerektomi Dengan Fungsi Ovarium

Obstetrics & Gynecology: December 2011 - Volume 118 - Issue 6 - p 1271 1279
PENGARUH HISTEREKTOMI DENGAN FUNGSI OVARIUM Moorman,
Patricia G. PhD; Myers, Evan R. MD, MPH;
Laporan Operasi Histerektomi Supra Vaginal

RSUP DR.M.JAMIL Padang UPF : Kebidanan No. Indek : 1.7.a.35 CM 10


Laporan Operasi Nama Operator Nama Ahli Anestesi Jenis Anestesi Jenis Operasi
Diagnosa Prabedah Nama : Agustati

Infeksi Tempat Operasi Setelah Histerektomi

medic
77373806 Hubungan Histerektomi Dengan Fungsi Ovarium

Obstetrics & Gynecology: December 2011 - Volume 118 - Issue 6 - p 1271 1279
PENGARUH HISTEREKTOMI DENGAN FUNGSI OVARIUM Moorman,
Patricia G. PhD; Myers, Evan R. MD, MPH;

Histerektomi Radikal Pada Kanker Serviks Stadium IB2 ...

Simatupang, I. and G. Purwoto (2005). "Histerektomi radikal pada kanker serviks


stadium IB 2 dengan prolaps uteri derajat 3." Indones J. Obstet Gynecol 29(1): 54-
59.

Askep Histerektomi indikasi Tumor Padat Ovarii


1. Asuhan Keperawatan pada Ny.P dengan Histerektomi Indikasi Kista Ovarium
Di RS Bethesda Yakkum Yogyakarta Ruang Galilea 2 ObsgynDisusun oleh :
Berta Agus Wulandari III

Histerektomi
Histerektomi berasal dari bahasa yunani yakni hystera yang berarti rahim dan ektomia y
ang berarti pemotongan. Histerektomi berarti operasi pengangkatan rahim.
Beberapa keadaan yang memerlukan pengangkatan rahim :

Histerektomi berasal dari bahasa yunani yakni hystera yang berarti rahim dan
ektomia yang berarti pemotongan. Histerektomi berarti operasi pengangkatan
rahim.

View more