Вы находитесь на странице: 1из 2

Pentingnya Girls Squad Pada Fase Late 20s

Bicara umur akhir 20an, agaknya ada dua problematika wanita yang paling sering jadi
trending topic: masalah karir dan juga masalah pasangan hidup. Belum menemukan
pasangan hidup yang pas hingga usia menjelang 30, bagi kita yang tinggal di Negara
timur, terkesan amat sangat bahaya atau sudah warning. Masalah karir, bisa dibilang
inilah usia-usia rawan. Kalau mau stay di sebuah perusahaan atau mau resign atau
mau banting setir, inilah saatnya yang tepat, agar nanti kelat saat usia 40-an sudah
mapan dan berdikari. Tapi, bagaimana jika kedua hal tersebut masih samar-samar dan
belum jelas? Galau double kuadrat!

Itulah gunanya sahabat di titik-titik krusial dalam hidup, bukan? Sahabat-sahabat


cewek, akan sangat bisa mempengaruhi keputusan kita di fase yang penting ini.
Berteman dengan berbagai latar belakang dan karakter yang berbeda, akan
memberikan kita pandangan hidup yang berbeda. Pandangan yang berbeda itu akan
memperkaya perspektif kita terhadap masalah apa pun yang sedang dihadapi.

Seperti juga di fase ini. Tentang nikah. Jodoh. Bagi girls squad yang anggotaya banyak
yang sudah pada nikah, lalu yang sudah menikah akan menjadi sibuk dengan keluarga
barunya, yang single pun jadi merasa tersisih. Kadang-kadang, wanita single
membentuk sub-sub girls squad karena yang mama-mama muda pada sibuk dengan
suami dan anaknya. Permasalahannya adalah ketika yang single tinggal sendirian
maka akan merasa kesepian.

Girls, harusnya kalau kita nantinya menikah dan punya anak, jangan lupakan sahabat
ya. Karena mereka, lho, kamu ada di fase sekarang ini. Ingat saat galau-galaunya pas
masih single, masih pacaran, jelang nikah,bahkan saat mau melahirkan. Mereka yang
single mungkin memang masih belum waktunya menikah, tapi bukan berarti hidupnya
tanpa beban. Hanya beda permasalahan saja. Yang sudah menikah beban pikiran ada
pada keluarga kecilnya. Yang belum, masih tentang menemukan the Mr. Right atau
mungkin masalah pribadi lainnya.

Problem krusial lainnya lagi adalah karir. Masalah karir, kadang-kadang menjadi
masalah yang mungkin nomor dua setelah urusan nikah atau jodoh. Sebab,ada
anggapan bahwa wanita sebagai istri, kan tinggal ikut suami. Tapi, belum tentu juga
demikian. Bagi wanita yang sudah menikah, juga masih menjadi permasalahan: apakah
sebaiknya menjadi full time mother atau ibu bekerja? Bagi yang masih single pun,
pertayaan seputar, mau ganti kerja atau stay?

Dan, hati-hati mengenai karir, isu ini tidak kalah sensitifnya dengan masalah
pernikahan. Jangan memandang hidup orang lain selalu lebih enak, lebih baik,
sehingga kesannya menggampangkan dan memandang hidup kita sendiri begitu-begitu
saja dan stagnan. Awas, bisa-bisa yang dianggap hidupnya enak tersinggung, lho.
Bekerja di perusahaan multinasional ataupun bekerja di pemerintahan tampaknya
memang sudah cukup mapan dan tanpa beban. Masyarakat pasti berpikir orang-orang
yang bekerja di dalamnya sudah pasti bahagia sebab hidupnya terjamin. Benarkah?
Bisa jadi lho opsi-opsi resign ada di benak sahabat-sahabat yang bekerja di dalamnya.
Siapa tahu?

Intinya, sih, di umur-umur rawan ini, kita harus mampu bersikap lebih bijak dan lebih
waspada. Sahabat-sahabat yang kita kenal, seiring bertambah usia, juga terus
berkembang dari sisi psikis dan pemikiran. Sahabat-sahabat kita pun tidak semua
sikapnya sama seperti tahun-tahun awal bersahabat. Pokoknya, jangan sampai isu-isu
sensitif menjadi boomerang bagi persahabatan kita. Seyogyanya, fase kritis dapat
dimanfaatkan dengan baik untuk dapat saling support agar para anggota girls squad
dapat melewati fase yang penting dengan selamat. Dan, tetap bersahabat awet sampai
nenek-nenek nanti.